03 Aug 2010
Catatan Untuk Para Penerjemah
Baru sekali ini saya dapat tugas jadi editor sebuah buku berhalaman banyak (hampir 300 hal). Buku rohani, non-fiksi pula.
Belum-belum, baru di halaman persembahan, kening saya sudah berkerut, berlipat-lipat. Saya tidak mengerti apa yang saya baca…. padahal itu dalam bahasa saya! Ada yang salah dengan diri saya?
Hhhh.. (menghela napas)…
Saya teringat, bahwa beberapa waktu ini saya juga sering mengalami momen seperti ini saat membaca buku-buku terjemahan, termasuk terbitan penerbit besar.
Pernah sekali saya mencoba menerjemahkan buku, tipis saja, di bawah 100 halaman. Tetapi saya ingat, saya sampai panas-dingin karena merasa kesulitan teramat sangat untuk menghadirkan aura buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Maka, karir saya sebagai penerjemah berakhir di buku itu. Saya kapok! Gak lagi, deh.
Saya segera menyadari betapa sulitnya tugas seorang penerjemah dalam mengalihkan bahasa. Dia tidak sekedar mencari terjemahan sebuah kata ke dalam bahasanya, dia juga wajib membuat jembatan sehingga perbedaan bahasa bisa terseberangi, pembaca menangkap setiap esensi yang ingin disampaikan penulis. Lebih baik lagi jika keindahan karya tulis itu juga bisa tetap tersaji.
Tadinya saya pikir menerjemahkan itu adalah tugas gampang. Apa susahnya sih menerjemahkan? Kalau ga tau artinya, kan tinggal buka kamus toh? Tetapi ternyata tidak semudah itu. Tidak segampang itu. Kecuali penerjemahnya tidak punya tanggung jawab moral.
Terus terang, kualitas penerjemahan sekarang sudah bergeser menurun dibanding dekade-dekade lalu. Saya ingat, buku-buku Enyd Blyton, Astrid Lindgren, buku2 Asterix, Tintin, termasuk Harry Potter yang paling mutakhir, semuanya bisa dibaca dengan lancar, tanpa harus jago bahasa Inggris. Untuk buku rohani, buku Max Lucado berjudul Allah Masih Melakukan Mukjizat (Andi); yang adalah pertemuan saya dengan karya pengarang ini; membuat saya jatuh hati karena diterjemahkan dengan sangat baik dan tidak mengurangi sama sekali keindahan gaya tutur seorang Max Lucado, padahal desainnya sangat sederhana, background hitam bintik-bintik dengan font ala wordart-nya Microsoft Word. Buku-buku berikutnya yang hadir dalam balutan cover lebih mewah dari Bina Rupa Aksara justru belum mampu mengungguli yang dari Andi.
Kembali ke tugas penerjemah.. Kenapa sih penerjemahan cenderung turun kualitasnya?
Konon kabarnya penerbit2 besar pelit membayar honor penerjemah. Akibatnya mereka menjaring penerjemah2 dengan jam terbang minim, yang mau dibayar lebih rendah.
Saya tidak mengejek siapa-siapa. Saya mengejek diri sendiri. Pengalaman saya menerjemahkan satu2nya buku itu menyadarkan saya. Saya tidak qualified. Mungkin bahasa Inggris saya lumayan, nilai bahasa Inggris saya di rapor selalu di atas 8, nilai NEM bahasa Inggris saya di SMP dan SMA di atas 9. Tapi itu tidak berarti saya jago bahasa Inggris, lho. Saya hanya jago pelajaran bahasa Inggris. Hehe.
Masih banyak penerjemah yang ‘malas’ membaca ulang hasil terjemahannya. Sering ga enak dibaca lho.. coba deh baca, kalau yang nerjemahin sendiri ga ngerti apa yang penulis mau sampaikan, gimana berharap pembaca ngerti? Menurut saya, penerjemah punya tugas mencarikan kata terbaik dalam bahasanya untuk mewakili bahasa asing yang sedang dia terjemahkan itu. Parahnya, kalau ketemu editor malas juga.. sudahlah, hancur sudah itu hasil terjemahan.
Bagaimana pun saya bukan penutur asli. Saya bisa salah memahami apa yang dimaksud penulis. Lagipula tulisan itu kadang punya makna bersayap, kadang kata2 itu ternyata adalah sebuah idiom, yang walhasil diterjemahkan kata per kata oleh penerjemah yang memang tidak punya budaya yang sama.
Saya ingat dalam sebuah tugas pengeditan, sebuah idiom: every cloud has a silver lining, diterjemahkan begitu saja sebagai: setiap awan pasti punya garis keperakan; tanpa dijelaskan lebih jauh arti peribahasa ini. Kemungkinan si penerjemah tidak tahu ini adalah sebuah idiom.
Penerjemah (yang bukan penutur asli, yang tidak benar-benar fasih, yang tidak pernah tinggal di negara berbahasa tersebut) harus banyak membaca dalam bahasa yang ‘maunya’ jadi spesialisasi dia. Lalu, dia harus coba menulis juga dalam bahasa itu., makin sering makin baik, karena jika kita mulai terbiasa mengungkapkan perasaan kita dalam bahasa asing tersebut, kita jadi lebih gampang memahami maksud penulis. Membaca, menulis, membaca, menulis, riset di internet — seperti yang saya lakukan setiap ketemu kata sulit. Saya selalu googling kata sulit itu sampai saya berhasil menangkap maknanya dan bisa menulisnya kembali dalam bahasa saya.
Justru, menurut saya, penerjemah ga usah terlalu pusing dengan tata bahasa Bahasa Indonesia, itu tugas editor. Yang penting, carikanlah kata yang paling tepat dalam bahasa kita, makna yang paling mendekati.
Kesulitan terbesar penerjemahan, menurut saya, yaitu sering saat membaca kita mengerti, tapi hanya di dalam pikiran. Kita tidak berhasil meng-indonesiakannya. Kita tidak berhasil membawanya ke luar pikiran kita. Justru di situlah tantangan jadi penerjemah. Jadi jembatan, jadi komunikator.
Camkanlah.. karya kita akan dibaca banyak orang. Walaupun honornya mungkin ga seberapa (doakan saja penerbit lebih bermurah hati), tapi adalah tanggung jawab kita untuk membawa pembaca memahami apa yang dia baca. Jangan sampai tambah pusing setelah membaca hasil terjemahan kita.
Posted by: admin @4:54 pm in as a unique person | 3 Comments »






