Fri, 30 Jul 2010; 02:24:10 AM

Posts Tagged ‘SAHM’

Menyoal Feminisme

Friday, July 10th, 2009

Soe Tjen Marching menulis di Kompas 10 Juli 2009 tentang feminisme berjudul Antara Keharusan dan Pilihan.

Adalah buku The Feminine Mystique (1963) karya seorang Betty Friedan yang dijadikan landasan tulisannya. Friedan ‘menemukan’ bahwa pada jamannya banyak perempuan yang menderita gangguan mental karena DIHARUSKAN menjadi Ibu Rumah Tangga.

Menurut Friedan, keharusan itu membuat para perempuan itu terkurung dalam dunia yang sempit, dan kehilangan kesempatan memperoleh kepuasan diri dalam karier dan harus menjalani hidup bagi kebahagiaan orang lain.

Saya tidak tahu apa yang dialami para ibu di tahun 60-an, tapi setahu saya tulisan ini jika dibaca di masa ini rasanya terlalu menghakimi dan tidak mewakili aspirasi semua perempuan khususnya yang memiliki anak.

Saya akan mengambil beberapa contoh yang saya temukan, baik pengalaman pribadi, teman dalam dunia nyata atau pun dalam mailing list yang saya ikuti. Mungkin datanya tidak representatif, tapi ini adalah kenyataan di lapangan.

Tiga ibu yang tinggal tak jauh dari rumah saya menemukan kebahagiaannya karena bisa dekat dengan anak, dua di antaranya pernah berkarier di luar rumah. Ibu yang satu lagi, setelah memiliki tiga anak, semakin menikmati perannya dan walau merasa sempat ‘terpaksa’ harus belajar masak, kini dia sudah piawai masak dan puas melihat anaknya menyukai masakannya.

Di sebuah mailing list yang mayoritas anggotanya adalah ibu, beberapa anggotanya meninggalkan pekerjaannya untuk berwirausaha dari rumah, agar bisa dekat dengan anak. Juga beberapa anggota mengeluh karena sangat ingin bisa tinggal di rumah sedangkan kondisi finansial tidak mendukung, mereka bahkan menyatakan ‘kecemburuannya’ kepada baby sitter, pembantu dan kepada temannya yang sudah lebih dulu menjadi what-so-called ibu rumah tangga.

Saya tidak mengerti mengapa jika seorang ibu tinggal di rumah, lantas ia disebut terkungkung, tidak bisa mendapat kepuasan diri dari berkarier dan hidup untuk kebahagiaan orang lain. Memangnya ada yang salah jika kita hidup untuk orang lain? Bukankah begitu banyak orang (atau pekerja sosial) yang menemukan kepuasan batinnya karena hidup dan bekerja untuk kebahagiaan orang lain?

Apalagi jika pilihan menjadi ibu rumah tangga ini diambil untuk kebahagiaan keluarga, untuk anaknya. Seorang ibu bukan secara kebetulan adalah pihak yang mengalami kehamilan, mengalami hubungan misterius dengan janin yang tak bisa bicara tapi bisa merespon balik, yang harus melahirkan (dan mungkin memilih untuk menyusui) anak yang telah dikandungnya. Ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dialami oleh laki-laki, dan ini jugalah yang saya duga membuat seorang ibu seakan-akan punya kontak batin dengan anaknya.

Lalu, apakah menjadi ibu rumah tangga untuk memastikan anaknya terurus, terdidik dengan baik adalah sebuah kebodohan? Memang di beberapa belahan dunia ada kasus ekstrim diskriminasi hak perempuan yang mengatasnamakan martabat pria, namun menurut saya ini tidak bisa disamaratakan begitu saja.

Di masa materialisme ini, ketika segala sesuatu diukur dengan uang, pria mungkin lebih senang jika istri punya penghasilan sendiri dan turut berkontribusi dalam keuangan keluarga. Namun ketika anak yang tidak pernah minta dilahirkan itu hadir bersama segala konsekuensinya, masalah-masalah mulai muncul.

Sepasang orangtua bekerja di luar rumah mendatangkan sebuah konsekuensi, harus ada pengganti fungsi mereka dalam merawat dan mendidik anak saat mereka tidak di rumah. Si pengganti ini (baby sitter/pembantu) kerap juga menciptakan masalah baru dan membuat majikannya lintang pukang ketambahan persoalan.

Soe Tjen mempersoalkan masalah keharusan seorang ibu menjadi ibu rumah tangga. Yang benar si ibu melakukannya atas dasar pilihan sendiri bukan karena sebuah keharusan, katanya. Jika ibu memilih menjadi career woman, so be it, jika ingin jadi ibu rumah tangga, ya harus dihargai, karena itu adalah pilihan yang mereka buat. Begitu.

Bagaimana kalau yang terjadi adalah sebaliknya. Ibu sangat ingin menjadi ibu rumah tangga namun dia diharuskan bekerja, karena gajinya sangat dibutuhkan? Bukankah akhirnya itu menjadi sebuah keharusan juga, tak lagi menjadi sebuah pilihan baginya?

Saya memang memilih menjadi ibu yang tinggal di rumah, dan saya sangat menikmati peran saya ini. Kepuasan yang saya dapat dalam dua tahun setengah tahun terakhir ini melampaui kepuasan yang saya peroleh dari ‘ngantor’ selama tujuh tahun.

Namun pilihan ini saya buat karena saya merasa harus. Jadi keharusan yang membuat saya memilih.

Saat menatap wajah anak saya yang baru satu dan berusia tiga tahun saat itu, saya merasa harus memilih untuk mendampinginya. Saat berhitung berapa waktu yang telah dan akan dia lalui tanpa saya dan saya tanpa dia, saya merasakan sebuah keharusan bagi saya untuk mengambil sebuah tanggung jawab. Dia tidak pernah minta dilahirkan. Mengapa saya begitu egois mengejar kepuasan diri dan membiarkan dia dalam asuhan orang lain padahal secara finansial kami bisa melakukan penyesuaian? Saya telah memilih dan merasa telah mengambil pilihan terbaik walau masa adaptasi terasa begitu panjang dan sulit. Bukankah memang begitu saat kita berada di tempat baru, apalagi jika ada perubahan radikal seperti ini.

Jadi bagaimana, menjadi ibu rumah tangga itu keharusan atau pilihan?

Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe