Sat, 04 Sep 2010; 05:53:37 AM

Archive for the ‘as a mom’ Category

When God Spoke to a Kid’s Heart

Monday, May 3rd, 2010

Saat Teduh secara teratur benar-benar powerful. Saya harus malu sama Joel.

Tanpa sedikit pun membantah, selama lebih dari dua minggu terakhir ini, Joel rutin ber-Saat Teduh dengan bahan yang diberikan dari gereja anak di tempat kami. Tadinya Joel hanya berdoa saja setelah bangun pagi, itu pun saya tidak tahu apakah dia benar-benar berdoa. Tapi saya percaya padanya. :)

Pernah, suatu malam kami agak kelelahan karena acara sepanjang hari, dan tidur sudah agak malam, kami ‘lupa’ menemaninya Saat Teduh. Sampai hari ini kami masih melakukannya di malam hari, karena itulah saat Papanya bisa menemaninya, saya memang ingin Pampi yang pegang peranan ini, jadi imam buat anaknya.

Back to Joel. Apa yang terjadi? Tidak lama setelah kami masuk kamar, terdengar pintu kamar Joel dibuka, dan dia segera membuka pintu kamar kami. Joel meminta Papanya menemani dia Saat Teduh, waktu itu sudah hampir pukul 11 malam.

See? Anak-anaklah yang merasakan manfaatnya. Jika selama ini kita berpikir, seberapa sih yang bisa dipahami seorang anak berumur 6 tahun tentang Tuhan, tentang isi Firman Tuhan, dll — kini saya mengerti, walaupun mungkin dia tidak bisa mengutarakannya, sesuatu telah menyentuh hatinya, berbicara padanya, dan mengubah hidupnya.

Minggu pertama, Joel membaca Firman tentang ketaatan dengan role model Abraham. Minggu kedua, bacaannya tentang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Minggu ketiga tentang mengasihi sesama.

Banyak perubahan terjadi dan itu sangat menyentuh hati dan membukakan mata saya bahwa Tuhan mampu mengubah hati yang paling keras sekali pun, Firman Tuhan punya kuasa dahsyat mengubah hati seorang anak yang sebegitu pemalunya.

Joel sekarang lebih bisa berinteraksi dengan orang lain, bisa menanyakan pertanyaan seperti ,”Auntie, kapan ke sini lagi?”. Pertanyaan langka dari mulut seorang Joel. Sosialasi yang saya kuatirkan, tidak perlu lagi jadi beban pikiran saya.

Juga, hari Minggu yang lalu Joel membawa pulang sebuah sticker dari sekolah minggu. Walaupun sudah didesak-desak, dia bilang dia tidak mau cerita dari mana asalnya sticker itu. Satu-satunya clue yang dia berikan adalah, tidak semua anak mendapat sticker itu. Itu berarti dia melakukan sesuatu, bukan? Tapi dia tidak mau cerita juga.

Sampai hari ini, saya iseng tanya, “Kamu dapat sticker karena nyanyi di depan?” Bukan! katanya. “Tidak mau cerita.” Tiba-tiba saya dapat ide, “Kalau begitu pasti karena ayat hafalan.” Dia langsung mengiyakan. Wow! Hati saya bersorak kegirangan. Anak ini biasanya malu bahkan terkesan tak acuh pada kegiatan di sekolah minggu-nya. “Ditanya siapa yang mau maju sebutin ayat hafalan,” tambahnya lagi. Ini sih dobel wow! Berita hebat! Saya harus menahan diri untuk tidak tersenyum atau tertawa atau terlalu excited karena Joel biasanya jadi risih dan malu.

Malam ini, ketika saya menemaninya Saat Teduh karena Papanya belum pulang, kami membaca tentang taat kepada orangtua sebagai implikasi dari mengasihi orangtua, Markus 19:19. Anak-anak diajak merenungkan betapa pentingnya orangtua buat mereka. Bahwa salah satu bentuk mengasihi orangtua (yang juga sesamanya) adalah dengan menaatinya. Juga anak-anak diajak minta maaf sama orangtua jika selama ini pernah melawan.

“Coba ingat-ingat kapan terakhir kali kamu melawan ortu? Ayo minta maaf sama ortumu, ” begitu tulisan di bahan Saat Teduhnya.

“Nah, Joel mau minta maaf, ga?” tanya saya ga terlalu yakin.

“Mau. Gimana caranya?”

Maka saya ajari. Lalu dia mengulanginya ke saya. Saya sangat terharu. Saya peluk dia sambil berkata, “Mama maafkan”. Hati Joel lembut sekali, begitu mudah diajar. Biasanya Joel tidak mau melakukan hal-hal ‘memalukan’ seperti ini.

Kemudian saya minta dia melakukannya ke Papanya. Setelah ‘mengusir’ saya keluar — karena malu — dia minta maaf sama Papanya. Walau saya diultimatum untuk tidak mendengar, saya pasang kuping juga di pintu kamarnya, hati saya seperti disiram kesegaran luar biasa.

Sepertinya materi yang dia dapat selama ini dari kurikulum First Grade My Father’s World juga sedikit banyak telah menaburkan sesuatu di dalam hatinya. Ketaatan 100%, kesediaan melakukan perintah Tuhan, kehebatan dan mujizat-mujizat yang Dia lakukan, telah membuatnya lebih ‘aware’ tentang siapakah Tuhan yang kami, orangtuanya, percaya. Saya sungguh berharap kami berdua bisa menuntun Joel terus mengenal seorang Pribadi yang sungguh-sungguh mengasihi dia dan menerima Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat dalam hidupnya. Ini baru awal.

Many thanks to you, my God. I’ve witnessed the power of Your Word. Please God, do continue to work in us to make us what You want us to be.

Jujur Ber-Facebook

Tuesday, April 6th, 2010

Ketika demam Facebook pertama melanda keluarga kami, Joe juga punya akun Facebook. Saya yang bikinkan, tahun 2009.

Sebenarnya waktu itu sudah ada rasa tidak nyaman. Tapi tetap saya bikinkan, karena saya tidak mau dia membaca posting-posting dari teman-teman yang tidak appropriate untuk umurnya. Juga, saya ingin dia lebih bangga karena tiap dia main game, skornya tercatat atas nama dia. Ketika itu, Joel rutin main GeoChallenge.

Perasaan saya yang agak terganggu ini karena terus menerus dibiarkan, lama-lama ga terlalu berasa lagi, walau tetap saja ada rasa ga nyaman mengganjal di hati.

Apalagi kemudian, terlihat Joel menikmati akun facebook atas namanya sendiri. Dia bisa main beberapa game kesukaannya, dari GeoChallenge sampai Pet Society dan sejenisnya. Joel hanya menggunakannya untuk main game dan (kadang) melihat komen foto orang-orang yang ada dalam networknya.

Saya biarkan terus, walau kadang-kadang saya bingung juga saat ada yang add dia sebagai teman, padahal orang itu (saya ga gitu kenal) jauh lebih tua dari dia, dan tentu ada potensi posting-posting yang tidak cocok untuk anak seusia dia mampir di wall-nya.

Sampai akhirnya tahun 2010 ini, karena perasaan saya tak kunjung tenang, terus terusik, ditambah ada sedikit sentilan saat khotbah hari Minggu, ditambah lagi perbincangan saya dengan seorang sahabat yang sudah seperti kakak sendir, saya makin yakin untuk segera menutup akun facebook Joel.

Sebelumnya saya diskusikan dengan Joel,

“Joel, facebook Joel, Mama tutup ya.”

Respon dia, pertama, “KENAPAAAA???!!!”

“Harusnya facebook itu untuk orang yang sudah berumur 17 tahun ke atas. Joel belum. Berarti kita bohong.”

Joel langsung menangis protes, menjerit, “GA MAU!!!!” Hati saya pedih.

“Ya, Mama yang salah. Karena Mama tahu harusnya tidak boleh, tapi Mama tetap bikinkan buat kamu. Mama mau taat sama Tuhan. Kata Tuhan kita tidak boleh berdusta. Kamu ingat ini perintah Allah nomor berapa?”

Joel masih menangis, tapi kemudian menjawab sambil menangis, “Nomor 9…. “

“Tapi! Kan, Mama ga tau waktu itu,” tambah Joel lagi.

Oh, betapa baiknya anakku menilaiku.

“Enggak, Joel. Mama sebenarnya sudah tahu. Mama bilang kamu lahir tahun 1992. Mama bohong. Maaf, ya.”

Sepertinya Joel mulai mengerti, karena tangisnya mulai mereda.

“Kita tutup ya, Joel?”

Lama Joel baru meresponi. “Iya.”

Oh.. hati saya lega. Plong.

Beberapa hari kemudian, akun Facebook Joel tidak sekedar dinonaktifkan, tapi dihapus untuk selamanya.

Makasih ya Joel, sudah membantu Mama jadi orang yang lebih jujur. Makasih Ko Joel Young buat sentilannya pas khotbah Minggu, makasih Ci Stasia yang membuatku tambah yakin untuk melakukan ini.

Biarlah nanti kalau Joel sudah berumur 17 tahun, dia bikin sendiri akun-akun pertemanannya sendiri

Acicu

Saturday, January 30th, 2010

Kadang-kadang saya bertanya pada Chloe, Tuhan Yesus ada di mana, dia akan menaruh tangannya di dada dan berkata: aci (hati).

Namun, sudah beberapa waktu ini dia akan menjawab: acicu. Cukup lama saya baru ngeh maksud dia adalah: hatiku. Dari mana dia denger kata ini, ya? Kemungkinan dari beberapa lagu yang sering kami nyanyikan bersama, seperti lagu Bulan Sabit di Awan — betapa senang hatiku rasanya menjadi nahkoda di sana — atau lagu Balonku — meletus balon hijau DOR hatiku sangat kacau. (more…)

Jejak Tangan Misterius

Saturday, January 2nd, 2010

jejaktangan

Suatu pagi yang nyaman di awal tahun 2010.. Aaahhh indahnyaaa… Namun tiba-tiba mataku tertumbuk pada benda putih berserbuk di atas sofa. Sebuah jejak tangan misterius. Wah! Ada pencuri?!!!

Mencurigakan sekali..  Maka, dengan mengendap-endap Mama berusaha menangkap basah si pencuri. Tidak perlu bersusah-susah ternyata.. hanya sekitar 3 meter dari sofa, pemilik jejak tangan misterius sedang asik dengan ulah badungnya. Ini dia, mahkluk terkecil di rumah yang sedang berenang di atas selapis tepung maizena yang ‘dicurinya’ dari kulkas Mama saat Mama membiarkan pintu (kulkas)nya terbuka sejenak.

tersangka

Ini dia orangnya! Sayangnya dia terlalu lucu untuk dimarahi :D hohohohohoho.

chloe-badung

Cerdas Sebelum Berobat

Wednesday, December 2nd, 2009

Sering sekali konsumen jasa kesehatan tidak memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan, sehingga disuruh apa saja oleh dokter pasti akan dituruti.

Saya & suami sudah cukup ‘celik’ matanya untuk tidak membiarkan diri kami & anak-anak didikte oleh para dokter, sebaik apa pun orangnya.

Ketidaktahuan pasien ini sangat menggoda. Bahkan, dokter Handrawan Nadesul pernah menulis di Kompas, godaan ini sangat besar buat para dokter. Bayangkan komisi yang mereka terima dari produsen obat atas tiap resep yang mereka keluarkan, belum lagi dari rumahsakit atas rujukan penggunaan fasilitas. Tentu masih banyak dokter yang punya hati nurani, temukanlah dia.

Beberapa waktu lalu Chloe sedikit batuk, jelas sekali terdengar pernapasannya terganggu oleh dahak, susah sekali dia tidur dengan nyaman. Mucopect adalah andalan saya untuk kondisi seperti ini. Namun bagaimana dengan dosisnya? Tentu saya tidak boleh sembarangan dong?

Nah, inilah gunanya website satu ini. Di situ ada keterangan lengkap tentang komposisi obat, dosis, efek samping sampai harga yang ditawarkan oleh mereka.

Perlengkapi diri dengan pengetahuan seperti ini, karena untuk hal ini kita tidak perlu harus pergi ke dokter dan menghabiskan ratusan ribu di situ. Dengan bekal pengalaman bersama Joel (5 tahun), saya kira-kira sudah bisa meraba obat-obat yang diresepkan dokter untuk penyakit khas anak-anak.

Dokter anak kesayangan kami :p dokter Eric F. Kan dari RS Siloam Karawaci termasuk yang tidak pelit berbagi ilmu. Untuk demam, dia ajarkan saya mengkombinasikan penurun panas seperti Proris, Tempra untuk demam sedang, dan Bufect untuk demam di atas 39. “Main-main saja di situ,” katanya dengan logat Menado.

Seorang dokter anak lagi bernama Weny Tjiali (beliau ini pria lho) juga tidak pelit saat memberi kuliah singkat tentang mengenali problem mata merah. Dengan menggambar di sebuah kertas dia memberita tahu saya, “Jika merahnya terjadi pada pinggir mata, berarti tidak perlu kuatir. Namun jika terjadinya pada kornea, itu perlu kuatir.”

Intinya, jadilah konsumen cerdas untuk produk apa saja.

She is 17 months

Saturday, October 31st, 2009

chloe-hapeOoohh… she is 17 months now. Sweet and pleasant she is.

It was a doubt when I have her in my womb. I did not know if I can share my heart to one more person.

But, it doesn’t require a lot efforts to love her. You don’t even have to try. You will fall in love for her instantly.

This little gal has it. Her personality, her cheerful smile, she is blooming just as her name: Chloe.

In her 17 months, she has mastered stair climbing skill — she can go down by the stairs without help; first time it was a horror for me–, able to communicate in human language :) her most favorite word is: MAWUUU… (want).

She is also able to do simple order, like: “Chloe, get your pants.” She will rush to her room, pull out a pants from the drawer, push the drawer back and bring the pants to me.

And, she will tell you whenever she thinks its time to poo-poo, “Pook!” Unfortunately, she still can not tell me when she feels like to pee. :)

She loves books. Aaaahhh, she will get you read for her over and over. She never gets enough with the books. Her brother Joel can read at 3yo 6mo. It’s quite early. But, I’m pretty sure Chloe will get her literacy earlier. Recently, I found that she recognize the number 4. “Empak,” or empat means four. This number means nothing for her, for sure. FYI, we don’t teach her to read nor adopt any teach-your-baby-to-read methods. All we do is read to her. Anything, anywhere. Sometimes, she will read the book herself — pretended to read actually — and babbling out some cute words. My sister said that her babbling sounds like Thai. Hahha.

Happy 17mo, Dek.

Bu, Inilah yang Dilakukan Oleh Asistenmu Ketika Kau Tak Ada

Friday, July 24th, 2009

Sore itu aku mengajak kedua anakku bermain di taman area belakang perumahan kami. Biarlah mereka bermain dengan rumput dan pohon hari ini.

Dalam perjalanan kulihat anak-anak balita bermain di luar rumah didampingi para pengasuh, mungkin pembantu mungkin nanny (babysitter). Hampir semua dari para pengasuh ini begitu asik bicara dengan benda yang menempel di telinganya, handphone. Atau, sibuk memencet-mencet keypad dengan cekatan.

Tiba di taman, anak-anakku segera turun ke rumput dan bermain dengan daun-daun kering, memunguti bunga-bunga jingga yang jatuh ke tanah. Anak laki-lakiku menjadikan daun berjari sebagai kipas, anak perempuanku yang sampai empat belas bulan lalu masih berada di perutku, berjalan terlompat kegirangan di atas tanah berumput. Tak lama bergabung dua anak perempuan bersama kami, langsung main bersama. Sungguh hari yang indah.

Lalu, seorang perempuan yang kutahu pasti adalah pembantu tetanggaku dengan sepuhan rambut pirang lantas datang mendekat, tentu dengan handphone di tangan. Mengambil posisi ngedeprok sembarangan, dia bicara dengan suara keras, “Ayang, kenapa Ayang putusin Saroh*?!!!” *nama disamarkan*

Suasana bak reality show Termehek-mehek menyirnakan keindahan soreku. Entah apa yang dikatakan si Ayang di ujung sana, Saroh tampak mulai histeris, “Ayang ga bisa gitu dong. Waktu itu Saroh ga punya pulsa. Jangan gituin Saroh, dong, bla bla bla…”

Aku meringis. Beginilah potret kehidupan pembantu rumah tangga masa kini. Jika tidak nonton sinetron, atau reality show tak mendidik, mereka sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka berhaha-hihi, dengan temannya, dengan pacarnya, sementara anak yang dipercayakan oleh majikan untuk mereka asuh kadang diabaikan.

Di perumahanku kehadiran mereka sangat terasa. Mereka ada di mana-di mana. Di taman main kompleks, di pinggir kolam renang, mereka begitu mendominasi. Mereka tertawa terbahak-bahak, bergosip, memaki, bersumpah serapah, bergenit-genit dengan tukang bangunan, duduk dengan pose seenaknya, menelepon tiada henti, mata terpaku pada layar sms.

Entah apa yang mereka bisa berikan untuk mengisi jiwa manusia-manusia kecil yang ada di dekat mereka. Secara fisik mereka hadir lebih lama ketimbang orangtua anak-anak itu, yang berarti lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dari si mbak yang tidak merasa perlu memberikan contoh yang layak untuk anak majikannya.

Aku, tidak akan sanggup mempercayakan anak-anakku di bawah asuhan orang-orang seperti ini. Tak rela rasanya jika anak-anakku terus-terusan mendengar kata-kata yang tak layak didengar dan lalu mengganggap itu sebagai hal yang biasa.

Aku sungguh prihatin. Memikirkan masa depan bangsa ini.

Now is The End of Our 2009 Birthdays Series

Friday, July 10th, 2009

Fiuh. Selesai sudah rangkaian ultah keluarga kami.

30 April. Ultah ke-5 Joel kami rayakan bersama dua sahabat kecil Joel (Clay & Evan Lea) dengan acara makan mie dan potong kue. Kuenya saya pesan dari seorang pembuat kue di Tangerang.

28 Mei. Giliran Chloe yang untuk pertama kali dalam hidupnya berulang tahun. Gadis kecil kami ini dihadiahi tumpeng dari Mama. Membuat tumpeng ini juga sudah menjadi pengalaman yang cukup bikin stres saya, maklum ini juga yang pertama. Saya hanya merasa ini ultah pertama, harusnya ada yang spesial, ya itu lah.. tumpeng nasi kuning yang dibuat dalam ukuran kecil dan dibagikan ke beberapa tetangga.

Ah ya, dengan berusia satu tahun ini, berarti Chloe juga sudah menyelesaikan satu tahun ASI bersama Mama, dan akan lanjut sampai tahun ke-2. Jadi, gelar Chloe saat ini adalah: S.ASIx, M.ASI :) hihihihi. Fotonya menyusul ya, belum sempat utak-atik lagi (males tepatnya).

8 Juni. Papa ultah ke-33. Saya merasa tak sanggup berpikir sehingga hanya bisa mempersembahkan sup kepiting asparagus agar ada yang spesial hari itu.

14 Juni. Hari jadi pernikahan ke-6. Waaah.. sudah enam tahun ya. Rasanya belum selama itu deh. :) Kami lewatkan hari ini dengan mendatangkan khusus seorang babysitter dari Tanjung Duren, sehingga kami bisa menikmati saat berduaan saja. Makan malam di Frankfurter di Downtown-nya Mall Serpong (asik lho, harus diulangi lagi nih nongkrong di sini), ditutup dengan acara nonton Star Trek di mal yang sama.

30 Juni. Saya kebagian jatah terakhir. Ultah ke-33 juga dan rasanya sudah tuaaaa banget. Karena ini adalah penutup, kami pergi berempat untuk makan malam di tempat yang agak spesial bagi budget kami. Kami pergi ke restoran Jepang Hokkaido di Aryaduta Karawaci. Makanannya enak, tapi premium sekali harganya. O ya, suasana di Aryaduta sini juga menyenangkan di malam hari.

Ma, Kok Belum Pulang?

Saturday, June 20th, 2009

Untuk ketiga kalinya Joel menanyakan pertanyaan yang sama. Kok belum pulang. Mpphhhfff…

No, no. Not like you think.

Dia bukan sedang kangen sama saya. Dia justru sedang mengusir saya. Karena saya belum juga ‘rela’ meninggalkan dia di bawah pengawasan auntie-nya di Tanjung Duren. Joel akan menginap dua malam.

Oh, anak laki-lakiku sudah besar ya. :( Kok cepat sekali, sih? Setahun lalu dia masih menempel ketat dengan saya. Setahun lalu dia masih ketergantungan tingkat tinggi pada Mamanya.

Hehehe.. Kita lihat saja apakah dia sama sekali tidak merasa kehilangan Papa, Mama dan Dedeknya beberapa hari ini.

Setelah Chloe Bergigi

Friday, May 22nd, 2009

chloe-sibuk

Setelah gigi pertamanya keluar setengah, gigi berikutnya tumbuh menyusul hanya dalam beberapa hari. Semuanya di atas.

Sekarang gigi bawahnya mulai menampakkan diri. Jadi, tiga gigi tumbuh dalam waktu tiga minggu saja. Mengalami percepatan nampaknya.

Setelah gigi pertama, Chloe juga mulai pede untuk berjalan tanpa dituntun. Dia sudah bisa jalan sendiri sekarang, dan sering sekali menepis bantuan yang ditawarkan. Hm… gaya ya…

Chloe juga sudah mulai bisa bicara. Papa, Mama, Cacak (begitu dia memanggil kakak Joel). Nyenyen kalo minta disusui, mam kalo lapar. Tak ketinggalan Naaak… itulah cara dia mengapresiasi makanan. Wah, dia doyan makan banget sekarang. Terlambat sedikit saja menyuapinya, dia akan marah besar. Ikan adalah makanan kesukaannya. Sayur-sayuran juga tidak pernah ditolak olehnya. She’s an easy baby, really.

Chloe juga bisa menjawab jika ditanya, “Papa ke mana? Keeeer…?” “JAA!” jawab si gadis kecil.

Sekarang dia sedang terobsesi dengan peralatan sapu & pel. Tidak bisa lihat ada sapu nganggur, pasti langsung disambar. Tangannya juga suka iseng mengobok-obok air pel. Duh, bayi…

Menyenangkan sekali tinggal di rumah dan menikmati anak-anak yang telah Tuhan anugerahkan.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe