Fri, 30 Jul 2010; 02:33:21 AM

Posts Tagged ‘school’

Me & My Old School Times: Kindergarten

Thursday, October 23rd, 2008

Gee… film Laskar Pelangi benar-benar membawa saya bernostalgia ke masa sekolah. Dan, kini rasanya ingin mengenang lagi masa-masa itu.

Tidak banyak yang bisa saya ingat dari kelas nol kecil/TK-A saya. Yang paling saya ingat adalah seragam khas anak TK (rok overall/1 piece) lucu berwarna kuning. Tiap hari saya diantar oleh salah satu dari ortu ke Tangsi (sebutan untuk kantor polisi). Kenapa? Ya, karena sekolah saya bernama TK Bhayangkara, yang diselenggarakan oleh (kemungkinan) para istri polisi ini.

O ya.. waktu TK-A inilah saya pertama kali punya adik. Rumah kami sangat dekat dengan Tangsi ini. Kemungkinan saya ke sekolahnya jalan kaki waktu itu.

Nol besar/TK-B lebih saya ingat. Sekarang saya sudah berumur lima tahun. Ortu menyekolahkan saya di sebuah sekolah katolik bereputasi terpuji di kota kecamatan Belinyu. Namanya TK St. Agnes. Kalo gurunya kali ini saya inget banget.. siapa lagi kalau bukan Ibu Ajung – duh nama indonesianya sapa ya, Bu.. lupa nih.

Roknya kali ini warna merah. Seingat saya, saya masuk kelas siang. Saya ingat sekali mengunting dan menempel dari sebuah buku ukuran kecil yang membuka secara horizontal. Lemnya dari kanji yang diletakkan di atas karton tebal. Bu Guru juga sering memberi hadiah kerajinan tangan (ga tau namanya apa nih) berbentuk lampion, kipas tangan, buat anak-anak yang berprestasi. Benda-benda ini says temukan di restoran Sagoo, Mal Serpong, yang banyak menjual benda-benda jadoel.

Saya juga ingat main perosotan dan main jungkat-jungkit – itu lho seesaw. Rata-rata teman TK-B saya ini menjadi schoolmate sampai lulus SD. Maklum TK, SD dan SMP-nya berada dalam satu kompleks karena dinaungi oleh satu yayasan.

Butuh kesabaran tinggi untuk jadi seorang guru TK. Murid ngompol sudah jadi makanan sehari-hari. Tidak seperti sekarang, di TK-TK biasanya ada staf khusus (nanny) yang ngurusin beginian. Saya juga ingat ada teman saya yang sering pup di celana.. siapa ya orangnya.. hehehe… pasti kenangan buruk buat dia saat ini.

Mayoritas murid adalah penutur bahasa khek (hakka) bangka, karena itu Ibu Ajung kerap menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan kami. Ibu Ajung adalah guru yang tegas, dia tidak segan memarahi murid-murid yang dia anggap nakal. Hehehe.

My mom said, saya tidak pernah nangis ditinggal sendiri. Saya ingat saya duduk di boncengan sepeda, kaki saya diikat dengan saputangan supaya tidak masuk ke jeruji sepeda. Rumah kami waktu itu masih di dekat bioskop Belia – sekarang dah jadi tempat biliar.

Hmm.. tidak berasa sudah dua puluh delapan tahun lalu, ya.

Me & My Old School Times: Elementary First Years

Tuesday, May 20th, 2008

Kelas 1, hampir semua teman TK Nol Besar-ku ikut meneruskan ke SD St. Agnes ini. Selamat tinggal baju one-piece merahku, sekarang aku sudah pake seragam dua potong dan rok merah full lipit-lipitku menggunakan karet pada bagian pinggangnya.

Ada tiga kelas, 1A, 1B dan 1C. Seingatku, aku di kelas 1C dengan wali kelas Ibu Lucy. Ibu Lucy ini terkenal ’streng’.. hihihi streng ini bahasa apa toh? Pengaruh Belanda kali ya.

Aku sudah pintar baca tulis waktu itu, karena seperti anak-anak perkotaan di Belinyu pada umumnya, aku dikirim les menulis (dan otomatis baca) ke tempat Ibu Ajung – guru TK-ku.

Yang paling kuingat dari kelas 1 adalah.. ada seorang teman bernama Bertha, yang kemudian hari menjadi sohib kentalku waktu SMP. Nah, suatu hari kami diajar nyanyi lagu: Kasih Ibu. Buat yang lupa ama lagu manis ini.. ini teksnya:

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang Surya menyinari dunia

Ingat.. presentasi terbesar murid adalah keturunan Tionghoa yang bahasa ibunya adalah bahasa Khek. Maka, Ibu Lucy pun berinisiatif bertanya, “Siapa yang tau beta itu siapa?”

Seorang temanku dengan lantang dan berani berteriak, “Itu, Bu!” sambil menunjuk si Bertha. Akhirnya yang lain jadi ikut-ikutan menunjuk Bertha. Dan, saya dengan sangat memalukannya mengambil langkah aman me-too, padahal saya dah tau arti kata beta. Hehehe.. dasar anak kelas 1.

Kalau di Amrik ada yang namanya McGuffey’s Reader, orang Indonesia seangkatan saya juga bangga punya Ini Ibu Budi. Saya mengingat dengan baik buku bahasa Indonesia berwarna merah yang dibuka secara horizontal ini. Tokoh utama buku ini: Budi, Wati, Ibu. Iwan dan Bapak muncul belakangan -tentunya karena kata berakhiran konsonan akan lebih sulit diucapkan untuk si freshman – anak kelas satu.

Di kelas satu ini.. saya sempat ‘off’ sampe hampir sebulanan. Penyebabnya adalah karena kenekadan saya menulis di dinding kayu rumah kami sambil menginjak sadel sepeda mini hijau kesayangan. Alhasil sepeda mini itu bergulir dan saya jatuh dengan sukses. Tulang dekat sambungan siku kiri patah. Liburlah saya karena harus bolak-balik berobat, dari dukun urut sampai dokter di Pangkal Pinang. Cerita dukunnya seru lho.. nanti kapan-kapan saya posting secara khusus.

Kelas 2, wali kelas saya ibu Sin Chian mengirim saya ikut lomba menulis indah. See, kelas 2 kita dah diajari menulis huruf sambung yang keriting itu. Hebatnya saya juara satu lho :D hehehehe. Hadiahnya sebuah peruncing. Di akhir kelas 2, kami diharapkan sudah bisa perkalian sederhana. Maka Ibu Sin Chian menantan siapa yang berani maju dan mempresentasikan kemampuannya untuk perkalian dua. Saya maju dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun, maklum asuhan Mama yang sangat keras pada anak-anaknya masalah pelajaran.

Kelas 3 adalah awal dari sebuah kedewasaan. Kita sudah menulis dengan bolpoin, tidak boleh salah lagi, kalau salah harus repot menghapusnya dengan penghapus khusus merah biru merk Pelican, yang bisa bikin bolong kertas kalo terlalu kuat dipakainya. Wali kelas saya bernama Pak Petrus. Saya di kelas 3A sekarang. Kami juga mulai mengenakan seragam coklat Pramuka tiap Sabtu.

Waktu sekolah jadi makin panjang. Tiap Sabtu habis Pramuka saya pasti terbaring di depan tivi sambil menonton Lima Sekawan. Duh, ini masa yang sulit memilih George & Timmy atau Pramuka. Hehehee.

Kelas tiga adalah ketika saya dapat ranking 1 di cawu 1&2, tapi melorot jadi ranking 2 di cawu 3 – dugaan saya sih karena Pak Petrus yang tadinya ngefans banget sama saya (bener lhooo) tiba-tiba tidak ngefans lagi karena suatu hal yang tidak enak diceritakan di sini.

Ini juga pertama kalinya saya mengalami camping – nginap di sekolah. Pak Petrus sebagai pembina Pramuka sering banget mampir di tenda saya, bahkan secara eksplisit mencari-cari saya, sampe saya ngumpet saking malunya. Hehehee… ga tau kenapa si Bapak ini ngefans banget ama saya, mungkin karena saya chubby, lucu dan imut-imut? Tau deh.

ps. cover buku bahasa Indonesia kelas satu bisa diliat di sini – walopun sepertinya ini edisi lebih tua.. punya saya warna merah kok.. yakin banget.

.!.
Related Posts with Thumbnails

about us

Pampi, Devi, Joel & Chloe