Walkin Thru The Days
Udah lama ga nulis...
Physically aku lelah tetapi aku tak kekurangan energi tiap hari. Ada suatu rasa tentram dalam hati, itu yang disebut damai sejahtera, itu yang membuat aku kuat.
Hari ini hari ke-10 papa di RS Jantung Harapan Kita, 7 hari setelah operasi bypass yang dia lalui.
Tiap hari adalah anugrah buatku kalau bisa melihat wajahnya lagi. Detik2 menegangkan setelah operasi memang telah dilalui tetapi itu tidak berarti telah selesai.
Minutes of awaiting...
20 Januari 2003.. jam 9 pagi papa tersayang didorong masuk ruang OP setelah 2 malam menginap di RS. Dari semalam, aku tiap kali teringat, aku selalu berdoa. Aku tau ini bukan operasi mudah, ini jantung, man! Dan pas OP, kegiatan jantung dihentikan untuk bbrp saat.. mengingat semua itu, tidak karuan rasanya hati ini.
Di ruang tunggu, menggelar kasur, kami menunggu dengan tegang, terutama saat OP kira2 selesai. Kata dokter butuh waktu at least 4 jam untuk OP dan 2 jam lagi menunggu kondisi pasien siap didorong ke ruang ICU.
Jam 3 sore... kami semua menanti dengan cemas. Belum ada panggilan.. mama sudah kuatir sekali wajahnya. 15 menit kemudian, belum ada panggilan juga. Kenapa waktu berjalan sangat lambat? Mama mulai gelisah dan mengajak kami ke ruang ICU untuk bertanya... akhirnya jam 3.30 sore, mama dan salah seorang tanteku ke ruang ICU untuk bertanya. Tidak lama kemudian tanteku balik ke atas, papa udah agak siuman.
Thanks God... berarti OP sudah selesai dan berjalan baik. Bergiliran kami masuk... aku cuma ingin melihat wajahnya.
Miris sekali rasanya melihat wajah yang dulu gagah itu terbaring lemah tak berdaya... dia sempat membuka mata dan memanggil namaku.. aku terharu.. di saat belum sadar 100%, dia masih ingat namaku. Mata Papa tertutup lagi, dia pasti sangat lelah dalam perjuangannya ini. Syukur padaMu Tuhan.. terima kasih Tuhan sudah menuntun tangan dokter Tarmizi Hakim dan asistennya.
Jam 5-an... I've got sms from my sister di sela dinnerku. 'Papa pendarahan, kita ada di ruang tunggu,' begitu bunyinya. Jantungku serasa merosot ke bawah. Nafsu makan pun mendadak hilang..
Segera aku ke ruang tunggu di lantai 3. My mom was weeping. Kata dokter, kalau pendarahan tidak berhenti, Papa harus dibuka lagi jahitannya untuk dilihat penyebab pendarahannya.
Aku pun tidak dapat menahan tangisku.. we gathered together and pray.. Dear God, please help him. Kami menunggu dalam cekam. One of my sister got down to the ICU, lalu dia pun telpon, Papa udah sadar, udah bisa diajak bicara... boleh ditengok.
Rasa syukur membanjiri hati ketika aku masuk dan bicara dengan Papa. Makasih Tuhan.. makasih.... Ternyata pendarahan berasal dari darah Papa yang terlalu encer, kemungkinan efek pengencer darahnya belum hilang.
Dokter jaga berkata padaku, sebenarnya operasi Papa tergolong sulit, karena dia pernah stroke 4 kali. Aku tidak menemukan alasan bahwa Tuhan tidak bekerja di operasi ini... jadi aku pun tidak punya alasan untuk tidak mengucap syukur. I praise You because You are faithful!
Today I will walk with my hand in God's
Hari ini, aku melihat Dia di balik semua ini. Hari ini aku tahu, Dia masih memberikan kesempatan pada Papa untuk menemukan kasihNya, untuk menemukan Tuhan yang merindukannya untuk mengasihi Dia.
Hari ini juga... aku mengerti Dia masih memberikan waktu buat aku, untuk aku mengerti jalan-jalanNya, untuk aku sadar, Dia tetap ada memegang tanganku melalui hari-hari ini, hari-hari berat atau bahagia, Dia tetap ada.
*dedicated to my baby in the womb.. you must be a very healthy annointed baby.. you kick mommy's tummy with all your strength :X*
Posted by devi at
03:23 PM
|
Comments (0)
Unforgettable January 5 - Pertemuan dengan Teguh
Hari pertama kerja di tahun 2004; seperti biasa saya dan suami jalan dari rumah jam 8 pagi lewat. Harusnya bisa lebih pagi, tapi libur kelamaan telah merusak tubuh ini... hehehehe
Daerah Pejompongan tetap padat seperti biasa. Ga ada feeling apa pun hari ini, sedih aja harus masuk kerja lagi.
Masuk ke jalan Dr. Satrio, saya minta suami untuk menurunkan saya di ujung jalan yang berbatasan dengan Rasuna Said, supaya saya bisa menyeberang dan jarak tempuh ke kantor bisa diperpendek daripada saya harus turun di Gedung Sentra Mulia tempat suami berkantor dan harus ngos-ngosan menyeberangi jembatan penyeberangan ke arah Pasar Festival.
Biasanya dia tidak akan mengijinkan, dengan alasan.. bahaya. Tapi karena ini masih dalam suasana Tahun Baru, mungkin dia tidak mau ribut, jadi diturunkannyalah saya di ujung jalan itu, dengan agak terburu2 saya turun karena mobil2 di belakang dengan semangat membunyikan klaksonnya.
Ternyata emang agak susah nyebrangnya.. harus pandai2 membaca situasi dan dalam keadaan hamil 5 bulan tentunya tidak lucu kalau harus berlari-lari menyeberangi jalan Rasuna Said :)
Sampai di seberang, saya hentikan taksi yang saya taksir. \"Buncit ya, Pak\" kata saya pada Pak Sopir. Saya buka tas untuk mempersiapkan taxi fare, biasanya sekitar Rp 10.000 sampai ke kantor saya.
Oh oh! Dompet saya ga ada! Oh my God! :(( gimana nihhh. Telfon suami, dia yakinkan saya bahwa dompet saya ga ada di mobil (tadi emang sempet saya keluarin, sepertinya lupa dimasukkan kembali)
Aduh.. kepanikan melanda tiba-tiba. Tapi mendadak saya tidak kuatir, cuma agak kesal aja pada diri sendiri.
Saya telfon teman kantor saya untuk pinjam uangnya dulu guna membayar taksi. Saya merutuki diri.. kenapa bisa seceroboh ini, lagipula di dalam dompet ada kartu ATM Papa saya yang dari Bangka. Kacau kan...
Uangnya memang tidak begitu banyak, \'hanya\' Rp 70.000 saja. Tapi kartu2 saya lebih berharga dari uang tujuh puluh ribu itu.
Sesampainya di kantor, segera saya menelepon bank untuk memblokir kartu2 bank saya terutama kartu kredit. Sedang telepon sana-sini, tiba-tiba.... ponsel saya bunyi. Duh, siapa lagi nih, ga tau saya lagi repot apa? Yang telepon teman lama saya, yang sudah jarang berhubungan, namanya Sun An.
Keajaiban pun mulai terjadi.............
\'Katanya dompet elu ilang ya, Dev?\' Ah??? Bagaimana dia bisa tau?
\'Ada orang telpon gua tadi, namanya Teguh, mahasiswa Perbanas, dia nemuin dompet elu.\' Aaaaaaaaa!!!! Ini betul2 di luar rancangan manusia mana pun.
\'Dia kasih nomor HP-nya ke gua, elu hubungi aja.\'
Waks! Ini baru miracle! Can\'t you imagine?! Ini Jakarta lho.. gudangnya copet lho.
Saya telpon no HP si Teguh ini. Ramah sekali orang di seberang ini, dia dengan sukarela mau mengantarkan dompet ke kantor, tapi saya tolak, saya bilang cari yang deket kampus dia aja, karena dia ujian ampe jam 4 sore, kesian kan, saya kan pernah jadi mahasiswa juga.
So, jadilah kami janjian jam 5 sore di Pasar Festival.
Sontak saya tergugah... Tuhan.. Engkaukah di balik semua ini?
This is new for me. A real miracle.
Miracle karena saya nyaris mengeluarkan kartu nama Sun An dari dompet bbrp waktu yang lalu, miracle karena di dompet itu, hanya ada satu kartu nama - milik Sun An. Miracle lagi, karena Sun An kenal saya dan tahu nomor HP saya. Tidak ada petunjuk apa pun di dompet tersebut yang bisa dihubungkan ke saya kecuali KTP yang tidak ada nomor teleponnya.
Kata orang2 saya beruntung. Katanya sulit menemukan orang seperti si Teguh ini di Jakarta. Saya percaya itu.
Jam 5 kurang saya sudah berada di Pasar Festival bersama suami. Pertemuan kami dengan Teguh begitu manis dan lucu, dia mengacungkan dompet krem saya. Saya langsung tersenyum dan menyapanya, \'Hi, Teguh!\'
Ngobrol bentar, ketahuanlah kalau dia itu pemaen basket. O ya, dia datang dalam sporty outfit. Kaos dan topi IBL (Indonesia Basketball League).
Saya ajak dia makan di A&W. Dia pesen waffle strawberry.
We thank him very much for his kindness.
Penemu dompet saya ini ternyata seorang celebrity, saya dan suami aja yang ga tau. Paling tidak di kampusnya dia terkenal, I\'m sure for that. Karena dia adalah Indonesia Muda Star. Juga udah masuk AllStar-nya Kobatama.
Wow... bukankah ini miracle juga?
Mungkin ada yang sudah pernah dengar namanya: Teguh Arifianto dari klub Indonesia Muda. Dia dapat beasiswa atlet dari Perbanas. You can find him di sini.
Saya pikir ini adalah rejeki bayi di kandungan saya. Selama hidup saya, baru sekali ini dompet bisa kembali, tanpa kehilangan sedikit pun barang di dalamnya. Luar biasanya adalah saya bisa ketemu seorang atlet muda yang saya doakan dia bisa sukses masuk Pelatnas seperti cita2nya.
Jika bayi saya laki-laki.. mungkin dia akan jadi atlet seperti Teguh? Who knows.......
Posted by devi at
02:49 PM
|
Comments (1)