Sat, 04 Sep 2010; 05:16:23 AM

Archive for the ‘as a wife’ Category

Will Kiss The Crazy Traffic Again So Soon

Wednesday, December 2nd, 2009

Bukan saya. Tapi my darling Pampi.

Pampi akan balik jadi ‘orang Jakarta sesuai jam kantor’. Kira-kira sebulan lagilah. Saya dan anak-anak tetap jadi orang Gading (Serpong).

Tentu, ini berarti harus bangun lebih pagi, tidur lebih awal, sarapan yang cukup untuk memerangi ganasnya perjalanan mencari nafkah :) Hmm.. jika sekarang kami berpisah sekitar 10 jam per hari Senin-Jumat, sepertinya sekarang saya akan tidak melihat dirinya paling tidak 13 jam sehari.

Itu juga berarti harus ada kompensasi buat kami yang ditinggal lebih lama ketimbang kantor yang sekarang. Dulu kami punya ‘kemewahan’ tinggal telpon Papa kalo ada masalah di rumah (kantor-rumah hanya 5 km), sekarang tentu tidak mungkin mendatangkan dirinya dari Jakarta setiap saat :D kecuali ada Dora Emon lagi mampir ke kantornya.

Nah, saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berjalan nanti. Tapi saya percaya, God provides our needs.

Congratulation for your new office, Hun. Prepare yourself ya.

Konspirasi?

Wednesday, September 30th, 2009

Sudah dua hari mangkir dari janjinya, pembantu harian kami belum juga masuk. Padahal, rumahnya hanya di belakang kompleks kami. Saya sudah mulai mengira-ngira, sepertinya dia tidak balik lagi.

Dan benar saja. Setelah lima hari berlalu, brokernya mendatangi saya yang sedang menjemur baju di samping rumah.

“Non, udah tau belum si Enas berenti?”
“O gitu ya. Ga bilang dia.”
“Iya, dia udah pegang tiga rumah.”
“Jadi saya yang dikorbanin?”
“Iya, dia maunya pagi. Terus katanya kasih THR juga ga satu bulan gaji.”
What? Belum kerja setahun udah minta THR sebulan?
“Ini barangkali nyari lagi.”

Rupanya dia membawa seseorang yang tidak sempat saya lihat wajahnya, karena sedang sibuk menjemur dan setengah keki karena mencium adanya bau konspirasi.

“Engga, Bu. Saya ga nyari.”
“Buat cuci-gosok, Non.”
“Engga, Bu. Nanti saya harus bayar Ibu lagi, ga kuat saya. Saya cari sendiri aja.”
“O.. mau cari sendiri aja. Yang nginep ya?”
Bukan urusanmu. “Nanti saya cari sendiri. Orang Ibu jarang yang awet.”
“Orang Jawa yang awet mah, Non.”
Halah. Sok peduli amat ini si Ibu tea….

Belum lama berselang, datang lagi seorang ibu-ibu mengetuk pintu yang saya tutup rapat-rapat, mencari lowongan. Lalu seorang ibu lagi yang bingung karena saya menolaknya, “Enas di sini kan dulu?”

Besoknya ada satu orang lagi. Hari ini satu orang lagi, yang tampaknya seorang makelar juga.

Halah… saya sepertinya ga mau lagi ambil pembantu harian dari tetangga sekitar sini. Mereka cenderung tidak loyal dan apa ya… oportunis. Standar gaji mereka juga terlalu tinggi menurut saya, si Enas gajinya 100.000/minggu yang menurut teman2 saya di Jakarta dan Alam Sutra ketinggian.

Sementara saya kerjain sendiri deh, dibantuin Pampi tentunya. Wish me luck.

Blogging tentang Keluarga: Hanya Untuk Suami Melankolis?

Monday, September 1st, 2008

Bisakah judul ini dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Sebenarnya saya hanya punya satu contoh resmi, suami saya sendiri, Mr. Dian Pamilih. Check out his blog, and you can hardly find any posting about his family, his kids, his wife, his mom & dad, etc.

Makanya saya sering takjub membaca blog seorang suami tentang kelahiran anaknya, kehamilan istrinya, ultah putranya, perkembangan bayinya, dll.

Sebenarnya apa yang membuat seorang pria bisa bercerita kepada publik tentang keluarganya? Sebaliknya, apa yang membuat pria tidak merasa perlu melakukannya? Apakah ini masalah perbedaan prioritas atau hanya masalah perbedaan tipe saja?

Atau.. yang menulis blog tentang keluarganya ini adalah mereka yang memang punya waktu melimpah alias kurang kerjaan? *Just kidding :D *

Lima Jari Berhitung

Thursday, June 19th, 2008

Satu tangan terangkat, lima jari pun berhitung
Satu, dua, tiga, empat, lima

Ini angka istimewa (harusnya)
Karena tahun depan, satu tangan tak lagi cukup

Suatu ikatan yang dibangun lima tahun lalu
Dalam suatu janji yang diikrarkan
Di hadapan Bapa Pengasih
Orangtua, keluarga, dan para sahabat

Tahun ini, walau tak ada perayaan
Bukan berarti tak spesial

Karena tahun-tahun ini
Adalah tahun-tahun terindah
Yang telah mengubah jalan hidup kami
Saat kami belajar untuk berhenti hidup hanya untuk diri sendiri

Happy 5th anniversary to us….. (14 Juni 2008)

Note: tak ada lilin, tak ada makan malam romantis, tapi terasa begitu berkesan bagiku karena dalam hati terucap syukur atas berkat dan penyertaan Tuhan dalam lima tahun ini.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe