Wed, 10 Mar 2010; 11:29:20 AM

Posts Tagged ‘medical’

Cerdas Sebelum Berobat

Wednesday, December 2nd, 2009

Sering sekali konsumen jasa kesehatan tidak memperlengkapi diri dengan pengetahuan dasar tentang kesehatan, sehingga disuruh apa saja oleh dokter pasti akan dituruti.

Saya & suami sudah cukup ‘celik’ matanya untuk tidak membiarkan diri kami & anak-anak didikte oleh para dokter, sebaik apa pun orangnya.

Ketidaktahuan pasien ini sangat menggoda. Bahkan, dokter Handrawan Nadesul pernah menulis di Kompas, godaan ini sangat besar buat para dokter. Bayangkan komisi yang mereka terima dari produsen obat atas tiap resep yang mereka keluarkan, belum lagi dari rumahsakit atas rujukan penggunaan fasilitas. Tentu masih banyak dokter yang punya hati nurani, temukanlah dia.

Beberapa waktu lalu Chloe sedikit batuk, jelas sekali terdengar pernapasannya terganggu oleh dahak, susah sekali dia tidur dengan nyaman. Mucopect adalah andalan saya untuk kondisi seperti ini. Namun bagaimana dengan dosisnya? Tentu saya tidak boleh sembarangan dong?

Nah, inilah gunanya website satu ini. Di situ ada keterangan lengkap tentang komposisi obat, dosis, efek samping sampai harga yang ditawarkan oleh mereka.

Perlengkapi diri dengan pengetahuan seperti ini, karena untuk hal ini kita tidak perlu harus pergi ke dokter dan menghabiskan ratusan ribu di situ. Dengan bekal pengalaman bersama Joel (5 tahun), saya kira-kira sudah bisa meraba obat-obat yang diresepkan dokter untuk penyakit khas anak-anak.

Dokter anak kesayangan kami :p dokter Eric F. Kan dari RS Siloam Karawaci termasuk yang tidak pelit berbagi ilmu. Untuk demam, dia ajarkan saya mengkombinasikan penurun panas seperti Proris, Tempra untuk demam sedang, dan Bufect untuk demam di atas 39. “Main-main saja di situ,” katanya dengan logat Menado.

Seorang dokter anak lagi bernama Weny Tjiali (beliau ini pria lho) juga tidak pelit saat memberi kuliah singkat tentang mengenali problem mata merah. Dengan menggambar di sebuah kertas dia memberita tahu saya, “Jika merahnya terjadi pada pinggir mata, berarti tidak perlu kuatir. Namun jika terjadinya pada kornea, itu perlu kuatir.”

Intinya, jadilah konsumen cerdas untuk produk apa saja.

My Doctor and I

Thursday, June 18th, 2009

Tulisan saya terakhir bercerita tentang hubungan dokter dan pasien.

Ya, saya suka iri membaca artikel di Reader’s Digest, menonton tayangan dengan setting rumah sakit seperti Grey’s Anatomy atau House. Dokter-dokter di situ diceritakan begitu berhati mulia dan sangat berdedikasi pada pasiennya. Mereka sering mengunjungi pasiennya yang sedang dirawat dan kadang-kadang mengajak mereka ngobrol.

Dokter-dokter yang pernah mampir di hidup saya? Mmmmhh.. satu-satunya dokter yang meninggalkan kesan sangaaat dalam buat saya adalah seorang dokter kandungan dengan inisial DD, S.POG KFM.

Percaya tidak, saya bertemu dia di RS yang saat ini sedang heboh dengan publisitas negatif. Saat hamil anak kedua, saya memutuskan untuk melahirkan di RS dengan nama international ini. Dan, saya melakukan riset mencari siapakah dokter kandungan yang paling direkomendasikan di situ. Ingat, saya tidak suka ngantri di dokter mana pun apalagi dokter kandungan.

Dokter DD, sangat charming. You could tell it from the first time, he’s a smart guy. Dan memang benar.

Tiap kali bertemu, dokter akan menjabat tangan saya dan suami, lalu menanyakan apa yang saya alami sejak pertemuan terakhir dengannya. Saya boleh tanya apa saja.. dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia terburu-buru.

Lalu, saat USG, dia akan mulai bercerita, mulai memberitahukan apa yang nampak di layar monitor, tanpa saya perlu bertanya.

“Ibu lihat ini yang bentuknya kupu-kupu adalah otak janin. Saat ini tulang kepala belum menutup sempurna.. .. dst dst…”

Persis seperti yang saya tonton di film-film barat :) hehehehhe.

Juga waktu saya ceritakan tentang histori pre-eklamsi saya, dia akan mengganti mode USG-nya dan memperlihatkan grafik yang menunjukkan hmmm.. apa namanya ya… tekanan darah? aliran darah? yang dari rahim dan yang meninggalkan rahim. Di situ terlihat potensi PE masih ada. Sejak saat itu saya selalu dicek tiap kali datang. Dia pasti membaca Rekam Medis saya bukan?

Dia punya sentuhan kemanusiaan. Saya tidak dianggapnya sebagai angka. Ketika akan meng-USG, dia akan memegang wajah saya, dan saat mata saya berair dia berkata, “Wah, sedang pilek?”

Habis itu kami biasanya diskusi dengannya. Sangat menyenangkan, dia seperti seorang dosen yang bersedia membagi ilmunya dengan pasiennya. Dia juga yang meyakinkan saya bahwa saya BISA melahirkan dengan normal, tidak harus operasi lagi, jika semuanya baik-baik saja. Kita tahu cukup banyak dokter kandungan yang mengatakan jika anak pertama lahir lewat operasi, anak kedua juga HARUS operasi. Dokter DD tidak pernah mengatakan hal itu.

Pernah satu kali saya konsultasi ke dokter kandungan lain di RS di Karawaci. Inisalnya sama dengan dokter DD.

Dokter berkepala plontos ini sangat pelit bicara. Dia meng-USG saya dan bicara beberapa patah kata. Dia tidak BERKOMUNIKASI dengan saya. Dia tidak menceritakan apa yang terjadi di rahim saya. Singkatnya dia hanya berkata. Bagi saya dia menganggap saya seorang pasien bodoh yang tidak tahu apa-apa. Saya sangat kecewa. Bukan seperti ini yang saya harapkan. Dokter ini juga yang berkata, kalau anak pertama operasi, anak kedua ya, operasi juga. Huuhhh… saya tidak pernah lagi akan jadi pasiennya.

Dokter DD, S.POG KFM… terimakasih sudah menjadi dokter kandungan saya selama 8 bulan. Walau saya sangat ingin melahirkan dibantu oleh Anda, tapi saya terpaksa harus ganti dokter karena dokter DD tidak praktek di RS yang saya pilih.

Terimakasih sudah membalas email-email saya yang sebenarnya tidak penting, tapi dokter tahu tugas dokter adalah menenangkan pasien, membuat pasien nyaman. Dokter bukan Tuhan.

Antara Dokter & Pasien

Thursday, June 18th, 2009

Handrawan Nadesul, dokter yang juga sastrawan, belum lama ini menulis beberapa artikel di harian Kompas tentang kecemasannya akan perdokteran di Indonesia. Salah satunya berjudul Malu Aku Jadi Dokter di Indonesia.

Dokter Handrawan mengulas tentang hubungan dokter-pasien yang rada timpang di negara kita, Indonesia. Betapa seringnya dokter menganggap pasien itu tidak tahu apa-apa. Tidak ada hubungan setara di sini.

Dokter-dokter di sini juga sulit fokus kepada tugasnya karena banyaknya pasien yang harus dia layani. Sudah bukan rahasia lagi jika ada dokter-dokter tertentu yang harus praktek sampai subuh, termasuk dokter kandungan.

Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin dokter seperti ini bisa memberikan waktunya yang berkualitas pada pasiennya. Jangankan membangun hubungan saling percaya, mau senyum saja mungkin sudah susah.

Sejak punya anak, saat harus mengunjungi dokter anak, saya jadi mulai berpikir. Rasanya tidak masuk akal jika dokter yang baru ketemu pasien 5 menit lalu sudah bisa mendiagnosis, dan langsung memberi resep. Apalagi jika dokter itu tidak banyak bicara, tidak banyak bertanya. Dokter kan bukan Tuhan.

Dengan akal sehat, saya percaya, seorang dokter dalam mendiagnosis harus melihat rekam medis pasien, harus mengarahkan pertanyaannya sedemikan rupa agar bisa mengkonfirmasi dugaan sementaranya. Hemat saya, pekerjaan dokter itu sebenernya lebih mirip detektif.

Dokter Gregory House, MD, dokter Amerika jenius yang diperankan dengan sangat cemerlang oleh aktor Inggris Hugh Laurie, banyak membuka mata saya tentang tugas seorang dokter. Nonton deh.

Mengumpulkan fakta, menggali informasi sebanyak mungkin, karena seringkali ada gejala penting yang mungkin terlewatkan olehnya dan dianggap tidak penting oleh pasien. Ini sih jelas-jelas terpengaruh oleh film seri House & komik Detektif Conan nih…

Saat mengucapkan sumpah dokter, sebenarnya dokter terikat dengan kode etik kedokterannya. Tapi pada prakteknya kita tahu, dokter-dokter kita hidupnya banyak ditekan kanan-kiri. Saya yakin cukup banyak sarjana kedokteran yang ingin idealis tapi kenyataan di lapangan begitu memberatkannya.

Tekanan dari perusahaan farmasi yang mengimingi-imingi bonus besar jika meresepkan obatnya, tekanan dari institusi dia bekerja – kalo bisa manfaatkan semua fasilitas RS dan bebankan itu pada pasien :) – RS kan harus balik modal investasinya, tekanan dari masyarakat – menganggap dokter adalah Maha Tahu… uuhhh… tidak mudah jadi dokter idealis di masa kini.

Handrawan menulis, dokter-dokter di negara maju semisal US, biasanya bekerja fulltime di satu RS, mereka dedicated, mereka punya kesempatan lebih banyak membangun hubungan dengan pasiennya. Pasien di negara maju juga biasanya tidak sedikit-sedikit ke dokter. Beda dengan pasien di negara berkembang model Indonesia. Tak heran dokter-dokter mudah tergoda untuk memanfaatkan ketidaktahuan pasiennya.

Sebaiknya memang warga negara kita lebih memperlengkapi diri tentang kesehatan dasar, sehingga tidak perlu jadi pasien dan memenuhi ruang tunggu dokter spesialis terkenal dan antri berjam-jam. Sayang duit, sayang waktu.

Caranya? Bisa gabung dengan milis2 kesehatan, saya tahu sebuah milis yang dikelola oleh beberapa dokter, banyak tips kesehatan dari mereka. Atau, beli buku2 tentang kesehatan dasar. Dokter Handrawan menulis juga beberapa buku tentang ini dengan harga di bawah 100rb, lebih murah kan ketimbang satu kali kunjungan ke dokter spesialis. Buku-bukunya terbitan Penerbit Buku Kompas.

Calon-calon pasien… mari cerdaskan diri kita.

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe