Wed, 07 Jan 2009; 03:24:49 PM

Archive for June, 2008

On The Way to ASI-X

Monday, June 30th, 2008

Sudah sebulan berlalu dan dengan bangga saya umumkan saya berhasil bertahan untuk tetap memberi Chloe ASI dan ASI saja (sempat kecolongan juga sih). Omigod :D. Ini adalah perjuangan :p

Ini dua teori dan kenyataan yang semoga bisa memberi pandangan tentang ASI-X (X=exclusive).

Teori: Memberi ASI mudah
Fakta: Memang mudah, tinggal menyibak baju. Tapi… tidak mudah untuk selalu ada bagi mulut kecil yang lapar itu- mengingat saya adalah ibu yang berada di rumah (Stay at Home Mom). Kadang saya ingin istirahat, ingin browsing, ingin blogging, ingin main ke mall, ingin main sama kakaknya, ingin makan, ingin ke salon, ingin punya waktu buat diri sendiri…. Belum lagi menghadapi kerepotan menyusui di tempat umum. Untuk mengatasi ini, carilah pakaian dan perlengkapan yang menunjang.

Dalam kasus saya, pemberian ASI-X membuat waktu saya untuk Joel berkurang. Kadang Joel protes, “Kok lama?” Ya, karena Chloe jenis yang menyusu sangat lama, bisa sejam lebih.

T: Tidak mungkin ASI kurang
F: Ada kalanya bayi bertingkah seperti tidak pernah cukup. Ada kalanya bayi selalu ingin menyusu, selalu lapar. Dengan sedikit membaca, kita jadi tahu bahwa ada yang disebut dengan growth spurt - lonjakan pertumbuhan. Yang terjadi adalah bayi memastikan persediaan susu akan cukup baginya, karena dia akan bertumbuh pesat dalam hari-hari ke depan. Bagaimana caranya? Ya menyusu lebih banyak, karena hukum ASI sama dengan hukum dagang: supply on demand: banyaknya persediaan ditentukan oleh banyaknya permintaan.

T: ASI murah
F: Ini betul sekali, dalam artian tidak butuh uang banyak. Cuma, saya sering bingung dengan ketersediaan pangan, maklum, yang bertanggungjawab menyediakan makanan untuk seisi rumah adalah saya. Kalau untuk ke pasar dan masak saja saya belum bisa curi waktu.. rasanya susaaah. Kompensasinya saya minum susu yang buanyak. Lalu pesan katering untuk sementara.

Hari-hari pertama adalah hari-hari tersulit. Lecet-lecet sering terjadi pada masa ini, karena perlekatan yang belum baik, dan karena ‘alat’ menyusuinya belum berhasil beradaptasi. Belum lagi hormon pasca melahirkan yang mendera. Sulit. Sekarang saya mengerti mengapa banyak ibu yang menyerah untuk menyusui. Jika kita menyerah di titik ini, maka otomatis persediaan ASI kita pun menipis. Inilah yang sering dijadikan alasan: ASI tidak cukup.

Saya mau membuat pengakuan, sempat berpikir lebih baik si bayi diberi sufor saja, karena sufor bisa diberikan oleh orang lain sehingga saya bisa lebih bebas ngapa-ngapain. Tapi sufor jelas lebih merepotkan dalam penyiapannya, sehingga kalau mau bebas, harus hire orang. Pengeluaran jadi ganda: sufor itu sendiri + gaji asisten

Walau begitu… pikiran ini tidak saya biarkan untuk dibuahi. Saya hanya perlu mengingatkan diri, jika saya mampu, saya harus terus berusaha, karena demikianlah desain Tuhan. Manusia = makhluk menyusui dan mungkin manusia pula satu2nya mamalia yang mengijinkan keturunannya disusui oleh makhluk lain :)

Mzm. 8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Mat. 21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”

Renungan Mati Lampu

Wednesday, June 25th, 2008

Mati lampu di Gading Serpong, tapi tidak semua. Beberapa sektor dan cluster lain yang berbeda gardu, tidak ikutan merasakan penderitaan dimatiin listriknya dari jam 8-an pagi dan baru nyala lagi jam 5 sore lewat. Dan, herannya kenapa gardu tempat asal muasal listrik di rumah saya yang sering kebagian jatah pemeliharaan.

Air di torrent pas habis, telepon juga mulai kedap-kedip indikator baterainya. Untung cuaca sejuk jadi bisa tanpa AC. Ketiadaan listrik ini membuat saya menyadari betapa tergantungnya saya sama listrik. Jadi bingung gitu mau ngapain.

Mari mundur ke masa ketika belum ada listrik. Orang jaman dulu tidak pernah bingung tanpa listrik. Mereka tidak akan mengalami bingung mau ngapain kalau listrik tidak menyala. Mengapa? Karena mereka sudah cukup sibuk.

Bangun pagi-pagi setelah semalaman tidur tanpa AC atau kipas angin, mereka mungkin akan menimba air di sumur untuk keperluan mandi. Lalu, mereka mengusahakan makanan, entahkan dengan menanam sendiri atau mungkin berbarter dengan tetangga. Lalu, kegiatan memasak pun dimulai dengan menyalakan api dari kayu bakar yang mereka cari dan siapkan sendiri. Kemudian, mereka berhenti dari kesibukan untuk makan siang. Setelah itu kembali kesibukan masing-masing. Sebelum matahari terbenam, ayah sudah di rumah, lalu makan malam lagi bersama. Tak lama sesudah itu sekeluarga pun tidurlah.

Harus diakui, kualitas hidup orang di masa lalu bisa dibilang lebih baik dibanding sekarang. Tanpa listrik, tanpa banyak otomatisasi, mereka bisa hidup bahagia. Mereka menikmati rumahnya, menikmati kebersamaan dalam keluarganya, menikmati kehadiran satu sama lain. Kemewahan yang sudah jarang didapat pada masa ini.

Herannya, dengan intervensi teknologi yang memudahkan kita untuk melakukan segala hal (cukup satu cetekan saklar kompor gas untuk masak); kualitas hidup kita tidak meningkat. Bahkan saya baca di sebuah buku, dengan adanya bantuan teknologi agar pekerjaan bisa lebih efisien, orang malah lebih lagi menghabiskan waktu lebih banyak di kantor. Orang jadi tambah gila bekerja, seperti tidak ada hari esok.

Are we missing something here? Bukankah teknologi dibuat untuk membuat hidup kita lebih mudah? Lebih berkualitas? Lebih enak?

Just a thought ;)

Lima Jari Berhitung

Thursday, June 19th, 2008

Satu tangan terangkat, lima jari pun berhitung
Satu, dua, tiga, empat, lima

Ini angka istimewa (harusnya)
Karena tahun depan, satu tangan tak lagi cukup

Suatu ikatan yang dibangun lima tahun lalu
Dalam suatu janji yang diikrarkan
Di hadapan Bapa Pengasih
Orangtua, keluarga, dan para sahabat

Tahun ini, walau tak ada perayaan
Bukan berarti tak spesial

Karena tahun-tahun ini
Adalah tahun-tahun terindah
Yang telah mengubah jalan hidup kami
Saat kami belajar untuk berhenti hidup hanya untuk diri sendiri

Happy 5th anniversary to us….. (14 Juni 2008)

Note: tak ada lilin, tak ada makan malam romantis, tapi terasa begitu berkesan bagiku karena dalam hati terucap syukur atas berkat dan penyertaan Tuhan dalam lima tahun ini.