Sat, 04 Sep 2010; 07:13:13 AM

03 Aug 2010

Catatan Untuk Para Penerjemah

Baru sekali ini saya dapat tugas jadi editor sebuah buku berhalaman banyak (hampir 300 hal). Buku rohani, non-fiksi pula.

Belum-belum, baru di halaman persembahan, kening saya sudah berkerut, berlipat-lipat. Saya tidak mengerti apa yang saya baca…. padahal itu dalam bahasa saya! Ada yang salah dengan diri saya?

Hhhh.. (menghela napas)…

Saya teringat, bahwa beberapa waktu ini saya juga sering mengalami momen seperti ini saat membaca buku-buku terjemahan, termasuk terbitan penerbit besar.

Pernah sekali saya mencoba menerjemahkan buku, tipis saja, di bawah 100 halaman. Tetapi saya ingat, saya sampai panas-dingin karena merasa kesulitan teramat sangat untuk menghadirkan aura buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Maka, karir saya sebagai penerjemah berakhir di buku itu. Saya kapok! Gak lagi, deh.

Saya segera menyadari betapa sulitnya tugas seorang penerjemah dalam mengalihkan bahasa. Dia tidak sekedar mencari terjemahan sebuah kata ke dalam bahasanya, dia juga wajib membuat jembatan sehingga perbedaan bahasa bisa terseberangi, pembaca menangkap setiap esensi yang ingin disampaikan penulis. Lebih baik lagi jika keindahan karya tulis itu juga bisa tetap tersaji.

Tadinya saya pikir menerjemahkan itu adalah tugas gampang. Apa susahnya sih menerjemahkan? Kalau ga tau artinya, kan tinggal buka kamus toh? Tetapi ternyata tidak semudah itu. Tidak segampang itu. Kecuali penerjemahnya tidak punya tanggung jawab moral.

Terus terang, kualitas penerjemahan sekarang sudah bergeser menurun dibanding dekade-dekade lalu. Saya ingat, buku-buku Enyd Blyton, Astrid Lindgren, buku2 Asterix, Tintin, termasuk Harry Potter yang paling mutakhir, semuanya bisa dibaca dengan lancar, tanpa harus jago bahasa Inggris. Untuk buku rohani, buku Max Lucado berjudul Allah Masih Melakukan Mukjizat (Andi); yang adalah pertemuan saya dengan karya pengarang ini; membuat saya jatuh hati karena diterjemahkan dengan sangat baik dan tidak mengurangi sama sekali keindahan gaya tutur seorang Max Lucado, padahal desainnya sangat sederhana, background hitam bintik-bintik dengan font ala wordart-nya Microsoft Word. Buku-buku berikutnya yang hadir dalam balutan cover lebih mewah dari Bina Rupa Aksara justru belum mampu mengungguli yang dari Andi.

Kembali ke tugas penerjemah.. Kenapa sih penerjemahan cenderung turun kualitasnya?

Konon kabarnya penerbit2 besar pelit membayar honor penerjemah. Akibatnya mereka menjaring penerjemah2 dengan jam terbang minim, yang mau dibayar lebih rendah.

Saya tidak mengejek siapa-siapa. Saya mengejek diri sendiri. Pengalaman saya menerjemahkan satu2nya buku itu menyadarkan saya. Saya tidak qualified. Mungkin bahasa Inggris saya lumayan, nilai bahasa Inggris saya di rapor selalu di atas 8, nilai NEM bahasa Inggris saya di SMP dan SMA di atas 9. Tapi itu tidak berarti saya jago bahasa Inggris, lho. Saya hanya jago pelajaran bahasa Inggris. Hehe.

Masih banyak penerjemah yang ‘malas’ membaca ulang hasil terjemahannya. Sering ga enak dibaca lho.. coba deh baca, kalau yang nerjemahin sendiri ga ngerti apa yang penulis mau sampaikan, gimana berharap pembaca ngerti? Menurut saya, penerjemah punya tugas mencarikan kata terbaik dalam bahasanya untuk mewakili bahasa asing yang sedang dia terjemahkan itu. Parahnya, kalau ketemu editor malas juga.. sudahlah, hancur sudah itu hasil terjemahan.

Bagaimana pun saya bukan penutur asli. Saya bisa salah memahami apa yang dimaksud penulis. Lagipula tulisan itu kadang punya makna bersayap, kadang kata2 itu ternyata adalah sebuah idiom, yang walhasil diterjemahkan kata per kata oleh penerjemah yang memang tidak punya budaya yang sama.

Saya ingat dalam sebuah tugas pengeditan, sebuah idiom: every cloud has a silver lining, diterjemahkan begitu saja sebagai: setiap awan pasti punya garis keperakan; tanpa dijelaskan lebih jauh arti peribahasa ini. Kemungkinan si penerjemah tidak tahu ini adalah sebuah idiom.

Penerjemah (yang bukan penutur asli, yang tidak benar-benar fasih, yang tidak pernah tinggal di negara berbahasa tersebut) harus banyak membaca dalam bahasa yang ‘maunya’ jadi spesialisasi dia. Lalu, dia harus coba menulis juga dalam bahasa itu., makin sering makin baik, karena jika kita mulai terbiasa mengungkapkan perasaan kita dalam bahasa asing tersebut, kita jadi lebih gampang memahami maksud penulis. Membaca, menulis, membaca, menulis, riset di internet — seperti yang saya lakukan setiap ketemu kata sulit. Saya selalu googling kata sulit itu sampai saya berhasil menangkap maknanya dan bisa menulisnya kembali dalam bahasa saya.

Justru, menurut saya, penerjemah ga usah terlalu pusing dengan tata bahasa Bahasa Indonesia, itu tugas editor. Yang penting, carikanlah kata yang paling tepat dalam bahasa kita, makna yang paling mendekati.

Kesulitan terbesar penerjemahan, menurut saya, yaitu sering saat membaca kita mengerti, tapi hanya di dalam pikiran. Kita tidak berhasil meng-indonesiakannya. Kita tidak berhasil membawanya ke luar pikiran kita. Justru di situlah tantangan jadi penerjemah. Jadi jembatan, jadi komunikator.

Camkanlah.. karya kita akan dibaca banyak orang. Walaupun honornya mungkin ga seberapa (doakan saja penerbit lebih bermurah hati), tapi adalah tanggung jawab kita untuk membawa pembaca memahami apa yang dia baca. Jangan sampai tambah pusing setelah membaca hasil terjemahan kita. :D

Posted by: admin @4:54 pm in as a unique person | 3 Comments »

19 May 2010

McRuffy Press

Mungkin ada yang pengen tahu.

Setelah MFW First Grade selesai nanti, saya akan pindah sejenak ke model textbook (tapi harus yang fun) dan akan saya kombinasikan dengan Heart of Dakota yang begitu gentle dan uhmm.. rileks.

Saya tidak akan buru-buru ambil kurikulum Second Grade. Saya ingin Joel belajar dengan cara yang lain selain yang ditawarkan MFW. Bahkan science saya pilihkan yang first grade juga. Menurut saya, science itu sifatnya umum, ya seperti pengetahuan umum gitu, susah mau distandarkan. Jadi buat saya Joel tidak sedang downgrade, tapi sedang belajar dengan cara yang lain.

McRuffy jadi pilihan saya. Sempat batal karena biaya pengirimannya dari US-Indonesia mencapai Rp 1 juta. Untung ketemu dengan forwarder yang siap membantu membelikan dan mengantar buku-buku ini ke rumah. Kebayang kalo saya harus menebusnya lagi di kantor pos. Box-nya berat banget!

Kesan pertama saya, puas. Harganya sesuai dengan yang saya dapat. Untuk 3 kurikulum di bawah ini saya mengeluarkan uang Rp 3.050.000. Itu sudah termasuk ongkos kirim. Jika dibagi 12 bulan, berarti pengeluaran saya adalah Rp 250.000. Cukup terjangkau kan? Saya bahkan tidak perlu keluar dari pekarangan rumah untuk mengambil kurikulum ini.

Inilah pertama kali kami punya kurikulum berwarna. Walaupun gambarnya sederhana (digambar sendiri oleh penyusun kurikulum ini), buku-bukunya tampil rapi, kertasnya bagus, covernya sudah dilaminating, saya juga suka plastic wire-nya yang simpel.

Saya juga suka karena McRuffy berbaik hati melaminasikan board game, beberapa chart, juga item-item lain. Saya juga suka dengan lab kit untuk sciencenya.. bahkan kelereng aja dimasukkan ke dalamnya. Saya senang, karena sebagian besar kerepotan saya bisa dieliminasi. Mungkin karena Brian Davis sang penyusun, adalah seorang guru sekolah. Dia nampaknya mengerti betul kerepotan seorang pengajar.

Berikut detail kurikulum yang saya beli. Saya belum bisa kasih review tentang isi, karena baru baca yang Science. Sejauh ini manual pengajar cukup mudah dimengerti, penjabaran cukup detail, jadi ortu tidak perlu kuatir harus ngomong apa dengan anak. Hehehee.

Gambar-gambar di bawah ini bisa diklik ya.

First Grade Language Arts

Ini adalah pelajaran Bahasa Inggris untuk kelas 1 SD, sudah termasuk Reading & Spelling. Belum termasuk handwriting.

Isi kurikulumnya adalah:
2 buku manual untuk ortu/guru
2 workbook, satu untuk reading, satu untuk spelling
34 buku bacaan sederhana (reader)
1 pack additional resource – isinya macem-macem, ada boardgame, copymaster, chart, dll. Sudah dilaminating dengan baik oleh mereka.

Linknya di sini: http://mcruffy.com/1P.htm

mcRuffy-LA-1stgrade

Second Grade Math

Enaknya homeschool, kita bisa campur-campur kurikulum tanpa ada patokan level, usia, dll.

Joel saya belikan yang second grade, karena memang setelah dilihat topik yang dicakup di first grade sudah dia kuasai.

Isi paket:
1 buku manual pengajar
1 workbook
1 Resource Pack yang isinya permainan2 sesuai topik yang dipelajari
1 Response Book
2 bungkus manipulatives kit

mcRuffy-math-2ndgrade

Linknya di sini: http://mcruffy.com/2M.htm

1st Science

mcRuffy-science-1stgrade

Ini science untuk kelas 1 SD. Di dalamnya sudah tercakup empat bentuk science,
* Physical Science
* Earth Science
* Life Science
* Scientific Inquiry

Paketnya terdiri dari:
1 manual pengajar
1 workbook
1 resource pack
1 lab kit

Linknya: http://mcruffy.com/1Sc.htm

Posted by: admin @1:23 am Tags:
in Uncategorized | No Comments »

03 May 2010

When God Spoke to a Kid’s Heart

Saat Teduh secara teratur benar-benar powerful. Saya harus malu sama Joel.

Tanpa sedikit pun membantah, selama lebih dari dua minggu terakhir ini, Joel rutin ber-Saat Teduh dengan bahan yang diberikan dari gereja anak di tempat kami. Tadinya Joel hanya berdoa saja setelah bangun pagi, itu pun saya tidak tahu apakah dia benar-benar berdoa. Tapi saya percaya padanya. :)

Pernah, suatu malam kami agak kelelahan karena acara sepanjang hari, dan tidur sudah agak malam, kami ‘lupa’ menemaninya Saat Teduh. Sampai hari ini kami masih melakukannya di malam hari, karena itulah saat Papanya bisa menemaninya, saya memang ingin Pampi yang pegang peranan ini, jadi imam buat anaknya.

Back to Joel. Apa yang terjadi? Tidak lama setelah kami masuk kamar, terdengar pintu kamar Joel dibuka, dan dia segera membuka pintu kamar kami. Joel meminta Papanya menemani dia Saat Teduh, waktu itu sudah hampir pukul 11 malam.

See? Anak-anaklah yang merasakan manfaatnya. Jika selama ini kita berpikir, seberapa sih yang bisa dipahami seorang anak berumur 6 tahun tentang Tuhan, tentang isi Firman Tuhan, dll — kini saya mengerti, walaupun mungkin dia tidak bisa mengutarakannya, sesuatu telah menyentuh hatinya, berbicara padanya, dan mengubah hidupnya.

Minggu pertama, Joel membaca Firman tentang ketaatan dengan role model Abraham. Minggu kedua, bacaannya tentang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Minggu ketiga tentang mengasihi sesama.

Banyak perubahan terjadi dan itu sangat menyentuh hati dan membukakan mata saya bahwa Tuhan mampu mengubah hati yang paling keras sekali pun, Firman Tuhan punya kuasa dahsyat mengubah hati seorang anak yang sebegitu pemalunya.

Joel sekarang lebih bisa berinteraksi dengan orang lain, bisa menanyakan pertanyaan seperti ,”Auntie, kapan ke sini lagi?”. Pertanyaan langka dari mulut seorang Joel. Sosialasi yang saya kuatirkan, tidak perlu lagi jadi beban pikiran saya.

Juga, hari Minggu yang lalu Joel membawa pulang sebuah sticker dari sekolah minggu. Walaupun sudah didesak-desak, dia bilang dia tidak mau cerita dari mana asalnya sticker itu. Satu-satunya clue yang dia berikan adalah, tidak semua anak mendapat sticker itu. Itu berarti dia melakukan sesuatu, bukan? Tapi dia tidak mau cerita juga.

Sampai hari ini, saya iseng tanya, “Kamu dapat sticker karena nyanyi di depan?” Bukan! katanya. “Tidak mau cerita.” Tiba-tiba saya dapat ide, “Kalau begitu pasti karena ayat hafalan.” Dia langsung mengiyakan. Wow! Hati saya bersorak kegirangan. Anak ini biasanya malu bahkan terkesan tak acuh pada kegiatan di sekolah minggu-nya. “Ditanya siapa yang mau maju sebutin ayat hafalan,” tambahnya lagi. Ini sih dobel wow! Berita hebat! Saya harus menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa atau terlalu excited karena Joel biasanya jadi risih dan malu.

Malam ini, ketika saya menemaninya Saat Teduh karena Papanya belum pulang, kami membaca tentang taat kepada orangtua sebagai implikasi dari mengasihi orangtua, Markus 19:19. Anak-anak diajak merenungkan betapa pentingnya orangtua buat mereka. Bahwa salah satu bentuk mengasihi orangtua (yang juga sesamanya) adalah dengan menaatinya. Juga anak-anak diajak minta maaf sama orangtua jika selama ini pernah melawan.

“Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kamu melawan ortu? Ayo minta maaf sama ortumu, ” begitu tulisan di bahan Saat Teduhnya.

“Nah, Joel mau minta maaf, ga?” tanya saya ga terlalu yakin.

“Mau. Gimana caranya?”

Maka saya ajari. Lalu dia mengulanginya ke saya. Saya sangat terharu. Saya peluk dia sambil berkata, “Mama maafkan”. Hati Joel lembut sekali, begitu mudah diajar. Biasanya Joel tidak mau melakukan hal-hal ‘memalukan’ seperti ini.

Kemudian saya minta dia melakukannya ke Papanya. Setelah ‘mengusir’ saya keluar — karena malu — dia minta maaf sama Papanya. Walau saya diultimatum untuk tidak mendengar, saya pasang kuping juga di pintu kamarnya, hati saya seperti disiram kesegaran luar biasa.

Sepertinya materi yang dia dapat selama ini dari kurikulum First Grade My Father’s World juga sedikit banyak telah menaburkan sesuatu di dalam hatinya. Ketaatan 100%, kesediaan melakukan perintah Tuhan, kehebatan dan mujizat-mujizat yang Dia lakukan, telah membuatnya lebih ‘aware’ tentang siapakah Tuhan yang kami, orangtuanya, percaya. Saya sungguh berharap kami berdua bisa menuntun Joel terus mengenal seorang Pribadi yang sungguh-sungguh mengasihi dia dan menerima Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat dalam hidupnya. Ini baru awal.

Many thanks to you, my God. I’ve witnessed the power of Your Word. Please God, do continue to work in us to make us what You want us to be.

Posted by: admin @11:07 pm Tags:
in as a mom | 4 Comments »

26 Apr 2010

Mom’s Oatmeal Cookie Recipe

Buat catat resep untuk dibuat dalam waktu dekat. :) Nanti kalo udah ada fotonya, baru dipajang ya.

Kue havermut-nya Mamaku ini uenak tenan. Ga bisa stop makannya, dan bikin gendut abis. Pernah bantuin bikin sekali, simple banget.

Bahan:
- mentega 100 gr
- margarine 150 gr
- havermut/oatmeal 500 gr*
- gula halus 250 gr
- terigu secukupnya (tidak pake juga ok)
- kuning telur 3 butir
- susu kental

Cara:
Campur mentega dengan gula, masukin telor. Aduk rata. Masukin susu.
Masukin havermut, diaduk ringan, asal kecampur aja.
Oven sekitar 30 menit.

Posted by: admin @10:16 am Tags:
in as a unique person | No Comments »

06 Apr 2010

Jujur Ber-Facebook

Ketika demam Facebook pertama melanda keluarga kami, Joe juga punya akun Facebook. Saya yang bikinkan, tahun 2009.

Sebenarnya waktu itu sudah ada rasa tidak nyaman. Tapi tetap saya bikinkan, karena saya tidak mau dia membaca posting-posting dari teman-teman yang tidak appropriate untuk umurnya. Juga, saya ingin dia lebih bangga karena tiap dia main game, skornya tercatat atas nama dia. Ketika itu, Joel rutin main GeoChallenge.

Perasaan saya yang agak terganggu ini karena terus menerus dibiarkan, lama-lama ga terlalu berasa lagi, walau tetap saja ada rasa ga nyaman mengganjal di hati.

Apalagi kemudian, terlihat Joel menikmati akun facebook atas namanya sendiri. Dia bisa main beberapa game kesukaannya, dari GeoChallenge sampai Pet Society dan sejenisnya. Joel hanya menggunakannya untuk main game dan (kadang) melihat komen foto orang-orang yang ada dalam networknya.

Saya biarkan terus, walau kadang-kadang saya bingung juga saat ada yang add dia sebagai teman, padahal orang itu (saya ga gitu kenal) jauh lebih tua dari dia, dan tentu ada potensi posting-posting yang tidak cocok untuk anak seusia dia mampir di wall-nya.

Sampai akhirnya tahun 2010 ini, karena perasaan saya tak kunjung tenang, terus terusik, ditambah ada sedikit sentilan saat khotbah hari Minggu, ditambah lagi perbincangan saya dengan seorang sahabat yang sudah seperti kakak sendir, saya makin yakin untuk segera menutup akun facebook Joel.

Sebelumnya saya diskusikan dengan Joel,

“Joel, facebook Joel, Mama tutup ya.”

Respon dia, pertama, “KENAPAAAA???!!!”

“Harusnya facebook itu untuk orang yang sudah berumur 17 tahun ke atas. Joel belum. Berarti kita bohong.”

Joel langsung menangis protes, menjerit, “GA MAU!!!!” Hati saya pedih.

“Ya, Mama yang salah. Karena Mama tahu harusnya tidak boleh, tapi Mama tetap bikinkan buat kamu. Mama mau taat sama Tuhan. Kata Tuhan kita tidak boleh berdusta. Kamu ingat ini perintah Allah nomor berapa?”

Joel masih menangis, tapi kemudian menjawab sambil menangis, “Nomor 9…. “

“Tapi! Kan, Mama ga tau waktu itu,” tambah Joel lagi.

Oh, betapa baiknya anakku menilaiku.

“Enggak, Joel. Mama sebenarnya sudah tahu. Mama bilang kamu lahir tahun 1992. Mama bohong. Maaf, ya.”

Sepertinya Joel mulai mengerti, karena tangisnya mulai mereda.

“Kita tutup ya, Joel?”

Lama Joel baru meresponi. “Iya.”

Oh.. hati saya lega. Plong.

Beberapa hari kemudian, akun Facebook Joel tidak sekedar dinonaktifkan, tapi dihapus untuk selamanya.

Makasih ya Joel, sudah membantu Mama jadi orang yang lebih jujur. Makasih Ko Joel Young buat sentilannya pas khotbah Minggu, makasih Ci Stasia yang membuatku tambah yakin untuk melakukan ini.

Biarlah nanti kalau Joel sudah berumur 17 tahun, dia bikin sendiri akun-akun pertemanannya sendiri

Posted by: admin @8:44 pm in as a mom | 2 Comments »

09 Feb 2010

Resto Review: Waroeng Kita @PX St. Moritz, Puri Indah

Harus ada kejadian yang cukup istimewa sehingga saya mereview sebuah restoran di tempat ala mal seperti ini.

Saya sebenarnya ga terlalu minat dengan restoran yang menyebut dirinya authentic indonesian food yang menghidangkan adalah menu seperti nasi goreng, mie goreng jawa, nasi lemak, iga bakar, dan sejenisnya. Karena makanan seperti ini terlalu ‘biasa’, mudah ditemukan dan sebagian bisa dibuat sendiri di rumah.

Ceritanya, Joel menerobos masuk ke sana, karena ingin melihat pemandangan tempat parkir dari resto ini. Ya wis, let’s give it a try.

Ok, pertama kita review tempatnya. Tempatnya cukup cozy, cukup nyaman. Si WK ini terletak satu area dengan beberapa boutique resto lain yang punya tema beda. Jadi PX Pavillion membuat satu area makan yang terdiri dari chinese, italian, thai, and indonesian cuisine. Mereka berbagi fasilitas seperti wi-fi, termasuk high chair! Sayang pas ke sana, Chloe ga kebagian high chair, jadinya ya agak repot lah megangin si batita yang sedang besar rasa ingin tahunya.

Menu, seperti saya dah bilang tadi, ga ada yang bener-bener bikin saya pengen. Semuanya seperti food next door. Tahu gimbal, pecel, nasgor, sekoteng, duh. Well, kalo harganya terjangkau sih ga apa-apa. Nasi pecel dengan tambahan sepotong ayam saja dibandrol di atas Rp 30rb (blom termasuk tax 15%).

Akhirnya, dengan berat hati saya memesan mie goreng jawa (20K-an). Pampi pesan nasi lemak (30K-an). Minumnya kami pesan teh tarik dan sekoteng. Tadinya mau pesan tahu gimbal (kayak tahu pong + bakwan gitu), ga jadi karena beginilah penjelasan mbak waitress yang berbaju sangat rapi, berblazer gitu deh,

“Mmm.. agak lama lho.”

“Berapa lama? Buat snack aja, kok.”

“Agak lama, Pak. Kalo lagi ga rame aja 15 menit. Soalnya tahu gimbalnya semuanya dibikin manual.”

MANUAL? emangnya ada yang matik gitu :p heheheheeh. Mungkin maksud dia made-to-order.

Ya sudahlah, sepertinya dia tidak ingin kami memesan tahu gimbal, dibatalin aja deh.

Lalu.. tak lama datanglah nasi lemak Pampi. Mie saya menyusul tak lama kemudian. Makanan-makanan ini memang disajikan dengan acntik. Piring sajinya bikin saya pengen, sayang ga sempat foto. Teh tarik Joel dan sekoteng datang tak lama kemudian.

Apa yang terjadi beberapa menit kemudian? Saya harus bilang bahwa makanan-makanan yang kami pesan sangat MENGECEWAKAN. Totally dissapointed. Ayamnya Pampi masih berdarah, blom mateng, walau akhirnya diganti, kalo saya jadi dia pasti dah kehilangan nafsu makan. Dan, mereka tidak sedikit pun menunjukkan gesture penyesalan. Yang ada agak panik gitu, lalu cepat-cepat mengambil piring Pampi dan berjanji untuk menggantinya. That’s it.

Mie gorengnya rada keasinan dan porsinya ya ampun kecil banget. Mungkin maksudnya baik, karena asin jadi ga boleh terlalu banyak ya… bisa darah tinggi. :p Lalu, rasanya jauh dari mie goreng jawa otentik yang saya kenal.

Sekotengnya astaga…. rasanya nyaris tawar. Hanya ada sedikit hint jahe. Isinya sih cukup beragam, ada rumput laut, kacang ijo, dll. Dan, mereka memasang harga Rp 15Kb untuk sekoteng ga enak ini. Kebangetan. Saya langsung teringat sekoteng abang-abang yang jauh lebih enak dari ini. Juga langsung teringat ronde Jago di Salatiga seharga separohnya yang rasanya 1000 kali lipat lebih enak dari yang di Waroeng Kita.

Jadi… apanya yang otentik? Terlalu confidence menurut saya.

Mungkin hanya teh tarik (yg juga tidak otentik) yang masih bisa dibilang lumayan enak. The rest are totally not worth for your money. Porsinya juga agak kecil, Pampi masih lapar setelah menyantap sepiring nasi lemaknya.

Satu-satunya kelebihannya adalah mereka sedang dalam masa promosi, ada diskon 30% dari total makan+minum+pajak.

FYI, iga bakarnya yang katanya most recommended diberi harga Rp 95K.

Mungkin resto model begini cocoknya buat target market orang bule yang ga gitu paham rasa masakan indonesia sebenarnya. Benar-benar jauh dari kata otentik.

Saya ga tau pemiliknya sapa, tapi semoga mereka baca kritik saya dan yeaahh.. pls consider a room for improvement.

Mereka punya website, dan ada account facebooknya. Saya tidak ingin promosi restoran mereka di sini, jadi saya tidak sertakan link-nya. Google aja Waroeng Kita St Moritz, Google will bring you there. Please don’t judge a food by how its package.

So my review will be: thumbdown

Posted by: admin @1:34 am in as a unique person | 2 Comments »

30 Jan 2010

Acicu

Kadang-kadang saya bertanya pada Chloe, Tuhan Yesus ada di mana, dia akan menaruh tangannya di dada dan berkata: aci (hati).

Namun, sudah beberapa waktu ini dia akan menjawab: acicu. Cukup lama saya baru ngeh maksud dia adalah: hatiku. Dari mana dia denger kata ini, ya? Kemungkinan dari beberapa lagu yang sering kami nyanyikan bersama, seperti lagu Bulan Sabit di Awan — betapa senang hatiku rasanya menjadi nahkoda di sana — atau lagu Balonku — meletus balon hijau DOR hatiku sangat kacau. Read on »

Posted by: admin @1:29 pm Tags:
in as a mom | 1 Comment »

06 Jan 2010

Perang Cokelat: Repost

Ini postinganku tiga tahun lalu di Multiply. Dah lupa juga pernah nulis (ngerangkum & nerjemahin & rephrase tepatnya) tentang ini.

Kangen juga bisa bikin posting kayak gini lagi. Seandainya ada waktu luang melimpah kayak dulu….

———————————————–

Habis baca cuplikan buku The Chocolate Wars karangan Joel Glenn Brenner di Reader’s Digest ‘99 (jadoel banget yaaa)… Menarik sekali cerita ttg perang yang terjadi antara dua raksasa pembuat coklat: Hershey dan Mars. Read on »

Posted by: admin @1:58 am Tags:
in as a unique person | No Comments »

02 Jan 2010

Jejak Tangan Misterius

jejaktangan

Suatu pagi yang nyaman di awal tahun 2010.. Aaahhh indahnyaaa… Namun tiba-tiba mataku tertumbuk pada benda putih berserbuk di atas sofa. Sebuah jejak tangan misterius. Wah! Ada pencuri?!!!

Mencurigakan sekali..  Maka, dengan mengendap-endap Mama berusaha menangkap basah si pencuri. Tidak perlu bersusah-susah ternyata.. hanya sekitar 3 meter dari sofa, pemilik jejak tangan misterius sedang asik dengan ulah badungnya. Ini dia, mahkluk terkecil di rumah yang sedang berenang di atas selapis tepung maizena yang ‘dicurinya’ dari kulkas Mama saat Mama membiarkan pintu (kulkas)nya terbuka sejenak.

tersangka

Ini dia orangnya! Sayangnya dia terlalu lucu untuk dimarahi :D hohohohohoho.

chloe-badung

Posted by: admin @5:19 pm Tags:
in as a mom | 8 Comments »

29 Dec 2009

Enam Jam di Blok Ambassador

Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.

Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya. :)

FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon. :)

Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.

Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.

Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila :D .

Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!

Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.

Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.

Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.

Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”

How guilty my thoughts are! Anyways………

Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.

Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.

“Sorry, I can not give you my number.”

“Why?”

Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.

“My husband is waiting. Bye!”

Saya langsung kabur.

Related Posts with Thumbnails

Posted by: admin @5:54 pm Tags:
in as a unique person | 3 Comments »


about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe