Wed, 08 Sep 2010; 08:59:05 AM

Archive for the ‘as a mom’ Category

My Precious Kids

Wednesday, July 23rd, 2008

chloesenyum

Hai, lihat senyum manis Chloe yang selalu membuat orang di dekatnya ikut tersenyum.

Lihat juga, betapa akrabnya kakak-adik ini… Joel lagi hobi baca, semua orang dia bacakan buku. Papanya sampai ketiduran karena dibacakan buku, mungkin hanya Chloe yang dengan suka rela dan suka cita mau dibacakan buku sama Joel (maklum bacanya masih lamaaa).

joelbacabuku

Adjusment

Tuesday, July 22nd, 2008

Begitulah… Anggota keluarga baru membuat perubahan total dalam keluarga.

Sekarang jadwal bangun pagi saya rada kacau. Bisa bangun jam 2, jam 3, jam 4.. yang kemudian diteruskan lagi tidurnya ampe jam 8. Setelah itu baru kehidupan hari itu berjalan.

Menyelaraskan jadwal semua orang butuh kesabaran dan penyesuaian terus menerus. Namun, rewardnya adalah saya makin terampil, saya makin ahli menjadi ‘ibu’. Juga makin sabar, khususnya terhadap Joel, my firstborn son.

Waktu hamil anak ke-2, sempat terpikir, ‘Will I love the baby?’ karena saya dan Joel sangaaat dekat. Sempet kuatir apakah saya bisa membagi kasih saya yang sedemikan besar untuk Joel itu dengan adiknya.

Namun, begitu baby Chloe lahir, dengan begitu alaminya saya menyayangi dia. Dengan tingkat kerelaan yang lebih tinggi dibanding waktu merawat baby Joel dulu, saya mengurus semua keperluan si bayi: wet diaper, soiled diaper, feeding, baby playtime, etc. Yang paling nyata ya soal ASI itu… sekarang saya dah dengan rela menyusui dia walau baru satu setengah jam lalu dia menyusu. Dulu saya pernah kesel waktu baby Joel kok seperti ga ada kenyang2nya… Dulu saya ‘marah’ karena merasa bayi menuntut waktu dan diri saya terlalu banyak. Sekarang tidak lagi.

Joel pun belajar menyayangi adik. Saya bersyukur, tidak ada kecemburuan serius selama ini. Awalnya sangat sulit melihat penderitaan di matanya, karena harus berbagi mama. Saya sempet nangis di awal2 karena bingung. Sempat juga marahin dia karena ‘bertingkah’. Semua dah berlalu, saya kini tahu pasti Joel sayang sama Chloe.

Pampi juga belajar punya anak bayi lagi. Anak perempuan lagi. Berkali-kali saya mengingatkan untuk lebih lembut, soalnya memperlakukan anaknya kok maskulin sekali gerakannya… hehehehe.

Dua hari ini saya mulai berbahagia. Chloe yang dah mau dua bulan usiaya, dah mulai jelas jadwalnya. Dan syukurlah, dia tidak (belum) pernah terbalik jadwal siang-malamnya. Kerewelannya hanya terjadi pada siang hari, malam dia tidur pulas. Jam 9 malam dia dah tidur, bangun lagi sekitar jam 2 atau 3 pagi, setelah disusuin dia akan tidur lagi sampai jam 7.

Dedek Joel Matic

Wednesday, July 9th, 2008

Joel sayang sama adiknya (syukurlah). Dulu waktu masih di perut Mama, sehari bisa puluhan kali Joel kiss dedeknya. Sekarang, setelah dia cukup berhasil menangani kecemburuannya, dia ga pernah absen kiss adiknya, di jidat, di pipi, di bibir, di tangan, di kaki. Joel suka gemes sama kaki Chloe yang kecil.

Nah, ada kisah lucu. Kemarin Joel dan Chloe dititipin ke Tanjung Duren, karena Mama harus kontrol 40 hari ke dokter kandungan. Kebetulan Opa Oma lagi datang dari Bangka.

Seperti biasa, Joel langsung menuju ke rak buku yang berisi koleksi lawas Autobild Papa (dulu kita tinggal di sini). Baca-baca sebentar, dia tanya Oma, “Manual itu apa sih? Matic itu apa?” Kemungkinan dia baca di halaman harga-harga mobil di majalah otomotif itu.

Oma: “Manual itu ada giginya, matic enggak.”
Joel: (mikir bentar) “Joel manual, dedek matic.”
Oma: (mikir bentar juga.. akhirnya nyambung juga)

Hahahaha. Joel.. Joel.. ada-ada saja.

On The Way to ASI-X

Monday, June 30th, 2008

Sudah sebulan berlalu dan dengan bangga saya umumkan saya berhasil bertahan untuk tetap memberi Chloe ASI dan ASI saja (sempat kecolongan juga sih). Omigod :D . Ini adalah perjuangan :p

Ini dua teori dan kenyataan yang semoga bisa memberi pandangan tentang ASI-X (X=exclusive).

Teori: Memberi ASI mudah
Fakta: Memang mudah, tinggal menyibak baju. Tapi… tidak mudah untuk selalu ada bagi mulut kecil yang lapar itu- mengingat saya adalah ibu yang berada di rumah (Stay at Home Mom). Kadang saya ingin istirahat, ingin browsing, ingin blogging, ingin main ke mall, ingin main sama kakaknya, ingin makan, ingin ke salon, ingin punya waktu buat diri sendiri…. Belum lagi menghadapi kerepotan menyusui di tempat umum. Untuk mengatasi ini, carilah pakaian dan perlengkapan yang menunjang.

Dalam kasus saya, pemberian ASI-X membuat waktu saya untuk Joel berkurang. Kadang Joel protes, “Kok lama?” Ya, karena Chloe jenis yang menyusu sangat lama, bisa sejam lebih.

T: Tidak mungkin ASI kurang
F: Ada kalanya bayi bertingkah seperti tidak pernah cukup. Ada kalanya bayi selalu ingin menyusu, selalu lapar. Dengan sedikit membaca, kita jadi tahu bahwa ada yang disebut dengan growth spurt – lonjakan pertumbuhan. Yang terjadi adalah bayi memastikan persediaan susu akan cukup baginya, karena dia akan bertumbuh pesat dalam hari-hari ke depan. Bagaimana caranya? Ya menyusu lebih banyak, karena hukum ASI sama dengan hukum dagang: supply on demand: banyaknya persediaan ditentukan oleh banyaknya permintaan.

T: ASI murah
F: Ini betul sekali, dalam artian tidak butuh uang banyak. Cuma, saya sering bingung dengan ketersediaan pangan, maklum, yang bertanggungjawab menyediakan makanan untuk seisi rumah adalah saya. Kalau untuk ke pasar dan masak saja saya belum bisa curi waktu.. rasanya susaaah. Kompensasinya saya minum susu yang buanyak. Lalu pesan katering untuk sementara.

Hari-hari pertama adalah hari-hari tersulit. Lecet-lecet sering terjadi pada masa ini, karena perlekatan yang belum baik, dan karena ‘alat’ menyusuinya belum berhasil beradaptasi. Belum lagi hormon pasca melahirkan yang mendera. Sulit. Sekarang saya mengerti mengapa banyak ibu yang menyerah untuk menyusui. Jika kita menyerah di titik ini, maka otomatis persediaan ASI kita pun menipis. Inilah yang sering dijadikan alasan: ASI tidak cukup.

Saya mau membuat pengakuan, sempat berpikir lebih baik si bayi diberi sufor saja, karena sufor bisa diberikan oleh orang lain sehingga saya bisa lebih bebas ngapa-ngapain. Tapi sufor jelas lebih merepotkan dalam penyiapannya, sehingga kalau mau bebas, harus hire orang. Pengeluaran jadi ganda: sufor itu sendiri + gaji asisten

Walau begitu… pikiran ini tidak saya biarkan untuk dibuahi. Saya hanya perlu mengingatkan diri, jika saya mampu, saya harus terus berusaha, karena demikianlah desain Tuhan. Manusia = makhluk menyusui dan mungkin manusia pula satu2nya mamalia yang mengijinkan keturunannya disusui oleh makhluk lain :)

Mzm. 8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Mat. 21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”

Her Chronology

Thursday, May 29th, 2008

27 Mei ’08 (pagi-sore)
Hari ini udah bikin janji untuk kontrol ke dokter kandungan. Semua ok, kata dokter Radit, berat bayi juga sudah 3,1kg di minggu 38 ini. Minggu depan balik lagi, katanya. Ok deh, dok, padahal kita dah siap-siap jika harus nginap di RS hari ini. Soalnya dah dua hari ini terasa kontraksi yang kuat dan sering frekuensinya.

Dari RS PIK, kita langsung ke Taman Mini Indonesia Indah, jemput eyang-eyangnya Joel yang lagi ada acara gereja di sana. Di TMII kita maen bentar, Joel naek kereta gantung, trus maen juga ke museum serangga dan ikan air tawar. Wah, koleksinya keren-keren lho. Kupu2nya luar biasa cantik, ikan air tawarnya mengagumkan.

Cape banget hari ini, Serpong-PIK-TMII-Serpong. Herannya Joel punya batere yang seperti kecolok terus ke listrik, ga pernah kehabisan energi!

27 Mei (malem)
Habis makan malam di rumah, kita makan es dan roti bakar di kaki lima. Joel seperti biasa: ‘Masih lape…’

Udah itu, Joel bobo. Eyang-eyang juga. Tapi saya dan Pampi seperti biasa masih melek. Pampi sibuk dengan forum & website aeromodelling, saya download-download worksheet dan segala macam printable dari sebuah situs keren. (Sementara itu kontraksi mulai terasa lebih sering dan teratur.)

Terus karena tiba-tiba jadi laper, saya abisin tuh semua orek tempe yang dimasak sore tadi. Lalu, sakit perut datang. Udah ke belakang, masih sakit juga. Sempet liat ada jejak darah, tapi dikit. Belum curiga juga. (Tapi kita mulai hitung jarak kontraksi, terjadinya tiap 5-10 menit)

28 Mei (dini hari)
Nah, akhirnya di kamar mandi atas terbuktilah semua kecurigaan. Terasa air merembes seperti pipis, bercampur darah, dan akhirnya bukan sekedar merembes lagi. Ya, ternyata begitu namanya ketubah pecah.

Langsung, tanpa dikomando lagi, Pampi berbenah untuk pergi ke RS PIK. Joel yang lagi bobo langsung diangkut. Untung banget ada eyang putri, terasa sekali pentingnya kehadiran orangtua untuk saat-saat seperti ini.

Di mobil, air ketuban dah mengucur deras. Walau ini kelahiran kedua, pengalamannya jelas berbeda dengan Joel. Joel kan lahir tanpa tanda-tanda persalinan, jadi ini benar-benar pengalaman yang total baru.

Ngebut di tol, kita sampai RS pkl 01.30 Saya langsung dimasukkan ke ruang observasi/anamnesa. Masih tenang dan bisa senyum-senyum, tapi begitu diperiksa bukaan saya mulai gemetaran, dan tidak bisa menahannya. Tegang kali ya. Bukaan 2.

Di sini intimidasi mulai terjadi. “Bu, kuat sakit ga? Karena dulu pernah Cesar, sekarang tidak boleh pake epidural lho. Tidak boleh dibantu apa pun”

Atau, “Sakit kan? Bener nih mau normal aja?”

Saya yang memang dah niat, menepis semua pertanyaan-pertanyaan tidak membangun itu.

Pukul 04.00 kurang saya dipindahkan ke ruang melahirkan. Sudah bukaan 4 dan para perawatnya sama saja, jelas-jelas mengarahkan saya untuk mengambil langkah operasi.

“Jangan lemes gitu dong, Bu. Semangat…”

Kesel, saya ngomong rada mbentak, “Emang lemes mau diapain.”

Bukaan 6, sakitnya mulai intens sekali. Susah gambarinnya, tapi kira-kira gini, seperti diremas-remas perutnya, dipelintir dengan tangan yang besar. Intimidasi masih jalan terus, oleh orang-orang yang berbeda dengan seragam hijau perawat.

Sekitar pukul 5-6an, saya merasa sangat sakit. Pampi memanggil perawat, menjelaskan bahwa saya kesakitan. “Ya memang sakit. Bukaannya juga belum maju-maju nih, baru 7. Kepala bayi juga belum turun. Jadi gimana?”

Saya yang sedang kesakitan sudah mulai goyah. Masih kuat bertahan ga ya? Pampi juga tampaknya tidak tega melihat saya, “Operasi aja?” Pada perawat yang menunggu jawaban kami, saya bilang, “Saya mau ketemu dokter aja.” Dengan enteng dia menjawab, “Dokter sih rekomendasikan operasi saja, karena kepala bayi belum turun.”

Entah kenapa, seperti mendapat kekuatan baru, bukaan-bukaan mulai berlanjut, perawat yang tadi lalu harus mengakui bahwa bukaan 8 sedang terjadi dan kepala bayi sudah lebih turun.

Lalu, kontraksi terus menerus pun terjadi, saya merasa dorongan yang luar biasa untuk pup. Setengah teriak saya bilang, “Mau ngedeen!” pada Pampi yang kok mendadak jadi budeg, karena harus diulang beberapa kali baru mengerti maksud saya (habis itu saya baru tahu kata-kata saya waktu itu memang tidak jelas :D hehehhee).

Pas dokter datang, diperiksa.. “Ok, bukaan sudah lengkap, bayinya juga ga terlalu gede. Bisa nih ngeden.”

Dokter langsung pake apron plastik, dan entah dari mana tiba-tiba ruang itu sudah penuh orang. Dokter duduk dengan santai di depan saya, peralatan tempat menaruh kaki dipasang. Rupanya kalau melahirkan normal tidak bisa pegang tangan suami :D , tangan kita dibutuhkan untuk memegang paha untuk membantu memberikan tenaga mendorong bayi keluar. Jadi ngeden itu kayak sit-up lho.. dari posisi berbaring kita bangun dengan tenaga kuat, tahan napas sambil mendorong ‘sesuatu’ dari tubuh kita ke bagian bawah.

“Ayo bu, kasian anaknya. Yang kuat..”

Saya benar-benar kehabisan tenaga. Makan pagi tadi tidak saya sentuh. Nafsu makan benar-benar hilang, hebat ya? Padahal saya ini hampir tidak pernah tidak nafsu makan kecuali sakit tipus :p hehehehe.

Dengan cepat dokter memutuskan untuk vacuum. Terus terang saya sangat kagum sama dokter Raditya yang tidak banyak komen ini. Tidak sedikit pun dia mengeluarkan kata-kata yang melemahkan saya. Dia cuma bilang, “Detak jantung anaknya melemah..” sambil langsung mengambil vacuum dan memasangnya. Dengan bantuan alat penyedot ini (yang saya ga tau gimana cara masukin ke dalamnya) saya pun mengejan. Dua ejanan panjang dan kuat….

Demikianlah, tepat pukul 09.50 waktu Indonesia Barat, lahirlah gadis kecil kami yang sampai detik ini belum kami dapatkan namanya yang pasti. Huhh.. susah ya cari nama anak.

Terasa kelegaan luar biasa saat saya melihat dia meluncur turun keluar dari saya. Bayi kecil yang selama ini hobi membuat bentuk lucu di perut sebelah kanan saya (tempat favoritnya). Dia tidak langsung menangis, mungkin karena mengalami stres saat proses yang membingungkan tadi.

“Wah, gede juga,” ucap dokter senyum-senyum. Soalnya perkiraan dia, dedeknya kecil.. ga taunya keluar 3.562kg. Ini baru minggu ke-38, gimana minggu ke-40.. bisa-bisa 4kg.

Semua sakit persalinan hilang sudah bersamaan dengan lahirnya dedek. Memang benar, persalinan normal punya efek sesudah yang lebih menyenangkan ketimbang operasi.

Anywayss…………..

Semua yang terjadi adalah karena kasih Tuhan. Thanks God for our little girl.

Here Comes Our Girl…

Wednesday, May 28th, 2008

Pagi baru buat keluarga kami…

dede

Seorang gadis kecil melengkapi keutuhan kami sebagai keluarga yang telah dipersatukan oleh Allah, 14 Juni 2003.

Selamat datang putri cantikku…

Jokebedh Chloe Adiwijaya, lahir 09.50 WIB @RS PIK
Berat: 3,562kg Panjang: 50cm

Terimakasih untuk doa-doanya. Happy parents & brother.

Kotak Obatku yang Lucu

Thursday, May 15th, 2008

Di Hypermart ada section alat-alat rumah tangga Jepang (made in China padahal). Kemaren nemu satu perlengkapan yang unik, lucu, dan inovatif. Juga menjawab kebutuhanku saat ini.

kotak-obat

Cakep kan?

Ada dua kompartemen obat, dan satu tablet slicer. Nah, pemotong tablet ini yang emang saya incar.

Tak lain tak bukan karena resep Pak Dokter Raditya, S.POG yang mengharuskan saya mengkonsumsi Dopamet 1/2 butir per hari. Dokter bilang obatnya ada belahannya.. padahal waktu dicek pas dah ditebus, mulus banget ni obat. Padahal dah pengalaman dengan tablet Ascardia yang ada belahannya, tetep aja susah motongnya. Dicoba pake pisau, jarang bisa bagus potongnya, mana kayaknya ga higienis lagi.

kotak-obat2Ini kemasannya. Harganya ga neko-neko, cukup terjangkau, Rp 16.900. Yang pasti lucu….

O ya.. disuruh minum Dopamet karena… pas ditensi hari Selasa lalu, tekanan darah melonjak jadi 137/89, sebelumnya normal-normal saja. Grafik pertumbuhan bayi juga agak melambat, kata pak dokter. Hiks sedih…

Pengen sekali bisa melahirkan dengan normal. Pengen sekali get rid off this pre-eclampsia symptom. Doain ya….

Joel’s 4th Birthday

Monday, May 12th, 2008

Hari yang dinanti-nanti si balita ini akhirnya tiba juga, Joel dah 4 tahun! Senangnya bukan main dia. Beberapa hari menjelang, dia tampak gelisah menunggu datangnya tanggal 30 April. Dari bulan Maret dia sudah bersiap-siap menyambut ulang tahunnya.

Demikianlah… 30 April pagi. Saya dan Pampi sedang bercengkrama (ciee bahasanya) di bawah. Tak lama terdengar suara AC dimatikan, pintu kamar dibuka. Diam sejenak.

Lalu… “Ma.. sekarang tanggal berapa? 30 ya?” Hehehehe.

tiup lilinnya

Meniup lilin rupanya memang disukai oleh anak-anak mana pun ya. Hanya disaksikan papa dan mama, Joel tiup lilin dengan sepenuh hati. Birthday cakenya dipesan dari Pelangi Cake.

Sebenarnya saya kurang sreg dengan desain mereka, tapi ya apa boleh buat, waktu mepet dan males juga harus cari-cari pembuat kue ultah yang ok tapi ga mahal. Saya ada keinginan bisa bikin sendiri sih kue ulangtahun buat keluarga saya, karena pengen bikin kue yang sehat dan ga banyak pake gula. Too much sugar somewhat can make us craving for more (hiyy).

Tiap kali pesen kue saya harus selalu cari ukuran terkecil, mengingat Joel tidak punya ‘temen sekelas’. Dari umur satu tahun, kami memang selalu membelikan kue ultah buatnya, tahun lalu ketika kondisi budget serba terbatas, saya tetap membelikannya kue mungil ekonomis dengan tema general – bunga2 gitu- yang penting dia bisa tiup lilin :)

Happy birthday my little boy. You are a big boy now.

Survey Biaya Melahirkan

Monday, April 28th, 2008

Tadinya saya berencana melahirkan di sebuah RS di dekat rumah. Tapi, setelah mulai mengalami beberapa ketidaknyamanan dengan administrasi yang lelet, pelayanan yang rasanya terlalu bertele-tele untuk pengguna asuransi – saya harus diantar oleh perawat lho ke bagian admin, ga boleh sendiri – Pampie dan saya lalu memutuskan untuk tidak melahirkan di RS yang emang masih baru ini. Sayang padahal. RS-nya bagus, interiornya modern, lebih terlihat seperti hotel ketimbang RS. Biayanya juga lebih sesuai dengan cover asuransi kantor Pampie.

Tapi mau gimana lagi, ini kan masalah melahirkan. Saya harus merasa cukup nyaman dan aman. Beberapa kesaksian kurang sedap juga sudah saya dengar. Konon, katanya perawat2 di sini masih teramat junior. Menginfus aja masih sering tidak tepat.

Lalu, saya coba tanya RS lain yang sudah mapan. Wah, walau lebih tua, RS ini menetapkan harga lebih tinggi ketimbang RS baru tadi. Ragu lagi, apalagi si RS ini emang terkenal komersil. Maklum, mereka banyak dapat pasien expat.

