Fri, 12 Mar 2010; 11:50:01 PM

05 Oct 2009

Is It October Already?

october-2009

Yeah… it is.

October brings first signs of fall season in northern hemisphere, but in the same time, it also brings hope as the breeze of springtime warms the air of southern hemisphere.

For us, October always brings a surprise, a wind of change and leave a trace of uncertainity. Make us wanting. Make us waiting. Waiting for a change. Wanting for a confirmation.

Back then to October 2006. Pampi resigned from a well-known oilfield service provider, switched his career from a IT security consultant to a banker! Many friends even his bosses thought that it was a bad decision since the bank was ‘only’ a local bank since his former employer has a bunch of good reputation in so many countries and it is a multi national company.

Pampi had to leave the busy Kuningan area for the peaful Karawaci (suburban Jakarta), house of Universitas Pelita Harapan.

That was when our life changed. We moved in to our newly built house in Gading Serpong. I quit my job. I stayed at home with my 2yo son and lived the ups and downs of a SAHM ever since. We enjoyed our simple life in a suburban area, away from Jakarta’s chaotic.

A year later, also in October, I was pregnant with Chloe. We were so happy to welcome our dearest new family member.

Two years later, once again it happened in October, our peaceful life got a little nice surprise. A headhunter from fairyland called him. The conversation resulted into a job interview invitation to another dreamland. They sent the e-ticket and e-visa. So did he go, carried his luggage to the land of dates and camels.

I was so unsure of our future. I had a feeling that we bumped into the crossroad of our life again. I just couldn’t imagine living a life in a new place far far away from parents, relatives and friends.

For short, the job was not for us. And I still thank God for this. I was not ready for an extreme change. I didn’t need a new neighbor though.

It’s October again. And the cycle repeats itself.

It is October already.

Posted by: @8:48 am Tags:
in as a unique person | 2 Comments »

04 Oct 2009

My Maidless Days

Maidless day#17.

Buat keluarga Jakarta pada umumnya, tidak punya pembantu adalah musibah besar. Juga untuk yang punya batita, ketiadaan pengasuh (disebut babysitter di Indonesia, nanny harusnya) adalah bencana.

Tiga tahun lalu saya berhenti mengantor. Salah satunya karena saya ingin merdeka akan rasa cemas berlebihan jika hari raya Lebaran mendekat :) .

Tahun 2007 awal, satu bulan lebih saya tak punya orang yang bisa dimintai bantuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya ingat betapa stresnya saya waktu itu. Saya cemberut melihat tumpukan piring kotor dan peralatan masak bekas pakai, jengkel melihat gundukan baju yang harus disetrika. Malas masak, malas nyapu, malas bersih-bersih. Saya kesal, saya marah, saya ingin bisa bermalas-malasan seenak saya. Bukankah sebelumnya saya punya waktu begitu banyak mengerjakan hal-hal yang saya sukai?

Terulang lagi akhir tahun 2008, ketika Chloe masih bayi kecil. Saya begitu kelimpungan. Chloe belum lagi 6 bulan, masih sangat tergantung pada saya. Sementara itu Joel yang berumur 4 tahun juga belum bisa terlalu diandalkan, dia masih banyak butuh bantuan Mamanya. Berita buruknya, Pampi harus pergi ke dua negara dalam minggu itu. Saya tidak ingat apakah waktu itu saya sempat menangis karena kebingungan, saya cuma ingat waktu itu hujan turun tiada henti, baju-baju tak kunjung kering sementara baju kotor sudah antri untuk dicuci. Saya ingat hanya menyetrika baju pergi, sementara baju rumah hanya dilipat dengan rapi.

Untungnya di tahun ini Tuhan bermurah hati memberikan seorang sahabat yang sangat care kepada kami, sahabat saya ini membawakan saya masakannya, juga ketika saya pilek berat pas ditinggal suami pergi ini, dia membawakan seteko penuh wedang jahe. Ohh.. I love you, Sis!

Yang terkini, tahun 2009, pembantu harian saya dengan tega memutuskan untuk memberhentikan saya sebagai majikannya :) Saya agak kesal mengingat saya sering sekali memberinya barang, pakaian, peralatan masak, bahan makanan, sementara dia lebih menginginkannya dalam bentuk uang.

