November 2007
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30
 





 

August 09, 2007

Wifone Menangkap Penyusup

Rabu siang, setelah ikut Pilkada di Jakarta...
Ponsel saya bergetar. Dari rumah.. Suara laki-laki di seberang sana, tidak terlalu jelas, karena saya berada di sebuah hipermarket yang hiruk pikuk.
Aneh. Karena harusnya hanya ada Erni, our staff (baca:maid) yang baru kerja sebulan pada kami, tidak ada laki-laki di rumah. Hati saya langsung ga enak, apalagi ketika panggilan itu kemudian dimatikan. Saya telpon kembali, tidak ada respon, sekitar dua kali.

Menyelesaikan belanja dengan terburu-buru, saya segera ke parkiran. Erni berhasil saya hubungi bbrp menit kemudian. Dia baru habis sembayang, dan tidak ada tamu sama sekali hari ini, juga tidak mendengar deringan telepon. Jadi siapa? Apakah terjadi network error?
Sampai di rumah, sekali lagi saya interogasi Erni. Mati-matian dia bilang tidak dan bahkan bersumpah. Walau saya tidak pernah percaya dengan sumpah2, apalagi bawa-bawa nama Tuhan, entah kenapa saya percaya padanya.
Saya langsung cek telepon rumah saya. Kami pakai Wifone, karena Telkom belum masuk. Tercatat di daftar panggilan, sebuah panggilan ke ponsel saya.
FYI, fitur security Wifone yang memakai jaringan CDMA ini cukup canggih ketimbang telpon rumah biasa, padahal bentuknya kurang meyakinkan. Handset Wifone saya ini merknya LG, selain fungsi2 ponsel pada umumnya, ia bisa diset untuk membatasi panggilan. Selain itu, saya bisa mengatur agar jika dalam beberapa detik tidak ada angka dipencet, si telepon akan secara otomatis menghubungi ponsel saya.
Ada orang, laki-laki, yang menggunakan telepon rumah kami. Mungkin ia ingin menelepon seseorang, tapi karena ada pembatasan panggilan, nomor sayalah yang dihubungi oleh Wifone. Dan begitulah kejadiannya.
Erni yakin tidak ada tamu hari itu, tamunya atau pun tamu saya. Jika tamunya menggunakan telepon saya jelas itu pelanggaran berat, karena telpon ini berada di area pribadi, ruang kerja saya di lantai 2.
Setelah diselidiki lebih lanjut ada jejak kaki di tembok dalam dan luar, mengarah ke rumah kosong di sebelah kanan rumah kami. Ada penyusup masuk ke rumah kami lewat jendela lantai atas! Di cluster yang dijaga 24 jam oleh satpam yang berkeliling tiap saat.
Saya pun langsung panggil pihak security. Kepala security cluster memanggil kepala security summarecon serpong dan mereka kini sedang mengusut kasus ini. Dari pemeriksaan rumah kosong sebelah ditemukan jejak-jejak kaki dan puntung rokok yang masih relatif baru. Rumah itu terkunci, kecuali satu jendela.
Lalu, terungkap juga, (Erni baru cerita) bbrp hari lalu, dua orang tukang kebun menggodanya dari dak lantai dua rumah sebelah. Mereka sudah diidentifikasi dan mengaku, kemungkinan besar dipecat. Apakah mereka yang masuk ke dalam rumah, belum tentu juga, karena mereka tidak mengaku.
Ya.. begitulah ceritanya. O ya, saya tidak menemukan ada barang hilang.
Walau beberapa bulan lalu saya sangat jengkel pada Wifone ini, dan sudah sempat memutuskan untuk berhenti berlangganan setelah kontrak setahun selesai (saya kontrak dengan Citibank nih), mau ga mau saya bersyukur juga. Wifone sedikit banyak sudah berjasa. Mungkin saya tidak akan menyadari adanya penyusup, jika tidak ada panggilan 'tak disengaja' itu.
Ngeri? Sedikit. Takut? Sedikiiit.
Hikmah dari kasus ini, jendela belakang sebaiknya jangan dibuka unsupervised. Erni sendiri juga belajar, untuk tidak terlalu ramah pada semua orang. Dia ini memang masih sangat polos, dia pikir semua orang seperti teman di kampungnya. I had warned her before. A lesson learned.
Terimakasih Tuhan atas penjagaanmu.

Posted by devi at 12:25 PM | Comments (0)