October 24, 2005
Mass Rapid Transport
Setiap kali mengunjungi kota ini, cuman ada satu kata: kagum.
Bagaimana tidak, tata kota yang rapi, transportasi yang nyaman dan kebersihan yang terjaga sungguh membuat saya iri. Apalagi waktu tahun 70-an dulu, bangsa ini adalah bangsa yang berguru ke negri kita.
Sebut saja Petronas (perusahaan minyak nasionalnya), jaman dulu masih berguru ke Pertamina, namun sekarang sudah berkembang melebihi gurunya. Guru-guru kita dulu juga banyak diimpor ke sana untuk membantu pendidikan mereka, tapi sekarang pelajar kita yang berguru ke sana sudah banyak.
Yang lebih miris lagi adalah kasus TKI gelap kita yang banyak menjadi sorotan, duh... apa sih yang salah dengan kita?
Back to topic, di kunjungan ke-sekian ini saya membuat komitmen: No Taxi! Yap... taxi di sini jangan dibandingkan dengan Blue-bird-nya Jakarta. Rata-rata pelayanannya seperti presiden taxi di Jakarta yang sudah melegenda. Musti main bentak supaya mereka pakai argo, belum lagi resiko diputar-putar.
Akhirnya teman-teman seperjalanan yang baru kali ini mengunjungi KL 'terpaksa' harus ikut my rule ini sekalipun secara explisit saya tidak mengatakan ke mereka :)
Dari pertama menginjakkan kaki di airport, perjalanan ke kota cukup menggunakan KLIA express (RM 35 sekali jalan), perjalanan yang biasanya 1 jam cuman ditemput dalam waktu 28 menit ke KL Sentral (stasiun utama), disambung dengan menggunakan monorel dan langsung turun di depan hotel.
Jalan-jalan ke Bukit Bintang, KLCC atau ke Chinatown juga pakai Monorel, LRT atau... jalan kaki! Yak, gerak jalan merupakan agenda yang harus diada(ada)kan lagi berhubung kemarin sempat drop, yang kata dokter gara-gara kurang olahraga.
Dan terbukti, perjalanan menggunakan mass rapid transport tsb. merupakan pengalaman yang sangat berharga dan fun.
Namun sayang sekali, tidak seperti tahun kemarin, peta KL yang colorful dan free tidak ada lagi disediakan di hotel. Sebagai gantinya diberikan foto-copy (yak benar, foto-copy yang agak diragukan keabsahannya). Sayang ya, padahal KL Vision City sepertinya cukup 'menjual'. Jadilah terpaksa main tebak-tebakan kalau mau menuju ke suatu tempat.
Satu contoh journey kami ke Chinatown: Perjalanan start dari hotel, yang kebetulan tepat berada di depan stasiun monorel "Raja Chulan", beli tiket seharga RM 1.2 (atau sekitar Rp 3.300) ke stasiun "Bukit Nanas". Dari Stasiun bukit nanas kita jalan sekitar 300 meter ke stasiun bawah tanah "Dang Wangi" dan membeli tiket seharga RM 1.3 (Rp. 3.500) ke arah stasiun "Pasar Seni" (Sayang sekali tidak bawa peta sehingga tidak bisa mengira-ira jarak antar stasiun ini. Yang jelas Raja Chulan - Bukit Nanas cuman berjarak 1 stop, Dang Wangi - Pasar Seni cuman berjarak 2 stop). Kemudian dari Pasar Seni kita berjalan sekitar 200 meter ke arah Chinatown. So easy!
Kalau pakai taxi perkiraan mungkin sekitar RM 20 or so, belum kemacetan yang harus dihadapi.
Kapan ya kita punya sistem seperti ini? Tentu kalau sistem seperti ini jalan problem kemacetan akan banyak teratasi. Tapi mungkin ada kepentingan tertentu yang tidak menghendaki hal ini ada di Jakarta? Dunno, karena yang jelas pembelian mobil pribadi akan jauh berkurang.
Anyway, kalau sempat ke KL, cobalah resep ini: No Taxi! :)
ps: sebenarnya pulang juga mau pakai monorel - KLIA Express. Tapi berhubung oleh-oleh banyak akhirnya terpaksa 'mengkhianati' komitmen pakai taxi ke KL Sentral.
Posted by pampi at
03:56 PM
|
Comments (5)
October 19, 2005
Monolog Seorang Pengamen
Sekian lama terbuai oleh fasilitas, kali ini saya harus melupakan kenyamanannya. Saya tidak berhak lagi menentukan kapan saya akan berangkat, hari ini mikrolet M24 lah yang jadi penentu :)
Vivi, si cantik mobil kami harus masuk bengkel untuk dipoles sedikit. Sungguh keputusan yang salah, karena saya diganjar satu minggu oleh pihak bengkel. Benar-benar ganjaran yang tidak adil, karena saya cuma dipinjami mobil lima hari oleh pihak asuransi. Akibatnya saya harus memilih alternatif transportasi yang paling cocok untung kantong saya.
Menunggu M24 yang seolah enggan menyambangi, akhirnya saya sampai di Slipi. Menanti P11 yang serasa tak kunjung tiba, lalu naiklah saya. Beberapa menit kemudian, telinga saya menangkap pembicaraan atau lebih tepat disebut sebagai monolog.
"Beli berapa selembarnya?"
"Enam ratus."
Itu dialog seorang pengamen dengan penjual sticker di belakang saya. Saya agak terperanjat mendengar jawaban jujur si sticker-man, soalnya tadi dia menawarkannya 1000 rupiah dan rasanya telinga2 penumpang yang lain pasti juga menangkap pembicaraan itu.
Kemudian mulailah si pengamen bermonolog.
"Ya.. Kalo dijual 1000 emang terjangkau sama penumpang. Kalo dijual 2000 pasti ga ada yang mau beli. Lo jangan salah ya, penumpang itu biasanya menyiapkan uangnya buat kita. Mereka dah perkirakan, hari ini gw ketemu pengamen berapa, pedagang berapa. Dari gaji yang mereka terima tiap bulan itu, sisanya pasti ada yang ke kita. Lo sering liat kan, kalo mereka ngasihnya tuh kayak udah disiapin."
Saya mengiyakan dalam hati.
"Kayak gini aja, waktu tarif 3500, gw pernah dari depan ampe belakang gw dapet 500-an semua. Sekarang dengan tarif 4800 berarti kembalian kan 200. Tuh 200 udah pasti dikasihin ke pengamen. Kalo di P11 gw pernah juga dapet 1000, 5000, tapi kembalian tarifnya itu udah pasti dikasihin ke gw."
Waks, bener juga.
"Sehari bisa berapa pengamen yang naek P11 ini. Ini kalo ga gw jagain udah berapa pengamen yang naek. Yah, lo itung aja sendiri kira2 berapa yang disisihin buat kita."
Sampai di situ saja monolognya karena si pengamen yang akhirnya saya ketahui bernama Ricky itu harus turun, karena ada pengamen lain yang mau naik.
"Kembali kami menemani para penumpang P11 dengan lagu-lagu nostalgia klasik. Berikut ini lagu Vina Panduwinata yang dinyanyikan lagi oleh Reza," demikian intro dari si pengamen.
Sontak saya merogoh kantong, mengeluarkan keping 500, ditingkah lagu Prahara Cinta.... aku malu... aku malu....
Posted by devi at
10:55 AM
|
Comments (1)
October 03, 2005
Seseorang Bernama Susan
Lampu henfon saya menyala. Ada sms masuk. Dengan hanya diterangi lampu henfon itu, saya mengambil henfon yang sedang settingannya sedang saya buat silent. Dari sebuah bank terkenal. Memberi laporan adanya transaksi.
"Sekian ribu rupiah pada tanggal sekian jam sekian."
Saya menghela napas. Ini bukan yang pertama kali saya terbangun karena sms yang masuk pada malam hari. Kemarin bahkan saya menerima sms dari seseorang yang mengatakan bahwa "Susan, I miss you. How r u? U r still singing?" Saya sudah membalas sepatutnya.. tetapi orang itu belum menyerah juga.
Dari bank yang saya sebut di atas pun saya sering menerima laporan transaksi. Juga dari sebuah tempat fitness yang seleb abis, saya beberapa kali mendapat sms yang mengajak saya untuk datang ke tempat mereka. Suatu hari, saya telepon bank yang sering mengirimi sms laporan transaksi itu:
"Begini, Mas. Saya minta tolong fasilitas SMS Bankingnya dihapus aja ya.. Soalnya saya merasa terganggu, nih."
"Ok, mbak Susan, mari kita cocokkan data dulu."
Maka berakhirlah kunjungan sms dari bank itu ke henfon saya.
"Halo... Nanti Sabtu kamu langsung datang aja, ya!" begitu suara pria lawan bicara saya di telepon pada suatu siang di kantor.
"Ha? Ke mana?" tanya saya terbengong-bengong.
Heran tentu saja, karena saya mendadak beken banget. Telepon-telepon yang hanya sekedar menyapa, sms-sms yang menunjukkan perhatian, bahkan akhir-akhir ini saya mendapat sms yang sangat manis bunyinya,
"Selamat berbahagia dalam menempuh hidup baru, San. Semoga tetap awet sampe kakek-nenek. Sorry kami ga bisa datang. Luv *someone*."
Saya tunjukkan sms itu ke suami saya, dia hanya tersenyum. Yah, memang sudah seharusnya kami senang kalau ada yang mendoakan kebahagiaan kami.
Tetapi nama saya bukan Susan.. saya Devi.
*begitulah akibatnya kalo beli nomor henfon second*
Posted by devi at
05:33 PM
|
Comments (3)