Fri, 30 Jul 2010; 02:39:37 AM

Archive for 2009

Enam Jam di Blok Ambassador

Tuesday, December 29th, 2009

Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.

Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya. :)

FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon. :)

Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.

Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.

Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila :D .

Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!

Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.

Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.

Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.

Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”

How guilty my thoughts are! Anyways………

Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.

Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.

“Sorry, I can not give you my number.”

“Why?”

Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.

“My husband is waiting. Bye!”

Saya langsung kabur.

Will Kiss The Crazy Traffic Again So Soon

Wednesday, December 2nd, 2009

Bukan saya. Tapi my darling Pampi.

Pampi akan balik jadi ‘orang Jakarta sesuai jam kantor’. Kira-kira sebulan lagilah. Saya dan anak-anak tetap jadi orang Gading (Serpong).

Tentu, ini berarti harus bangun lebih pagi, tidur lebih awal, sarapan yang cukup untuk memerangi ganasnya perjalanan mencari nafkah :) Hmm.. jika sekarang kami berpisah sekitar 10 jam per hari Senin-Jumat, sepertinya sekarang saya akan tidak melihat dirinya paling tidak 13 jam sehari.

Itu juga berarti harus ada kompensasi buat kami yang ditinggal lebih lama ketimbang kantor yang sekarang. Dulu kami punya ‘kemewahan’ tinggal telpon Papa kalo ada masalah di rumah (kantor-rumah hanya 5 km), sekarang tentu tidak mungkin mendatangkan dirinya dari Jakarta setiap saat :D kecuali ada Dora Emon lagi mampir ke kantornya.

Nah, saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan nanti. Tapi saya percaya, God provides our needs.

Congratulation for your new office, Hun. Prepare yourself ya.

Cerdas Sebelum Berobat

Wednesday, December 2nd, 2009

Sering sekali konsumen jasa kesehatan tidak memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan, sehingga disuruh apa saja oleh dokter pasti akan dituruti.

Saya & suami sudah cukup ‘celik’ matanya untuk tidak membiarkan diri kami & anak-anak didikte oleh para dokter, sebaik apa pun orangnya.

Ketidaktahuan pasien ini sangat menggoda. Bahkan, dokter Handrawan Nadesul pernah menulis di Kompas, godaan ini sangat besar buat para dokter. Bayangkan komisi yang mereka terima dari produsen obat atas tiap resep yang mereka keluarkan, belum lagi dari rumahsakit atas rujukan penggunaan fasilitas. Tentu masih banyak dokter yang punya hati nurani, temukanlah dia.

Beberapa waktu lalu Chloe sedikit batuk, jelas sekali terdengar pernapasannya terganggu oleh dahak, susah sekali dia tidur dengan nyaman. Mucopect adalah andalan saya untuk kondisi seperti ini. Namun bagaimana dengan dosisnya? Tentu saya tidak boleh sembarangan dong?

Nah, inilah gunanya website satu ini. Di situ ada keterangan lengkap tentang komposisi obat, dosis, efek samping sampai harga yang ditawarkan oleh mereka.

Perlengkapi diri dengan pengetahuan seperti ini, karena untuk hal ini kita tidak perlu harus pergi ke dokter dan menghabiskan ratusan ribu di situ. Dengan bekal pengalaman bersama Joel (5 tahun), saya kira-kira sudah bisa meraba obat-obat yang diresepkan dokter untuk penyakit khas anak-anak.

Dokter anak kesayangan kami :p dokter Eric F. Kan dari RS Siloam Karawaci termasuk yang tidak pelit berbagi ilmu. Untuk demam, dia ajarkan saya mengkombinasikan penurun panas seperti Proris, Tempra untuk demam sedang, dan Bufect untuk demam di atas 39. “Main-main saja di situ,” katanya dengan logat Menado.

Seorang dokter anak lagi bernama Weny Tjiali (beliau ini pria lho) juga tidak pelit saat memberi kuliah singkat tentang mengenali problem mata merah. Dengan menggambar di sebuah kertas dia memberita tahu saya, “Jika merahnya terjadi pada pinggir mata, berarti tidak perlu kuatir. Namun jika terjadinya pada kornea, itu perlu kuatir.”

Intinya, jadilah konsumen cerdas untuk produk apa saja.

Cooking Page

Sunday, November 1st, 2009

Seperti kurang kerjaan, saya bikin blog baru.

Kali ini khusus tentang masak. Dan karena saya tidak ingin membebani server hosting kami dengan foto2 makanan yang pasti menyita space, saya titipin aja ke servernya wordpress.com.

Nah.. klik di sini ya kalau mau lihat.

She is 17 months

Saturday, October 31st, 2009

chloe-hapeOoohh… she is 17 months now. Sweet and pleasant she is.

It was a doubt when I have her in my womb. I did not know if I can share my heart to one more person.

But, it doesn’t require a lot efforts to love her. You don’t even have to try. You will fall in love for her instantly.

This little gal has it. Her personality, her cheerful smile, she is blooming just as her name: Chloe.

In her 17 months, she has mastered stair climbing skill — she can go down by the stairs without help; first time it was a horror for me–, able to communicate in human language :) her most favorite word is: MAWUUU… (want).

She is also able to do simple order, like: “Chloe, get your pants.” She will rush to her room, pull out a pants from the drawer, push the drawer back and bring the pants to me.

And, she will tell you whenever she thinks its time to poo-poo, “Pook!” Unfortunately, she still can not tell me when she feels like to pee. :)

She loves books. Aaaahhh, she will get you read for her over and over. She never gets enough with the books. Her brother Joel can read at 3yo 6mo. It’s quite early. But, I’m pretty sure Chloe will get her literacy earlier. Recently, I found that she recognize the number 4. “Empak,” or empat means four. This number means nothing for her, for sure. FYI, we don’t teach her to read nor adopt any teach-your-baby-to-read methods. All we do is read to her. Anything, anywhere. Sometimes, she will read the book herself — pretended to read actually — and babbling out some cute words. My sister said that her babbling sounds like Thai. Hahha.

Happy 17mo, Dek.

What is He Doing Actually?

Friday, October 23rd, 2009

Pampie pulang dari Jogja hari ini.

Seperti biasa dia minta dijemput sebuah perusaan sewa mobil di Villa Melati Mas – Serpong sini. Chauffeur (sopir gitu maksudnya hihi) mereka cukup sopan dan ramah. Antar&jemput Serpong-Bandara dibandrol 100rb rupiah saat ini.

Ada yang istimewa dengan sopir kali ini. Penampilannya beda, tidak seperti sopir-sopir pada umumnya. Dia tampak elegan, anggun, classy. Saat saya keluar untuk menyongsong suami yang baru pulang dari tugas ke luar kota itu, Bapak itu sedang duduk di undakan rumah kami, menulis kuitansi.

“Malam, Bu,” sapanya.

Ini saja sudah mengejutkan. Sejak kapan sopir mobil sewaan sesopan ini? Mulai detik itu saya memperhatikan dia terus. Ada aura ‘orang terhormat’ dalam dirinya. Dia tidak terlihat seperti seorang karyawan perusahaan sewa mobil, dia lebih terlihat seperti orangtua kita, mengerti maksud saya?

Berdialog singkat dengan Pampie, dia pamit pulang. Dia bahkan menjawab, injih dengan luwes waktu saya mengucapkan terimakasih padanya.

Pampie lalu bercerita bahwa bapak tadi pernah diliput Kompas karena melakukan perjalanan dengan sepeda ke Bali setelah operasi jantungnya.

Wow! Double surprise.

Atau.. triple surprise setelah membaca artikel ini.

Dia baru saja dioperasi jantungnya Januari tahun lalu.
Dia gila bersepeda, paling tidak 20-30km per hari.
Dia memeriksakan jantungnya di Mount Elizabeth Singapore.
Dia berbesan dengan dokter.
Dia adalah mantan instruktur teknik di Sekolah Penerbangan Curug.
dan
Dia juga berprofesi jadi sopir perusahaan sewa mobil?

Omigod…

Is It October Already?

Monday, October 5th, 2009

october-2009

Yeah… it is.

October brings first signs of fall season in northern hemisphere, but in the same time, it also brings hope as the breeze of springtime warms the air of southern hemisphere.

For us, October always brings a surprise, a wind of change and leave a trace of uncertainity. Make us wanting. Make us waiting. Waiting for a change. Wanting for a confirmation.

Back then to October 2006. Pampi resigned from a well-known oilfield service provider, switched his career from a IT security consultant to a banker! Many friends even his bosses thought that it was a bad decision since the bank was ‘only’ a local bank since his former employer has a bunch of good reputation in so many countries and it is a multi national company.

Pampi had to leave the busy Kuningan area for the peaful Karawaci (suburban Jakarta), house of Universitas Pelita Harapan.

That was when our life changed. We moved in to our newly built house in Gading Serpong. I quit my job. I stayed at home with my 2yo son and lived the ups and downs of a SAHM ever since. We enjoyed our simple life in a suburban area, away from Jakarta’s chaotic.

A year later, also in October, I was pregnant with Chloe. We were so happy to welcome our dearest new family member.

Two years later, once again it happened in October, our peaceful life got a little nice surprise. A headhunter from fairyland called him. The conversation resulted into a job interview invitation to another dreamland. They sent the e-ticket and e-visa. So did he go, carried his luggage to the land of dates and camels.

I was so unsure of our future. I had a feeling that we bumped into the crossroad of our life again. I just couldn’t imagine living a life in a new place far far away from parents, relatives and friends.

For short, the job was not for us. And I still thank God for this. I was not ready for an extreme change. I didn’t need a new neighbor though.

It’s October again. And the cycle repeats itself.

It is October already.

My Maidless Days

Sunday, October 4th, 2009

Maidless day#17.

Buat keluarga Jakarta pada umumnya, tidak punya pembantu adalah musibah besar. Juga untuk yang punya batita, ketiadaan pengasuh (disebut babysitter di Indonesia, nanny harusnya) adalah bencana.

Tiga tahun lalu saya berhenti mengantor. Salah satunya karena saya ingin merdeka akan rasa cemas berlebihan jika hari raya Lebaran mendekat :) .

Tahun 2007 awal, satu bulan lebih saya tak punya orang yang bisa dimintai bantuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya ingat betapa stresnya saya waktu itu. Saya cemberut melihat tumpukan piring kotor dan peralatan masak bekas pakai, jengkel melihat gundukan baju yang harus disetrika. Malas masak, malas nyapu, malas bersih-bersih. Saya kesal, saya marah, saya ingin bisa bermalas-malasan seenak saya. Bukankah sebelumnya saya punya waktu begitu banyak mengerjakan hal-hal yang saya sukai?

Terulang lagi akhir tahun 2008, ketika Chloe masih bayi kecil. Saya begitu kelimpungan. Chloe belum lagi 6 bulan, masih sangat tergantung pada saya. Sementara itu Joel yang berumur 4 tahun juga belum bisa terlalu diandalkan, dia masih banyak butuh bantuan Mamanya. Berita buruknya, Pampi harus pergi ke dua negara dalam minggu itu. Saya tidak ingat apakah waktu itu saya sempat menangis karena kebingungan, saya cuma ingat waktu itu hujan turun tiada henti, baju-baju tak kunjung kering sementara baju kotor sudah antri untuk dicuci. Saya ingat hanya menyetrika baju pergi, sementara baju rumah hanya dilipat dengan rapi.

Untungnya di tahun ini Tuhan bermurah hati memberikan seorang sahabat yang sangat care kepada kami, sahabat saya ini membawakan saya masakannya, juga ketika saya pilek berat pas ditinggal suami pergi ini, dia membawakan seteko penuh wedang jahe. Ohh.. I love you, Sis!

Yang terkini, tahun 2009, pembantu harian saya dengan tega memutuskan untuk memberhentikan saya sebagai majikannya :) Saya agak kesal mengingat saya sering sekali memberinya barang, pakaian, peralatan masak, bahan makanan, sementara dia lebih menginginkannya dalam bentuk uang.

And I have improved a lot this year. My 2009’s maidless days are:
- selalu tersedia minimal dua masakan di rumah.
- baju-baju dicuci dua hari sekali, dan semuanya tersetrika.
- piring-piring kotor tidak boleh terlalu lama menunggu di tempat cuci piring.
- rumah disapu setiap hari (berkali-kali kalau perlu) dan diusahakan dipel setidaknya dua hari sekali.
- tempat tidur segera dirapikan begitu penghuninya bangun.
- lantai kamar mandi disikat segera setelah saya mandi.
- sebelum berangkat tidur, rumah sudah dalam keadaan rapi sehingga besok bisa lebih bersantai baca koran sambil minum kopi/teh :)

Intinya adalah jangan menunda pekerjaan. Lakukan dengan cepat tanpa banyak pikir. Selain itu, saya juga harus bersyukur karena punya suami yang hebat, yang tidak segan membantu cuci piring, mengepel, membuang sampah, mengambil Chloe yang super rewel akibat sakitnya dari gendongan saya yang menangis karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Terpenting, lakukan pekerjaan ‘remeh temeh tapi penting buanget ini’ dengan hati bersyukur, dengan suka cita. Seperti yang saya tahun ini.

Konspirasi?

Wednesday, September 30th, 2009

Sudah dua hari mangkir dari janjinya, pembantu harian kami belum juga masuk. Padahal, rumahnya hanya di belakang kompleks kami. Saya sudah mulai mengira-ngira, sepertinya dia tidak balik lagi.

Dan benar saja. Setelah lima hari berlalu, brokernya mendatangi saya yang sedang menjemur baju di samping rumah.

“Non, udah tau belum si Enas berenti?”
“O gitu ya. Ga bilang dia.”
“Iya, dia udah pegang tiga rumah.”
“Jadi saya yang dikorbanin?”
“Iya, dia maunya pagi. Terus katanya kasih THR juga ga satu bulan gaji.”
What? Belum kerja setahun udah minta THR sebulan?
“Ini barangkali nyari lagi.”

Rupanya dia membawa seseorang yang tidak sempat saya lihat wajahnya, karena sedang sibuk menjemur dan setengah keki karena mencium adanya bau konspirasi.

“Engga, Bu. Saya ga nyari.”
“Buat cuci-gosok, Non.”
“Engga, Bu. Nanti saya harus bayar Ibu lagi, ga kuat saya. Saya cari sendiri aja.”
“O.. mau cari sendiri aja. Yang nginep ya?”
Bukan urusanmu. “Nanti saya cari sendiri. Orang Ibu jarang yang awet.”
“Orang Jawa yang awet mah, Non.”
Halah. Sok peduli amat ini si Ibu tea….

Belum lama berselang, datang lagi seorang ibu-ibu mengetuk pintu yang saya tutup rapat-rapat, mencari lowongan. Lalu seorang ibu lagi yang bingung karena saya menolaknya, “Enas di sini kan dulu?”

Besoknya ada satu orang lagi. Hari ini satu orang lagi, yang tampaknya seorang makelar juga.

Halah… saya sepertinya ga mau lagi ambil pembantu harian dari tetangga sekitar sini. Mereka cenderung tidak loyal dan apa ya… oportunis. Standar gaji mereka juga terlalu tinggi menurut saya, si Enas gajinya 100.000/minggu yang menurut teman2 saya di Jakarta dan Alam Sutra ketinggian.

Sementara saya kerjain sendiri deh, dibantuin Pampi tentunya. Wish me luck.

A Place Called Home

Monday, September 28th, 2009

Lebaran yang baru saja lewat telah membuat banyak keluarga kelimpungan karena ditinggal oleh sang pekerja rumah tangga yang biasa disebut pembantu. Bahkan, ada istilah baru untuk menyebut kelelahan yang menerpa ibu-ibu yang tepar karena harus berada di “her maid’s shoes”, beres-beres rumah, cuci-gosok, masak, mengurus anak, mengajak anak bermain, dan banyak lagi. Istilah itu: flu babu.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca status facebook beberapa teman itu. Teringat saya pada masa-masa ketika saya selalu terserang sindrom lebaranophobia tiap Lebaran menjelang. Panik, karena tiada cara lain selain mengajukan cuti sebab tak mungkin meninggalkan anak di bawah umur tanpa ada yang mengurus.

Juga, pusing karena rumah berantakan, piring-piring kotor, baju-baju kotor menumpuk, sementara baju bersih yang sudah kering seperti menjerit minta disetrika. Jangan lupa, anak juga butuh ditemani main, dimandikan, dan makan tentunya! Oh, begitulah suasana lebaran di rumah-rumah yang ditinggal oleh pembantunya.

Akhirnya, keluarga-keluarga di kota seperti Jakarta ini memilih untuk escape, kabur, melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan dan membuat orang mudah naik darah ini. Mereka memilih meninggalkan sebuah tempat yang mereka sebut rumah.

Padahal, rumah ini mungkin berhasil mereka miliki setelah dengan susah payah menabung dan menyicil. Padahal, rumah seharusnya adalah sebuah tempat yang selalu membuat orang ingin pulang. Mengapa kali ini rumah menjadi sebuah tempat yang membuat orang ingin kabur?

Mengapa rumah jadi berbeda karena ketidakhadiran pembantu? Hotel-hotel di Jakarta dan sekitarnya yang fullybooked, keluarga-keluarga yang ikutan mudik sekedar melarikan diri dari situasi serba tak menguntungkan di rumah, adalah fenomena bahwa rumah tak bisa lagi jadi tempat yang bisa menghilangkan kepenatan selepas kerja keras.

Ah, unik memang manusia ini. Ketika tidak punya rumah, mereka mengeluh, merindukan sebuah tempat berteduh yang membuat hati tentram. Ketika sudah punya rumah, mereka tak betah ketika pembantu; yang sebenarnya bukan anggota keluarga; pulang kampung. Sejatinya, ketika tak ada pembantu, hanya ayah-ibu dan anak-anak, itulah rumah yang sesungguhnya.

Saya jadi bertanya, sebenarnya siapa yang paling menikmati keberadaan rumah itu?

*Saya resmi maidless 10 hari tepat hari ini.*

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe