Sun, 14 Mar 2010; 03:36:40 PM

Archive for June, 2009

It’s a Small World After All

Wednesday, June 24th, 2009

Eventually, Facebook has narrowed-down this whole wild world to a screen in front of you (or 19″ flat screen in my case).

Isn’t it a bit strange to bump into someone from our past in this cyberworld? Especially if s/he is someone you wish you would never have to see again in the rest of your life.

I had a thought how FB may ruin someone’s peaceful life. Just think about this.

One day, you got an invitation in your FB from a long lost friend, trying to reconnect with you. Phew! What a small world!

So there you are, browsing through your friend’s facebook profile. Then you click his/her photo album, just to find that this friend has been with someone from your past, the one I mentioned before, someone you want to forget.

You sit back, clear your throat and continue your investigation. Awaken by this weird enthusiasm, you wait hungrily if next pictures will bring you another surprises.

Wow, they have children! Your jaw dropped and you don’t know how to react. Are you going to approve your long-lost friend request? To reconnect with you?

Tell me. I want to know.

Lausin Mani di Beijing

Saturday, June 20th, 2009

“Lausin mani.”

“Whaaat?”

“Lausin mani,” kata si enci sambil memencet-mencet kalkulator di tangannya.

Omigod, setelah beberapa kali dilausinmani-kan oleh beberapa pedagang, akhirnya saya mengerti. Lausin mani adalah loosing money alias rugi.. kakakaka. Ini jelas adalah bahasa Inggris yang diterjemahkan harafiah dari bahasa Cina. Saya ga yakin kata loosing money digunakan oleh para penutur asli bahasa Inggris untuk menyatakan bahwa dirinya rugi jika memberi harga segitu.

Beijing adalah kota yang sangaaat menarik untuk belanja. Barang-barang tiruan merk terkenal bertebaran di kota ini. Dari KW1 sampai KW ga jelas. Harus pintar menawar, jika tidak kita-lah yang bakal lausin mani.

lausin-mani

Foto yang atas adalah situasi kaki lima di Mu Tian Yu, sebuah kota yang menjadi salah satu pintu masuk Tembok Raksasa, sekitar 70km dari Beijing. Kata lausin mani jelas terdengar bergaung di sana-sini.

Foto yang bawah adalah situasi kaki lima di Wang Fu Jing, Beijing. Tempat yang menyenangkan untuk pejalan kaki, karena sebagian besar areanya bebas dari kendaraan bermotor. Bangku panjang juga tersedia untuk yang ingin istirahat. Udaranya terasa bersih di sini. Kapan ya Jakarta bisa kayak gini?

Hmmmhhh.. kangen bisa jalan-jalan ke negeri orang lagi. Kapan ya bisa lagi?

Yang Tertinggal Dari Beijing

Saturday, June 20th, 2009

Pukul dua siang waktu itu. Langit cukup cerah, tapi udara Beijing bulan November tetap saja terasa terlalu menusuk buat kulit tropisku.

Menurut jadwal, sebentar lagi mobil shuttle dari hotel akan lewat jalan ini dan kuharap aku bisa terangkut kembali ke Holiday Inn Lido nun jauh di ring road lapis ke 4 kota Beijing.

Tergesa-gesa aku menyeberang dari kompleks pertokoan Friendship Store ke perempatan jalan di depan. Belum ada tanda kehadiran mobil shuttle hotel. Tidak apa-apa.. kutunggu saja. Terlalu beresiko jika ketinggalan fasilitas gratis satu ini, aku yang baru sehari sampai, jelas buta jalanan di sini.

Siang itu cukup menyenangkan. Seorang bapak penarik rickshaw tampak santai menunggu penumpang, orang-orang berbaju hangat bersliweran, spanduk-spanduk dalam bahasa Inggris meriah menandakan Beijing sedang bersiap menyambut Olympic 2008, padahal ini akhir tahun 2005.

Tunggu punya tunggu, mobil tidak kunjung datang, padahal sudah lewat jadwalnya. Aku mulai gelisah.

Bapak rickshaw nampaknya mengetahui kegelisahanku. Dia memanggilku, dalam bahasa Mandarin tentunya. Menawari naik rickshaw-nya kurasa. Kukatakan padanya dalam bahasa Mandarin terpatah-patah, bahwa aku tidak berbahasa Mandarin.

Dia bingung. “Kamu orang mana?”

“Inni ren. Orang Indonesia,” kubilang.

“Wah.. kamu kok kayak orang Cina. Kulitmu kok putih? Inni ren kan item.”

Ketika dia lihat kebingunganku, dia melakukan gerakan membelai-belai tangannya, “Ni hen pai. Kamu sangat putih (untuk ukuran Inni ren maksudnya). Inni ren.. mancung… (katanya dalam bahasa Tarzan).”

Hah? Pasti maksudnya Inthu ren ni… Inthu itu India. Maka kujelaskan dalam usaha terbaikku. Untuk catatan, aku tidak fasih berbahasa Mandarin. Satu-satunya bahasa cina yang kukuasai adalah bahasa Khek dari suku Hakka Bangka, yang bahkan sangat berbeda dari tetangganya di Belitung.

Kutanyakan tentang mobil hotel padanya (berbekal buku saku untuk turis dari hotel), kata si Bapak, mobilnya belum datang, nanti pasti lewat. Oh, tenang sudah.

rickshaw

Akhirnya, dalam segala keterbatasan, kami mulai berkomunikasi. Tak kusangka, si Bapak ini tahu cukup banyak tentang Indonesia. Dia tahu tentang Su Ha Na (Sukarno), juga tentang Gus Dur (sambil memeragakan gaya orang yang penglihatannya terganggu).

Dia juga menulis di sebuah kertas untuk saya, dalam aksara latin, perbandingan jumlah penduduk RRC dengan Indonesia. Wih, keren, saya aja sudah lama tidak mengikuti berapa ratus juta penduduk Indonesia. Dia juga sempat menyentil tentang ou lim pi ka (Olympic). Kami juga sempat gantian motret… think about that.. hahahaha.

Kemudian dia bertanya padaku, bolehkah buku saku hotel Lido itu buat dia. Dengan senang hati kuberikan padanya.

Tak lama, mobil hotel lewat. Oh, syukurlah ada tempat duduk tersedia. Kutinggalkan si Bapak Rickshaw (aku tak sempat menanyakan namanya). Dalam hati aku menyesal karena tidak bisa berbahasa Mandarin. Mungkin pembicaraan kami akan lebih menarik jika komunikasi lancar. But we had a good conversation though.

I said goodbye to him. I was really impressed. He was the first Beijingese who talk to me like that in my 2005 Beijing trip.

God bless you Mr Rickshaw!

Ma, Kok Belum Pulang?

Saturday, June 20th, 2009

Untuk ketiga kalinya Joel menanyakan pertanyaan yang sama. Kok belum pulang. Mpphhhfff…

No, no. Not like you think.

Dia bukan sedang kangen sama saya. Dia justru sedang mengusir saya. Karena saya belum juga ‘rela’ meninggalkan dia di bawah pengawasan auntie-nya di Tanjung Duren. Joel akan menginap dua malam.

Oh, anak laki-lakiku sudah besar ya. :( Kok cepat sekali, sih? Setahun lalu dia masih menempel ketat dengan saya. Setahun lalu dia masih ketergantungan tingkat tinggi pada Mamanya.

Hehehe.. Kita lihat saja apakah dia sama sekali tidak merasa kehilangan Papa, Mama dan Dedeknya beberapa hari ini.

My Doctor and I

Thursday, June 18th, 2009

Tulisan saya terakhir bercerita tentang hubungan dokter dan pasien.

Ya, saya suka iri membaca artikel di Reader’s Digest, menonton tayangan dengan setting rumah sakit seperti Grey’s Anatomy atau House. Dokter-dokter di situ diceritakan begitu berhati mulia dan sangat berdedikasi pada pasiennya. Mereka sering mengunjungi pasiennya yang sedang dirawat dan kadang-kadang mengajak mereka ngobrol.

Dokter-dokter yang pernah mampir di hidup saya? Mmmmhh.. satu-satunya dokter yang meninggalkan kesan sangaaat dalam buat saya adalah seorang dokter kandungan dengan inisial DD, S.POG KFM.

Percaya tidak, saya bertemu dia di RS yang saat ini sedang heboh dengan publisitas negatif. Saat hamil anak kedua, saya memutuskan untuk melahirkan di RS dengan nama international ini. Dan, saya melakukan riset mencari siapakah dokter kandungan yang paling direkomendasikan di situ. Ingat, saya tidak suka ngantri di dokter mana pun apalagi dokter kandungan.

Dokter DD, sangat charming. You could tell it from the first time, he’s a smart guy. Dan memang benar.

Tiap kali bertemu, dokter akan menjabat tangan saya dan suami, lalu menanyakan apa yang saya alami sejak pertemuan terakhir dengannya. Saya boleh tanya apa saja.. dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia terburu-buru.

Lalu, saat USG, dia akan mulai bercerita, mulai memberitahukan apa yang nampak di layar monitor, tanpa saya perlu bertanya.

“Ibu lihat ini yang bentuknya kupu-kupu adalah otak janin. Saat ini tulang kepala belum menutup sempurna.. .. dst dst…”

Persis seperti yang saya tonton di film-film barat :) hehehehhe.

Juga waktu saya ceritakan tentang histori pre-eklamsi saya, dia akan mengganti mode USG-nya dan memperlihatkan grafik yang menunjukkan hmmm.. apa namanya ya… tekanan darah? aliran darah? yang dari rahim dan yang meninggalkan rahim. Di situ terlihat potensi PE masih ada. Sejak saat itu saya selalu dicek tiap kali datang. Dia pasti membaca Rekam Medis saya bukan?

Dia punya sentuhan kemanusiaan. Saya tidak dianggapnya sebagai angka. Ketika akan meng-USG, dia akan memegang wajah saya, dan saat mata saya berair dia berkata, “Wah, sedang pilek?”

Habis itu kami biasanya diskusi dengannya. Sangat menyenangkan, dia seperti seorang dosen yang bersedia membagi ilmunya dengan pasiennya. Dia juga yang meyakinkan saya bahwa saya BISA melahirkan dengan normal, tidak harus operasi lagi, jika semuanya baik-baik saja. Kita tahu cukup banyak dokter kandungan yang mengatakan jika anak pertama lahir lewat operasi, anak kedua juga HARUS operasi. Dokter DD tidak pernah mengatakan hal itu.

Pernah satu kali saya konsultasi ke dokter kandungan lain di RS di Karawaci. Inisalnya sama dengan dokter DD.

Dokter berkepala plontos ini sangat pelit bicara. Dia meng-USG saya dan bicara beberapa patah kata. Dia tidak BERKOMUNIKASI dengan saya. Dia tidak menceritakan apa yang terjadi di rahim saya. Singkatnya dia hanya berkata. Bagi saya dia menganggap saya seorang pasien bodoh yang tidak tahu apa-apa. Saya sangat kecewa. Bukan seperti ini yang saya harapkan. Dokter ini juga yang berkata, kalau anak pertama operasi, anak kedua ya, operasi juga. Huuhhh… saya tidak pernah lagi akan jadi pasiennya.

Dokter DD, S.POG KFM… terimakasih sudah menjadi dokter kandungan saya selama 8 bulan. Walau saya sangat ingin melahirkan dibantu oleh Anda, tapi saya terpaksa harus ganti dokter karena dokter DD tidak praktek di RS yang saya pilih.

Terimakasih sudah membalas email-email saya yang sebenarnya tidak penting, tapi dokter tahu tugas dokter adalah menenangkan pasien, membuat pasien nyaman. Dokter bukan Tuhan.

Antara Dokter & Pasien

Thursday, June 18th, 2009

Handrawan Nadesul, dokter yang juga sastrawan, belum lama ini menulis beberapa artikel di harian Kompas tentang kecemasannya akan perdokteran di Indonesia. Salah satunya berjudul Malu Aku Jadi Dokter di Indonesia.

Dokter Handrawan mengulas tentang hubungan dokter-pasien yang rada timpang di negara kita, Indonesia. Betapa seringnya dokter menganggap pasien itu tidak tahu apa-apa. Tidak ada hubungan setara di sini.

Dokter-dokter di sini juga sulit fokus kepada tugasnya karena banyaknya pasien yang harus dia layani. Sudah bukan rahasia lagi jika ada dokter-dokter tertentu yang harus praktek sampai subuh, termasuk dokter kandungan.

Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin dokter seperti ini bisa memberikan waktunya yang berkualitas pada pasiennya. Jangankan membangun hubungan saling percaya, mau senyum saja mungkin sudah susah.

Sejak punya anak, saat harus mengunjungi dokter anak, saya jadi mulai berpikir. Rasanya tidak masuk akal jika dokter yang baru ketemu pasien 5 menit lalu sudah bisa mendiagnosis, dan langsung memberi resep. Apalagi jika dokter itu tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya. Dokter kan bukan Tuhan.

Dengan akal sehat, saya percaya, seorang dokter dalam mendiagnosis harus melihat rekam medis pasien, harus mengarahkan pertanyaannya sedemikan rupa agar bisa mengkonfirmasi dugaan sementaranya. Hemat saya, pekerjaan dokter itu sebenernya lebih mirip detektif.

Dokter Gregory House, MD, dokter Amerika jenius yang diperankan dengan sangat cemerlang oleh aktor Inggris Hugh Laurie, banyak membuka mata saya tentang tugas seorang dokter. Nonton deh.

Mengumpulkan fakta, menggali informasi sebanyak mungkin, karena seringkali ada gejala penting yang mungkin terlewatkan olehnya dan dianggap tidak penting oleh pasien. Ini sih jelas-jelas terpengaruh oleh film seri House & komik Detektif Conan nih…

Saat mengucapkan sumpah dokter, sebenarnya dokter terikat dengan kode etik kedokterannya. Tapi pada prakteknya kita tahu, dokter-dokter kita hidupnya banyak ditekan kanan-kiri. Saya yakin cukup banyak sarjana kedokteran yang ingin idealis tapi kenyataan di lapangan begitu memberatkannya.

Tekanan dari perusahaan farmasi yang mengimingi-imingi bonus besar jika meresepkan obatnya, tekanan dari institusi dia bekerja – kalo bisa manfaatkan semua fasilitas RS dan bebankan itu pada pasien :) – RS kan harus balik modal investasinya, tekanan dari masyarakat – menganggap dokter adalah Maha Tahu… uuhhh… tidak mudah jadi dokter idealis di masa kini.

Handrawan menulis, dokter-dokter di negara maju semisal US, biasanya bekerja fulltime di satu RS, mereka dedicated, mereka punya kesempatan lebih banyak membangun hubungan dengan pasiennya. Pasien di negara maju juga biasanya tidak sedikit-sedikit ke dokter. Beda dengan pasien di negara berkembang model Indonesia. Tak heran dokter-dokter mudah tergoda untuk memanfaatkan ketidaktahuan pasiennya.

Sebaiknya memang warga negara kita lebih memperlengkapi diri tentang kesehatan dasar, sehingga tidak perlu jadi pasien dan memenuhi ruang tunggu dokter spesialis terkenal dan antri berjam-jam. Sayang duit, sayang waktu.

Caranya? Bisa gabung dengan milis2 kesehatan, saya tahu sebuah milis yang dikelola oleh beberapa dokter, banyak tips kesehatan dari mereka. Atau, beli buku2 tentang kesehatan dasar. Dokter Handrawan menulis juga beberapa buku tentang ini dengan harga di bawah 100rb, lebih murah kan ketimbang satu kali kunjungan ke dokter spesialis. Buku-bukunya terbitan Penerbit Buku Kompas.

Calon-calon pasien… mari cerdaskan diri kita.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe