Wed, 07 Jan 2009; 04:06:55 PM

Archive for the ‘as a unique person’ Category

Intermezzo: Gmail Tampil Trendy

Thursday, November 20th, 2008

Pagi-pagi udah dapat kejutan dari Gmail.

Selesai loading, tampillah Gmail dengan layout yang lebih manis. Bahkan ada pesan bahwa theme-nya bisa dikustomisasi.

Sementara pilihanku yang ini d. Nama themenya Tea House. Kita akan diminta memasukkan nama kota, karena themenya akan berubah sesuai lokasi terdekat dengan kita. Gmail memilihkan Jepang untuk saya.

gmail-top

gmail-bawah

Lucu ya.

Me & My Old School Times: Elementary First Years

Thursday, November 20th, 2008

Kelas 1, hampir semua teman TK Nol Besar-ku ikut meneruskan ke SD St. Agnes ini. Selamat tinggal baju one-piece merahku, sekarang aku sudah pake seragam dua potong dan rok merah full lipit-lipitku menggunakan karet pada bagian pinggangnya.

Ada tiga kelas, 1A, 1B dan 1C. Seingatku, aku di kelas 1C dengan wali kelas Ibu Lucy. Ibu Lucy ini terkenal ’streng’.. hihihi streng ini bahasa apa toh? Pengaruh Belanda kali ya.

Aku sudah pintar baca tulis waktu itu, karena seperti anak-anak perkotaan di Belinyu pada umumnya, aku dikirim les menulis (dan otomatis baca) ke tempat Ibu Ajung - guru TK-ku.

Yang paling kuingat dari kelas 1 adalah.. ada seorang teman bernama Bertha, yang kemudian hari menjadi sohib kentalku waktu SMP. Nah, suatu hari kami diajar nyanyi lagu: Kasih Ibu. Buat yang lupa ama lagu manis ini.. ini teksnya:

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang Surya menyinari dunia

Ingat.. presentasi terbesar murid adalah keturunan Tionghoa yang bahasa ibunya adalah bahasa Khek. Maka, Ibu Lucy pun berinisiatif bertanya, “Siapa yang tau beta itu siapa?”

Seorang temanku dengan lantang dan berani berteriak, “Itu, Bu!” sambil menunjuk si Bertha. Akhirnya yang lain jadi ikut-ikutan menunjuk Bertha. Dan, saya dengan sangat memalukannya mengambil langkah aman me-too, padahal saya dah tau arti kata beta. Hehehe.. dasar anak kelas 1.

Kalau di Amrik ada yang namanya McGuffey’s Reader, orang Indonesia seangkatan saya juga bangga punya Ini Ibu Budi. Saya mengingat dengan baik buku bahasa Indonesia berwarna merah yang dibuka secara horizontal ini. Tokoh utama buku ini: Budi, Wati, Ibu. Iwan dan Bapak muncul belakangan -tentunya karena kata berakhiran konsonan akan lebih sulit diucapkan untuk si freshman - anak kelas satu.

Di kelas satu ini.. saya sempat ‘off’ sampe hampir sebulanan. Penyebabnya adalah karena kenekadan saya menulis di dinding kayu rumah kami sambil menginjak sadel sepeda mini hijau kesayangan. Alhasil sepeda mini itu bergulir dan saya jatuh dengan sukses. Tulang dekat sambungan siku kiri patah. Liburlah saya karena harus bolak-balik berobat, dari dukun urut sampai dokter di Pangkal Pinang. Cerita dukunnya seru lho.. nanti kapan-kapan saya posting secara khusus.

Kelas 2, wali kelas saya ibu Sin Chian mengirim saya ikut lomba menulis indah. See, kelas 2 kita dah diajari menulis huruf sambung yang keriting itu. Hebatnya saya juara satu lho :D hehehehe. Hadiahnya sebuah peruncing. Di akhir kelas 2, kami diharapkan sudah bisa perkalian sederhana. Maka Ibu Sin Chian menantan siapa yang berani maju dan mempresentasikan kemampuannya untuk perkalian dua. Saya maju dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun, maklum asuhan Mama yang sangat keras pada anak-anaknya masalah pelajaran.

Kelas 3 adalah awal dari sebuah kedewasaan. Kita sudah menulis dengan bolpoin, tidak boleh salah lagi, kalau salah harus repot menghapusnya dengan penghapus khusus merah biru merk Pelican, yang bisa bikin bolong kertas kalo terlalu kuat dipakainya. Wali kelas saya bernama Pak Petrus. Saya di kelas 3A sekarang. Kami juga mulai mengenakan seragam coklat Pramuka tiap Sabtu.

Waktu sekolah jadi makin panjang. Tiap Sabtu habis Pramuka saya pasti terbaring di depan tivi sambil menonton Lima Sekawan. Duh, ini masa yang sulit memilih George & Timmy atau Pramuka. Hehehee.

Kelas tiga adalah ketika saya dapat ranking 1 di cawu 1&2, tapi melorot jadi ranking 2 di cawu 3 - dugaan saya sih karena Pak Petrus yang tadinya ngefans banget sama saya (bener lhooo) tiba-tiba tidak ngefans lagi karena suatu hal yang tidak enak diceritakan di sini.

Ini juga pertama kalinya saya mengalami camping - nginap di sekolah. Pak Petrus sebagai pembina Pramuka sering banget mampir di tenda saya, bahkan secara eksplisit mencari-cari saya, sampe saya ngumpet saking malunya. Hehehee… ga tau kenapa si Bapak ini ngefans banget ama saya, mungkin karena saya chubby, lucu dan imut-imut? Tau deh.

ps. cover buku bahasa Indonesia kelas satu bisa diliat di sini - walopun sepertinya ini edisi lebih tua.. punya saya warna merah kok.. yakin banget.

Me & My Old School Times: Kindergarten

Thursday, October 23rd, 2008

Gee… film Laskar Pelangi benar-benar membawa saya bernostalgia ke masa sekolah. Dan, kini rasanya ingin mengenang lagi masa-masa itu.

Tidak banyak yang bisa saya ingat dari kelas nol kecil/TK-A saya. Yang paling saya ingat adalah seragam khas anak TK (rok overall/1 piece) lucu berwarna kuning. Tiap hari saya diantar oleh salah satu dari ortu ke Tangsi (sebutan untuk kantor polisi). Kenapa? Ya, karena sekolah saya bernama TK Bhayangkara, yang diselenggarakan oleh (kemungkinan) para istri polisi ini.

O ya.. waktu TK-A inilah saya pertama kali punya adik. Rumah kami sangat dekat dengan Tangsi ini. Kemungkinan saya ke sekolahnya jalan kaki waktu itu.

Nol besar/TK-B lebih saya ingat. Sekarang saya sudah berumur lima tahun. Ortu menyekolahkan saya di sebuah sekolah katolik bereputasi terpuji di kota kecamatan Belinyu. Namanya TK St. Agnes. Kalo gurunya kali ini saya inget banget.. siapa lagi kalau bukan Ibu Ajung - duh nama indonesianya sapa ya, Bu.. lupa nih.

Roknya kali ini warna merah. Seingat saya, saya masuk kelas siang. Saya ingat sekali mengunting dan menempel dari sebuah buku ukuran kecil yang membuka secara horizontal. Lemnya dari kanji yang diletakkan di atas karton tebal. Bu Guru juga sering memberi hadiah kerajinan tangan (ga tau namanya apa nih) berbentuk lampion, kipas tangan, buat anak-anak yang berprestasi. Benda-benda ini says temukan di restoran Sagoo, Mal Serpong, yang banyak menjual benda-benda jadoel.

Saya juga ingat main perosotan dan main jungkat-jungkit - itu lho seesaw. Rata-rata teman TK-B saya ini menjadi schoolmate sampai lulus SD. Maklum TK, SD dan SMP-nya berada dalam satu kompleks karena dinaungi oleh satu yayasan.

Butuh kesabaran tinggi untuk jadi seorang guru TK. Murid ngompol sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak seperti sekarang, di TK-TK biasanya ada staf khusus (nanny) yang ngurusin beginian. Saya juga ingat ada teman saya yang sering pup di celana.. siapa ya orangnya.. hehehe… pasti kenangan buruk buat dia saat ini.

Mayoritas murid adalah penutur bahasa khek (hakka) bangka, karena itu Ibu Ajung kerap menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan kami. Ibu Ajung adalah guru yang tegas, dia tidak segan memarahi murid-murid yang dia anggap nakal. Hehehe.

My mom said, saya tidak pernah nangis ditinggal sendiri. Saya ingat saya duduk di boncengan sepeda, kaki saya diikat dengan saputangan supaya tidak masuk ke jeruji sepeda. Rumah kami waktu itu masih di dekat bioskop Belia - sekarang dah jadi tempat biliar.

Hmm.. tidak berasa sudah dua puluh delapan tahun lalu, ya.

Laskar Pelangi The Movie

Saturday, September 27th, 2008

Dengan sedikit usaha (cari yang bisa jagain baby Chloe: thx to my sister Meike), akhirnya kesampean juga nonton Laskar Pelangi ini.

Dari awal nonton saya udah siap-siap bakal menyaksikan keindahan sinematografi dan fotografi (bener ga sih istilahnya) ala Riri/Mira. Dan, benar saja… luar biasa cantiknya film ini. Mata kita dipuaskan oleh suguhan gambar-gambar indah pemandangan pulau Belitung. Setelah kecewa menonton kualitas (gambar dan cerita) film indonesia lain sebelum yang ini, film ini jadi semacam penawar rindu akan film indonesia yang sejati.

Terasa dekat di hati, menyaksikan langit biru, pantai pasir putih berbatu besar, juga pepohonan yang juga lazim ditemui di tanah kelahiran saya, Bangka. FYI, pulau Bangka tak kalah cantiknya.. sebagai perbandingan coba klik di sini .

Juga PN Timah, yang saya kenal dengan sebutan TTB - Tambang Timah Bangka - yang begitu merajai di jaman dulu. Anak-anak karyawan TTB yang terkesan lebih borju dan berkelas dibanding kami penduduk lokal. Bedanya dengan anak-anak Laskar Pelangi, saya lebih beruntung karena punya kesempatan sekolah di sebuah sekolah swasta katolik yang dianggap terbaik di Belinyu pada masa itu.

Juga bunyi sirene meraung-raung (bahasa hakka bangka: fokai hiong), yang menandakan jam masuk karyawan, jam istirahat dan jam pulang. Saya ingat dulu Mama sering menggunakan istilah: “Sirene dah bunyi tuh” untuk menyuruh kami pulang dari bermain :)

Back to the movie.. katanya memang jangan bandingin ama buku. Anggaplah ini sebagai sebuah karya seni yang berdiri sendiri. Tapi susah juga, karena ada beberapa bagian yang sulit dimengerti jika kita tidak pernah membaca bukunya. Misal: hilangnya Flo, kisah pencarian Tuk Bayan yang digambarkan dengan seru di buku, dan beberapa bagian lain. Mungkin memang sulit mengemas buku yang padat ini ke dalam sebuah film berdurasi 2 jam-an.

Bukunya sendiri buat saya agak hiperbolis. Soal-soal yang diberikan pada lomba Cerdas Cermatnya terasa terlalu berat untuk anak SD kelas 5. Seingat saya, dulu saya belajar tentang kecepatan, percepatan, antara SMP atau SMA. Padahal saya lebih muda angkatannya dibanding Andrea, atau memang angkatan tua itu lebih berat pelajarannya?

Bagaimana pun… ini film yang luar biasa indah dan memanjakan mata. Lihatlah betapa cantiknya pulau Belitung (jangan lupa tengok pulau Bangka juga yaaaaaa), bisa saya bilang keindahan pantai Bali jauuh dibanding pantai2 di pulau2 ini. Analisa saya: yang membedakan adalah orang Bali itu nyeni dan bersedia hidup demi idelisme, orang Melayu Bangka/Belitung tidak seperti itu. Orang Bali tahu memberikan servis, sementara Melayu Bangka/Belitung tidak menyukai pekerjaan melayani orang asing (wisatawan). Akhirnya, industri pariwisata Bangka/Belitung akan dikuasai juga oleh pendatang dari pulau lain - sebutlah Jawa.

Duh.. kok jadi melantur… maklum sedang bernostalgia.

Terimakasih untuk Miles Production untuk filmnya yang cantik, yang mau mengupas kehidupan di pulau-pulau cantik yang jarang diangkat oleh media. Terimakasih karena memberikan kesempatan untuk anak-anak asli Belitung untuk menghidupkan film ini, karena dialek mereka-lah yang membuat film ini menjadi asli.

Good movie. Ada promo buy 1 get 1 free di 21cineplex dari debit Mandiri.

Belajar Memberikan Bukti

Tuesday, September 16th, 2008

Beberapa waktu lalu Joel menginformasikan kepada kami bahwa ia melihat di kompleks kami ada mobil yang plat (nomor polisi)-nya ada tiga digit huruf di bagian belakang, NFA katanya. Dugaan kami waktu itu dia mengada-ada (yang punya huruf tiga digit di belakang kan sepeda motor?) Atau mungkin dia salah lihat. Tapi dia yakin sekali dia benar.

Beberapa hari yang lalu waktu jalan-jalan sore, Joel menunjukkan kepada saya.. “Ma, itu lho. Yang Joel bilang, di belakangnya ada tiga huruf. NFA.”

Saya hampir tidak percaya. Wah, ternyata nomor registrasi mobil di wilayah Jakarta sudah sampai tiga digit huruf-nya. Wah..wah. Ternyata Joel yang benar ya… maklum kami (Mamanya terutama) sudah jarang menginjak jalan-jalan Jakarta.

Lalu, saya minta Joel fotokan dengan kamera handphone saya, agar bisa diperlihatkan kepada Papa sebagai bukti atas perkataannya. Dan inilah hasilnya:

tigadigit-plat

Demi privasi si pemilik mobil, tentu harus diedit sedikit. Hayo, ada yang bisa tebak mobil apakah ini? ;)

Blogging tentang Keluarga: Hanya Untuk Suami Melankolis?

Monday, September 1st, 2008

Bisakah judul ini dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Sebenarnya saya hanya punya satu contoh resmi, suami saya sendiri, Mr. Dian Pamilih. Check out his blog, and you can hardly find any posting about his family, his kids, his wife, his mom & dad, etc.

Makanya saya sering takjub membaca blog seorang suami tentang kelahiran anaknya, kehamilan istrinya, ultah putranya, perkembangan bayinya, dll.

Sebenarnya apa yang membuat seorang pria bisa bercerita kepada publik tentang keluarganya? Sebaliknya, apa yang membuat pria tidak merasa perlu melakukannya? Apakah ini masalah perbedaan prioritas atau hanya masalah perbedaan tipe saja?

Atau.. yang menulis blog tentang keluarganya ini adalah mereka yang memang punya waktu melimpah alias kurang kerjaan? *Just kidding :D*

ASI Ekslusif Adalah Hak Anak, Lalu Apalagi = Just a Thought.

Thursday, August 21st, 2008

Akhir-akhir ini ASI-X (Asi Ekslusif) terdengar santer. Dan, yang namanya IMD/ELO* mewabah di kalangan seleb dan semakin gencar gaungnya berkat yang namanya infotainment.

*IMD - Inisiasi Menyusu Dini / ELO - Early Latch On

ASI-X adalah memberikan hanya ASI saja kepada bayi sampai 6 bulan pertama dalam hidupnya. Hanya ASI saja berarti ya hanya air susu ibu saja, air putih tidak, apalagi air kanji. :)

ASI-X pun mulai digalakkan. Pekan ASI yang baru lalu pertengahan Agustus kemarin, diramaikan dengan momen-momen kampanye ASI. Ya, ASI jelas yang terbaik untuk kehidupan seorang manusia baru. Tidak diragukan lagi.

Namun, diam-diam saya merasa jengah. Saya menangkap adanya rasa ‘lebih’ dari segelintir orang yang karena berhasil melakukan ASI-X jadi cenderung menghakimi ibu yang tidak memberikan ASI pada anaknya. Kadang bahkan cenderung menyerang. Padahal, setiap ibu pasti ingin memberi yang terbaik pada anaknya. Tapi, jika dia memilih untuk tidak memberikan ASI, saya rasa itu adalah pilihannya. Kecuali jika dia sangat ingin memberi tapi tidak tahu bagaimana caranya, itu yang perlu dibantu, dimotivasi. Demikian juga mereka yang karena ketidaktahuannya sehingga banyak dipengaruhi oleh opini orang/media.

Menyusui adalah hal yang sangat alami, sangat natural, desain dari Sang Pencipta. Senatural seekor induk binatang yang berbaring dan membiarkan anak-anaknya berkerumun menyusu pada dirinya. Jadi, rasanya tidak perlu berlebihan bangga jika kita bisa menyusui anak kita. Bukankah memang begitu seharusnya?

Kampanye ASI-X juga menyebut ASI sebagai hak anak. Rasanya sedikit kurang pas, karena saya ingin bertanya bagaimana dengan hak anak untuk menikmati ibunya? Bersediakah para ibu meninggalkan karirnya untuk ini? Bukankah ini hal yang alami juga? Mengasuh anak sendiri?

Apakah hak anak berhenti hanya sampai ASI-X saja? Apakah dia tidak punya hak untuk menikmati ibunya kapan saja, let’s say sampai 2 tahun - seperti kampanye ASI-X: berikan ASI sampai setidaknya 2 tahun? Bolehkah dia menikmati diasuh oleh ibunya saja? Bukan mbak, bukan baby sitter, bukan oma? Berhakkah si bayi menerima pelukan ibunya setiap kali dia rindu/takut/tidak nyaman sampai… 2 tahun?

Pasti ada yang tidak setuju. Pasti. Lha, saya sendiri meninggalkan bayi saya untuk kembali bekerja pada waktu usianya 3 bulan, kok. Selain alasan finansial, kan ada kebutuhan si ibu untuk mengaktualisasikan diri? Bagaimana dengan kebutuhan sosialasi, de el el?

Hari-hari ini saya banyak merenung, apa saja sih hak anak (baca: bayi) itu? Bukankah Tuhan menciptakan keluarga itu: suami, istri, dan sebagian diberkati dengan anak. Mengapa cukup banyak kaum saya (ibu) yang dengan kesadaran sendiri menyerahkan kepengasuhan anaknya kepada pihak lain? Mengapa sampai ada buku yang ditulis khusus untuk para ibu bekerja (kantoran) bahwa mereka juga bisa tetap mendidik anaknya walau bekerja (di kantor)? Bukankah mengasuh, mendidik anak memang adalah tanggungjawab orangtua (ibu salah satunya)?

Alasan-alasan meninggalkan kepengasuhan anak pada orang lain:

Finansial
Kebutuhan finansial adalah alasan utama seorang ibu bekerja mencari income, dan meninggalkan bayi (atau anaknya) untuk waktu yang cukup lama.

Namun, sebaiknya dicermati, kebutuhan finansial ini timbul karena gaya hidup konsumerisme atau apa. Saya menemukan cukup banyak keluarga yang memilih hidup hemat dan berusaha tidak terpengaruh dengan kehidupan materialistis. Google dengan keyword: frugal living

Aktualisasi Diri
Saat berada di kantor, ada waktu-waktu tertentu saya ‘lupa’ saya ini seorang ibu, yang mempunyai seorang batita yang mungkin sedang berpikir di mana mamanya sekarang.

Bangga rasanya bisa berkiprah di dunia kerja, walau sudah punya anak. Buat apa saya disekolahkan sampai jenjang sarjana, begitu pikir saya.

Saat ini, dua tahun kemudian, saya menganggap bahwa aktualisasi diri saya adalah menjadi ibu, menjadi pendidik, menjadi manager atas keberlangsungan hidup di rumah kami, menjadi tempat bertanya dan mengadu anak-anak.

Tapi saya juga terus mengejar minat saya. Saya sedang keranjingan belajar lebih dalam dari apa yang sedang Joel pelajari. Saya juga berusaha terus menggunakan tools yang saya gunakan waktu bekerja dulu.

Mengembangkan skill (baru atau lama), mengetahui kabar dunia, tetap harus seorang ibu lakukan. Karena jika ibu tidak menyenangi dirinya, tidak puas dengan dirinya, ia akan mengirim pesan yang salah buat suami, buat anak-anaknya, buat orang-orang di sekitarnya.

Hei, ini hanya sebuah pemikiran yang melantur ke mana-mana, jangan diambil pusing. Tidak sedang menghakimi siapa pun, hanya sedang berbicara dengan diri sendiri.

Exciting Job: Book Reviewer

Monday, August 11th, 2008

Sebulan lalu, berkat kebaikan teman baru saya Phoenix, saya dikirimin segepok buku terbitan Wortel Books, tepatnya 18 buah buku cerita anak. Tugas saya, mereview ke-18 buku ini, phew… :D

Untuk tugas yang menyenangkan ini, saya mendapat ke-18 buku ini for free. Asyik banget, kan? Pilihan bukunya jelas buku berkualitas, saya lihat cukup banyak dari Penguin, beberapa penulisnya juga adalah peraih award. Bukunya lucu2, ilustrasinya bagus2… gratis lagi. Oh ya, Wortel juga mulai menerbitkan buku karangan penulis Indonesia.

Tadinya saya tidak pernah dengar tentang penerbit satu ini. Kenalnya gara-gara adik saya Rita memberikan Joel hadiah sebuah buku berkertas karton tebal (board book) yang lucu sekali. Judulnya When The Elephant Walks, yang ditulis dan dibuat ilustrasinya oleh seorang Amerika keturunan Jepang Keiko Kasza. Berkesan sekali dengan buku itu karena sempat selama seminggu lebih saya dan Pampi harus bacain (atau nemanin dia baca) itu buku sehari dua kali, pengantar tidur siang dan malam. Berkat buku bilingual ini juga Joel jadi lebih pede baca buku berbahasa Inggris.

Ok, inilah foto buku2 yang sudah berhasil saya review, di sini hanya ada 15, masih ada 3 di kamar Joel.

wortelbooks

Thanks berat ya Nix.. makasih ya Wortel. Buku-buku ini sangat berharga untuk keluarga homeschooler seperti kami.

Renungan Mati Lampu

Wednesday, June 25th, 2008

Mati lampu di Gading Serpong, tapi tidak semua. Beberapa sektor dan cluster lain yang berbeda gardu, tidak ikutan merasakan penderitaan dimatiin listriknya dari jam 8-an pagi dan baru nyala lagi jam 5 sore lewat. Dan, herannya kenapa gardu tempat asal muasal listrik di rumah saya yang sering kebagian jatah pemeliharaan.

Air di torrent pas habis, telepon juga mulai kedap-kedip indikator baterainya. Untung cuaca sejuk jadi bisa tanpa AC. Ketiadaan listrik ini membuat saya menyadari betapa tergantungnya saya sama listrik. Jadi bingung gitu mau ngapain.

Mari mundur ke masa ketika belum ada listrik. Orang jaman dulu tidak pernah bingung tanpa listrik. Mereka tidak akan mengalami bingung mau ngapain kalau listrik tidak menyala. Mengapa? Karena mereka sudah cukup sibuk.

Bangun pagi-pagi setelah semalaman tidur tanpa AC atau kipas angin, mereka mungkin akan menimba air di sumur untuk keperluan mandi. Lalu, mereka mengusahakan makanan, entahkan dengan menanam sendiri atau mungkin berbarter dengan tetangga. Lalu, kegiatan memasak pun dimulai dengan menyalakan api dari kayu bakar yang mereka cari dan siapkan sendiri. Kemudian, mereka berhenti dari kesibukan untuk makan siang. Setelah itu kembali kesibukan masing-masing. Sebelum matahari terbenam, ayah sudah di rumah, lalu makan malam lagi bersama. Tak lama sesudah itu sekeluarga pun tidurlah.

Harus diakui, kualitas hidup orang di masa lalu bisa dibilang lebih baik dibanding sekarang. Tanpa listrik, tanpa banyak otomatisasi, mereka bisa hidup bahagia. Mereka menikmati rumahnya, menikmati kebersamaan dalam keluarganya, menikmati kehadiran satu sama lain. Kemewahan yang sudah jarang didapat pada masa ini.

Herannya, dengan intervensi teknologi yang memudahkan kita untuk melakukan segala hal (cukup satu cetekan saklar kompor gas untuk masak); kualitas hidup kita tidak meningkat. Bahkan saya baca di sebuah buku, dengan adanya bantuan teknologi agar pekerjaan bisa lebih efisien, orang malah lebih lagi menghabiskan waktu lebih banyak di kantor. Orang jadi tambah gila bekerja, seperti tidak ada hari esok.

Are we missing something here? Bukankah teknologi dibuat untuk membuat hidup kita lebih mudah? Lebih berkualitas? Lebih enak?

Just a thought ;)

Tintin Cita Rasa Baru dari GPU

Tuesday, May 13th, 2008

tintin-snowyIseng-iseng googling.. ketemu cukup banyak blog yang ngulas tentang si jambul ini. Sama… saya juga lagi kena demam Tintin…

Gara-garanya di tempat les gambar Joel, ada penyewaan buku. Yang punya itu penggemar Tintin (Asterix, Smurf, dll), jadi dia sewakanlah koleksinya - masih terbitan Indira. Wah, kenangan masa ABG jadi bangkit lagi. Sejuta topan badai! Tintin emang ngangenin. Hehehehe.

Tak berapa lama kemudian, Tintin terbitan GPU mulai diberitakan. Tampilannya sih meyakinkan sekali, ukuran lebih handy, kertasnya bagus dan terkesan rapih sekali. Apalagi ada 3 judul yang belum pernah kita dengar, Tintin di Sovyet, Congo, dan Alpha-Art. Tapi, sampai saat ini kita belum berniat beli, harganya cukup tinggi.

Untung si pemilik persewaan membelinya dan kita pun langsung menyewanya (ID saya tertera pada urutan pertama di daftar mereka untuk Tintin di Congo). Waduh, shock saya bacanya. Serasa menonton dagelan Srimulat, slapstick banget. Sampai tidak percaya buku ini dibuat oleh Hergé yang menulis Tintin dan Lotus Biru begitu cantiknya. Ini membuat saya kembali meng-google informasi tentang ini. Ternyata, waktu itu Hergé masih muda dan polos, opininya masih bentukan masyarakat kulit putih pada masa itu (tahun 30-an) yang punya stereotip negatif tentang Afrika dan bangsa kulit hitam.

Catatan: Congo pernah berubah nama jadi Zairé, yang kemudian dikembalikan lagi namanya jadi Congo. Syukurlan, jadi karya Hergé tidak perlu diganti judulnya.

Menarik juga ya, melihat pendewasaan cara berpikir Hergé lewat Tintin. Hergé bisa lepas dari pandangan imperialisnya dan menunjukkan sikap yang 180 derajat berbeda, dengan melukiskan persahabatan tulus antara Tintin dengan Chang, juga beberapa tokoh non-kulit putih lain. Membaca Tintin edisi-edisi berikutnya sangat memperkaya pengetahuan, karena dia bukan komik biasa yang hanya sekedar menghibur.

Untuk terbitan GPU sendiri, terlepas dari berubahnya nama-nama tokoh yang sudah kita kenal lebih dulu lewat Indira - karena beda sumber, GPU dari bahasa asli penulis, Indira dari edisi bahasa Inggris, saya merasa terjemahan Tintin kali ini kurang kuat, agak hambar dan datar. (Maaf ya Donna).

Terjemahan Indira terasa lebih hidup, karakter2 digambarkan dengan sangat baik, sangat kuat. Tintin yang idealis, Haddock yang pemarah, Kalkulus (Lakmus) yang ga nyambung karena budeg, Snowy (Milo) yang nakal, terasa begitu hidup dan nyata. Sementara buku dari GPU ini seolah-olah sedang diceritakan ulang oleh seorang narator tanpa penjiwaan yang dalam, padahal tokoh-tokoh ini sudah telanjur diakrabi masyarakat kita lewat terjemahan Indira (Indira tidak pernah menyebut siapa nama penerjemah Tintin).

Mungkin GPU (penerjemah & editor) perlu melakukan riset karakter dan tidak terlalu harafiah dalam menerjemahkannya. Seperti dalam Penerbangan 714 oleh Indira, Tintin berpetualang di Indonesia. Di buku ini walau sebagian fiksi, penerjemah memasukkan unsur-unsur lokal seperti sambel ulek, dll yang pasti tidak akan terpikirkan oleh Hergé.

Tapi, memang menurut saya, menerjemahkan komik lebih sulit ketimbang menerjemahkan novel. Ketika membaca novel, si pembaca bebas berimajinasi, sementara komik ada gambarnya, imajinasinya jadi terbatas. Karena itu terjemahannya harus pas dengan intepretasi pembaca akan gambar yang dia lihat.

Asterix & Obelix adalah contoh bagaimana Ibu Rahartati Bambang (Indira) sangat bisa menjiwai sekali karakter-karakter Galia ini. Tidak bisa saya bayangkan jika Asterix diterjemahkan oleh saya misalnya :D hhehehehehee. Dijamin garing.

Bagaimana pun juga, usaha GPU untuk menghadirkan kembali Tintin walau dengan cita rasa beda ini perlu diacungi jempol. Khususnya dengan menerbitkan karya awal Hergé - Sovyet, Congo, dan juga untuk karyanya AlphaArt (Alph-Art) yang tidak sempat diselesaikan karena meninggal setelah seminggu koma.

Dengan adanya Tintin versi GPU, setidaknya anak-anak sekarang punya alternatif komik yang lebih ‘berisi’ ketimbang manga-manga ala Jepang. Seperti yang saya bilang di atas, habis baca Tintin, kita pasti diperkaya dengan pengetahuan baru.

Buat yang masih asing dengan Tintin, pelajari dulu di sini: http://www.tintinologist.org/guides/

Beberapa link yang saya baca:
1. The Cult of Tintin
2. Tintin di Indonesia
3. Sangkelana
4. Dan Wikipedia tentunya :)