Fri, 30 Jul 2010; 02:21:47 AM

My Doctor and I

Tulisan saya terakhir bercerita tentang hubungan dokter dan pasien.

Ya, saya suka iri membaca artikel di Reader’s Digest, menonton tayangan dengan setting rumah sakit seperti Grey’s Anatomy atau House. Dokter-dokter di situ diceritakan begitu berhati mulia dan sangat berdedikasi pada pasiennya. Mereka sering mengunjungi pasiennya yang sedang dirawat dan kadang-kadang mengajak mereka ngobrol.

Dokter-dokter yang pernah mampir di hidup saya? Mmmmhh.. satu-satunya dokter yang meninggalkan kesan sangaaat dalam buat saya adalah seorang dokter kandungan dengan inisial DD, S.POG KFM.

Percaya tidak, saya bertemu dia di RS yang saat ini sedang heboh dengan publisitas negatif. Saat hamil anak kedua, saya memutuskan untuk melahirkan di RS dengan nama international ini. Dan, saya melakukan riset mencari siapakah dokter kandungan yang paling direkomendasikan di situ. Ingat, saya tidak suka ngantri di dokter mana pun apalagi dokter kandungan.

Dokter DD, sangat charming. You could tell it from the first time, he’s a smart guy. Dan memang benar.

Tiap kali bertemu, dokter akan menjabat tangan saya dan suami, lalu menanyakan apa yang saya alami sejak pertemuan terakhir dengannya. Saya boleh tanya apa saja.. dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia terburu-buru.

Lalu, saat USG, dia akan mulai bercerita, mulai memberitahukan apa yang nampak di layar monitor, tanpa saya perlu bertanya.

“Ibu lihat ini yang bentuknya kupu-kupu adalah otak janin. Saat ini tulang kepala belum menutup sempurna.. .. dst dst…”

Persis seperti yang saya tonton di film-film barat :) hehehehhe.

Juga waktu saya ceritakan tentang histori pre-eklamsi saya, dia akan mengganti mode USG-nya dan memperlihatkan grafik yang menunjukkan hmmm.. apa namanya ya… tekanan darah? aliran darah? yang dari rahim dan yang meninggalkan rahim. Di situ terlihat potensi PE masih ada. Sejak saat itu saya selalu dicek tiap kali datang. Dia pasti membaca Rekam Medis saya bukan?

Dia punya sentuhan kemanusiaan. Saya tidak dianggapnya sebagai angka. Ketika akan meng-USG, dia akan memegang wajah saya, dan saat mata saya berair dia berkata, “Wah, sedang pilek?”

Habis itu kami biasanya diskusi dengannya. Sangat menyenangkan, dia seperti seorang dosen yang bersedia membagi ilmunya dengan pasiennya. Dia juga yang meyakinkan saya bahwa saya BISA melahirkan dengan normal, tidak harus operasi lagi, jika semuanya baik-baik saja. Kita tahu cukup banyak dokter kandungan yang mengatakan jika anak pertama lahir lewat operasi, anak kedua juga HARUS operasi. Dokter DD tidak pernah mengatakan hal itu.

Pernah satu kali saya konsultasi ke dokter kandungan lain di RS di Karawaci. Inisalnya sama dengan dokter DD.

Dokter berkepala plontos ini sangat pelit bicara. Dia meng-USG saya dan bicara beberapa patah kata. Dia tidak BERKOMUNIKASI dengan saya. Dia tidak menceritakan apa yang terjadi di rahim saya. Singkatnya dia hanya berkata. Bagi saya dia menganggap saya seorang pasien bodoh yang tidak tahu apa-apa. Saya sangat kecewa. Bukan seperti ini yang saya harapkan. Dokter ini juga yang berkata, kalau anak pertama operasi, anak kedua ya, operasi juga. Huuhhh… saya tidak pernah lagi akan jadi pasiennya.

Dokter DD, S.POG KFM… terimakasih sudah menjadi dokter kandungan saya selama 8 bulan. Walau saya sangat ingin melahirkan dibantu oleh Anda, tapi saya terpaksa harus ganti dokter karena dokter DD tidak praktek di RS yang saya pilih.

Terimakasih sudah membalas email-email saya yang sebenarnya tidak penting, tapi dokter tahu tugas dokter adalah menenangkan pasien, membuat pasien nyaman. Dokter bukan Tuhan.

Related Posts with Thumbnails

Tags: ,

Posted by: Thu, 18 Jun 2009 @5:01 am

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash


about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe