Sat, 04 Sep 2010; 05:14:15 AM

Archive for December, 2009

Enam Jam di Blok Ambassador

Tuesday, December 29th, 2009

Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.

Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya. :)

FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon. :)

Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.

Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.

Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila :D .

Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!

Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.

Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.

Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.

Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”

How guilty my thoughts are! Anyways………

Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.

Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.

“Sorry, I can not give you my number.”

“Why?”

Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.

“My husband is waiting. Bye!”

Saya langsung kabur.

Will Kiss The Crazy Traffic Again So Soon

Wednesday, December 2nd, 2009

Bukan saya. Tapi my darling Pampi.

Pampi akan balik jadi ‘orang Jakarta sesuai jam kantor’. Kira-kira sebulan lagilah. Saya dan anak-anak tetap jadi orang Gading (Serpong).

Tentu, ini berarti harus bangun lebih pagi, tidur lebih awal, sarapan yang cukup untuk memerangi ganasnya perjalanan mencari nafkah :) Hmm.. jika sekarang kami berpisah sekitar 10 jam per hari Senin-Jumat, sepertinya sekarang saya akan tidak melihat dirinya paling tidak 13 jam sehari.

Itu juga berarti harus ada kompensasi buat kami yang ditinggal lebih lama ketimbang kantor yang sekarang. Dulu kami punya ‘kemewahan’ tinggal telpon Papa kalo ada masalah di rumah (kantor-rumah hanya 5 km), sekarang tentu tidak mungkin mendatangkan dirinya dari Jakarta setiap saat :D kecuali ada Dora Emon lagi mampir ke kantornya.

Nah, saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan nanti. Tapi saya percaya, God provides our needs.

Congratulation for your new office, Hun. Prepare yourself ya.

Cerdas Sebelum Berobat

Wednesday, December 2nd, 2009

Sering sekali konsumen jasa kesehatan tidak memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan, sehingga disuruh apa saja oleh dokter pasti akan dituruti.

Saya & suami sudah cukup ‘celik’ matanya untuk tidak membiarkan diri kami & anak-anak didikte oleh para dokter, sebaik apa pun orangnya.

Ketidaktahuan pasien ini sangat menggoda. Bahkan, dokter Handrawan Nadesul pernah menulis di Kompas, godaan ini sangat besar buat para dokter. Bayangkan komisi yang mereka terima dari produsen obat atas tiap resep yang mereka keluarkan, belum lagi dari rumahsakit atas rujukan penggunaan fasilitas. Tentu masih banyak dokter yang punya hati nurani, temukanlah dia.

Beberapa waktu lalu Chloe sedikit batuk, jelas sekali terdengar pernapasannya terganggu oleh dahak, susah sekali dia tidur dengan nyaman. Mucopect adalah andalan saya untuk kondisi seperti ini. Namun bagaimana dengan dosisnya? Tentu saya tidak boleh sembarangan dong?

Nah, inilah gunanya website satu ini. Di situ ada keterangan lengkap tentang komposisi obat, dosis, efek samping sampai harga yang ditawarkan oleh mereka.

Perlengkapi diri dengan pengetahuan seperti ini, karena untuk hal ini kita tidak perlu harus pergi ke dokter dan menghabiskan ratusan ribu di situ. Dengan bekal pengalaman bersama Joel (5 tahun), saya kira-kira sudah bisa meraba obat-obat yang diresepkan dokter untuk penyakit khas anak-anak.

Dokter anak kesayangan kami :p dokter Eric F. Kan dari RS Siloam Karawaci termasuk yang tidak pelit berbagi ilmu. Untuk demam, dia ajarkan saya mengkombinasikan penurun panas seperti Proris, Tempra untuk demam sedang, dan Bufect untuk demam di atas 39. “Main-main saja di situ,” katanya dengan logat Menado.

Seorang dokter anak lagi bernama Weny Tjiali (beliau ini pria lho) juga tidak pelit saat memberi kuliah singkat tentang mengenali problem mata merah. Dengan menggambar di sebuah kertas dia memberita tahu saya, “Jika merahnya terjadi pada pinggir mata, berarti tidak perlu kuatir. Namun jika terjadinya pada kornea, itu perlu kuatir.”

Intinya, jadilah konsumen cerdas untuk produk apa saja.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe