Bu, Inilah yang Dilakukan Oleh Asistenmu Ketika Kau Tak Ada
Friday, July 24th, 2009Sore itu aku mengajak kedua anakku bermain di taman area belakang perumahan kami. Biarlah mereka bermain dengan rumput dan pohon hari ini.
Dalam perjalanan kulihat anak-anak balita bermain di luar rumah didampingi para pengasuh, mungkin pembantu mungkin nanny (babysitter). Hampir semua dari para pengasuh ini begitu asik bicara dengan benda yang menempel di telinganya, handphone. Atau, sibuk memencet-mencet keypad dengan cekatan.
Tiba di taman, anak-anakku segera turun ke rumput dan bermain dengan daun-daun kering, memunguti bunga-bunga jingga yang jatuh ke tanah. Anak laki-lakiku menjadikan daun berjari sebagai kipas, anak perempuanku yang sampai empat belas bulan lalu masih berada di perutku, berjalan terlompat kegirangan di atas tanah berumput. Tak lama bergabung dua anak perempuan bersama kami, langsung main bersama. Sungguh hari yang indah.
Lalu, seorang perempuan yang kutahu pasti adalah pembantu tetanggaku dengan sepuhan rambut pirang lantas datang mendekat, tentu dengan handphone di tangan. Mengambil posisi ngedeprok sembarangan, dia bicara dengan suara keras, “Ayang, kenapa Ayang putusin Saroh*?!!!” *nama disamarkan*
Suasana bak reality show Termehek-mehek menyirnakan keindahan soreku. Entah apa yang dikatakan si Ayang di ujung sana, Saroh tampak mulai histeris, “Ayang ga bisa gitu dong. Waktu itu Saroh ga punya pulsa. Jangan gituin Saroh, dong, bla bla bla…”
Aku meringis. Beginilah potret kehidupan pembantu rumah tangga masa kini. Jika tidak nonton sinetron, atau reality show tak mendidik, mereka sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka berhaha-hihi, dengan temannya, dengan pacarnya, sementara anak yang dipercayakan oleh majikan untuk mereka asuh kadang diabaikan.
Di perumahanku kehadiran mereka sangat terasa. Mereka ada di mana-di mana. Di taman main kompleks, di pinggir kolam renang, mereka begitu mendominasi. Mereka tertawa terbahak-bahak, bergosip, memaki, bersumpah serapah, bergenit-genit dengan tukang bangunan, duduk dengan pose seenaknya, menelepon tiada henti, mata terpaku pada layar sms.
Entah apa yang mereka bisa berikan untuk mengisi jiwa manusia-manusia kecil yang ada di dekat mereka. Secara fisik mereka hadir lebih lama ketimbang orangtua anak-anak itu, yang berarti lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dari si mbak yang tidak merasa perlu memberikan contoh yang layak untuk anak majikannya.
Aku, tidak akan sanggup mempercayakan anak-anakku di bawah asuhan orang-orang seperti ini. Tak rela rasanya jika anak-anakku terus-terusan mendengar kata-kata yang tak layak didengar dan lalu mengganggap itu sebagai hal yang biasa.
Aku sungguh prihatin. Memikirkan masa depan bangsa ini.
