Ketika demam Facebook pertama melanda keluarga kami, Joe juga punya akun Facebook. Saya yang bikinkan, tahun 2009.
Sebenarnya waktu itu sudah ada rasa tidak nyaman. Tapi tetap saya bikinkan, karena saya tidak mau dia membaca posting-posting dari teman-teman yang tidak appropriate untuk umurnya. Juga, saya ingin dia lebih bangga karena tiap dia main game, skornya tercatat atas nama dia. Ketika itu, Joel rutin main GeoChallenge.
Perasaan saya yang agak terganggu ini karena terus menerus dibiarkan, lama-lama ga terlalu berasa lagi, walau tetap saja ada rasa ga nyaman mengganjal di hati.
Apalagi kemudian, terlihat Joel menikmati akun facebook atas namanya sendiri. Dia bisa main beberapa game kesukaannya, dari GeoChallenge sampai Pet Society dan sejenisnya. Joel hanya menggunakannya untuk main game dan (kadang) melihat komen foto orang-orang yang ada dalam networknya.
Saya biarkan terus, walau kadang-kadang saya bingung juga saat ada yang add dia sebagai teman, padahal orang itu (saya ga gitu kenal) jauh lebih tua dari dia, dan tentu ada potensi posting-posting yang tidak cocok untuk anak seusia dia mampir di wall-nya.
Sampai akhirnya tahun 2010 ini, karena perasaan saya tak kunjung tenang, terus terusik, ditambah ada sedikit sentilan saat khotbah hari Minggu, ditambah lagi perbincangan saya dengan seorang sahabat yang sudah seperti kakak sendir, saya makin yakin untuk segera menutup akun facebook Joel.
Sebelumnya saya diskusikan dengan Joel,
“Joel, facebook Joel, Mama tutup ya.”
Respon dia, pertama, “KENAPAAAA???!!!”
“Harusnya facebook itu untuk orang yang sudah berumur 17 tahun ke atas. Joel belum. Berarti kita bohong.”
Joel langsung menangis protes, menjerit, “GA MAU!!!!” Hati saya pedih.
“Ya, Mama yang salah. Karena Mama tahu harusnya tidak boleh, tapi Mama tetap bikinkan buat kamu. Mama mau taat sama Tuhan. Kata Tuhan kita tidak boleh berdusta. Kamu ingat ini perintah Allah nomor berapa?”
Joel masih menangis, tapi kemudian menjawab sambil menangis, “Nomor 9…. “
“Tapi! Kan, Mama ga tau waktu itu,” tambah Joel lagi.
Oh, betapa baiknya anakku menilaiku.
“Enggak, Joel. Mama sebenarnya sudah tahu. Mama bilang kamu lahir tahun 1992. Mama bohong. Maaf, ya.”
Sepertinya Joel mulai mengerti, karena tangisnya mulai mereda.
“Kita tutup ya, Joel?”
Lama Joel baru meresponi. “Iya.”
Oh.. hati saya lega. Plong.
Beberapa hari kemudian, akun Facebook Joel tidak sekedar dinonaktifkan, tapi dihapus untuk selamanya.
Makasih ya Joel, sudah membantu Mama jadi orang yang lebih jujur. Makasih Ko Joel Young buat sentilannya pas khotbah Minggu, makasih Ci Stasia yang membuatku tambah yakin untuk melakukan ini.
Biarlah nanti kalau Joel sudah berumur 17 tahun, dia bikin sendiri akun-akun pertemanannya sendiri