Fri, 30 Jul 2010; 02:31:30 AM

A Place Called Home

Lebaran yang baru saja lewat telah membuat banyak keluarga kelimpungan karena ditinggal oleh sang pekerja rumah tangga yang biasa disebut pembantu. Bahkan, ada istilah baru untuk menyebut kelelahan yang menerpa ibu-ibu yang tepar karena harus berada di “her maid’s shoes”, beres-beres rumah, cuci-gosok, masak, mengurus anak, mengajak anak bermain, dan banyak lagi. Istilah itu: flu babu.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca status facebook beberapa teman itu. Teringat saya pada masa-masa ketika saya selalu terserang sindrom lebaranophobia tiap Lebaran menjelang. Panik, karena tiada cara lain selain mengajukan cuti sebab tak mungkin meninggalkan anak di bawah umur tanpa ada yang mengurus.

Juga, pusing karena rumah berantakan, piring-piring kotor, baju-baju kotor menumpuk, sementara baju bersih yang sudah kering seperti menjerit minta disetrika. Jangan lupa, anak juga butuh ditemani main, dimandikan, dan makan tentunya! Oh, begitulah suasana lebaran di rumah-rumah yang ditinggal oleh pembantunya.

Akhirnya, keluarga-keluarga di kota seperti Jakarta ini memilih untuk escape, kabur, melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan dan membuat orang mudah naik darah ini. Mereka memilih meninggalkan sebuah tempat yang mereka sebut rumah.

Padahal, rumah ini mungkin berhasil mereka miliki setelah dengan susah payah menabung dan menyicil. Padahal, rumah seharusnya adalah sebuah tempat yang selalu membuat orang ingin pulang. Mengapa kali ini rumah menjadi sebuah tempat yang membuat orang ingin kabur?

Mengapa rumah jadi berbeda karena ketidakhadiran pembantu? Hotel-hotel di Jakarta dan sekitarnya yang fullybooked, keluarga-keluarga yang ikutan mudik sekedar melarikan diri dari situasi serba tak menguntungkan di rumah, adalah fenomena bahwa rumah tak bisa lagi jadi tempat yang bisa menghilangkan kepenatan selepas kerja keras.

Ah, unik memang manusia ini. Ketika tidak punya rumah, mereka mengeluh, merindukan sebuah tempat berteduh yang membuat hati tentram. Ketika sudah punya rumah, mereka tak betah ketika pembantu; yang sebenarnya bukan anggota keluarga; pulang kampung. Sejatinya, ketika tak ada pembantu, hanya ayah-ibu dan anak-anak, itulah rumah yang sesungguhnya.

Saya jadi bertanya, sebenarnya siapa yang paling menikmati keberadaan rumah itu?

*Saya resmi maidless 10 hari tepat hari ini.*

Related Posts with Thumbnails

Tags:

Posted by: Mon, 28 Sep 2009 @5:52 am

Leave a Reply

Powered by WP Hashcash


about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe