November 2007
| Sun |
Mon |
Tue |
Wed |
Thu |
Fri |
Sat |
|
|
|
|
|
1
|
2
|
3
|
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
|
| | |


|
|
| |
January 27, 2005
Whoaaaa
Akhirnya selesai juga me-merge-kan blog yang lama yang blom pake MT ama yang ini. Uuuhh.. lega.. cuma sayang mindahin comment-nya blom sempet, agak ribet...
Posted by devi at 02:37 PM
| Comments (0)
Organizational Change
An email pops up on my Thunderbird mail client... "New Organization"...
Hmmm.. what for? Quo Vadis...
Better performance? Better benefit for the employee? Not a chance...
The bottom line for us: the same work load, same everything... or maybe different 'approach' from the management to us?
I'm feelin' like in the Dilbert's office...
Posted by pampi at 10:05 AM
| Comments (0)
January 25, 2005
Joel Cakit!
Sejak hari Jumat kemarin Joel sakit. Pilek, serak, panas... :(
Duh, kok rasanya kasihan bgt yach, sepertinya dia kena radang tenggorokan karena dokter kasih dia antibiotik... apa nurun bapaknya?
Today dia sudah mendingan, meskipun masih meler... sudah senyum2 lagi, cuman ketawa ngakak-nya blon kedengaran nih...
Posted by pampi at 11:59 AM
| Comments (0)
Iridium Spark Plug
Kemarin sebelum jalan lintas pantura sempat utak-utik si Vivi. Selain nambahin Broquet juga sempat beli 1 set busi Denso Iridium IK16.
Nah, sabtu kemarin penasaran, sebenernya apa sih dampak si Iridium ini. Sabtu pagi bongkar2 mesin, buka busi... ganti pake busi yg lama! Trus test drive...
hmmm.. pedal gas rasanya alot banget, gak seperti biasa. Ok deh, let's see tommorow kita balikin ke busi Iridium.
Minggu pagi, sambil dikejar2 deadline buat ke gereja, bersihin busi Iridium pake carb-cleaner, trus pasang lagi... mandi, berangkat ke gereja...
Voila! Gas jd enteng hehehehe, fuih... memang sesuai harganya sih (5 kali lipat lebih busi biasa) tapi kan long-life n hemat bensin! :) trus busi ini sangat menolong dikala macet, karena kebutuhan listrik dia lebih kecil dr busi biasa, so saat idle tidak terlalu membebani kerja mesin.
Iridium anyone?
Posted by pampi at 11:53 AM
| Comments (3)
January 20, 2005
Random Thought
Finish the Unfinished
Fuih... akhirnya album n guestbook yg sekian lama terlantar kelar juga. Thanks to Adhi yg memberi semangat dengan ngenyek-an nya hehehehe... sekarang sambil nungguin dijemput iseng2 mo ngisi blog lagi yg udah lama hibernate.
Berurusan lagi sama PHP n HTML lumayan menyegarkan ingatan... hmm... kind of tricky business :)
Trus upload-upload foto buat album... dg sesekali musti ngecek diskspace hehehe.. maklum gak kaya' jaman dulu punya server sendiri jadi musti ati2 banget manage spacenya.
Politik kantor
Barusan dari client, vendor lain yang sama2 di client ini berulang kali buat masalah.. kalau ada something wrong pasti nunjuk perusahaanku... weh.. males banget. So far kami semua dengan semangat dan ketabahan yang prima berhasil mengalahkan setiap godaan dan cobaan yang senantiasa menghalangi *apa coba???*
Tapi bener, yg namanya politik kantor itu something that u can't just pretend that it's nothing... kadang eneg jg sih, tapi ya gimana ya, tetep harus dihadapin no matter what... yg penting kan cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati... agree?
Cuaca
Di luar gelap banget... cuman takut kejebak banjir di jalan aja... kemarin ada orang Transocean yg gak bisa ke kantor gara2 mobilnya stuck di Otista.. guess... Dari jam 7:30 sampai jam 13:00 masih stuck di tempat yang sama... gila!
Duh, sampai kapan negri ini terus2an kaya' gini.. cuman jadi tempat jualan bangsa lain, gak pernah dibikin pinter... huh... kasihan juga si Vivi kalau musti menerjang banjir dengan ground clearance yg gak sejangkung sporty...
Posted by pampi at 05:55 PM
| Comments (2)
Kekerasan Terhadap Pria
Merasa aneh dengan judul ini?
Bukankan kekerasan biasanya dilakukan terhadap perempuan? Iya, selama ini saya pikir juga begitu.
Dalam banyak hal, kita sering mendengar bahwa perempuan adalah korban. Sengaja saya pilih kata perempuan, karena saya tahu pasti, kaum feminis lebih suka disebut perempuan dari pada wanita.
Saat ini saya sedang membaca buku Bringing Up Boys tulisan Dr James Dobson, Jr. Dokter Dobson adalah seorang pakar dalam masalah keluarga dan dia mendirikan sebuah organisasi yang mengkhususkan diri melayani keluarga-keluarga: Focus on the Family.
Saya tersentak membaca buku ini dan seperti orang yang baru dicelikkan matanya. Belum tamat pun saya membacanya saya sudah menangkap apa yang Dr Dobson ingin sampaikan: red alert untuk kaum pria.
Dewasa ini, kaum feminis berusaha keras memperjuangkan hak para perempuan agar ada persamaan antara pria dan perempuan. Harus diakui perjuangan mereka berhasil, setidaknya banyak pemikiran-pemikiran mereka yang telah mempengaruhi saya sebagai seorang perempuan.
Saya menyelesaikan tiga tahun masa sekolah menengah atas saya di sebuah sekolah khusus perempuan. Kami diajar bahwa kami sederajat mampu dan tidak kalah dibandingkan anak laki-laki. Tidak berarti sekolah saya salah, justru saya banyak diajarkan tentang self-esteem, kebanggaan saya ?walaupun? saya perempuan, namun saya bisa membawa diri saya sejajar dengan pria; di Indonesia, terutama di pelosok-pelosok, penghargaan terhadap kaum hawa ini memang masih kurang.
Situasi dan kondisi membuat saya merasa harus unjuk gigi, walaupun akhirnya kebablasan, saya mulai meremehkan laki-laki. Saya merasa lebih jago, karena apa yang mereka lakukan? saya juga bisa. Merakit steker listrik, merakit komputer, kebut-kebutan naik motor, saya juga bisa. Dan saya juga bisa mengungguli mereka dalam hal akademis. Saya juga bisa melakukan pekerjaan perempuan, jadi jelas saya lebih unggul dari pada para pria.
Dr Dobson mengungkapkan kebenaran ini, kaum pria sedang bingung dengan identitasnya. Di Amerika Serikat, kaum feminis berusaha sangat keras menyamakan kedudukan kaum perempuan dengan lawan jenisnya. Mereka menuntut toko mainan yang memisahkan antara mainan anak laki laki dan anak perempuan. Mereka menuntut kaum pria untuk buang air kecil seperti perempuan (duduk), mereka membuat seorang anak laki laki berumur 6 tahun dikeluarkan dari sekolahnya karena mencium dahi teman perempuannya, karena itu dianggap pelecehan. Ini memang belum terjadi di Indonesia, tapi mungkin akan terjadi tidak lama lagi di Jakarta.
Saya setuju, hak yang sama perlu diberikan kepada setiap jenis kelamin dalam berprestasi. Tapi saya tidak setuju jika ini jadinya dilebih-lebihkan, dibesar-besarkan, dibuat-buat supaya ada. Laki-laki memang beda dengan perempuan, laki-laki didesain beda dengan perempuan, sehingga seharusnya tidaklah aneh jika minat mereka pun beda.
Hollywood pun tak mau kalah. Dr Dobson mencatat, film-film drama Hollywood sering kali menampilkan pria sebagai sosok yang lemah, agak feminin; sementara kaum perempuannya tampil sebagai sosok yang tangguh, pekerja keras dan unggul disbanding kaum prianya. Ambillah film Runaway Bride, di mana Julia Roberts mewakili sosok tangguh ini, bekas montir, tukang ledeng, spesialis AC sementara Richard Gere adalah pria menyedihkan yang kikuk dan sering melakukan kebodohan-kebodohan yang biasanya bisa ditangani oleh Julia Roberts, misal mobil mogok. Apa yang hendak mereka tampilkan? Bahwa pria itu bodoh? I think so.
Pengistimewaan anak perempuan bisa jadi berdampak serius terhadap anak laki-laki. Saya bisa bilang anak perempuan diistimewakan, karena banyak institusi takut disebut melakukan diskriminasi. Atau mereka merasa menjadi pahlawan karena telah membuat pengistimewaan ini. Jika pria mengatakan hal buruk tentang perempuan, dia menghadapi resiko dituntut, tapi jika perempuan menjelek-jelekkan laki-laki, dia hebat. Perusahaan pembuat kartu ucapan, Hallmark, American Greeting, membuat kartu yang melecehkan kaum pria. Bacalah ini: ?Pria adalah sampah? Maafkan saya, untuk sesaat saya bermurah hati?. Tidak ada yang keberatan jika seorang perempuan mengenakan pakaian dengan tulisan: Girl Rules.. tapi jika yang terjadi sebaliknya, pria dianggap telah menghina kaum perempuan.
Kathleen Parker, seorang kolumnis, menulis: ?Pada masa kini anak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang tidak ramah. Mereka dipaksa bersikap tegar, tidak boleh menangis, harus jadi gentleman. Sementara di sekolah mereka harus menerima bahwa mereka kurang istimewa dibandingkan dengan anak perempuan. Kerancuan terjadi. Sebuah yayasan mengeluarkan uang 9 juta dollar untuk menarik perhatian anak perempuan pada science, tapi mereka tidak membuat program yang seimbang untuk anak laki-laki. Apakah anak laki-laki kurang istimewa dibandingkan anak perempuan? Inilah hasil perjuangan kaum feminis radikal, memang kaum perempuan telah membuktikan keunggulannya, tetapi ada efek negatif yang kurang terperhatikan? anak laki-laki dan pria dewasa yang bingung. Ketika salah satu jenis kelamin lebih disukai, berarti ada jenis kelamin yang kurang disukai, tebak siapakah mereka?
Saya tidak pernah pusing dengan hal ini sampai saya punya anak. Anak saya laki-laki 8 bulan, dan saya bersyukur karena anak pertama saya adalah laki-laki. Jika anak pertama saya perempuan mungkin saya akan membesarkannya secara tidak adil dan mungkin akan terjadi diskriminasi pada adik laki-lakinya nanti.
Dalam bimbingan pra nikah saya memang telah menerima kebenaran bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda secara fungsi tapi sama secara status dan hak. Saya telah belajar menundukkan diri pada suami saya, saya juga telah menerima bahwa Tuhan menetapkan pria sebagai pemimpin, pria ditunjuk, diberikan mandat untuk memimpin dan perempuan diberikan kepekaan, kelemahlembutan untuk mendampingi sebagai partner sejajar dalam berbagai hal. Pria butuh perempuan sama seperti perempuan butuh pria. Inilah kebenaran itu, tidak ada jenis kelamin yang lebih unggul. Saya memang telah mengerti hal ini, yang saya tidak mengerti dan baru saya mengerti adalah, ternyata pria telah terluka, telah mengalami kekerasan. Identitasnya sedang dikacaukan oleh media, oleh lingkungan. Pria tidak mungkin bisa berfungsi dengan baik jika tidak mengerti siapa dirinya. Bahkan saya berani katakan, akar permasalahan dari apa yang terjadi saat ini, kriminalitas, kebobrokan moral, disebabkan oleh pria-pria yang tidak mengerti fungsinya, pria-pria yang bingung.
Saya seorang ibu yang memiliki seorang anak laki-laki, punya tugas mengajarkan anak saya bersikap seperti pria, melindunginya dari hujatan media, mengatakan padanya setiap hari, bahwa dia adalah pribadi yang berharga, yang diciptakan unik oleh Tuhan, dan bahwa dia, sama istimewanya dengan anak perempuan mana pun.
Posted by devi at 11:22 AM
| Comments (1)
January 14, 2005
Cerita Dari Ujung Banda
26 Desember, sekitar jam 8 pagi
A Fung masih terlelap, masih terlalu pagi untuknya. Setengah sadar, dia merasa tempat tidurnya bergoyang. Setengah sadar, dia mengangkat telepon genggamnya, menjawab ayahnya di ujung sana.
'Bangun, Fung! Ada gempa.'
'Ah.. masih ngantuk, Pa, mau tidur lagi.'
'Ya, sudah... kalo nanti gempanya tambah besar, kamu cepat2 keluar ya.'
Sesaat kemudian.... Getaran gempa menyadarkannya. Kali ini A Fung benar-benar sadar. Dalam kesiagaannya, A Fung langsung menggendong adiknya A Ping, cepat-cepat berlari ke lantai bawah. Satu hal yang dia ingat, dia harus menyelamatkan A Ping, karena walaupun A Ping sudah berstatus mahasiswa, A Ping tidak bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda.
A Fung, selalu menjadi kakak buat A Ping. A Fung tidak akan lupa kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika sebuah kecelakaan di lapangan basket, telah membuat A Ping harus duduk di kursi roda sepanjang sisa hidupnya.
Mereka sudah berada di luar... Suasana hiruk pikuk... Katanya akan ada gempa susulan, jadi semua bersiap-siap di luar, tidak ada yang berani tinggal di dalam bangunan.
Belum terjadi apa-apa juga. Tiba-tiba...........
'Air pasang! Air pasang!'
A Fung bisa melihat gelombang air yang dahsyat datang menerpa. A Fung lari sekuat-kuatnya, lari, lari dan lari....... sampai dia teringat sesuatu, A Ping.. di mana A Ping, bagaimana dengan A Ping? A Fung menjadi panik, tetapi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Gelombang itu terlalu besar baginya, gelombang itu menerpa, menerjang semua yang menghalangi jalannya. Dirinya hampir terkejar, dirinya hampir terhempas. A Fung, segera meraih sebuah tiang yang tampak di depan matanya. 'Pegang Fung... pegang kuat-kuat,' begitu perintah otaknya.
Sambil berpegangan erat-erat, A Fung berdoa dalam hati semoga A Ping bisa bertahan, semoga ada orang yang menolong A Ping. A Fung teringat juga pada ayah dan ibunya, juga kakak laki-lakinya, yang entah ada di mana pagi itu.
Gelombang itu datang lagi, lebih dahsyat, lebih tinggi, lebih menyeramkan. Hati A Fung ciut, suara-suara di sekitarnya, suara pohon gemeretak, suara rumah roboh, membuat hatinya tambah ciut.
'Tuhan, jika ini akhir dunia, jika aku harus mati di sini, Tuhan.. aku rela. Tuhan, terima kasih karena aku sudah diselamatkan.. aku tidak takut mati. Tapi tolonglah orangtuaku, tolong adikku.'
Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana A Fung bisa bertahan. Bajunya sobek di sana sini. Badannya luka. Tangannya berdarah, kakinya berdarah. Tubuhnya kedinginan.... A Fung memejamkan mata, pasrah.
Gelombang itu akhirnya surut. A Fung membuka mata, memastikan bahwa dia masih hidup. Dia melihat kehancuran, keporakporandaan, kegalauan.
A Fung berenang, mengayuhkan tangannya, berusaha mencari tempat yang kering. Air ini tadi begitu mengamuk.. air ini sekarang tampak tenang, seakan-akan lupa dengan ulahnya tadi.
A Fung tercenung menatap rumahnya. Di depan pintu, teronggok kayu-kayu dan sampah. Dia ingin masuk.. tetapi tidak bisa. Dia ingin segera menelepon kakak perempuannya di Medan, tetapi dia tidak berhasil masuk.
A Fung terdiam... Semalam, dia masih bercanda dengan A Ping, masih ngobrol dengan ayahnya, masih sempat mencicipi masakan ibunya. A Fung, mahasiswa sebuah universitas di Jakarta, duduk menenangkan dirinya, berharap, berdoa, semoga anggota keluarganya yang lain selamat, seperti dirinya.
Kampusnya sedang libur Natal dan Tahun Baru. Kampus A Ping di Medan, juga. Mereka sengaja berkumpul di rumah mereka di Banda Aceh, untuk merayakan datangnya tahun 2005.
A Fung terpaksa tinggal di rumah tetangganya, sambil setiap hari menanti dengan penuh harap, bisa bertemu dengan orang-orang terkasihnya lagi. Tak ada makanan lain selain biskuit. A Fung bersyukur, masih ada orang yang menolongnya...
Hari berlalu, semalam A Fung tak bisa tidur. Dia sudah begitu dekat dengan kematian, sehingga rasanya ini semua seperti mimpi. Tak ada listrik, saluran telepon mati, semua orang tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hari ini A Fung berhasil masuk ke rumahnya, hendak melihat apa yang tersisa.
Dia hanya menemukan telepon genggam ayah, ibu dan adiknya. Punyanya sendiri sudah hilang dalam usahanya menyelamatkan diri. Tidak ada sinyal operator GSM, juga CDMA.
A Fung tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saat dia berkeliling tadi pagi, dia melihat orang-orang yang sedang meratap. Dia melihat duka, melihat kehancuran yang parah. Gelombang yang kejam... apa yang sebenarnya kau lakukan????
Dua hari sudah berlalu, A Fung masih punya pengharapan sampai dia melihat.. sang ayah...
'Papa....' A Fung menangis dalam hati, A Fung tak kuasa melihat sosok kaku itu. Sosok yang begitu mengasihi dan selalu perhatian padanya. A Fung berjalan gontai, dia harus menemukan ibu, kakak laki-lakinya dan A Ping.
'Mamamu selamat, Fung. Sekarang dia ada di ...'
A Fung sudah berlari, mencari sang ibu. Dia menemukan ibunya, hidup... tapi terluka parah.
'Ma....' A Fung menelan air matanya. Menelan kesedihan yang terus melanda. Sang ibu menutup mata, tidak meresponi panggilan anak laki-lakinya.
'Tuhan...' bisik A Fung.. 'Cobaan seperti apa yang sedang aku alami?'
'Fung, mamamu tidak dapat bertahan. Dia meningal tadi.'
Sekali lagi A Fung harus menghadapi kenyataan hidup di umurnya yang baru 20 tahun. A Fung... sudah jadi yatim piatu.
Banyak relawan datang ke Aceh. Helikopter, pesawat-pesawat Hercules, silih berganti datang. Mereka bilang gelombang itu namanya Tsunami. Dari orang-orang itu juga A Fung mendengar cerita tentang Tsunami yang tak hanya melanda Acehnya, tapi juga melanda Thailand, Srilangka, dan beberapa tempat lain. A Fung tak peduli.. yang A Fung tahu, dia sebatang kara saat ini.
Teleponnya berbunyi.. beberapa SMS masuk. Dari kakak perempuannya di Medan. Sinyal yang kadang ada kadang tidak, membuat pesan-pesan ini tertunda pengirimannya.
'Fung, cece menunggu kamu di airport. Tinggalkan Aceh, segera ke Medan.'
A Fung, sebatang kara, sendirian dalam gelap, menangis dalam diam, berdoa, minta kekuatan, minta ketabahan dari Tuhan.
Hari itu, A Fung datang ke Iskandar Muda, menanti giliran naik ke pesawat. Bandara tampak sangat kacau. Banyak barang, banyak orang. A Fung menghela napas panjang.. setengah tak percaya dengan apa yang dia alami.
Mendarat di Polonia dengan Hercules, A Fung bergegas mencari kakak perempuannya. Tak ada muatan bagasi kali ini, tak ada suguhan makanan di atas pesawat, tak ada pramugari manis yang siap melayani.. semua diam, larut dalam kesedihan.
Peluk tangis sang kakak menghampiri A Fung. Suasana haru melingkupi bandara Polonia. Ratapan, tangisan, air mata... A Fung merasa hatinya seperti tercabut... sakit.... sedih yang luar biasa menyergap.
'Cece sudah berhari-hari di sini, Cece menunggu kamu.'
A Fung tak tahu harus berkata apa.
A Fung sudah di Jakarta lagi sekarang. Dia harus melanjutkan hidup. Ujian semester sudah menanti. A Fung tak tahu, apakah dia dapat pulih sepenuhnya dari trauma yang kerap menghantui... dari kenangan akan Papa, Mama, Koko dan A Ping. A Fung tak pernah melihat mereka lagi... A Fung tak tahu kapan akan bertemu mereka lagi.
(ditulis khusus untuk Jhon Fung Chua - aku berdoa, supaya Tuhan Yesus sendiri yang membalut luka hatimu, supaya Tuhan Yesus sendiri yang jadi kuatmu, kamu tidak akan ditinggalkan, kamu tidak akan dilupakan. Yesus sayang kamu.)
Posted by devi at 02:04 PM
| Comments (3)
January 05, 2005
LPB - JTO III : Emeritus Eyang Kakung
Definition: [adj] honorably retired from assigned duties and retaining your title along with the additional title `emeritus' as in"professor emeritus"; "retired from `assigned duties'" does not necessarily imply that one is inactive. (source: hyperdictionary)
Katanya, di dunia cuma ada dua profesi yang mengenal istilah emeritus. Yang pertama Profesor atau Guru Besar, yang kedua adalah Pendeta.
Eyang Kakungnya Joel, Pendeta Suki Yahya Adiwidjaja resmi emeritus tanggal 11 Desember 2004 di GKJ Salatiga Utara.
Inilah salah satu alasan kedatangan kami sekeluarga ke Salatiga, menghadiri acara emeritus Bapak, I call him Bapak, sebagaimana Pampi memanggil beliau.
Pagi itu Pampi, Joel and I berangkat dari perumahan Arga Mas, kediaman dari Mama Windar (ibu mertua kakaknya Pampi - Mas Koko). Setelah melewati pagi yang cukup rusuh, dandan, ngurus Joel dll - maklum masih adaptasi, biasanya ada nanny yang membantu- akhirnya kami selesai juga, yap.. tancap gas, menuju Blotongan, Salatiga Utara.
Setelah parkir, kami masuk pekarangan gereja, disambut dengan gamelan plus sinden di pelataran, saya mendadak merasa I'm not belong to this place, but I think I'm gonna like it. Kami masuk ke pastori, menitipkan barang-barang dan semua keperluan Joel dan meninggalkan Joel ke Eyang Mama Windar yang dengan happy sekali menyambut tugas mengasuh si lutju Joel.
Joel tampak terbawa dengan alunan gamelan, matanya sudah sayup-sayup.. hehehehehee....
Di dalam gereja
Saya dan Pampi duduk di sebelah Mbah. Mbah ini umurnya sudah 80 lebih, bayangkan betapa tuanya beliau, jika anaknya saja sudah pensiun dan sudah berumur 62? Mbahnya Pampi ini masih punya penglihatan yang bagus, tidak dibantu kaca mata, pendengaran juga masih baik, juga masih kuat travelling Solo-Salatiga. Si Mbah tidak berubah dari pertama saya bertemu dengannya, begitu riang gembira dan selalu tersenyum.
Setelah semua jemaat masuk, masuklah iring2an pendeta dalam baju kebesarannya. Begitu megah... Ada juga pendeta senior yang mengenakan baju jawa, blangkon lengkap dengan kerisnya. Mas Koko ikut juga dalam iring2an ini.
Acara ini 90% berbahasa Jawa, dan 75% adalah bahasa Jawa halus. Can u imagine what should I do inside? Saya sibuk menekuri buku acara, supaya saya mengerti ini lagi ngapain.. sekarang kita sedang apa, karena berbeda dengan kalangan Pentakosta, gereja-gereja seperti GKJ ini liturgis sekali, ceremonial sekali, semua sudah ada urutannya dan semua tercantum di buku.
Acara emeritus ini berbarengan juga dengan acara pentahbisan pendeta baru untuk gereja ini.
Untuk pendeta yang emeritus ada session khotbah wuragil, artinya khotbah terakhir. Saya bisa merasakan suasana haru, karena Bapak sudah menjadi Bapa bagi jemaat Salatiga Utara, atau warga; begitu istilah yang lazim di kalangan GKJ; selama lebih dari 15 tahun. Begitu juga Ibu, yang telah mendampingi Bapak selama itu. Sebelumnya Bapak telah menjadi pendeta juga di GKJ di daerah Solo. Saya kurang tahu pasti, sudah berapa tahun beliau mengabdi.
Saya membaca profil Bapak di buku acara. Sungguh banyak hal yang belum saya ketahui selama ini, dan saya menjadi bangga boleh menjadi bagian dari keluarganya. Jika sekarang gedung gereja begitu megah, dulu tempat ini jauh dari kata megah. Juga hubungan baik yang sudah mereka jalin dengan penduduk sekitar yang tadinya 'memusuhi' gereja. Bapak Suki Yahya, adalah pribadi yang sangat dedicated pada pelayanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Sempat dia bercerita kepada saya, jadi pendeta itu kadang-kadang harus merogoh kocek sendiri. :)
Sangat kontras dengan kehidupan pendeta2 yang saya kenal, yang begitu berkecukupan dalam hidupnya bahkan lebih. Jemaat yang Bapak gembalakan, bukanlah dari kalangan menengah ke atas, kebanyakan berada di area grass root.
Dan yang jadi kebanggan Bapak dan Ibu adalah, keempat putranya sudah menjadi sarjana, semua kuliah di universitas swasta, yang rasanya kalau dipikir dengan akal manusia, tidak mungkin mereka berdua sanggup menyekolahkan anak mereka sampai ke jenjang demikian.
Walaupun saya tidak ngeh dengan apa yang sedang dikatakan di mimbar, saya bisa merasakan kebanggaan Bapak meninggalkan pelayanannya dengan nilai cum laude. GKJ Salatiga Utara telah menjadi gereja yang mandiri, gedung juga sudah megah, anak2 juga sudah berhasil... apa yang bisa membuat seorang ayah bisa lebih bangga lagi?
Pendeta senior yang juga sudah emeritus duluan, Mbah Brotosemedi (yang membaptis Pampi ketika masih bayi dulu), memberikan wejangan. Setelah itu dinyanyikan lagu yang saya cuma tau bahasa Inggrisnya, God Will Take Care of You. Saya menangkap suasana yang lebih haru lagi... lagu ini berbicara untuk Bapak dan Ibu, supaya jangan kuatir akan hidup mereka selanjutnya, karena Tuhan memelihara mereka. Hiks.. haru biru deh...
Setelah acara selesai
Saya lapar bukan main, dari tadi pagi sudah kelaparan. Di meja makan sudah tersedia macam-macam makanan hantaran dan semuanya otentik! Ada semar mendem, garang asem, botok, serabi Notosuman Solo, bandeng, dan masih banyak lagi. Ini hantaran khusus untuk Bapak dan Ibu. Di luar gereja sendiri ada makanan katering, tapi saya lebih berminat dengan makanan yang ada di dalam rumah ini.. otentik, bo.
Joel menjadi piala bergilir, maklum yang pertama di generasinya. Digendong oleh saudara-saudara yang datang sampai akhirnya Joel digendong Mbah. Mbah senang sekali menjadi buyut.... Dah sepuh banget ya, Mbah :)
Posted by devi at 02:57 PM
| Comments (1)
|
| |
|