Be the Next (to) Indonesian Idol 2007
Tanggal 21 Maret lalu, lagi siang2 bolong panas, saya lagi kejer-kejer Joel yang maunya ke depan rumah terus. "Mau liat bis," katanya.
Aneh memang, kok ada bis di daerah residensial seperti ini. FYI, rumah kita di cluster tertutup yang peruntukannya memang hanya untuk tempat tinggal. Eh, tunggu dulu, ada yang lain dengan bis ini. Bukan bis biasa ternyata. Lihat aja fotonya.
Bisnya nongkrong dekat sekali dengan rumah saya. Beberapa orang yang tampak asing, sepertinya sedang inspeksi beberapa rumah di sekitar saya, jaraknya hanya 2-3 rumah di samping rumah saya yang bernomor 41. Rumah seberang juga nampaknya sedang diinspeksi.
Malamnya, langsung terjadi kegiatan di tiga (kalo tidak salah) rumah itu. Mobil developer datang, dan sejak hari itu, di rumah2 kosong ini mulai nampak kegiatan mendekorasi.
Seperti hari ini, setidaknya ada lima kendaraan dari tivi penyelenggara acara pencari bakat ini, yang memenuhi daerah pemukiman kami. Gorden roman blind berwarna hijau, kuning dan merah (kok kayak traffic light) telah terpasang di rumah no 35, 37 dan rumah depan yang saya belum tau nomornya.
Hmm.. kabar baik atau kabar buruk ini ya? Entahlah.
Posted by devi at
04:14 PM
|
Comments (0)
Joel Hilang (Lagi)
Sabtu, 3 Feb '07. Hari kelas parenting terakhir, jadi saya harus bertugas dan stand by. (Sekarang saya kerja part-time di sebuah organisasi yang melatih orangtua mendidik anak).
Hari ini juga, Pampi ada janji bentar ketemu orang di showroom mobil. Rencananya saya akan ditinggal, sementara Joel akan ikut Pampi, karena Joel tidak akan merepotkan di showroom, sedangkan kalo ikut saya, cukup repot kalo tidak ada yang membantu mengawasi, karena tempatnya terbuka dan anak laki-laki umur hampir 3 tahun mana sih yang bisa duduk anteng lama?
Sampai sana, setelah menurunkan barang dan say hello ama bbrp orang, Pampi (kayaknya) berangkat. Saya taunya dia udah berangkat karena lihat si Vivi, Toyota Vios silver kami sudah tidak ada di parkiran.
Wah, lega tentunya karena bisa lepas bentar dari Joel. Saya pun dengan tenang melakukan tugas saya.
Tiba-tiba..........................
Saya lihat Joel dengan mata basah, di belakangnya seorang bapak berkemeja orange. "Ada yang tahu ini anak siapa?"
Jantung saya serasa berhenti. Rasa ngeri mencengkeram hati saya.
Joel langsung saya gendong. "Anak saya, Pak."
"Waduh, Ibu.. Kok bisa. Ini anaknya tadi sudah hampir sampai sana," kata si Bapak menunjuk sebuah gedung yang cukup jauh.
Ia pun bercerita dengan nada menyalahkan saya...... Saya tidak terlalu mendengar. Konsentrasi saya cuma sama si kecil. Rasa bersalah, jengkel, panik, syukur, bercampur jadi satu.
"Tuhan yang giring saya ke sini, Bu. Kebetulan istri saya ikut kelas parenting di sini. Tadinya sudah mau saya bawa ke plaza, kalau tidak ada juga ke polisi," kata Bapak yang ternyata adalah seorang dokter klinik yang dimiliki oleh gereja yang kami pinjam tempatnya untuk kelas parenting.
Benar, pasti Tuhan yang sudah menuntun si Bapak Dokter. Kalau tidak, entah di mana Joel saat ini berada. Dan, entah kenapa, Joel mau ikut Bapak itu. Menurut cerita si Bapak, ketika di bertemu Joel, satpam dan beberapa orang sedang berusaha keras menggendongnya, yang ditolak mentah-mentah olehnya.
Tuhan, tidak terbilang syukurku karena bisa bertemu anakku lagi.
Saya juga harus menerapkan peraturan lebih keras lagi bagi si laki-laki kecil ini untuk tidak pergi seenak hati begitu, walaupun untuk kasus ini, kesalahan utama ada di pihak kami sebagai orangtua, komunikasi yang tidak beres.
Makasih ya, Tuhan.
Posted by devi at
08:02 AM
|
Comments (0)