December 22, 2005
Met Hari Ibu, Ma
Mama menikah di usia yang belia, 19. Menimang seorang anak di usia yang belum lagi genap 20 tahun, ditambah dengan beban hidup yang harus ia tanggung, membuat ia seringkali tak mampu mengendalikan emosinya.
Papaku bekerja sebagai supir bis trayek Belinyu-Pangkal Pinang pp di perusahaan oto bus milik kakekku. Kehidupan ekonomi pas-pasan keluarga muda ini membuat Mama harus masak sendiri. Tak disangka, Mama ternyata berbakat masak. Ia juga menjadi ahli membuat kue. Nastar, spekulaas, kue kacangnya.. aku sangat suka. Masakan Mama, paling enak buat lidahku. Padahal sebelum menikah, Mama tidak bisa masak. Masak nasi pun ia tak bisa. Maklum, Nenek yang kupanggil dengan sebutan Pho Pho punya beberapa pembantu di rumah, sehingga kesepuluh anaknya tidak perlu melakukan tugas rumah.
Mama berasal dari keluarga pedagang. Pho Pho selalu sibuk mengurusi usaha sambelingkung dan toko kelontongnya. Mama dan saudara-saudaranya harus ikut membantu Pho Pho membuat sambelingkung. Salah satu tugas Mama adalah mengerat ikan tenggiri. Bau amis ikan kadang tertinggal di tangannya sehingga kata Mama aku kerap muntah ketika disuapi makan olehnya, dan kemudian aku mendapat hajaran karenanya.
Mama sangat keras padaku, anak pertamanya. Dulu aku sering melawan dan merasa diperlakukan tidak adil. Aku sering kesal padanya, mungkin aku juga pernah membencinya. Ada satu hal yang sangat kuingat. Dulu aku sangat tidak suka makan daging sapi. Suatu hari diam-diam aku membuang potongan rendang di piring nasiku. Ketahuan oleh Mama. Daging yang sudah dibuang di selokan belakang rumahku diambil lagi olehnya dan dicuci bersih dengan air. Aku harus makan lagi daging itu sambil ditunggui olehnya. Kejam memang.. tapi ada satu pelajaran berharga yang aku dapat. Sekarang, aku sangat menghargai makanan. Selalu ada rasa bersalah jika aku harus membuang makanan.
Mama sangat berubah sekarang. Ia sudah jauh lebih sabar. Ia mendampingiku saat mempersiapkan pernikahan, ia menungguku pulang dari bulan madu baru ia pulang lagi ke rumahnya di Bangka. Ia juga yang paling ribut kalau aku sakit sedikit saja.
Ketika aku hamil, ia sangat memperhatikanku. Bahkan ketika aku melahirkan, ia meluangkan satu bulan penuh di Jakarta untuk menjagai dan memasak untukku. Ketika persediaan daging ayam mentah yang ia bawa dari Bangka sudah habis, ia belanja ke pasar dua hari sekali untuk membeli daging. Aku tidak diijinkan turun ke lantai bawah. Menurut kepercayaannya, wanita yang habis melahirkan itu sangat lemah dan rentan, harus istirahat di atas tempat tidur selama sebulan penuh. Aku sangat rewel waktu setiap hari disuguhi ayam arak yang biasanya adalah favoritku, seperti tradisi di keluarga besar kami jika ada yang melahirkan. Ayam arak Mama adalah tumisan irisan jahe dan ayam kampung kualitas bagus yang dimasak dengan arak kualitas bagus pula. Ia memang paling cerewet masalah kualitas bahan masakan.
"Ma, yang lain dong. Yang penting kan sekarang protein, bisa kan dari telor, tahu, tempe dan ikan. Aku pengen ikan deh, Ma," ujarku tak tahu terima kasih.
"Kamu tau ga, dulu Mama makan ayam arak tiap hari, selama sebulan. Paling yang ga punya uang buat beli ayam aja yang makan ikan atau tahu atau tempe. Ayam arak bagus untuk memulihkan konsidimu, " begitu jawab Mama.
Tetapi akhirnya ia mengalah. Esoknya aku dimasakkan sambel goreng tempe, juga diceplokkan telor mata sapi, seperti yang kumau. Ia juga memesankan mie goreng tek-tek ketika aku berkata padanya bahwa aku bosan makan ayam dan babi terus, dan aku ingin makan nasi tek-tek. Setelah menjadi seorang ibu, masih saja aku tak menurut pada Mama. Aku curi-curi untuk keluar dari kamar dan turun ke bawah, juga kulanggar larangan-larangannya yang lain yang terdengar konyol juga aku langgar seperti tidak keramas, tidak gunting kuku sampai sebulan. Mama tidak bisa berkata apa-apa selain mengomel. Aku memang sudah bukan anak-anak lagi.
Mama juga yang mengajariku memandikan anakku. Ia juga yang mengasuh Joel sementara aku memilih untuk tidur. Ia juga yang mengganti popok anakku ketika aku merasa sangat malas melakukannya.
Sambil menatap foto anakku yang sedang tertawa lebar, aku merenungkan kasih sayang Mama. Aku tak pernah sanggup mendendam padanya. Di balik semua hajaran dan pukulan yang kuterima, aku tahu ia sangat menyayangiku. Mama selalu ada untukku. Keadaanlah yang membuatnya terpaksa berbuat seperti itu. Pengalamanku menjadi seorang istri dan seorang ibu membuatku semakin dapat memahami penderitaannya.
Mama? aku tak tahu apa yang bisa anak manja ini lakukan tanpamu. Terima kasih telah mengajari dan mendidikku selama ini. Selamat Hari Ibu, Ma.
Posted by devi at
12:17 PM
|
Comments (2)
December 21, 2005
Royal Cuisine Dazhaimen
Restoran Dazhaimen mengambil namanya dari sebuah judul serial tivi yang sangat beken di Cina. Secara literal arti kata ini adalah: Pintu masuk rumah besar.
Gedungnya cantik dengan warna2 yang bikin mata puas, belum lagi lampu2nya.
Datang bersama rombongan, kami mengambil 3 meja. Arsitektur dan interiornya sangat Cina Klasik. Para usher tampil dalam balutan busana ala dayang2 spt yang di film silat, dengan bakiak setinggi kira2 15 centi.
Saya datang sebagai tamu yang harus pasrah pada host, apa pun yang ia mau pesan. Restoran cukup ramai. Pengunjung selain berwajah oriental, juga berwajah kaukasian (baca: bule). Di rombongan kami saja yang ada Arab, Latin, Melayu selain dua ras yang saya sebut tadi.
Appetizernya cold dish, salah satu yang saya ingat adalah bebek. Lucu juga bebek dimakan dingin2, saya ga biasa aja. Temen saya yang Sunda asli ampe ngeluh, "Ada McD ga ya deket2 sini?" Si Akang ini emang Sunda pisan euy, kalo makan maunya yang panas dan dia emang yang paling sering komplen soal rasa makanan di Beijing, ga berasa, ga spicy, de el el. Hm, maklum ya, masakan Beijing itu tidak populer di Indonesia, chinese food yang beredar di Indonesia sepertinya lebih terpengaruh oleh Cina bagian Selatan, sementara Beijing kan di Utara.
Setelah bbrp appetizer, makanan datang seperti tak ada habisnya sampai saya kesulitan mengingatnya. Mungkin karena rasa yang tidak terlalu istimewa buat saya, saya cuma ingat tim ikan, sate udang dan kepiting. Harus liat2 foto dulu untuk mengingatkan. Sambil makan kami dihibur oleh bbrp atraksi mulai dari akrobat, kungfu pedang dan tombak, pertunjukan dasa muka - apa ya namanya yg orang bisa tuker2 topeng dengan cepet gitu, ibu2 yang jago olah suara seakan2 ada bbrp orang yang sedang bicara, sampai peniup daun.
Waiter and waitressnya berpakaian klasik. Kita dilayani bak raja, mm berasa jadi raja dan ratu sehari. Minum coca cola aja dituangin :) Sebagai penutup, keluarlah dumpling sayuran, onde2 dan buah2an. Dumplingnya enak benernya, sayang dah terlalu kenyang, jadi cuma bisa makan satu. Sempet nyobain Chinese Wine-nya. Rasanya enak, manis tapi saya kesulitan mengatasi rasa spiritus yang tertinggal.
Ga tau berapa kerusakan malam itu. Sepertinya sih cukup bikin tongpes, untunglah saya tidak perlu menanggung kerusakan apa-apa :)
Posted by devi at
03:12 PM
|
Comments (0)
December 02, 2005
Beiing: Summer Palace
Orang Cina menyebutnya Yiheyuan yang artinya Garden of Good Health and Harmony. Mungkin karena sudah sore, kami mendapat tiket dengan HTM 20 RMB, harusnya 40 RMB.
Tempat ini menakjubkan. What an ancient place! Tidak salah jika Summer Palace dimasukkan sebagai salah satu World's Herritage oleh UN. Bukit, danau, bangunan2nya, semuanya cantik.. sayang sudah kesorean, jadi tidak dapat
berlama-lama di sini, maklum musim dingin jadi hari lebih pendek. Pengunjung cukup ramai, kami bertemu banyak rombongan yang disertai tour-guide. Kami berlima ini memang pede sekali, datang tanpa disertai guide.
Dari beberapa kali mengunjungi istana, saya selalu terbawa suasana, berimajinasi membayangkan ratusan atau ribuan tahun lalu, pegawai2 kerajaan lalu lalang mengerjakan tugas mereka masing2. Di satu sisi, sebuah istana dibangun dengan begitu indah dan megahnya tapi di satu sisi, biaya operasional sebuah istana tentu sangat tinggi dan dari manakah sang raja membiayai semua ini? Apalagi ini istana musim panas.. ketika raja tidak di sini, tentu operasional harus tetap jalan... bukankah ini..err... pemborosan? Maafkan saya jika saya berpikir terlalu jauh.
Saya menyaksikan bergerak turunnya matahari (cepat sekali gerakannya), pada sekitar pukul 5 sore.
Beberapa section sedang direnovasi, pada dinding penutup ditempeli kertas dengan tulisan: "We are renovating this place, for our future generation." Sungguh bijak. Jadi ingat, Cina adalah gudangnya orang bijak.
Foto2 lain bisa dilihat di sini:
Posted by devi at
02:59 PM
|
Comments (1)
Tian'anmen
Pagi-pagi sekitar pukul 7 kami bertiga mendarat di bandara Beijing... good one! Bersih dan relatif baru, meskipun tidak sehangat Changi (Still the best so far :)
Setelah melalui checking custom yang cukup lama, akhirnya kita disambut oleh udara dingin beijing... Captain pilot sempat mengumumkan sebelum mendarat kalau suhu di luar sekitar 7 derajat celcius... what a surprise, kita bertiga ternyata diarrange untuk mendapat 1 orang 1 mobil seharga 300 RMB/trip walah! What a first impression :))
Oya, di Beijing sangat sulit untuk berbicara dengan orang yang berbahasa inggris, bahkan petugas bandara... jadi waktu kita mau negosiasi dengan para penjemput yang sangat bersemangat ini tentu saja menemui jalan buntu tu tu... untung kita punya local contact number yang akhirnya bernegosiasi dengan mobil penjemput ini.. tapi ya hasilnya adalah: cuek aja, dibayarin kantor ini (hauahuahau... sounds familiar 'eh?)
begitu tiba di hotel, kami langsung check-in... beruntung sekali kami bisa checkin early tanpa ada charge, jadi masih ada kesempatan untuk mengenakan 'pakaian perang' kami (a.k.a. long-john dan ubo rampe yang lain)... begitu siap, langsung tancap!! Destination: Tian'anmen.
Taxi yang kami pakai adalah yg versi paling mahal (1.6 RMB/km)... FYI di sana ada beberapa rate taxi: 1.2 RMB, 1.4 RMB dan 1.6 RMB/km... kualitas tentu sebanding dengan harganya, jadi silakan pilih :) perjalanan cukup menyenangkan tanpa ada traffic yang cukup berarti, kecuali waktu dekat2 tempat tujuan... dan tentu saja, our driver can't speak English :p
Sampai di tempatnya, kami diturunkan tidak tepat di depan gerbang, melainkan agak sedikit maju... mengagumkan juga kepatuhan mereka ini :)...
Agak berjalan ke depan, sampailah kami ke kompleks Tian'anmen... ada beberapa museum yang, sayang sekali, kami tidak tahu karena pakai kanji semua hehehehehe (penonton kecewaaaa)... Tapi yang jelas dari buku kecil yang diberi oleh hotel kami bisa tahu ada Tian'anmen Square yang bersejarah itu dan forbiden city di seberangnya...
Masuk ke gerbang forbiden city langsung terbayang bagaimana ribuan tahun yang lalu tempat ini adalah sacred place bagi bangsa ini, kabarnya kalau rakyat jelata masuk ke sini, gak bakal keluar hidup2.. hiii... dan terasa banget suasana ancient-nya..., tapi ya itu jangan harap bisa ketemu penjelasan dalam huruf latin yang mencukupi, semua in kanji... kerasa jadi alien banget dehh
Beberapa gerbang pertama masih gratis untuk dikunjungi, namun begitu sampai agak ke tengah kita harus bayar 40RMB untuk masuk ke section berikutnya... kalau mau ada audio guide juga musti nambah 40RMB lagi...
Di dalam ternyata arsitekturnya mirip sekali antara satu bangunan dengan bangunan satunya, sepertinya membosankan, namun bila kita baca keterangan di masing2 gedung dan menghayati tentu saja ini jadi pelajaran sejarah yang menyenangkan... bagaimana ribuan tahun yang lalu para kaisar sempat memerintah dari tempat ini...
Setelah perjalanan yang amat sangat melelahkan, akhirnya kami sampai ke ujung perjalanan, sebelum keluar kita sempat melihat taman (aduh lupa namanya hehehe) trus baru gerbang ke belakang... overall impression: what a great artifact... dan kaya'nya ini juga yang harus diteladani oleh bangsa kita: mewariskan sesuatu ke anak cucu... duh, kapan ya Indonesia menggali hal-hal seperti ini...
Posted by pampi at
11:37 AM
|
Comments (0)