Akhirnya, karena punya kesan baik dengan RS PIK empat tahun lalu waktu melahirkan Joel, kami memutuskan untuk melahirkan di sini. Sayang dr. Didi Danukusumo tidak praktek di sini. We do like him.

Dokter Didi sangat komunikatif dan menyenangkan berkonsultasi dengannya. Saya pernah coba ‘berselingkuh’ dengan mendatangi dokter kandungan lain di RS Siloam, alhasil kecewa berat. Pak Dokter yang ini ngomongnya pendek-pendek dan informasinya terlalu ‘umum’. Dengan dr.Didi, saya merasa dihargai.

Mungkin harus kembali ke dokter yang membantu kelahiran Joel dulu. Dia juga ok banget, maklum dosen, jadi suka menerangkan gitu kali ya….

Back to biaya melahirkan…

Kenaikannya luar biasa ketimbang 4 tahun lalu, tidak sebanding dengan tunjangan melahirkan dari kantor yang bisa dibilang tidak bertambah. Benar-benar heran lho, melahirkan di Jakarta/Tangerang kok bisa mahal gitu.

Saya survei 3 RS di Tangerang: Omni International Alam Sutera, Siloam Karawaci, Internasional Bintaro (RSIB); dan RS Pantai Indah Kapuk di Jakarta.

Catatan:
- Kecuali RSIB, semua ada ward kelas 3.
- Tidak ada fasilitas kelas III untuk melahirkan di RSIB.
- Jika bukan anak pertama, ada tambahan biaya cukup signifikan untuk kelahiran dengan operasi (penanganan jahitan katanya)
- Di RSIB perawatan pasca kelahiran dengan sectio hanya 4 hari (yang lain 5 hari)
- Data RSPIK masih belum lengkap untuk kelas 2&3 (menyusul).
- Data SVIP – President Suite tidak dimasukkan dalam uraian

Begini uraiannya:

Normal
Kelas III
: Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di Siloam. Range: 5jt – 6 jt
Kelas II : Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di RSIB. Range: 6 – 8,5 jt
Kelas I : Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di RSIB. Range: 8 – 10,2 jt
Kelas VIP: Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di RSPIK. Range: 11 – 13,5 jt

Operasi
Kelas III
: Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di Siloam. Range: 10jt – 12.5 jt
Kelas II : Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di RSIB. Range: 12 – 16 jt
Kelas I : Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di RSIB. Range: 15 – 19 jt
Kelas VIP: Yang termurah adalah di Omni, yang termahal di RSPIK. Range: 20 – 24,5 jt
Jadi.. pikirkan matang-matang kalau mau punya anak di Jabotabek di masa ini :D . Rencanakan dengan seksama. Yang harus bisa kita cover (dengan atau tanpa bantuan dari kantor) adalah biaya konsultasi rutin, biaya vitamin & obat2an, biaya melahirkan + antisipasi, dan biaya membuat akte kelahiran.

Hmmm….

Attached File
pricelist table

Boy or Girl…

Monday, April 21st, 2008

Minggu ke-33. Sakit punggung berlebihan dan nyeri pada bagian atas rusuk sudah lewat, masa tenang tentram mulai datang.

Nah, entah kenapa dalam satu terakhir minggu ini, bisa-bisanya dua orang pria yang udah bapak-bapak memberikan pernyataan bahwa yang di dalam perut saya ini berjenis kelamin laki-laki. Bapak#1 adalah teman keluarga, jadi kita bisa bilang dengan cuek, “Yeee… cewek lagi.”

Masalahnya pada bapak#2. Saya tidak pernah bertemu orang ini sebelumnya. Kami hanya berpapasan pada sebuah mal di Karawaci. Nampaknya dia sedang mencoba menghubungi seseorang dengan ponselnya, lalu begitu melihat saya dia langsung bertanya, “Hamil berapa bulan? Delapan ya?”

Ketika saya mengiyakan, dia langsung komen, “Pasti cowok.”

Saya: “Engga kok… dari hasil USG, cewek.”

Bapak#2: “Saya ahli kandungan. Pasti cowok.”

Habis bilang gitu, dia berlalu. Tinggal saya yang bengong.

Sungguh hari yang aneh.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe