ASI Ekslusif Adalah Hak Anak, Lalu Apalagi = Just a Thought.
Thursday, August 21st, 2008Akhir-akhir ini ASI-X (Asi Ekslusif) terdengar santer. Dan, yang namanya IMD/ELO* mewabah di kalangan seleb dan semakin gencar gaungnya berkat yang namanya infotainment.
*IMD - Inisiasi Menyusu Dini / ELO - Early Latch On
ASI-X adalah memberikan hanya ASI saja kepada bayi sampai 6 bulan pertama dalam hidupnya. Hanya ASI saja berarti ya hanya air susu ibu saja, air putih tidak, apalagi air kanji.
ASI-X pun mulai digalakkan. Pekan ASI yang baru lalu pertengahan Agustus kemarin, diramaikan dengan momen-momen kampanye ASI. Ya, ASI jelas yang terbaik untuk kehidupan seorang manusia baru. Tidak diragukan lagi.
Namun, diam-diam saya merasa jengah. Saya menangkap adanya rasa ‘lebih’ dari segelintir orang yang karena berhasil melakukan ASI-X jadi cenderung menghakimi ibu yang tidak memberikan ASI pada anaknya. Kadang bahkan cenderung menyerang. Padahal, setiap ibu pasti ingin memberi yang terbaik pada anaknya. Tapi, jika dia memilih untuk tidak memberikan ASI, saya rasa itu adalah pilihannya. Kecuali jika dia sangat ingin memberi tapi tidak tahu bagaimana caranya, itu yang perlu dibantu, dimotivasi. Demikian juga mereka yang karena ketidaktahuannya sehingga banyak dipengaruhi oleh opini orang/media.
Menyusui adalah hal yang sangat alami, sangat natural, desain dari Sang Pencipta. Senatural seekor induk binatang yang berbaring dan membiarkan anak-anaknya berkerumun menyusu pada dirinya. Jadi, rasanya tidak perlu berlebihan bangga jika kita bisa menyusui anak kita. Bukankah memang begitu seharusnya?
Kampanye ASI-X juga menyebut ASI sebagai hak anak. Rasanya sedikit kurang pas, karena saya ingin bertanya bagaimana dengan hak anak untuk menikmati ibunya? Bersediakah para ibu meninggalkan karirnya untuk ini? Bukankah ini hal yang alami juga? Mengasuh anak sendiri?
Apakah hak anak berhenti hanya sampai ASI-X saja? Apakah dia tidak punya hak untuk menikmati ibunya kapan saja, let’s say sampai 2 tahun - seperti kampanye ASI-X: berikan ASI sampai setidaknya 2 tahun? Bolehkah dia menikmati diasuh oleh ibunya saja? Bukan mbak, bukan baby sitter, bukan oma? Berhakkah si bayi menerima pelukan ibunya setiap kali dia rindu/takut/tidak nyaman sampai… 2 tahun?
Pasti ada yang tidak setuju. Pasti. Lha, saya sendiri meninggalkan bayi saya untuk kembali bekerja pada waktu usianya 3 bulan, kok. Selain alasan finansial, kan ada kebutuhan si ibu untuk mengaktualisasikan diri? Bagaimana dengan kebutuhan sosialasi, de el el?
Hari-hari ini saya banyak merenung, apa saja sih hak anak (baca: bayi) itu? Bukankah Tuhan menciptakan keluarga itu: suami, istri, dan sebagian diberkati dengan anak. Mengapa cukup banyak kaum saya (ibu) yang dengan kesadaran sendiri menyerahkan kepengasuhan anaknya kepada pihak lain? Mengapa sampai ada buku yang ditulis khusus untuk para ibu bekerja (kantoran) bahwa mereka juga bisa tetap mendidik anaknya walau bekerja (di kantor)? Bukankah mengasuh, mendidik anak memang adalah tanggungjawab orangtua (ibu salah satunya)?
Alasan-alasan meninggalkan kepengasuhan anak pada orang lain:
Finansial
Kebutuhan finansial adalah alasan utama seorang ibu bekerja mencari income, dan meninggalkan bayi (atau anaknya) untuk waktu yang cukup lama.
Namun, sebaiknya dicermati, kebutuhan finansial ini timbul karena gaya hidup konsumerisme atau apa. Saya menemukan cukup banyak keluarga yang memilih hidup hemat dan berusaha tidak terpengaruh dengan kehidupan materialistis. Google dengan keyword: frugal living
Aktualisasi Diri
Saat berada di kantor, ada waktu-waktu tertentu saya ‘lupa’ saya ini seorang ibu, yang mempunyai seorang batita yang mungkin sedang berpikir di mana mamanya sekarang.
Bangga rasanya bisa berkiprah di dunia kerja, walau sudah punya anak. Buat apa saya disekolahkan sampai jenjang sarjana, begitu pikir saya.
Saat ini, dua tahun kemudian, saya menganggap bahwa aktualisasi diri saya adalah menjadi ibu, menjadi pendidik, menjadi manager atas keberlangsungan hidup di rumah kami, menjadi tempat bertanya dan mengadu anak-anak.
Tapi saya juga terus mengejar minat saya. Saya sedang keranjingan belajar lebih dalam dari apa yang sedang Joel pelajari. Saya juga berusaha terus menggunakan tools yang saya gunakan waktu bekerja dulu.
Mengembangkan skill (baru atau lama), mengetahui kabar dunia, tetap harus seorang ibu lakukan. Karena jika ibu tidak menyenangi dirinya, tidak puas dengan dirinya, ia akan mengirim pesan yang salah buat suami, buat anak-anaknya, buat orang-orang di sekitarnya.
Hei, ini hanya sebuah pemikiran yang melantur ke mana-mana, jangan diambil pusing. Tidak sedang menghakimi siapa pun, hanya sedang berbicara dengan diri sendiri.




