Wed, 07 Jan 2009; 03:47:37 PM

04 Dec 2008

Chloe Enam Bulan

Gadis kecilku dah enam bulan. Wih.. ga berasa banget.

Rasanya baru kemaren aku seperti tidak pernah berhenti menyusu. Rasanya baru kemaren aku ga berhenti-henti gantiin popok yang basah atau kotor.
Rasanya baru kemaren kebingungan bagaimana cara menidurkan bayi tanpa harus digendong, disusui, diayun-ayun, dsbg, dsbg.

lulus-asi-xSekarang Chloe dah bisa banyak. Guling-guling, babbling, senyam senyum, minta gendong pada siapa saja (bahkan yang baru ketemu), duduk tanpa ditopang, dsbg dsbg.

Sekarang Chloe udah teratur tidurnya. Tidur malamnya pun udah panjaaang, sehingga Mama bisa istirahat juga.

Dan.. stage berikut dalam hidupnya, Chloe dah boleh makan makanan semi padat pertamanya. Beras putih, beras merah, kacang ijo, jeruk keprok, pisang raja dan pepaya dah dia cobain.

Duh, dah enam bulan berlalu ya, Nak. Bener-bener terasa hanya sekejap mata.

Enam bulan juga aku bertahan memberinya hanya ASI saja (sempet rada gagal di awal), walau tidak terlalu banyak support yang diterima. Namun penderitaannya sebanding.

Aku melihat sebuah keajaiban. Seorang manusia bisa hidup hanya dari air susu ibunya saja, dan selama enam bulan itu aku saksikan sendiri bagaimana perkembangan dan pertumbuhannya dari hari ke hari.

Congratulations for both of us :)

Posted by: devi @6:10 pm in as a mom | No Comments »

20 Nov 2008

Intermezzo: Gmail Tampil Trendy

Pagi-pagi udah dapat kejutan dari Gmail.

Selesai loading, tampillah Gmail dengan layout yang lebih manis. Bahkan ada pesan bahwa theme-nya bisa dikustomisasi.

Sementara pilihanku yang ini d. Nama themenya Tea House. Kita akan diminta memasukkan nama kota, karena themenya akan berubah sesuai lokasi terdekat dengan kita. Gmail memilihkan Jepang untuk saya.

gmail-top

gmail-bawah

Lucu ya.

Posted by: devi @1:24 am in as a unique person | 1 Comment »

20 Nov 2008

Me & My Old School Times: Elementary First Years

Kelas 1, hampir semua teman TK Nol Besar-ku ikut meneruskan ke SD St. Agnes ini. Selamat tinggal baju one-piece merahku, sekarang aku sudah pake seragam dua potong dan rok merah full lipit-lipitku menggunakan karet pada bagian pinggangnya.

Ada tiga kelas, 1A, 1B dan 1C. Seingatku, aku di kelas 1C dengan wali kelas Ibu Lucy. Ibu Lucy ini terkenal ’streng’.. hihihi streng ini bahasa apa toh? Pengaruh Belanda kali ya.

Aku sudah pintar baca tulis waktu itu, karena seperti anak-anak perkotaan di Belinyu pada umumnya, aku dikirim les menulis (dan otomatis baca) ke tempat Ibu Ajung - guru TK-ku.

Yang paling kuingat dari kelas 1 adalah.. ada seorang teman bernama Bertha, yang kemudian hari menjadi sohib kentalku waktu SMP. Nah, suatu hari kami diajar nyanyi lagu: Kasih Ibu. Buat yang lupa ama lagu manis ini.. ini teksnya:

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang Surya menyinari dunia

Ingat.. presentasi terbesar murid adalah keturunan Tionghoa yang bahasa ibunya adalah bahasa Khek. Maka, Ibu Lucy pun berinisiatif bertanya, “Siapa yang tau beta itu siapa?”

Seorang temanku dengan lantang dan berani berteriak, “Itu, Bu!” sambil menunjuk si Bertha. Akhirnya yang lain jadi ikut-ikutan menunjuk Bertha. Dan, saya dengan sangat memalukannya mengambil langkah aman me-too, padahal saya dah tau arti kata beta. Hehehe.. dasar anak kelas 1.

Kalau di Amrik ada yang namanya McGuffey’s Reader, orang Indonesia seangkatan saya juga bangga punya Ini Ibu Budi. Saya mengingat dengan baik buku bahasa Indonesia berwarna merah yang dibuka secara horizontal ini. Tokoh utama buku ini: Budi, Wati, Ibu. Iwan dan Bapak muncul belakangan -tentunya karena kata berakhiran konsonan akan lebih sulit diucapkan untuk si freshman - anak kelas satu.

Di kelas satu ini.. saya sempat ‘off’ sampe hampir sebulanan. Penyebabnya adalah karena kenekadan saya menulis di dinding kayu rumah kami sambil menginjak sadel sepeda mini hijau kesayangan. Alhasil sepeda mini itu bergulir dan saya jatuh dengan sukses. Tulang dekat sambungan siku kiri patah. Liburlah saya karena harus bolak-balik berobat, dari dukun urut sampai dokter di Pangkal Pinang. Cerita dukunnya seru lho.. nanti kapan-kapan saya posting secara khusus.

Kelas 2, wali kelas saya ibu Sin Chian mengirim saya ikut lomba menulis indah. See, kelas 2 kita dah diajari menulis huruf sambung yang keriting itu. Hebatnya saya juara satu lho :D hehehehe. Hadiahnya sebuah peruncing. Di akhir kelas 2, kami diharapkan sudah bisa perkalian sederhana. Maka Ibu Sin Chian menantan siapa yang berani maju dan mempresentasikan kemampuannya untuk perkalian dua. Saya maju dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun, maklum asuhan Mama yang sangat keras pada anak-anaknya masalah pelajaran.

Kelas 3 adalah awal dari sebuah kedewasaan. Kita sudah menulis dengan bolpoin, tidak boleh salah lagi, kalau salah harus repot menghapusnya dengan penghapus khusus merah biru merk Pelican, yang bisa bikin bolong kertas kalo terlalu kuat dipakainya. Wali kelas saya bernama Pak Petrus. Saya di kelas 3A sekarang. Kami juga mulai mengenakan seragam coklat Pramuka tiap Sabtu.

Waktu sekolah jadi makin panjang. Tiap Sabtu habis Pramuka saya pasti terbaring di depan tivi sambil menonton Lima Sekawan. Duh, ini masa yang sulit memilih George & Timmy atau Pramuka. Hehehee.

Kelas tiga adalah ketika saya dapat ranking 1 di cawu 1&2, tapi melorot jadi ranking 2 di cawu 3 - dugaan saya sih karena Pak Petrus yang tadinya ngefans banget sama saya (bener lhooo) tiba-tiba tidak ngefans lagi karena suatu hal yang tidak enak diceritakan di sini.

Ini juga pertama kalinya saya mengalami camping - nginap di sekolah. Pak Petrus sebagai pembina Pramuka sering banget mampir di tenda saya, bahkan secara eksplisit mencari-cari saya, sampe saya ngumpet saking malunya. Hehehee… ga tau kenapa si Bapak ini ngefans banget ama saya, mungkin karena saya chubby, lucu dan imut-imut? Tau deh.

ps. cover buku bahasa Indonesia kelas satu bisa diliat di sini - walopun sepertinya ini edisi lebih tua.. punya saya warna merah kok.. yakin banget.

Posted by: devi @1:00 am in as a unique person | 1 Comment »

23 Oct 2008

Me & My Old School Times: Kindergarten

Gee… film Laskar Pelangi benar-benar membawa saya bernostalgia ke masa sekolah. Dan, kini rasanya ingin mengenang lagi masa-masa itu.

Tidak banyak yang bisa saya ingat dari kelas nol kecil/TK-A saya. Yang paling saya ingat adalah seragam khas anak TK (rok overall/1 piece) lucu berwarna kuning. Tiap hari saya diantar oleh salah satu dari ortu ke Tangsi (sebutan untuk kantor polisi). Kenapa? Ya, karena sekolah saya bernama TK Bhayangkara, yang diselenggarakan oleh (kemungkinan) para istri polisi ini.

O ya.. waktu TK-A inilah saya pertama kali punya adik. Rumah kami sangat dekat dengan Tangsi ini. Kemungkinan saya ke sekolahnya jalan kaki waktu itu.

Nol besar/TK-B lebih saya ingat. Sekarang saya sudah berumur lima tahun. Ortu menyekolahkan saya di sebuah sekolah katolik bereputasi terpuji di kota kecamatan Belinyu. Namanya TK St. Agnes. Kalo gurunya kali ini saya inget banget.. siapa lagi kalau bukan Ibu Ajung - duh nama indonesianya sapa ya, Bu.. lupa nih.

Roknya kali ini warna merah. Seingat saya, saya masuk kelas siang. Saya ingat sekali mengunting dan menempel dari sebuah buku ukuran kecil yang membuka secara horizontal. Lemnya dari kanji yang diletakkan di atas karton tebal. Bu Guru juga sering memberi hadiah kerajinan tangan (ga tau namanya apa nih) berbentuk lampion, kipas tangan, buat anak-anak yang berprestasi. Benda-benda ini says temukan di restoran Sagoo, Mal Serpong, yang banyak menjual benda-benda jadoel.

Saya juga ingat main perosotan dan main jungkat-jungkit - itu lho seesaw. Rata-rata teman TK-B saya ini menjadi schoolmate sampai lulus SD. Maklum TK, SD dan SMP-nya berada dalam satu kompleks karena dinaungi oleh satu yayasan.

Butuh kesabaran tinggi untuk jadi seorang guru TK. Murid ngompol sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak seperti sekarang, di TK-TK biasanya ada staf khusus (nanny) yang ngurusin beginian. Saya juga ingat ada teman saya yang sering pup di celana.. siapa ya orangnya.. hehehe… pasti kenangan buruk buat dia saat ini.

Mayoritas murid adalah penutur bahasa khek (hakka) bangka, karena itu Ibu Ajung kerap menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan kami. Ibu Ajung adalah guru yang tegas, dia tidak segan memarahi murid-murid yang dia anggap nakal. Hehehe.

My mom said, saya tidak pernah nangis ditinggal sendiri. Saya ingat saya duduk di boncengan sepeda, kaki saya diikat dengan saputangan supaya tidak masuk ke jeruji sepeda. Rumah kami waktu itu masih di dekat bioskop Belia - sekarang dah jadi tempat biliar.

Hmm.. tidak berasa sudah dua puluh delapan tahun lalu, ya.

Posted by: devi @5:48 pm in as a unique person | 1 Comment »

17 Oct 2008

Belanja di Hipermarket Tanpa Bawa Asisten

Sejak awal 2007 saya sudah terbiasa belanja berdua saja dengan Joel yang waktu itu berumur 2 tahun jalan 3 tahun.

Repot? Tentu.. Apalagi jika dia sudah mulai lari ke sana-sini. Pontang-pantinglah saya harus mengejarnya, kalau hilang di tempat seperti ini kan bisa berabe.

Maka. Saya punya pekerjaan besar untuk melatihnya agar tidak berada lebih dari radius 1m dari saya :D. Sukses? Lumayan.

Akhirnya, saya jadi sangat terbiasa berbelanja bersama anak dengan segala kesetresannya. Biasanya habis mengantar Pampi, kami mampir ke hipermarket di sebelah kantornya. Di sana kami bisa melewatkan waktu berjam-jam, maklum dapat parkir gratis, fasilitas dari kantor Pampi.

Nah. Sekarang anak saya sudah dua, yang satu masih bayi. Saya jadi sering merindukan lagi kegiatan strolling over the aisles in the hypermarket.

Kalau mau tunggu Pampi, harus weekend, dan biasanya belanja sama kaum pria khususnya yang sejenis dengan Pampi ini kurang fun, karena mereka sangat target-oriented di sini. Sedangkan saya tergolong pada kaum yang bisa melepaskan kejenuhan di hipermarket. Hipermarket adalah salah satu tempat rekreasi saya. Kadang saya bisa tidak beli apa-apa di sini.

Lalu, hari ini saya putuskan untuk mengklaim kembali hak saya atas penggunaan mobil satu-satunya kami ini. Berangkat berempat dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, kami berangkat ke Menara Asia Lippo Karawaci.

Chloe saya gendong, karena saya berencana menggunakan baby-trolley. Untung ada… sayangnya susah banget ngambilnya. Saya harus bermanuver dengan satu tangan, tidak ada satu pun petugas yang berinisiatif menolong si ibu ini.

Chloe baring di tempatnya, Joel masuk ke dalam troli. Kami bertiga pun belanja. Si bayi sama sekali tidak rewel, dia bahkan tidur pulas, yang mana hal ini hampir tidak pernah terjadi pada baby Joel, yang selalu ingin mempelajari hal-hal baru di luar rumahnya.

Selesai belanja, saya ditahan oleh dua orang petugas security. They wanted the trolley back. Saya bilang, bolehkah saya pinjam trolinya sampai di tempat parkir? Mobil saya parkir sangat dekat dengan pintu. Mereka bilang tidak boleh. Peraturan adalah peraturan.

They suggested me to carry the baby Chloe with one hand, while the other hand to push the trolley and Joel be seated in the trolley. Have they lost their mind? Si security#1 (sambil menarik troli bayi) tanya, bagaimana cara saya masuk tadi. Saya bilang, tadi saya kan ga bawa belanjaan. Saya sudah mulai kesal dan mulai merencanakan untuk mogok makan demo masak kecil dan berdiri di sana terus sampai mereka carikan saya solusi.

Kemudian security#2 punya ide dan memanggil trolley boy. Troli boi bantuin saya mendorong troli biasa (troli bayi udah diambil dengan secepat kilat), dan bantuin saya masukin barang ke dalam mobil. Si troli boi usil ini sempat nanya, “Suaminya mana, Bu.” Saya jawab dengan sedikit banyak pedas, “Kerja.” Hei.. ini kan hari kerja dan jam kerja. Tapi, pastinya, saya berikan sedikit tip untuk kebaikan si troli boi.

Kesimpulan: hipermarket2 di sini memang tidak ramah anak.

Pertama, troli bayinya pun sebenarnya tidak akan lolos standar kelayakan untuk keamanan seorang bayi. Tempat berbaring bayinya tidak dilengkapi dengan safety belt, kemungkinan dulu pernah ada tapi dah copot.

Kedua, Anda diharapkan untuk belanja dengan membawa asisten (sekretaris/manajer/PRT/nanny/governess/supir/tukang kebun). Jika Anda tidak punya asisten, lebih baik tunggu weekend. Harap diingat kalau pada hari-hari itu, hipermarket2 di Jakarta dan sekitarnya bersituasi seperti kolam cendol, yang lagi2 pasti tidak nyaman buat bayi dan anak kecil.

Jadi.. sebaiknya punya asisten kalau mau belanja di hipermarket.

Posted by: devi @3:32 pm in as a mom | 1 Comment »

27 Sep 2008

Laskar Pelangi The Movie

Dengan sedikit usaha (cari yang bisa jagain baby Chloe: thx to my sister Meike), akhirnya kesampean juga nonton Laskar Pelangi ini.

Dari awal nonton saya udah siap-siap bakal menyaksikan keindahan sinematografi dan fotografi (bener ga sih istilahnya) ala Riri/Mira. Dan, benar saja… luar biasa cantiknya film ini. Mata kita dipuaskan oleh suguhan gambar-gambar indah pemandangan pulau Belitung. Setelah kecewa menonton kualitas (gambar dan cerita) film indonesia lain sebelum yang ini, film ini jadi semacam penawar rindu akan film indonesia yang sejati.

Terasa dekat di hati, menyaksikan langit biru, pantai pasir putih berbatu besar, juga pepohonan yang juga lazim ditemui di tanah kelahiran saya, Bangka. FYI, pulau Bangka tak kalah cantiknya.. sebagai perbandingan coba klik di sini .

Juga PN Timah, yang saya kenal dengan sebutan TTB - Tambang Timah Bangka - yang begitu merajai di jaman dulu. Anak-anak karyawan TTB yang terkesan lebih borju dan berkelas dibanding kami penduduk lokal. Bedanya dengan anak-anak Laskar Pelangi, saya lebih beruntung karena punya kesempatan sekolah di sebuah sekolah swasta katolik yang dianggap terbaik di Belinyu pada masa itu.

Juga bunyi sirene meraung-raung (bahasa hakka bangka: fokai hiong), yang menandakan jam masuk karyawan, jam istirahat dan jam pulang. Saya ingat dulu Mama sering menggunakan istilah: “Sirene dah bunyi tuh” untuk menyuruh kami pulang dari bermain :)

Back to the movie.. katanya memang jangan bandingin ama buku. Anggaplah ini sebagai sebuah karya seni yang berdiri sendiri. Tapi susah juga, karena ada beberapa bagian yang sulit dimengerti jika kita tidak pernah membaca bukunya. Misal: hilangnya Flo, kisah pencarian Tuk Bayan yang digambarkan dengan seru di buku, dan beberapa bagian lain. Mungkin memang sulit mengemas buku yang padat ini ke dalam sebuah film berdurasi 2 jam-an.

Bukunya sendiri buat saya agak hiperbolis. Soal-soal yang diberikan pada lomba Cerdas Cermatnya terasa terlalu berat untuk anak SD kelas 5. Seingat saya, dulu saya belajar tentang kecepatan, percepatan, antara SMP atau SMA. Padahal saya lebih muda angkatannya dibanding Andrea, atau memang angkatan tua itu lebih berat pelajarannya?

Bagaimana pun… ini film yang luar biasa indah dan memanjakan mata. Lihatlah betapa cantiknya pulau Belitung (jangan lupa tengok pulau Bangka juga yaaaaaa), bisa saya bilang keindahan pantai Bali jauuh dibanding pantai2 di pulau2 ini. Analisa saya: yang membedakan adalah orang Bali itu nyeni dan bersedia hidup demi idelisme, orang Melayu Bangka/Belitung tidak seperti itu. Orang Bali tahu memberikan servis, sementara Melayu Bangka/Belitung tidak menyukai pekerjaan melayani orang asing (wisatawan). Akhirnya, industri pariwisata Bangka/Belitung akan dikuasai juga oleh pendatang dari pulau lain - sebutlah Jawa.

Duh.. kok jadi melantur… maklum sedang bernostalgia.

Terimakasih untuk Miles Production untuk filmnya yang cantik, yang mau mengupas kehidupan di pulau-pulau cantik yang jarang diangkat oleh media. Terimakasih karena memberikan kesempatan untuk anak-anak asli Belitung untuk menghidupkan film ini, karena dialek mereka-lah yang membuat film ini menjadi asli.

Good movie. Ada promo buy 1 get 1 free di 21cineplex dari debit Mandiri.

Posted by: devi @8:24 am in as a unique person | 1 Comment »

16 Sep 2008

Belajar Memberikan Bukti

Beberapa waktu lalu Joel menginformasikan kepada kami bahwa ia melihat di kompleks kami ada mobil yang plat (nomor polisi)-nya ada tiga digit huruf di bagian belakang, NFA katanya. Dugaan kami waktu itu dia mengada-ada (yang punya huruf tiga digit di belakang kan sepeda motor?) Atau mungkin dia salah lihat. Tapi dia yakin sekali dia benar.

Beberapa hari yang lalu waktu jalan-jalan sore, Joel menunjukkan kepada saya.. “Ma, itu lho. Yang Joel bilang, di belakangnya ada tiga huruf. NFA.”

Saya hampir tidak percaya. Wah, ternyata nomor registrasi mobil di wilayah Jakarta sudah sampai tiga digit huruf-nya. Wah..wah. Ternyata Joel yang benar ya… maklum kami (Mamanya terutama) sudah jarang menginjak jalan-jalan Jakarta.

Lalu, saya minta Joel fotokan dengan kamera handphone saya, agar bisa diperlihatkan kepada Papa sebagai bukti atas perkataannya. Dan inilah hasilnya:

tigadigit-plat

Demi privasi si pemilik mobil, tentu harus diedit sedikit. Hayo, ada yang bisa tebak mobil apakah ini? ;)

Posted by: devi @2:30 pm in as a unique person | No Comments »

12 Sep 2008

Chloe: Dari Lahir Sampai Tiga Bulan

chloe-3mo

She’s a real blessing, a gift from God for Papa, Mama, and brother Joel.

Chloe belum pernah bingung antara pagi dan malam. Dia tahu kalau malam harus tidur panjang, dan siang kalau perlu tidak usah tidur dan membuat Mama hanya bisa bersenang-senang di malam hari :D

Sekarang tiap menjelang jam 8 malam, dia sudah rewel minta tidur, dan bangun minta susu hanya satu kali jam 2, sebelum akhirnya tersenyum pada siapa saja yang dia lihat pertama pagi itu.

We love you, little girl.

Posted by: devi @5:06 pm in as a mom | 3 Comments »

01 Sep 2008

Blogging tentang Keluarga: Hanya Untuk Suami Melankolis?

Bisakah judul ini dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Sebenarnya saya hanya punya satu contoh resmi, suami saya sendiri, Mr. Dian Pamilih. Check out his blog, and you can hardly find any posting about his family, his kids, his wife, his mom & dad, etc.

Makanya saya sering takjub membaca blog seorang suami tentang kelahiran anaknya, kehamilan istrinya, ultah putranya, perkembangan bayinya, dll.

Sebenarnya apa yang membuat seorang pria bisa bercerita kepada publik tentang keluarganya? Sebaliknya, apa yang membuat pria tidak merasa perlu melakukannya? Apakah ini masalah perbedaan prioritas atau hanya masalah perbedaan tipe saja?

Atau.. yang menulis blog tentang keluarganya ini adalah mereka yang memang punya waktu melimpah alias kurang kerjaan? *Just kidding :D*

Posted by: devi @3:26 pm in as a unique person, as a wife | 1 Comment »

01 Sep 2008

Chloe’s Recent Updates

Si baby girl udah tiga bulan umurnya. Terakhir timbang seminggu lalu, ukurannya:
BB: 6,1kg
TB: 58cm
LK: 38cm
Konon, dalam pengukuran panjang bayi, hasilnya kurang akurat, karena gerakan bayi bisa mempengaruhi pengukuran.

Nampaknya my baby girl akan jadi bayi yang ramah dan murah senyum nantinya. Dia selalu memberikan senyum selamat pagi buat Mama, suka ngoceh dengan siapa saja, dan suka ikutan nyanyi.

Sementara secara fisik, dia belum bisa tengkurap sendiri. Miring-miringin badannya aja jarang :). Padahal waktu baru 1 bulan, beberapa kali dia terbangun kaget, karena dari posisi 3/4 tengkurap dia telentang.

Tapi hari ini waktu sedang jalan-jalan sore, Chloe happy sekali karena mainan yang dipasang di stroller, yang selama ini diamatinya dengan penuh minat, sudah mulai bisa dia pegang. Dia juga punya hobby baru, ketuk-ketukin tangannya di dada Mama, sambil mengamati dengan serius.

Pipinya agak sedikit menyusut, karena beberapa hari lalu dia pilek - ketularan Joel. Kasian deh kalo liat bayi sakit :(

*foto nyusul yah*

Posted by: devi @3:15 pm in as a mom | 1 Comment »