November 2007
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
 





 

December 12, 2003

Cuttie Baby Bunny Went To Heaven

We had two little bunnies. This two little creatures had been with us since November 28, 2003.
We called them Milo & Dancow.

Milo is the bigger one.



Today, December 12, 2003.. when I woke up to greet them, I found Dancow slept peacefully and never will play with us again.


We still have Milo with us.. but Milo look so sad, he didn't want to eat and play.

I still remember how Dancow, my baby bunny, jumped here and there, ate carrots and kangkung greedily. He loved to eat carrot and very playful. He had thick fur and I alway praise him for his beautiful warm fur.
I remember when Dancow licked my hand yesterday night.
Good bye, Dancow. Thank you for these two weeks. Thank you for sharing joy with us. You will be remembered.. and if you see God, please send my regards to Him. Don't worry baby, you will be safe there.

Posted by devi at 02:57 PM | Comments (0)

December 04, 2003

Visiting Mid Valley & KL Sentral

Tujuan hari ini adalah Mid Valley MegaMall. Sebenarnya maen ke mall itu ga exciting.. hehehee... ga ada istimewanya.
Tapi berhubung ini mall terbesar di KL, it worths trying!

So hari ini after berleha-leha ditemani Oprah di StarWorld.... I left the hotel by 3 pm, ntar janjian ketemu di KL Sentral ama Pampi (hubby), after class. Penasaran juga pengen liat KL Sentral, abis kata Pampi tuh tempat bagus en keren, getu.
OK.. setelah aku amati di peta (Vienna sudah mengajarkan banyak ttg mengandalkan peta....) aku lihat perhentian terdekat dari Mid Valley adalah stesen Abdullah Hukum, 2 stasiun setelah KL Sentral. Naek PutraLRT dari stesen Dang Wangi, agak jauh perjalanan kali ini, sekitar 4 stasiun.

Sampai di stesen Bangsar, banyak yang turun, aku jelas heran ketika menjadi satu2nya penumpang yang turun di Abdullah Hukum. Rasa aneh tiba2 menyergap begitu turun di stesen ini. Dan.. terjawab sudah rasa tak nyaman di dada ini ketika meninggalkan stesen. Aku ada di daerah perkampungan, suburban.

Lost in space?

Mid Valley jelas di depan mata.. tapi dibatasi oleh jalan tol yang super lebar! So.. duh... gimana nih? Rasanya lost in space deh...
Memberanikan diri menyeberangi jalan.. aku susuri aja perkampungan ini, kadang2 diiringi tatapan mata penduduk setempat. Ini daerah perkampungan Melayu, yang letaknya rada di bawah tanah begitu. mengingatkan pada kali Code di Yogya.. tapi tentu versi lebih rapih.
God help! I just couldn't find how to cross this so wide street. Kayaknya ga mungkin manjat2 pembatas jalan seperti yang dilakukan bbrp pria dengan kondisi hamil begini, what a shame buat seorang wanita berbaju hamil memanjat pembatas jalan.. uh... I won't think about that.


Pdhal mall-nya udah dekat banget.. di depan mata.. benar2 di depan mata...

Terpaksa aku jalan lagi.. ga ada pilihan selain menyusuri jalan, jangan tanya capeknya, blom lagi bingung menentukan arah hanya ikuti intuisi perempuanku. Akhirnya nyampe di Bangsar, it means, one station before Abdullah Hukum! See.. aku jalan sangat jauh.. dan ga bakal aku lakuin lagi next time. Huh.. laen kali tetap harus tanya2 penduduk lokal dong yaaaaa.. jangan sok teu makanyaaaa....

Di halte di bawah stesen Bangsar.. dalam kelelahan yang sangat.. aku beli soya milk.. untung dapat tempat duduk di halte. Cape sekali ... huhuhuhuu .. pengen nangis deh...
Tapi...eitssss... ntar dulu tiba2 mataku tertumbuk pada sebuah bus yang berhenti di halte, dan ada tulisan Free Shuttle Service Bangsar - Mid Valley - Bangsar! Oouccchhh!!!!! Tertipu diriku ini... kenapa ga dari tadi.. kenapa ga cari info dulu!!!!

But, I should wait for another bus, karena otakku agak lama juga mencerna kenyataan ini, mungkin karena blum lunch pada pukul 3.30 pm?!! will catch the next bus, I promise!
Akhirnyaaaaaa............... leganya ketika berada dalam bus shelter ini. Hebat juga si Mid Valley menyediakan bus gratis kayak gini. Memang mall-nya agak susah terjangkau pejalan kaki, kalau jalan dari Bangsar kan lumayan jauh. Hmm... komentarku, orang Malaysia ini tertib deh, bus-nya memang bukan bus yang mewah sekali, tapi kondisinya cukup baik-lah.. ber-AC, dan walaupun pintu keluar dan pintu masuk sama, mereka tertib menunggu yang keluar untuk turun duluan. Dr M (Mahathir) telah meninggalkan budaya yang bagus untuk bangsa Melayu satu ini. Hmmhh... iri deh...

Nah...sampe juga di Mid Valley yang mega ini. Buesarr sekali, lebih besar dari Mall Taman Anggrek. Ada bbrp Dept. Store besar di sini. Carrefour juga ada. FYI, di sini Carrefour hanya terletak di pinggir kota. Ok! Before browsing, perut harus diisi dulu dong, laper sangat nih.

Lunch time at AyamNor
Ga ada alasan khusus kenapa kupilih tempat ini. Tertarik aja dengan tema Ayam Golek yang swear.. sampai detik ini blom kutemui artinya... heehehhee.
Mengaku sebagai Citarasa Melayu asli..AyamNor memang menawarkan banyak sekali pilihan. Kali ini karena kangen sate, aku pilih Satay 1/2 porsi (1/2 dozen); campuran beef ama chicken dan pilih horlick untuk temen makan yang ga jelas juga minuman apa ini.

Datanglah 6 tusuk sate + lontong.

Sauce-nya dihidangkan terpisah dalam sebuah mangkok kecil. Tasty? Lumayan? Yang pasti aku laper buangetthhh... Tapi masih enakan sate madura yang suka lewat depan rumah.. bau arangnya enaakkkk.

Udah kenyang.. aku mulai browsing. Yup.. ini benar2 tempat yang extra besar. Jadi bingung mau ke mana.. berhenti di Center Court.. melihat2 suasana menjelang Natal di sini.
Akhirnya aku jalan ke Carrefour, I love Carrefour lho, ini adalah tempat belanja favoritku, karena kelengkapan dan kepeduliannya terhadap orang disable. Pengendara kursi roda pasti merasa nyaman jalan di Carrefour.
Aku beli diapers newborn, dapet juga.. soalnya rada susah cari di Jakarta (setelah kembali ke Jakarta, aku menemukannya di Carrefour ITC Kuningan .. kesel kan!!!!).

Udah nunjukin jam 6 pm, Pampi juga udah call, itu artinya aku kudu get in hurry to KL Sentral. Oks deh..

KL Sentral Station
Waaahhhh... Ini emang tempat yang mengagumkan. Rasanya airport Soekarno-Hatta aja kalah lho, padahal ini stasiun kereta! So international taste.

Bayangkan, dari sini KLIA Ekspres berangkat tiap hari, tiap 15 menit ke KLIA, dan cuma 28 menit to get there. Kereeennn...

Di sini juga bisa city check in, juga bisa nitipin mobil untuk 1 malam free of charge, kalo check in dari sini. Luar biasa deh Malaysia ini, bener2 bikin pengen...

Puas mengagumi kemegahan Stesen KL Sentral, mampir bentar di Guardian untuk liat-liat harga, kita berdua nyebrang untuk ganti ke monorail.

to be continued

Posted by devi at 10:00 AM | Comments (0)

December 03, 2003

Mystical India

Day 4..
Walaupun saya suka memberikan label 'norak' pada film2 & lagu India, sebenarnya masyarakat Indonesia termasuk saya sangat dekat dengan kebudayaan India.
Dulu waktu masih SD & SMP, saya suka nonton film India, waktu TVRI jadi satu2nya alternatif. Saya ingat pernah nonton Tarzan versi India di bioskop, dan film2 lain yang saya sudah tidak ingat lagi dari TV3 Malaysia.
Sampai sekarang saya masih ingat bbrp lagu dari film Tarzan itu.
Dengan durasi minimal 3 jam belum termasuk iklan, saya sering ketiduran menontonnya, tapi tetap saja saya menontonnya, saya tanya pada diri saya sendiri, kenapa? Karena lucu..
Setelah SMA, film2 India tidak pernah lagi jadi menu tontonan saya. Sekarang saya sudah jadi masyarakat 'intelek' :D 'Keintelekan' saya membuat saya tidak memandang sebelah mata pada film2 India.
Apalagi kecenderungan pembantu kost dan kalangan bawah menonton film India membuat saya makin emoh, sama seperti saya emoh nonton sinetron Indonesia (kecuali Bajaj Bajuri), emoh nonton telenovela.
Saya semakin 'intelek'.

Tapi ketika Kuch Kuch Hota Hoi santer dibicarakan, saya tonton juga VCD-nya tahun 2001. Well.. saya nilai sudah ada perubahan yang terjadi. Lebih modern, tapi lagu dan tarian tetap saja membuat jalan ceritanya jadi terganggu buat saya. Ide cerita masih mirip dengan yang lama, kurang berkembang.. yang pasti orangnya makin cakep :) hehehehee.
Anyway... industri film Bollywood itu luar biasa produktif. Tentunya inilah salah satu mesin pencetak uang India. Sama seperti industri rokok buat Indonesia, benci tapi sayang.

Lepas dari semua itu, India terkenal dengan budayanya. Saya tertarik dengan budaya mereka. Apalagi nama Devi yang melekat di diri saya, membuat saya sering dipanggil di ruang chatting kalau bukan oleh orang India, ya orang Pakistan atau Sri Lanka.
Orang India itu menarik, gaya bicaranya, goyangan kepalanya ketika bicara, logat bahasa Inggrisnya yang eksotis.. sareenya yang cantik, pakaiannya yang berwarna-warni, aromaterapi, kamasutra, intinya orang India itu bukan tipe yang 'straight2' aja. Hidup mereka penuh warna.
Pernikahan, kelahiran, kematian, apa pun bisa jadi momen penuh warna.

Hari ini saya mengunjungi pemukiman India di KL, di kawasan Abdul Rahman dan Mesjid India. India menjadi salah satu etnis penting di Malaysia, you can see Indians anywhere. Mereka menjadi pedagang makanan, pedagang tekstil, supir taxi, pengusaha, karyawan, direktur dan juga jabatan2 penting di pemerintahan.
Saya pernah menemukan menu di sebuah resto di KL yang memberikan tanda *mengandungi beef :) Ya.. kita bisa nilai dari situ, ga cukup label halal di sini.
Etnis India di Malaysia terdiri dari India Hindu dan India Muslim, mungkin ada juga yang beragama Kristen or Budha, tapi kemungkinan mereka adalah minoritas.
Saya turun di stesyen LRT Masjid Jamek. Di sepanjang jalan sudah saya lihat deretan orang berjualan. Harum cendana dan melati bercampur kari sudah tercium dari jarak 10 meter :) Tapi yang dijual di sini mirip dengan daerah Tanah Abang di Jakarta, jam tangan, kaca mata, ikat pinggang, jamu2an, juga jamu dari Indonesia.
Saya susuri saja jalan itu, agak ngeri nyasar, dan ngeri juga karena berada di kawasan 'asing'. Wajah wajah hitam kelam menatap tanpa kata2. Semakin saya berjalan, semakin saya merasa terdampar.

Banyak tekstil, banyak bunga, ternyata tidak melulu orang India yang berjualan, saya lihat wajah Chinese dan Melayu juga.
Lapar menyengat, jam 2.00 saat itu. Saya menemukan warung, saya ingin mampir, tapi seperti ada yang mencegah saya... saya berjalan lagi, kali ini saya masuk kawasan India muslim. Beberapa toko borongan saya masuki; saya tidak tau persamannya dengan toko di Indo, mungkin seperti toko retail? Barang2 yang ditawarkan juga bukan yang dari high quality, juga bukan dari merek terkenal. Saya sedang mencari obeng untuk suami saya untuk benerin laptopnya. I just couldn't find it. Kebanyakan yang dijual adalah pakaian, dengan mutu seadanya.
Beberapa toko terkenal di sini adalah Kamdar, GlobeSilk Store juga Tang Ling (yang terakhir ini sepertinya dimiliki orang Chinese). Harganya so so, tidak terlalu murah juga menurut saya. Saya ga beli apa2 di sini.
Di mana-mana terdengar lagu India, bahkan ada lagunya yang saya tidak asing, karena ternyata lagu itu sama persis dengan lagu dangdut yang pernah saya dengar di kawinan tetangga saya.
Suasana agak mistis di sini.. hawa spiritualnya begitu berasa. Patung dewa, alat2 sembayang Hindu, membuat saya agak merasa 'gimana gitu', blom lagi memandangi wajah Syiva (Dewa Siwa) yang hampir selalu ada di toko2 pedagang di sini.
Sempat terbengong-bengon dengan motto sebuah toko borongan; Kamdar; Memang Berbaloi, dan sampai hari ini saya belum juga tau arti 'berbaloi' ini.

Lelah berjalan, saya temukan juga jalan Abdul Rahman, segera saya masuk ke Sogo, cari makan, sudah jam 3.30, kasian baby saya pasti sudah lapar sekali.
Nasi ayam wijen hanya RM 3.5 .. habis itu saya belanja di supermarket Sogo, seneng melihat banyaknya jenis minuman kaleng yang ditawarkan. Tidak lupa beli susu Dutch Lady kegemaran suami. Suami saya, Pampi, sangat suka dengan produk susu dari Dutch Lady, sayangnya di Indon (demikian orang Malaysia menyebut Indonesia) Dutch Lady agak mahal.
Sale besar juga terjadi di sini. Sebenernya saya agak ragu dengan istilah sale ini, ini beneran diskon atau trik penjualan seperti Dept. Store di Indo? Saya beli ikat pinggang buat suami dan buat saya. Di sini penjaganya lebih ramah.. tapi saya bete diikutin terus geraknya, mau lihat ini dideketin, lihat itu diikutin, risih....
Bener-bener capek kali ini, rasanya sudah tidak sanggup berjalan lagi. Akhirnya saya duduk-duduk di luar Sogo, menggoyang-goyang kaki supaya penat berlalu. Duduk dekat2 saya ABG-ABG Malaysia yang sedang bercengkrama. Saya perhatikan mostly wanita/gadis di sini mengenakan jilbab, jarang yang tidak. Tapi tidak semua berpakaian muslim. Sering malah baju lengan pendek dan jeans. Saya kurang tahu apakah ini memang diperbolehkan di Islam?
Sementara gadis2 Chinese, pakaiannya cukup berani, celana yang super pendek sering saya temui bersliweran di mall. Di sini cukup unik, tiap daerah di KL punya komunitas sendiri. Ada komunitas berbahasa Mandarin, ada juga yang Hakka (Khek), Kanton (Konghu) juga Hokkien. Kadang2 antar komunitas ini menggunakan bahasa Inggris karena saling tidak mengerti :)
Lagi-lagi saya diajak berbahasa Chinese, sepertinya Hokkien... gimana nih..

Di seberang Sogo ada pertokoan berjudul Pertama Complex, katanya ini termasuk yang pertama di KL. Saya coba mampir, mmm... agak mirip Sungei Wang tapi lebih tua dan kurang keren, lebih mirip toko2 di Pasar Baru Jakarta. Saya mengurungkan niat untuk buang air kecil setelah melihat ada charge yang dikenakan, RM 0.3 ... oohhh??? Becanda kamu..

Saya mau pulang, tapi saya bingung, where am I? Peta tidak terlalu membantu saat ini, karena tidak ada GPS :) akhirnya saya beranikan diri tanya seorang wanita Malay tentang stasiun tujuan saya, kali ini saya berbahasa Indonesia, karena katanya orang Malay suka kalau kita berbahasa Indonesia dengan mereka. Ibu yang baik ini menunjukkan arah kepada saya dengan jempolnya... FYI, di KL, orang2 (semua etnis) menunjuk dengan menggunakan jempol.. waahhh sopan sekali ya... kayak orang Jawa, suami saya yang Jawa aja ga begitu.
Kurang lebih jam 6 kurang saya sudah naek KL Monorail dari Medan Tuanku ke Bukit Nanas. Jam 6 lewat dikit saya sudah berendam air hangat di hotel sambil menunggu suami yang pulang telat, karena hari ini ada acara dinner dari tempat trainingnya.

Posted by devi at 12:14 PM | Comments (1)

December 02, 2003

Walking to the Star

Day three.
Habis sarapan pagi ini, saya menemani suami menunggu taxi yang akan mengantarnya ke Subang Jaya. Hanya taxi MPV yang bersedia pergi sejauh itu.. about 45 mins to 1 hour drive.
Habis itu saya balik lagi ke kamar untuk tidur dan istirahat.
Terbangun jam 12.. nikmat sekali tidurnya.. hmmmhhh..
Hari ini saya akan ke Bukit Bintang, kata Pampi sekitar RM 5 naik taxi.
Tapi saya mau naek monorail aja, kind of LRT juga, tapi ini ada drivernya ga seperti LRT-STAR ato PUTRA yang 100% automated.
Stasiun terdekat adalah Bukit Nanas, 5 menit jalan kaki dari hotel.
Dengan bermodalkan peta saja, saya akan menyusuri Bukit Bintang yang terkenal sebagai daerah belanja dan Bintang Walk-nya di malam hari.
Beda dengan di Wina yang sangat loose penjagaannya, di sini kita harus beli tiket di loket atau vending machine. Lalu kita akan menerima magnetic card yang sudah diisi sesuai dengan nominal yang kita beli. Saya selalu beli pas-pasan :)
Untuk masuk ke dalam area tunggu, insert the card, mesin akan membaca nominal, kalau ada isinya, maka jalan akan dibuka buat kita. RM 1.2 dari Bukit Nanas ke Bukit Bintang, 2 stasiun saja dari sini.
FYI, Monorail ini baru beroperasi bulan Agustus 2003, jadi masih baru banget, dan baru satu gerbong sekali jalan.
Duh.. saya kagum sekali lho dengan monorailnya yang cakep itu. Mengkilat, dingin, bersih dan nyaman. Di dalam monorail kita tidak boleh makan, minum atau merokok.
Oh ya, saya notice juga satu hal lagi, di KL sepertinya tidak ada vandalism.. cmiiw. Saya ga liat coretan2 di stasiun2nya. Bersih.. juga bersih dari orang berjualan. Stasiun tampak lengang, banyak tempat2 kosong yang mestinya kalo di Jakarta pasti sudah dimanfaatkan oleh penjual teh botol atau rokok.

Ngomong2 soal transportasi, I think LRT ato monorail is the best solution. Traffic di KL sangat macet pada peak hours. Lagipula taxi di KL ini agak aneh.. jarang sopirnya yang mau pake argo dan mobilnya juga ga ada yang bagus2 kayak punya armada Blue Bird kita. Kalau mau taxi bagus, mobilnya berbentuk MPV dan argonya jelas beda. Yaahhh.. saya lebih suka naek LRT.
Check this out untuk melihat sistem transportasi di Malaysia The System.

Bukit Bintang..
Saya mau makan siang (or apa istilahnya untuk makan pada jam 3?) di jalan Alor, seperti yang disarankan oleh seorang temen milis JalanSutra, Lidia Tanod.
Jalan Bukit Bintang dipenuhi oleh budget hotel dan toko-toko sederhana.

Sempet kesasar.. akhirnya nyampe juga di Jalan Alor. Persis seperti kata Lidia, di awal jalan durian2 dipamerkan dan ohh.. menggoda sekali, tapi saya ingat pesan suami untuk tidak makan duren karena lagi hamil, walaupun rada2 tidak reasonable buat saya, saya pilih untuk nurut sama dia :) what a noble wife O:-)
Sayangnya banyak warung yang tutup. Sepertinya ini kawasan Chinese karena banyaknya warung2 menjual chinese food lengkap dengan huruf kanjinya. Ini bener2 disaster.. Walaupun keturunan chinese, saya buta huruf aksara Cina. So.. saya lihat aja yang ada tulisan bahasa Inggrisnya dan saya makin bingung mau makan apa. Deretannya jauh lebih panjang dari hawkers kemaren.
Akhirnya saya mampir di sebuah kedai mie.. dan saya disambut pake bahasa chinese.. sepertinya bahasa Kanton (Kongfu), akhirnya saya maksain bahasa ibu saya, Hakka, dan sepertinya saya ga punya pilihan selain mie kari, karena yang lain saya ga ngerti :D
Saya pesen Soya milk lagi, karena saya emang hobby banget ama minuman satu ini dan disajikan hangat lagi.. ini yang saya suka.
Datanglah mie kari. Berisi tahu, kentang, ayam 2 potong gede2 (hiyyyy) dan kerang-oyster(sepertinya mentah).
Enak juga sih.. tapi mblenek.. banyak. Saya abisin aja mie & tahunya, ayamnya hampir ga kesentuh, karena saya agak cerewet dalam makan ayam, harus bagian dada/sayap atau muncul dalam bentuk olahan (nugget, baso, sate, dll). RM 4.5 untuk semua ini.

Kali ini jalan ke Bukit Bintang Plaza. Mampir dulu ke MPH, sebuah toko buku yang cukup besar juga, mengingatkan pada toko buku di Plaza Indonesia.

Waahh.. ternyata isinya mostly buku bahasa Inggris dan harganya itu loh.. lebih murah dari Jakarta. Saya beli novel classic dari Penguin, Heidy dan buku dari kartunis beken Malaysia, Lat, berjudul Town Boy. I have fallen in love with Lat's since SMP, jd saya sangat excited ketemu buku dia dan harganya juga ga mahal kan. Habis RM 24 untuk ke-2 buku ini.
BB Plaza ini kurang lebih seperti ITC tapi versi lebih kecil. Di lantai bawah banyak yang berjualan HP & aksesoris.
Bukan designer's label deh pokoknya. Banyak barang dari Taiwan, Korea, etc.
Big sale juga terjadi di sini.
Lagi2 Parkson Grand di sini. Saya beli kaos kaki buat suami.. tertarik banget dengan harga seprei yang ditawarkan, sayang banget koper saya kecil.
Turun2 saya nemu supermarket Giant dengan logo persis Giant Indonesia, emang sama kali ya?
Di sini saya belanja roti coklat merk Sweetie, khas Malaysia, kali ini saya beli nasi lemaknya (FYI nasi lemak=nasi uduk), 2 bungkus nasi lemak sotong & rendang. Sepertinya yummy.
Keluar2 saya sudah berada di pintu keluar Sungei Wang.. lho? Bingung deh.. ternyata 2 plaza ini nyambung dan jujur saya ga tau di mana batasnya, yang saya tau bedanya kalo di Sungei Wang lebih banyak produk elektronik & computer sedangkan di BB Plaza lebih umum.
Plaza Sungei Wang berlogo dollar, mungkin memang itu arti Wang di sini. Stasiun Monorail Bukit Bintang berada persis di atas plaza ini. Karena saya udah cape sekali -- ibu hamil cepet cape -- saya langsung ke stasiun dan pulang ke hotel.
Berendam di bathtub... habis itu saya dinner sendiri nasi lemak sotong ya, wah lumayan juga lho rasanya dan pedasnya nikmat.
Setelah itu suami pulang dan berakhirlah kesendirian saya hari itu.

Posted by devi at 04:41 PM | Comments (0)

December 01, 2003

Malaysia Truly Asia II

Bangun pagi.. jam 8 kurang atau jam 7 kurang di Jakarta..
Setelah mandi, kami berdua turun ke lantai dasar untuk sarapan di Lemon Garden Caf?.

Sempet bingung dengan banyaknya menu buffet yang ada.
Saya ambil chinese style, nasi putih+tahu Jepang+soun dan soup miso Jepang.
Soya milk was available too!
Ga tau kenapa, makan dikit aja udah kenyang.. mungkin karena masih kepagian buat tubuh saya. Terakhir di Wina.. rasanya ga kenyang2 sarapannya, maklum beda 5 jam dengan Jakarta waktu itu.
Melepas suami berangkat training ke Subang Jaya nan jauh, saya balik lagi ke kamar dan tidur, masih harus bedrest menurut jadwal.

What a boring ritual, tidur, nonton TV, baca koran, bikin teh, mandi, tidur lagi, baca buku, lihat jam sudah menunjukkan pukul 1/2 3 siang. Laper sih.. tapi males banget berangkat dari tempat tidur.
Tapi kesian mikirin anak dalam kandungan.. saya bersiap2 untuk berangkat cari makan deket2 hotel.
Setelah janjian dengan orang housekeeping untuk bersihin kamar jam 4, saya berangkat ke P. Ramlee.

Petualangan dimulai
Menyebrangi perempatan Sultan Ismail & P Ramlee sendirian; keadaan mirip Jakarta; lampu penyebrangan tidak sepenuhnya ditaati.. kecuali oleh turis :)
Hari ini saya udah berniat cobain makanan warung kaki lima or hawkers. Persis di seberang gedung Rohas Perkasa, tempat Schlumberger Malaysia berkantor, saya liat sederetan warung yang tertata rapi. Warung2 ini dikelola oleh pemerintah, tempatnya pun sudah disediakan, jadi para pedagang tinggal bayar sewa saja.
Cukup panjang deretannya di kanan dan kiri jalan.. tapi saya mau liat2 dulu, bingung juga mau makan apa, laksa, chinese food lagi, nasi campur (means nasi rames), tom yam kung, or indian cuisine.
Lalu saya putuskan makan di sebuah warung india.. saya selalu penasaran dengan makanan india. Setelah menginterview sang koki, akhirnya saya pesen nasi goreng ayam dan teh tarik small one :)
Teh tarik yang panas berbusa2, mengepul2 dihidangkan di depan saya.. slurpp... hummm enaknya. Di meja ada bungkusan yang saya tebak isinya nasi. Menunggu sebentar datanglah nasi goreng saya.. waahhh.. besar sangat nih porsinya?
Rasanya yummy deh, kari banget.. isinya telor, ayam, wortel dan bumbu kari tentunya. Ga kuat menghabiskan semuanya.. too much for me.
Ternyata harganya ga jauh ama mall, it cost me RM 5.8 for the food and the drink. Karena ga punya 20 cent, makanan saya didiskon jadi RM 5 saja :) Murah juga kan?
Sudah pulih energinya, saat ini jam 4.30 sore, saya jalan ke Suria KLCC lagi, ga jauh dari situ. Mau cari celana -- saya cuma bawa satu yang melekat di badan, karena bleeding, saya jadi kacau penataan bajunya.
Sebelumnya mampir dulu di FO Adidas, di jalan P. Ramlee juga.

Akhirnya dapat juga di Parkson Grand.. RM 34, ga mahal2 amat. Sama cari oleh2 buat my sisters, dapat satu kaos Elle yang lagi sale 50%, sekitar RM 26 jatuhnya.
Susah2 gampang juga cari baju di sini. Saya lihat penjaga counternya kurang ramah. Saya banyak tanya, takutnya beda prosedur mencoba bajunya. Belum lagi ukuran yang digunakan beda dengan di Indo. Mereka pakai size 6, 9, dst. Saya kan ga ngerti mereka pakai hitungan Amerika, Inggris ato Etiopia! Lalu saya jelaskan ke seorang penjaga--India, saya bukan orang sini, jadi maaf kalo saya banyak nanya :) Baru dia bersikap lebih ramah.

Maen2 ke Guardian; lagi ada sale. For my surprise.. Guardian di sini ramai sekali. Tidak seperti di Jakarta yang cenderung sepi karena imagenya mahal.
Tidak beli apa2.. terlalu rame.. pusingg... dan cape.

Oh udah jam 6.00 :)) grin grin.. Jadi lupa ama bedrest-nya :D I told my baby to be strong in mommy's womb. Lelah sekali rasanya oooooo...
Tapi saya tergoda dengan Cold Storage, sebuah supermarket di C level. FYI, saya ini sukaaa sekali menengok supermarket, biasanya untuk komparasi harga. Saya selalu happy berada dalam supermarket ato hypermarket kayak Carrefour, itu termasuk salah satu rekreasi buat saya.
Lagi2 saya menemukan soya milk kotakan en kalengan dijual dengan berbagai varian. Saya ambil yang dari Yeo's High Calcium. Beli juice anggur dengan merek yang sama dengan yang dipakai Malaysian Airlines, JOY. Beli biskuit en rumput laut buat my hubby tercinta.
Liat2 barang yang ada.... seneng deh rasanya. Heheehheehe...
Di counter depan ada jual nasi lemak sotong (cumi), nasi lemak kerang; RM 1.98 only , and nasi lemak rendang set. Saya liat2 aja.. blom laper soalnya.
Duh lelahnyaaa, suami blom akan pulang lagi pdhal sudah jam 7.00. Saya duduk2 di atrium. Melepaskan lelah sambil menunggu berita dari Pampi, my hubby, siapa tau dia ma janjian makan malam di sini.
Tapi setelah 1/2 jam duduk dan mendengarkan 2 keluarga yang duduk di kanan dan kiri saya bercakap2 dalam bahasa Indonesia & Jawa (saya senyum2 sendiri).. suami saya menyarankan pulang saja, karena dia baru jalan dari Subang Jaya.
Ya sudah.. saya jalan balik deh ke hotel. Lambat sekali lho jalannya :)
Malamnya suami pulang membawakan makanan yang dibelinya di mall Suria.. hehehe.. dia baru tau ternyata LRT (Light Rail Transit System) dari KL Sentral -- yang juga tempat city check in KLIA; juga tempat berangkatnya KLIA Express, kereta khusus dari KL Sentral ke KLIA-- berhenti juga di stasiun KLCC yang terletak persis di bawah Suria :) Asyik banget..

Posted by devi at 03:29 PM | Comments (1)