Fri, 30 Jul 2010; 02:21:04 AM

Posts Tagged ‘books’

Exciting Job: Book Reviewer

Monday, August 11th, 2008

Sebulan lalu, berkat kebaikan teman baru saya Phoenix, saya dikirimin segepok buku terbitan Wortel Books, tepatnya 18 buah buku cerita anak. Tugas saya, mereview ke-18 buku ini, phew… :D

Untuk tugas yang menyenangkan ini, saya mendapat ke-18 buku ini for free. Asyik banget, kan? Pilihan bukunya jelas buku berkualitas, saya lihat cukup banyak dari Penguin, beberapa penulisnya juga adalah peraih award. Bukunya lucu2, ilustrasinya bagus2… gratis lagi. Oh ya, Wortel juga mulai menerbitkan buku karangan penulis Indonesia.

Tadinya saya tidak pernah dengar tentang penerbit satu ini. Kenalnya gara-gara adik saya Rita memberikan Joel hadiah sebuah buku berkertas karton tebal (board book) yang lucu sekali. Judulnya When The Elephant Walks, yang ditulis dan dibuat ilustrasinya oleh seorang Amerika keturunan Jepang Keiko Kasza. Berkesan sekali dengan buku itu karena sempat selama seminggu lebih saya dan Pampi harus bacain (atau nemanin dia baca) itu buku sehari dua kali, pengantar tidur siang dan malam. Berkat buku bilingual ini juga Joel jadi lebih pede baca buku berbahasa Inggris.

Ok, inilah foto buku2 yang sudah berhasil saya review, di sini hanya ada 15, masih ada 3 di kamar Joel.

wortelbooks

Thanks berat ya Nix.. makasih ya Wortel. Buku-buku ini sangat berharga untuk keluarga homeschooler seperti kami.

Tintin Cita Rasa Baru dari GPU

Tuesday, May 13th, 2008

tintin-snowyIseng-iseng googling.. ketemu cukup banyak blog yang ngulas tentang si jambul ini. Sama… saya juga lagi kena demam Tintin…

Gara-garanya di tempat les gambar Joel, ada penyewaan buku. Yang punya itu penggemar Tintin (Asterix, Smurf, dll), jadi dia sewakanlah koleksinya – masih terbitan Indira. Wah, kenangan masa ABG jadi bangkit lagi. Sejuta topan badai! Tintin emang ngangenin. Hehehehe.

Tak berapa lama kemudian, Tintin terbitan GPU mulai diberitakan. Tampilannya sih meyakinkan sekali, ukuran lebih handy, kertasnya bagus dan terkesan rapih sekali. Apalagi ada 3 judul yang belum pernah kita dengar, Tintin di Sovyet, Congo, dan Alpha-Art. Tapi, sampai saat ini kita belum berniat beli, harganya cukup tinggi.

Untung si pemilik persewaan membelinya dan kita pun langsung menyewanya (ID saya tertera pada urutan pertama di daftar mereka untuk Tintin di Congo). Waduh, shock saya bacanya. Serasa menonton dagelan Srimulat, slapstick banget. Sampai tidak percaya buku ini dibuat oleh Hergé yang menulis Tintin dan Lotus Biru begitu cantiknya. Ini membuat saya kembali meng-google informasi tentang ini. Ternyata, waktu itu Hergé masih muda dan polos, opininya masih bentukan masyarakat kulit putih pada masa itu (tahun 30-an) yang punya stereotip negatif tentang Afrika dan bangsa kulit hitam.

Catatan: Congo pernah berubah nama jadi Zairé, yang kemudian dikembalikan lagi namanya jadi Congo. Syukurlan, jadi karya Hergé tidak perlu diganti judulnya.

Menarik juga ya, melihat pendewasaan cara berpikir Hergé lewat Tintin. Hergé bisa lepas dari pandangan imperialisnya dan menunjukkan sikap yang 180 derajat berbeda, dengan melukiskan persahabatan tulus antara Tintin dengan Chang, juga beberapa tokoh non-kulit putih lain. Membaca Tintin edisi-edisi berikutnya sangat memperkaya pengetahuan, karena dia bukan komik biasa yang hanya sekedar menghibur.

Untuk terbitan GPU sendiri, terlepas dari berubahnya nama-nama tokoh yang sudah kita kenal lebih dulu lewat Indira – karena beda sumber, GPU dari bahasa asli penulis, Indira dari edisi bahasa Inggris, saya merasa terjemahan Tintin kali ini kurang kuat, agak hambar dan datar. (Maaf ya Donna).

Terjemahan Indira terasa lebih hidup, karakter2 digambarkan dengan sangat baik, sangat kuat. Tintin yang idealis, Haddock yang pemarah, Kalkulus (Lakmus) yang ga nyambung karena budeg, Snowy (Milo) yang nakal, terasa begitu hidup dan nyata. Sementara buku dari GPU ini seolah-olah sedang diceritakan ulang oleh seorang narator tanpa penjiwaan yang dalam, padahal tokoh-tokoh ini sudah telanjur diakrabi masyarakat kita lewat terjemahan Indira (Indira tidak pernah menyebut siapa nama penerjemah Tintin).

Mungkin GPU (penerjemah & editor) perlu melakukan riset karakter dan tidak terlalu harafiah dalam menerjemahkannya. Seperti dalam Penerbangan 714 oleh Indira, Tintin berpetualang di Indonesia. Di buku ini walau sebagian fiksi, penerjemah memasukkan unsur-unsur lokal seperti sambel ulek, dll yang pasti tidak akan terpikirkan oleh Hergé.

Tapi, memang menurut saya, menerjemahkan komik lebih sulit ketimbang menerjemahkan novel. Ketika membaca novel, si pembaca bebas berimajinasi, sementara komik ada gambarnya, imajinasinya jadi terbatas. Karena itu terjemahannya harus pas dengan intepretasi pembaca akan gambar yang dia lihat.

Asterix & Obelix adalah contoh bagaimana Ibu Rahartati Bambang (Indira) sangat bisa menjiwai sekali karakter-karakter Galia ini. Tidak bisa saya bayangkan jika Asterix diterjemahkan oleh saya misalnya :D hhehehehehee. Dijamin garing.

Bagaimana pun juga, usaha GPU untuk menghadirkan kembali Tintin walau dengan cita rasa beda ini perlu diacungi jempol. Khususnya dengan menerbitkan karya awal Hergé – Sovyet, Congo, dan juga untuk karyanya AlphaArt (Alph-Art) yang tidak sempat diselesaikan karena meninggal setelah seminggu koma.

Dengan adanya Tintin versi GPU, setidaknya anak-anak sekarang punya alternatif komik yang lebih ‘berisi’ ketimbang manga-manga ala Jepang. Seperti yang saya bilang di atas, habis baca Tintin, kita pasti diperkaya dengan pengetahuan baru.

Buat yang masih asing dengan Tintin, pelajari dulu di sini: http://www.tintinologist.org/guides/

Beberapa link yang saya baca:
1. The Cult of Tintin
2. Tintin di Indonesia
3. Sangkelana
4. Dan Wikipedia tentunya :)

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe