Her Chronology
Thursday, May 29th, 200827 Mei ‘08 (pagi-sore)
Hari ini udah bikin janji untuk kontrol ke dokter kandungan. Semua ok, kata dokter Radit, berat bayi juga sudah 3,1kg di minggu 38 ini. Minggu depan balik lagi, katanya. Ok deh, dok, padahal kita dah siap-siap jika harus nginap di RS hari ini. Soalnya dah dua hari ini terasa kontraksi yang kuat dan sering frekuensinya.
Dari RS PIK, kita langsung ke Taman Mini Indonesia Indah, jemput eyang-eyangnya Joel yang lagi ada acara gereja di sana. Di TMII kita maen bentar, Joel naek kereta gantung, trus maen juga ke museum serangga dan ikan air tawar. Wah, koleksinya keren-keren lho. Kupu2nya luar biasa cantik, ikan air tawarnya mengagumkan.
Cape banget hari ini, Serpong-PIK-TMII-Serpong. Herannya Joel punya batere yang seperti kecolok terus ke listrik, ga pernah kehabisan energi!
27 Mei (malem)
Habis makan malam di rumah, kita makan es dan roti bakar di kaki lima. Joel seperti biasa: ‘Masih lape…’
Udah itu, Joel bobo. Eyang-eyang juga. Tapi saya dan Pampi seperti biasa masih melek. Pampi sibuk dengan forum & website aeromodelling, saya download-download worksheet dan segala macam printable dari sebuah situs keren. (Sementara itu kontraksi mulai terasa lebih sering dan teratur.)
Terus karena tiba-tiba jadi laper, saya abisin tuh semua orek tempe yang dimasak sore tadi. Lalu, sakit perut datang. Udah ke belakang, masih sakit juga. Sempet liat ada jejak darah, tapi dikit. Belum curiga juga. (Tapi kita mulai hitung jarak kontraksi, terjadinya tiap 5-10 menit)
28 Mei (dini hari)
Nah, akhirnya di kamar mandi atas terbuktilah semua kecurigaan. Terasa air merembes seperti pipis, bercampur darah, dan akhirnya bukan sekedar merembes lagi. Ya, ternyata begitu namanya ketubah pecah.
Langsung, tanpa dikomando lagi, Pampi berbenah untuk pergi ke RS PIK. Joel yang lagi bobo langsung diangkut. Untung banget ada eyang putri, terasa sekali pentingnya kehadiran orangtua untuk saat-saat seperti ini.
Di mobil, air ketuban dah mengucur deras. Walau ini kelahiran kedua, pengalamannya jelas berbeda dengan Joel. Joel kan lahir tanpa tanda-tanda persalinan, jadi ini benar-benar pengalaman yang total baru.
Ngebut di tol, kita sampai RS pkl 01.30 Saya langsung dimasukkan ke ruang observasi/anamnesa. Masih tenang dan bisa senyum-senyum, tapi begitu diperiksa bukaan saya mulai gemetaran, dan tidak bisa menahannya. Tegang kali ya. Bukaan 2.
Di sini intimidasi mulai terjadi. “Bu, kuat sakit ga? Karena dulu pernah Cesar, sekarang tidak boleh pake epidural lho. Tidak boleh dibantu apa pun”
Atau, “Sakit kan? Bener nih mau normal aja?”
Saya yang memang dah niat, menepis semua pertanyaan-pertanyaan tidak membangun itu.
Pukul 04.00 kurang saya dipindahkan ke ruang melahirkan. Sudah bukaan 4 dan para perawatnya sama saja, jelas-jelas mengarahkan saya untuk mengambil langkah operasi.
“Jangan lemes gitu dong, Bu. Semangat…”
Kesel, saya ngomong rada mbentak, “Emang lemes mau diapain.”
Bukaan 6, sakitnya mulai intens sekali. Susah gambarinnya, tapi kira-kira gini, seperti diremas-remas perutnya, dipelintir dengan tangan yang besar. Intimidasi masih jalan terus, oleh orang-orang yang berbeda dengan seragam hijau perawat.
Sekitar pukul 5-6an, saya merasa sangat sakit. Pampi memanggil perawat, menjelaskan bahwa saya kesakitan. “Ya memang sakit. Bukaannya juga belum maju-maju nih, baru 7. Kepala bayi juga belum turun. Jadi gimana?”
Saya yang sedang kesakitan sudah mulai goyah. Masih kuat bertahan ga ya? Pampi juga tampaknya tidak tega melihat saya, “Operasi aja?” Pada perawat yang menunggu jawaban kami, saya bilang, “Saya mau ketemu dokter aja.” Dengan enteng dia menjawab, “Dokter sih rekomendasikan operasi saja, karena kepala bayi belum turun.”
Entah kenapa, seperti mendapat kekuatan baru, bukaan-bukaan mulai berlanjut, perawat yang tadi lalu harus mengakui bahwa bukaan 8 sedang terjadi dan kepala bayi sudah lebih turun.
Lalu, kontraksi terus menerus pun terjadi, saya merasa dorongan yang luar biasa untuk pup. Setengah teriak saya bilang, “Mau ngedeen!” pada Pampi yang kok mendadak jadi budeg, karena harus diulang beberapa kali baru mengerti maksud saya (habis itu saya baru tahu kata-kata saya waktu itu memang tidak jelas
hehehhee).
Pas dokter datang, diperiksa.. “Ok, bukaan sudah lengkap, bayinya juga ga terlalu gede. Bisa nih ngeden.”
Dokter langsung pake apron plastik, dan entah dari mana tiba-tiba ruang itu sudah penuh orang. Dokter duduk dengan santai di depan saya, peralatan tempat menaruh kaki dipasang. Rupanya kalau melahirkan normal tidak bisa pegang tangan suami
, tangan kita dibutuhkan untuk memegang paha untuk membantu memberikan tenaga mendorong bayi keluar. Jadi ngeden itu kayak sit-up lho.. dari posisi berbaring kita bangun dengan tenaga kuat, tahan napas sambil mendorong ’sesuatu’ dari tubuh kita ke bagian bawah.
“Ayo bu, kasian anaknya. Yang kuat..”
Saya benar-benar kehabisan tenaga. Makan pagi tadi tidak saya sentuh. Nafsu makan benar-benar hilang, hebat ya? Padahal saya ini hampir tidak pernah tidak nafsu makan kecuali sakit tipus :p hehehehe.
Dengan cepat dokter memutuskan untuk vacuum. Terus terang saya sangat kagum sama dokter Raditya yang tidak banyak komen ini. Tidak sedikit pun dia mengeluarkan kata-kata yang melemahkan saya. Dia cuma bilang, “Detak jantung anaknya melemah..” sambil langsung mengambil vacuum dan memasangnya. Dengan bantuan alat penyedot ini (yang saya ga tau gimana cara masukin ke dalamnya) saya pun mengejan. Dua ejanan panjang dan kuat….
Demikianlah, tepat pukul 09.50 waktu Indonesia Barat, lahirlah gadis kecil kami yang sampai detik ini belum kami dapatkan namanya yang pasti. Huhh.. susah ya cari nama anak.
Terasa kelegaan luar biasa saat saya melihat dia meluncur turun keluar dari saya. Bayi kecil yang selama ini hobi membuat bentuk lucu di perut sebelah kanan saya (tempat favoritnya). Dia tidak langsung menangis, mungkin karena mengalami stres saat proses yang membingungkan tadi.
“Wah, gede juga,” ucap dokter senyum-senyum. Soalnya perkiraan dia, dedeknya kecil.. ga taunya keluar 3.562kg. Ini baru minggu ke-38, gimana minggu ke-40.. bisa-bisa 4kg.
Semua sakit persalinan hilang sudah bersamaan dengan lahirnya dedek. Memang benar, persalinan normal punya efek sesudah yang lebih menyenangkan ketimbang operasi.
Anywayss…………..
Semua yang terjadi adalah karena kasih Tuhan. Thanks God for our little girl.


Ini kemasannya. Harganya ga neko-neko, cukup terjangkau, Rp 16.900. Yang pasti lucu….
Iseng-iseng googling.. ketemu cukup banyak blog yang ngulas tentang si jambul ini. Sama… saya juga lagi kena demam Tintin…

