Sat, 13 Mar 2010; 11:29:17 PM

Archive for the ‘as a unique person’ Category

Resto Review: Waroeng Kita @PX St. Moritz, Puri Indah

Tuesday, February 9th, 2010

Harus ada kejadian yang cukup istimewa sehingga saya mereview sebuah restoran di tempat ala mal seperti ini.

Saya sebenarnya ga terlalu minat dengan restoran yang menyebut dirinya authentic indonesian food yang menghidangkan adalah menu seperti nasi goreng, mie goreng jawa, nasi lemak, iga bakar, dan sejenisnya. Karena makanan seperti ini terlalu ‘biasa’, mudah ditemukan dan sebagian bisa dibuat sendiri di rumah.

Ceritanya, Joel menerobos masuk ke sana, karena ingin melihat pemandangan tempat parkir dari resto ini. Ya wis, let’s give it a try.

Ok, pertama kita review tempatnya. Tempatnya cukup cozy, cukup nyaman. Si WK ini terletak satu area dengan beberapa boutique resto lain yang punya tema beda. Jadi PX Pavillion membuat satu area makan yang terdiri dari chinese, italian, thai, and indonesian cuisine. Mereka berbagi fasilitas seperti wi-fi, termasuk high chair! Sayang pas ke sana, Chloe ga kebagian high chair, jadinya ya agak repot lah megangin si batita yang sedang besar rasa ingin tahunya.

Menu, seperti saya dah bilang tadi, ga ada yang bener-bener bikin saya pengen. Semuanya seperti food next door. Tahu gimbal, pecel, nasgor, sekoteng, duh. Well, kalo harganya terjangkau sih ga apa-apa. Nasi pecel dengan tambahan sepotong ayam saja dibandrol di atas Rp 30rb (blom termasuk tax 15%).

Akhirnya, dengan berat hati saya memesan mie goreng jawa (20K-an). Pampi pesan nasi lemak (30K-an). Minumnya kami pesan teh tarik dan sekoteng. Tadinya mau pesan tahu gimbal (kayak tahu pong + bakwan gitu), ga jadi karena beginilah penjelasan mbak waitress yang berbaju sangat rapi, berblazer gitu deh,

“Mmm.. agak lama lho.”

“Berapa lama? Buat snack aja, kok.”

“Agak lama, Pak. Kalo lagi ga rame aja 15 menit. Soalnya tahu gimbalnya semuanya dibikin manual.”

MANUAL? emangnya ada yang matik gitu :p heheheheeh. Mungkin maksud dia made-to-order.

Ya sudahlah, sepertinya dia tidak ingin kami memesan tahu gimbal, dibatalin aja deh.

Lalu.. tak lama datanglah nasi lemak Pampi. Mie saya menyusul tak lama kemudian. Makanan-makanan ini memang disajikan dengan acntik. Piring sajinya bikin saya pengen, sayang ga sempat foto. Teh tarik Joel dan sekoteng datang tak lama kemudian.

Apa yang terjadi beberapa menit kemudian? Saya harus bilang bahwa makanan-makanan yang kami pesan sangat MENGECEWAKAN. Totally dissapointed. Ayamnya Pampi masih berdarah, blom mateng, walau akhirnya diganti, kalo saya jadi dia pasti dah kehilangan nafsu makan. Dan, mereka tidak sedikit pun menunjukkan gesture penyesalan. Yang ada agak panik gitu, lalu cepat-cepat mengambil piring Pampi dan berjanji untuk menggantinya. That’s it.

Mie gorengnya rada keasinan dan porsinya ya ampun kecil banget. Mungkin maksudnya baik, karena asin jadi ga boleh terlalu banyak ya… bisa darah tinggi. :p Lalu, rasanya jauh dari mie goreng jawa otentik yang saya kenal.

Sekotengnya astaga…. rasanya nyaris tawar. Hanya ada sedikit hint jahe. Isinya sih cukup beragam, ada rumput laut, kacang ijo, dll. Dan, mereka memasang harga Rp 15Kb untuk sekoteng ga enak ini. Kebangetan. Saya langsung teringat sekoteng abang-abang yang jauh lebih enak dari ini. Juga langsung teringat ronde Jago di Salatiga seharga separohnya yang rasanya 1000 kali lipat lebih enak dari yang di Waroeng Kita.

Jadi… apanya yang otentik? Terlalu confidence menurut saya.

Mungkin hanya teh tarik (yg juga tidak otentik) yang masih bisa dibilang lumayan enak. The rest are totally not worth for your money. Porsinya juga agak kecil, Pampi masih lapar setelah menyantap sepiring nasi lemaknya.

Satu-satunya kelebihannya adalah mereka sedang dalam masa promosi, ada diskon 30% dari total makan+minum+pajak.

FYI, iga bakarnya yang katanya most recommended diberi harga Rp 95K.

Mungkin resto model begini cocoknya buat target market orang bule yang ga gitu paham rasa masakan indonesia sebenarnya. Benar-benar jauh dari kata otentik.

Saya ga tau pemiliknya sapa, tapi semoga mereka baca kritik saya dan yeaahh.. pls consider a room for improvement.

Mereka punya website, dan ada account facebooknya. Saya tidak ingin promosi restoran mereka di sini, jadi saya tidak sertakan link-nya. Google aja Waroeng Kita St Moritz, Google will bring you there. Please don’t judge a food by how its package.

So my review will be: thumbdown

Perang Cokelat: Repost

Wednesday, January 6th, 2010

Ini postinganku tiga tahun lalu di Multiply. Dah lupa juga pernah nulis (ngerangkum & nerjemahin & rephrase tepatnya) tentang ini.

Kangen juga bisa bikin posting kayak gini lagi. Seandainya ada waktu luang melimpah kayak dulu….

———————————————–

Habis baca cuplikan buku The Chocolate Wars karangan Joel Glenn Brenner di Reader’s Digest ‘99 (jadoel banget yaaa)… Menarik sekali cerita ttg perang yang terjadi antara dua raksasa pembuat coklat: Hershey dan Mars. (more…)

Enam Jam di Blok Ambassador

Tuesday, December 29th, 2009

Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.

Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya. :)

FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon. :)

Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.

Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.

Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila :D .

Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!

Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.

Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.

Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.

Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”

How guilty my thoughts are! Anyways………

Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.

Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.

“Sorry, I can not give you my number.”

“Why?”

Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.

“My husband is waiting. Bye!”

Saya langsung kabur.

Cerdas Sebelum Berobat

Wednesday, December 2nd, 2009

Sering sekali konsumen jasa kesehatan tidak memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan, sehingga disuruh apa saja oleh dokter pasti akan dituruti.

Saya & suami sudah cukup ‘celik’ matanya untuk tidak membiarkan diri kami & anak-anak didikte oleh para dokter, sebaik apa pun orangnya.

Ketidaktahuan pasien ini sangat menggoda. Bahkan, dokter Handrawan Nadesul pernah menulis di Kompas, godaan ini sangat besar buat para dokter. Bayangkan komisi yang mereka terima dari produsen obat atas tiap resep yang mereka keluarkan, belum lagi dari rumahsakit atas rujukan penggunaan fasilitas. Tentu masih banyak dokter yang punya hati nurani, temukanlah dia.

Beberapa waktu lalu Chloe sedikit batuk, jelas sekali terdengar pernapasannya terganggu oleh dahak, susah sekali dia tidur dengan nyaman. Mucopect adalah andalan saya untuk kondisi seperti ini. Namun bagaimana dengan dosisnya? Tentu saya tidak boleh sembarangan dong?

Nah, inilah gunanya website satu ini. Di situ ada keterangan lengkap tentang komposisi obat, dosis, efek samping sampai harga yang ditawarkan oleh mereka.

Perlengkapi diri dengan pengetahuan seperti ini, karena untuk hal ini kita tidak perlu harus pergi ke dokter dan menghabiskan ratusan ribu di situ. Dengan bekal pengalaman bersama Joel (5 tahun), saya kira-kira sudah bisa meraba obat-obat yang diresepkan dokter untuk penyakit khas anak-anak.

Dokter anak kesayangan kami :p dokter Eric F. Kan dari RS Siloam Karawaci termasuk yang tidak pelit berbagi ilmu. Untuk demam, dia ajarkan saya mengkombinasikan penurun panas seperti Proris, Tempra untuk demam sedang, dan Bufect untuk demam di atas 39. “Main-main saja di situ,” katanya dengan logat Menado.

Seorang dokter anak lagi bernama Weny Tjiali (beliau ini pria lho) juga tidak pelit saat memberi kuliah singkat tentang mengenali problem mata merah. Dengan menggambar di sebuah kertas dia memberita tahu saya, “Jika merahnya terjadi pada pinggir mata, berarti tidak perlu kuatir. Namun jika terjadinya pada kornea, itu perlu kuatir.”

Intinya, jadilah konsumen cerdas untuk produk apa saja.

Cooking Page

Sunday, November 1st, 2009

Seperti kurang kerjaan, saya bikin blog baru.

Kali ini khusus tentang masak. Dan karena saya tidak ingin membebani server hosting kami dengan foto2 makanan yang pasti menyita space, saya titipin aja ke servernya wordpress.com.

Nah.. klik di sini ya kalau mau lihat.

What is He Doing Actually?

Friday, October 23rd, 2009

Pampie pulang dari Jogja hari ini.

Seperti biasa dia minta dijemput sebuah perusaan sewa mobil di Villa Melati Mas – Serpong sini. Chauffeur (sopir gitu maksudnya hihi) mereka cukup sopan dan ramah. Antar&jemput Serpong-Bandara dibandrol 100rb rupiah saat ini.

Ada yang istimewa dengan sopir kali ini. Penampilannya beda, tidak seperti sopir-sopir pada umumnya. Dia tampak elegan, anggun, classy. Saat saya keluar untuk menyongsong suami yang baru pulang dari tugas ke luar kota itu, Bapak itu sedang duduk di undakan rumah kami, menulis kuitansi.

“Malam, Bu,” sapanya.

Ini saja sudah mengejutkan. Sejak kapan sopir mobil sewaan sesopan ini? Mulai detik itu saya memperhatikan dia terus. Ada aura ‘orang terhormat’ dalam dirinya. Dia tidak terlihat seperti seorang karyawan perusahaan sewa mobil, dia lebih terlihat seperti orangtua kita, mengerti maksud saya?

Berdialog singkat dengan Pampie, dia pamit pulang. Dia bahkan menjawab, injih dengan luwes waktu saya mengucapkan terimakasih padanya.

Pampie lalu bercerita bahwa bapak tadi pernah diliput Kompas karena melakukan perjalanan dengan sepeda ke Bali setelah operasi jantungnya.

Wow! Double surprise.

Atau.. triple surprise setelah membaca artikel ini.

Dia baru saja dioperasi jantungnya Januari tahun lalu.
Dia gila bersepeda, paling tidak 20-30km per hari.
Dia memeriksakan jantungnya di Mount Elizabeth Singapore.
Dia berbesan dengan dokter.
Dia adalah mantan instruktur teknik di Sekolah Penerbangan Curug.
dan
Dia juga berprofesi jadi sopir perusahaan sewa mobil?

Omigod…

Is It October Already?

Monday, October 5th, 2009

october-2009

Yeah… it is.

October brings first signs of fall season in northern hemisphere, but in the same time, it also brings hope as the breeze of springtime warms the air of southern hemisphere.

For us, October always brings a surprise, a wind of change and leave a trace of uncertainity. Make us wanting. Make us waiting. Waiting for a change. Wanting for a confirmation.

Back then to October 2006. Pampi resigned from a well-known oilfield service provider, switched his career from a IT security consultant to a banker! Many friends even his bosses thought that it was a bad decision since the bank was ‘only’ a local bank since his former employer has a bunch of good reputation in so many countries and it is a multi national company.

Pampi had to leave the busy Kuningan area for the peaful Karawaci (suburban Jakarta), house of Universitas Pelita Harapan.

That was when our life changed. We moved in to our newly built house in Gading Serpong. I quit my job. I stayed at home with my 2yo son and lived the ups and downs of a SAHM ever since. We enjoyed our simple life in a suburban area, away from Jakarta’s chaotic.

A year later, also in October, I was pregnant with Chloe. We were so happy to welcome our dearest new family member.

Two years later, once again it happened in October, our peaceful life got a little nice surprise. A headhunter from fairyland called him. The conversation resulted into a job interview invitation to another dreamland. They sent the e-ticket and e-visa. So did he go, carried his luggage to the land of dates and camels.

I was so unsure of our future. I had a feeling that we bumped into the crossroad of our life again. I just couldn’t imagine living a life in a new place far far away from parents, relatives and friends.

For short, the job was not for us. And I still thank God for this. I was not ready for an extreme change. I didn’t need a new neighbor though.

It’s October again. And the cycle repeats itself.

It is October already.

My Maidless Days

Sunday, October 4th, 2009

Maidless day#17.

Buat keluarga Jakarta pada umumnya, tidak punya pembantu adalah musibah besar. Juga untuk yang punya batita, ketiadaan pengasuh (disebut babysitter di Indonesia, nanny harusnya) adalah bencana.

Tiga tahun lalu saya berhenti mengantor. Salah satunya karena saya ingin merdeka akan rasa cemas berlebihan jika hari raya Lebaran mendekat :) .

Tahun 2007 awal, satu bulan lebih saya tak punya orang yang bisa dimintai bantuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya ingat betapa stresnya saya waktu itu. Saya cemberut melihat tumpukan piring kotor dan peralatan masak bekas pakai, jengkel melihat gundukan baju yang harus disetrika. Malas masak, malas nyapu, malas bersih-bersih. Saya kesal, saya marah, saya ingin bisa bermalas-malasan seenak saya. Bukankah sebelumnya saya punya waktu begitu banyak mengerjakan hal-hal yang saya sukai?

Terulang lagi akhir tahun 2008, ketika Chloe masih bayi kecil. Saya begitu kelimpungan. Chloe belum lagi 6 bulan, masih sangat tergantung pada saya. Sementara itu Joel yang berumur 4 tahun juga belum bisa terlalu diandalkan, dia masih banyak butuh bantuan Mamanya. Berita buruknya, Pampi harus pergi ke dua negara dalam minggu itu. Saya tidak ingat apakah waktu itu saya sempat menangis karena kebingungan, saya cuma ingat waktu itu hujan turun tiada henti, baju-baju tak kunjung kering sementara baju kotor sudah antri untuk dicuci. Saya ingat hanya menyetrika baju pergi, sementara baju rumah hanya dilipat dengan rapi.

Untungnya di tahun ini Tuhan bermurah hati memberikan seorang sahabat yang sangat care kepada kami, sahabat saya ini membawakan saya masakannya, juga ketika saya pilek berat pas ditinggal suami pergi ini, dia membawakan seteko penuh wedang jahe. Ohh.. I love you, Sis!

Yang terkini, tahun 2009, pembantu harian saya dengan tega memutuskan untuk memberhentikan saya sebagai majikannya :) Saya agak kesal mengingat saya sering sekali memberinya barang, pakaian, peralatan masak, bahan makanan, sementara dia lebih menginginkannya dalam bentuk uang.

And I have improved a lot this year. My 2009’s maidless days are:
- selalu tersedia minimal dua masakan di rumah.
- baju-baju dicuci dua hari sekali, dan semuanya tersetrika.
- piring-piring kotor tidak boleh terlalu lama menunggu di tempat cuci piring.
- rumah disapu setiap hari (berkali-kali kalau perlu) dan diusahakan dipel setidaknya dua hari sekali.
- tempat tidur segera dirapikan begitu penghuninya bangun.
- lantai kamar mandi disikat segera setelah saya mandi.
- sebelum berangkat tidur, rumah sudah dalam keadaan rapi sehingga besok bisa lebih bersantai baca koran sambil minum kopi/teh :)

Intinya adalah jangan menunda pekerjaan. Lakukan dengan cepat tanpa banyak pikir. Selain itu, saya juga harus bersyukur karena punya suami yang hebat, yang tidak segan membantu cuci piring, mengepel, membuang sampah, mengambil Chloe yang super rewel akibat sakitnya dari gendongan saya yang menangis karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Terpenting, lakukan pekerjaan ‘remeh temeh tapi penting buanget ini’ dengan hati bersyukur, dengan suka cita. Seperti yang saya tahun ini.

A Place Called Home

Monday, September 28th, 2009

Lebaran yang baru saja lewat telah membuat banyak keluarga kelimpungan karena ditinggal oleh sang pekerja rumah tangga yang biasa disebut pembantu. Bahkan, ada istilah baru untuk menyebut kelelahan yang menerpa ibu-ibu yang tepar karena harus berada di “her maid’s shoes”, beres-beres rumah, cuci-gosok, masak, mengurus anak, mengajak anak bermain, dan banyak lagi. Istilah itu: flu babu.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca status facebook beberapa teman itu. Teringat saya pada masa-masa ketika saya selalu terserang sindrom lebaranophobia tiap Lebaran menjelang. Panik, karena tiada cara lain selain mengajukan cuti sebab tak mungkin meninggalkan anak di bawah umur tanpa ada yang mengurus.

Juga, pusing karena rumah berantakan, piring-piring kotor, baju-baju kotor menumpuk, sementara baju bersih yang sudah kering seperti menjerit minta disetrika. Jangan lupa, anak juga butuh ditemani main, dimandikan, dan makan tentunya! Oh, begitulah suasana lebaran di rumah-rumah yang ditinggal oleh pembantunya.

Akhirnya, keluarga-keluarga di kota seperti Jakarta ini memilih untuk escape, kabur, melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan dan membuat orang mudah naik darah ini. Mereka memilih meninggalkan sebuah tempat yang mereka sebut rumah.

Padahal, rumah ini mungkin berhasil mereka miliki setelah dengan susah payah menabung dan menyicil. Padahal, rumah seharusnya adalah sebuah tempat yang selalu membuat orang ingin pulang. Mengapa kali ini rumah menjadi sebuah tempat yang membuat orang ingin kabur?

Mengapa rumah jadi berbeda karena ketidakhadiran pembantu? Hotel-hotel di Jakarta dan sekitarnya yang fullybooked, keluarga-keluarga yang ikutan mudik sekedar melarikan diri dari situasi serba tak menguntungkan di rumah, adalah fenomena bahwa rumah tak bisa lagi jadi tempat yang bisa menghilangkan kepenatan selepas kerja keras.

Ah, unik memang manusia ini. Ketika tidak punya rumah, mereka mengeluh, merindukan sebuah tempat berteduh yang membuat hati tentram. Ketika sudah punya rumah, mereka tak betah ketika pembantu; yang sebenarnya bukan anggota keluarga; pulang kampung. Sejatinya, ketika tak ada pembantu, hanya ayah-ibu dan anak-anak, itulah rumah yang sesungguhnya.

Saya jadi bertanya, sebenarnya siapa yang paling menikmati keberadaan rumah itu?

*Saya resmi maidless 10 hari tepat hari ini.*

Indonesia Tanah Air Beta

Sunday, August 30th, 2009

Kompas belum lama ini menurunkan liputan tentang asionalisme di tapal batas Republik Indonesia. Ke-10 tapal batas itu adalah Sawang (NAD), Kepulauan Siberut (Sumbar), Kepulauan Riau, Sanggau (Kalbar), Nunukan (Kaltim), Kepulauan Miangas dan Marore (Sulut), Morotai (Malut), Belu (NTT), Merauke, serta perbatasan Papua-Papua Niugini.

Makin larut dalam bacaan ini, makin terasa jika judul Nasionalisme di Tapal Batas terasa mendua arti, menggugah, menyengat bahwa sungguh sulit menjadi nasionalis di wilayah tapal batas. Sesungguhnya nasionalisme memang sudah di tapal batas, sudah di ujung tanduk. Mereka ini tinggal bersebelahan dengan negara tetangga, mudah saja mereka membelot dari RI, dan memilih mana yang lebih mencintai mereka.

Harga bensin di Miangas mencapai 15.000 rupiah, bandingkan dengan warga Jakarta yang bergelimangan mal, menikmati BBM bersubsidi seharga Rp 4.500. Tanpa BBM nelayan tak bisa melaut, jika ada pun listrik tak selalu ada untuk mengawetkan tangkapan ikan mereka. Sungguh ironi jadi orang Miangas, yang nama pulaunya disebut-sebut dalam jingle kampanye capres 2009, seakan-akan pulau yang megah.

Juga saudara-saudara sebangsa kita yang berbatasan dengan Malaysia, Singapore, Vietnam yang pembangunannya sudah melompat meninggalkan kita. Aneh, mengapa mereka seperti dilupakan oleh pemerintah, padahal mereka adalah tapal batas, wilayah terpinggir republik, penanda kedigdayaan kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Saya yakin banyak negara yang iri dengan potensi kekayaan negara kita ini. Sayang sekali sepertinya telah terjadi mismanagement yang sudah kelewat parah, sehingga rasa nasionalisme ini lama-lama makin terkikis habis hingga ke titik nadir.

Warga pulau Jawa mungkin sulit memahami penderitaan warga di wilayah lain, namun begitulah kenyataannya. Pulau Jawa selalu menjadi fokus pembangunan. Segala kekayaan alam dari penjuru Indonesia mengalir deras untuk membangun pulau Jawa.

Tinggal lima belas tahun di sebuah pulau kecil dekat Sumatra, saya dengan mudah bisa merasakan empati terhadap penduduk tapal batas. Bangka penghasil timah bagi negara ini diperas habis-habisan sementara warga kota kecil Belinyu sampai hari ini masih jua tak bisa menikmati listrik selama 24 jam. Padahal listrik kini telah jadi kebutuhan dasar manusia.

Singkep, Belitung, yang juga penghasil timah, bagai sepah yang dibuang begitu saja karena tak lagi menguntungkan. Dikeruk habis dan ditinggalkan setelah itu. Ke mana larinya semua kandungan perut mereka? Ke pulau Jawa, ke Jakarta dan sekitarnya. Sedikit sekali yang dikembalikan kepada rakyat dalam sebentuk kesejahteraan.

Saya tak benci pulau Jawa. Saya malah amat menyukainya, siapa yang tidak? Pulau Jawa yang hijau dan diberkati dengan tanah yang subur, ditunjang lengkap dengan segala fasilitas.

Di Jawa tanaman begitu mudah tumbuh, bahan makanan begitu mudah didapat sehingga tak perlu membebankan biaya transportasi kepada pembeli. Harga seperempat kilo wortel di pasar Sinpasa Gading Serpong adalah Rp 2.000, sementara di Belinyu bisa mencapai dua setengah kalinya. Demikian juga harga sayuran, mahal!

Makin jauh daerah tersebut dari pusat, makin mahal biaya hidupnya. Papua sendiri dikenal sebagai daerah dengan biaya hidup tertinggi. Tak adil, mengingat pendapatan penduduk di banyak wilayah luar Jawa tak kalah buruknya dari saudara Jawanya.

Jadi, agar tidak menyesal, sebaiknya harus cepat dilakukan perubahan. Bagaimana mungkin bisa menyanyikan lagu Indonesia Tanah Air Beta dengan sepenuh hati jika mereka tak lagi merasa dimiliki oleh negaranya.

Ah, ironi memang.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe