Fri, 30 Jul 2010; 02:45:16 AM

Posts Tagged ‘asisten’

Bu, Inilah yang Dilakukan Oleh Asistenmu Ketika Kau Tak Ada

Friday, July 24th, 2009

Sore itu aku mengajak kedua anakku bermain di taman area belakang perumahan kami. Biarlah mereka bermain dengan rumput dan pohon hari ini.

Dalam perjalanan kulihat anak-anak balita bermain di luar rumah didampingi para pengasuh, mungkin pembantu mungkin nanny (babysitter). Hampir semua dari para pengasuh ini begitu asik bicara dengan benda yang menempel di telinganya, handphone. Atau, sibuk memencet-mencet keypad dengan cekatan.

Tiba di taman, anak-anakku segera turun ke rumput dan bermain dengan daun-daun kering, memunguti bunga-bunga jingga yang jatuh ke tanah. Anak laki-lakiku menjadikan daun berjari sebagai kipas, anak perempuanku yang sampai empat belas bulan lalu masih berada di perutku, berjalan terlompat kegirangan di atas tanah berumput. Tak lama bergabung dua anak perempuan bersama kami, langsung main bersama. Sungguh hari yang indah.

Lalu, seorang perempuan yang kutahu pasti adalah pembantu tetanggaku dengan sepuhan rambut pirang lantas datang mendekat, tentu dengan handphone di tangan. Mengambil posisi ngedeprok sembarangan, dia bicara dengan suara keras, “Ayang, kenapa Ayang putusin Saroh*?!!!” *nama disamarkan*

Suasana bak reality show Termehek-mehek menyirnakan keindahan soreku. Entah apa yang dikatakan si Ayang di ujung sana, Saroh tampak mulai histeris, “Ayang ga bisa gitu dong. Waktu itu Saroh ga punya pulsa. Jangan gituin Saroh, dong, bla bla bla…”

Aku meringis. Beginilah potret kehidupan pembantu rumah tangga masa kini. Jika tidak nonton sinetron, atau reality show tak mendidik, mereka sibuk dengan telepon genggamnya. Mereka berhaha-hihi, dengan temannya, dengan pacarnya, sementara anak yang dipercayakan oleh majikan untuk mereka asuh kadang diabaikan.

Di perumahanku kehadiran mereka sangat terasa. Mereka ada di mana-di mana. Di taman main kompleks, di pinggir kolam renang, mereka begitu mendominasi. Mereka tertawa terbahak-bahak, bergosip, memaki, bersumpah serapah, bergenit-genit dengan tukang bangunan, duduk dengan pose seenaknya, menelepon tiada henti, mata terpaku pada layar sms.

Entah apa yang mereka bisa berikan untuk mengisi jiwa manusia-manusia kecil yang ada di dekat mereka. Secara fisik mereka hadir lebih lama ketimbang orangtua anak-anak itu, yang berarti lebih banyak kesempatan bagi anak-anak untuk belajar dari si mbak yang tidak merasa perlu memberikan contoh yang layak untuk anak majikannya.

Aku, tidak akan sanggup mempercayakan anak-anakku di bawah asuhan orang-orang seperti ini. Tak rela rasanya jika anak-anakku terus-terusan mendengar kata-kata yang tak layak didengar dan lalu mengganggap itu sebagai hal yang biasa.

Aku sungguh prihatin. Memikirkan masa depan bangsa ini.

Belanja di Hipermarket Tanpa Bawa Asisten

Friday, October 17th, 2008

Sejak awal 2007 saya sudah terbiasa belanja berdua saja dengan Joel yang waktu itu berumur 2 tahun jalan 3 tahun.

Repot? Tentu.. Apalagi jika dia sudah mulai lari ke sana-sini. Pontang-pantinglah saya harus mengejarnya, kalau hilang di tempat seperti ini kan bisa berabe.

Maka. Saya punya pekerjaan besar untuk melatihnya agar tidak berada lebih dari radius 1m dari saya :D . Sukses? Lumayan.

Akhirnya, saya jadi sangat terbiasa berbelanja bersama anak dengan segala kesetresannya. Biasanya habis mengantar Pampi, kami mampir ke hipermarket di sebelah kantornya. Di sana kami bisa melewatkan waktu berjam-jam, maklum dapat parkir gratis, fasilitas dari kantor Pampi.

Nah. Sekarang anak saya sudah dua, yang satu masih bayi. Saya jadi sering merindukan lagi kegiatan strolling over the aisles in the hypermarket.

Kalau mau tunggu Pampi, harus weekend, dan biasanya belanja sama kaum pria khususnya yang sejenis dengan Pampi ini kurang fun, karena mereka sangat target-oriented di sini. Sedangkan saya tergolong pada kaum yang bisa melepaskan kejenuhan di hipermarket. Hipermarket adalah salah satu tempat rekreasi saya. Kadang saya bisa tidak beli apa-apa di sini.

Lalu, hari ini saya putuskan untuk mengklaim kembali hak saya atas penggunaan mobil satu-satunya kami ini. Berangkat berempat dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, kami berangkat ke Menara Asia Lippo Karawaci.

Chloe saya gendong, karena saya berencana menggunakan baby-trolley. Untung ada… sayangnya susah banget ngambilnya. Saya harus bermanuver dengan satu tangan, tidak ada satu pun petugas yang berinisiatif menolong si ibu ini.

Chloe baring di tempatnya, Joel masuk ke dalam troli. Kami bertiga pun belanja. Si bayi sama sekali tidak rewel, dia bahkan tidur pulas, yang mana hal ini hampir tidak pernah terjadi pada baby Joel, yang selalu ingin mempelajari hal-hal baru di luar rumahnya.

Selesai belanja, saya ditahan oleh dua orang petugas security. They wanted the trolley back. Saya bilang, bolehkah saya pinjam trolinya sampai di tempat parkir? Mobil saya parkir sangat dekat dengan pintu. Mereka bilang tidak boleh. Peraturan adalah peraturan.

They suggested me to carry the baby Chloe with one hand, while the other hand to push the trolley and Joel be seated in the trolley. Have they lost their mind? Si security#1 (sambil menarik troli bayi) tanya, bagaimana cara saya masuk tadi. Saya bilang, tadi saya kan ga bawa belanjaan. Saya sudah mulai kesal dan mulai merencanakan untuk mogok makan demo masak kecil dan berdiri di sana terus sampai mereka carikan saya solusi.

Kemudian security#2 punya ide dan memanggil trolley boy. Troli boi bantuin saya mendorong troli biasa (troli bayi udah diambil dengan secepat kilat), dan bantuin saya masukin barang ke dalam mobil. Si troli boi usil ini sempat nanya, “Suaminya mana, Bu.” Saya jawab dengan sedikit banyak pedas, “Kerja.” Hei.. ini kan hari kerja dan jam kerja. Tapi, pastinya, saya berikan sedikit tip untuk kebaikan si troli boi.

Kesimpulan: hipermarket2 di sini memang tidak ramah anak.

Pertama, troli bayinya pun sebenarnya tidak akan lolos standar kelayakan untuk keamanan seorang bayi. Tempat berbaring bayinya tidak dilengkapi dengan safety belt, kemungkinan dulu pernah ada tapi dah copot.

Kedua, Anda diharapkan untuk belanja dengan membawa asisten (sekretaris/manajer/PRT/nanny/governess/supir/tukang kebun). Jika Anda tidak punya asisten, lebih baik tunggu weekend. Harap diingat kalau pada hari-hari itu, hipermarket2 di Jakarta dan sekitarnya bersituasi seperti kolam cendol, yang lagi2 pasti tidak nyaman buat bayi dan anak kecil.

Jadi.. sebaiknya punya asisten kalau mau belanja di hipermarket.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe