November 2007
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
 





 

June 06, 2005

Kega Warrior.. Let's go!

Picture(1).jpg
Evrybody tidy up tidy up tidy up
Evrybody tidy up, just like Joel

Sambil mengedarkan kantong plastik besar, Kak Shirley tak henti menyanyikan lagu di atas. Bocah-bocah berumur 0-2 tahun dengan semangat mendatangi Kak Shirley dan memungut mainan yang letaknya paling dekat dan mencemplungkannya ke dalam kantong plastik itu.

Sedang apakah anak-anak ini? Mereka adalah jemaat gereja anak Kega (Ksatria Kerajaan Surga). Jemaat? Betul.

Apa yang terjadi kalau anak-anak punya gereja sendiri? Itu yang menjadi pemikiran para perintis gereja anak Kega ini. Para perintis yakin, anak-anak akan belajar melayani dari usia muda, dan tak cuma terbiasa menerima tapi juga memberi.

Gereja saya menangkap perlunya gereja buat anak-anak. Tidak sekedar dipisahkan dari orangtuanya supaya 'tidak mengganggu' ibadah orang dewasa, tetapi mereka juga perlu mengalami sendiri pentingnya memiliki komunitas yang baik dari usia muda.

Dari umur 5 bulan, Joel anak saya sudah saya ikutkan ke Kega, dari belum bisa apa-apa sampai sudah bisa jalan kayak sekarang. Konyol ya? Tidak tuh...
Joel sudah mengerti berdoa. Dia akan melipat tangannya kalau diajak berdoa, dan akan segera melepaskan tangannya kalau sudah mendengar kalimat:' Dalam nama Yesus... Aaaaaamin.' ; sambil tangannya goyang2 lalu menekuk sikunya dan mendorongnya ke belakang seperti yang diajarkan di Kega.
Dia juga mengerti kata TAAT, karena para pembina di Kega tidak lupa mengajar mereka untuk Te A A Te, TAAT.

Orang tua juga diminta untuk berkomitmen membacakan Firman Tuhan setiap hari ke anak balitanya. Tadinya saya dan suami malas, tapi dengan berbangga hati saya bisa katakan, kami sudah rutin membacakan satu dua ayat setiap pagi selama setengah tahun ini. Dan, anak kami pun menyambut Firman yang dibacakan dengan gembira. Dia duduk manis di pangkuan papanya dan selalu tersenyum kepada kami ketika mendengar Firman Tuhan.

Hal positif lain yang saya dapatkan di sini, anak-anak diajar untuk membereskan mainan sendiri. Anak-anak juga belajar share mainan yang menjadi inventaris gereja Kega ini. Setelah waktu main selesai, sang pembina mengumumkan untuk anak-anak tidak makan dan tidak mimik cucu lagi, karena ibadah akan dimulai. Dimulai dengan berdoa, nyanyi sambil main, dilanjutkan dengan cerita.

Joel dulu tidak bisa duduk diam untuk waktu lama. Tapi saya sudah melihat perubahannya sekarang. Joel sudah bisa duduk diam mendengarkan Kak Anna, salah satu pembina Kega juga, bercerita.

Ada cerita mengharukan tentang Kak Anna ini. Dia sudah menikah cukup lama dan belum diberi anak oleh Tuhan sampai hari ini. Saya melihat dedikasinya yang luar biasa untuk anak-anak. Saya melihat kasihnya yang tulus untuk anak-anak. God bless her!

Kega Warrior, kata saya pada Joel. Joel menggoyang2kan tangannya dan mendorongnya ke depan sambil saya berseru: 'Let's go!'

Posted by devi at 02:43 PM | Comments (4)