And I have improved a lot this year. My 2009’s maidless days are:
- selalu tersedia minimal dua masakan di rumah.
- baju-baju dicuci dua hari sekali, dan semuanya tersetrika.
- piring-piring kotor tidak boleh terlalu lama menunggu di tempat cuci piring.
- rumah disapu setiap hari (berkali-kali kalau perlu) dan diusahakan dipel setidaknya dua hari sekali.
- tempat tidur segera dirapikan begitu penghuninya bangun.
- lantai kamar mandi disikat segera setelah saya mandi.
- sebelum berangkat tidur, rumah sudah dalam keadaan rapi sehingga besok bisa lebih bersantai baca koran sambil minum kopi/teh :)

Intinya adalah jangan menunda pekerjaan. Lakukan dengan cepat tanpa banyak pikir. Selain itu, saya juga harus bersyukur karena punya suami yang hebat, yang tidak segan membantu cuci piring, mengepel, membuang sampah, mengambil Chloe yang super rewel akibat sakitnya dari gendongan saya yang menangis karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Terpenting, lakukan pekerjaan ‘remeh temeh tapi penting buanget ini’ dengan hati bersyukur, dengan suka cita. Seperti yang saya tahun ini.

Posted by: @6:56 pm Tags:
in as a unique person | No Comments »

30 Sep 2009

Konspirasi?

Sudah dua hari mangkir dari janjinya, pembantu harian kami belum juga masuk. Padahal, rumahnya hanya di belakang kompleks kami. Saya sudah mulai mengira-ngira, sepertinya dia tidak balik lagi.

Dan benar saja. Setelah lima hari berlalu, brokernya mendatangi saya yang sedang menjemur baju di samping rumah.

“Non, udah tau belum si Enas berenti?”
“O gitu ya. Ga bilang dia.”
“Iya, dia udah pegang tiga rumah.”
“Jadi saya yang dikorbanin?”
“Iya, dia maunya pagi. Terus katanya kasih THR juga ga satu bulan gaji.”
What? Belum kerja setahun udah minta THR sebulan?
“Ini barangkali nyari lagi.”

Rupanya dia membawa seseorang yang tidak sempat saya lihat wajahnya, karena sedang sibuk menjemur dan setengah keki karena mencium adanya bau konspirasi.

“Engga, Bu. Saya ga nyari.”
“Buat cuci-gosok, Non.”
“Engga, Bu. Nanti saya harus bayar Ibu lagi, ga kuat saya. Saya cari sendiri aja.”
“O.. mau cari sendiri aja. Yang nginep ya?”
Bukan urusanmu. “Nanti saya cari sendiri. Orang Ibu jarang yang awet.”
“Orang Jawa yang awet mah, Non.”
Halah. Sok peduli amat ini si Ibu tea….

Belum lama berselang, datang lagi seorang ibu-ibu mengetuk pintu yang saya tutup rapat-rapat, mencari lowongan. Lalu seorang ibu lagi yang bingung karena saya menolaknya, “Enas di sini kan dulu?”

Besoknya ada satu orang lagi. Hari ini satu orang lagi, yang tampaknya seorang makelar juga.

Halah… saya sepertinya ga mau lagi ambil pembantu harian dari tetangga sekitar sini. Mereka cenderung tidak loyal dan apa ya… oportunis. Standar gaji mereka juga terlalu tinggi menurut saya, si Enas gajinya 100.000/minggu yang menurut teman2 saya di Jakarta dan Alam Sutra ketinggian.

Sementara saya kerjain sendiri deh, dibantuin Pampi tentunya. Wish me luck.

Posted by: @8:16 am Tags: ,
in as a wife | 1 Comment »

28 Sep 2009

A Place Called Home

Lebaran yang baru saja lewat telah membuat banyak keluarga kelimpungan karena ditinggal oleh sang pekerja rumah tangga yang biasa disebut pembantu. Bahkan, ada istilah baru untuk menyebut kelelahan yang menerpa ibu-ibu yang tepar karena harus berada di “her maid’s shoes”, beres-beres rumah, cuci-gosok, masak, mengurus anak, mengajak anak bermain, dan banyak lagi. Istilah itu: flu babu.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca status facebook beberapa teman itu. Teringat saya pada masa-masa ketika saya selalu terserang sindrom lebaranophobia tiap Lebaran menjelang. Panik, karena tiada cara lain selain mengajukan cuti sebab tak mungkin meninggalkan anak di bawah umur tanpa ada yang mengurus.

Juga, pusing karena rumah berantakan, piring-piring kotor, baju-baju kotor menumpuk, sementara baju bersih yang sudah kering seperti menjerit minta disetrika. Jangan lupa, anak juga butuh ditemani main, dimandikan, dan makan tentunya! Oh, begitulah suasana lebaran di rumah-rumah yang ditinggal oleh pembantunya.

Akhirnya, keluarga-keluarga di kota seperti Jakarta ini memilih untuk escape, kabur, melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan dan membuat orang mudah naik darah ini. Mereka memilih meninggalkan sebuah tempat yang mereka sebut rumah.

Padahal, rumah ini mungkin berhasil mereka miliki setelah dengan susah payah menabung dan menyicil. Padahal, rumah seharusnya adalah sebuah tempat yang selalu membuat orang ingin pulang. Mengapa kali ini rumah menjadi sebuah tempat yang membuat orang ingin kabur?

Mengapa rumah jadi berbeda karena ketidakhadiran pembantu? Hotel-hotel di Jakarta dan sekitarnya yang fullybooked, keluarga-keluarga yang ikutan mudik sekedar melarikan diri dari situasi serba tak menguntungkan di rumah, adalah fenomena bahwa rumah tak bisa lagi jadi tempat yang bisa menghilangkan kepenatan selepas kerja keras.

Ah, unik memang manusia ini. Ketika tidak punya rumah, mereka mengeluh, merindukan sebuah tempat berteduh yang membuat hati tentram. Ketika sudah punya rumah, mereka tak betah ketika pembantu; yang sebenarnya bukan anggota keluarga; pulang kampung. Sejatinya, ketika tak ada pembantu, hanya ayah-ibu dan anak-anak, itulah rumah yang sesungguhnya.

Saya jadi bertanya, sebenarnya siapa yang paling menikmati keberadaan rumah itu?

*Saya resmi maidless 10 hari tepat hari ini.*

Posted by: @5:52 am Tags:
in as a unique person | No Comments »

30 Aug 2009

Indonesia Tanah Air Beta

Kompas belum lama ini menurunkan liputan tentang asionalisme di tapal batas Republik Indonesia. Ke-10 tapal batas itu adalah Sawang (NAD), Kepulauan Siberut (Sumbar), Kepulauan Riau, Sanggau (Kalbar), Nunukan (Kaltim), Kepulauan Miangas dan Marore (Sulut), Morotai (Malut), Belu (NTT), Merauke, serta perbatasan Papua-Papua Niugini.

Makin larut dalam bacaan ini, makin terasa jika judul Nasionalisme di Tapal Batas terasa mendua arti, menggugah, menyengat bahwa sungguh sulit menjadi nasionalis di wilayah tapal batas. Sesungguhnya nasionalisme memang sudah di tapal batas, sudah di ujung tanduk. Mereka ini tinggal bersebelahan dengan negara tetangga, mudah saja mereka membelot dari RI, dan memilih mana yang lebih mencintai mereka.

Harga bensin di Miangas mencapai 15.000 rupiah, bandingkan dengan warga Jakarta yang bergelimangan mal, menikmati BBM bersubsidi seharga Rp 4.500. Tanpa BBM nelayan tak bisa melaut, jika ada pun listrik tak selalu ada untuk mengawetkan tangkapan ikan mereka. Sungguh ironi jadi orang Miangas, yang nama pulaunya disebut-sebut dalam jingle kampanye capres 2009, seakan-akan pulau yang megah.

Juga saudara-saudara sebangsa kita yang berbatasan dengan Malaysia, Singapore, Vietnam yang pembangunannya sudah melompat meninggalkan kita. Aneh, mengapa mereka seperti dilupakan oleh pemerintah, padahal mereka adalah tapal batas, wilayah terpinggir republik, penanda kedigdayaan kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Saya yakin banyak negara yang iri dengan potensi kekayaan negara kita ini. Sayang sekali sepertinya telah terjadi mismanagement yang sudah kelewat parah, sehingga rasa nasionalisme ini lama-lama makin terkikis habis hingga ke titik nadir.

Warga pulau Jawa mungkin sulit memahami penderitaan warga di wilayah lain, namun begitulah kenyataannya. Pulau Jawa selalu menjadi fokus pembangunan. Segala kekayaan alam dari penjuru Indonesia mengalir deras untuk membangun pulau Jawa.

Tinggal lima belas tahun di sebuah pulau kecil dekat Sumatra, saya dengan mudah bisa merasakan empati terhadap penduduk tapal batas. Bangka penghasil timah bagi negara ini diperas habis-habisan sementara warga kota kecil Belinyu sampai hari ini masih jua tak bisa menikmati listrik selama 24 jam. Padahal listrik kini telah jadi kebutuhan dasar manusia.

Singkep, Belitung, yang juga penghasil timah, bagai sepah yang dibuang begitu saja karena tak lagi menguntungkan. Dikeruk habis dan ditinggalkan setelah itu. Ke mana larinya semua kandungan perut mereka? Ke pulau Jawa, ke Jakarta dan sekitarnya. Sedikit sekali yang dikembalikan kepada rakyat dalam sebentuk kesejahteraan.

Saya tak benci pulau Jawa. Saya malah amat menyukainya, siapa yang tidak? Pulau Jawa yang hijau dan diberkati dengan tanah yang subur, ditunjang lengkap dengan segala fasilitas.

Di Jawa tanaman begitu mudah tumbuh, bahan makanan begitu mudah didapat sehingga tak perlu membebankan biaya transportasi kepada pembeli. Harga seperempat kilo wortel di pasar Sinpasa Gading Serpong adalah Rp 2.000, sementara di Belinyu bisa mencapai dua setengah kalinya. Demikian juga harga sayuran, mahal!

Makin jauh daerah tersebut dari pusat, makin mahal biaya hidupnya. Papua sendiri dikenal sebagai daerah dengan biaya hidup tertinggi. Tak adil, mengingat pendapatan penduduk di banyak wilayah luar Jawa tak kalah buruknya dari saudara Jawanya.

Jadi, agar tidak menyesal, sebaiknya harus cepat dilakukan perubahan. Bagaimana mungkin bisa menyanyikan lagu Indonesia Tanah Air Beta dengan sepenuh hati jika mereka tak lagi merasa dimiliki oleh negaranya.

Ah, ironi memang.

Posted by: @3:32 pm Tags: ,
in as a unique person | No Comments »

24 Jul 2009

Bu, Inilah yang Dilakukan Oleh Asistenmu Ketika Kau Tak Ada

Sore itu aku mengajak kedua anakku bermain di taman area belakang perumahan kami. Biarlah mereka bermain dengan rumput dan pohon hari ini.

Dalam perjalanan kulihat anak-anak balita bermain di luar rumah didampingi para pengasuh, mungkin pembantu mungkin nanny (babysitter). Hampir semua dari para pengasuh ini begitu asik bicara dengan benda yang menempel di telinganya, handphone. Atau, sibuk memencet-mencet keypad dengan cekatan.

Tiba di taman, anak-anakku segera turun ke rumput dan bermain dengan daun-daun kering, memunguti bunga-bunga jingga yang jatuh ke tanah. Anak laki-lakiku menjadikan daun berjari sebagai kipas, anak perempuanku yang sampai empat belas bulan lalu masih berada di perutku, berjalan terlompat kegirangan di atas tanah berumput. Tak lama bergabung dua anak perempuan bersama kami, langsung main bersama. Sungguh hari yang indah.

Lalu, seorang perempuan yang kutahu pasti adalah pembantu tetanggaku dengan sepuhan rambut pirang lantas datang mendekat, tentu dengan handphone di tangan. Mengambil posisi ngedeprok sembarangan, dia bicara dengan suara keras, “Ayang, kenapa Ayang putusin Saroh*?!!!” *nama disamarkan*

Suasana bak reality show Termehek-mehek menyirnakan keindahan soreku. Entah apa yang dikatakan si Ayang di ujung sana, Saroh tampak mulai histeris, “Ayang ga bisa gitu dong. Waktu itu Saroh ga punya pulsa. Jangan gituin Saroh, dong, bla bla bla…”

Aku meringis. Beginilah potret kehidupan pembantu rumah tangga masa kini. Jika tidak nonton sinetron, atau reality show tak mendidik, mereka sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka berhaha-hihi, dengan temannya, dengan pacarnya, sementara anak yang dipercayakan oleh majikan untuk mereka asuh kadang diabaikan.

Di perumahanku kehadiran mereka sangat terasa. Mereka ada di mana-di mana. Di taman main kompleks, di pinggir kolam renang, mereka begitu mendominasi. Mereka tertawa terbahak-bahak, bergosip, memaki, bersumpah serapah, bergenit-genit dengan tukang bangunan, duduk dengan pose seenaknya, menelepon tiada henti, mata terpaku pada layar sms.

Entah apa yang mereka bisa berikan untuk mengisi jiwa manusia-manusia kecil yang ada di dekat mereka. Secara fisik mereka hadir lebih lama ketimbang orangtua anak-anak itu, yang berarti lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dari si mbak yang tidak merasa perlu memberikan contoh yang layak untuk anak majikannya.

Aku, tidak akan sanggup mempercayakan anak-anakku di bawah asuhan orang-orang seperti ini. Tak rela rasanya jika anak-anakku terus-terusan mendengar kata-kata yang tak layak didengar dan lalu mengganggap itu sebagai hal yang biasa.

Aku sungguh prihatin. Memikirkan masa depan bangsa ini.

Posted by: @3:42 pm Tags: , ,
in as a mom | 1 Comment »

10 Jul 2009

Now is The End of Our 2009 Birthdays Series

Fiuh. Selesai sudah rangkaian ultah keluarga kami.

30 April. Ultah ke-5 Joel kami rayakan bersama dua sahabat kecil Joel (Clay & Evan Lea) dengan acara makan mie dan potong kue. Kuenya saya pesan dari seorang pembuat kue di Tangerang.

28 Mei. Giliran Chloe yang untuk pertama kali dalam hidupnya berulang tahun. Gadis kecil kami ini dihadiahi tumpeng dari Mama. Membuat tumpeng ini juga sudah menjadi pengalaman yang cukup bikin stres saya, maklum ini juga yang pertama. Saya hanya merasa ini ultah pertama, harusnya ada yang spesial, ya itu lah.. tumpeng nasi kuning yang dibuat dalam ukuran kecil dan dibagikan ke beberapa tetangga.

Ah ya, dengan berusia satu tahun ini, berarti Chloe juga sudah menyelesaikan satu tahun ASI bersama Mama, dan akan lanjut sampai tahun ke-2. Jadi, gelar Chloe saat ini adalah: S.ASIx, M.ASI :) hihihihi. Fotonya menyusul ya, belum sempat utak-atik lagi (males tepatnya).

8 Juni. Papa ultah ke-33. Saya merasa tak sanggup berpikir sehingga hanya bisa mempersembahkan sup kepiting asparagus agar ada yang spesial hari itu.

14 Juni. Hari jadi pernikahan ke-6. Waaah.. sudah enam tahun ya. Rasanya belum selama itu deh. :) Kami lewatkan hari ini dengan mendatangkan khusus seorang babysitter dari Tanjung Duren, sehingga kami bisa menikmati saat berduaan saja. Makan malam di Frankfurter di Downtown-nya Mall Serpong (asik lho, harus diulangi lagi nih nongkrong di sini), ditutup dengan acara nonton Star Trek di mal yang sama.

30 Juni. Saya kebagian jatah terakhir. Ultah ke-33 juga dan rasanya sudah tuaaaa banget. Karena ini adalah penutup, kami pergi berempat untuk makan malam di tempat yang agak spesial bagi budget kami. Kami pergi ke restoran Jepang Hokkaido di Aryaduta Karawaci. Makanannya enak, tapi premium sekali harganya. O ya, suasana di Aryaduta sini juga menyenangkan di malam hari.

Posted by: @6:00 pm Tags: ,
in as a mom | No Comments »

10 Jul 2009

Menyoal Feminisme

Soe Tjen Marching menulis di Kompas 10 Juli 2009 tentang feminisme berjudul Antara Keharusan dan Pilihan.

Adalah buku The Feminine Mystique (1963) karya seorang Betty Friedan yang dijadikan landasan tulisannya. Friedan ‘menemukan’ bahwa pada jamannya banyak perempuan yang menderita gangguan mental karena DIHARUSKAN menjadi Ibu Rumah Tangga.

Menurut Friedan, keharusan itu membuat para perempuan itu terkurung dalam dunia yang sempit, dan kehilangan kesempatan memperoleh kepuasan diri dalam karier dan harus menjalani hidup bagi kebahagiaan orang lain.

Saya tidak tahu apa yang dialami para ibu di tahun 60-an, tapi setahu saya tulisan ini jika dibaca di masa ini rasanya terlalu menghakimi dan tidak mewakili aspirasi semua perempuan khususnya yang memiliki anak.

Saya akan mengambil beberapa contoh yang saya temukan, baik pengalaman pribadi, teman dalam dunia nyata atau pun dalam mailing list yang saya ikuti. Mungkin datanya tidak representatif, tapi ini adalah kenyataan di lapangan.

Tiga ibu yang tinggal tak jauh dari rumah saya menemukan kebahagiaannya karena bisa dekat dengan anak, dua di antaranya pernah berkarier di luar rumah. Ibu yang satu lagi, setelah memiliki tiga anak, semakin menikmati perannya dan walau merasa sempat ‘terpaksa’ harus belajar masak, kini dia sudah piawai masak dan puas melihat anaknya menyukai masakannya.

Di sebuah mailing list yang mayoritas anggotanya adalah ibu, beberapa anggotanya meninggalkan pekerjaannya untuk berwirausaha dari rumah, agar bisa dekat dengan anak. Juga beberapa anggota mengeluh karena sangat ingin bisa tinggal di rumah sedangkan kondisi finansial tidak mendukung, mereka bahkan menyatakan ‘kecemburuannya’ kepada baby sitter, pembantu dan kepada temannya yang sudah lebih dulu menjadi what-so-called ibu rumah tangga.

Saya tidak mengerti mengapa jika seorang ibu tinggal di rumah, lantas ia disebut terkungkung, tidak bisa mendapat kepuasan diri dari berkarier dan hidup untuk kebahagiaan orang lain. Memangnya ada yang salah jika kita hidup untuk orang lain? Bukankah begitu banyak orang (atau pekerja sosial) yang menemukan kepuasan batinnya karena hidup dan bekerja untuk kebahagiaan orang lain?

Apalagi jika pilihan menjadi ibu rumah tangga ini diambil untuk kebahagiaan keluarga, untuk anaknya. Seorang ibu bukan secara kebetulan adalah pihak yang mengalami kehamilan, mengalami hubungan misterius dengan janin yang tak bisa bicara tapi bisa merespon balik, yang harus melahirkan (dan mungkin memilih untuk menyusui) anak yang telah dikandungnya. Ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dialami oleh laki-laki, dan ini jugalah yang saya duga membuat seorang ibu seakan-akan punya kontak batin dengan anaknya.

Lalu, apakah menjadi ibu rumah tangga untuk memastikan anaknya terurus, terdidik dengan baik adalah sebuah kebodohan? Memang di beberapa belahan dunia ada kasus ekstrim diskriminasi hak perempuan yang mengatasnamakan martabat pria, namun menurut saya ini tidak bisa disamaratakan begitu saja.

Di masa materialisme ini, ketika segala sesuatu diukur dengan uang, pria mungkin lebih senang jika istri punya penghasilan sendiri dan turut berkontribusi dalam keuangan keluarga. Namun ketika anak yang tidak pernah minta dilahirkan itu hadir bersama segala konsekuensinya, masalah-masalah mulai muncul.

Sepasang orangtua bekerja di luar rumah mendatangkan sebuah konsekuensi, harus ada pengganti fungsi mereka dalam merawat dan mendidik anak saat mereka tidak di rumah. Si pengganti ini (baby sitter/pembantu) kerap juga menciptakan masalah baru dan membuat majikannya lintang pukang ketambahan persoalan.

Soe Tjen mempersoalkan masalah keharusan seorang ibu menjadi ibu rumah tangga. Yang benar si ibu melakukannya atas dasar pilihan sendiri bukan karena sebuah keharusan, katanya. Jika ibu memilih menjadi career woman, so be it, jika ingin jadi ibu rumah tangga, ya harus dihargai, karena itu adalah pilihan yang mereka buat. Begitu.

Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya. Ibu sangat ingin menjadi ibu rumah tangga namun dia diharuskan bekerja, karena gajinya sangat dibutuhkan? Bukankah akhirnya itu menjadi sebuah keharusan juga, tak lagi menjadi sebuah pilihan baginya?

Saya memang memilih menjadi ibu yang tinggal di rumah, dan saya sangat menikmati peran saya ini. Kepuasan yang saya dapat dalam dua tahun setengah tahun terakhir ini melampaui kepuasan yang saya peroleh dari ‘ngantor’ selama tujuh tahun.

Namun pilihan ini saya buat karena saya merasa harus. Jadi keharusan yang membuat saya memilih.

Saat menatap wajah anak saya yang baru satu dan berusia tiga tahun saat itu, saya merasa harus memilih untuk mendampinginya. Saat berhitung berapa waktu yang telah dan akan dia lalui tanpa saya dan saya tanpa dia, saya merasakan sebuah keharusan bagi saya untuk mengambil sebuah tanggung jawab. Dia tidak pernah minta dilahirkan. Mengapa saya begitu egois mengejar kepuasan diri dan membiarkan dia dalam asuhan orang lain padahal secara finansial kami bisa melakukan penyesuaian? Saya telah memilih dan merasa telah mengambil pilihan terbaik walau masa adaptasi terasa begitu panjang dan sulit. Bukankah memang begitu saat kita berada di tempat baru, apalagi jika ada perubahan radikal seperti ini.

Jadi bagaimana, menjadi ibu rumah tangga itu keharusan atau pilihan?

Posted by: @5:43 pm Tags: , ,
in as a unique person | No Comments »

24 Jun 2009

It’s a Small World After All

Eventually, Facebook has narrowed-down this whole wild world to a screen in front of you (or 19″ flat screen in my case).

Isn’t it a bit strange to bump into someone from our past in this cyberworld? Especially if s/he is someone you wish you would never have to see again in the rest of your life.

I had a thought how FB may ruin someone’s peaceful life. Just think about this.

One day, you got an invitation in your FB from a long lost friend, trying to reconnect with you. Phew! What a small world!

So there you are, browsing through your friend’s facebook profile. Then you click his/her photo album, just to find that this friend has been with someone from your past, the one I mentioned before, someone you want to forget.

You sit back, clear your throat and continue your investigation. Awaken by this weird enthusiasm, you wait hungrily if next pictures will bring you another surprises.

Wow, they have children! Your jaw dropped and you don’t know how to react. Are you going to approve your long-lost friend request? To reconnect with you?

Tell me. I want to know.

Posted by: @6:24 pm Tags:
in as a unique person | 2 Comments »

20 Jun 2009

Lausin Mani di Beijing

“Lausin mani.”

“Whaaat?”

“Lausin mani,” kata si enci sambil memencet-mencet kalkulator di tangannya.

Omigod, setelah beberapa kali dilausinmani-kan oleh beberapa pedagang, akhirnya saya mengerti. Lausin mani adalah loosing money alias rugi.. kakakaka. Ini jelas adalah bahasa Inggris yang diterjemahkan harafiah dari bahasa Cina. Saya ga yakin kata loosing money digunakan oleh para penutur asli bahasa Inggris untuk menyatakan bahwa dirinya rugi jika memberi harga segitu.

Beijing adalah kota yang sangaaat menarik untuk belanja. Barang-barang tiruan merk terkenal bertebaran di kota ini. Dari KW1 sampai KW ga jelas. Harus pintar menawar, jika tidak kita-lah yang bakal lausin mani.

lausin-mani

Foto yang atas adalah situasi kaki lima di Mu Tian Yu, sebuah kota yang menjadi salah satu pintu masuk Tembok Raksasa, sekitar 70km dari Beijing. Kata lausin mani jelas terdengar bergaung di sana-sini.

Foto yang bawah adalah situasi kaki lima di Wang Fu Jing, Beijing. Tempat yang menyenangkan untuk pejalan kaki, karena sebagian besar areanya bebas dari kendaraan bermotor. Bangku panjang juga tersedia untuk yang ingin istirahat. Udaranya terasa bersih di sini. Kapan ya Jakarta bisa kayak gini?

Hmmmhhh.. kangen bisa jalan-jalan ke negeri orang lagi. Kapan ya bisa lagi?

Related Posts with Thumbnails

Posted by: @10:31 am Tags:
in as a unique person | 1 Comment »


about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe