May 2008
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
 





 

March 18, 2008

Berita Gembira dari IM2

Sejak Desember'07 kami berlangganan IM2, kuota 1.2GB. Pertama menggunakan, kami sempat shock.

Yang pertama karena speednya yang wuzz..wuzz. Maklum sebelumnya pengguna dial-up, yang sebenarnya masih lebih ok ketimbang Telkomnet. Shock yang kedua... sebentar saja meteran sudah menunjukkan pemakaian 20ribu-an KB. Sekali lagi, ini juga transisi yang harus dialami karena tadinya kita pake internet time-based, sekarang volume-based. Walah... Akhirnya, semua update otomatis kita matikan. Gambar juga dimatikan, jadi harus load sendiri.

Lumayan.. sampai hari ini belum pernah over-quota. Bulan Februari lalu malah kurang dari kuota. Sayangnya yang kurang ini tidak bisa diakumulasikan ke bulan berikutnya ya... Seandainya bisa....

Hari ini, bersama billing bulan lalu, IM2 memberikan kabar gembira, mulai Maret ini semua kuota dinaikkan tanpa tambahan biaya. Saya bisa bernapas lebih lega, karena ada tambahan 0.3GB alias 307.2KB yang pastinya lumayan banget. Sebagai homeschooler, kami sangat membutuhkan internet untuk proses belajar. Apalagi yang namanya Joel itu kadang2 suka impulsif dan setengah memaksa diperlihatkan gambar-gambar negara ini, negara itu, orang ini, orang itu, binatang ini binatang itu, dsbg.

Atau.. IM2 mau ga ya memberikan subsidi untuk homeschooler? Speedy belum bisa dipasang, karena kami masih ngantri untuk sambungan Telkom. Internet murah dari FastNet juga sudah pasti tidak bisa kami dapatkan selama masih tinggal di cluster Crystal Gading Serpong, semua kabel harus lewat bawah tanah, dan dari awal tidak ada kerja sama dengan pihak FirstMedia/Kabelvision.

Yah, pokoknya ini berita gembira. Hari-hari ini rasanya banyak berita gembira buat keluarga kecil kami ini :). Terimakasih, Tuhan.

Posted by devi at 11:50 AM | Comments (0) | TrackBack

X-tra Large: The Review

Sehari sebelum Valentine - dah basi banget ya, saya ada kencan ama seorang pria - dearest hubby tentunya. Nonton bareng. Film yang kita pilih adalah Xtra Large-nya Monty Tiwa. Alasan utama saya pengen nonton film itu adalah Jamie Aditya :D. Kekeke..

Waktu dia masih jadi VJ MTV saya belum terlalu 'demen' ama tingkahnya. Saya jadi suka sama tingkah konyolnya yang ga tau malu sejak lihat dia di Travel Channel-nya Discovery -- sekarang namanya jadi Travel & Living. Jamie tidak pernah sungkan mempermalukan dirinya, dan selalu berusaha lebur dalam budaya setempat. Dia setengah bule, besar di Oz, tapi fasih bahasa Sunda dan mungkin dalam hal tertentu lebih Sunda ketimbang yang Sunda tulen.

Ok, sekarang tentang filmnya. Ceritanya cukup menarik, tentang fenomena yang ada di masyarakat. Ga cuma di Indonesia, katanya kebanyakan pria pernah dihinggapi suatu keraguan, sehingga membuat yang namanya obat kuat, juga obat2 sejenis viagra, dll laku keras.

Nah, Jamie yang berperan jadi Denny (CMIIW), pun pergi ke Mak Siat (Sarah Sechan), yang konon katanya adalah cucu Mak Erot, tokoh kondang di Sukabumi yang bisa mengobati kekurangannya. Denny harus menikahi anak atasan bapaknya, demi menyelamatkan nama baik si bos yang sedang berkampanye politik. Si anak diperankan oleh Dewi Sandra.

Oleh 2 orang sohib masa SMAnya yang ancur - diperankan oleh Alex Abbad dan mr X (lg males browsing); Denny juga dicarikan sparring partner (karena masih 100% perjaka), disewakan seorang cewek profesional-Intan untuk mengajarinya selama satu bulan penuh. Singkat kata, antara Denny dan Intan, terjalin chemistry yang kuat. Akhirnya tebak sendiri :)

Sayang seribu sayang, cerita ini tidak didukung oleh penyutradaraan yang bagus. Kualitas gambar benar-benar payah, tak lebih baik dari sinetron. Cerita juga tidak tereksplor dengan baik. Saya langsung mengandaikan jika film ini boleh digarap oleh seorang perempuan, Nia Dinata misalnya. Pasti lebih menyentuh. Banyak banget detil yang tidak tergarap. Make-up artis pun seadanya. Dewi Sandra yang cantik itu terlihat sangat menor, dandanannya kasar. Gambar kadang2 blur. Kompleks lokalisasi yang digambarkan di sini juga terkesan murahan, tidak cocok dengan tongkrongan 'mami' yang diperankan oleh Inggrid Widjanarko.

Filmnya tidak bisa dikatakan indah. Terkesan absurd, asal2an, seadanya. Rasanya bukan karena budget terbatas? Kan disponsori oleh persh rokok besar? Hmm...

Sekarang tentang penonton. Ini film harusnya kan masuk kategori dewasa, karena topiknya terlalu 'serem' buat anak-anak. Tapi... sekitar dua-tiga ortu mengajak anak mereka yang masih kecil2. Saya tidak tahu bagaimana nanti anak2 ini menyimpan kebingungan melihat adegan demi adegan yang jauh dari dunia kanak2nya.

Terus terang saya juga bingung, kenapa saya ada di situ. Hehehee.

Posted by devi at 11:32 AM | Comments (0) | TrackBack