Fri, 30 Jul 2010; 02:45:05 AM

Archive for the ‘as a unique person’ Category

Indonesia Tanah Air Beta

Sunday, August 30th, 2009

Kompas belum lama ini menurunkan liputan tentang asionalisme di tapal batas Republik Indonesia. Ke-10 tapal batas itu adalah Sawang (NAD), Kepulauan Siberut (Sumbar), Kepulauan Riau, Sanggau (Kalbar), Nunukan (Kaltim), Kepulauan Miangas dan Marore (Sulut), Morotai (Malut), Belu (NTT), Merauke, serta perbatasan Papua-Papua Niugini.

Makin larut dalam bacaan ini, makin terasa jika judul Nasionalisme di Tapal Batas terasa mendua arti, menggugah, menyengat bahwa sungguh sulit menjadi nasionalis di wilayah tapal batas. Sesungguhnya nasionalisme memang sudah di tapal batas, sudah di ujung tanduk. Mereka ini tinggal bersebelahan dengan negara tetangga, mudah saja mereka membelot dari RI, dan memilih mana yang lebih mencintai mereka.

Harga bensin di Miangas mencapai 15.000 rupiah, bandingkan dengan warga Jakarta yang bergelimangan mal, menikmati BBM bersubsidi seharga Rp 4.500. Tanpa BBM nelayan tak bisa melaut, jika ada pun listrik tak selalu ada untuk mengawetkan tangkapan ikan mereka. Sungguh ironi jadi orang Miangas, yang nama pulaunya disebut-sebut dalam jingle kampanye capres 2009, seakan-akan pulau yang megah.

Juga saudara-saudara sebangsa kita yang berbatasan dengan Malaysia, Singapore, Vietnam yang pembangunannya sudah melompat meninggalkan kita. Aneh, mengapa mereka seperti dilupakan oleh pemerintah, padahal mereka adalah tapal batas, wilayah terpinggir republik, penanda kedigdayaan kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Saya yakin banyak negara yang iri dengan potensi kekayaan negara kita ini. Sayang sekali sepertinya telah terjadi mismanagement yang sudah kelewat parah, sehingga rasa nasionalisme ini lama-lama makin terkikis habis hingga ke titik nadir.

Warga pulau Jawa mungkin sulit memahami penderitaan warga di wilayah lain, namun begitulah kenyataannya. Pulau Jawa selalu menjadi fokus pembangunan. Segala kekayaan alam dari penjuru Indonesia mengalir deras untuk membangun pulau Jawa.

Tinggal lima belas tahun di sebuah pulau kecil dekat Sumatra, saya dengan mudah bisa merasakan empati terhadap penduduk tapal batas. Bangka penghasil timah bagi negara ini diperas habis-habisan sementara warga kota kecil Belinyu sampai hari ini masih jua tak bisa menikmati listrik selama 24 jam. Padahal listrik kini telah jadi kebutuhan dasar manusia.

Singkep, Belitung, yang juga penghasil timah, bagai sepah yang dibuang begitu saja karena tak lagi menguntungkan. Dikeruk habis dan ditinggalkan setelah itu. Ke mana larinya semua kandungan perut mereka? Ke pulau Jawa, ke Jakarta dan sekitarnya. Sedikit sekali yang dikembalikan kepada rakyat dalam sebentuk kesejahteraan.

Saya tak benci pulau Jawa. Saya malah amat menyukainya, siapa yang tidak? Pulau Jawa yang hijau dan diberkati dengan tanah yang subur, ditunjang lengkap dengan segala fasilitas.

Di Jawa tanaman begitu mudah tumbuh, bahan makanan begitu mudah didapat sehingga tak perlu membebankan biaya transportasi kepada pembeli. Harga seperempat kilo wortel di pasar Sinpasa Gading Serpong adalah Rp 2.000, sementara di Belinyu bisa mencapai dua setengah kalinya. Demikian juga harga sayuran, mahal!

Makin jauh daerah tersebut dari pusat, makin mahal biaya hidupnya. Papua sendiri dikenal sebagai daerah dengan biaya hidup tertinggi. Tak adil, mengingat pendapatan penduduk di banyak wilayah luar Jawa tak kalah buruknya dari saudara Jawanya.

Jadi, agar tidak menyesal, sebaiknya harus cepat dilakukan perubahan. Bagaimana mungkin bisa menyanyikan lagu Indonesia Tanah Air Beta dengan sepenuh hati jika mereka tak lagi merasa dimiliki oleh negaranya.

Ah, ironi memang.

Menyoal Feminisme

Friday, July 10th, 2009

Soe Tjen Marching menulis di Kompas 10 Juli 2009 tentang feminisme berjudul Antara Keharusan dan Pilihan.

Adalah buku The Feminine Mystique (1963) karya seorang Betty Friedan yang dijadikan landasan tulisannya. Friedan ‘menemukan’ bahwa pada jamannya banyak perempuan yang menderita gangguan mental karena DIHARUSKAN menjadi Ibu Rumah Tangga.

Menurut Friedan, keharusan itu membuat para perempuan itu terkurung dalam dunia yang sempit, dan kehilangan kesempatan memperoleh kepuasan diri dalam karier dan harus menjalani hidup bagi kebahagiaan orang lain.

Saya tidak tahu apa yang dialami para ibu di tahun 60-an, tapi setahu saya tulisan ini jika dibaca di masa ini rasanya terlalu menghakimi dan tidak mewakili aspirasi semua perempuan khususnya yang memiliki anak.

Saya akan mengambil beberapa contoh yang saya temukan, baik pengalaman pribadi, teman dalam dunia nyata atau pun dalam mailing list yang saya ikuti. Mungkin datanya tidak representatif, tapi ini adalah kenyataan di lapangan.

Tiga ibu yang tinggal tak jauh dari rumah saya menemukan kebahagiaannya karena bisa dekat dengan anak, dua di antaranya pernah berkarier di luar rumah. Ibu yang satu lagi, setelah memiliki tiga anak, semakin menikmati perannya dan walau merasa sempat ‘terpaksa’ harus belajar masak, kini dia sudah piawai masak dan puas melihat anaknya menyukai masakannya.

Di sebuah mailing list yang mayoritas anggotanya adalah ibu, beberapa anggotanya meninggalkan pekerjaannya untuk berwirausaha dari rumah, agar bisa dekat dengan anak. Juga beberapa anggota mengeluh karena sangat ingin bisa tinggal di rumah sedangkan kondisi finansial tidak mendukung, mereka bahkan menyatakan ‘kecemburuannya’ kepada baby sitter, pembantu dan kepada temannya yang sudah lebih dulu menjadi what-so-called ibu rumah tangga.

Saya tidak mengerti mengapa jika seorang ibu tinggal di rumah, lantas ia disebut terkungkung, tidak bisa mendapat kepuasan diri dari berkarier dan hidup untuk kebahagiaan orang lain. Memangnya ada yang salah jika kita hidup untuk orang lain? Bukankah begitu banyak orang (atau pekerja sosial) yang menemukan kepuasan batinnya karena hidup dan bekerja untuk kebahagiaan orang lain?

Apalagi jika pilihan menjadi ibu rumah tangga ini diambil untuk kebahagiaan keluarga, untuk anaknya. Seorang ibu bukan secara kebetulan adalah pihak yang mengalami kehamilan, mengalami hubungan misterius dengan janin yang tak bisa bicara tapi bisa merespon balik, yang harus melahirkan (dan mungkin memilih untuk menyusui) anak yang telah dikandungnya. Ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dialami oleh laki-laki, dan ini jugalah yang saya duga membuat seorang ibu seakan-akan punya kontak batin dengan anaknya.

Lalu, apakah menjadi ibu rumah tangga untuk memastikan anaknya terurus, terdidik dengan baik adalah sebuah kebodohan? Memang di beberapa belahan dunia ada kasus ekstrim diskriminasi hak perempuan yang mengatasnamakan martabat pria, namun menurut saya ini tidak bisa disamaratakan begitu saja.

Di masa materialisme ini, ketika segala sesuatu diukur dengan uang, pria mungkin lebih senang jika istri punya penghasilan sendiri dan turut berkontribusi dalam keuangan keluarga. Namun ketika anak yang tidak pernah minta dilahirkan itu hadir bersama segala konsekuensinya, masalah-masalah mulai muncul.

Sepasang orangtua bekerja di luar rumah mendatangkan sebuah konsekuensi, harus ada pengganti fungsi mereka dalam merawat dan mendidik anak saat mereka tidak di rumah. Si pengganti ini (baby sitter/pembantu) kerap juga menciptakan masalah baru dan membuat majikannya lintang pukang ketambahan persoalan.

Soe Tjen mempersoalkan masalah keharusan seorang ibu menjadi ibu rumah tangga. Yang benar si ibu melakukannya atas dasar pilihan sendiri bukan karena sebuah keharusan, katanya. Jika ibu memilih menjadi career woman, so be it, jika ingin jadi ibu rumah tangga, ya harus dihargai, karena itu adalah pilihan yang mereka buat. Begitu.

Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya. Ibu sangat ingin menjadi ibu rumah tangga namun dia diharuskan bekerja, karena gajinya sangat dibutuhkan? Bukankah akhirnya itu menjadi sebuah keharusan juga, tak lagi menjadi sebuah pilihan baginya?

Saya memang memilih menjadi ibu yang tinggal di rumah, dan saya sangat menikmati peran saya ini. Kepuasan yang saya dapat dalam dua tahun setengah tahun terakhir ini melampaui kepuasan yang saya peroleh dari ‘ngantor’ selama tujuh tahun.

Namun pilihan ini saya buat karena saya merasa harus. Jadi keharusan yang membuat saya memilih.

Saat menatap wajah anak saya yang baru satu dan berusia tiga tahun saat itu, saya merasa harus memilih untuk mendampinginya. Saat berhitung berapa waktu yang telah dan akan dia lalui tanpa saya dan saya tanpa dia, saya merasakan sebuah keharusan bagi saya untuk mengambil sebuah tanggung jawab. Dia tidak pernah minta dilahirkan. Mengapa saya begitu egois mengejar kepuasan diri dan membiarkan dia dalam asuhan orang lain padahal secara finansial kami bisa melakukan penyesuaian? Saya telah memilih dan merasa telah mengambil pilihan terbaik walau masa adaptasi terasa begitu panjang dan sulit. Bukankah memang begitu saat kita berada di tempat baru, apalagi jika ada perubahan radikal seperti ini.

Jadi bagaimana, menjadi ibu rumah tangga itu keharusan atau pilihan?

It’s a Small World After All

Wednesday, June 24th, 2009

Eventually, Facebook has narrowed-down this whole wild world to a screen in front of you (or 19″ flat screen in my case).

Isn’t it a bit strange to bump into someone from our past in this cyberworld? Especially if s/he is someone you wish you would never have to see again in the rest of your life.

I had a thought how FB may ruin someone’s peaceful life. Just think about this.

One day, you got an invitation in your FB from a long lost friend, trying to reconnect with you. Phew! What a small world!

So there you are, browsing through your friend’s facebook profile. Then you click his/her photo album, just to find that this friend has been with someone from your past, the one I mentioned before, someone you want to forget.

You sit back, clear your throat and continue your investigation. Awaken by this weird enthusiasm, you wait hungrily if next pictures will bring you another surprises.

Wow, they have children! Your jaw dropped and you don’t know how to react. Are you going to approve your long-lost friend request? To reconnect with you?

Tell me. I want to know.

Lausin Mani di Beijing

Saturday, June 20th, 2009

“Lausin mani.”

“Whaaat?”

“Lausin mani,” kata si enci sambil memencet-mencet kalkulator di tangannya.

Omigod, setelah beberapa kali dilausinmani-kan oleh beberapa pedagang, akhirnya saya mengerti. Lausin mani adalah loosing money alias rugi.. kakakaka. Ini jelas adalah bahasa Inggris yang diterjemahkan harafiah dari bahasa Cina. Saya ga yakin kata loosing money digunakan oleh para penutur asli bahasa Inggris untuk menyatakan bahwa dirinya rugi jika memberi harga segitu.

Beijing adalah kota yang sangaaat menarik untuk belanja. Barang-barang tiruan merk terkenal bertebaran di kota ini. Dari KW1 sampai KW ga jelas. Harus pintar menawar, jika tidak kita-lah yang bakal lausin mani.

lausin-mani

Foto yang atas adalah situasi kaki lima di Mu Tian Yu, sebuah kota yang menjadi salah satu pintu masuk Tembok Raksasa, sekitar 70km dari Beijing. Kata lausin mani jelas terdengar bergaung di sana-sini.

Foto yang bawah adalah situasi kaki lima di Wang Fu Jing, Beijing. Tempat yang menyenangkan untuk pejalan kaki, karena sebagian besar areanya bebas dari kendaraan bermotor. Bangku panjang juga tersedia untuk yang ingin istirahat. Udaranya terasa bersih di sini. Kapan ya Jakarta bisa kayak gini?

Hmmmhhh.. kangen bisa jalan-jalan ke negeri orang lagi. Kapan ya bisa lagi?

Yang Tertinggal Dari Beijing

Saturday, June 20th, 2009

Pukul dua siang waktu itu. Langit cukup cerah, tapi udara Beijing bulan November tetap saja terasa terlalu menusuk buat kulit tropisku.

Menurut jadwal, sebentar lagi mobil shuttle dari hotel akan lewat jalan ini dan kuharap aku bisa terangkut kembali ke Holiday Inn Lido nun jauh di ring road lapis ke 4 kota Beijing.

Tergesa-gesa aku menyeberang dari kompleks pertokoan Friendship Store ke perempatan jalan di depan. Belum ada tanda kehadiran mobil shuttle hotel. Tidak apa-apa.. kutunggu saja. Terlalu beresiko jika ketinggalan fasilitas gratis satu ini, aku yang baru sehari sampai, jelas buta jalanan di sini.

Siang itu cukup menyenangkan. Seorang bapak penarik rickshaw tampak santai menunggu penumpang, orang-orang berbaju hangat bersliweran, spanduk-spanduk dalam bahasa Inggris meriah menandakan Beijing sedang bersiap menyambut Olympic 2008, padahal ini akhir tahun 2005.

Tunggu punya tunggu, mobil tidak kunjung datang, padahal sudah lewat jadwalnya. Aku mulai gelisah.

Bapak rickshaw nampaknya mengetahui kegelisahanku. Dia memanggilku, dalam bahasa Mandarin tentunya. Menawari naik rickshaw-nya kurasa. Kukatakan padanya dalam bahasa Mandarin terpatah-patah, bahwa aku tidak berbahasa Mandarin.

Dia bingung. “Kamu orang mana?”

“Inni ren. Orang Indonesia,” kubilang.

“Wah.. kamu kok kayak orang Cina. Kulitmu kok putih? Inni ren kan item.”

Ketika dia lihat kebingunganku, dia melakukan gerakan membelai-belai tangannya, “Ni hen pai. Kamu sangat putih (untuk ukuran Inni ren maksudnya). Inni ren.. mancung… (katanya dalam bahasa Tarzan).”

Hah? Pasti maksudnya Inthu ren ni… Inthu itu India. Maka kujelaskan dalam usaha terbaikku. Untuk catatan, aku tidak fasih berbahasa Mandarin. Satu-satunya bahasa cina yang kukuasai adalah bahasa Khek dari suku Hakka Bangka, yang bahkan sangat berbeda dari tetangganya di Belitung.

Kutanyakan tentang mobil hotel padanya (berbekal buku saku untuk turis dari hotel), kata si Bapak, mobilnya belum datang, nanti pasti lewat. Oh, tenang sudah.

rickshaw

Akhirnya, dalam segala keterbatasan, kami mulai berkomunikasi. Tak kusangka, si Bapak ini tahu cukup banyak tentang Indonesia. Dia tahu tentang Su Ha Na (Sukarno), juga tentang Gus Dur (sambil memeragakan gaya orang yang penglihatannya terganggu).

Dia juga menulis di sebuah kertas untuk saya, dalam aksara latin, perbandingan jumlah penduduk RRC dengan Indonesia. Wih, keren, saya aja sudah lama tidak mengikuti berapa ratus juta penduduk Indonesia. Dia juga sempat menyentil tentang ou lim pi ka (Olympic). Kami juga sempat gantian motret… think about that.. hahahaha.

Kemudian dia bertanya padaku, bolehkah buku saku hotel Lido itu buat dia. Dengan senang hati kuberikan padanya.

Tak lama, mobil hotel lewat. Oh, syukurlah ada tempat duduk tersedia. Kutinggalkan si Bapak Rickshaw (aku tak sempat menanyakan namanya). Dalam hati aku menyesal karena tidak bisa berbahasa Mandarin. Mungkin pembicaraan kami akan lebih menarik jika komunikasi lancar. But we had a good conversation though.

I said goodbye to him. I was really impressed. He was the first Beijingese who talk to me like that in my 2005 Beijing trip.

God bless you Mr Rickshaw!

My Doctor and I

Thursday, June 18th, 2009

Tulisan saya terakhir bercerita tentang hubungan dokter dan pasien.

Ya, saya suka iri membaca artikel di Reader’s Digest, menonton tayangan dengan setting rumah sakit seperti Grey’s Anatomy atau House. Dokter-dokter di situ diceritakan begitu berhati mulia dan sangat berdedikasi pada pasiennya. Mereka sering mengunjungi pasiennya yang sedang dirawat dan kadang-kadang mengajak mereka ngobrol.

Dokter-dokter yang pernah mampir di hidup saya? Mmmmhh.. satu-satunya dokter yang meninggalkan kesan sangaaat dalam buat saya adalah seorang dokter kandungan dengan inisial DD, S.POG KFM.

Percaya tidak, saya bertemu dia di RS yang saat ini sedang heboh dengan publisitas negatif. Saat hamil anak kedua, saya memutuskan untuk melahirkan di RS dengan nama international ini. Dan, saya melakukan riset mencari siapakah dokter kandungan yang paling direkomendasikan di situ. Ingat, saya tidak suka ngantri di dokter mana pun apalagi dokter kandungan.

Dokter DD, sangat charming. You could tell it from the first time, he’s a smart guy. Dan memang benar.

Tiap kali bertemu, dokter akan menjabat tangan saya dan suami, lalu menanyakan apa yang saya alami sejak pertemuan terakhir dengannya. Saya boleh tanya apa saja.. dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia terburu-buru.

Lalu, saat USG, dia akan mulai bercerita, mulai memberitahukan apa yang nampak di layar monitor, tanpa saya perlu bertanya.

“Ibu lihat ini yang bentuknya kupu-kupu adalah otak janin. Saat ini tulang kepala belum menutup sempurna.. .. dst dst…”

Persis seperti yang saya tonton di film-film barat :) hehehehhe.

Juga waktu saya ceritakan tentang histori pre-eklamsi saya, dia akan mengganti mode USG-nya dan memperlihatkan grafik yang menunjukkan hmmm.. apa namanya ya… tekanan darah? aliran darah? yang dari rahim dan yang meninggalkan rahim. Di situ terlihat potensi PE masih ada. Sejak saat itu saya selalu dicek tiap kali datang. Dia pasti membaca Rekam Medis saya bukan?

Dia punya sentuhan kemanusiaan. Saya tidak dianggapnya sebagai angka. Ketika akan meng-USG, dia akan memegang wajah saya, dan saat mata saya berair dia berkata, “Wah, sedang pilek?”

Habis itu kami biasanya diskusi dengannya. Sangat menyenangkan, dia seperti seorang dosen yang bersedia membagi ilmunya dengan pasiennya. Dia juga yang meyakinkan saya bahwa saya BISA melahirkan dengan normal, tidak harus operasi lagi, jika semuanya baik-baik saja. Kita tahu cukup banyak dokter kandungan yang mengatakan jika anak pertama lahir lewat operasi, anak kedua juga HARUS operasi. Dokter DD tidak pernah mengatakan hal itu.

Pernah satu kali saya konsultasi ke dokter kandungan lain di RS di Karawaci. Inisalnya sama dengan dokter DD.

Dokter berkepala plontos ini sangat pelit bicara. Dia meng-USG saya dan bicara beberapa patah kata. Dia tidak BERKOMUNIKASI dengan saya. Dia tidak menceritakan apa yang terjadi di rahim saya. Singkatnya dia hanya berkata. Bagi saya dia menganggap saya seorang pasien bodoh yang tidak tahu apa-apa. Saya sangat kecewa. Bukan seperti ini yang saya harapkan. Dokter ini juga yang berkata, kalau anak pertama operasi, anak kedua ya, operasi juga. Huuhhh… saya tidak pernah lagi akan jadi pasiennya.

Dokter DD, S.POG KFM… terimakasih sudah menjadi dokter kandungan saya selama 8 bulan. Walau saya sangat ingin melahirkan dibantu oleh Anda, tapi saya terpaksa harus ganti dokter karena dokter DD tidak praktek di RS yang saya pilih.

Terimakasih sudah membalas email-email saya yang sebenarnya tidak penting, tapi dokter tahu tugas dokter adalah menenangkan pasien, membuat pasien nyaman. Dokter bukan Tuhan.

Antara Dokter & Pasien

Thursday, June 18th, 2009

Handrawan Nadesul, dokter yang juga sastrawan, belum lama ini menulis beberapa artikel di harian Kompas tentang kecemasannya akan perdokteran di Indonesia. Salah satunya berjudul Malu Aku Jadi Dokter di Indonesia.

Dokter Handrawan mengulas tentang hubungan dokter-pasien yang rada timpang di negara kita, Indonesia. Betapa seringnya dokter menganggap pasien itu tidak tahu apa-apa. Tidak ada hubungan setara di sini.

Dokter-dokter di sini juga sulit fokus kepada tugasnya karena banyaknya pasien yang harus dia layani. Sudah bukan rahasia lagi jika ada dokter-dokter tertentu yang harus praktek sampai subuh, termasuk dokter kandungan.

Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin dokter seperti ini bisa memberikan waktunya yang berkualitas pada pasiennya. Jangankan membangun hubungan saling percaya, mau senyum saja mungkin sudah susah.

Sejak punya anak, saat harus mengunjungi dokter anak, saya jadi mulai berpikir. Rasanya tidak masuk akal jika dokter yang baru ketemu pasien 5 menit lalu sudah bisa mendiagnosis, dan langsung memberi resep. Apalagi jika dokter itu tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya. Dokter kan bukan Tuhan.

Dengan akal sehat, saya percaya, seorang dokter dalam mendiagnosis harus melihat rekam medis pasien, harus mengarahkan pertanyaannya sedemikan rupa agar bisa mengkonfirmasi dugaan sementaranya. Hemat saya, pekerjaan dokter itu sebenernya lebih mirip detektif.

Dokter Gregory House, MD, dokter Amerika jenius yang diperankan dengan sangat cemerlang oleh aktor Inggris Hugh Laurie, banyak membuka mata saya tentang tugas seorang dokter. Nonton deh.

Mengumpulkan fakta, menggali informasi sebanyak mungkin, karena seringkali ada gejala penting yang mungkin terlewatkan olehnya dan dianggap tidak penting oleh pasien. Ini sih jelas-jelas terpengaruh oleh film seri House & komik Detektif Conan nih…

Saat mengucapkan sumpah dokter, sebenarnya dokter terikat dengan kode etik kedokterannya. Tapi pada prakteknya kita tahu, dokter-dokter kita hidupnya banyak ditekan kanan-kiri. Saya yakin cukup banyak sarjana kedokteran yang ingin idealis tapi kenyataan di lapangan begitu memberatkannya.

Tekanan dari perusahaan farmasi yang mengimingi-imingi bonus besar jika meresepkan obatnya, tekanan dari institusi dia bekerja – kalo bisa manfaatkan semua fasilitas RS dan bebankan itu pada pasien :) – RS kan harus balik modal investasinya, tekanan dari masyarakat – menganggap dokter adalah Maha Tahu… uuhhh… tidak mudah jadi dokter idealis di masa kini.

Handrawan menulis, dokter-dokter di negara maju semisal US, biasanya bekerja fulltime di satu RS, mereka dedicated, mereka punya kesempatan lebih banyak membangun hubungan dengan pasiennya. Pasien di negara maju juga biasanya tidak sedikit-sedikit ke dokter. Beda dengan pasien di negara berkembang model Indonesia. Tak heran dokter-dokter mudah tergoda untuk memanfaatkan ketidaktahuan pasiennya.

Sebaiknya memang warga negara kita lebih memperlengkapi diri tentang kesehatan dasar, sehingga tidak perlu jadi pasien dan memenuhi ruang tunggu dokter spesialis terkenal dan antri berjam-jam. Sayang duit, sayang waktu.

Caranya? Bisa gabung dengan milis2 kesehatan, saya tahu sebuah milis yang dikelola oleh beberapa dokter, banyak tips kesehatan dari mereka. Atau, beli buku2 tentang kesehatan dasar. Dokter Handrawan menulis juga beberapa buku tentang ini dengan harga di bawah 100rb, lebih murah kan ketimbang satu kali kunjungan ke dokter spesialis. Buku-bukunya terbitan Penerbit Buku Kompas.

Calon-calon pasien… mari cerdaskan diri kita.

Kiwi-kiwi Cantik dari Kiwiland

Friday, May 22nd, 2009

kiwi

Di antara kelima buah kiwi ini, ada satu yang berbeda.

Dapatkah Anda menemukannya?

Hey, betul. Itu dia yang di tengah. Dialah satu-satunya yang punya buntut, namanya Golden Kiwi. Harganya lebih premium ketimbang saudaranya yang lain, yang sebenarnya juga termasuk buah premium.

Dijual satuan di Farmer’s Market di Mal Serpong, 7.900/ea. Sedangkan kiwi biasa dijual kiloan. Rasanya? Hmmmhhh.. uenak buanget. Chloe makan sampai berdecap-decap, “Naaakkk,” katanya.

Kris, the New American Idol

Thursday, May 21st, 2009

Yippie… tebakan saya benar.

Semalam saya menyaksikan performa luar biasa dari kedua kandidat di Star World. Jujur, rasanya Adam Lambert lebih unggul dari Kris Allen karena konsistensi dan bakatnya yang istimewa, extraordinary pokoknya.

Kris yang tadinya underdog, namun juga tidak kalah memikat. Senyumnya tulus, terlihat rendah hati dan bakat musik yang juga istimewa. Saya ingat saat dia membawakan lagu Remember The Time-nya Michael Jackson dengan bekal sebuah gitar akustik, keren banget… siapa sangka lagu itu bisa berubah bentuk dan tidak kalah bagus dari versi MJ.

Kris diuntungkan oleh pemberitaan bahwa Adam kemungkinan adalah gay. Walaupun liberal, dalam beberapa hal masih banyak orang USA yang tetap konservatif. Dalam beberapa AI sebelumnya, setidaknya ada dua peserta yang voted-off karena punya sisi-sisi moral yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut oleh para konservatif.

Selain itu, saya yakin, sebagian besar pendukung Dany Gokey -yang masuk tiga besar- beralih ke Kris. Mereka punya kesamaan latar belakang, dua-duanya berasal dari kalangan gereja dan aktif dalam pelayanan pujian. Dany & Kris sama-sama worship leader. Kris juga pasti mengambil hati banyak perempuan karena dia tidak berusaha menyembunyikan kenyataan bahwa dia sudah menikah.

Adam di sisi lain… sangat-sangat talented. Kemampuannya mengeksplor nada-nada tinggi dan berimprovisasi di situ sangat menakjubkan. Lagu-lagu Queen bisa dibawakan dengan sangat baik olehnya, dan dia selalu konsisten dari awal.

Jadi, begitulah, Kris Allen yang rendah hati menang malam ini dan menjadi American Idol Season 8. Dia memang keren.

Kritikan untuk Metro TV

Saturday, April 4th, 2009

Ah, Metro TV..

di masa-masa kampanye ini
aku selalu jengah kalau dengan terang-terangan kau menjelekkan partai-partai selain partai bosmu

o ya.. jelas sekali siapa yang sedang kau jelekkan.. siapa lagi kalau bukan saingan berat capres dari partai bosmu..
uh.. menjengkelkan sekali, kau tahu?

aku juga tidak betah melihat bosmu berlama-lama pidato tanpa kau berani memotongnya (aku tahu, siapa yang berani memotong pidato bos, akan dipotong gajinya)

dengan jelas kau memposisikan diri sebagai media kampanye untuk partai kuning, semua janji surganya kausiarkan dengan penuh cinta
semua sepak terjangnya bahkan ya itu, pidato tidak penting bosmu, kauberikan durasi melimpah sampai tumpah ruah

Dan… kau mengaku sebagai The Election Channel?

Oh, para jurnalis Metro TV, walau hati kalian ingin idealis aku tahu kalian juga takut kehilangan pekerjaan, ya kan?

Ya ya.. kita memang harus realistis. Ya kan?

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe