July 26, 2005
Selamat Hari Anak Nasional
Jumat lalu, kantor saya mengadakan acara diskusi publik yang disiarkan oleh sebuah radio di Jakarta. Topik diskusi adalah "Hak Anak yang Hilang".
Nara sumbernya dari Komite Perlindungan Anak, Dokter Spesialis Anak, Direktur World Vision, dan juga ibu Andarini (Rino) yang juga aktivis hak anak.
Well.. ada yang menarik di sini. Bu Rino menyinggung tentang kekerasan domestik yang dilakukan pada anak. Bentakan, pukulan orang tua pada anak dikategorikan sebagai abuse. Anak kan juga punya hak, kita harus hargai, demikian kalau saya simpulkan, maksud perkataan dari Bu Rino.
Saya tidak setuju kalau orang tua tidak boleh mendidik anak dengan pukulan. Sadis? Mungkin terasa demikian, tetapi bacalah Amsal Salomo:
"Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya."; perhatikan penekanan yang saya berikan untuk kata "pada waktunya."
Tidak bijak menurut saya, untuk membiarkan anak yang masih muda untuk melakukan apa saja semaunya dan kemudian berusaha setengah mati untuk mengekang anak remajanya.
Kontrol seharusnya berbanding terbalik dengan usia sang anak. Makin besar, kontrol itu justru harus makin berkurang. Anak yang masih kecil, belum tahu apa yang baik baginya. Orang tua lah yang mengajarkan pada anak yang masih kecil ini, mendidiknya, bahkan menghajarnya, supaya dia selalu ingat didikan orang tuanya, sehingga ketika dia besar nanti, orang tua lah yang menuai hasilnya.
Untuk anak umur 0-8 tahun, semua yang orang tuanya katakan adalah 'kebenaran'. Setelah itu, pengaruh-pengaruh lain mulai masuk. Di saat ini, orang tua berperan sangat aktif membimbingnya, mengajarnya membedakan, memilah-milah informasi yang ia dapat.
Dari awal, anak harus tau batasan-batasan yang ditetapkan oleh orang tuanya. Kalau ia tidak pernah tau, adalah tidak adil untuk mendisplinnya. Anak akan merasa aman dengan batas2 yang telah ia ketahui. Orang tua pun harus konsisten menjalankannya, ayah dan ibu juga harus sepakat, supaya anak tidak bingung. Jangan sampai hari ini dia melanggar aturan dia tidak didisiplin, tetapi ketika dia mengulanginya dia tidak diberikan pendispilinan. Anak akan bingung.
Peringatan, penghilangan hak dan pukulan, adalah urutan pendispilinan yang dianjurkan. Saya menganjurkan para orang tua untuk memberikan pukulan sebagai bentuk pendisiplinan paling tinggi (bukan hukuman). Pukullah dia pada waktunya, ketika segala macam bentuk pendisplinan sudah tidak mempan lagi. Pukulan itu harus cukup sakit supaya ia ingat tetapi tidak boleh sampai melukainya. Yang terpenting, lakukanlah ini setelah emosi Anda reda. Lakukanlah karena kasih, karena cinta Anda pada anak, karena Anda tidak mau anak Anda menjadi anak yang tidak bisa diatur.
Tuhan sudah mengatur tempat terbaik untuk memukul anak. Pukul pantatnya.. lakukan di ruang tertutup supaya tidak mempermalukan dia. Harus cukup sakit untuk ia rasakan. Hal penting lainnya, jangan lukai hatinya. Ajak ia bicara dan peluk ia setelah pukulan ini. Jika anak Anda terluka hatinya dan berkata Anda jahat, Anda telah gagal. Bicara, komunikasi dengan anak, biarkan ia tahu orang tuanya mengasihinya tanpa syarat. Jika berhasil, anak akan selalu mengenang momen-momen ia dikasihi orang tuanya dalam bentuk hajaran dan akan ia pegang terus sampai ia dewasa.
Selamat Hari Anak Nasional, selamat ulang tahun Willi.
Posted by devi at
02:08 PM
|
Comments (1)
July 14, 2005
Six Degrees
Six degrees of separation is the theory that anyone on the planet can be connected to any other person on the planet through a chain of acquaintances that has no more than five intermediaries.
Jarang-jarang nulis techie, tapi six degrees ini begitu menarik sehingga saya jadi tertarik untuk menuliskannya. Berdasarkan teori ini, Budi di Jakarta bisa terhubung dengan Mr Smith di NY, walaupun mereka tidak saling mengenal, lewat rantai pertemanan tak lebih dari 5 derajat (atau 6 derajat kalau Budi-nya juga ikut dihitung)
Lonely Planet juga menggunakan teori ini untuk acara tv-nya: 'Six Degrees'. Dua orang host acara ini, pergi ke suatu tempat yang baru bermodalkan satu orang kenalan. Harapan mereka, nantinya dia akan terhubung dengan seluruh penduduk kota itu.
Melalui pencarian lewat google, saya juga menemukan sebuah website yang melakukan eksperimen untuk membuktikan teori ini, mungkin bisa dicoba...
Friendster dan bbrp pengekornya, sepertinya juga berusaha untuk menghubungkan orang di seluruh dunia.
Internet, memberikan kontribusi yang sangat besar menghubungkan orang-orang tadinya tidak saling mengenal. Orang-orang yang tadinya ada di derajat/level 2 bisa naik ke level 1 melalui mailing list, misalnya.
Contoh nyatanya adalah Henk Edan, yang tidak pernah saya ketahui kehadirannya di muka bumi ini, ternyata terhubung dengan saya melalui Arie, teman saya di level 1 (level 1 artinya punya hubungan langsung). Lalu Arie mengajak Henk Edan dalam acara kopdaran kami. Saya, kemudian ngobrol2 dengan Henk Edan untuk membuktikan keedanannya (dan memang terbukti). Henk Edan lantas menjadi orang yang punya direct connection dengan saya, dan naiklah dia ke level 1 saya, berarti bertambah luaslah jaringan saya. *Lho.. kok jaringan.. hehehe.. terinspirasi sekali saya oleh sebuah MLM yang sepertinya juga memakai prinsip ini untuk mencari member sebanyak-banyaknya*
Mungkin teori ini ada benarnya, walaupun belum benar-benar terbukti. Bahwa dunia ini cuma sedaun kelor, sepertinya itu juga mungkin.
Posted by devi at
10:27 AM
|
Comments (2)
July 13, 2005
Tolooong
Ini bukan judul reality show di salah satu tv swasta, tapi ini beneran reality yang terjadi di rumah saya.
Penat menanti 2 1/2 jam, seakan pencobaan masih kurang... setibanya di rumah, sepucuk undangan merah tua menanti.
TIDAAAAAKKK!!!
Setelah penyiksaan di bulan Mei lalu... sekarang harus terulang lagi.. OH NO!!!!
Sabtu ini tanggal 16 Juli, tetangga saya kembali menggelar hajatan untuk cucu perempuannya yang kesekian. Tetangga saya ini namanya Wak Rat.. empat anaknya yang udah berkeluarga nebeng ama dia. Masing2 anak perempuannya membawa anak, baik dari suami-suami (ini ga salah ketik.. mereka udah married minimal 2x) yang dahulu maupun yang sekarang. Umur cucu-cucunya pun beragam. Dari yang masih bayi, sampai yang sudah cukup umur untuk menikah.
Saya tinggal di sini sejak tahun 2002, dan sudah mengalami 3x siksaan ini. Ini akan jadi siksaan ke-4 buat saya. Lihat peta ya buat membayangkan penyiksaan yang saya alami.... :) Sepertinya kali ini harus ngungsi, daripada mimpi dikejar Mang Toyib.
Posted by devi at
12:58 PM
|
Comments (0)
July 07, 2005
Foto Joel

iseng-iseng ngedit foto Joel.
Posted by devi at
11:19 AM
|
Comments (0)
July 05, 2005
An Orderly Random
Ada seorang dosen matematika suatu hari memberi tugas kepada para mahasiswanya: Lemparlah koin sebanyak 200 kali kemudian catat hasilnya *atau* kalau malas lempar koin 200 kali buat saja data ngawur.
Besoknya hasilnya dikumpulkan, dan ternyata si dosen dengan mudah bisa membedakan mana yang bener2 melakukan dan yang bikin data ngawur.
Ajaib? Ternyata si profesor ini (namanya Dr. Theodore P. Hill) sedang menerapkan hukum matematika yang dinamakan Benford's Law. Hukum ini mengatakan kalau kemungkinan (P) kemunculan angka d (dimana d adalah angka pertama dari sample) 1 sampai 9 adalah, P akan bergerak dari 1 (sangat mungkin) ke 0 (tidak mungkin):
P=Log_10 (1 + 1/d)
angka 1 memiliki kemungkinan paling besar untuk muncul dan kemudian semakin besar angka semakin kecil kemungkinannya.
Angka yang dibuat dengan sengaja oleh manusia, atau yang benar-benar random tidak mengikuti kaidah ini. Manusia akan mendistribusikan digit 1 sampai dengan 9 dengan sama, data yang benar-benar random pun juga akan mendistribusikan hal yang sama.
Hukum ini ditemukan Dr Frank Benford seorang fisikawan General Electric di tahun 1938. Dia melihat di daftar logaritma (inget pelajaran SMP :) bahwa halaman dimana angka pertama-nya adalah 1 lebih penuh dibanding halaman lainnya. Kemudian dia secara random mengambil sampel: panjang sungai, statistik baseball, angka2 di majalah, dan beberapa data lainnya. Secara mengejutkan angka yang dimulai dengan 1 adalah sekitar 30%, kemudian semakin besar nilai angka, kemungkinan yang muncul semakin kecil.
Hukum ini sudah diterapkan untuk mengetahui tax fraud dan ternyata hasilnya sangat menggembirakan. Data yang dibuat oleh akuntan nakal dapat dengan mudah dideteksi.
Kembali ke cerita awal, bagaimana Dr. Theodore bisa menebak mahasiswanya yang ngawur dan yang benar2 melempar koin? Ternyata, apabila kita benar2 melempar koin maka akan ada saatnya dimana 6 kali berturut-turut akan keluar ekor atau kepala. Apabila manusia membuat data random maka kemungkinan besar dia tidak akan membuat data dimana ekor atau kepala muncul 6 kali berturut-turut.
Kalau mau baca yg lebih lengkap di sini atau yang lebih rumit ada di sini
Posted by pampi at
12:25 PM
|
Comments (2)
July 04, 2005
Grand Turismo, Track: Cipularang
Minggu kemarin jalan2 ke Bandung sekeluarga, akhirnya niat pengen menjajal cipularang kesampaian juga.
Perjalanan berangkat tidak ada yg istimewa, jalanan relatif sepi dan tidak ada kendaraan lain yg bernafsu balapan jadi nyantai saja, jalan di 100 - 120, sambil kadang2 matiin OD buat nanjak (males kickoff hehehe).
Perjalanan pulang yg agak2 menaikkan kadar oktan otak :), setelah kesasar di cimahi, akhirnya bisa masuk tol lewat gerbang padalarang. Di etape pertama dibuntutin sama kijang, avanza, beberapa bmw ama mercy. Kijang memang tiada duanya hehehe, maksudnya selalu gagal mau take over (padahal mode nyantai neh)... untungnya masih teringat si kecil yg terlelap bosan di carseat jok belakang jadi pedal gas masih belum menginjak dasar karpet.
BMW ama Mercy memang bukan tandingan, jadi dengan senang hati memberi jalan ke mereka, tetapi avanza?? OMG! Membuntuti Avanza hitam sekitar 10 menit dari pintu tol, jadi kasihan sendiri melihat penumpang di belakang pasti seperti naik roller coaster hehehehe... benar juga, sekitar 10 menit membuntuti akhirnya menyerah dia, meminggirkan mobilnya ke jalur lambat, wuih pasti persediaan plastiknya langsung abis :), tapi kemudian tahu2 dari belakang di-dim, siapa dia?? Avanza lagi?? weleh, injek gas dalam2 supaya dapet kickoff, gigi otomatis turun ke 3, mesin meraung, tapi kok tetep nempel aja nih boil? RPM mulai merangkak ke 4000, redline memang masih jauh, semestinya masih bisa melayani neh... tapi... inget lagi yg lagi diem di carseat belakang, ama yg nunggu di sampingnya hehehehe, waduh ya udah deh, nyalain sein kiri... silakennnnn... roaarrrr.... woooo.. pantes, pake header racing, pakai stabilizer dan kaya'nya shocknya sudah dibereskan, mungkin juga mesin sudah bukan std lagi... ah sudahlah, sudah terlalu tua untuk gontok2an :))
Tapi overall cipularang memang menarik, meskipun beberapa ruas jalan masih bumpy (thanks to Vivi's excelent shock absorber), perjalanan JKT-BDG menjadi menyenangkan, sayangnya di ruas tol Cikampek perjalanan masih tidak terlalu nyaman.
Perjalanan berangkat sekitar 2 jam dari rumah, mungkin sekitar 1 1/2 jam kalau dihitung dari Cawang. Hmmm.. makin macet saja ya Bandung :)
Posted by pampi at
11:48 AM
|
Comments (2)