November 2007
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
 





 

November 23, 2005

Singapore Airlines

Yeah, sue me... seumur2 blon pernah naek nyang namanya SQ alias Singapore Airlines hehehehe...

Ceritanya gini: sebenarnya nyang namanya kantor selalu pelit, jadi kalau arrange penerbangan yang dicari adalah airlines yang paling murah. So, setelah diitung-itung ternyata penerbangan ke Beijing yg paling murah adalah pakai Cathay. Thank God, penerbangan pulang dari HK - CGK ternyata waiting list, sementara GA gak terbang tiap hari, akhirnya accidentally di-arrange-lah flight dengan SQ.

Begitu panggilan untuk boarding dikumandangkan, bergegaslah kami semua ke dalam burung besi-nya orang Singapore ini, dan langsung disambut sama Cabin Crews. Kesan pertama: very Singapoeran.

One thing yang merupakan stereotype orang Singapore adalah "kiasu" alias gak mau kalah, gak mau rugi... trus sangat mendewakan duit... forgive me Singaporean kalau gw salah :) Tapi hal positifnya adalah, mereka sangat efisien dan mempunyai etos kerja yg tinggi. That's what I called SQ very Singaporean.

Dulu pernah naik Lufthansa, pelayanannya efisien banget, tapi kaku. Pernah naik Malaysian Airlines dan Garuda juga... nice service tapi tidak se-efisien Lufthansa. So, kalau digabungkan antara Lufthansa + MAS or GA adalah SQ :)

Bener juga apa yg dikatakan buku "Good Service is Good Business", barang yang sama bisa dijual 10% lebih mahal kalau kita bisa kasih service yang lebih. SQ termasuk jajaran atas dalam kualitas layanan (dan harga). Pilot2nya juga mendaratkan pesawatnya dengan halus.

Beberapa jenis pesawat mereka, A340-500 contohnya, memiliki konfigurasi tempat duduk yang amat lega, bahkan di kelas ekonomi. Denger2 sih ini pesawat yang dipakai untuk penerbangan non-stop Changi - LA. Duh kalau bener beruntung banget bisa ngerasain walau cuman untuk Changi - CGK :)

Sebentar lagi SQ merupakan operator pertama yang mengoperasikan A380, pesawat jumbo yang bahkan lebih besar dari Boeing 747. Duh... semoga nanti ada kesempatan buat mencobanya.

Posted by pampi at 02:42 PM | Comments (0)

Makan Malam di 1001 Nights

?Meet my wife,? begitu Pampi memperkenalkan saya kepada teman-temannya. Kami akan pergi ke Ya Show untuk pergi belanja dan makan malam bersama di restoran Lebanon. ?She is so brave,? tambah Pampi ketika Khalid, si Libia, tampak kaget karena saya berangkat seorang diri ke Beijing.

Jika ingin melupakan macetnya Jakarta, Beijing bukanlah tempatnya. Kemacetan sudah tampak begitu kami masuk highway. Satu hal yang mengagumkan di sini, jalan bebas hambatannya gratis (beda dengan Jakarta yang terus saja menaikkan tarif tol-nya), hanya tempat tertentu seperti tol airport saja, yang meminta bayaran.

Turun di Ya Show, pengemis2 cilik mengerubungi rombongan kami, menarik2 baju kami dan memegang-megang tas kami, setidaknya pengemis di Indonesia lebih sopan. Saya membeli baju khas Cina untuk jagoan cilik kami, Joel. Sungguh lelah menarik urat untuk tawar menawar? ooohhhh?. Akhirnya dapat juga kesepakatan harga 41 RMB yang lalu saya sesali karena sepertinya masih kemahalan.

Menyenangkan melihat teman-teman suami saya menawar. Mereka yang kesemuanya adalah pria memiliki bargain method yang beda dengan kaum hawa. Togar dengan gaya TP (Tebar Pesona), Yusri dengan gaya cool, dan yang mengejutkan saya, Pampi ternyata juga sudah jago menawar!

?Tetapkan harga yang kita mau bayar untuk barang tersebut. Mulailah menawar dengan harga di bawah itu, jangan terlalu cepat menaikkannya. Ingat, menawar adalah game, jadi jangan ada penyesalan jika ternyata ada orang yang mendapatkan harga di bawah itu,? demikian instruktur training yang suami saya ikuti, Bradley, memberikan tips yang berharga kepada peserta trainingnya.

Hampir 2 jam di sana karena menunggu Khalid yang sangat senang mempraktekkan ilmu menawarnya. Ia sampai dicemberutin oleh seorang SPG ketika menawar 20 RMB untuk sebuah baju sutra dan wanita tersebut menolak untuk meladeninya lagi. Sepertinya pelanggan setia Ya Show adalah orang Rusia, sehingga cukup sulit kami mendapatkan harga terbaik.

Kami ke restoran 1001 Nights (terus terang saya langsung ingat 1001 malam di Jakarta). Khalid yang saat ini ditempatkan di Balikpapan, bertindak selaku host malam itu, karena ialah yang paling mengerti menu2 seperti ini. Dua macam salad, 2 jenis masakan ikan, ayam goreng, kebab, nasi kambing dan dessert berupa baklawa (or baklava) ia pesankan untuk kami. Salad parsleynya enak sekali, ikan bakarnya juga superb, selain dari itu saya tidak terlalu menikmatinya, karena saya bukan penyuka daging kambing. Tari perut mengiringi makan malam kami. Tanpa malu-malu Khalid maju dan menari berpasangan dengan belly dancer berwajah Rusia.

Khalid memesan satu sheesha rasa strawberry dan melon. ?Tidak terlalu enak,? katanya sambil menghembuskan asapnya. Khalid bercerita bahwa di Balikpapan ia punya satu peralatan sheehsa dan pernah polisi-polisi di sana mencurigainya ngeganja, tapi tidak berani menanyainya langsung.

Suasana remang2 dengan arsitektur khas timur tengah membuat saya lupa sejenak bahwa kami sedang di Beijing. O habibi... o habibti

*habibi - my love (pria) habibti - my love (perempuan)

Posted by devi at 09:21 AM | Comments (2)

November 17, 2005

Beijing: First Impression --> Dingiiin

Hawa dingin serasa menusuk tulang begitu saya melangkah keluar dari Capital International Aiport. Secepat kilat saya berbalik masuk kembali ke dalam gedung airport. Longjohn yang saya kenakan ternyata tidak cukup menolong sehingga saya harus menambah atribut perang saya. Kini dengan bersenjatakan jaket, topi dan sarung tangan wol, dengan mantap saya melangkah menuju Beijing.

Tanpa merasa perlu mempedulikan para sales taksi yang mencecar saya dengan bahasa Mandarin, saya berjalan agak bingung mencari taxi line. Seorang teman sudah mengingatkan saya, ?Jangan mau ditipu calo. Langsung aja cari taksi resmi. My bule hubby can do it, elu juga harus bisa.?

Dengan bantuan seorang tentara (benar kan dia tentara, bukan satpam?) saya berhasil mendapatkan taksi resmi. Kepada saya juga diberikan sebuah kartu yang disertai dengan nomor taksi saya.

?Lido fandian,? ucap saya ke Pak Sopir. Tak lupa saya perlihatkan huruf kanji dari hotel Holiday-Inn Lido Beijing. Dia mengangguk dan meluncurlah kami.

Beijing ini ruarr biasa besarnya, ring road saja ada 6 lapis. Hotel saya terletak di 3rd ring road, yang berarti lumayan dekat ke airport. Terletak di kawasan ekspatriat Chaoyang District, hotel ini ramai dikunjungi oleh para pebisnis asing. Saya bertemu banyak bule di lobby hotel. Furniture di kamar tergolong kuno, maklum ini Holiday Inn pertama di Beijing. Kontroler utama dan suhunya look so jadoel, serasa nonton Charlie's Angels versi Farah Fawcet.

Istirahat sebentar, tanpa mandi, saya memutuskan untuk sightseeing dekat-dekat hotel. Dingiiinnn... brrr.. Sudah memakai topi, longjohn, turtleneck sweater, scarf, longjohn atas bawah, jaket, kaos kaki 2 rangkap.. masih kurang juga untuk tengah hari bolong di Beijing?

Mampir ke Sunny Golden Market, saya hanya liat2 saja, belum berani melakukan transaksi. Menurut orang lokal, di Sunny bisa kita temui barang2 palsu dengan kualitas A. Di Beijing, bargain is A MUST! Beli apa pun harus nawar dan saya diberi tahu untuk tidak ragu menawar sampai 1/10-nya.
Kelaparan, saya lalu memasuki sebuah rumah yang tampak seperti kedai makan. Saya langsung disodori menu dalam bahasa kanji, alamak.. :D
Dengan susah payah akhirnya saya bisa juga memesan satu porsi pork seafood dumpling padahal saya pengen makan mie, tapi kata dumpling dalam bhs mandarin saya yang ia mengerti.. ya sudahlah, dari pada kelaparan. The price is so sweet 10RMB (Rp 13000) untuk 10 pcs, ga boleh beli 1/2 porsi. Porsi makan di sini luar biasa besar, ga tau kenapa.. apakah bangsa Cina memang makannya banyak? Ga tau juga....

Posted by devi at 11:43 AM | Comments (1)