September 30, 2007
Pajak Buat Siapa?
Sebagian besar karyawan saat ini mungkin sedang bersukacita, karena pundi-pundi yang tadinya dah kembang kempis mendadak bisa bernapas lega lagi. Gaji ditambah bonus, siapa yang tak senang.
Sebaiknya jangan senang dulu. Coba cermati slip gaji bagian pajak. Napas bisa kembali sesak, sebagian mungkin kena serangan asma mendadak, lebih parah dari kondisi sebelumnya. Makin tinggi gajinya, makin besar pajaknya.
Ada perasaan dirampok melihat angka yang tertera di slip gaji suami saya. Rasa tidak rela besar yang melanda. Tidak rela karena saya tidak tahu ke mana larinya pajak itu.
Saya bertanya pada suami saya, buat apa sih kita bayar pajak? Buat membiayai pemerintahan, fasilitas umum, dan lain-lain, jawabnya.
Membiayai pemerintahan berarti menggaji mereka. Coba lihat polah para pejabat pemerintahan yang bolak-balik kerja keras 'studi banding' ke luar negeri, gonta-ganti barang dari tingkat hape sampai mobil mewah, tanpa ada rasa malu bahwa itu uang rakyat. Dan untuk 'kerja keras' itu mereka merasa layak menuntut kenaikan gaji dan tunjangan. Sementara itu rakyat yang harusnya mereka layani matanya berkunang-kunang karena kurang gizi, pusing dengan harga sembako, uang sekolah anaknya, sampai tarif tol yang dinaikkan atas alasan 'karena sudah peraturannya seperti itu.'
Tentang fasilitas umum sendiri, coba ingat2 fasilitas apa yang kita nikmati. Telepon umum? Sudah hampir tak berwujud. Penerangan? Konon katanya, rakyat dibebankan atas tagihan listrik ini. Belum lagi bentuk pemerasan yang lain, bikin KTP + KK 400.000, bikin akte kelahiran 200.000, akte pernikahan 400.000, paspor 750.000, dan banyak lagi.
Sekolah? Kita semua tahu betapa mahalnya biaya pendidikan saat ini. Sekolah negeri pun tidak benar-benar gratis karena kesejahteraan guru dan kelayakan sekolah masih jauh dari memadai. Perpustakaan sebagai sarana pendukung pendidikan pun susah ditemui. Buat yang mau homeschool jelas ini jadi satu penghambat.
Kesehatan? Kita tahu sendiri betapa mengenaskannya kondisi rumah sakit milik pemerintah. Saya pernah coba periksakan anak saya ke RS Harapan Kita. Saya harus menjalani proses birokrasi nan tidak efisien dan butuh waktu sejam sampai resep selesai dibuat. Beberapa ortu sibuk protes karena anaknya makin parah sakitnya karena harus menunggu sebegitu lama, sementara petugas tampak sudah tebal muka.
Juga jalan yang saya lewati saban hari, bolak-balik harus dipermak ahlinya untuk dimuluskan lagi lubang-lubangnya yang tak karuan. Tambalan kosmetis itu pun tak pernah bertahan lama, itu pun kalau para ahli menanganinya dengan cepat. Kalau tidak, mobil terpaksa menggelinding perlahan-lahan menghindari penggerus velg itu.
Jadi yang disebut fasilitas umum itu apa?
Hati jadi panas mengingat ini semua. Pajak bisa saja lebih dari 25% tanpa si penerima pajak merasa punya kewajiban untuk mengembalikannya ke pembayarnya. Jaminan
Jadi buat apa kita bayar pajak? dengan hati panas saya bertanya.
Satu-satunya yang mengingatkan hati saya untuk tenang adalah pernyataan seorang yang sangat saya kagumi dan sayangi, "Berilah kepada negara apa yang menjadi haknya."
Jadi, saya bayar pajak buat siapa? tanya saya kali ini dengan nada lirih cenderung pasrah.
September 14, 2007
Sindrom Seksi Repot
Seksi repot adalah orang-orang yang punya tugas direpotkan saat ada sebuah acara. Mereka biasanya berjalan ke sana kemari di ruangan tanpa takut ditegur panitia, mereka juga tampak percaya diri saat sedang melakukan kerepotannya. Kita dengan mudah bisa membedakan si seksi repot ini dari orang kebanyakan (peserta).
Di gereja juga demikian . Penyambut tamu (usher), penata suara, petugas multimedia, koordinator ibadah, adalah beberapa jenis seksi repot. Jika ada masalah pada mike, kadang si penata suara bergegas ke panggung untuk mengurusinya. Usher juga akan hilir mudik mencarikan tempat duduk untuk jemaat yang baru datang. Petugas multimedia juga tampak sibuk di belakang sana. Itu jenis seksi repot asli.
Ada lagi jenis seksi repot gadungan, alias orang yang sebenarnya tidak punya tugas saat acara berlangsung. Mereka ini enggan mengambil peran jadi peserta, sebagian karena terbiasa jadi seksi repot, sebagian lagi punya alasan-alasan tertentu. Saya sebut sindrom ini sebagai sindrom seksi repot. :)
Sindrom ini sering menjangkiti 'orang lama', yaitu mereka yang sudah dari jaman purbakala menjadi aktivis gereja. Entah kenapa, tempat favoritnya adalah kursi deret belakang, atau di balkon, atau di mana saja yang akhirnya mengesankan dirinya bukan jemaat biasa. Dan, memang orang yang terkena sindrom ini biasanya memang memosisikan diri sebagai pengamat. :D
Saya pun terserang sindrom ini. Sebagai mantan aktivis ibadah mahasiswa, rasanya jengah juga menjadi jemaat 'biasa' saat sudah berkeluarga. Kadang saya memandang para seksi repot dengan sedikit rasa 'iri'. Kadang saya juga jadi kritikus ulung tanpa merasa harus menjadi solusi.
Baru-baru ini, saya amati seorang sobat yang biasa jadi seksi repot di sebuah organisasi yang beken di kalangan pria, juga tampak jengah menjadi peserta biasa di sebuah acara. Dia pun lalu mengambil tempat terpisah. Hehehe... (Hope you read this, bro).
Padahal, tidak ada ruginya lho jadi jemaat biasa. Tidak ada ruginya 'hanya' menjadi peserta. Rugi justru kalau jadi pengamat. Pengamat tidak pernah sungguh-sungguh dapat menikmati acara. Peserta yang paling dapat menyerap manfaat sebesar-besarnya dari sebuah acara.
Saya yakin, masih banyak rekan-rekan 'orang lama' yang terjangkit sindrom ini. Yuk, kita keluar dari sindrom ini, karena kita sendiri yang rugi. Kadang kita perlu jadi jemaat biasa untuk menikmati, hanya menikmati saja, dan merasakan lagi sentuhan Tuhan di hati kita. Bukankah Tuhan yang menyuruh kita melayani satu sama lain itu juga pernah berkata: "Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah." Artikel ini bisa jadi referensi.
Butuh kerendahan hati, memang. :D
September 13, 2007
Batasan dan Aturan
Anak, khususnya balita, perlu batas dan aturan yang jelas. Dengan adanya batasan dan aturan yang jelas, para bocah, bahkan yang belum bergigi pun akan sangat tertolong.
Para pemuja kebebasan mungkin akan menganggap terlalu berlebihan menerapkannya pada anak semuda itu.
Namun berdasarkan pengalaman pribadi, hal ini sangat terbukti. Batasan dan aturan yang jelas membuat anak merasa aman. Tidak adanya dua hal ini, atau ketidakkonsistenan dalam menerapkan hal ini akan membuat anak bingung. Dalam kebingungannya, ia akan merespon dengan sikap yang biasa disebut oleh orang dewasa: "nakal".
O ya, batasan dan aturan ini tidak selamanya berjalan mulus-mulus saja. Kadang-kadang si anak mencoba, apakah peraturan itu masih berlaku.
Contoh, kami membiasakan Joel untuk duduk di car seatnya di baris dua dalam mobil kami. Jika tidak duduk di kursi khususnya itu, dia biasanya akan eksplore isi mobil. Berdiri, memanjat, dan aktivitas lain yang menurut kami membahayakan keselamatannya.
Sejak kami tidak menggunakan jasa baby sitter lagi, kami memutuskan bahwa ia harus bisa duduk dengan aman di kursinya, tidak ada yang menjaga di belakang lagi. Butuh penyesuaian buat dia, buat saya juga karena sebagai ibunya, yang banyak menghabiskan waktu dengannya, kadang saya tidak tega, ingin memangkunya di depan.
Beberapa waktu saja, tangisan, rengekan tanda protes itu pun hilang. Joel sudah bisa menerima kenyataan ini :) Aturannya jelas, duduk di car seat atau mobil dihentikan, atau konsekuensi lain. Kreatiflah jadi ortu :D
Tapi lagi-lagi saya lemah hati, beberapa hari lalu, ketika harus berangkat pagi, saya pangku dia; dalam kondisi baru bangun tidur; di baris depan. Pikir saya waktu itu, kasian karena dipaksa bangun dari tidurnya. Siangnya, benar saja.
"Mau di depan, sama mama."
"Tidak. Di belakang."
"Tadi kok boleh?"
Think.. think.. think..
"Soalnya tadi Joel baru bangun. Mama kirain Joel mau bobo lagi." Duh, ini jawaban.
"Joel mau bobo lagi."
Nah, lho! Saya pun menuai ketidakkonsistenan saya.
Akhirnya saya dengan bantuan pihak yang sangat konsisten (Pampi maksudnya) berhasil 'memaksanya' duduk di kursinya. Nangis? Jelas. Kenceng banget malah. Dan lama. Memekakkan telinga dan menyayat hati. Namun dia akhirnya menyerah dan tertidur di kursinya. Salah saya. Saya pun berjanji dalam hati tidak mengulanginya lagi.
Ada satu cerita lagi tentang batasan dan aturan. Saya pernah cerita pada Joel tentang kebiasaan makan yang sehat. Gorengan, mie instan, permen, dll adalah makanan yang tidak boleh sering-sering kita makan.
Suatu pagi, habis mengantar Pampi ke Karawaci, saya ingin makan cireng, yang adalah gorengan favorit saya. Saya pun meminggirkan mobil di depan sekolah di dalam Islamic Village.
"Mama beli gorengan dulu ya. Joel tunggu di mobil."
"Kan ga boleh sering-sering makan gorengan, Ma?"
Walah!
Ingin sekali saya menjawab, "Kan ga sering, Joel." Namun saat itu saya memilih untuk menunjukkan padanya bahwa saya konsisten dengan apa yang pernah saya katakan. Saya tidak ingin mengajari hati nuraninya yang masih bersih untuk 'berkilah' atau 'ngeles'.
Saya memilih untuk menjawab, "Ok, Joel. Terimakasih sudah mengingatkan Mama." Dan saya pun tidak jadi makan gorengan hari itu.
September 11, 2007
Ibu Rumah Tangga atau Manager?
Sembilan bulan menjalani profesi ini, gelar Ibu Rumah Tangga (disingkat IRT) nampaknya kurang representatif akan pekerjaan yang saya jalani sehari-hari. Konotasinya pun kurang enak didengar.
Jika orang bertanya, "Kerja apa?" dan dijawab ,"Di rumah saja," maka orang akan menjawab, "Oohh.. ibu rumah tangga ya."
Waktu meninggalkan kantor yang nyaman di bilangan Wahid Hasyim, Jakarta, ada sebuah pernyataan yang sangat menguatkan hati saya yang saat itu benar-benar kecut, tak yakin akan kemampuan diri menghadapi hidup di hari depan.
Pak Wayan mungkin tidak menyadari dampak perkataannya. Namun, sesungguhnya kata-katanyalah yang paling menguatkan saya. Dia bilang, saya telah memilih berhenti bekerja untuk mendampingi anak saya. Dia bilang mendampingi bukannya menjaga, mengasuh atau merawat anak.
Ya, betul sekali. Sembilan bulan ini telah saya lewati dengan melakukan pendampingan pada si kecil Joel. Dan, pendampingan itu bisa saya pastikan maksimal, karena saya sendiri yang melakukan pengecekan di lapangan. :)
Selain tugas pendampingan anak, tugas lain adalah mengatur rumah. Karena itu saya lebih setuju istilah homemaker ketimbang housewife. Housewife terkesan pasif, sementara homemaker bekerja sangat aktif dan terlibat sepenuhnya dalam tugas membuat rumah yang homy. Atau bisa juga kita sebut manager. :) Silakan baca Amsal 31 sebagai referensinya.
Seorang Manager Rumah Tangga (disingkat MRT) bisa punya staf atau tidak. Jika ia punya staf, ia punya tanggung jawab memastikan si staf melakukan tugas sesuai ekspektasinya. Manager juga harus menguasai tugas si staf jika sewaktu-waktu staf berhalangan.
Lalu, pekerjaan berikut adalah budget. Beberapa bulan yang lalu, suami saya menyerahkan gajinya sepenuhnya untuk saya kelola. Maka saya pun resmi menjabat sebagai finance controller. Termasuk di dalamnya tugas purchasing dan cashier. Akunting tidak saya lakukan, karena saya kurang suka mencatat pengeluaran. Saya hanya memastikan, pengeluaran sesuai budget.
Pekerjaan seorang MRT ini punya stress level yang lebih tinggi. Punya staf atau pun tidak, sama-sama dilematis. Staf akan membantu kita melakukan tugas-tugas klerikal seperti menyapu, mengepel, mencuci piring & peralatan masak, bersih-bersih, dll. Namun, punya staf juga membuat kita ketambahan orang lagi untuk dimanage. Apalagi jika ia tinggal di rumah, biaya makan akan lebih besar. Ini benar lho, staf saya makannya buanyak sekali. Beras 5kg yang tadinya bisa dua minggu lebih, sekarang hanya bertahan seminggu. Ini belum termasuk ekstra pengeluaran untuk air, listrik, dan amenities untuk dia.
Jika di kantor saya berhadapan dengan orang-orang dewasa yang biasanya berada pada status sosial dan pendidikan yang tidak jauh berbeda, di rumah, selaku MRT saya berhadapan dengan balita yang kadang suka moody, masih self-oriented, banyak tanya dan butuh jawabn segera; juga dengan staf yang masih harus banyak diajar.
O ya, saya juga melakukan homeschool. Sepertinya ini membuat stres lebih berlipat, namun ternyata tidak.
Sampai detik ini, saya belum mau menukar waktu-waktu yang bebas saya atur ini dengan jam kantor yang mematok harus datang jam x, tidak boleh telat dan pulang paling awal jam y. Saya sungguh-sungguh menikmatinya.