Pukul dua siang waktu itu. Langit cukup cerah, tapi udara Beijing bulan November tetap saja terasa terlalu menusuk buat kulit tropisku.
Menurut jadwal, sebentar lagi mobil shuttle dari hotel akan lewat jalan ini dan kuharap aku bisa terangkut kembali ke Holiday Inn Lido nun jauh di ring road lapis ke 4 kota Beijing.
Tergesa-gesa aku menyeberang dari kompleks pertokoan Friendship Store ke perempatan jalan di depan. Belum ada tanda kehadiran mobil shuttle hotel. Tidak apa-apa.. kutunggu saja. Terlalu beresiko jika ketinggalan fasilitas gratis satu ini, aku yang baru sehari sampai, jelas buta jalanan di sini.
Siang itu cukup menyenangkan. Seorang bapak penarik rickshaw tampak santai menunggu penumpang, orang-orang berbaju hangat bersliweran, spanduk-spanduk dalam bahasa Inggris meriah menandakan Beijing sedang bersiap menyambut Olympic 2008, padahal ini akhir tahun 2005.
Tunggu punya tunggu, mobil tidak kunjung datang, padahal sudah lewat jadwalnya. Aku mulai gelisah.
Bapak rickshaw nampaknya mengetahui kegelisahanku. Dia memanggilku, dalam bahasa Mandarin tentunya. Menawari naik rickshaw-nya kurasa. Kukatakan padanya dalam bahasa Mandarin terpatah-patah, bahwa aku tidak berbahasa Mandarin.
Dia bingung. “Kamu orang mana?”
“Inni ren. Orang Indonesia,” kubilang.
“Wah.. kamu kok kayak orang Cina. Kulitmu kok putih? Inni ren kan item.”
Ketika dia lihat kebingunganku, dia melakukan gerakan membelai-belai tangannya, “Ni hen pai. Kamu sangat putih (untuk ukuran Inni ren maksudnya). Inni ren.. mancung… (katanya dalam bahasa Tarzan).”
Hah? Pasti maksudnya Inthu ren ni… Inthu itu India. Maka kujelaskan dalam usaha terbaikku. Untuk catatan, aku tidak fasih berbahasa Mandarin. Satu-satunya bahasa cina yang kukuasai adalah bahasa Khek dari suku Hakka Bangka, yang bahkan sangat berbeda dari tetangganya di Belitung.
Kutanyakan tentang mobil hotel padanya (berbekal buku saku untuk turis dari hotel), kata si Bapak, mobilnya belum datang, nanti pasti lewat. Oh, tenang sudah.

Akhirnya, dalam segala keterbatasan, kami mulai berkomunikasi. Tak kusangka, si Bapak ini tahu cukup banyak tentang Indonesia. Dia tahu tentang Su Ha Na (Sukarno), juga tentang Gus Dur (sambil memeragakan gaya orang yang penglihatannya terganggu).
Dia juga menulis di sebuah kertas untuk saya, dalam aksara latin, perbandingan jumlah penduduk RRC dengan Indonesia. Wih, keren, saya aja sudah lama tidak mengikuti berapa ratus juta penduduk Indonesia. Dia juga sempat menyentil tentang ou lim pi ka (Olympic). Kami juga sempat gantian motret… think about that.. hahahaha.
Kemudian dia bertanya padaku, bolehkah buku saku hotel Lido itu buat dia. Dengan senang hati kuberikan padanya.
Tak lama, mobil hotel lewat. Oh, syukurlah ada tempat duduk tersedia. Kutinggalkan si Bapak Rickshaw (aku tak sempat menanyakan namanya). Dalam hati aku menyesal karena tidak bisa berbahasa Mandarin. Mungkin pembicaraan kami akan lebih menarik jika komunikasi lancar. But we had a good conversation though.
I said goodbye to him. I was really impressed. He was the first Beijingese who talk to me like that in my 2005 Beijing trip.
God bless you Mr Rickshaw!