Tue, 09 Feb 2010; 07:05:42 PM

09 Feb 2010

Resto Review: Waroeng Kita @PX St. Moritz, Puri Indah

Harus ada kejadian yang cukup istimewa sehingga saya mereview sebuah restoran di tempat ala mal seperti ini.

Saya sebenarnya ga terlalu minat dengan restoran yang menyebut dirinya authentic indonesian food yang menghidangkan adalah menu seperti nasi goreng, mie goreng jawa, nasi lemak, iga bakar, dan sejenisnya. Karena makanan seperti ini terlalu ‘biasa’, mudah ditemukan dan sebagian bisa dibuat sendiri di rumah.

Ceritanya, Joel menerobos masuk ke sana, karena ingin melihat pemandangan tempat parkir dari resto ini. Ya wis, let’s give it a try.

Ok, pertama kita review tempatnya. Tempatnya cukup cozy, cukup nyaman. Si WK ini terletak satu area dengan beberapa boutique resto lain yang punya tema beda. Jadi PX Pavillion membuat satu area makan yang terdiri dari chinese, italian, thai, and indonesian cuisine. Mereka berbagi fasilitas seperti wi-fi, termasuk high chair! Sayang pas ke sana, Chloe ga kebagian high chair, jadinya ya agak repot lah megangin si batita yang sedang besar rasa ingin tahunya.

Menu, seperti saya dah bilang tadi, ga ada yang bener-bener bikin saya pengen. Semuanya seperti food next door. Tahu gimbal, pecel, nasgor, sekoteng, duh. Well, kalo harganya terjangkau sih ga apa-apa. Nasi pecel dengan tambahan sepotong ayam saja dibandrol di atas Rp 30rb (blom termasuk tax 15%).

Akhirnya, dengan berat hati saya memesan mie goreng jawa (20K-an). Pampi pesan nasi lemak (30K-an). Minumnya kami pesan teh tarik dan sekoteng. Tadinya mau pesan tahu gimbal (kayak tahu pong + bakwan gitu), ga jadi karena beginilah penjelasan mbak waitress yang berbaju sangat rapi, berblazer gitu deh,

“Mmm.. agak lama lho.”

“Berapa lama? Buat snack aja, kok.”

“Agak lama, Pak. Kalo lagi ga rame aja 15 menit. Soalnya tahu gimbalnya semuanya dibikin manual.”

MANUAL? emangnya ada yang matik gitu :p heheheheeh. Mungkin maksud dia made-to-order.

Ya sudahlah, sepertinya dia tidak ingin kami memesan tahu gimbal, dibatalin aja deh.

Lalu.. tak lama datanglah nasi lemak Pampi. Mie saya menyusul tak lama kemudian. Makanan-makanan ini memang disajikan dengan acntik. Piring sajinya bikin saya pengen, sayang ga sempat foto. Teh tarik Joel dan sekoteng datang tak lama kemudian.

Apa yang terjadi beberapa menit kemudian? Saya harus bilang bahwa makanan-makanan yang kami pesan sangat MENGECEWAKAN. Totally dissapointed. Ayamnya Pampi masih berdarah, blom mateng, walau akhirnya diganti, kalo saya jadi dia pasti dah kehilangan nafsu makan. Dan, mereka tidak sedikit pun menunjukkan gesture penyesalan. Yang ada agak panik gitu, lalu cepat-cepat mengambil piring Pampi dan berjanji untuk menggantinya. That’s it.

Mie gorengnya rada keasinan dan porsinya ya ampun kecil banget. Mungkin maksudnya baik, karena asin jadi ga boleh terlalu banyak ya… bisa darah tinggi. :p Lalu, rasanya jauh dari mie goreng jawa otentik yang saya kenal.

Sekotengnya astaga…. rasanya nyaris tawar. Hanya ada sedikit hint jahe. Isinya sih cukup beragam, ada rumput laut, kacang ijo, dll. Dan, mereka memasang harga Rp 15Kb untuk sekoteng ga enak ini. Kebangetan. Saya langsung teringat sekoteng abang-abang yang jauh lebih enak dari ini. Juga langsung teringat ronde Jago di Salatiga seharga separohnya yang rasanya 1000 kali lipat lebih enak dari yang di Waroeng Kita.

Jadi… apanya yang otentik? Terlalu confidence menurut saya.

Mungkin hanya teh tarik (yg juga tidak otentik) yang masih bisa dibilang lumayan enak. The rest are totally not worth for your money. Porsinya juga agak kecil, Pampi masih lapar setelah menyantap sepiring nasi lemaknya.

Satu-satunya kelebihannya adalah mereka sedang dalam masa promosi, ada diskon 30% dari total makan+minum+pajak.

FYI, iga bakarnya yang katanya most recommended diberi harga Rp 95K.

Mungkin resto model begini cocoknya buat target market orang bule yang ga gitu paham rasa masakan indonesia sebenarnya. Benar-benar jauh dari kata otentik.

Saya ga tau pemiliknya sapa, tapi semoga mereka baca kritik saya dan yeaahh.. pls consider a room for improvement.

Mereka punya website, dan ada account facebooknya. Saya tidak ingin promosi restoran mereka di sini, jadi saya tidak sertakan link-nya. Google aja Waroeng Kita St Moritz, Google will bring you there. Please don’t judge a food by how its package.

So my review will be: thumbdown

Posted by: @1:34 am in as a unique person | No Comments »

30 Jan 2010

Acicu

Kadang-kadang saya bertanya pada Chloe, Tuhan Yesus ada di mana, dia akan menaruh tangannya di dada dan berkata: aci (hati).

Namun, sudah beberapa waktu ini dia akan menjawab: acicu. Cukup lama saya baru ngeh maksud dia adalah: hatiku. Dari mana dia denger kata ini, ya? Kemungkinan dari beberapa lagu yang sering kami nyanyikan bersama, seperti lagu Bulan Sabit di Awan — betapa senang hatiku rasanya menjadi nahkoda di sana — atau lagu Balonku — meletus balon hijau DOR hatiku sangat kacau. Read on »

Posted by: @1:29 pm Tags:
in as a mom | 1 Comment »

06 Jan 2010

Perang Cokelat: Repost

Ini postinganku tiga tahun lalu di Multiply. Dah lupa juga pernah nulis (ngerangkum & nerjemahin & rephrase tepatnya) tentang ini.

Kangen juga bisa bikin posting kayak gini lagi. Seandainya ada waktu luang melimpah kayak dulu….

———————————————–

Habis baca cuplikan buku The Chocolate Wars karangan Joel Glenn Brenner di Reader’s Digest ‘99 (jadoel banget yaaa)… Menarik sekali cerita ttg perang yang terjadi antara dua raksasa pembuat coklat: Hershey dan Mars. Read on »

Posted by: @1:58 am Tags:
in as a unique person | No Comments »

02 Jan 2010

Jejak Tangan Misterius

jejaktangan

Suatu pagi yang nyaman di awal tahun 2010.. Aaahhh indahnyaaa… Namun tiba-tiba mataku tertumbuk pada benda putih berserbuk di atas sofa. Sebuah jejak tangan misterius. Wah! Ada pencuri?!!!

Mencurigakan sekali..  Maka, dengan mengendap-endap Mama berusaha menangkap basah si pencuri. Tidak perlu bersusah-susah ternyata.. hanya sekitar 3 meter dari sofa, pemilik jejak tangan misterius sedang asik dengan ulah badungnya. Ini dia, mahkluk terkecil di rumah yang sedang berenang di atas selapis tepung maizena yang ‘dicurinya’ dari kulkas Mama saat Mama membiarkan pintu (kulkas)nya terbuka sejenak.

tersangka

Ini dia orangnya! Sayangnya dia terlalu lucu untuk dimarahi :D hohohohohoho.

chloe-badung

Posted by: @5:19 pm Tags:
in as a mom | 8 Comments »

29 Dec 2009

Enam Jam di Blok Ambassador

Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.

Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya. :)

FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon. :)

Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.

Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.

Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila :D .

Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!

Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.

Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.

Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.

Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”

How guilty my thoughts are! Anyways………

Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.

Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.

“Sorry, I can not give you my number.”

“Why?”

Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.

“My husband is waiting. Bye!”

Saya langsung kabur.

Posted by: @5:54 pm Tags:
in as a unique person | 3 Comments »

02 Dec 2009

Will Kiss The Crazy Traffic Again So Soon

Bukan saya. Tapi my darling Pampi.

Pampi akan balik jadi ‘orang Jakarta sesuai jam kantor’. Kira-kira sebulan lagilah. Saya dan anak-anak tetap jadi orang Gading (Serpong).

Tentu, ini berarti harus bangun lebih pagi, tidur lebih awal, sarapan yang cukup untuk memerangi ganasnya perjalanan mencari nafkah :) Hmm.. jika sekarang kami berpisah sekitar 10 jam per hari Senin-Jumat, sepertinya sekarang saya akan tidak melihat dirinya paling tidak 13 jam sehari.

Itu juga berarti harus ada kompensasi buat kami yang ditinggal lebih lama ketimbang kantor yang sekarang. Dulu kami punya ‘kemewahan’ tinggal telpon Papa kalo ada masalah di rumah (kantor-rumah hanya 5 km), sekarang tentu tidak mungkin mendatangkan dirinya dari Jakarta setiap saat :D kecuali ada Dora Emon lagi mampir ke kantornya.

Nah, saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan nanti. Tapi saya percaya, God provides our needs.

Congratulation for your new office, Hun. Prepare yourself ya.

Posted by: @2:19 am Tags: ,
in as a wife | 1 Comment »

02 Dec 2009

Cerdas Sebelum Berobat

Sering sekali konsumen jasa kesehatan tidak memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan, sehingga disuruh apa saja oleh dokter pasti akan dituruti.

Saya & suami sudah cukup ‘celik’ matanya untuk tidak membiarkan diri kami & anak-anak didikte oleh para dokter, sebaik apa pun orangnya.

Ketidaktahuan pasien ini sangat menggoda. Bahkan, dokter Handrawan Nadesul pernah menulis di Kompas, godaan ini sangat besar buat para dokter. Bayangkan komisi yang mereka terima dari produsen obat atas tiap resep yang mereka keluarkan, belum lagi dari rumahsakit atas rujukan penggunaan fasilitas. Tentu masih banyak dokter yang punya hati nurani, temukanlah dia.

Beberapa waktu lalu Chloe sedikit batuk, jelas sekali terdengar pernapasannya terganggu oleh dahak, susah sekali dia tidur dengan nyaman. Mucopect adalah andalan saya untuk kondisi seperti ini. Namun bagaimana dengan dosisnya? Tentu saya tidak boleh sembarangan dong?

Nah, inilah gunanya website satu ini. Di situ ada keterangan lengkap tentang komposisi obat, dosis, efek samping sampai harga yang ditawarkan oleh mereka.

Perlengkapi diri dengan pengetahuan seperti ini, karena untuk hal ini kita tidak perlu harus pergi ke dokter dan menghabiskan ratusan ribu di situ. Dengan bekal pengalaman bersama Joel (5 tahun), saya kira-kira sudah bisa meraba obat-obat yang diresepkan dokter untuk penyakit khas anak-anak.

Dokter anak kesayangan kami :p dokter Eric F. Kan dari RS Siloam Karawaci termasuk yang tidak pelit berbagi ilmu. Untuk demam, dia ajarkan saya mengkombinasikan penurun panas seperti Proris, Tempra untuk demam sedang, dan Bufect untuk demam di atas 39. “Main-main saja di situ,” katanya dengan logat Menado.

Seorang dokter anak lagi bernama Weny Tjiali (beliau ini pria lho) juga tidak pelit saat memberi kuliah singkat tentang mengenali problem mata merah. Dengan menggambar di sebuah kertas dia memberita tahu saya, “Jika merahnya terjadi pada pinggir mata, berarti tidak perlu kuatir. Namun jika terjadinya pada kornea, itu perlu kuatir.”

Intinya, jadilah konsumen cerdas untuk produk apa saja.

Posted by: @12:24 am Tags: , ,
in as a mom, as a unique person | 4 Comments »

01 Nov 2009

Cooking Page

Seperti kurang kerjaan, saya bikin blog baru.

Kali ini khusus tentang masak. Dan karena saya tidak ingin membebani server hosting kami dengan foto2 makanan yang pasti menyita space, saya titipin aja ke servernya wordpress.com.

Nah.. klik di sini ya kalau mau lihat.

Posted by: @2:13 am Tags: ,
in as a unique person | No Comments »

31 Oct 2009

She is 17 months

chloe-hapeOoohh… she is 17 months now. Sweet and pleasant she is.

It was a doubt when I have her in my womb. I did not know if I can share my heart to one more person.

But, it doesn’t require a lot efforts to love her. You don’t even have to try. You will fall in love for her instantly.

This little gal has it. Her personality, her cheerful smile, she is blooming just as her name: Chloe.

In her 17 months, she has mastered stair climbing skill — she can go down by the stairs without help; first time it was a horror for me–, able to communicate in human language :) her most favorite word is: MAWUUU… (want).

She is also able to do simple order, like: “Chloe, get your pants.” She will rush to her room, pull out a pants from the drawer, push the drawer back and bring the pants to me.

And, she will tell you whenever she thinks its time to poo-poo, “Pook!” Unfortunately, she still can not tell me when she feels like to pee. :)

She loves books. Aaaahhh, she will get you read for her over and over. She never gets enough with the books. Her brother Joel can read at 3yo 6mo. It’s quite early. But, I’m pretty sure Chloe will get her literacy earlier. Recently, I found that she recognize the number 4. “Empak,” or empat means four. This number means nothing for her, for sure. FYI, we don’t teach her to read nor adopt any teach-your-baby-to-read methods. All we do is read to her. Anything, anywhere. Sometimes, she will read the book herself — pretended to read actually — and babbling out some cute words. My sister said that her babbling sounds like Thai. Hahha.

Happy 17mo, Dek.

Posted by: @7:21 pm Tags:
in as a mom | 1 Comment »

23 Oct 2009

What is He Doing Actually?

Pampie pulang dari Jogja hari ini.

Seperti biasa dia minta dijemput sebuah perusaan sewa mobil di Villa Melati Mas – Serpong sini. Chauffeur (sopir gitu maksudnya hihi) mereka cukup sopan dan ramah. Antar&jemput Serpong-Bandara dibandrol 100rb rupiah saat ini.

Ada yang istimewa dengan sopir kali ini. Penampilannya beda, tidak seperti sopir-sopir pada umumnya. Dia tampak elegan, anggun, classy. Saat saya keluar untuk menyongsong suami yang baru pulang dari tugas ke luar kota itu, Bapak itu sedang duduk di undakan rumah kami, menulis kuitansi.

“Malam, Bu,” sapanya.

Ini saja sudah mengejutkan. Sejak kapan sopir mobil sewaan sesopan ini? Mulai detik itu saya memperhatikan dia terus. Ada aura ‘orang terhormat’ dalam dirinya. Dia tidak terlihat seperti seorang karyawan perusahaan sewa mobil, dia lebih terlihat seperti orangtua kita, mengerti maksud saya?

Berdialog singkat dengan Pampie, dia pamit pulang. Dia bahkan menjawab, injih dengan luwes waktu saya mengucapkan terimakasih padanya.

Pampie lalu bercerita bahwa bapak tadi pernah diliput Kompas karena melakukan perjalanan dengan sepeda ke Bali setelah operasi jantungnya.

Wow! Double surprise.

Atau.. triple surprise setelah membaca artikel ini.

Dia baru saja dioperasi jantungnya Januari tahun lalu.
Dia gila bersepeda, paling tidak 20-30km per hari.
Dia memeriksakan jantungnya di Mount Elizabeth Singapore.
Dia berbesan dengan dokter.
Dia adalah mantan instruktur teknik di Sekolah Penerbangan Curug.
dan
Dia juga berprofesi jadi sopir perusahaan sewa mobil?

Omigod…

Related Posts with Thumbnails

Posted by: @5:00 pm Tags:
in as a unique person | No Comments »


about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe