Sun, 14 Mar 2010; 03:15:51 PM

Archive for May, 2008

Her Chronology

Thursday, May 29th, 2008

27 Mei ‘08 (pagi-sore)
Hari ini udah bikin janji untuk kontrol ke dokter kandungan. Semua ok, kata dokter Radit, berat bayi juga sudah 3,1kg di minggu 38 ini. Minggu depan balik lagi, katanya. Ok deh, dok, padahal kita dah siap-siap jika harus nginap di RS hari ini. Soalnya dah dua hari ini terasa kontraksi yang kuat dan sering frekuensinya.

Dari RS PIK, kita langsung ke Taman Mini Indonesia Indah, jemput eyang-eyangnya Joel yang lagi ada acara gereja di sana. Di TMII kita maen bentar, Joel naek kereta gantung, trus maen juga ke museum serangga dan ikan air tawar. Wah, koleksinya keren-keren lho. Kupu2nya luar biasa cantik, ikan air tawarnya mengagumkan.

Cape banget hari ini, Serpong-PIK-TMII-Serpong. Herannya Joel punya batere yang seperti kecolok terus ke listrik, ga pernah kehabisan energi!

27 Mei (malem)
Habis makan malam di rumah, kita makan es dan roti bakar di kaki lima. Joel seperti biasa: ‘Masih lape…’

Udah itu, Joel bobo. Eyang-eyang juga. Tapi saya dan Pampi seperti biasa masih melek. Pampi sibuk dengan forum & website aeromodelling, saya download-download worksheet dan segala macam printable dari sebuah situs keren. (Sementara itu kontraksi mulai terasa lebih sering dan teratur.)

Terus karena tiba-tiba jadi laper, saya abisin tuh semua orek tempe yang dimasak sore tadi. Lalu, sakit perut datang. Udah ke belakang, masih sakit juga. Sempet liat ada jejak darah, tapi dikit. Belum curiga juga. (Tapi kita mulai hitung jarak kontraksi, terjadinya tiap 5-10 menit)

28 Mei (dini hari)
Nah, akhirnya di kamar mandi atas terbuktilah semua kecurigaan. Terasa air merembes seperti pipis, bercampur darah, dan akhirnya bukan sekedar merembes lagi. Ya, ternyata begitu namanya ketubah pecah.

Langsung, tanpa dikomando lagi, Pampi berbenah untuk pergi ke RS PIK. Joel yang lagi bobo langsung diangkut. Untung banget ada eyang putri, terasa sekali pentingnya kehadiran orangtua untuk saat-saat seperti ini.

Di mobil, air ketuban dah mengucur deras. Walau ini kelahiran kedua, pengalamannya jelas berbeda dengan Joel. Joel kan lahir tanpa tanda-tanda persalinan, jadi ini benar-benar pengalaman yang total baru.

Ngebut di tol, kita sampai RS pkl 01.30 Saya langsung dimasukkan ke ruang observasi/anamnesa. Masih tenang dan bisa senyum-senyum, tapi begitu diperiksa bukaan saya mulai gemetaran, dan tidak bisa menahannya. Tegang kali ya. Bukaan 2.

Di sini intimidasi mulai terjadi. “Bu, kuat sakit ga? Karena dulu pernah Cesar, sekarang tidak boleh pake epidural lho. Tidak boleh dibantu apa pun”

Atau, “Sakit kan? Bener nih mau normal aja?”

Saya yang memang dah niat, menepis semua pertanyaan-pertanyaan tidak membangun itu.

Pukul 04.00 kurang saya dipindahkan ke ruang melahirkan. Sudah bukaan 4 dan para perawatnya sama saja, jelas-jelas mengarahkan saya untuk mengambil langkah operasi.

“Jangan lemes gitu dong, Bu. Semangat…”

Kesel, saya ngomong rada mbentak, “Emang lemes mau diapain.”

Bukaan 6, sakitnya mulai intens sekali. Susah gambarinnya, tapi kira-kira gini, seperti diremas-remas perutnya, dipelintir dengan tangan yang besar. Intimidasi masih jalan terus, oleh orang-orang yang berbeda dengan seragam hijau perawat.

Sekitar pukul 5-6an, saya merasa sangat sakit. Pampi memanggil perawat, menjelaskan bahwa saya kesakitan. “Ya memang sakit. Bukaannya juga belum maju-maju nih, baru 7. Kepala bayi juga belum turun. Jadi gimana?”

Saya yang sedang kesakitan sudah mulai goyah. Masih kuat bertahan ga ya? Pampi juga tampaknya tidak tega melihat saya, “Operasi aja?” Pada perawat yang menunggu jawaban kami, saya bilang, “Saya mau ketemu dokter aja.” Dengan enteng dia menjawab, “Dokter sih rekomendasikan operasi saja, karena kepala bayi belum turun.”

Entah kenapa, seperti mendapat kekuatan baru, bukaan-bukaan mulai berlanjut, perawat yang tadi lalu harus mengakui bahwa bukaan 8 sedang terjadi dan kepala bayi sudah lebih turun.

Lalu, kontraksi terus menerus pun terjadi, saya merasa dorongan yang luar biasa untuk pup. Setengah teriak saya bilang, “Mau ngedeen!” pada Pampi yang kok mendadak jadi budeg, karena harus diulang beberapa kali baru mengerti maksud saya (habis itu saya baru tahu kata-kata saya waktu itu memang tidak jelas :D hehehhee).

Pas dokter datang, diperiksa.. “Ok, bukaan sudah lengkap, bayinya juga ga terlalu gede. Bisa nih ngeden.”

Dokter langsung pake apron plastik, dan entah dari mana tiba-tiba ruang itu sudah penuh orang. Dokter duduk dengan santai di depan saya, peralatan tempat menaruh kaki dipasang. Rupanya kalau melahirkan normal tidak bisa pegang tangan suami :D , tangan kita dibutuhkan untuk memegang paha untuk membantu memberikan tenaga mendorong bayi keluar. Jadi ngeden itu kayak sit-up lho.. dari posisi berbaring kita bangun dengan tenaga kuat, tahan napas sambil mendorong ’sesuatu’ dari tubuh kita ke bagian bawah.

“Ayo bu, kasian anaknya. Yang kuat..”

Saya benar-benar kehabisan tenaga. Makan pagi tadi tidak saya sentuh. Nafsu makan benar-benar hilang, hebat ya? Padahal saya ini hampir tidak pernah tidak nafsu makan kecuali sakit tipus :p hehehehe.

Dengan cepat dokter memutuskan untuk vacuum. Terus terang saya sangat kagum sama dokter Raditya yang tidak banyak komen ini. Tidak sedikit pun dia mengeluarkan kata-kata yang melemahkan saya. Dia cuma bilang, “Detak jantung anaknya melemah..” sambil langsung mengambil vacuum dan memasangnya. Dengan bantuan alat penyedot ini (yang saya ga tau gimana cara masukin ke dalamnya) saya pun mengejan. Dua ejanan panjang dan kuat….

Demikianlah, tepat pukul 09.50 waktu Indonesia Barat, lahirlah gadis kecil kami yang sampai detik ini belum kami dapatkan namanya yang pasti. Huhh.. susah ya cari nama anak.

Terasa kelegaan luar biasa saat saya melihat dia meluncur turun keluar dari saya. Bayi kecil yang selama ini hobi membuat bentuk lucu di perut sebelah kanan saya (tempat favoritnya). Dia tidak langsung menangis, mungkin karena mengalami stres saat proses yang membingungkan tadi.

“Wah, gede juga,” ucap dokter senyum-senyum. Soalnya perkiraan dia, dedeknya kecil.. ga taunya keluar 3.562kg. Ini baru minggu ke-38, gimana minggu ke-40.. bisa-bisa 4kg.

Semua sakit persalinan hilang sudah bersamaan dengan lahirnya dedek. Memang benar, persalinan normal punya efek sesudah yang lebih menyenangkan ketimbang operasi.

Anywayss…………..

Semua yang terjadi adalah karena kasih Tuhan. Thanks God for our little girl.

Here Comes Our Girl…

Wednesday, May 28th, 2008

Pagi baru buat keluarga kami…

dede

Seorang gadis kecil melengkapi keutuhan kami sebagai keluarga yang telah dipersatukan oleh Allah, 14 Juni 2003.

Selamat datang putri cantikku…

Jokebedh Chloe Adiwijaya, lahir 09.50 WIB @RS PIK
Berat: 3,562kg Panjang: 50cm

Terimakasih untuk doa-doanya. Happy parents & brother.

Me & My Old School Times: Elementary First Years

Tuesday, May 20th, 2008

Kelas 1, hampir semua teman TK Nol Besar-ku ikut meneruskan ke SD St. Agnes ini. Selamat tinggal baju one-piece merahku, sekarang aku sudah pake seragam dua potong dan rok merah full lipit-lipitku menggunakan karet pada bagian pinggangnya.

Ada tiga kelas, 1A, 1B dan 1C. Seingatku, aku di kelas 1C dengan wali kelas Ibu Lucy. Ibu Lucy ini terkenal ’streng’.. hihihi streng ini bahasa apa toh? Pengaruh Belanda kali ya.

Aku sudah pintar baca tulis waktu itu, karena seperti anak-anak perkotaan di Belinyu pada umumnya, aku dikirim les menulis (dan otomatis baca) ke tempat Ibu Ajung – guru TK-ku.

Yang paling kuingat dari kelas 1 adalah.. ada seorang teman bernama Bertha, yang kemudian hari menjadi sohib kentalku waktu SMP. Nah, suatu hari kami diajar nyanyi lagu: Kasih Ibu. Buat yang lupa ama lagu manis ini.. ini teksnya:

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang Surya menyinari dunia

Ingat.. presentasi terbesar murid adalah keturunan Tionghoa yang bahasa ibunya adalah bahasa Khek. Maka, Ibu Lucy pun berinisiatif bertanya, “Siapa yang tau beta itu siapa?”

Seorang temanku dengan lantang dan berani berteriak, “Itu, Bu!” sambil menunjuk si Bertha. Akhirnya yang lain jadi ikut-ikutan menunjuk Bertha. Dan, saya dengan sangat memalukannya mengambil langkah aman me-too, padahal saya dah tau arti kata beta. Hehehe.. dasar anak kelas 1.

Kalau di Amrik ada yang namanya McGuffey’s Reader, orang Indonesia seangkatan saya juga bangga punya Ini Ibu Budi. Saya mengingat dengan baik buku bahasa Indonesia berwarna merah yang dibuka secara horizontal ini. Tokoh utama buku ini: Budi, Wati, Ibu. Iwan dan Bapak muncul belakangan -tentunya karena kata berakhiran konsonan akan lebih sulit diucapkan untuk si freshman – anak kelas satu.

Di kelas satu ini.. saya sempat ‘off’ sampe hampir sebulanan. Penyebabnya adalah karena kenekadan saya menulis di dinding kayu rumah kami sambil menginjak sadel sepeda mini hijau kesayangan. Alhasil sepeda mini itu bergulir dan saya jatuh dengan sukses. Tulang dekat sambungan siku kiri patah. Liburlah saya karena harus bolak-balik berobat, dari dukun urut sampai dokter di Pangkal Pinang. Cerita dukunnya seru lho.. nanti kapan-kapan saya posting secara khusus.

Kelas 2, wali kelas saya ibu Sin Chian mengirim saya ikut lomba menulis indah. See, kelas 2 kita dah diajari menulis huruf sambung yang keriting itu. Hebatnya saya juara satu lho :D hehehehe. Hadiahnya sebuah peruncing. Di akhir kelas 2, kami diharapkan sudah bisa perkalian sederhana. Maka Ibu Sin Chian menantan siapa yang berani maju dan mempresentasikan kemampuannya untuk perkalian dua. Saya maju dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun, maklum asuhan Mama yang sangat keras pada anak-anaknya masalah pelajaran.

Kelas 3 adalah awal dari sebuah kedewasaan. Kita sudah menulis dengan bolpoin, tidak boleh salah lagi, kalau salah harus repot menghapusnya dengan penghapus khusus merah biru merk Pelican, yang bisa bikin bolong kertas kalo terlalu kuat dipakainya. Wali kelas saya bernama Pak Petrus. Saya di kelas 3A sekarang. Kami juga mulai mengenakan seragam coklat Pramuka tiap Sabtu.

Waktu sekolah jadi makin panjang. Tiap Sabtu habis Pramuka saya pasti terbaring di depan tivi sambil menonton Lima Sekawan. Duh, ini masa yang sulit memilih George & Timmy atau Pramuka. Hehehee.

Kelas tiga adalah ketika saya dapat ranking 1 di cawu 1&2, tapi melorot jadi ranking 2 di cawu 3 – dugaan saya sih karena Pak Petrus yang tadinya ngefans banget sama saya (bener lhooo) tiba-tiba tidak ngefans lagi karena suatu hal yang tidak enak diceritakan di sini.

Ini juga pertama kalinya saya mengalami camping – nginap di sekolah. Pak Petrus sebagai pembina Pramuka sering banget mampir di tenda saya, bahkan secara eksplisit mencari-cari saya, sampe saya ngumpet saking malunya. Hehehee… ga tau kenapa si Bapak ini ngefans banget ama saya, mungkin karena saya chubby, lucu dan imut-imut? Tau deh.

ps. cover buku bahasa Indonesia kelas satu bisa diliat di sini – walopun sepertinya ini edisi lebih tua.. punya saya warna merah kok.. yakin banget.

.!.

Kotak Obatku yang Lucu

Thursday, May 15th, 2008

Di Hypermart ada section alat-alat rumah tangga Jepang (made in China padahal). Kemaren nemu satu perlengkapan yang unik, lucu, dan inovatif. Juga menjawab kebutuhanku saat ini.

kotak-obat

Cakep kan?

Ada dua kompartemen obat, dan satu tablet slicer. Nah, pemotong tablet ini yang emang saya incar.

Tak lain tak bukan karena resep Pak Dokter Raditya, S.POG yang mengharuskan saya mengkonsumsi Dopamet 1/2 butir per hari. Dokter bilang obatnya ada belahannya.. padahal waktu dicek pas dah ditebus, mulus banget ni obat. Padahal dah pengalaman dengan tablet Ascardia yang ada belahannya, tetep aja susah motongnya. Dicoba pake pisau, jarang bisa bagus potongnya, mana kayaknya ga higienis lagi.

kotak-obat2Ini kemasannya. Harganya ga neko-neko, cukup terjangkau, Rp 16.900. Yang pasti lucu….

O ya.. disuruh minum Dopamet karena… pas ditensi hari Selasa lalu, tekanan darah melonjak jadi 137/89, sebelumnya normal-normal saja. Grafik pertumbuhan bayi juga agak melambat, kata pak dokter. Hiks sedih…

Pengen sekali bisa melahirkan dengan normal. Pengen sekali get rid off this pre-eclampsia symptom. Doain ya….

Tintin Cita Rasa Baru dari GPU

Tuesday, May 13th, 2008

tintin-snowyIseng-iseng googling.. ketemu cukup banyak blog yang ngulas tentang si jambul ini. Sama… saya juga lagi kena demam Tintin…

Gara-garanya di tempat les gambar Joel, ada penyewaan buku. Yang punya itu penggemar Tintin (Asterix, Smurf, dll), jadi dia sewakanlah koleksinya – masih terbitan Indira. Wah, kenangan masa ABG jadi bangkit lagi. Sejuta topan badai! Tintin emang ngangenin. Hehehehe.

Tak berapa lama kemudian, Tintin terbitan GPU mulai diberitakan. Tampilannya sih meyakinkan sekali, ukuran lebih handy, kertasnya bagus dan terkesan rapih sekali. Apalagi ada 3 judul yang belum pernah kita dengar, Tintin di Sovyet, Congo, dan Alpha-Art. Tapi, sampai saat ini kita belum berniat beli, harganya cukup tinggi.

Untung si pemilik persewaan membelinya dan kita pun langsung menyewanya (ID saya tertera pada urutan pertama di daftar mereka untuk Tintin di Congo). Waduh, shock saya bacanya. Serasa menonton dagelan Srimulat, slapstick banget. Sampai tidak percaya buku ini dibuat oleh Hergé yang menulis Tintin dan Lotus Biru begitu cantiknya. Ini membuat saya kembali meng-google informasi tentang ini. Ternyata, waktu itu Hergé masih muda dan polos, opininya masih bentukan masyarakat kulit putih pada masa itu (tahun 30-an) yang punya stereotip negatif tentang Afrika dan bangsa kulit hitam.

Catatan: Congo pernah berubah nama jadi Zairé, yang kemudian dikembalikan lagi namanya jadi Congo. Syukurlan, jadi karya Hergé tidak perlu diganti judulnya.

Menarik juga ya, melihat pendewasaan cara berpikir Hergé lewat Tintin. Hergé bisa lepas dari pandangan imperialisnya dan menunjukkan sikap yang 180 derajat berbeda, dengan melukiskan persahabatan tulus antara Tintin dengan Chang, juga beberapa tokoh non-kulit putih lain. Membaca Tintin edisi-edisi berikutnya sangat memperkaya pengetahuan, karena dia bukan komik biasa yang hanya sekedar menghibur.

Untuk terbitan GPU sendiri, terlepas dari berubahnya nama-nama tokoh yang sudah kita kenal lebih dulu lewat Indira – karena beda sumber, GPU dari bahasa asli penulis, Indira dari edisi bahasa Inggris, saya merasa terjemahan Tintin kali ini kurang kuat, agak hambar dan datar. (Maaf ya Donna).

Terjemahan Indira terasa lebih hidup, karakter2 digambarkan dengan sangat baik, sangat kuat. Tintin yang idealis, Haddock yang pemarah, Kalkulus (Lakmus) yang ga nyambung karena budeg, Snowy (Milo) yang nakal, terasa begitu hidup dan nyata. Sementara buku dari GPU ini seolah-olah sedang diceritakan ulang oleh seorang narator tanpa penjiwaan yang dalam, padahal tokoh-tokoh ini sudah telanjur diakrabi masyarakat kita lewat terjemahan Indira (Indira tidak pernah menyebut siapa nama penerjemah Tintin).

Mungkin GPU (penerjemah & editor) perlu melakukan riset karakter dan tidak terlalu harafiah dalam menerjemahkannya. Seperti dalam Penerbangan 714 oleh Indira, Tintin berpetualang di Indonesia. Di buku ini walau sebagian fiksi, penerjemah memasukkan unsur-unsur lokal seperti sambel ulek, dll yang pasti tidak akan terpikirkan oleh Hergé.

Tapi, memang menurut saya, menerjemahkan komik lebih sulit ketimbang menerjemahkan novel. Ketika membaca novel, si pembaca bebas berimajinasi, sementara komik ada gambarnya, imajinasinya jadi terbatas. Karena itu terjemahannya harus pas dengan intepretasi pembaca akan gambar yang dia lihat.

Asterix & Obelix adalah contoh bagaimana Ibu Rahartati Bambang (Indira) sangat bisa menjiwai sekali karakter-karakter Galia ini. Tidak bisa saya bayangkan jika Asterix diterjemahkan oleh saya misalnya :D hhehehehehee. Dijamin garing.

Bagaimana pun juga, usaha GPU untuk menghadirkan kembali Tintin walau dengan cita rasa beda ini perlu diacungi jempol. Khususnya dengan menerbitkan karya awal Hergé – Sovyet, Congo, dan juga untuk karyanya AlphaArt (Alph-Art) yang tidak sempat diselesaikan karena meninggal setelah seminggu koma.

Dengan adanya Tintin versi GPU, setidaknya anak-anak sekarang punya alternatif komik yang lebih ‘berisi’ ketimbang manga-manga ala Jepang. Seperti yang saya bilang di atas, habis baca Tintin, kita pasti diperkaya dengan pengetahuan baru.

Buat yang masih asing dengan Tintin, pelajari dulu di sini: http://www.tintinologist.org/guides/

Beberapa link yang saya baca:
1. The Cult of Tintin
2. Tintin di Indonesia
3. Sangkelana
4. Dan Wikipedia tentunya :)

Limited Edition

Monday, May 12th, 2008

Sebagai generasi yang lahir antara 70-80, mie instan yang pertama kali saya kenal adalah Supermie. Dan, sejak saat itu semua mie instan pun digeneralisasi sebagai supermie.

Contoh:

“Beli supermie satu, Koh.”

Si Engkoh pun mengangsurkan sebungkus Indomie rasa kaldu udang seperti di bawah ini.

kaldu udang

Ya, itu dulu… sekarang Indomie telah menggeser kedudukan Supermie. Maka sekarang, semua mie instan adalah ‘indomie’. Apalagi Supermie diakuisisi oleh bapaknya Indomie, Indofood, semakin kokohlah kedudukannya.

Tapi… tunggu dulu, tadi bilang apa… kaldu udang?

Ya, sampai detik ini saya belum pernah lihat Indomie Rasa Kaldu Udang beredar di Jakarta dan sekitarnya. Produk ini baru saya temui di daerah kelahiran saya, Bangka, tidak tahu kalau daerah lain di Sumatera.

Memang, katanya beberapa produsen membuat produk regional.. maksudnya hanya dijual di daerah tertentu. Seperti teh apa gitu saya lupa namanya (pernah lihat iklannya), hanya ada di Medan dan sekitarnya. Mungkin pasar Sumatera memang agak unik?

Melenceng dikit, ngomongin soal pasar, saya jadi teringat pasar otomotif Jawa Tengah yang juga unik. Rasanya saya belum pernah lihat Auto2000 di sana. Walau banyak merk2 keluaran Astra di sana, yang pegang merk adalah Nasmoco Group.

Btw, Indomie rasa Kaldu Udang ini sering bikin saya kangen. Padahal rasanya sebenernya biasa saja, bahkan Indofood tidak menyertakan minyak sayur dalam produk ini, hanya bumbu dan cabe bubuk. Ini mungkin yang namanya nostalgia… tiap kali memakannya, serasa kembali ke puluhan tahun silam, berada di rumah orangtua, masih mengenakan seragam merah putih :) … Hummmm

*lagi pengen teh Prendjak – di mana yah carinya – ini sih produk lokal Riau*

Joel’s 4th Birthday

Monday, May 12th, 2008

Hari yang dinanti-nanti si balita ini akhirnya tiba juga, Joel dah 4 tahun! Senangnya bukan main dia. Beberapa hari menjelang, dia tampak gelisah menunggu datangnya tanggal 30 April. Dari bulan Maret dia sudah bersiap-siap menyambut ulang tahunnya.

Demikianlah… 30 April pagi. Saya dan Pampi sedang bercengkrama (ciee bahasanya) di bawah. Tak lama terdengar suara AC dimatikan, pintu kamar dibuka. Diam sejenak.

Lalu… “Ma.. sekarang tanggal berapa? 30 ya?” Hehehehe.

tiup lilinnya

Meniup lilin rupanya memang disukai oleh anak-anak mana pun ya. Hanya disaksikan papa dan mama, Joel tiup lilin dengan sepenuh hati. Birthday cakenya dipesan dari Pelangi Cake.

Sebenarnya saya kurang sreg dengan desain mereka, tapi ya apa boleh buat, waktu mepet dan males juga harus cari-cari pembuat kue ultah yang ok tapi ga mahal. Saya ada keinginan bisa bikin sendiri sih kue ulangtahun buat keluarga saya, karena pengen bikin kue yang sehat dan ga banyak pake gula. Too much sugar somewhat can make us craving for more (hiyy).

Tiap kali pesen kue saya harus selalu cari ukuran terkecil, mengingat Joel tidak punya ‘temen sekelas’. Dari umur satu tahun, kami memang selalu membelikan kue ultah buatnya, tahun lalu ketika kondisi budget serba terbatas, saya tetap membelikannya kue mungil ekonomis dengan tema general – bunga2 gitu- yang penting dia bisa tiup lilin :)

Happy birthday my little boy. You are a big boy now.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe