Tue, 06 Jan 2009; 08:34:39 PM

Archive for October, 2008

Me & My Old School Times: Kindergarten

Thursday, October 23rd, 2008

Gee… film Laskar Pelangi benar-benar membawa saya bernostalgia ke masa sekolah. Dan, kini rasanya ingin mengenang lagi masa-masa itu.

Tidak banyak yang bisa saya ingat dari kelas nol kecil/TK-A saya. Yang paling saya ingat adalah seragam khas anak TK (rok overall/1 piece) lucu berwarna kuning. Tiap hari saya diantar oleh salah satu dari ortu ke Tangsi (sebutan untuk kantor polisi). Kenapa? Ya, karena sekolah saya bernama TK Bhayangkara, yang diselenggarakan oleh (kemungkinan) para istri polisi ini.

O ya.. waktu TK-A inilah saya pertama kali punya adik. Rumah kami sangat dekat dengan Tangsi ini. Kemungkinan saya ke sekolahnya jalan kaki waktu itu.

Nol besar/TK-B lebih saya ingat. Sekarang saya sudah berumur lima tahun. Ortu menyekolahkan saya di sebuah sekolah katolik bereputasi terpuji di kota kecamatan Belinyu. Namanya TK St. Agnes. Kalo gurunya kali ini saya inget banget.. siapa lagi kalau bukan Ibu Ajung - duh nama indonesianya sapa ya, Bu.. lupa nih.

Roknya kali ini warna merah. Seingat saya, saya masuk kelas siang. Saya ingat sekali mengunting dan menempel dari sebuah buku ukuran kecil yang membuka secara horizontal. Lemnya dari kanji yang diletakkan di atas karton tebal. Bu Guru juga sering memberi hadiah kerajinan tangan (ga tau namanya apa nih) berbentuk lampion, kipas tangan, buat anak-anak yang berprestasi. Benda-benda ini says temukan di restoran Sagoo, Mal Serpong, yang banyak menjual benda-benda jadoel.

Saya juga ingat main perosotan dan main jungkat-jungkit - itu lho seesaw. Rata-rata teman TK-B saya ini menjadi schoolmate sampai lulus SD. Maklum TK, SD dan SMP-nya berada dalam satu kompleks karena dinaungi oleh satu yayasan.

Butuh kesabaran tinggi untuk jadi seorang guru TK. Murid ngompol sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak seperti sekarang, di TK-TK biasanya ada staf khusus (nanny) yang ngurusin beginian. Saya juga ingat ada teman saya yang sering pup di celana.. siapa ya orangnya.. hehehe… pasti kenangan buruk buat dia saat ini.

Mayoritas murid adalah penutur bahasa khek (hakka) bangka, karena itu Ibu Ajung kerap menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan kami. Ibu Ajung adalah guru yang tegas, dia tidak segan memarahi murid-murid yang dia anggap nakal. Hehehe.

My mom said, saya tidak pernah nangis ditinggal sendiri. Saya ingat saya duduk di boncengan sepeda, kaki saya diikat dengan saputangan supaya tidak masuk ke jeruji sepeda. Rumah kami waktu itu masih di dekat bioskop Belia - sekarang dah jadi tempat biliar.

Hmm.. tidak berasa sudah dua puluh delapan tahun lalu, ya.

Belanja di Hipermarket Tanpa Bawa Asisten

Friday, October 17th, 2008

Sejak awal 2007 saya sudah terbiasa belanja berdua saja dengan Joel yang waktu itu berumur 2 tahun jalan 3 tahun.

Repot? Tentu.. Apalagi jika dia sudah mulai lari ke sana-sini. Pontang-pantinglah saya harus mengejarnya, kalau hilang di tempat seperti ini kan bisa berabe.

Maka. Saya punya pekerjaan besar untuk melatihnya agar tidak berada lebih dari radius 1m dari saya :D. Sukses? Lumayan.

Akhirnya, saya jadi sangat terbiasa berbelanja bersama anak dengan segala kesetresannya. Biasanya habis mengantar Pampi, kami mampir ke hipermarket di sebelah kantornya. Di sana kami bisa melewatkan waktu berjam-jam, maklum dapat parkir gratis, fasilitas dari kantor Pampi.

Nah. Sekarang anak saya sudah dua, yang satu masih bayi. Saya jadi sering merindukan lagi kegiatan strolling over the aisles in the hypermarket.

Kalau mau tunggu Pampi, harus weekend, dan biasanya belanja sama kaum pria khususnya yang sejenis dengan Pampi ini kurang fun, karena mereka sangat target-oriented di sini. Sedangkan saya tergolong pada kaum yang bisa melepaskan kejenuhan di hipermarket. Hipermarket adalah salah satu tempat rekreasi saya. Kadang saya bisa tidak beli apa-apa di sini.

Lalu, hari ini saya putuskan untuk mengklaim kembali hak saya atas penggunaan mobil satu-satunya kami ini. Berangkat berempat dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, kami berangkat ke Menara Asia Lippo Karawaci.

Chloe saya gendong, karena saya berencana menggunakan baby-trolley. Untung ada… sayangnya susah banget ngambilnya. Saya harus bermanuver dengan satu tangan, tidak ada satu pun petugas yang berinisiatif menolong si ibu ini.

Chloe baring di tempatnya, Joel masuk ke dalam troli. Kami bertiga pun belanja. Si bayi sama sekali tidak rewel, dia bahkan tidur pulas, yang mana hal ini hampir tidak pernah terjadi pada baby Joel, yang selalu ingin mempelajari hal-hal baru di luar rumahnya.

Selesai belanja, saya ditahan oleh dua orang petugas security. They wanted the trolley back. Saya bilang, bolehkah saya pinjam trolinya sampai di tempat parkir? Mobil saya parkir sangat dekat dengan pintu. Mereka bilang tidak boleh. Peraturan adalah peraturan.

They suggested me to carry the baby Chloe with one hand, while the other hand to push the trolley and Joel be seated in the trolley. Have they lost their mind? Si security#1 (sambil menarik troli bayi) tanya, bagaimana cara saya masuk tadi. Saya bilang, tadi saya kan ga bawa belanjaan. Saya sudah mulai kesal dan mulai merencanakan untuk mogok makan demo masak kecil dan berdiri di sana terus sampai mereka carikan saya solusi.

Kemudian security#2 punya ide dan memanggil trolley boy. Troli boi bantuin saya mendorong troli biasa (troli bayi udah diambil dengan secepat kilat), dan bantuin saya masukin barang ke dalam mobil. Si troli boi usil ini sempat nanya, “Suaminya mana, Bu.” Saya jawab dengan sedikit banyak pedas, “Kerja.” Hei.. ini kan hari kerja dan jam kerja. Tapi, pastinya, saya berikan sedikit tip untuk kebaikan si troli boi.

Kesimpulan: hipermarket2 di sini memang tidak ramah anak.

Pertama, troli bayinya pun sebenarnya tidak akan lolos standar kelayakan untuk keamanan seorang bayi. Tempat berbaring bayinya tidak dilengkapi dengan safety belt, kemungkinan dulu pernah ada tapi dah copot.

Kedua, Anda diharapkan untuk belanja dengan membawa asisten (sekretaris/manajer/PRT/nanny/governess/supir/tukang kebun). Jika Anda tidak punya asisten, lebih baik tunggu weekend. Harap diingat kalau pada hari-hari itu, hipermarket2 di Jakarta dan sekitarnya bersituasi seperti kolam cendol, yang lagi2 pasti tidak nyaman buat bayi dan anak kecil.

Jadi.. sebaiknya punya asisten kalau mau belanja di hipermarket.