On The Way to ASI-X
Monday, June 30th, 2008Sudah sebulan berlalu dan dengan bangga saya umumkan saya berhasil bertahan untuk tetap memberi Chloe ASI dan ASI saja (sempat kecolongan juga sih). Omigod :D. Ini adalah perjuangan :p
Ini dua teori dan kenyataan yang semoga bisa memberi pandangan tentang ASI-X (X=exclusive).
Teori: Memberi ASI mudah
Fakta: Memang mudah, tinggal menyibak baju. Tapi… tidak mudah untuk selalu ada bagi mulut kecil yang lapar itu- mengingat saya adalah ibu yang berada di rumah (Stay at Home Mom). Kadang saya ingin istirahat, ingin browsing, ingin blogging, ingin main ke mall, ingin main sama kakaknya, ingin makan, ingin ke salon, ingin punya waktu buat diri sendiri…. Belum lagi menghadapi kerepotan menyusui di tempat umum. Untuk mengatasi ini, carilah pakaian dan perlengkapan yang menunjang.
Dalam kasus saya, pemberian ASI-X membuat waktu saya untuk Joel berkurang. Kadang Joel protes, “Kok lama?” Ya, karena Chloe jenis yang menyusu sangat lama, bisa sejam lebih.
T: Tidak mungkin ASI kurang
F: Ada kalanya bayi bertingkah seperti tidak pernah cukup. Ada kalanya bayi selalu ingin menyusu, selalu lapar. Dengan sedikit membaca, kita jadi tahu bahwa ada yang disebut dengan growth spurt - lonjakan pertumbuhan. Yang terjadi adalah bayi memastikan persediaan susu akan cukup baginya, karena dia akan bertumbuh pesat dalam hari-hari ke depan. Bagaimana caranya? Ya menyusu lebih banyak, karena hukum ASI sama dengan hukum dagang: supply on demand: banyaknya persediaan ditentukan oleh banyaknya permintaan.
T: ASI murah
F: Ini betul sekali, dalam artian tidak butuh uang banyak. Cuma, saya sering bingung dengan ketersediaan pangan, maklum, yang bertanggungjawab menyediakan makanan untuk seisi rumah adalah saya. Kalau untuk ke pasar dan masak saja saya belum bisa curi waktu.. rasanya susaaah. Kompensasinya saya minum susu yang buanyak. Lalu pesan katering untuk sementara.
Hari-hari pertama adalah hari-hari tersulit. Lecet-lecet sering terjadi pada masa ini, karena perlekatan yang belum baik, dan karena ‘alat’ menyusuinya belum berhasil beradaptasi. Belum lagi hormon pasca melahirkan yang mendera. Sulit. Sekarang saya mengerti mengapa banyak ibu yang menyerah untuk menyusui. Jika kita menyerah di titik ini, maka otomatis persediaan ASI kita pun menipis. Inilah yang sering dijadikan alasan: ASI tidak cukup.
Saya mau membuat pengakuan, sempat berpikir lebih baik si bayi diberi sufor saja, karena sufor bisa diberikan oleh orang lain sehingga saya bisa lebih bebas ngapa-ngapain. Tapi sufor jelas lebih merepotkan dalam penyiapannya, sehingga kalau mau bebas, harus hire orang. Pengeluaran jadi ganda: sufor itu sendiri + gaji asisten
Walau begitu… pikiran ini tidak saya biarkan untuk dibuahi. Saya hanya perlu mengingatkan diri, jika saya mampu, saya harus terus berusaha, karena demikianlah desain Tuhan. Manusia = makhluk menyusui dan mungkin manusia pula satu2nya mamalia yang mengijinkan keturunannya disusui oleh makhluk lain
Mzm. 8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.
Mat. 21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”

