Fri, 30 Jul 2010; 02:37:59 AM

Posts Tagged ‘ASI’

ASI Ekslusif Adalah Hak Anak, Lalu Apalagi = Just a Thought.

Thursday, August 21st, 2008

Akhir-akhir ini ASI-X (Asi Ekslusif) terdengar santer. Dan, yang namanya IMD/ELO* mewabah di kalangan seleb dan semakin gencar gaungnya berkat yang namanya infotainment.

*IMD – Inisiasi Menyusu Dini / ELO – Early Latch On

ASI-X adalah memberikan hanya ASI saja kepada bayi sampai 6 bulan pertama dalam hidupnya. Hanya ASI saja berarti ya hanya air susu ibu saja, air putih tidak, apalagi air kanji. :)

ASI-X pun mulai digalakkan. Pekan ASI yang baru lalu pertengahan Agustus kemarin, diramaikan dengan momen-momen kampanye ASI. Ya, ASI jelas yang terbaik untuk kehidupan seorang manusia baru. Tidak diragukan lagi.

Namun, diam-diam saya merasa jengah. Saya menangkap adanya rasa ‘lebih’ dari segelintir orang yang karena berhasil melakukan ASI-X jadi cenderung menghakimi ibu yang tidak memberikan ASI pada anaknya. Kadang bahkan cenderung menyerang. Padahal, setiap ibu pasti ingin memberi yang terbaik pada anaknya. Tapi, jika dia memilih untuk tidak memberikan ASI, saya rasa itu adalah pilihannya. Kecuali jika dia sangat ingin memberi tapi tidak tahu bagaimana caranya, itu yang perlu dibantu, dimotivasi. Demikian juga mereka yang karena ketidaktahuannya sehingga banyak dipengaruhi oleh opini orang/media.

Menyusui adalah hal yang sangat alami, sangat natural, desain dari Sang Pencipta. Senatural seekor induk binatang yang berbaring dan membiarkan anak-anaknya berkerumun menyusu pada dirinya. Jadi, rasanya tidak perlu berlebihan bangga jika kita bisa menyusui anak kita. Bukankah memang begitu seharusnya?

Kampanye ASI-X juga menyebut ASI sebagai hak anak. Rasanya sedikit kurang pas, karena saya ingin bertanya bagaimana dengan hak anak untuk menikmati ibunya? Bersediakah para ibu meninggalkan karirnya untuk ini? Bukankah ini hal yang alami juga? Mengasuh anak sendiri?

Apakah hak anak berhenti hanya sampai ASI-X saja? Apakah dia tidak punya hak untuk menikmati ibunya kapan saja, let’s say sampai 2 tahun – seperti kampanye ASI-X: berikan ASI sampai setidaknya 2 tahun? Bolehkah dia menikmati diasuh oleh ibunya saja? Bukan mbak, bukan baby sitter, bukan oma? Berhakkah si bayi menerima pelukan ibunya setiap kali dia rindu/takut/tidak nyaman sampai… 2 tahun?

Pasti ada yang tidak setuju. Pasti. Lha, saya sendiri meninggalkan bayi saya untuk kembali bekerja pada waktu usianya 3 bulan, kok. Selain alasan finansial, kan ada kebutuhan si ibu untuk mengaktualisasikan diri? Bagaimana dengan kebutuhan sosialasi, de el el?

Hari-hari ini saya banyak merenung, apa saja sih hak anak (baca: bayi) itu? Bukankah Tuhan menciptakan keluarga itu: suami, istri, dan sebagian diberkati dengan anak. Mengapa cukup banyak kaum saya (ibu) yang dengan kesadaran sendiri menyerahkan kepengasuhan anaknya kepada pihak lain? Mengapa sampai ada buku yang ditulis khusus untuk para ibu bekerja (kantoran) bahwa mereka juga bisa tetap mendidik anaknya walau bekerja (di kantor)? Bukankah mengasuh, mendidik anak memang adalah tanggungjawab orangtua (ibu salah satunya)?

Alasan-alasan meninggalkan kepengasuhan anak pada orang lain:

Finansial
Kebutuhan finansial adalah alasan utama seorang ibu bekerja mencari income, dan meninggalkan bayi (atau anaknya) untuk waktu yang cukup lama.

Namun, sebaiknya dicermati, kebutuhan finansial ini timbul karena gaya hidup konsumerisme atau apa. Saya menemukan cukup banyak keluarga yang memilih hidup hemat dan berusaha tidak terpengaruh dengan kehidupan materialistis. Google dengan keyword: frugal living

Aktualisasi Diri
Saat berada di kantor, ada waktu-waktu tertentu saya ‘lupa’ saya ini seorang ibu, yang mempunyai seorang batita yang mungkin sedang berpikir di mana mamanya sekarang.

Bangga rasanya bisa berkiprah di dunia kerja, walau sudah punya anak. Buat apa saya disekolahkan sampai jenjang sarjana, begitu pikir saya.

Saat ini, dua tahun kemudian, saya menganggap bahwa aktualisasi diri saya adalah menjadi ibu, menjadi pendidik, menjadi manager atas keberlangsungan hidup di rumah kami, menjadi tempat bertanya dan mengadu anak-anak.

Tapi saya juga terus mengejar minat saya. Saya sedang keranjingan belajar lebih dalam dari apa yang sedang Joel pelajari. Saya juga berusaha terus menggunakan tools yang saya gunakan waktu bekerja dulu.

Mengembangkan skill (baru atau lama), mengetahui kabar dunia, tetap harus seorang ibu lakukan. Karena jika ibu tidak menyenangi dirinya, tidak puas dengan dirinya, ia akan mengirim pesan yang salah buat suami, buat anak-anaknya, buat orang-orang di sekitarnya.

Hei, ini hanya sebuah pemikiran yang melantur ke mana-mana, jangan diambil pusing. Tidak sedang menghakimi siapa pun, hanya sedang berbicara dengan diri sendiri.

On The Way to ASI-X

Monday, June 30th, 2008

Sudah sebulan berlalu dan dengan bangga saya umumkan saya berhasil bertahan untuk tetap memberi Chloe ASI dan ASI saja (sempat kecolongan juga sih). Omigod :D . Ini adalah perjuangan :p

Ini dua teori dan kenyataan yang semoga bisa memberi pandangan tentang ASI-X (X=exclusive).

Teori: Memberi ASI mudah
Fakta: Memang mudah, tinggal menyibak baju. Tapi… tidak mudah untuk selalu ada bagi mulut kecil yang lapar itu- mengingat saya adalah ibu yang berada di rumah (Stay at Home Mom). Kadang saya ingin istirahat, ingin browsing, ingin blogging, ingin main ke mall, ingin main sama kakaknya, ingin makan, ingin ke salon, ingin punya waktu buat diri sendiri…. Belum lagi menghadapi kerepotan menyusui di tempat umum. Untuk mengatasi ini, carilah pakaian dan perlengkapan yang menunjang.

Dalam kasus saya, pemberian ASI-X membuat waktu saya untuk Joel berkurang. Kadang Joel protes, “Kok lama?” Ya, karena Chloe jenis yang menyusu sangat lama, bisa sejam lebih.

T: Tidak mungkin ASI kurang
F: Ada kalanya bayi bertingkah seperti tidak pernah cukup. Ada kalanya bayi selalu ingin menyusu, selalu lapar. Dengan sedikit membaca, kita jadi tahu bahwa ada yang disebut dengan growth spurt – lonjakan pertumbuhan. Yang terjadi adalah bayi memastikan persediaan susu akan cukup baginya, karena dia akan bertumbuh pesat dalam hari-hari ke depan. Bagaimana caranya? Ya menyusu lebih banyak, karena hukum ASI sama dengan hukum dagang: supply on demand: banyaknya persediaan ditentukan oleh banyaknya permintaan.

T: ASI murah
F: Ini betul sekali, dalam artian tidak butuh uang banyak. Cuma, saya sering bingung dengan ketersediaan pangan, maklum, yang bertanggungjawab menyediakan makanan untuk seisi rumah adalah saya. Kalau untuk ke pasar dan masak saja saya belum bisa curi waktu.. rasanya susaaah. Kompensasinya saya minum susu yang buanyak. Lalu pesan katering untuk sementara.

Hari-hari pertama adalah hari-hari tersulit. Lecet-lecet sering terjadi pada masa ini, karena perlekatan yang belum baik, dan karena ‘alat’ menyusuinya belum berhasil beradaptasi. Belum lagi hormon pasca melahirkan yang mendera. Sulit. Sekarang saya mengerti mengapa banyak ibu yang menyerah untuk menyusui. Jika kita menyerah di titik ini, maka otomatis persediaan ASI kita pun menipis. Inilah yang sering dijadikan alasan: ASI tidak cukup.

Saya mau membuat pengakuan, sempat berpikir lebih baik si bayi diberi sufor saja, karena sufor bisa diberikan oleh orang lain sehingga saya bisa lebih bebas ngapa-ngapain. Tapi sufor jelas lebih merepotkan dalam penyiapannya, sehingga kalau mau bebas, harus hire orang. Pengeluaran jadi ganda: sufor itu sendiri + gaji asisten

Walau begitu… pikiran ini tidak saya biarkan untuk dibuahi. Saya hanya perlu mengingatkan diri, jika saya mampu, saya harus terus berusaha, karena demikianlah desain Tuhan. Manusia = makhluk menyusui dan mungkin manusia pula satu2nya mamalia yang mengijinkan keturunannya disusui oleh makhluk lain :)

Mzm. 8:2 (8-3) Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Mat. 21:16 lalu mereka berkata kepada-Nya: “Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?”

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe