Fri, 30 Jul 2010; 02:25:58 AM

Posts Tagged ‘family’

Now is The End of Our 2009 Birthdays Series

Friday, July 10th, 2009

Fiuh. Selesai sudah rangkaian ultah keluarga kami.

30 April. Ultah ke-5 Joel kami rayakan bersama dua sahabat kecil Joel (Clay & Evan Lea) dengan acara makan mie dan potong kue. Kuenya saya pesan dari seorang pembuat kue di Tangerang.

28 Mei. Giliran Chloe yang untuk pertama kali dalam hidupnya berulang tahun. Gadis kecil kami ini dihadiahi tumpeng dari Mama. Membuat tumpeng ini juga sudah menjadi pengalaman yang cukup bikin stres saya, maklum ini juga yang pertama. Saya hanya merasa ini ultah pertama, harusnya ada yang spesial, ya itu lah.. tumpeng nasi kuning yang dibuat dalam ukuran kecil dan dibagikan ke beberapa tetangga.

Ah ya, dengan berusia satu tahun ini, berarti Chloe juga sudah menyelesaikan satu tahun ASI bersama Mama, dan akan lanjut sampai tahun ke-2. Jadi, gelar Chloe saat ini adalah: S.ASIx, M.ASI :) hihihihi. Fotonya menyusul ya, belum sempat utak-atik lagi (males tepatnya).

8 Juni. Papa ultah ke-33. Saya merasa tak sanggup berpikir sehingga hanya bisa mempersembahkan sup kepiting asparagus agar ada yang spesial hari itu.

14 Juni. Hari jadi pernikahan ke-6. Waaah.. sudah enam tahun ya. Rasanya belum selama itu deh. :) Kami lewatkan hari ini dengan mendatangkan khusus seorang babysitter dari Tanjung Duren, sehingga kami bisa menikmati saat berduaan saja. Makan malam di Frankfurter di Downtown-nya Mall Serpong (asik lho, harus diulangi lagi nih nongkrong di sini), ditutup dengan acara nonton Star Trek di mal yang sama.

30 Juni. Saya kebagian jatah terakhir. Ultah ke-33 juga dan rasanya sudah tuaaaa banget. Karena ini adalah penutup, kami pergi berempat untuk makan malam di tempat yang agak spesial bagi budget kami. Kami pergi ke restoran Jepang Hokkaido di Aryaduta Karawaci. Makanannya enak, tapi premium sekali harganya. O ya, suasana di Aryaduta sini juga menyenangkan di malam hari.

Belanja di Hipermarket Tanpa Bawa Asisten

Friday, October 17th, 2008

Sejak awal 2007 saya sudah terbiasa belanja berdua saja dengan Joel yang waktu itu berumur 2 tahun jalan 3 tahun.

Repot? Tentu.. Apalagi jika dia sudah mulai lari ke sana-sini. Pontang-pantinglah saya harus mengejarnya, kalau hilang di tempat seperti ini kan bisa berabe.

Maka. Saya punya pekerjaan besar untuk melatihnya agar tidak berada lebih dari radius 1m dari saya :D . Sukses? Lumayan.

Akhirnya, saya jadi sangat terbiasa berbelanja bersama anak dengan segala kesetresannya. Biasanya habis mengantar Pampi, kami mampir ke hipermarket di sebelah kantornya. Di sana kami bisa melewatkan waktu berjam-jam, maklum dapat parkir gratis, fasilitas dari kantor Pampi.

Nah. Sekarang anak saya sudah dua, yang satu masih bayi. Saya jadi sering merindukan lagi kegiatan strolling over the aisles in the hypermarket.

Kalau mau tunggu Pampi, harus weekend, dan biasanya belanja sama kaum pria khususnya yang sejenis dengan Pampi ini kurang fun, karena mereka sangat target-oriented di sini. Sedangkan saya tergolong pada kaum yang bisa melepaskan kejenuhan di hipermarket. Hipermarket adalah salah satu tempat rekreasi saya. Kadang saya bisa tidak beli apa-apa di sini.

Lalu, hari ini saya putuskan untuk mengklaim kembali hak saya atas penggunaan mobil satu-satunya kami ini. Berangkat berempat dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong, kami berangkat ke Menara Asia Lippo Karawaci.

Chloe saya gendong, karena saya berencana menggunakan baby-trolley. Untung ada… sayangnya susah banget ngambilnya. Saya harus bermanuver dengan satu tangan, tidak ada satu pun petugas yang berinisiatif menolong si ibu ini.

Chloe baring di tempatnya, Joel masuk ke dalam troli. Kami bertiga pun belanja. Si bayi sama sekali tidak rewel, dia bahkan tidur pulas, yang mana hal ini hampir tidak pernah terjadi pada baby Joel, yang selalu ingin mempelajari hal-hal baru di luar rumahnya.

Selesai belanja, saya ditahan oleh dua orang petugas security. They wanted the trolley back. Saya bilang, bolehkah saya pinjam trolinya sampai di tempat parkir? Mobil saya parkir sangat dekat dengan pintu. Mereka bilang tidak boleh. Peraturan adalah peraturan.

They suggested me to carry the baby Chloe with one hand, while the other hand to push the trolley and Joel be seated in the trolley. Have they lost their mind? Si security#1 (sambil menarik troli bayi) tanya, bagaimana cara saya masuk tadi. Saya bilang, tadi saya kan ga bawa belanjaan. Saya sudah mulai kesal dan mulai merencanakan untuk mogok makan demo masak kecil dan berdiri di sana terus sampai mereka carikan saya solusi.

Kemudian security#2 punya ide dan memanggil trolley boy. Troli boi bantuin saya mendorong troli biasa (troli bayi udah diambil dengan secepat kilat), dan bantuin saya masukin barang ke dalam mobil. Si troli boi usil ini sempat nanya, “Suaminya mana, Bu.” Saya jawab dengan sedikit banyak pedas, “Kerja.” Hei.. ini kan hari kerja dan jam kerja. Tapi, pastinya, saya berikan sedikit tip untuk kebaikan si troli boi.

Kesimpulan: hipermarket2 di sini memang tidak ramah anak.

Pertama, troli bayinya pun sebenarnya tidak akan lolos standar kelayakan untuk keamanan seorang bayi. Tempat berbaring bayinya tidak dilengkapi dengan safety belt, kemungkinan dulu pernah ada tapi dah copot.

Kedua, Anda diharapkan untuk belanja dengan membawa asisten (sekretaris/manajer/PRT/nanny/governess/supir/tukang kebun). Jika Anda tidak punya asisten, lebih baik tunggu weekend. Harap diingat kalau pada hari-hari itu, hipermarket2 di Jakarta dan sekitarnya bersituasi seperti kolam cendol, yang lagi2 pasti tidak nyaman buat bayi dan anak kecil.

Jadi.. sebaiknya punya asisten kalau mau belanja di hipermarket.

Blogging tentang Keluarga: Hanya Untuk Suami Melankolis?

Monday, September 1st, 2008

Bisakah judul ini dipertanggungjawabkan kebenarannya?

Sebenarnya saya hanya punya satu contoh resmi, suami saya sendiri, Mr. Dian Pamilih. Check out his blog, and you can hardly find any posting about his family, his kids, his wife, his mom & dad, etc.

Makanya saya sering takjub membaca blog seorang suami tentang kelahiran anaknya, kehamilan istrinya, ultah putranya, perkembangan bayinya, dll.

Sebenarnya apa yang membuat seorang pria bisa bercerita kepada publik tentang keluarganya? Sebaliknya, apa yang membuat pria tidak merasa perlu melakukannya? Apakah ini masalah perbedaan prioritas atau hanya masalah perbedaan tipe saja?

Atau.. yang menulis blog tentang keluarganya ini adalah mereka yang memang punya waktu melimpah alias kurang kerjaan? *Just kidding :D *

Adjusment

Tuesday, July 22nd, 2008

Begitulah… Anggota keluarga baru membuat perubahan total dalam keluarga.

Sekarang jadwal bangun pagi saya rada kacau. Bisa bangun jam 2, jam 3, jam 4.. yang kemudian diteruskan lagi tidurnya ampe jam 8. Setelah itu baru kehidupan hari itu berjalan.

Menyelaraskan jadwal semua orang butuh kesabaran dan penyesuaian terus menerus. Namun, rewardnya adalah saya makin terampil, saya makin ahli menjadi ‘ibu’. Juga makin sabar, khususnya terhadap Joel, my firstborn son.

Waktu hamil anak ke-2, sempat terpikir, ‘Will I love the baby?’ karena saya dan Joel sangaaat dekat. Sempet kuatir apakah saya bisa membagi kasih saya yang sedemikan besar untuk Joel itu dengan adiknya.

Namun, begitu baby Chloe lahir, dengan begitu alaminya saya menyayangi dia. Dengan tingkat kerelaan yang lebih tinggi dibanding waktu merawat baby Joel dulu, saya mengurus semua keperluan si bayi: wet diaper, soiled diaper, feeding, baby playtime, etc. Yang paling nyata ya soal ASI itu… sekarang saya dah dengan rela menyusui dia walau baru satu setengah jam lalu dia menyusu. Dulu saya pernah kesel waktu baby Joel kok seperti ga ada kenyang2nya… Dulu saya ‘marah’ karena merasa bayi menuntut waktu dan diri saya terlalu banyak. Sekarang tidak lagi.

Joel pun belajar menyayangi adik. Saya bersyukur, tidak ada kecemburuan serius selama ini. Awalnya sangat sulit melihat penderitaan di matanya, karena harus berbagi mama. Saya sempet nangis di awal2 karena bingung. Sempat juga marahin dia karena ‘bertingkah’. Semua dah berlalu, saya kini tahu pasti Joel sayang sama Chloe.

Pampi juga belajar punya anak bayi lagi. Anak perempuan lagi. Berkali-kali saya mengingatkan untuk lebih lembut, soalnya memperlakukan anaknya kok maskulin sekali gerakannya… hehehehe.

Dua hari ini saya mulai berbahagia. Chloe yang dah mau dua bulan usiaya, dah mulai jelas jadwalnya. Dan syukurlah, dia tidak (belum) pernah terbalik jadwal siang-malamnya. Kerewelannya hanya terjadi pada siang hari, malam dia tidur pulas. Jam 9 malam dia dah tidur, bangun lagi sekitar jam 2 atau 3 pagi, setelah disusuin dia akan tidur lagi sampai jam 7.

Lima Jari Berhitung

Thursday, June 19th, 2008

Satu tangan terangkat, lima jari pun berhitung
Satu, dua, tiga, empat, lima

Ini angka istimewa (harusnya)
Karena tahun depan, satu tangan tak lagi cukup

Suatu ikatan yang dibangun lima tahun lalu
Dalam suatu janji yang diikrarkan
Di hadapan Bapa Pengasih
Orangtua, keluarga, dan para sahabat

Tahun ini, walau tak ada perayaan
Bukan berarti tak spesial

Karena tahun-tahun ini
Adalah tahun-tahun terindah
Yang telah mengubah jalan hidup kami
Saat kami belajar untuk berhenti hidup hanya untuk diri sendiri

Happy 5th anniversary to us….. (14 Juni 2008)

Note: tak ada lilin, tak ada makan malam romantis, tapi terasa begitu berkesan bagiku karena dalam hati terucap syukur atas berkat dan penyertaan Tuhan dalam lima tahun ini.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe