November 2007
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
 





 

May 19, 2005

Just The Three of Us

Foto teranyar. Dijepret pake kameranya Nokia ... (ga inget.. maklum pinjeman, yang pasti hp-nya keren, flip, layarnya bisa diputer).
Posted by devi at 04:25 PM | Comments (2)

May 17, 2005

Hari Jadi Seorang Bondan - Kopdar Anak-anak Room

Sehari sebelum ulang tahun pertama anak saya, Joel, Bondan Winarno merayakan hari jadinya yang ke-55.

Istimewa, karena diadakan di Perpustakaan Nasional Salemba dan kami dari Jalansutra mendapat jatah tempat duduk 100 orang.
Istimewa, karena pada hari itu diluncurkan juga kumpulan cerpen BW. BW yang saya kenal adalah pengasuh dan penulis kolom Jalansutra di Kompas Cyber Media.

Sempat cemas di awal perjalanan, karena tidak tahu pasti jalan yang tidak macet menuju ke sana juga karena ada acara tunggu menunggu, akhirnya kami sampai juga dengan pasti dan selamat di Perpusnas Salemba. Dari Kuningan kami berangkat mengambil rute Landmark - Manggarai - Proklamasi - Salemba, thanks to Benny yang sudah ngasih tau rute yang ok. Perjalanan ternyata cuma makan waktu 30 menit, sehingga kekuatiran kami tidak dapat makan tidak perlu terjadi, mana enak sih denger pembacaan cerpen dengan perut keroncongan? Heheheehehe

Setelah parkir dengan mudahnya, kami berempat - Pampi, saya, Febi dan Euis dari Jalansutra - segera berjalan tergopoh-gopoh menuju auditorium yang biasanya digunakan juga untuk kawinan. Kami disambut oleh penyambut tamu yang wajahnya tak satu pun saya kenal. Buku BW berjudul Pada Sebuah Beranda seharga Rp 40.000 saya beli malam itu. Selain itu ada juga buku Puing, yang belum lama ini diluncurkan di QB - Plasa Semanggi.

Kesempatan baik karena bisa mendapatkan tanda tangan langsung dari pengarangnya. Tahu ini kesempatan langka, saya bawa juga buku Jalansutra yang sudah lama saya nantikan bisa ditandatangani oleh beliau. Wah... tumpukan buku yang ngantri untuk ditandatangani banyak banget, ga tau saya dapat giliran nomor berapa.

Ruang audi sudah setengah penuh. Saya melihat beberapa wajah yang saya kenal, mereka adalah teman-teman ngamar saya di Chatroom Yahoo Messenger - itu dulu, sekarang saya udah ga bisa chat pake Y!M :( sedih sedih. Sementara itu musik live melatarbelakangi kegiatan malam itu. FYI, para pemusik ini adalah dosen-dosen akademi musik di Surakarta. Keren ya!

Pampi dan saya yang kelaparan langsung ke bagian belakang (atau samping ya?). Di sana sudah rame ternyata. Mirip seperti kawinan, terhidang main course dan pondok-pondok/cemal cemil. Menu utama malam itu adalah nasi uduknya mbak Qumay Cinere - dia sempet ndredeg katanya gara-gara acara ini. Selain nasi uduk, ada pepes nasi peda, kerak telor dan es selendang mayang. Atas rekomendasi Arie van Cibubur (maklum dia Pak RT di kompleksnya), saya mencoba pepes nasi peda dulu. Wih... asli uenak banget, padahal saya ga doyan ikan asin lho, tapi pepes peda ini emang uenak banget.

Sebenernya udah kenyang, tapi kepengen juga nyobain uduq-nya mbak Maya (a.k.a Qumay). Nyomot ayam goreng satu + babat goreng... tambahin sambelnya yang khas.. mmm... sedap. Jeroannya empuk banget kata Pampi. Menurut bakul uduknya, jeroannya 30 kilo lho, kebayang ga berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengempukkan jeroan ini?

Habis itu saya nyobain es selendang mayangnya, ini pengalaman pertama, dan emang enak. Ga salah pilihan Pak Bondan. Ada juga tukang kerak telor yang stand-by dengan pikulan dan peralatan masak-masaknya, tapi saya udah kenyang dan not fond of kerak telor.
Malam itu saya bisa melihat wajah teman-teman ngamar yang lebih dikenal dengan id-nya. Begini contohnya:
Arie: "Dev, ini Mimin."
Me: "Mimin? Minni3d?"
Mimin: "Betul!"
Lucu ya, bagaimana dunia maya (bukan mbak Qumay lho ya) bisa mengubah cara pertemanan kita.

Jam 8.00 malam tepat, kami semua dipanggil masuk. Acara dibuka oleh BW sendiri selaku host. Kemudian ada persembahan doa dalam bentuk nyanyian dari keluarga Malaiholo yang merupakan keluarga 'angkat' BW. Dilanjutkan dengan persembahan dari beberapa orang top kenalan BW, salah duanya Retno Maruti, dan ibu Rose Wangi (cmiiw). Keroncong rocks!
Lalu, dimulailah pembacaan cerpen dari buku baru BW. Dimulai oleh Irvan Karta (yang mengingatkan saya pada Heidy Yunus) dengan "Abus" dilanjutkan dengan Pak Erry R. Hardjapamekas dari KPK, ditutup dengan "Santa" oleh sang penulis. Sedang BW membacakan Santa-nya, saya dan Febi ke belakang untuk pipis. Akhirnya kami berdua malah terjebak di sana, ngobrol dengan teman-teman yang lain. Tak lupa saya ngembat 2 bungkus pepes nasi peda untuk dibawa pulang.

Masuk lagi ke audi, selamatin BW, foto-foto, minta tanda tangan beliau, chit chat, pulang.

Perlu dicatat, penjual kerak telor didatangkan dari Blok S, penjual es selendang mayang dibajak dari depan Stasiun Beos, nasi pepes saya belum dapat info.

Terimakasih atas undangannya Pak, saya menikmati sekali acara ultah yang jauh dari hingar bingar ini. Begitu classy (tidak sama dengan mewah), memikat, kekeluargaan dan menyentuh. Terimakasih juga untuk keluarga JS yang telah menambahkan warna dalam hidup saya.

ps: foto2 ini courtessy of Parikesit Putra Kusumo.

Posted by devi at 10:49 AM | Comments (1)

May 12, 2005

Gaji vs Berkat

Belum lama ini saat bersiap-siap pulang, saya terlibat percakapan dengan salah seorang rekan kantor saya yang sudah senior.
Ngobrol macem-macem, akhirnya sampai juga ke masalah gaji, masalah penghargaan dari kantor. Saya sebagai orang baru (baru seminggu, lho) bingung juga bagaimana menanggapinya. Tetapi karena saya pikir ia cuma butuh curhat dan toh saya tidak bisa kasih solusi, ya, saya diam aja lah.

Jadi, di mana-mana pun karyawan di seluruh dunia, di LSM sekali pun, gaji tetap jadi 'masalah'. Saya masih ingat 6 tahun yang lalu saya bekerja dengan gaji sangat minim, 500.000. Setahun kemudian dengan gaji 900.000 saya bisa hidup sedikit lebih layak, apalagi ketika 6 bulan kemudian menjadi 1.100.000. Pertambahan gaji membuat gaya hidup juga berubah. Mulai beli baju yang agak mahalan, frekuensi bersenang-senang lebih tinggi, dsbg. Mungkin ada yang akan heran kalau saya bisa membeli sebuah hp second Ericcson T768 berwarna kuning ketika gaji saya masih 500.000, bahkan saya membeli kartu perdana XL - yang terkenal sebagai provider termahal saat itu.

Saat ini gaji saya sudah beberapa kali lipat dibanding angka 500.000 yang fenomenal itu. Gaji saya memang tidak besar secara nominal, ada hal lain yang tidak bisa dihitung secara nominal yang saya tau menjadi faktor terbesar dan terpenting yang harus dimiliki seseorang sehingga hidupnya 'content'. Itulah: berkat.

Siapakah orang yang diberkati? Ialah orang yang bersyukur atas apa yang ia terima dan percaya Tuhan tidak akan mencukupi kebutuhannya sesuai dengan kekayaanNya. Tuhan kita itu kaya.. sangat kaya, lebih dari apa yang bisa kita bayangkan.

Tentu masih ingat cerita 2 roti dan 5 ikan? Secara nominal, angka ini jauh dari cukup untuk memberi makan 5000 orang. Tetapi apa yang terjadi? 12 bakul tersisa dari pesta makan ini, terlalu banyak yang dari bisa dipikirkan.
Jika gaji 500.000 saya dulu pun Tuhan berkati, mungkinkah Tuhan mengurangi berkatNya ketika gaji saya sudah lebih banyak?

Semoga Tuhan memberkati Anda! :)

Posted by devi at 02:22 PM | Comments (1)

May 11, 2005

Do It Yourself@Home: Tune Up Engine

Mesin ngelitik? Tarikan loyo? Mesin bergetar? Waspadalah! Kemungkinan ruang bakar terlalu banyak endapan karbon.
Jaman dulu sih waktu pake Yamaha enak bener bersihinnya, buka saja baut di kepala silinder, gosok2 deh kerak di kepala silinder pake amplas hehehehe... tapi kalau sudah 4 silinder gempor saja kalau mau bersihin model gini. Bisa sih, tapi ongkosnya saja bisa 1 jt lebih huhuhuhuhu...
Sebenernya si Vivi barusan di serpis di bengkel resmi sih (ini juga supaya garansi gak angus), bayarnya mahal buanget (600 rebu, oli bawa sendiri) tapi bukannya tambah asik tapi malah mesin lebih bergetar. Mungkin waktu di bengkel gak terlalu tuntas bersihin kerak karbonnya.
Daripada bete ama bengkel (dan sebelum digelari abenk == anak bengkel), mending dicoba saja dibersihin sendiri kali ye. Sok atuh:

Bahan-bahan
- Sarung tangan wol (kanan & kiri)
- Kunci busi yang sesuai (16 mm or 21 mm, jangan salah beli!)
- Kunci 10mm (ini yg buat Vivi, your milleage may vary)
- Aqua, Pocari Sweat, Pepsi, Coca Cola, atau air sumur jg bole
- Cairan Injector Cleaner (Gzok, DCS atau yg sejenis), beli di Senen atau Ace
- Kapas & tissue (basah)
- Additif bensin yang berfungsi untuk cleaner (bukan octane booster).
Inga, inga! Kalau yg mau dibersihin pakai injector *dilarang keras* memakai carburator cleaner, bisa merusak sensor oxygen yg berada di exhaust.

Cara Pakai
Ada 2 step untuk pemakaian, step pertama adalah pembersihan intake valve dan saudara-saudaranya:

  • Cari saluran yang 'menghisap', paling asik urutin aja dari master rem, biasanya ada selang vacuum yg ke intake. Copot selang yang paling dekat dengan saluran intake.
  • Siapkan Gzok atau DCS, kocok2 dengan kuat. Terutama dengan Gzok gas tekanannya sangat terbatas, bisa2 tekanannya sudah abis meskipun isinya msh banyak.
  • Pasang kapas di kuping (siap2 diomelin karena exhaust bakal bau! hehehe)
  • Hidupkan mesin, masukkan selang Gzok/DCS ke pipa yg menuju ke intake, semprotkan selama 30 detik.
  • Matikan mesin, pakai tissue basah buat tutup hidung kalau tidak tahan baunya.
  • Biarkan selama 10 menit atau 15 menit, buka Pocari Sweat/Coke/Pepsi atau air sumur, sambil baca-baca atau nonton TV.
  • Hidupkan mesin lagi, geber2 sambil dibawa jalan. Kalau matic, posisikan gigi di L saja selama 10 menit.
Ok, semestinya saluran intake sudah mendingan, sekarang giliran exhaust:
  • Buka cover mesin (tidak semua punya)
  • Buka cover busi
  • Buka busi dengan kunci yang pas, ada 2 jenis busi, biasanya yang di bawah 2000cc pakai busi 16mm, di atas 2000cc pakai 21mm (kecuali yg 6 silinder).
  • Semprotkan Gzok/DCS langsung ke dalam lubang busi.
  • Pasang kembali busi dan penutup-penutupnya.
  • Hidupkan mesin, pasti tidak bisa hidup. Jangan takut, suatu saat nanti pasti akan hidup (lho?!). Atau kalau masih tidak mau hidup masih ada bengkel koq hhehehe... gak, ini beneran... soalnya ruang mesin pasti basah kuyup. Start terus saja, sampai mesin benar2 hidup. Begitu mesin hidup, langsung matikan. Diamkan semalaman (semacam di-marinate gitu).
  • Pagi-pagi langsung bawa jalan, soalnya asapnya pasti mengganggu lingkungan. Sama seperti step pertama, geber mesin sambil jalan.
Selesai sudah TuneUp kita. Percaya gak percaya buat mobil-mobil baru di bengkel ya cuman dibeginikan, karena semua sudah full otomatis, apalagi yg mau disetel?

Supaya lebih jozzz... isi bensin full tank dengan tambahan additif pembersih, dijamin mesin kembali segaarrrr...

Oya, for your own safety, selalu pakai sarung tangan wol (atau yg anti panas) karena semuanya kita kerjakan dalam kondisi mesin yang masih panas, mind your hands!

ps: barusan ada update, lebih yahud kalau punya air compressor setelah didiamkan (sejam or semalaman), semprot aja itu lubang busi, jangan lupa kasih koran buat alas soalnya kotorannya bakal ke mana2.

Posted by pampi at 10:59 AM | Comments (3)

May 10, 2005

How to Install Nessus on Solaris

Garink!!!! udah lama gak ngisi blog tau2 ngisi soal techie heuehue.. biarin, abis kesel banget neh ama nessus.

Tau Nessus kan? Yang jelas dia bukan sejenis gula-gula, apalagi tahu (atau tofu). Buat yang belum tahu, atau yang sudah tau tapi pengen tau juga, Nessus itu sejenis scanner network. Sangat berguna untuk penetration test alias percobaan pembobolan komputer. Duh, kejam ya program ini... tapi daripada dibobol orang lain mending kita duluan kan yang bobol sendiri :)).

Nessus bekerja dengan menggunakan semacam plugins yang selalu diupdate berdasarkan temuan-temuan lubang keamanan yang baru. Sakti? Jelas!

Nah, berhubung pekerjaan sebagai satpam jaringan, mau tidak mau harus belajar kemampuan yg bisa dimanfaatkan oleh para maling. Nessus adalah salah satu tools yang sangat up to date, selain Security Focus dan CERT tentunya. Sudah dicoba compile di Win 2K under Cygwin, semacam *Nix emulator di Win, sukses, tapi lelet berat! (kalau gak salah ada sekitar 7000-an plugins sekarang).

Oke lah, iseng-iseng coba install di Sun Ultra-1 yang sudah uzur... download source dari website-nya, ternyata sekarang dibundle jadi 1 file .sh, ya sudahlah.

running.. running... error!

walah!

Terpaksa ngubrak-abrik source-nya yg diekstrak ke /tmp. Coba compile manual. Tetep gak bisa, weleh2... something wrong... coba liat2 di web, ternyata tidak ada keterangan yang komprehensif soal cara install.. script configure yang terkenal ternyata tidak diset dengan sempurna, jadi tidak bisa mendeteksi kekurangan prerequisite yang diperlukan (sengaja?)...

Alamak.. ternyata GCC saja tidaklah cukup, inget-inget lagi, kaya'nya sih belum punya autoconf dan sebangsanya.. okelah, ke Sunfreeware tercinta. Berikut yang di download:


  • autoconf
  • m4
  • flex
  • bison

Coba compile lagi... walah! Semua header ANSI C yang seharusnya di /usr/include ternyata blon ada... terpaksa install dulu SUNWhea package, untung masih ada yg punya CD solaris 8.

Compile lagi... berhasil? In your dream! :p tetep gak bisa, sekarang masalahnya adalah tidak ada header iso/math_iso.c ama iso/ieeefp.h. Walah, musti pinjem CD lagi, install SUNWlibm ama patch-nya sekalian.

Compile lagi... akhirnya, berhasil juga.

Kesimpulan kalau mau install nessus di Solaris 8:


  • Package yang musti diinstall: SUNWhea ama SUNWlibm
  • Ambil semua development tool di sunfreeware.com, configure tidak akan stop kalau ada salah satu yang tidak dipenuhi, mungkin sengaja untuk mempersulit instalasi (autoconf, m4, bison, flex, dan gcc!)

Posted by pampi at 03:50 PM | Comments (1)

May 09, 2005

Mati Rasa

Tau kan istilah ini? Mati rasa biasanya terjadi kalo kita lagi kesemutan, ato lagi dalam pengaruh bius.

Hari Kamis yang lalu dalam suasana libur yang menyenangkan...
"Permisi, saya mau pasang tiang."
Pria-pria kasar didampingi seorang ibu tetangga rumah saya meminta ijin untuk memasang tiang di dalam pagar saya.
"Kawinannya kan masih hari Sabtu, Mbak?" tanya saya.
"Iya.. soalnya kami memburu waktu."
"Lalu mobil saya gimana?"
"Taroh di luar juga bisa... cuma beberapa hari ini," tukasnya tanpa mikir.
"Kalo ilang bagaimana?"
Sang koordinator keamanan yang tiba2 muncul juga tidak kalah unjuk diri, "Kalo ilang... nanti hansip-hansip saya pecatin semua." *Trus mobil saya gimana? red*
Saya diam aja dan akhirnya karena memang tidak ada pilihan lain... saya harus mengalah pada hasrat si ibu untuk mengawinkan anaknya dan ternyata mobil masih bisa masuk carport dengan agak bersusah payah dengan konsekuensi pagar tak dapat ditutup.. ya sudahlah...

Dalam satu tahun terakhir ini, gang saya yang cuma muat satu mobil ini sudah tiga kali menjadi saksi pernikahan keluarga ini. Saya sudah tau apa yang akan terjadi, gang diblokir, dan di mulut gang, di jalan besarnya... akan dipasang panggung segede gaban dan tidak ada mobil yang bisa keluar masuk lagi sejak saat itu. Juga... gang saya yg kecil dengan rumah berdesak-desakan akan dihujani oleh meteor dangdut semalam suntuk.. oh no.. :(

Sabtu pagi..
Hari ini rencananya mau ngubek-ngubek Mangga Dua, sekalian ngungsi dari keribetan perhelatan nikah tetangga saya itu. Bukan apa-apa.. saya udah tau kebiasaan mereka yang menaruh kursi sampai depan rumah saya dan menghalangi keluar masuk saya dan sampah-sampah yang dibuang seenaknya oleh tamu-tamu mereka bisa bikin saya senewen.. lebih baik mengungsi saja.

OH NO! Mulut gang sudah diblokir! Dan rumah saya terletak antara rumahnya dan mulut gang. Jadi terperangkaplah saya.. :(( hiks...
Ketika saya complain ke bendahara RT yang lewat, si bendahara ngomong dengan ringan: "Naik taxi aja, Dev." Taxi gundulmu? Huh... kesel kesel...

Sore-sore sound system sudah mulai disetel dan mengumandangkan lagu2 dangdut yang seronok. Tuhan... selamatkan saya.
Untunglah datang sang penyelamat, om saya membawa mobil teranyarnya dalam rangka pamer :p dan kami sekeluarga + papa + mama + adik2 saya.. segera melaju ke Mall Taman Anggrek.. lumayan mengenyahkan stress.
Pulangnya kami naik bajaj, 2 bajaj seharga 5000 perak tersewa oleh rombongan kami. Joel si baby boy umur satu tahun, langsung pulas dalam goyangan bajaj.
Ditingkah musik dangdut nan aduhai, saya menerobos para jogeders dan melangkah masuk ke dalam gang saya sambil menggendong si kecil yang sudah terbius total itu :)

Malam itu jadi mimpi buruk buat Pampi, karena dia tidak bisa tidur sampai musik berhenti, sekitar jam satu kurang seperempat. Juga jadi mimpi buruk buat adik saya Rita yang teriak-teriak di kamarnya yang terletak paling depan :) Saya sempat terbangun jam 1/2 1 dan sempat mendengar si penyanyi wanita mendesah-desah tak karuan...

Seakan belum cukup.....
Minggu pagi jam 8, saat saya terbangun dari malam nan melelahkan pikiran, yang pertama saya lakukan adalah mengecek mulut gang. Betul! Panggung gaban itu masih nangkring dengan enak di sana. Meja-meja catering juga masih terpajang tak tau diri di depan rumah tetangga saya itu.

Ketika si bendaha lewat lagi untuk menagih uang kebersihan/keamanan sejumlah Rp 18.000 (sampah diambil seminggu sekali, keamanan sih lumayan okelah)... saya tanyakan mengapa panggungnya belum dicopot.
"Mungkin orang yang bongkar belum datang, Dev."
"Lah? Ini kan hari Minggu, saya mau ke gereja."
"Yah....." That's all I got. Pengen marah.. pengen nangis.. pengen teriak. Untung baru kepengen. Akhirnya, saya mengalah lagi dengan cara naik bajaj, dan tidak membawa baby sitter, males amat naik bajaj bawa baby sitter :)

Ntah mengapa, saya amati sebagian penduduk Jakarta ini kok tidak merasa perlu mempertimbangkan kepentingan tetangganya ketika mengadakan perhelatan kawinan. Blokir jalan yang sedianya adalah fasilitas umum. Bahkan untuk kasus saya, rute mikrolet terpaksa dialihkan ke jalan lain.
Saya sih tidak heran-heran banget dengan budaya ini, toh apa yang dilakukan masyarakat kecil ini biasanya mencerminkan pemerintah dan aparatnya yang juga udah mati rasa tebal muka ketika melakukan pungli dan korupsi.

Yah begitulah suka duka hidup di sebuah gang kecil di 'hutan' Jakarta. Semoga di hari esok saya bisa diberikan rejeki lebih olehNya sehingga saya bisa tinggal di dalam lingkungan yang saling menghargai kepentingan orang lain.

Posted by devi at 04:48 PM | Comments (3)

May 03, 2005

Kantor Baru Suasana Baru

Hi! Dah ngantor di Wahid Hasyim..

Inilah rutinitas baruku:
Jam 6, alarm bunyi.. matiin tidur bentar lagi.. bangun2 dah 6.30.. WAKSSS!!!
Mandi cibang cibung... kalo Joel udah bangun, ajak doa dan bacain Firman dulu.. trus beresin ini itu.. alhasil jam 7.15 baru siap meninggalkan rumah.
Jam 8 lewat 1-2 menit.. nyampe di depan gerbang WV, tinggali SIM, biar dpt ID-visitor (blom punya ID card nih) naek ke lantai tiga, taroh tas di meja paling paling pojok.
Ambil Alkitab & buku Santapan Rohani, gabung dengan staf Komunikasi yang laen melakukan devotion.. mmm.. banyak hal baru yang aku dapat di acara saat teduh pagi ini.

Hari ini laptop udah siap dipake (thanks God). Windows98 2nd edition, RAM 64MB.. siap melayani. :p hehehehee.. biasa pake XP, processor Pentium 4/2GB, RAM 384 MB.. yah.. hrs adaptasi lah :) Btw, ini laptop walaupun rada lemot, ada DVD playernya :)

Oh ya, di sini ga boleh instal macem2, harus persetujuan Admin. Jadi saat ini:
no Photoshop, no Fireworks, no Eudora, no Firefox yang lucu, no Dreamweaver, no Flash.. Maklum dari designer 'turun pangkat' jadi writer... maklumlah :)

Sekarang pake LotusNotes R.5 Masih blom berhasil kirim email ke luar, nanti deh dicari-cari lagi penyelesaiannya, ga enak aku kalo ngerepotin anak IT-nya.

Jam 4 sore... matiin komputer, masukin laptop ke dalam tempat yang aman.. turun tangga 2 lantai.. berjalan menyusuri Wahid Hasyim menanti taxi yang akan datang.

So far.. perubahan ini sedang kuadaptasi.. dari IT-world ke nonIT-world bahkan NGO-world.

Wish the best for myself.

Posted by devi at 03:34 PM | Comments (1)

May 01, 2005

Mengenang Setahun yang Lalu

29 April
Tukang ledeng baru saja menyelesaikan tempat penampungan air yang bocor. Rumah masih agak semrawut sisa kemasukan air beberapa hari yang lalu. Rumah ini memang agak unik, karena kalau hujan deras, justru lantai ataslah yang kemasukan air.. bukan lantai bawah, maklum, yang mendesain rumah ini punya ide yang aneh dalam pembuangan air dari tempat cucian di lantai tiga? air buangan dilewatkan dulu ke kamar mandi lantai dua, sehingga kalau volume air terlalu banyak untuk bisa dihandel oleh kamar mandi itu, air akan meluber ke luar, dan itulah yang terjadi pada waktu itu. Repot juga mengurusi semua, tanpa suami berada di sisi, sementara perutku sudah sangat membuncit, untunglah ada adik-adikku membantu.

Hari ini jadwal buka jahitan terakhir di jari telunjukku di rumah sakit Pantai Indah Kapuk, sekalian kontrol ke dokter kandungan juga. Lama menunggu taxi, dengan ditemani adikku Rita, kami berangkat ke RS PIK. Karena jadwal yang cocok adalah ke dokter kandungan dulu, aku segera mendaftarkan diri.

?Tensi dulu di ruang tensi ya, Bu?
?160/100 ?
WAKS?!
?Salah ga, Sus? Ini digital, kan??
?Mungkin karena Ibu barusan jalan capek. Nanti kita tensi lagi di dalam.?

Dokter Lily bukanlah dokter yang biasa kukunjungi, aku cuma menyesuaikan dengan jadwal dokter Bonifacius, dokter bedah yang mengoperasi telunjukku.
?Kenapa tidak ke dokter Radit tadi pagi, Bu??
?Saya bisanya cuma jam segini, Dok.?
?Kayaknya harus dirawat lho, Bu. Kemungkinan malah harus diinduksi, karena Ibu mengalami Pre Eklamsi.?

Aku gemetaran.. dalam arti sesungguhnya. Kepada siapa aku bersandar saat ini? Suamiku sedang tugas di Kuala Lumpur, orang tuaku ada di daerah, begitu juga mertuaku. Aku? bingung dan merasa sangat tidak berdaya. Percakapan dokter Lily dengan dokter Radit di telepon menghasilkan keputusan, aku harus dirawat.
Akhirnya? aku dibawa ke ruang bersalin untuk observasi. Adikku Rita, mendampingi. Besok pagi dia ujian? jadi kurasa saat itu dia juga dalam posisi yang sulit, besok ujian, tapi kakaknya sedang membutuhkan dirinya.
Tensiku tidak kunjung turun. Kesedihan kerap mengunjungi? aku merasa sebatang kara. Aku mungkin akan melahirkan? tapi suamiku tidak bisa mendampingi. Inilah kekuatiran terbesarku ketika dia mendapat tugas ke KL. Memasuki minggu ke-38? rasanya kurang aman kalau suami tidak mendampingi. Tapi apa mau di kata?.

Aku diberi obat penurun tensi. Kemudian juga disuntik valium. Mungkin aku terlihat begitu tegang,
Perawat memeriksa bukaan rahimku? luar biasa sakitnya. Dia juga sangat tidak ramah.
"Kenapa nangis, Bu?"
Aku diam? Aku tidak merasa perlu menjelaskan kepadanya mengapa aku menangis.
"Kalau kayak gini aja ga bisa tahan, gimana nanti melahirkan. Melahirkan lebih sakit lho, Bu."
Ohhh?. rasanya aku pengen teriak dan bilang ama dia:
"Suster?. saya akan melahirkan tanpa suami. Dan orang tua saya tidak ada di Jakarta! "
Aku menolak untuk bicara padanya.

Kemudian, datanglah pempimpin komselku Franky? rencananya habis kontrol, Franky jemput, pas dia ada jadwal ke RS PIK. Sekali lagi aku hampir tidak kuat menahan kesedihanku. Setelah mendoakanku, Franky pulang. Kemudian datanglah Torkis yang sedang menunggui Ros, istrinya yang mengalami masalah dalam kehamilannya di minggu ke-36, ketubannya bocor. Torkis dan Ros menikah pada hari dan tanggal yang sama dengan kami.
Duh.. aku semakin sedih. Ros ada suaminya.. aku? 

Malam-malam sebelum keberangkatan suamiku, aku menangis tiap malam di tempat tidur. Aku tidak ingin dia pergi, aku ingin dia ada di sampingku karena aku tidak pernah tahu kapan si dedek minta keluar. Apalagi ketika aku bilang, bagaimana nanti pas kamu di KL anaknya lahir? Dia menjawab, kan ada teman-teman komsel kita, masa mereka tidak mau bantu?
Jadi? inilah penyebab utama kesedihanku, karena apa yang aku takutkan terjadi!

Dokter Boni akhirnya didatangkan ke ruang bersalin untuk membuka jahitan di telunjukku. Aku mau menangis lagi melihat wajah dokter yang ramah ini. Sepertinya dia mengerti kesusahanku, dia tau suamiku sedang tidak di tempat. Setelah selesai membuka jahitan? rasanya tidak sesakit ketika perawat memeriksa bukaan? dokter Boni menepuk bahuku, dengan wajah sangat bersimpati.

Suamiku di KL sudah kukabari, thanks to the GSM technology, bagaimana kalau tidak ada teknologi ini, bagaimana caraku menghubungi dia, aku tidak tau nomor telepon hotelnya, tidak tau nomor kamarnya. Mama juga sudah kukabari, mertuaku juga. Mama akan datang besok dengan pesawat pertama, mungkin sekitar jam 12 sampai di Jakarta. Beberapa sms masuk memberikan kekuatan? tapi aku masih tetap sedih.
Aku masuk kamar VIP atas saran suamiku, jadi aku sendirian di kamar. Adikku sudah pulang bersama dengan Franky dan Yuyun istrinya. Aku benar-benar sendirian dan punya kesempatan menangis sejadi-jadinya.

Jam 10 malam lewat, adikku Meike datang. Giliaran dia untuk menemani. Telepon berdering, dari mertuaku. Aku segera minta Meike yang mengangkat? aku takut tak kuasa menahan ledakan tangisku. Aku masuk kamar mandi? menatap bayanganku di cermin. Tuhan.. berikan aku kekuatan? Tuhan? aku benar-benar merasa tak berdaya.

Dokter Radit menelepon.
"Ibu, ini tensinya tidak turun juga. Saya anjurkan operasi, kalau mau saya jadwalkan besok pagi."
Another thing to deal with!
"Suami saya sedang di Malaysia, Dok," jawabku lemah. "Tidak bisakah kita menunggu dia? Rencananya dia pulang 3 hari lagi. "
"Tidak bisa, Bu. Kalau dibiarkan takutnya nanti janin Ibu tidak mendapat oksigen."
"Kalau melahirkan normal, Dok?"
"Terlalu beresiko untuk sang Ibu, dikuatirkan akan kejang, dan juga berbahaya untuk janin."
Oh! Seperti masih kurang saja beban yang kutanggung saat ini.
Akhirnya operasi ditunda dulu.. aku menunggu keputusan suamiku, Pampi. Mama menyarankan untuk tetap melahirkan normal? kalau Pampi, dia ingin yang terbaik.

Torkis datang, mau numpang istirahat. Aku memang menawari dia untuk tidur di kamarku. Kasian dia sudah berapa malam tidur di ruang tunggu, atau bolak balik Greenville ? PIK, karena kamar Ros tidak mengijinkan pasien ditunggui.

Mertuaku telepon lagi? dia usahakan bisa datang, dia akan cari tiket kereta kalau bisa besok pagi-pagi sekali berangkat dari Semarang, supaya sorenya bisa sampai Jakarta.
Aku tidur dengan tidak tenang malam itu? Berjuta rasa berkecamuk.

30 April
Hari ini perasaanku sudah lebih baik. Aku sudah lebih bisa menerima kenyataan bahwa aku akan melahirkan anak pertamaku tanpa didampingi suami.
Tensiku masih belum turun, paling rendah 140/90. Aneh memang kalau dipikir, selama 37 minggu, tensiku selalu dalam keadaan normal. Tidak pernah ada tanda-tanda Pre Eklamsi.

Aku dibawa ke ruang bersalin oleh seorang perawat yang sangat ramah dan membuat hatiku lebih tentram. Tensiku terus dipantau sambil aku berbaring, lama kelamaan aku bosan juga harus berbaring terus. Dokter Radit datang, memeriksa bukaan.
"Mulut rahimnya sudah melunak, Bu."
Ok, berarti harapan melahirkan normal tetap ada.

Mertuaku (kupanggil Ibu) tiba pukul 09.30 pagi bersama adik iparku. Mereka akhirnya go show di airport Semarang, dan untunglah ada tiket yang available. Hatiku merasa lebih tenang, karena setidaknya ada orang tua di sini. Kesedihaku sedikit terobati.
Jam 12 siang, Mama akhirnya tiba? duh? aku merasa lebih tenang. Ga pa pa deh tanpa suami, yang penting aku tau ada yang peduli sama aku di sini.

Kembali perawat menanyakan tentang keputasan operasi, maunya kapan. Dari hasil test laboratorium memang sudah dapat dipastikan aku PEB (Pre Eklamsi Berat)

SMS dari Pampi masuk : Aku bisa pulang. Aku sudah dapat tiket, pesawat jam 3 dari Malaysia.

Ya begitulah, akhirnya semua malah bisa datang. Tuhan Maha Baik, semua orang yang kukasihi justru malah berkumpul di sini.

Ros juga sudah dalam kondisi harus melahirkan walaupun kandungannya belum cukup 38 minggu (9 bulan). Bukan kebetulan juga kalau dokter kandungan kami sama, dokter Radit. Jadi.. malam itu dokter Radit menangani Ros dulu dalam kelahiran normal dengan induksi dan epidural, sehabis itu, dia menanganiku, sesuai jadwal, yaitu pukul 11.30 malam.

Menit-menit Menanti
Pukul 09.00 malam aku sudah didorong ke ruang operasi. Aku dipasangi alat pengukur tekanan darah otomatis. Waktu berjalan sangat lambat. Aku menyaksikan peristiwa sadarnya seseorang dari pengaruh bius pasca operasi. RS PIK bukan rumah sakit khusus bersalin, jadi tidak semua yang dioperasi adalah orang-orang yang melahirkan.
Akhirnya, aku didorong juga ke kamar operasi. Dingin menyengat kulit. Di sana dokter kandungan, dokter anak, dokter anestesi dan asisten2nya sudah menunggu. Aku menggigil.
"Dingin ya, Bu?" Aku tidak tahu siapa yang bertanya. Mereka semua memakai masker.
Tubuhku dibalik dan aku disuntik dengan epidural di tulang punggungku. Kemudian aku mulai dibius, seorang dokter mengambil tempat di dekat kepalaku dan menepuk-nepuk pipiku, memberikan rasa nyaman dan aman. Aku dibius lokal, kemudian diberikan bantuan pernapasan melalui oksigen.
"Gimana, Bu?"
"Ga enak napasnya, Dok."
"Kasih oksigen murni."

Sekilas aku mendengar mereka bercakap-cakap tentang kasus Sukma Ayu yang belum sadar dari koma-nya. Bagian bawah daguku ditutupi kain sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi.

"Bu, ini anaknya."
A very beautiful baby was handed to me. Aduh? cakep sekali. Dua kali kucium bayi yang harum itu.. Anakku? anak laki-lakiku.

Anakku kemudian dibawa keluar. Aku masih dalam pengaruh bius. Aku kemudian dibawa ke ruang tempat aku menunggu tadi? beberapa lama kemudian baru aku didorong ke kamarku.

Ternyata? ketika sang bayi dikeluarkan dari perutku pukul 23:23, dokter membuatku tertidur untuk mencegah stress, karena tensi yang tinggi, sehingga aku tidak pernah melihat bayiku keluar dengan berlumur darah.

Saat Ini
Sekarang? tepat pukul 23:23 ketika aku selesai mengetik ini? kami baru saja merayakan ulang tahun pertama Joel Christophe Adiwijaya, dengan penuh ucapan syukur pada Tuhan, karena kami tahu, kelahirannya, keberadaannya? adalah karena Dia yang memberikan kehidupan, karena Dia yang mengasihi kami.

Bersyukur pula, karena setelah itu aku banyak mendengar dan membaca tentang kasus orang-orang yang tidak dapat melewati Pre Eklamsia, baik itu kehilangan bayinya atau kehilangan ibunya, atau kehilangan dua-duanya.

Aku bersyukur? benar-benar besyukur dari lubuk hati terdalam, karena mujizat yang istimewa ini, Joel lahir ditunggui oleh papanya.

Posted by devi at 12:25 AM | Comments (1)