Lausin Mani di Beijing
“Lausin mani.”
“Whaaat?”
“Lausin mani,” kata si enci sambil memencet-mencet kalkulator di tangannya.
Omigod, setelah beberapa kali dilausinmani-kan oleh beberapa pedagang, akhirnya saya mengerti. Lausin mani adalah loosing money alias rugi.. kakakaka. Ini jelas adalah bahasa Inggris yang diterjemahkan harafiah dari bahasa Cina. Saya ga yakin kata loosing money digunakan oleh para penutur asli bahasa Inggris untuk menyatakan bahwa dirinya rugi jika memberi harga segitu.
Beijing adalah kota yang sangaaat menarik untuk belanja. Barang-barang tiruan merk terkenal bertebaran di kota ini. Dari KW1 sampai KW ga jelas. Harus pintar menawar, jika tidak kita-lah yang bakal lausin mani.

Foto yang atas adalah situasi kaki lima di Mu Tian Yu, sebuah kota yang menjadi salah satu pintu masuk Tembok Raksasa, sekitar 70km dari Beijing. Kata lausin mani jelas terdengar bergaung di sana-sini.
Foto yang bawah adalah situasi kaki lima di Wang Fu Jing, Beijing. Tempat yang menyenangkan untuk pejalan kaki, karena sebagian besar areanya bebas dari kendaraan bermotor. Bangku panjang juga tersedia untuk yang ingin istirahat. Udaranya terasa bersih di sini. Kapan ya Jakarta bisa kayak gini?
Hmmmhhh.. kangen bisa jalan-jalan ke negeri orang lagi. Kapan ya bisa lagi?
Tags: traveling
Posted by: Sat, 20 Jun 2009 @10:31 am

June 20th, 2009 at 11:07 am
wahhh baru jalan2 dari beijing yah…pengennnnn…..
asli tadi dahi g jg berkerut2 mikir lausin mani tuh apa hahahaha…lucu banget….
btw salam kenal yah ^^
[Reply]