Enam Jam di Blok Ambassador
Tuesday, December 29th, 2009Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.
Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya.
FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon.
Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.
Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.
Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila
.
Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!
Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.
Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.
Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.
Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”
How guilty my thoughts are! Anyways………
Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.
Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.
“Sorry, I can not give you my number.”
“Why?”
Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.
“My husband is waiting. Bye!”
Saya langsung kabur.
Ooohh… she is 17 months now. Sweet and pleasant she is.
