Sun, 14 Mar 2010; 03:27:08 PM

Archive for February, 2010

Resto Review: Waroeng Kita @PX St. Moritz, Puri Indah

Tuesday, February 9th, 2010

Harus ada kejadian yang cukup istimewa sehingga saya mereview sebuah restoran di tempat ala mal seperti ini.

Saya sebenarnya ga terlalu minat dengan restoran yang menyebut dirinya authentic indonesian food yang menghidangkan adalah menu seperti nasi goreng, mie goreng jawa, nasi lemak, iga bakar, dan sejenisnya. Karena makanan seperti ini terlalu ‘biasa’, mudah ditemukan dan sebagian bisa dibuat sendiri di rumah.

Ceritanya, Joel menerobos masuk ke sana, karena ingin melihat pemandangan tempat parkir dari resto ini. Ya wis, let’s give it a try.

Ok, pertama kita review tempatnya. Tempatnya cukup cozy, cukup nyaman. Si WK ini terletak satu area dengan beberapa boutique resto lain yang punya tema beda. Jadi PX Pavillion membuat satu area makan yang terdiri dari chinese, italian, thai, and indonesian cuisine. Mereka berbagi fasilitas seperti wi-fi, termasuk high chair! Sayang pas ke sana, Chloe ga kebagian high chair, jadinya ya agak repot lah megangin si batita yang sedang besar rasa ingin tahunya.

Menu, seperti saya dah bilang tadi, ga ada yang bener-bener bikin saya pengen. Semuanya seperti food next door. Tahu gimbal, pecel, nasgor, sekoteng, duh. Well, kalo harganya terjangkau sih ga apa-apa. Nasi pecel dengan tambahan sepotong ayam saja dibandrol di atas Rp 30rb (blom termasuk tax 15%).

Akhirnya, dengan berat hati saya memesan mie goreng jawa (20K-an). Pampi pesan nasi lemak (30K-an). Minumnya kami pesan teh tarik dan sekoteng. Tadinya mau pesan tahu gimbal (kayak tahu pong + bakwan gitu), ga jadi karena beginilah penjelasan mbak waitress yang berbaju sangat rapi, berblazer gitu deh,

“Mmm.. agak lama lho.”

“Berapa lama? Buat snack aja, kok.”

“Agak lama, Pak. Kalo lagi ga rame aja 15 menit. Soalnya tahu gimbalnya semuanya dibikin manual.”

MANUAL? emangnya ada yang matik gitu :p heheheheeh. Mungkin maksud dia made-to-order.

Ya sudahlah, sepertinya dia tidak ingin kami memesan tahu gimbal, dibatalin aja deh.

Lalu.. tak lama datanglah nasi lemak Pampi. Mie saya menyusul tak lama kemudian. Makanan-makanan ini memang disajikan dengan acntik. Piring sajinya bikin saya pengen, sayang ga sempat foto. Teh tarik Joel dan sekoteng datang tak lama kemudian.

Apa yang terjadi beberapa menit kemudian? Saya harus bilang bahwa makanan-makanan yang kami pesan sangat MENGECEWAKAN. Totally dissapointed. Ayamnya Pampi masih berdarah, blom mateng, walau akhirnya diganti, kalo saya jadi dia pasti dah kehilangan nafsu makan. Dan, mereka tidak sedikit pun menunjukkan gesture penyesalan. Yang ada agak panik gitu, lalu cepat-cepat mengambil piring Pampi dan berjanji untuk menggantinya. That’s it.

Mie gorengnya rada keasinan dan porsinya ya ampun kecil banget. Mungkin maksudnya baik, karena asin jadi ga boleh terlalu banyak ya… bisa darah tinggi. :p Lalu, rasanya jauh dari mie goreng jawa otentik yang saya kenal.

Sekotengnya astaga…. rasanya nyaris tawar. Hanya ada sedikit hint jahe. Isinya sih cukup beragam, ada rumput laut, kacang ijo, dll. Dan, mereka memasang harga Rp 15Kb untuk sekoteng ga enak ini. Kebangetan. Saya langsung teringat sekoteng abang-abang yang jauh lebih enak dari ini. Juga langsung teringat ronde Jago di Salatiga seharga separohnya yang rasanya 1000 kali lipat lebih enak dari yang di Waroeng Kita.

Jadi… apanya yang otentik? Terlalu confidence menurut saya.

Mungkin hanya teh tarik (yg juga tidak otentik) yang masih bisa dibilang lumayan enak. The rest are totally not worth for your money. Porsinya juga agak kecil, Pampi masih lapar setelah menyantap sepiring nasi lemaknya.

Satu-satunya kelebihannya adalah mereka sedang dalam masa promosi, ada diskon 30% dari total makan+minum+pajak.

FYI, iga bakarnya yang katanya most recommended diberi harga Rp 95K.

Mungkin resto model begini cocoknya buat target market orang bule yang ga gitu paham rasa masakan indonesia sebenarnya. Benar-benar jauh dari kata otentik.

Saya ga tau pemiliknya sapa, tapi semoga mereka baca kritik saya dan yeaahh.. pls consider a room for improvement.

Mereka punya website, dan ada account facebooknya. Saya tidak ingin promosi restoran mereka di sini, jadi saya tidak sertakan link-nya. Google aja Waroeng Kita St Moritz, Google will bring you there. Please don’t judge a food by how its package.

So my review will be: thumbdown

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe