Fri, 30 Jul 2010; 02:20:53 AM

Renungan Mati Lampu

Mati lampu di Gading Serpong, tapi tidak semua. Beberapa sektor dan cluster lain yang berbeda gardu, tidak ikutan merasakan penderitaan dimatiin listriknya dari jam 8-an pagi dan baru nyala lagi jam 5 sore lewat. Dan, herannya kenapa gardu tempat asal muasal listrik di rumah saya yang sering kebagian jatah pemeliharaan.

Air di torrent pas habis, telepon juga mulai kedap-kedip indikator baterainya. Untung cuaca sejuk jadi bisa tanpa AC. Ketiadaan listrik ini membuat saya menyadari betapa tergantungnya saya sama listrik. Jadi bingung gitu mau ngapain.

Mari mundur ke masa ketika belum ada listrik. Orang jaman dulu tidak pernah bingung tanpa listrik. Mereka tidak akan mengalami bingung mau ngapain kalau listrik tidak menyala. Mengapa? Karena mereka sudah cukup sibuk.

Bangun pagi-pagi setelah semalaman tidur tanpa AC atau kipas angin, mereka mungkin akan menimba air di sumur untuk keperluan mandi. Lalu, mereka mengusahakan makanan, entahkan dengan menanam sendiri atau mungkin berbarter dengan tetangga. Lalu, kegiatan memasak pun dimulai dengan menyalakan api dari kayu bakar yang mereka cari dan siapkan sendiri. Kemudian, mereka berhenti dari kesibukan untuk makan siang. Setelah itu kembali kesibukan masing-masing. Sebelum matahari terbenam, ayah sudah di rumah, lalu makan malam lagi bersama. Tak lama sesudah itu sekeluarga pun tidurlah.

Harus diakui, kualitas hidup orang di masa lalu bisa dibilang lebih baik dibanding sekarang. Tanpa listrik, tanpa banyak otomatisasi, mereka bisa hidup bahagia. Mereka menikmati rumahnya, menikmati kebersamaan dalam keluarganya, menikmati kehadiran satu sama lain. Kemewahan yang sudah jarang didapat pada masa ini.

Herannya, dengan intervensi teknologi yang memudahkan kita untuk melakukan segala hal (cukup satu cetekan saklar kompor gas untuk masak); kualitas hidup kita tidak meningkat. Bahkan saya baca di sebuah buku, dengan adanya bantuan teknologi agar pekerjaan bisa lebih efisien, orang malah lebih lagi menghabiskan waktu lebih banyak di kantor. Orang jadi tambah gila bekerja, seperti tidak ada hari esok.

Are we missing something here? Bukankah teknologi dibuat untuk membuat hidup kita lebih mudah? Lebih berkualitas? Lebih enak?

Just a thought ;)

Related Posts with Thumbnails

Tags:

Posted by: devi Wed, 25 Jun 2008 @10:30 am

2 Responses to “Renungan Mati Lampu”

  1. Adhi Widjajanto Says:

    new technology found -> easier life -> have more time to do something else -> new problems -> need more technology -> new technology found -> … ga ada abisnya deh!

    [Reply]

  2. Diana Ambaraningrum Says:

    Wah, byar pet lagi….

    [Reply]

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash


about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe