Sat, 04 Sep 2010; 05:09:34 AM

Posts Tagged ‘me to myself’

Enam Jam di Blok Ambassador

Tuesday, December 29th, 2009

Kemarin saya ‘terperangkap’ enam jam di blok ITC Kuningan – Mall Ambassador.

Tidak tepat juga sih disebut terperangkap, karena sebenarnya saya punya pilihan lain selain nungguin Pampi pulang kerja, misal naik taksi, ojek, atau naik bus. Tapi ya, ampun, setelah hampir dua tahun mengisolasi diri di rumah kami yang nyaman di pinggiran Jakarta ini, saya jadi benar-benar terlalu nyaman, jadi kehilangan nyali melakukan petualangan secemen naik taksi ke Tanjung Duren. Saya memilih menunggu Pampi menyelesaikan hari kerja pertamanya di kantor barunya. :)

FYI, saya ikut ke Jakarta hari itu untuk ikut menandatangani surat perjanjian over kredit rumah dari Lippobank ke Bank Danamon. :)

Setelah semua urusan beres, kami pun menuju kawasan Mega Kuningan. Parkir di ITC, waktu itu sudah pukul 11.30 siang. Pampi ke kantor, saya main di ITC. Yang pertama saya lakukan adalah memuaskan rasa rindu akan masakan menado :p di jembatan 2 ITC-Ambas. Cari RM Colo-Colo ga nemu, akhirnya pilih RM sembarang saja. Menu hari itu, telur ikan+tumis bunga pepaya. Enaknya tapi termasuk mahal untuk uang Rp 24.000.

Habis itu Pampi bergabung, dan saya temenin dia makan siang sambil makan panada dua biji.. hihihihihi.. rakus.

Setelah itu Pampi balik ke kantor, saya main di Carrefour. Saya ni suka window shopping di super/hipermarket. Tapi ntah kenapa hari itu appetitenya ga gitu bagus. Dah bolak-balik beberapa kali, waktu terasa jalan di tempat. Dua setengah jam di sana, hasil berburunya saya balikin semua, ga jadi belanja, karena rasanya saya dah mau gila :D .

Saya lantas keliling ITC dari lantai ke lantai, berusaha mempelajari trend pakaian saat ini. Namun, sejujurnya ITC Kuningan adalah pilihan yang kurang tepat jika ingin mengenal trend. Mengapa, karena di sini yang banyak tersedia adalah baju kerja. Sementara baju kerja saya adalah kaos longgar+ celana pendek, piyama saya yang bergambar beruang lucu, atau daster Looney Toons kesayangan. So!

Aroma kantor, suasana orang kantoran begitu menguar. Karyawan-karyawan yang makan siang dengan teman-temannya. Berburu baju kerja, mencari baju untuk anak di rumah. Juga, beberapa kali saya lihat perempuan2 kantoran bertelepon atau beraktivitas dengan BlackBerrynya.

Entah kenapa hati saya agak perih melihat pemandangan yang saya temui hari ini. Ada rasa yang sulit diungkapkan. I was one of them, some years ago.

Saya merasa begitu ‘udik’. Semakin tertinggal dari trend. Saya merasa begitu berbeda. Dari cara berpakaian saya (saya tidak ngerti mode masa kini) sampai ponsel saya yang sama dengan ponsel pembantu teman saya.

Terpikir, “Ah, jika aku masih kerja pasti aku juga nenteng BlackBerry, pasti baju-bajuku lebih update. Pasti baju-baju anakku lebih update, pasti aku lebih tau apa yang lagi hangat dibicarakan selain yang ada di Kompas dan Detik.com!”

How guilty my thoughts are! Anyways………

Waktu sedang membunuh waktu di Trimedia, sambil asik membolak-balik buku Anne of Avonlea (see, saya sekarang bacaannya buku anak-anak klasik), tiba-tiba seorang pria kulit hitam berambut gimbal mendekati dan lalu menyapa saya.

Dia bertanya apakah saya berbahasa Inggris, saya tinggal di mana, dll. Sebagai orang Indonesia, saya berusaha ramah terhadap orang asing. Namun ketika dia meminta no ponsel saya; karena katanya di sini tidak banyak orang yang bisa berbahasa Inggris dan dia butuh teman dan dia butuh nomor telepon saya sehingga bisa kontak saya, saya ketakutan. Saya tengok kanan-kiri, ada beberapa orang yang juga sedang browsing buku.

“Sorry, I can not give you my number.”

“Why?”

Saya mengambil ponsel saya yang kebetulan bergetar karena ada SMS masuk.

“My husband is waiting. Bye!”

Saya langsung kabur.

Is It October Already?

Monday, October 5th, 2009

october-2009

Yeah… it is.

October brings first signs of fall season in northern hemisphere, but in the same time, it also brings hope as the breeze of springtime warms the air of southern hemisphere.

For us, October always brings a surprise, a wind of change and leave a trace of uncertainity. Make us wanting. Make us waiting. Waiting for a change. Wanting for a confirmation.

Back then to October 2006. Pampi resigned from a well-known oilfield service provider, switched his career from a IT security consultant to a banker! Many friends even his bosses thought that it was a bad decision since the bank was ‘only’ a local bank since his former employer has a bunch of good reputation in so many countries and it is a multi national company.

Pampi had to leave the busy Kuningan area for the peaful Karawaci (suburban Jakarta), house of Universitas Pelita Harapan.

That was when our life changed. We moved in to our newly built house in Gading Serpong. I quit my job. I stayed at home with my 2yo son and lived the ups and downs of a SAHM ever since. We enjoyed our simple life in a suburban area, away from Jakarta’s chaotic.

A year later, also in October, I was pregnant with Chloe. We were so happy to welcome our dearest new family member.

Two years later, once again it happened in October, our peaceful life got a little nice surprise. A headhunter from fairyland called him. The conversation resulted into a job interview invitation to another dreamland. They sent the e-ticket and e-visa. So did he go, carried his luggage to the land of dates and camels.

I was so unsure of our future. I had a feeling that we bumped into the crossroad of our life again. I just couldn’t imagine living a life in a new place far far away from parents, relatives and friends.

For short, the job was not for us. And I still thank God for this. I was not ready for an extreme change. I didn’t need a new neighbor though.

It’s October again. And the cycle repeats itself.

It is October already.

My Maidless Days

Sunday, October 4th, 2009

Maidless day#17.

Buat keluarga Jakarta pada umumnya, tidak punya pembantu adalah musibah besar. Juga untuk yang punya batita, ketiadaan pengasuh (disebut babysitter di Indonesia, nanny harusnya) adalah bencana.

Tiga tahun lalu saya berhenti mengantor. Salah satunya karena saya ingin merdeka akan rasa cemas berlebihan jika hari raya Lebaran mendekat :) .

Tahun 2007 awal, satu bulan lebih saya tak punya orang yang bisa dimintai bantuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Saya ingat betapa stresnya saya waktu itu. Saya cemberut melihat tumpukan piring kotor dan peralatan masak bekas pakai, jengkel melihat gundukan baju yang harus disetrika. Malas masak, malas nyapu, malas bersih-bersih. Saya kesal, saya marah, saya ingin bisa bermalas-malasan seenak saya. Bukankah sebelumnya saya punya waktu begitu banyak mengerjakan hal-hal yang saya sukai?

Terulang lagi akhir tahun 2008, ketika Chloe masih bayi kecil. Saya begitu kelimpungan. Chloe belum lagi 6 bulan, masih sangat tergantung pada saya. Sementara itu Joel yang berumur 4 tahun juga belum bisa terlalu diandalkan, dia masih banyak butuh bantuan Mamanya. Berita buruknya, Pampi harus pergi ke dua negara dalam minggu itu. Saya tidak ingat apakah waktu itu saya sempat menangis karena kebingungan, saya cuma ingat waktu itu hujan turun tiada henti, baju-baju tak kunjung kering sementara baju kotor sudah antri untuk dicuci. Saya ingat hanya menyetrika baju pergi, sementara baju rumah hanya dilipat dengan rapi.

Untungnya di tahun ini Tuhan bermurah hati memberikan seorang sahabat yang sangat care kepada kami, sahabat saya ini membawakan saya masakannya, juga ketika saya pilek berat pas ditinggal suami pergi ini, dia membawakan seteko penuh wedang jahe. Ohh.. I love you, Sis!

Yang terkini, tahun 2009, pembantu harian saya dengan tega memutuskan untuk memberhentikan saya sebagai majikannya :) Saya agak kesal mengingat saya sering sekali memberinya barang, pakaian, peralatan masak, bahan makanan, sementara dia lebih menginginkannya dalam bentuk uang.

And I have improved a lot this year. My 2009’s maidless days are:
- selalu tersedia minimal dua masakan di rumah.
- baju-baju dicuci dua hari sekali, dan semuanya tersetrika.
- piring-piring kotor tidak boleh terlalu lama menunggu di tempat cuci piring.
- rumah disapu setiap hari (berkali-kali kalau perlu) dan diusahakan dipel setidaknya dua hari sekali.
- tempat tidur segera dirapikan begitu penghuninya bangun.
- lantai kamar mandi disikat segera setelah saya mandi.
- sebelum berangkat tidur, rumah sudah dalam keadaan rapi sehingga besok bisa lebih bersantai baca koran sambil minum kopi/teh :)

Intinya adalah jangan menunda pekerjaan. Lakukan dengan cepat tanpa banyak pikir. Selain itu, saya juga harus bersyukur karena punya suami yang hebat, yang tidak segan membantu cuci piring, mengepel, membuang sampah, mengambil Chloe yang super rewel akibat sakitnya dari gendongan saya yang menangis karena tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Terpenting, lakukan pekerjaan ‘remeh temeh tapi penting buanget ini’ dengan hati bersyukur, dengan suka cita. Seperti yang saya tahun ini.

A Place Called Home

Monday, September 28th, 2009

Lebaran yang baru saja lewat telah membuat banyak keluarga kelimpungan karena ditinggal oleh sang pekerja rumah tangga yang biasa disebut pembantu. Bahkan, ada istilah baru untuk menyebut kelelahan yang menerpa ibu-ibu yang tepar karena harus berada di “her maid’s shoes”, beres-beres rumah, cuci-gosok, masak, mengurus anak, mengajak anak bermain, dan banyak lagi. Istilah itu: flu babu.

Saya tersenyum-senyum sendiri membaca status facebook beberapa teman itu. Teringat saya pada masa-masa ketika saya selalu terserang sindrom lebaranophobia tiap Lebaran menjelang. Panik, karena tiada cara lain selain mengajukan cuti sebab tak mungkin meninggalkan anak di bawah umur tanpa ada yang mengurus.

Juga, pusing karena rumah berantakan, piring-piring kotor, baju-baju kotor menumpuk, sementara baju bersih yang sudah kering seperti menjerit minta disetrika. Jangan lupa, anak juga butuh ditemani main, dimandikan, dan makan tentunya! Oh, begitulah suasana lebaran di rumah-rumah yang ditinggal oleh pembantunya.

Akhirnya, keluarga-keluarga di kota seperti Jakarta ini memilih untuk escape, kabur, melarikan diri dari situasi yang penuh tekanan dan membuat orang mudah naik darah ini. Mereka memilih meninggalkan sebuah tempat yang mereka sebut rumah.

Padahal, rumah ini mungkin berhasil mereka miliki setelah dengan susah payah menabung dan menyicil. Padahal, rumah seharusnya adalah sebuah tempat yang selalu membuat orang ingin pulang. Mengapa kali ini rumah menjadi sebuah tempat yang membuat orang ingin kabur?

Mengapa rumah jadi berbeda karena ketidakhadiran pembantu? Hotel-hotel di Jakarta dan sekitarnya yang fullybooked, keluarga-keluarga yang ikutan mudik sekedar melarikan diri dari situasi serba tak menguntungkan di rumah, adalah fenomena bahwa rumah tak bisa lagi jadi tempat yang bisa menghilangkan kepenatan selepas kerja keras.

Ah, unik memang manusia ini. Ketika tidak punya rumah, mereka mengeluh, merindukan sebuah tempat berteduh yang membuat hati tentram. Ketika sudah punya rumah, mereka tak betah ketika pembantu; yang sebenarnya bukan anggota keluarga; pulang kampung. Sejatinya, ketika tak ada pembantu, hanya ayah-ibu dan anak-anak, itulah rumah yang sesungguhnya.

Saya jadi bertanya, sebenarnya siapa yang paling menikmati keberadaan rumah itu?

*Saya resmi maidless 10 hari tepat hari ini.*

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe