Laskar Pelangi The Movie
Saturday, September 27th, 2008Dengan sedikit usaha (cari yang bisa jagain baby Chloe: thx to my sister Meike), akhirnya kesampean juga nonton Laskar Pelangi ini.
Dari awal nonton saya udah siap-siap bakal menyaksikan keindahan sinematografi dan fotografi (bener ga sih istilahnya) ala Riri/Mira. Dan, benar saja… luar biasa cantiknya film ini. Mata kita dipuaskan oleh suguhan gambar-gambar indah pemandangan pulau Belitung. Setelah kecewa menonton kualitas (gambar dan cerita) film indonesia lain sebelum yang ini, film ini jadi semacam penawar rindu akan film indonesia yang sejati.
Terasa dekat di hati, menyaksikan langit biru, pantai pasir putih berbatu besar, juga pepohonan yang juga lazim ditemui di tanah kelahiran saya, Bangka. FYI, pulau Bangka tak kalah cantiknya.. sebagai perbandingan coba klik di sini .
Juga PN Timah, yang saya kenal dengan sebutan TTB - Tambang Timah Bangka - yang begitu merajai di jaman dulu. Anak-anak karyawan TTB yang terkesan lebih borju dan berkelas dibanding kami penduduk lokal. Bedanya dengan anak-anak Laskar Pelangi, saya lebih beruntung karena punya kesempatan sekolah di sebuah sekolah swasta katolik yang dianggap terbaik di Belinyu pada masa itu.
Juga bunyi sirene meraung-raung (bahasa hakka bangka: fokai hiong), yang menandakan jam masuk karyawan, jam istirahat dan jam pulang. Saya ingat dulu Mama sering menggunakan istilah: “Sirene dah bunyi tuh” untuk menyuruh kami pulang dari bermain
Back to the movie.. katanya memang jangan bandingin ama buku. Anggaplah ini sebagai sebuah karya seni yang berdiri sendiri. Tapi susah juga, karena ada beberapa bagian yang sulit dimengerti jika kita tidak pernah membaca bukunya. Misal: hilangnya Flo, kisah pencarian Tuk Bayan yang digambarkan dengan seru di buku, dan beberapa bagian lain. Mungkin memang sulit mengemas buku yang padat ini ke dalam sebuah film berdurasi 2 jam-an.
Bukunya sendiri buat saya agak hiperbolis. Soal-soal yang diberikan pada lomba Cerdas Cermatnya terasa terlalu berat untuk anak SD kelas 5. Seingat saya, dulu saya belajar tentang kecepatan, percepatan, antara SMP atau SMA. Padahal saya lebih muda angkatannya dibanding Andrea, atau memang angkatan tua itu lebih berat pelajarannya?
Bagaimana pun… ini film yang luar biasa indah dan memanjakan mata. Lihatlah betapa cantiknya pulau Belitung (jangan lupa tengok pulau Bangka juga yaaaaaa), bisa saya bilang keindahan pantai Bali jauuh dibanding pantai2 di pulau2 ini. Analisa saya: yang membedakan adalah orang Bali itu nyeni dan bersedia hidup demi idelisme, orang Melayu Bangka/Belitung tidak seperti itu. Orang Bali tahu memberikan servis, sementara Melayu Bangka/Belitung tidak menyukai pekerjaan melayani orang asing (wisatawan). Akhirnya, industri pariwisata Bangka/Belitung akan dikuasai juga oleh pendatang dari pulau lain - sebutlah Jawa.
Duh.. kok jadi melantur… maklum sedang bernostalgia.
Terimakasih untuk Miles Production untuk filmnya yang cantik, yang mau mengupas kehidupan di pulau-pulau cantik yang jarang diangkat oleh media. Terimakasih karena memberikan kesempatan untuk anak-anak asli Belitung untuk menghidupkan film ini, karena dialek mereka-lah yang membuat film ini menjadi asli.
Good movie. Ada promo buy 1 get 1 free di 21cineplex dari debit Mandiri.




