September 30, 2007
Pajak Buat Siapa?
Sebagian besar karyawan saat ini mungkin sedang bersukacita, karena pundi-pundi yang tadinya dah kembang kempis mendadak bisa bernapas lega lagi. Gaji ditambah bonus, siapa yang tak senang.
Sebaiknya jangan senang dulu. Coba cermati slip gaji bagian pajak. Napas bisa kembali sesak, sebagian mungkin kena serangan asma mendadak, lebih parah dari kondisi sebelumnya. Makin tinggi gajinya, makin besar pajaknya.
Ada perasaan dirampok melihat angka yang tertera di slip gaji suami saya. Rasa tidak rela besar yang melanda. Tidak rela karena saya tidak tahu ke mana larinya pajak itu.
Saya bertanya pada suami saya, buat apa sih kita bayar pajak? Buat membiayai pemerintahan, fasilitas umum, dan lain-lain, jawabnya.
Membiayai pemerintahan berarti menggaji mereka. Coba lihat polah para pejabat pemerintahan yang bolak-balik kerja keras 'studi banding' ke luar negeri, gonta-ganti barang dari tingkat hape sampai mobil mewah, tanpa ada rasa malu bahwa itu uang rakyat. Dan untuk 'kerja keras' itu mereka merasa layak menuntut kenaikan gaji dan tunjangan. Sementara itu rakyat yang harusnya mereka layani matanya berkunang-kunang karena kurang gizi, pusing dengan harga sembako, uang sekolah anaknya, sampai tarif tol yang dinaikkan atas alasan 'karena sudah peraturannya seperti itu.'
Tentang fasilitas umum sendiri, coba ingat2 fasilitas apa yang kita nikmati. Telepon umum? Sudah hampir tak berwujud. Penerangan? Konon katanya, rakyat dibebankan atas tagihan listrik ini. Belum lagi bentuk pemerasan yang lain, bikin KTP + KK 400.000, bikin akte kelahiran 200.000, akte pernikahan 400.000, paspor 750.000, dan banyak lagi.
Sekolah? Kita semua tahu betapa mahalnya biaya pendidikan saat ini. Sekolah negeri pun tidak benar-benar gratis karena kesejahteraan guru dan kelayakan sekolah masih jauh dari memadai. Perpustakaan sebagai sarana pendukung pendidikan pun susah ditemui. Buat yang mau homeschool jelas ini jadi satu penghambat.
Kesehatan? Kita tahu sendiri betapa mengenaskannya kondisi rumah sakit milik pemerintah. Saya pernah coba periksakan anak saya ke RS Harapan Kita. Saya harus menjalani proses birokrasi nan tidak efisien dan butuh waktu sejam sampai resep selesai dibuat. Beberapa ortu sibuk protes karena anaknya makin parah sakitnya karena harus menunggu sebegitu lama, sementara petugas tampak sudah tebal muka.
Juga jalan yang saya lewati saban hari, bolak-balik harus dipermak ahlinya untuk dimuluskan lagi lubang-lubangnya yang tak karuan. Tambalan kosmetis itu pun tak pernah bertahan lama, itu pun kalau para ahli menanganinya dengan cepat. Kalau tidak, mobil terpaksa menggelinding perlahan-lahan menghindari penggerus velg itu.
Jadi yang disebut fasilitas umum itu apa?
Hati jadi panas mengingat ini semua. Pajak bisa saja lebih dari 25% tanpa si penerima pajak merasa punya kewajiban untuk mengembalikannya ke pembayarnya. Jaminan
Jadi buat apa kita bayar pajak? dengan hati panas saya bertanya.
Satu-satunya yang mengingatkan hati saya untuk tenang adalah pernyataan seorang yang sangat saya kagumi dan sayangi, "Berilah kepada negara apa yang menjadi haknya."
Jadi, saya bayar pajak buat siapa? tanya saya kali ini dengan nada lirih cenderung pasrah.
July 19, 2007
Tebar Pesona Mal Baru
Belum lagi genap satu bulan Summarecon Mal Serpong menghidupkan kawasan Gading Serpong, namun pesonanya jelas semakin lekat di hati masyarakat Gading Serpong dan sekitarnya. Belum surut juga daya tariknya. Mungkin mal ini yang tersukses dari mal-mal baru yang hadir belakangan ini di Jabotabek.
Hari pertama dibuka, nampak antrian di pintu-pintu masuknya yang ditutup untuk sementara untuk publik. Ketika itu, bunyi gaduh barongsai ikut meramaikan prosesi peresmian mal baru karya pengembang Summarecon yang sangat berjaya di Kelapa Gading.
Begitu sulit mencari tempat kosong di area parkir pada hari-hari pertama. Di dalam pun tak kalah padat. Rasanya semua orang Serpong tumplek blek di sini. Berbagai kalangan hadir ingin mengalami sendiri mal yang konon katanya telah lama dinanti-nanti masyarakat Serpong. Atau, mereka juga ingin melihat dari dekat artis-artis ibu kota seperti Pingkan Mambo, Kerispatih, Tina Toon, Twilite Orchestra & Sherina, dan banyak lagi.
Denyut kehidupan terasa lebih cepat sejak saat itu.
Malam yang biasanya senyap kini digantikan oleh ingar-bingar musik yang tetap hidup sampai larut malam. Lampu berkekuatan ribuan watt juga dipancarkan dari wilayah Sentra Gading Serpong ini.
Di area Downtown Walk-nya, aktivitas masih bergulir selepas malam. Cafe dan resto nan nyaman, menjadi penawar lelah kepenatan aktivitas hari itu. Bahkan, satu kedai khusus dipersembahkan untuk penggemar bir. Koneksi internet Wi-Fi gratis persembahan NetZap juga hadir menemani mereka yang asyik menyeruput kopi atau mengunyah kentang goreng.
Modern? Ya.
Gading Serpong adalah sebuah kawasan pemukiman yang dikerjakan oleh dua pengembang, Summarecon dan Paramount (d/h Ambassador). Menurut pengamatan pribadi, profil penghuni kawasan ini adalah keluarga muda dan para pengusaha yang sudah cukup mapan. Kehadiran sekolah-sekolah sekaliber SMAK, Tunas Bangsa, Tarakanita, belum lagi taman bermain (playgroup) dwi bahasa yang tak terbilang banyaknya, membuktikan hal ini.
Kehidupan begitu tenang di sini, berorientasi keluarga dan khas daerah pinggir kota. Bagi mereka yang biasa tinggal di kawasan padat Jakarta seperti saya, daerah sini sungguh menawarkan sebuah alternatif yang menyenangkan. Tempat ini terasa lebih tradisional, agak sedikit kuno ketimbang kota tetangga Jakarta, namun menentramkan hati. Jauh dari kehidupan borju dan materialis.
Kini, sebuah mal dengan konsep modern hadir dan mengubah wajah Gading Serpong. Saya begitu bangga saat mendengar bunyi-bunyian indah orkestrasi Twilite Orchestra membahana di atrium mal, terharu melihat wajah masyarakat asli sini yang tampak begitu mendamba, haus hiburan. Saya juga bangga melihat mal ini memberikan fasilitas pinjaman kursi roda dan kereta dorong anak. Bangga melihat toko stationery PaperClip yang begitu besar dan bahkan menyediakan fasilitas fotokopi seharga Rp 150/lembar. Bangga melihat bioskop XXI yang menghadirkan film-film terbaru. Dan berbahagia karena Gramedia kini hanya berjarak 5 menit.
Namun, dalam hati kecil saya merasa konsumtivisme akan segera datang menggeser keindahan tradisionalisme tadi. Pelan namun pasti tingkat kehidupan akan terus ter-upgrade. Seperti yang sebuah MLM lakukan, menjaring konsumen loyal dengan cara menjual mimpi. Mengupgrade lifestyle membernya sehingga lama-lama tak sadar kantong sedang tergerus.
Apa yang sedang saya bicarakan?
Anak-anak sekolah yang biasanya ada di rumah selepas senja, kini punya tempat tongkrongan baru. Kalau biasanya mereka pergi dengan orangtua, mungkin kini akan pergi bersama gang-nya. Nonton di studio XXI, jajan di KFC atau ngopi di Starbucks, sambil mendengar suguhan musik hidup. Shopaholics on the making.
Saya, memilih menyikapinya dengan lebih sering ngendon di rumah kami yang tenang, yang agak terisolasi namun berjarak tak sampai 1 km dari si SMS. Lebih baik saya tetap belanja di pasar modern Sinpasa atau toserba Gading yang sederhana namun lengkap. Meski demikian Gramedia, J.Co, BreadTalk, XXI serasa memanggil-manggil untuk datang.
Selamat datang konsumtivisme.
Posted by devi at
10:53 PM
|
Comments (0)
July 04, 2007
Seabad Serasa
Serasa dah seabad ga ngeblog
Namun tidak terasa, sudah tujuh jari berhitung tentang bulan yang berlalu
dari seseorang yang melarungi jalan-jalan tiada ujung
menjadi seseorang yang mencoba menghangatkan 'rumah'
menghalau kekosongan ragawinya dengan kepenuhan hati kami
dan sebuah tugas lain,
menggenggam tangan kecil halus yang begitu memujaku
agar ia tak salah langkah,
agar tawa cerianya tidak pupus,
agar 'rumahnya' akan selalu ia kenang sebagai 'rumah' bukan neraka
tentang dua orang dewasa yang mengasihinya tanpa syarat, yang ingin memberikan yang terbaik terutama waktu baginya, yang terlebih dahulu memberi teladan sebelum ia kelak jadi teladan, penghiburan, dan pembagi kasih itu kepada orang lain
Dan... kuakui tugas ini memang melelahkan
kadang begitu sulit mengusir ego
keakuanku menjerit minta diperhatikan
aku harus selalu bertempur dengan kedirianku
begitu amat sangat menguras seluruh emosi yang ada
Dan.. siapa Dia yang melatihku sebegitu rupa? Bukankah bangku kuliahku tidak pernah mengajariku semua ini?
Dan dari siapa aku menerima energi yang tak terperi dalam menjalani hidup yang kadang terasa hambar tiada warna?
Kuamini: "Ia harus makin bertambah dan aku harus makin berkurang"
Posted by devi at
12:24 AM
|
Comments (0)
January 18, 2007
I am Forever Grateful
Akhirnya....
balik juga moodnya buat ngeblog.. itu juga setelah ngobrol dengan bapak satu ini. Ya.. memang manusia itu butuh disemangati :p
Saya masih exist kok.. tapi dunia saya udah berubah banget.
Sekarang saya udah tidak tinggal di Jakarta lagi.. tapi rada minggir ke arah Serpong.. di kecamatan Curug kelurahan Pakulonan Barat, tepatnya Gading Serpong (GS) :)
Ketakutan saya untuk bangun sebelum ayam berkokok dan harus grasa-grusu demi tak terjebak dalam padatnya lalu lintas ibukota juga tak perlu saya alami. Maklum kantor WVI kan masuk jam 8 pagi dan diabsen pula, jadi supaya ga malu sama teman sekantor, saya harus jalan jam 6 sharp dari GS. Untuk saya... itu pagi banget!
Pampi sudah kerja di Karawaci, 10 menit dari rumah. Saya, lalu, daripada harus heboh sendiri di pagi hari, mending resign aja. Engga rela saya.. Mereka masih enak-enak tidur, sementara saya panik sendiri... Ga fair...
Begitulah...
Saya sekarang bangun antara range jam 6 -6.30 pagi. Ok, saya ngaku deh habis itu biasanya saya tidur lagi sampe jam 8-an. Siapin sarapan dan abis itu nganterin Pampi ke kantor.
Merasakan sekali penderitaan ibu-ibu kita, saya bersyukur. Karena saya diberikan begitu banyak kemudahan oleh Tuhan. Di jaman saya udah ada sapu plastik, pel bergagang praktis, mesin cuci, rice cooker yang cuma butuh waktu 15 menit untuk masak nasi, plus suami yang ga petantang petenteng ;). Jaman ibu2 kita ga ada compie.. mereka ga bisa browsing2, ga bisa blogging.. ga bisa chatting, de el el. Mereka juga ga baca koran tiap pagi kayak saya :D hehehehehee. Mereka juga mungkin ga ditinggalin mobil sama suaminya... jadi harus diem aja di rumah, ato naik kendaraan umum.
Bersyukur lagi, saya punya kegiatan sampingan yang sangat mendukung keputusan saya menjadi ibu yang hadir bagi anaknya. Komunitas baru ini sangat menolong saya dalam mendidik anak, selain membuat otak saya tetep 'jalan'.
Bersyukur sekali melihat kemajuan2 yang telah Joel alami. Tidak ngemut lagi (kebiasaan ini udah membuat yang nyuapin stres saking lamanya dia makan), sudah cukup mahir makan sendiri, makannya banyak dan selalu habis, kosa katanya bertambah buanyak... logika berpikirnya juga mencengangkan dan yang lebih hebat lagi... dia minta tidur sendiri! Jadi, sudah beberapa hari ini kami bisa tidur berdua lagi :) Rasanya tidak sia-sia keputusan itu saya ambil.
Bersyukur juga, walau tidak punya komputer, ada pihak yang meminjamkan sebuah laptop yang lebih canggih ketimbang laptop bawaan saya waktu masih kerja dulu... (hheehehe.. sorry ya Pak Hendro...)
Bersyukur banget untuk segala kebutuhan yang saya ga pernah kepikiran bagaimana akan terpenuhi, dijawab dengan cara istimewa oleh Dia.
Hum.. tidak pernah habis kebaikanNya.
Posted by devi at
12:23 AM
|
Comments (0)
May 18, 2006
Au Carrefour
Langkah tertahan
Berdiri terpaku
Menatap persimpangan
Hati berbisik
Bukan di sini.....
Lalu di mana?
Tangan terkepal
Kaki tersentak enggan
Menapaki jalan berkabut
Batinku gelisah
Kapan bisa kukuak kabut itu?
Posted by devi at
12:04 PM
|
Comments (0)
May 16, 2006
Mixed Thought
Ke Sabang, nemenin temen kantor beli snack untuk satu acara kantor, ia bercerita,
"Anak gw tadi kejar2 kita sampe ke jalan sebelum berangkat."
Ia ibu 2 orang anak. Anak pertamanya 3 tahun, anak ke-2nya 7 bulan.
"Mama, tadi cari Ase ya. Ase ke rumah Dika tadi," begitu tutur dari mulut si kecil, menyambut kepulangan mamanya dari kantor.
"Mama, Papa aja deh yang kerja. Mama di rumah aja sama Ase."
"Mama, Ase mau Mama aja."
Tersentuh, aku ingat jagoan kecilku di rumah. Yang akhir-akhir ini sering menunjukkan sikap tak mau berpisah.
"Dok, anak saya kalo makan kok ngemut ya? Dan lama, bisa dua jam."
"Ada bbrp kemungkinan, 1. Minta perhatian 2. Tidak lapar 3. Susunya kebanyakan."
"Minta perhatian, Dok?"
"Iya, itu termasuk salah satu problem anak yg ibunya bekerja."
Konsultasi saya dengan dokter Sanata Polo, dokter yang melayani di kantor saya, membuat saya tercenung. Saya sedih.
Posted by devi at
04:44 PM
|
Comments (0)
May 04, 2006
(Not Really) Indie
Semalem Pampie tukeran hp ama temennya, karena hpnya dah abis batere. Phillip merknya. As indie as his own. Hihihi.
Well, ga bener2 indie sih. Cuma hpnya Pampie ini merknya Alcatel dan populasinya jelas kalah banget dengan raksasa dari Finland, Nokia. Walaupun jarang peminat, tapi merk2 ini punya fans sendiri. Waktu beli Alcatelnya Pampie, kami dikasih tau bahwa ada toko khusus yang menjual hp2 eropa ga pasaran spt ini.
Enaknya, hp-nya emang ga pasaran. Ga enaknya, kalo lagi abis batere dan kebetulan ga bawa charger... susah banget nyari pinjemannya. Seperti yang dialami Pampi waktu terjadi bom di Kedubes Ostrali. Semua orang dievakuasi saat itu juga dari gedung mereka di Sentra Mulia. Dia yang saat itu sedang jauh dari meja, terpaksa meninggalkan tas (juga mobil di parkiran) dan pulang naik taksi. Tiga hari kemudian baru boleh ke kantor lagi... dan hp udah abis baterenya. Coba2 charge pake charger Nokia yang colokannya pas... berakhir dengan ngambeknya si hp.. ga mau nyala dan ngadat. Tp setelah ketemu jodohnya lagi 3 hari kemudian, si hp Alcatel itu menyala lagi.
Sorry banget, aku ga apal seri si Alcatel. :D
Posted by devi at
03:00 PM
|
Comments (0)
April 13, 2006
Homeschool
Homeschool, home is cool, kata Ines, salah seorang teman milis homeschool.
Homeschool benar2 hal yang baru buat saya, karena saya belum ada pengalaman atau pernah bersentuhan dengan produknya. Eh, saya lupa... saya sudah bersentuhan dengan produk homeschool! Namanya Christopher Paolini. Jika tidak familiar dengan namanya, dialah penulis muda yang menulis trilogi Warisan (Inheritance) - Eragon, Eldest, dan buku 3 belum ada judul. Chris menulis buku pertamanya pada usia 15!
Awal ketertarikan saya adalah karena selain sekolah terasa sangat komersil, juga karena mahalnya biaya sekolah sekarang. Sudah bukan hal yang aneh, jika sekolah2 sudah menutup pendaftarannya jauh2 hari bahkan setahun sebelum tahun ajaran baru dimulai. Mau sekolah aja kok repot banget sih!
Saya tidak anti-sekolah, saya nikmati masa sekolah saya. Tapi memang kalo dipikir2 lagi, sekolah sekarang sudah banyak yg menyimpang dari panggilannya: mencerdaskan generasi muda. Saya pernah dengar ada sekolah yang menginterview calon muridnya dengan pertanyaan2 semisal: ortu kamu mobilnya apa, ibu kamu kerja ga, naek apa ke kantor, liburan biasanya ke mana, dll dll. Ekstrim ya?
Pasti masih ada sekolah yang masih menjunjung cita2 luhur. Tapi.. di mana ya carinya.. Saya masih dalam pencarian.. dan belum juga ketemu, sementara anak saya sudah mulai mendekati umur pre-school. Dalam pikiran saya, sekolah ideal adalah sekolahnya Totto-chan. Saya pernah mereview buku Totto-chan, silakan dibaca di sini.
Tadi di acara devosi pagi di kantor, saya mendengar cerita seorang bapak yang anaknya masih kelas 3 SMA dan belum ujian kelulusan, tapi sudah harus melunasi pembayaran uang pangkal dan biaya kuliahnya seharga bbrp puluh juta, bisa dicicil tapi dikenai bunga cukup tinggi: 30-40%. Biaya ini sudah harus selesai dibayarkan begitu anak ini lulus SMA dan tidak bisa dikembalikan kecuali anak ini diterima di PN atau tidak lulus. Wow.
Mau ke mana arah pendidikan kita?
Jadi, homeschool (HS) adalah opsi yang sangat menarik akhir2 ini. Walaupun tantangannya juga sangat besar - mengalahkan ego, membangkitkan iman - tapi jika mau belajar dan mau memberi diri, pasti bisa.
Tertarik HS, silakan browsing2 dan googling2 ttg ini. Juga jangan lupa join komunitas HS, sebab homeschoolers harus menemukan komunitas yang bisa saling support, karena HS jelas masih terasa asing dan aneh di Indonesia, bisa-bisa malah stress atas penghakiman-penghakiman dari lingkungan. Di Amerika sendiri, HS sekarang populer karena parahnya tingkat kriminalitas dan lingkungan yang tidak secure. Child-abuse, kidnapped, bullied by other pupils, hanya dua di antara kasus-kasus yang meresahkan di sana.
Beberapa teman meragukan kemampuan anak produk HS untuk menghadapi dunia nyata, karena berada di lingkungan yang terlalu aman dan dijaga oleh ortunya. Menurut mereka, anak perlu mengalami masalah di sekolah spy dia belajar. Sementara penganjur HS seperti tokoh pendidikan anak, Seto Mulyadi, justru membawa anaknya ke dunia nyata sebenarnya (apakah sekolah = dunia nyata) dengan cara mengajak anak2nya tiap kali ia ada kegiatan, semisal ikut ke Aceh untuk menemani ayahnya menghibur anak2 Aceh. Mereka tak hanya bertemu teman2 sepantarannya - teman saya pernah bilang, bagaimana mungkin 30 lebih anak sepantaran dengan satu orang guru dikurung dalam satu ruangan bisa disebut belajar? - anak2 Seto juga berinteraksi dengan berbagai macam jenis orang, kecil atau pun dewasa.
Metode yang digunakan bisa berbeda. Lihat di sini untuk perbandingan bbrp metode.
Ada banyaaak kurikulum yang tersedia untuk homeschoolers. Metodenya spt Universitas Terbuka. Ortu beli kurikulumnya, mempelajarinya dan menyampaikan pada anak. Anak juga harus buat tugas, dan ikut ujiannya. Nanti penyelenggara kurikulum itu akan memberikan sertifikasinya. Anak tsb nanti akan diakui oleh Diknas kita sebagai lulusan luar negeri.
Harga kurikulum+materi memang tidak murah, karena masih harus impor. Menyiasati harga, bisa juga kita beli materi2 second, tapi nanti ya kebenturnya di masalah sertifikasi - soalnya tidak terdaftar. Kabar baiknya, Diknas kita berencana mendesain kurikulum+materi homeschool dengan muatan lokal. Semoga cepat terwujud.
Posted by devi at
11:32 AM
|
Comments (1)
March 31, 2006
Welcome, New Parents
Semalam ada sms, 'Anakku sudah lahir. Laki-laki. Berat 2.85 kg. Pukul 14:xx.'
Wah! Selamat ya Sam n Fang2... for the baby boy. Sam, ga cuma IPk-mu yang sama ama Pampie, anak pertamamu juga laki-laki dan ultahnya cuma beda 1 bulan persis ama Joel, ya. Selamat, selamat!
Bayi kecil ini pasti akan membawa kebahagiaan yang sangat besar untuk kalian berdua dan keluarga besar tentunya!
Posted by devi at
03:17 PM
|
Comments (1)
March 17, 2006
Orang Dari Masa Lalu
Tiba-tiba dia hadir lagi. Aneh rasanya bertemu lagi, di gereja pula.
Dia masih seperti yang dulu. Masih dengan motor Yamaha hitam polos yang joknya kini tinggal lima puluh persen. Dia menawariku berkunjung ke rumahnya. Kami tidak banyak bercakap-cakap.
Teringat persahabatan kami yang terjalin lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di sebuah kota indah nan artistik di pulau Jawa. Tak lama setelah aku meninggalkan kota indah itu, kami bisa dibilang putus hubungan sama sekali.
Dia sempat jadi orang istimewa di hatiku. Tapi hubungan kami tidak pernah berkembang lebih jauh dari berteman.
Aku terbangun. Fiuh.. syukurlah cuma mimpi.
Dalam hati tetap menyimpan tanya, 'Apa kabar kamu, Mbang?'
Posted by devi at
09:12 AM
|
Comments (0)
February 28, 2006
Customer Service
Jika mendengar istilah CS - Customer Service - biasanya kita langsung terbayang petugas2 - biasanya perempuan- berpenampilan menarik dengan senyum ramah, siap membantu customer. (heh? betulkah? sebuah bank swasta terkenal punya CS jutek.)
Sebuah buku berjudul Good Service is Good Business terbitan Gramedia Pustaka Utama, mengupas tuntas tentang jenis service satu ini. Customer yang loyal adalah customer yang merasa puas dengan pelayanan yang ia terima dan tidak merasa keberatan harus membayar lebih untuk pelayanan tersebut. Dan.. customer tersebut selalu kembali lagi.
Saya ingat di Asia, ada Singapore Airlines (SQ) yang walaupun harga tiketnya relatif lebih tinggi, tetapi punya customer2 setia yang senang dengan pelayanannya. Ana rega ana rupa, kata suami saya sangat puas dengan pelayanan ramah dan menyenangkan oleh cabin crew SQ. Padahal, waktu pulang dari Beijing, November '05 lalu, saya sempat mencibir melihat lambatnya petugas counter SQ di Capitol Airport melakukan check-in untuk penumpangnya. Saya sudah selesai check-in di counter Garuda Indonesia diwakili oleh China Air, sementara suami saya yg menggunakan SQ belum kelar juga. Setelah agak lama, baru saya perhatikan, di meja ternyata ada pengumuman: 'Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, kami sedang melakukan latihan check in manual untuk mengantisipasi situasi darurat.' WAH! Saya akhirnya malah kagum dengan perencanaan mereka yang baik itu. :)
Sebenarnya siapa sih CS itu? Sepertinya kita tidak boleh membebankan tugas CS pada staf CS itu sendiri. Setiap karyawan adalah CS bagi perusahaannya, petugas cleaning service sekali pun. Di buku yang saya baca tadi, ada kisah tentang petugas kebersihan sebuah lapangan golf eksklusif yang mengeluh, "Kalau kurang bersih sedikit saja, customer langsung komplin. Tapi kami tidak pernah dipuji jika lapangan bersih." Si penulis mengatakan begini, "Mereka tidak memuji secara langsung memang. Tetapi mereka selalu kembali kan? Itulah pujian tertinggi yang bisa kamu terima."
Kemarin, saya berkunjung ke sebuah mal di Jakarta Barat. Saya mampir ke sebuah dept store yang punya FO (Factory Outlet) untuk sepatu sport. Baru masuk saya ditegur oleh petugas penitipan barang yang mengharuskan saya menitipkan ransel saya. Sudah lama sekali saya tidak pernah menitipkan tas di penitipan tas, karena biasanya tas perempuan diperkenankan masuk, kebetulan hari ini saya membawa ransel (laptop) berukuran sedang. Sepertinya si petugas yang notabene adalah laki-laki ini tidak kenal tabiat perempuan.
Saya bilang sama dia, "Waduh, saya ribet nih ngeluarin barang2 saya. Ga usah titip deh." Dia jawab saya, "Harus, Mbak." Kesal, saya jawab, "Ya sudah deh, ga usah aja." Tanpa perlu berlama-lama, saya meninggalkan tempat itu dan membeli sepatu di tempat lain yang lebih mahal harganya (tapi jelas lebih baik secara kualitas) tapi saya diservis dengan baik sekali.
Sepertinya saya membesarkan masalah kecil ya? Tidak buat saya. Seandainya saja si petugas itu mengerti tabiat customernya. Setau saya, perempuan itu jarang mengantongi dompet. Pakaian perempuan pun banyak yang didesain tanpa kantong. Tidak seperti pria, biasanya perempuan menaruh dompet dan handphonenya di dalam tas. Tentu repot jika harus menggenggam handphone dan dompet sambil berbelanja, apalagi pilih2 sepatu. Jika alasannya adalah menghindarkan pencurian, saya bersedia kok tas ransel besar saya itu diperiksa di pintu keluar. Itu lebih fair buat saya.
Menenteng kotak sepatu, saya berjalan melewati dept store tadi. Awalnya mau membeli sepatu sport yang tidak terlalu bagus buatannya, sekarang saya malah membeli sepatu sport dengan kualitas lulus QC (Quality Control), berbahan ringan dan mendapat diskon tambahan dengan kartu kredit dari sebuah bank swasta yang CS-nya jutek :).
Posted by devi at
11:28 AM
|
Comments (1)
February 03, 2006
Maafin ya..

Hari-hari ini, seperti inilah apa yang saya rasakan. Rasa bersalah to The Almighty karena keseringan nyuekin Dia. Mmmmhhh.. moga cepat berlalu dan bisa teratasi dengan baik.
Posted by devi at
01:06 PM
|
Comments (0)
October 03, 2005
Seseorang Bernama Susan
Lampu henfon saya menyala. Ada sms masuk. Dengan hanya diterangi lampu henfon itu, saya mengambil henfon yang sedang settingannya sedang saya buat silent. Dari sebuah bank terkenal. Memberi laporan adanya transaksi.
"Sekian ribu rupiah pada tanggal sekian jam sekian."
Saya menghela napas. Ini bukan yang pertama kali saya terbangun karena sms yang masuk pada malam hari. Kemarin bahkan saya menerima sms dari seseorang yang mengatakan bahwa "Susan, I miss you. How r u? U r still singing?" Saya sudah membalas sepatutnya.. tetapi orang itu belum menyerah juga.
Dari bank yang saya sebut di atas pun saya sering menerima laporan transaksi. Juga dari sebuah tempat fitness yang seleb abis, saya beberapa kali mendapat sms yang mengajak saya untuk datang ke tempat mereka. Suatu hari, saya telepon bank yang sering mengirimi sms laporan transaksi itu:
"Begini, Mas. Saya minta tolong fasilitas SMS Bankingnya dihapus aja ya.. Soalnya saya merasa terganggu, nih."
"Ok, mbak Susan, mari kita cocokkan data dulu."
Maka berakhirlah kunjungan sms dari bank itu ke henfon saya.
"Halo... Nanti Sabtu kamu langsung datang aja, ya!" begitu suara pria lawan bicara saya di telepon pada suatu siang di kantor.
"Ha? Ke mana?" tanya saya terbengong-bengong.
Heran tentu saja, karena saya mendadak beken banget. Telepon-telepon yang hanya sekedar menyapa, sms-sms yang menunjukkan perhatian, bahkan akhir-akhir ini saya mendapat sms yang sangat manis bunyinya,
"Selamat berbahagia dalam menempuh hidup baru, San. Semoga tetap awet sampe kakek-nenek. Sorry kami ga bisa datang. Luv *someone*."
Saya tunjukkan sms itu ke suami saya, dia hanya tersenyum. Yah, memang sudah seharusnya kami senang kalau ada yang mendoakan kebahagiaan kami.
Tetapi nama saya bukan Susan.. saya Devi.
*begitulah akibatnya kalo beli nomor henfon second*
Posted by devi at
05:33 PM
|
Comments (3)
September 20, 2005
Menghitung Waktu
Bbrp hari yang lalu..
"Kayaknya kita kurang memberi waktu buat Joel ya," demikian tutur Pampi.
Deg... hatiku tercekat.. seperti sebuah tamparan bagiku.
"Emangnya kita gimana," tanyaku, padahal sebenarnya aku tak perlu bertanya padanya, aku sudah tau kenyataannya.
Pagi hari dalam keadaan rusuh karena harus cepat-cepat... waktu yang diberikan buat Joel adalah... 15 menit (udah termasuk Saat Teduh dan maen2 bentar). Malam hari, sampai rumah paling cepat pk 18.30, maksimal 30 menit buat Joel (blum termasuk nemenin tidur)... Sungguh menyedihkan, waktu yang diberikan buat the dearest little one adalah: 45 menit!
Aku bertobat malam itu dari keegoisanku. Keesokan malamnya... begitu sampai rumah aku langsung ganti baju, makan malam sambil menemani Joel main di ruang keluarga, aku juga yang ngajak sikat gigi, lap badannya dan gantiin baju tidurnya. Aku mencoba untuk hadir buatnya, walaupun ia sibuk main sendiri, tapi ia harus tau, aku ada bersamanya.
Tak akan kuserahkan lagi kepada baby sitternya kecuali aku berhalangan. Joel udah 16 bulan sekarang, mungkin dalam satu kerjapan mata tau-tau Joel udah remaja... dan aku kehilangan the precious moment with him. Yang aku tau, waktu tak akan mengulang dirinya, sekali lewat.. lewatlah sudah.
Aku berdoa malam itu supaya Tuhan membuka jalan bagi kami, supaya kami bisa memberikan waktu lebih banyak lagi buat anak kami, supaya ia tau, papa mamanya selalu ada buat dia.
Posted by devi at
05:13 PM
|
Comments (1)
September 14, 2005
Suatu Sore di Sentul
Posted by devi at
04:30 PM
|
Comments (2)
July 26, 2005
Selamat Hari Anak Nasional
Jumat lalu, kantor saya mengadakan acara diskusi publik yang disiarkan oleh sebuah radio di Jakarta. Topik diskusi adalah "Hak Anak yang Hilang".
Nara sumbernya dari Komite Perlindungan Anak, Dokter Spesialis Anak, Direktur World Vision, dan juga ibu Andarini (Rino) yang juga aktivis hak anak.
Well.. ada yang menarik di sini. Bu Rino menyinggung tentang kekerasan domestik yang dilakukan pada anak. Bentakan, pukulan orang tua pada anak dikategorikan sebagai abuse. Anak kan juga punya hak, kita harus hargai, demikian kalau saya simpulkan, maksud perkataan dari Bu Rino.
Saya tidak setuju kalau orang tua tidak boleh mendidik anak dengan pukulan. Sadis? Mungkin terasa demikian, tetapi bacalah Amsal Salomo:
"Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya."; perhatikan penekanan yang saya berikan untuk kata "pada waktunya."
Tidak bijak menurut saya, untuk membiarkan anak yang masih muda untuk melakukan apa saja semaunya dan kemudian berusaha setengah mati untuk mengekang anak remajanya.
Kontrol seharusnya berbanding terbalik dengan usia sang anak. Makin besar, kontrol itu justru harus makin berkurang. Anak yang masih kecil, belum tahu apa yang baik baginya. Orang tua lah yang mengajarkan pada anak yang masih kecil ini, mendidiknya, bahkan menghajarnya, supaya dia selalu ingat didikan orang tuanya, sehingga ketika dia besar nanti, orang tua lah yang menuai hasilnya.
Untuk anak umur 0-8 tahun, semua yang orang tuanya katakan adalah 'kebenaran'. Setelah itu, pengaruh-pengaruh lain mulai masuk. Di saat ini, orang tua berperan sangat aktif membimbingnya, mengajarnya membedakan, memilah-milah informasi yang ia dapat.
Dari awal, anak harus tau batasan-batasan yang ditetapkan oleh orang tuanya. Kalau ia tidak pernah tau, adalah tidak adil untuk mendisplinnya. Anak akan merasa aman dengan batas2 yang telah ia ketahui. Orang tua pun harus konsisten menjalankannya, ayah dan ibu juga harus sepakat, supaya anak tidak bingung. Jangan sampai hari ini dia melanggar aturan dia tidak didisiplin, tetapi ketika dia mengulanginya dia tidak diberikan pendispilinan. Anak akan bingung.
Peringatan, penghilangan hak dan pukulan, adalah urutan pendispilinan yang dianjurkan. Saya menganjurkan para orang tua untuk memberikan pukulan sebagai bentuk pendisiplinan paling tinggi (bukan hukuman). Pukullah dia pada waktunya, ketika segala macam bentuk pendisplinan sudah tidak mempan lagi. Pukulan itu harus cukup sakit supaya ia ingat tetapi tidak boleh sampai melukainya. Yang terpenting, lakukanlah ini setelah emosi Anda reda. Lakukanlah karena kasih, karena cinta Anda pada anak, karena Anda tidak mau anak Anda menjadi anak yang tidak bisa diatur.
Tuhan sudah mengatur tempat terbaik untuk memukul anak. Pukul pantatnya.. lakukan di ruang tertutup supaya tidak mempermalukan dia. Harus cukup sakit untuk ia rasakan. Hal penting lainnya, jangan lukai hatinya. Ajak ia bicara dan peluk ia setelah pukulan ini. Jika anak Anda terluka hatinya dan berkata Anda jahat, Anda telah gagal. Bicara, komunikasi dengan anak, biarkan ia tahu orang tuanya mengasihinya tanpa syarat. Jika berhasil, anak akan selalu mengenang momen-momen ia dikasihi orang tuanya dalam bentuk hajaran dan akan ia pegang terus sampai ia dewasa.
Selamat Hari Anak Nasional, selamat ulang tahun Willi.
Posted by devi at
02:08 PM
|
Comments (1)
July 13, 2005
Tolooong
Ini bukan judul reality show di salah satu tv swasta, tapi ini beneran reality yang terjadi di rumah saya.
Penat menanti 2 1/2 jam, seakan pencobaan masih kurang... setibanya di rumah, sepucuk undangan merah tua menanti.
TIDAAAAAKKK!!!
Setelah penyiksaan di bulan Mei lalu... sekarang harus terulang lagi.. OH NO!!!!
Sabtu ini tanggal 16 Juli, tetangga saya kembali menggelar hajatan untuk cucu perempuannya yang kesekian. Tetangga saya ini namanya Wak Rat.. empat anaknya yang udah berkeluarga nebeng ama dia. Masing2 anak perempuannya membawa anak, baik dari suami-suami (ini ga salah ketik.. mereka udah married minimal 2x) yang dahulu maupun yang sekarang. Umur cucu-cucunya pun beragam. Dari yang masih bayi, sampai yang sudah cukup umur untuk menikah.
Saya tinggal di sini sejak tahun 2002, dan sudah mengalami 3x siksaan ini. Ini akan jadi siksaan ke-4 buat saya. Lihat peta ya buat membayangkan penyiksaan yang saya alami.... :) Sepertinya kali ini harus ngungsi, daripada mimpi dikejar Mang Toyib.
Posted by devi at
12:58 PM
|
Comments (0)
May 19, 2005
Just The Three of Us
Foto teranyar. Dijepret pake kameranya Nokia ... (ga inget.. maklum pinjeman, yang pasti hp-nya keren, flip, layarnya bisa diputer).
Posted by devi at
04:25 PM
|
Comments (2)
May 17, 2005
Hari Jadi Seorang Bondan - Kopdar Anak-anak Room
Sehari sebelum ulang tahun pertama anak saya, Joel, Bondan Winarno merayakan hari jadinya yang ke-55.
Istimewa, karena diadakan di Perpustakaan Nasional Salemba dan kami dari Jalansutra mendapat jatah tempat duduk 100 orang.
Istimewa, karena pada hari itu diluncurkan juga kumpulan cerpen BW. BW yang saya kenal adalah pengasuh dan penulis kolom Jalansutra di Kompas Cyber Media.
Sempat cemas di awal perjalanan, karena tidak tahu pasti jalan yang tidak macet menuju ke sana juga karena ada acara tunggu menunggu, akhirnya kami sampai juga dengan pasti dan selamat di Perpusnas Salemba. Dari Kuningan kami berangkat mengambil rute Landmark - Manggarai - Proklamasi - Salemba, thanks to Benny yang sudah ngasih tau rute yang ok. Perjalanan ternyata cuma makan waktu 30 menit, sehingga kekuatiran kami tidak dapat makan tidak perlu terjadi, mana enak sih denger pembacaan cerpen dengan perut keroncongan? Heheheehehe
Setelah parkir dengan mudahnya, kami berempat - Pampi, saya, Febi dan Euis dari Jalansutra - segera berjalan tergopoh-gopoh menuju auditorium yang biasanya digunakan juga untuk kawinan. Kami disambut oleh penyambut tamu yang wajahnya tak satu pun saya kenal. Buku BW berjudul Pada Sebuah Beranda seharga Rp 40.000 saya beli malam itu. Selain itu ada juga buku Puing, yang belum lama ini diluncurkan di QB - Plasa Semanggi.
Kesempatan baik karena bisa mendapatkan tanda tangan langsung dari pengarangnya. Tahu ini kesempatan langka, saya bawa juga buku Jalansutra yang sudah lama saya nantikan bisa ditandatangani oleh beliau. Wah... tumpukan buku yang ngantri untuk ditandatangani banyak banget, ga tau saya dapat giliran nomor berapa.
Ruang audi sudah setengah penuh. Saya melihat beberapa wajah yang saya kenal, mereka adalah teman-teman ngamar saya di Chatroom Yahoo Messenger - itu dulu, sekarang saya udah ga bisa chat pake Y!M :( sedih sedih. Sementara itu musik live melatarbelakangi kegiatan malam itu. FYI, para pemusik ini adalah dosen-dosen akademi musik di Surakarta. Keren ya!
Pampi dan saya yang kelaparan langsung ke bagian belakang (atau samping ya?). Di sana sudah rame ternyata. Mirip seperti kawinan, terhidang main course dan pondok-pondok/cemal cemil. Menu utama malam itu adalah nasi uduknya mbak Qumay Cinere - dia sempet ndredeg katanya gara-gara acara ini. Selain nasi uduk, ada pepes nasi peda, kerak telor dan es selendang mayang. Atas rekomendasi Arie van Cibubur (maklum dia Pak RT di kompleksnya), saya mencoba pepes nasi peda dulu. Wih... asli uenak banget, padahal saya ga doyan ikan asin lho, tapi pepes peda ini emang uenak banget.
Sebenernya udah kenyang, tapi kepengen juga nyobain uduq-nya mbak Maya (a.k.a Qumay). Nyomot ayam goreng satu + babat goreng... tambahin sambelnya yang khas.. mmm... sedap. Jeroannya empuk banget kata Pampi. Menurut bakul uduknya, jeroannya 30 kilo lho, kebayang ga berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk mengempukkan jeroan ini?
Habis itu saya nyobain es selendang mayangnya, ini pengalaman pertama, dan emang enak. Ga salah pilihan Pak Bondan. Ada juga tukang kerak telor yang stand-by dengan pikulan dan peralatan masak-masaknya, tapi saya udah kenyang dan not fond of kerak telor.
Malam itu saya bisa melihat wajah teman-teman ngamar yang lebih dikenal dengan id-nya. Begini contohnya:
Arie: "Dev, ini Mimin."
Me: "Mimin? Minni3d?"
Mimin: "Betul!"
Lucu ya, bagaimana dunia maya (bukan mbak Qumay lho ya) bisa mengubah cara pertemanan kita.
Jam 8.00 malam tepat, kami semua dipanggil masuk. Acara dibuka oleh BW sendiri selaku host. Kemudian ada persembahan doa dalam bentuk nyanyian dari keluarga Malaiholo yang merupakan keluarga 'angkat' BW. Dilanjutkan dengan persembahan dari beberapa orang top kenalan BW, salah duanya Retno Maruti, dan ibu Rose Wangi (cmiiw). Keroncong rocks!
Lalu, dimulailah pembacaan cerpen dari buku baru BW. Dimulai oleh Irvan Karta (yang mengingatkan saya pada Heidy Yunus) dengan "Abus" dilanjutkan dengan Pak Erry R. Hardjapamekas dari KPK, ditutup dengan "Santa" oleh sang penulis. Sedang BW membacakan Santa-nya, saya dan Febi ke belakang untuk pipis. Akhirnya kami berdua malah terjebak di sana, ngobrol dengan teman-teman yang lain. Tak lupa saya ngembat 2 bungkus pepes nasi peda untuk dibawa pulang.
Masuk lagi ke audi, selamatin BW, foto-foto, minta tanda tangan beliau, chit chat, pulang.
Perlu dicatat, penjual kerak telor didatangkan dari Blok S, penjual es selendang mayang dibajak dari depan Stasiun Beos, nasi pepes saya belum dapat info.
Terimakasih atas undangannya Pak, saya menikmati sekali acara ultah yang jauh dari hingar bingar ini. Begitu classy (tidak sama dengan mewah), memikat, kekeluargaan dan menyentuh. Terimakasih juga untuk keluarga JS yang telah menambahkan warna dalam hidup saya.
ps: foto2 ini courtessy of Parikesit Putra Kusumo.
Posted by devi at
10:49 AM
|
Comments (1)
May 12, 2005
Gaji vs Berkat
Belum lama ini saat bersiap-siap pulang, saya terlibat percakapan dengan salah seorang rekan kantor saya yang sudah senior.
Ngobrol macem-macem, akhirnya sampai juga ke masalah gaji, masalah penghargaan dari kantor. Saya sebagai orang baru (baru seminggu, lho) bingung juga bagaimana menanggapinya. Tetapi karena saya pikir ia cuma butuh curhat dan toh saya tidak bisa kasih solusi, ya, saya diam aja lah.
Jadi, di mana-mana pun karyawan di seluruh dunia, di LSM sekali pun, gaji tetap jadi 'masalah'. Saya masih ingat 6 tahun yang lalu saya bekerja dengan gaji sangat minim, 500.000. Setahun kemudian dengan gaji 900.000 saya bisa hidup sedikit lebih layak, apalagi ketika 6 bulan kemudian menjadi 1.100.000. Pertambahan gaji membuat gaya hidup juga berubah. Mulai beli baju yang agak mahalan, frekuensi bersenang-senang lebih tinggi, dsbg. Mungkin ada yang akan heran kalau saya bisa membeli sebuah hp second Ericcson T768 berwarna kuning ketika gaji saya masih 500.000, bahkan saya membeli kartu perdana XL - yang terkenal sebagai provider termahal saat itu.
Saat ini gaji saya sudah beberapa kali lipat dibanding angka 500.000 yang fenomenal itu. Gaji saya memang tidak besar secara nominal, ada hal lain yang tidak bisa dihitung secara nominal yang saya tau menjadi faktor terbesar dan terpenting yang harus dimiliki seseorang sehingga hidupnya 'content'. Itulah: berkat.
Siapakah orang yang diberkati? Ialah orang yang bersyukur atas apa yang ia terima dan percaya Tuhan tidak akan mencukupi kebutuhannya sesuai dengan kekayaanNya. Tuhan kita itu kaya.. sangat kaya, lebih dari apa yang bisa kita bayangkan.
Tentu masih ingat cerita 2 roti dan 5 ikan? Secara nominal, angka ini jauh dari cukup untuk memberi makan 5000 orang. Tetapi apa yang terjadi? 12 bakul tersisa dari pesta makan ini, terlalu banyak yang dari bisa dipikirkan.
Jika gaji 500.000 saya dulu pun Tuhan berkati, mungkinkah Tuhan mengurangi berkatNya ketika gaji saya sudah lebih banyak?
Semoga Tuhan memberkati Anda! :)
Posted by devi at
02:22 PM
|
Comments (1)
May 09, 2005
Mati Rasa
Tau kan istilah ini? Mati rasa biasanya terjadi kalo kita lagi kesemutan, ato lagi dalam pengaruh bius.
Hari Kamis yang lalu dalam suasana libur yang menyenangkan...
"Permisi, saya mau pasang tiang."
Pria-pria kasar didampingi seorang ibu tetangga rumah saya meminta ijin untuk memasang tiang di dalam pagar saya.
"Kawinannya kan masih hari Sabtu, Mbak?" tanya saya.
"Iya.. soalnya kami memburu waktu."
"Lalu mobil saya gimana?"
"Taroh di luar juga bisa... cuma beberapa hari ini," tukasnya tanpa mikir.
"Kalo ilang bagaimana?"
Sang koordinator keamanan yang tiba2 muncul juga tidak kalah unjuk diri, "Kalo ilang... nanti hansip-hansip saya pecatin semua." *Trus mobil saya gimana? red*
Saya diam aja dan akhirnya karena memang tidak ada pilihan lain... saya harus mengalah pada hasrat si ibu untuk mengawinkan anaknya dan ternyata mobil masih bisa masuk carport dengan agak bersusah payah dengan konsekuensi pagar tak dapat ditutup.. ya sudahlah...
Dalam satu tahun terakhir ini, gang saya yang cuma muat satu mobil ini sudah tiga kali menjadi saksi pernikahan keluarga ini. Saya sudah tau apa yang akan terjadi, gang diblokir, dan di mulut gang, di jalan besarnya... akan dipasang panggung segede gaban dan tidak ada mobil yang bisa keluar masuk lagi sejak saat itu. Juga... gang saya yg kecil dengan rumah berdesak-desakan akan dihujani oleh meteor dangdut semalam suntuk.. oh no.. :(
Sabtu pagi..
Hari ini rencananya mau ngubek-ngubek Mangga Dua, sekalian ngungsi dari keribetan perhelatan nikah tetangga saya itu. Bukan apa-apa.. saya udah tau kebiasaan mereka yang menaruh kursi sampai depan rumah saya dan menghalangi keluar masuk saya dan sampah-sampah yang dibuang seenaknya oleh tamu-tamu mereka bisa bikin saya senewen.. lebih baik mengungsi saja.
OH NO! Mulut gang sudah diblokir! Dan rumah saya terletak antara rumahnya dan mulut gang. Jadi terperangkaplah saya.. :(( hiks...
Ketika saya complain ke bendahara RT yang lewat, si bendahara ngomong dengan ringan: "Naik taxi aja, Dev." Taxi gundulmu? Huh... kesel kesel...
Sore-sore sound system sudah mulai disetel dan mengumandangkan lagu2 dangdut yang seronok. Tuhan... selamatkan saya.
Untunglah datang sang penyelamat, om saya membawa mobil teranyarnya dalam rangka pamer :p dan kami sekeluarga + papa + mama + adik2 saya.. segera melaju ke Mall Taman Anggrek.. lumayan mengenyahkan stress.
Pulangnya kami naik bajaj, 2 bajaj seharga 5000 perak tersewa oleh rombongan kami. Joel si baby boy umur satu tahun, langsung pulas dalam goyangan bajaj.
Ditingkah musik dangdut nan aduhai, saya menerobos para jogeders dan melangkah masuk ke dalam gang saya sambil menggendong si kecil yang sudah terbius total itu :)
Malam itu jadi mimpi buruk buat Pampi, karena dia tidak bisa tidur sampai musik berhenti, sekitar jam satu kurang seperempat. Juga jadi mimpi buruk buat adik saya Rita yang teriak-teriak di kamarnya yang terletak paling depan :) Saya sempat terbangun jam 1/2 1 dan sempat mendengar si penyanyi wanita mendesah-desah tak karuan...
Seakan belum cukup.....
Minggu pagi jam 8, saat saya terbangun dari malam nan melelahkan pikiran, yang pertama saya lakukan adalah mengecek mulut gang. Betul! Panggung gaban itu masih nangkring dengan enak di sana. Meja-meja catering juga masih terpajang tak tau diri di depan rumah tetangga saya itu.
Ketika si bendaha lewat lagi untuk menagih uang kebersihan/keamanan sejumlah Rp 18.000 (sampah diambil seminggu sekali, keamanan sih lumayan okelah)... saya tanyakan mengapa panggungnya belum dicopot.
"Mungkin orang yang bongkar belum datang, Dev."
"Lah? Ini kan hari Minggu, saya mau ke gereja."
"Yah....." That's all I got. Pengen marah.. pengen nangis.. pengen teriak. Untung baru kepengen. Akhirnya, saya mengalah lagi dengan cara naik bajaj, dan tidak membawa baby sitter, males amat naik bajaj bawa baby sitter :)
Ntah mengapa, saya amati sebagian penduduk Jakarta ini kok tidak merasa perlu mempertimbangkan kepentingan tetangganya ketika mengadakan perhelatan kawinan. Blokir jalan yang sedianya adalah fasilitas umum. Bahkan untuk kasus saya, rute mikrolet terpaksa dialihkan ke jalan lain.
Saya sih tidak heran-heran banget dengan budaya ini, toh apa yang dilakukan masyarakat kecil ini biasanya mencerminkan pemerintah dan aparatnya yang juga udah mati rasa tebal muka ketika melakukan pungli dan korupsi.
Yah begitulah suka duka hidup di sebuah gang kecil di 'hutan' Jakarta. Semoga di hari esok saya bisa diberikan rejeki lebih olehNya sehingga saya bisa tinggal di dalam lingkungan yang saling menghargai kepentingan orang lain.
Posted by devi at
04:48 PM
|
Comments (3)
April 27, 2005
About to Leave
Yep.. akhirnya bulat sudah keputusan saya buat ninggalin comfort zone.
2 Mei 2005, saya sudah berkantor di Wahid Hasyim. Begitulah hidup, selalu ada perubahan, dan jangan takut pada perubahan itu.
4 tahun di sini, dari Kemang pindah ke Kuningan dari Kuningan ke Buncit, semua udah saya jalani. 4 tahun lalu saya naek bus AC dari Kota ke Blok M nyambung bajaj atau kalo lagi ga ada duit ya naek Kopaja (dah lupa nomornya) meuruni jalan Bank-Prapanca, lumayan jauh ke dalam. Di sinilah masa-masa keemasan itu: untuk 8 orang staff, makanan melimpah, snack, kopi, minuman sachet, pizza, fried chicken dll... juga tidak ada yang rewel :) tidak ada yang jadi boss.
Lalu pindah ke Kuningan, mulai terasa tidak nyaman. Staff sudah bertambah mejadi 12, typist 40 orang, mulai ada yang jadi boss, macam2 peraturan....
Di Buncit akhirnya saya menyerah... saya sudah tidak merasa @ home lagi. Cuti tahunan yang dipotong ketika sedang istirahat melahirkan.. selain itu saya juga sudah jenuh, saya akan tetap jadi web designer seumur hidup saya kalau tetap di sini.. walaupun kerjanya tidak berat, tapi.. manusia butuh terus berkarya sehingga tidak kehilangan produktivitasnya.
Semoga di tempat baru, saya bisa mendapat pengalaman hidup yang berharga. Ketika saya tidak lagi dalam pekerjaan yang berorientasi profit.. semoga saya dapat pengalaman baru yang lebih membuka mata hati saya.
Ya... hopefuly.
Posted by devi at
12:30 PM
|
Comments (1)
April 07, 2005
Miss Complaint
Saya udah jadi mis komplen nih. Dari hari Senen-Rabu, kerja saya komplen2 mulu, ada tiga komplen yang sudah saya layangkan, bahkan kemaren saya tulis 2 email komplen.
Komplen #1
Buat Indosat, untuk produk Matrix-nya. Tepatnya 12 September 2004, saya mengajukan aplikasi untuk pindah ke Matrix 9 free abonemen, sekalian saya non-aktifkan GPRS saya, soalnya takut nanti kena charge mahal (nyesel sekarang, ngidupinnya rese banget prosedurnya).
GPRS saya non aktif tidak lama setelah hari itu. Tapi... sampai hari ini, saya tetap dikenai abonemen sebesar Rp 25.000, dan saya sudah call ke hotline mereka sebanyak 4 kali dan semuanya berjanji akan follow up, dan saya pake acara ngambek akan mem-blacklist dan akan unsubscribe. Ga mempan ternyata :D Akhirnya saya menyerah... kirim email aja, dan langsung ditanggapi dan menurut mereka sudah ditindaklanjuti.
Bener kata Pampi, orang2 yang bekerja dengan internet punya kecenderungan untuk gerak cepat.
Komplen #2
Carrefour... saya indikasi menjual produk elektronic yang tidak lolos QC a.k.a barang reject di program ZEPRO - bunga 0%-nya. Saya membeli TV 21" flatscreen merk Sharp di sana. Setelah dibawa pulang, -kami tidak mengetesnya di sana, karena sgt rame dan crowded- ternyata layarnya miring, terlihat jelas kalau ada teks berjalan atau ticker spt di MetroTV dan lagi ternyata tipenya tidak sesuai dengan yang ada di struk. Tiga hari kemudian kami balik lagi ke sana, diberi tahu, tipe itu memang sudah habis -kenapa juga kita ga dikasih tau- dan akhirnya kami diganti dengan yang "baru" (dengan segel Carrefour, bukan Sharp), kami tes sebentar dengan antena indoor, kayaknya oke2 aja.. dibawa pulang tanpa kardus -tidak diberi kardus baru, alasannya untuk retur ke Sharp harus pake kardus yang bagus- dicoba dengan kabelvision, begitu lagi.. cuma tidak semiring sebelumnya. Mungkin di sana tidak terlalu ketara karena adanya distorsi dari antena indoor.
Pampi pun kirim email ke CS Carrefour Puri Indah. Tidak ditanggapi juga.. Maka saya pun kirim ke Head Office... tidak ditanggapi juga.. entah apa maksudnya.
Komplen #3
Garda Oto. Mobil kami menggunakan asuransi dari Garda Oto. Sebenarnya saya no komplen dengan Garda. Masalah satu2nya dan ternyata cukup mengganggu adalah.. tidak disediakannya mobil pengganti selama mobil masuk bengkel. Terakhir si Vivi masuk bengkel 4 hari, duh bener2 repot. Ongkos taxi pp total 65rb per hari belum lagi ketidaknyamanan yang lain dan harus bayar own-risk 100 ribu per kasus pula, plus.. premi Garda termasuk kategori mahal dibanding asuransi lain, yang memberikan mobil pengganti. Belum ditanggapi sampai sekarang... saya lagi menunggu....
Posted by devi at
01:59 PM
|
Comments (0)
March 30, 2005
Madu yang Sendu : Indonesia Tanah Air (Beta)?
Napa ya... akhir-akhir ini susah banget mencintai negeri ini. Semua sudah terakumulasi dan mencapai titik jenuh.
Kemarin, pas engga ngantor, ada galian PAM di depan rumah.. setelah 2 bulan yang lalu mereka menggali dan tidak menimbunnya dengan aspal, mereka menggalinya kembali, katanya mau ganti pipa, rehabilitasi-lah gitu ceritanya.
Lalu ternyata karena PAM ganti pipa, mau ga mau ada alat yang harus ditambah supaya saya sebagai konsumen tetap mendapat pasokan air, dan ternyata, itu dibebankan kepada konsumen. Tidak mahal memang, cuma 6500 rupiah saja, tapi tetap saja saya heran kenapa saya yang harus repot kalo PAM ganti pipa? Apakah ini korupsi kecil2an yang mereka lakukan juga? Let's say 6500x20 rumah saja, udah 130.000
Blum lagi yang ditilep ama tukang yang harus dibujuk-bujuk dulu untuk mbeliin alat itu, blum lagi tip-nya. Blum lagi tukangnya yang tiga kali minta uang rokok sampai 'nekad' menyuruh our maid, untuk membangunkan tuan rumah. Nekad kan? Emberrrr... :)
Belum terlalu lama ini, ada petugas imigrasi yang ke rumah, sendirian. Ini contoh nekad satu lagi. Dia mendatangi adik saya yang lagi diurus passport-nya ama agen (550rb untuk 7 hari - keterlaluan); katanya kurang satu berkas, yaitu surat pengantar dari RT/RW. OMG! Keterlaluan yah... jelas banget dia itu madu dan sendu.
Masih teringat jelas juga, tiap bulan Agustus saya udah siap2 bete, karena bakal banyak yang datang minta sumbangan. Dari RW, dari RT, dan ntah dari mana lagi. Kalo ditolak marah... kalo ditanya berapa katanya serelanya... kalo saya ga rela gimana???
Teringat juga pas diberhentiin polisi karena menurut dia saya salah. Saya masih ingat betapa sendunya wajahnya.

Yang paling susah dilupakan waktu mbikin SIM. Oalah.... Dari jam 9 pagi - jam 4 sore... saya mengikuti prosedur dari awal - ruang ujian. Pertama, bayar biaya administrasi sebesar 50ribu something. Bayar tes kesehatan, bayar asuransi. Lalu ngambil nomor buat test. Di sini dimulai kesenduan dan kemaduan itu! Saya ambil nomor dan mau pergi.. trus dia bilang gini: 'Sepuluh ribu.' Pdhal di atas kepalanya ada tulisan: 'Hindari Calo' Jelas! Karena kalo kita pakai calo, pendapatan mereka akan berkurang.

Setelah mengambil nomor, mau ga mau saya harus berkompromi, memberikan 200rb supaya bisa lulus. Berkaca dari pengalaman teman kantor saya yang tadinya tidak sudi bayar2 begini, yakin pasti bisa lulus... harus mengulang 4 kali ujian teori, sampai akhirnya dia menyerah, dan bayar polisi supaya lolos. Sudah rahasia umum, tidak bayar... ya tidak lulus.

Ujian teori selesai, ujian praktek. Setelah dinyatakan lulus, difoto. Di sini harus bayar 10rb lagi. Setelah itu menunggu SIM jadi, bayar 10rb lagi untuk mengambil. Kedengarannya prosesnya gampang ya. Jangan salah, saya harus bolak-balik turun naik tangga, karena ketidakprofesionalan para staf SATPAS dalam mengelola pembuatan SIM. Bayangkan, setelah saya selesai ujian praktek dan dinyatakan lulus (sudah pasti lulus kalo mbayar), ternyata data saya tidak ke-entry! Kesel? Banget....
Mungkin karena saya tidak melakukan proses pencaloan by polisi dari pintu masuk, sehingga mereka sudah menominasikan saya sebagai peserta gugur.. sehingga data saya tidak di-entry. KEBANGETAN!
Saya ingat juga waktu bikin KTP di kelurahan. Tinggal stempel doang... saya dimintain duit. Saya bilang.. saya engga bawa... diketawain saya... Katanya, ke kelurahan kok ga bawa duit. Terpaksa saya pulang dulu dan mengambil dompet.
Juga kasus kenaikan harga BBM dan mobil saya yang masih juga ngelitik padahal sudah dikasih Pertamax Plus.
Saya ga tahan dengan ketamakan yang ada di bangsa ini. Semua merasa begitu miskin sehingga harus 'memeras'. Tamak, serakah, iri hati, sudah jadi penyakit bangsa ini. Sendu dan madu juga melanda aparat pemerintah sampai ke sendi-sendi terkecilnya.
Duh, semoga ini tidak jadi bitterness. Semoga saya masih bisa mencintai bangsa ini, karena makanan Indonesia masih yang paling ok buat saya. Oh? Hanya karena makanan? KETERLALUAN :)
Posted by devi at
11:28 AM
|
Comments (3)
March 24, 2005
Hadiah
Besok Good Friday.
Mengapa disebut Good Friday? Saya google sebentar... *tunggu yah* got it...
Dari Wikipedia:
Good dalam Modern English berarti holy.
Setelah hingar bingar Natal yang mulai melenceng dari makna kelahiran sang Kristus itu sendiri... Paskah adalah momen yang biasanya dirayakan dalam kesederhanaan, dalam perenungan, paling tidak buat saya pribadi.
Jika saja, Yesus dalam tubuh manusianya, malam itu di Getsemani..... batal menyerahkan diriNya untuk disesah?. hidup saya tidak akan punya arti, hidup saya tidak akan punya jaminan. Saya akan berusaha berbuat baik, berderma, menghindari kejahatan, terus begitu sampai saya kelelahan sendiri, sambil berharap, kebaikan saya ini dicatat oleh Yang Maha Kuasa dan bisa membuat account kebaikan saya surplus, yaahhh paling tidak balance-lah, jangan sampe defisit. Begitu?
Ah, kalau begitu saya tidak akan pernah bisa membalance-kan account saya. Saya ini orang yang temperamental, tidak sabaran? sepanjang hidup saya, saya akan lebih banyak berbuat hal-hal negatifnya, dibanding orang yang terlahir dengan karakter penyabar atau lemah lembut. Jadi apakah sifat temperamental itu salah? Kalau begitu alangkah kasihannya orang-orang yang punya kecenderungan cepat naik darah seperti saya? Alangkah tidak adilnya????
Mempercayai karya penyelamatan Yesus Kristus dan beriman di dalamnya, sounds silly bagi sebagian orang di jaman ini. Kata mereka: ?Hare gennee??? :)
Hanya ada dua kemungkinan,
Dia adalah Pembohong Besar ketika Dia berkata:
?Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada orang yang dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku??.
atau .............
Dialah Kebenaran itu
Yesus.. terima kasih
Karya cintaMu bagiku
Menebusku dari kesia-siaan
Memberikan arti dalam hidupku
Bukan karena aku baik,
atau karena aku pantas mendapatkannya atas semua jerih lelahku
Tetapi hanya oleh kebaikanMu semata, karena anugerahMu
Kau berikan sebagai hadiah
untuk orang-orang yang mau menerimanya
Aku, tidak pernah tidak punya alasan untuk bersyukur, karena hidupku yang sekarang adalah hadiah semata.
Paskah tahun lalu, cari yang tanggal 11 yah.
Met Paskah, met merenungkan kebaikan Tuhan.
Posted by devi at
03:50 PM
|
Comments (0)
Nice Advice
Nice advice di website-nya Joel tentang career advice buat fresh-grad Computer Science.... good one!
Posted by pampi at
10:49 AM
|
Comments (0)
March 09, 2005
Jakarta Punya Cerita

Been lately trapped? Liat aja gambar di samping ini. Beginilah namanya ibu kota yang metropolitan ituhPengguna jalan tentu tidak asing dengan istilah -pamer paha padat merayap tanpa harapan- atau yang baru-baru ini dipopulerkan oleh salah satu penyiar SK, -pamer dada padat merayap dadah-dadahan-.
Pagi ini....... untuk kesekian kalinya, spion kanan si Vivi ditabrak dengan kezam oleh pengemudi motor yang tak bertanggung jawab. Kali ini aku marah banget.. karena ini orang udah nyelip ngebut lagi... ga ngerti apa kalo jalanan sempit?
Langsung aku buka kaca, ta' marahin karena ga kuat nahan kesel:
'MAS! LIAT2 DONG! BARET NIH' dicuekin lagi.......uuuuuuuuuuuhhhhhhhh kesel!
Spion kanan kiri udah ga ada yg mulus, semua udah terluka lebih dari 2 kali dan semua penyebabnya adalah motor!!!
Pelanggar tata tertib lalu lintas tertinggi (setelah angkutan kota) bisa dipastikan adalah pengendara motor. Nyuekin traffic-lamp, masuk jalur cepat, ngelawan arah, baretin spion-ku... :) itu cuma sedikit yang bisa kuingat.
Bagaimana cara mendidik bangsa ini yah? Bagaimana agar bangsa ini ngerti yang namanya toleransi? Kata pak guru yang ngajar PMP dulu, salah satu sifat orang Indonesia adalah toleransi, musyawarah mufakat, en so on. MANA?
Perhatiin ga, jumlah motor di Jakarta ini udah OVER. Bisa dilihat dari 3-digit huruf di belakang angka pada plat nomor kendaraan, i.e: B 1234 XYZ.
Semua pasti pengen punya kendaraan sendiri, aku maklum..... kalo bisa beli mobil, pasti semua juga pengen punya mobil. WHY???!!!! Karena transportasi kita tuh parah banget, kayak ga ada yg ngurusin aja.
Smoga mimpiku ttg Jakarta bebas macet, bebas kekacauan, rapih, tertib... bisa terwujud suatu hari dalam acara ........... MIMPI KALI YEEE??? *kidding*
Posted by devi at
06:03 PM
|
Comments (1)
Comfort Zone
Hari-hari ini aku lagi mencari peluang untuk bisa mendapatkan suasana baru setelah nyaris 4 tahun kerja di kantor sini.
Antara pengen kerja dari rumah.. sama pengen cari kantor baru yang smart building, smart dress, dll........ begitu kepengenannya.
Udah ada dua organisasi yang menawari kerjaan, 2-2nya non-profit, salah satunya sudah masuk tahap serius.
Tapi....... muncul lagi keraguan besar karena sulit mengalahkan daging ini yang sudah begitu nyaman dalam COMFORT ZONE ini. Coba baca baik-baik cerita di bawah:
Jam kantor officially 09.30 - 18.00. Prakteknya, kita sah-sah aja telat ampe sejam... kalo dateng jam 09.30, banyak yg blom pada nongol, tapi emang jarang yang teng-go, biasanya jam 18.30-an baru pada cabut, ga ada strict absent control di sini.
Makan siang disediain, sudah termasuk buah.
Internet bebas pake sampe bosen sendiri, mau email2an, chat dengan Instant Messenger, mau ngapain aja, asal kerjaan selesai tepat waktu dan hasil memuaskan... ga ada yang akan mengusik kamu.
Boss bule rada rese tapi bisa dikonfrontasi, orang bule sangat bersedia dikritik.
Gaji cukup memuaskan, ga tinggi-tinggi banget, ga kurang-kurang banget.. it's ok-lah.
Baju bebas, mo pake celana pendek or sandal jepit, ga ada yg ngelarang.
Tempat kerja berlokasi di sebuah rumah besar dengan kebun luas yang ada pohon kelapa, pohon jambu, dll dan kolam renang.
Ada supermarket deket kantor, jadi bisa belanja2 dulu.
Searah dengan kantor Pampi, abis dari Sentra Mulia, Kuningan langsung meluncur ke Warung Buncit, pulangnya vice versa dan ini melawan arus, jadi ga macet2 banged.
---the end of the story----------
Gimana ini ga jadi my comfort zone? Bosen sih emang, tapi nanti di tempat baru gimana? Udah 4 tahun hidup merdeka, tiba2 harus dikurung dengan sejuta peraturan.. oh no.... Gimana yah?
Hal yang aku kurang suka dari kantor ini adalah jam pulangnya saja, yg jam 6 sore. Sampe rumah seringnya udah kemaleman... ga sempet maen ama Joel.. tapi ini pun sudah diantisipasi ama kantor sehingga saat ini aku berkantor cuma dari Rabu-Jumat dengan status part time.
Sanggupkah aku menukar comfort zone-ku? Pls comment....
Posted by devi at
05:35 PM
|
Comments (1)
March 07, 2005
It's Not About you
Hmmm.. a sentence that ping my mind about the purpose of my life....
All began with our discovery of the (most) famous books right now -- maybe after Rich Dad Poor Dad -- The Purpose Driven Life by Rick Waren, displayed on the front etalase of one book store in Taman Anggrek Mall.
Yes, it's not about me, so what?
"The Purpose of your life is more greater than your own personal fulfillment", because it start with God.
"For by him all things were created: things in heaven and on earth, visible and invisible, whether thrones or powers or rulers or authorities; all things were created by him and for him."
because it is how the life begin.
To be a successful person and to fulfill my purpose of life are two different things...
So, the devotion for today... am I pursuing God's purpose, or mine?
Posted by pampi at
01:58 PM
|
Comments (0)
March 03, 2005
Nungguin
Pampi lagi training RedHat di Bajau, Tebet. Dari Senin-Kamis, Jumat ujian sertifikasi.
Udah 2 malam ini saya nungguin dia ampe malem. Semalem ampe jam 7, hari ini ampe jam segini.. blom selesai juga. Mmmm... betapa berdedikasinya sang instruktur, sampe bela2in ngajar ampe malem, padahal pesertanya cuma 5 orang. Bayangin, dari jam 9 pagi sampe jam 1/2 9 malem.. blom kelar juga. :) Ruaaarrr biasa... pasti pake Fa**go* Spi**t - hayoooo ato pake K**ti*g D*eng.
Tauk deh.
Pdhal niatan ikut training biar ga bete di kantor, eh... malah lebih bete lagi sekarang.. masa jam segini blom di rumah :(( uuuuuuuuuuhhhhhhhh
Yang ga enaknya nunggu di kantor sini, kantornya Indodata.. kalo jam segini udah sepiiiiii.... sekarang tinggal me & Ipul yang dengan sukarela nemenin, habis kalo sendiri rasanya ga nyaman dan ga enak.
Dan lagi kalo dah jam 8 malem, line internet kantor dipake buat extract file yang besar2 dari Paris ato kalo engga buat nge-sync databasenya. Jadi udah internetnya super-lambreta, ga ada temen ngobrol, ga ada gawean... ngeblog aja deh.. :)
Posted by devi at
08:41 PM
|
Comments (1)
February 18, 2005
Hidup Hanya Sekali
Things came to my mind these days. Bener ya, semakin bertambah usia, semakin besar tanggung jawab yang kita harus emban.
Saat ini hidup saya berputar di antara hal-hal ini:
- my family (hubby & little Joel)
- ngurus rumah - makan apa hari ini, rumah udah bersih blom, tagihan listrik dah beres? (tagihan PAM, telepon -- diurus oleh Pampi), gaji para staff
- kantor (yang makin lama terasa makin membosankan, hampir 4 tahun)
Saya lagi berpikir nih.. hidup itu cuma sekali (I don't believe in reincarnation), kalo cuma sekali, berarti tidak ada lagi kesempatan memperbaikinya nanti ketika kita tutup usia. Cuma sekali ini saja...
Apa yang mau saya raih dalam hidup ini? Uang banyak? Karier yang cemerlang? Hidup bersenang-senang? Entahlah...
Sebelum punya anak, saya bercita-cita mengejar karier saya sebagai pendidik full time untuk generasi baru yang Tuhan titipkan ke saya. Lalu, ketika anak itu hadir dalam hidup saya, saya menemukan bahwa saya jenuh berada di rumah saja. Saya seperti kehilangan fokus. Lalu saya kembali ke kantor, bahkan saya mencari-cari lowongan di tempat lain. Apa yang saya cari? Gaji besar - untuk apa? Kegiatan - sebegitunyakah? Aktualisasi diri - mungkin ini lebih tepat?
Semalam ketika memandang wajah kecil anak saya, ada yang berkecamuk di pikiran. Inikah yang kamu cari? Rasanya bukan ini, ingin saya menjerit. Tapi saya belum bisa menang dari diri saya sendiri, saya begitu egois.
Hidup ini hanya sekali... tak kan terulang lagi. Masa anak-anak itu juga hanya sekali, tidak mungkin seorang remaja bisa kembali ke masa kanak-kanaknya lagi. Saya hari ini terpekur membaca:
akhirnya, pendapat saya (don't take this as an advice) adalah: kalau
anaknya masih di bawah umur 6 tahun dan disupport oleh keluarga dan
tidak terpaksa pergi kerja, lebih baik ibu di rumah. Kalao "terpaksa"
kerja (banyak lho yang terpaksa beneran, karena faktor finansial),
maka sebaiknya jam kerja per hari dibuat seminim mungkin dan jarak
kantor-rumah dipilih yang sedekat mungkin. jangan sering-sering dinas
ke luar kota.
Telak sekali Jo.. :)
Saya harus bertanya lagi jadinya... saya ini "terpaksa" ga bekerjanya? Benarkah faktor finansial yang membuat saya bekerja? Apakah ketika seorang perempuan menikah.. dia harus mengubur semua mimpinya? Ketika seorang perempuan mempunyai anak, haruskah dikesampingkan semua cita-citanya? Saya ingin tau jawaban dari semua ini... tentu saja semua orang punya preference sendiri. Tapi hidup saya ini hanya sekali.... sekali ini saja.. dan tak akan kembali lagi.
Posted by devi at
03:44 PM
|
Comments (2)
February 03, 2005
[Media Watch] Shark Tale
Akhirnya saya sempet juga nonton film animasi satu ini. Udah penasaran cukup lama soalnya, untung dapet pinjaman DVD dari sepupu kecilku, Novi.
Lucu memang.. ada ikan hiu jenis Great White Shark (karnivora) yang ga makan daging. Lenny si hiu aneh ini, membuat gemas ayahnya Don Lino, bos mafia, karena tingkah lakunya yang tidak lazim buat se'orang' hiu. Lenny lemah lembut dan tidak sangar, beda dengan kakaknya Frankie.
Suatu ketika Frankie terbunuh dalam suatu kecelakaan, Lenny segera melarikan diri, karena ia tahu, ayahnya akan memaksa dia untuk menggantikan Frankie. Lenny.. lalu bersahabat dengan Oscar, ikan kecil yang bekerja di Whale Wash milik Sykes. Semua mengira Oscar lah yang membunuh Frankie, sehingga Oscar yang tadinya bukan siapa-siapa mendadak jadi seleb.
Lenny kemudian bekerja juga di tempat Sykes dengan menyamar jadi lumba-lumba sehingga tidak ada yang tau bahwa dia sebenarnya adalah hiu.
Akhir dari cerita ini.. Don Lino akhirnya dapat menerima bahwa anaknya Lenny.. adalah pribadi yang berbeda. Lenny kemudian kerja di salon.
What is the moral of the story?
Masih ingat dengan cerita saya ttg pihak Hollywood yang tampaknya berusaha sangat keras mengubah image kita ttg homoseks? Sepertinya film ini juga termasuk dalam kampanye mereka.
See, Lenny itu jati dirinya adalah hiu pemangsa, bukan hiu vegetarian. Follow this link to learn about Great White Shark. Saya ga tau kalo ada GW yang vegetarian.. tapi sepertinya tidak mungkin.. karena kalau GW menjadi vegetarian, dia akan tergusur oleh seleksi alam, rantai makanan juga pasti jadi kacau.
Jadi, Don Lino-lah yang harus menerima Lenny apa adanya. Don Lino-lah yang harus mengerti dan memahami bawa Lenny itu 'beda', Lenny tidak akan menjadi seperti kodratnya ketika dilahirkan, Lenny tidak akan jadi mafia.. sebaliknya, Lenny akan kerja di salon, bukannya jadi mafia yang garang.
Ok, I think I understand what is the moral of the story.
Posted by devi at
12:55 PM
|
Comments (5)
February 02, 2005
Kata-kata Menyebalkan
Tadi dengerin Female 100.2 FM sambil menikmati suasana pagi Jakarta.. pagi lho.. biasanya jam 9 blom nyampe kantor, ini jam 7 sudah di Pejompongan. Hari ini topiknya tentang kata-kata menyebalkan.
"Kata-kata apa yang kamu paling sebel kalo ada orang ngomong begitu?"
Well... tadi ada macem-macem jawabannya. Ada yang jawab begini,
"Eh elu umur berapa sih kok belom married?"; kalo udah married, "Kok belom punya anak?" Wehhh!!!!
atau
"To, elu kantor lo enak ga, gajinya berapa?" :D *so annoying deh!*
"Anak lo kok kurus sih..."
Ngomong-ngomong soal 'anak lo kok kurus' .... ini saya alami sendiri. Kadang-kadang saya pengen tau deh, yang ngomong itu ngerti ga ya, kalo kata-katanya itu mengganggu banget. Memang harusnya cuek aja ama kata-kata tidak membangun seperti ini, as long as anaknya sehat-sehat aja, tapi kadang-kadang keintimidasi juga.
Hari Minggu yang lalu, di sekolah minggu, saya bermaksud menjemput Joel, my 9-month-old baby. Seperti biasa, rombongan baby sitter, maids, dan mak-mak udah ada di dalam. Eh, blom apa-apa udah disapa:
'Dev! Joel kecil banget sih! Minum susunya kedikitan lho kalo cuma 3 kali'
Oala........................... so intriguing. Pengen marah tapi kita tidak boleh mendowngrade diri kita, kita harus tetap tampil anggun kan? :) kekekekeeke
Herannya yang ngomong ini kayaknya ga sadar kalo anaknya juga ga 'gede' kayak Willi :)
Saya bener-bener terganggu dan terintimidasi dengan kata-kata ibu ini. Sampe saya liatin terus my baby Joel, sekurus itukah dirimu, Nak? Pas hari itu Joel berberat 7,9 kilo.. habis sakit, biasanya memang turun berat badannya.
'Minum susunya cuma 3 kali? Malem ga minum lagi? Kuat tuh? Anak gua aja (umur 1 1/2 tahun) masih minum susu saban jam 2 pagi.'
Waks?! Justru itu yang kita hindari, Bu..... Anak kita harus belajar tidur sepanjang malam.... dia bangun tiap jam 2 pagi, karena dibiasain... weleh weleh. Tapi saya jawab begini:
'Lho!? Di kelas parenting kan diajarin untuk meniadakan susu malam sejak bayi umur 2 bulanan? Jadi dia bisa bobo sepanjang malam. Bukankan kita ingin punya anak yang menyenangkan dan tidak merepotkan kita?'
Kedengarannya kejam ya? Engga kok... saya betul-betul menikmati ketika anak saya, di akhir bulan ke-2, sudah bobo sepanjang malam. Tidak ada lagi susu malam, kecuali kasus-kasus tertentu, spt pas di Salatiga yang dingin, bawaannya laper terus.
Jadi ngelantur ke mana-mana.... Intinya sih gini.. tiap orang punya cara sendiri. Seperti saya dan Pampi yang punya cara dan metode sendiri dalam membesarkan anak kami, tiap keluarga punya style yang berbeda.. so hargailah.
Pampi sibuk membesarkan hati saya yang terintimidasi berat dengan kata-kata si ibu tadi. Saya juga udah bolak-balik baca bbrp buku referensi soal berat badan anak. Engga kok, Joel masih dalam range normal. Tidak lebih, tidak kurang. He's ok kok. Sekarang pelan-pelan berat badannya juga udah naik lagi walaupun minum susu masih agak susah :)
Yah.. moga-moga saya juga ga ikut-ikutan ngomong kata-kata nan menyebalkan ke orang lain.
Posted by devi at
08:46 AM
|
Comments (1)
February 01, 2005
Manusia Pembelajar
Manusia mustinya gak pernah berhenti belajar, kata seorang Andrias Harefa (semoga bener spell-nya). Hmm... bener juga... Sekarang musti banyak-banyak membaca, banyak-banyak nulis supaya terus mengalir ide2 baru... yg membuat hidup lebih berwarna...
Today after meeting dengan management, ternyata ada opportunity buat support Linux Worldwide di office... I'll give it a shoot! Or kesempatan lain adalah champion buat produk security tapi lingkupnya MEA... hmm.. ini second option ;)
Let's learn and re-learn!
Posted by pampi at
01:20 PM
|
Comments (1)
January 27, 2005
Whoaaaa
Akhirnya selesai juga me-merge-kan blog yang lama yang blom pake MT ama yang ini. Uuuhh.. lega.. cuma sayang mindahin comment-nya blom sempet, agak ribet...
Posted by devi at
02:37 PM
|
Comments (0)
January 20, 2005
Kekerasan Terhadap Pria
Merasa aneh dengan judul ini?
Bukankan kekerasan biasanya dilakukan terhadap perempuan? Iya, selama ini saya pikir juga begitu.
Dalam banyak hal, kita sering mendengar bahwa perempuan adalah korban. Sengaja saya pilih kata perempuan, karena saya tahu pasti, kaum feminis lebih suka disebut perempuan dari pada wanita.
Saat ini saya sedang membaca buku Bringing Up Boys tulisan Dr James Dobson, Jr. Dokter Dobson adalah seorang pakar dalam masalah keluarga dan dia mendirikan sebuah organisasi yang mengkhususkan diri melayani keluarga-keluarga: Focus on the Family.
Saya tersentak membaca buku ini dan seperti orang yang baru dicelikkan matanya. Belum tamat pun saya membacanya saya sudah menangkap apa yang Dr Dobson ingin sampaikan: red alert untuk kaum pria.
Dewasa ini, kaum feminis berusaha keras memperjuangkan hak para perempuan agar ada persamaan antara pria dan perempuan. Harus diakui perjuangan mereka berhasil, setidaknya banyak pemikiran-pemikiran mereka yang telah mempengaruhi saya sebagai seorang perempuan.
Saya menyelesaikan tiga tahun masa sekolah menengah atas saya di sebuah sekolah khusus perempuan. Kami diajar bahwa kami sederajat mampu dan tidak kalah dibandingkan anak laki-laki. Tidak berarti sekolah saya salah, justru saya banyak diajarkan tentang self-esteem, kebanggaan saya ?walaupun? saya perempuan, namun saya bisa membawa diri saya sejajar dengan pria; di Indonesia, terutama di pelosok-pelosok, penghargaan terhadap kaum hawa ini memang masih kurang.
Situasi dan kondisi membuat saya merasa harus unjuk gigi, walaupun akhirnya kebablasan, saya mulai meremehkan laki-laki. Saya merasa lebih jago, karena apa yang mereka lakukan? saya juga bisa. Merakit steker listrik, merakit komputer, kebut-kebutan naik motor, saya juga bisa. Dan saya juga bisa mengungguli mereka dalam hal akademis. Saya juga bisa melakukan pekerjaan perempuan, jadi jelas saya lebih unggul dari pada para pria.
Dr Dobson mengungkapkan kebenaran ini, kaum pria sedang bingung dengan identitasnya. Di Amerika Serikat, kaum feminis berusaha sangat keras menyamakan kedudukan kaum perempuan dengan lawan jenisnya. Mereka menuntut toko mainan yang memisahkan antara mainan anak laki laki dan anak perempuan. Mereka menuntut kaum pria untuk buang air kecil seperti perempuan (duduk), mereka membuat seorang anak laki laki berumur 6 tahun dikeluarkan dari sekolahnya karena mencium dahi teman perempuannya, karena itu dianggap pelecehan. Ini memang belum terjadi di Indonesia, tapi mungkin akan terjadi tidak lama lagi di Jakarta.
Saya setuju, hak yang sama perlu diberikan kepada setiap jenis kelamin dalam berprestasi. Tapi saya tidak setuju jika ini jadinya dilebih-lebihkan, dibesar-besarkan, dibuat-buat supaya ada. Laki-laki memang beda dengan perempuan, laki-laki didesain beda dengan perempuan, sehingga seharusnya tidaklah aneh jika minat mereka pun beda.
Hollywood pun tak mau kalah. Dr Dobson mencatat, film-film drama Hollywood sering kali menampilkan pria sebagai sosok yang lemah, agak feminin; sementara kaum perempuannya tampil sebagai sosok yang tangguh, pekerja keras dan unggul disbanding kaum prianya. Ambillah film Runaway Bride, di mana Julia Roberts mewakili sosok tangguh ini, bekas montir, tukang ledeng, spesialis AC sementara Richard Gere adalah pria menyedihkan yang kikuk dan sering melakukan kebodohan-kebodohan yang biasanya bisa ditangani oleh Julia Roberts, misal mobil mogok. Apa yang hendak mereka tampilkan? Bahwa pria itu bodoh? I think so.
Pengistimewaan anak perempuan bisa jadi berdampak serius terhadap anak laki-laki. Saya bisa bilang anak perempuan diistimewakan, karena banyak institusi takut disebut melakukan diskriminasi. Atau mereka merasa menjadi pahlawan karena telah membuat pengistimewaan ini. Jika pria mengatakan hal buruk tentang perempuan, dia menghadapi resiko dituntut, tapi jika perempuan menjelek-jelekkan laki-laki, dia hebat. Perusahaan pembuat kartu ucapan, Hallmark, American Greeting, membuat kartu yang melecehkan kaum pria. Bacalah ini: ?Pria adalah sampah? Maafkan saya, untuk sesaat saya bermurah hati?. Tidak ada yang keberatan jika seorang perempuan mengenakan pakaian dengan tulisan: Girl Rules.. tapi jika yang terjadi sebaliknya, pria dianggap telah menghina kaum perempuan.
Kathleen Parker, seorang kolumnis, menulis: ?Pada masa kini anak laki-laki tumbuh dalam lingkungan yang tidak ramah. Mereka dipaksa bersikap tegar, tidak boleh menangis, harus jadi gentleman. Sementara di sekolah mereka harus menerima bahwa mereka kurang istimewa dibandingkan dengan anak perempuan. Kerancuan terjadi. Sebuah yayasan mengeluarkan uang 9 juta dollar untuk menarik perhatian anak perempuan pada science, tapi mereka tidak membuat program yang seimbang untuk anak laki-laki. Apakah anak laki-laki kurang istimewa dibandingkan anak perempuan? Inilah hasil perjuangan kaum feminis radikal, memang kaum perempuan telah membuktikan keunggulannya, tetapi ada efek negatif yang kurang terperhatikan? anak laki-laki dan pria dewasa yang bingung. Ketika salah satu jenis kelamin lebih disukai, berarti ada jenis kelamin yang kurang disukai, tebak siapakah mereka?
Saya tidak pernah pusing dengan hal ini sampai saya punya anak. Anak saya laki-laki 8 bulan, dan saya bersyukur karena anak pertama saya adalah laki-laki. Jika anak pertama saya perempuan mungkin saya akan membesarkannya secara tidak adil dan mungkin akan terjadi diskriminasi pada adik laki-lakinya nanti.
Dalam bimbingan pra nikah saya memang telah menerima kebenaran bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda secara fungsi tapi sama secara status dan hak. Saya telah belajar menundukkan diri pada suami saya, saya juga telah menerima bahwa Tuhan menetapkan pria sebagai pemimpin, pria ditunjuk, diberikan mandat untuk memimpin dan perempuan diberikan kepekaan, kelemahlembutan untuk mendampingi sebagai partner sejajar dalam berbagai hal. Pria butuh perempuan sama seperti perempuan butuh pria. Inilah kebenaran itu, tidak ada jenis kelamin yang lebih unggul. Saya memang telah mengerti hal ini, yang saya tidak mengerti dan baru saya mengerti adalah, ternyata pria telah terluka, telah mengalami kekerasan. Identitasnya sedang dikacaukan oleh media, oleh lingkungan. Pria tidak mungkin bisa berfungsi dengan baik jika tidak mengerti siapa dirinya. Bahkan saya berani katakan, akar permasalahan dari apa yang terjadi saat ini, kriminalitas, kebobrokan moral, disebabkan oleh pria-pria yang tidak mengerti fungsinya, pria-pria yang bingung.
Saya seorang ibu yang memiliki seorang anak laki-laki, punya tugas mengajarkan anak saya bersikap seperti pria, melindunginya dari hujatan media, mengatakan padanya setiap hari, bahwa dia adalah pribadi yang berharga, yang diciptakan unik oleh Tuhan, dan bahwa dia, sama istimewanya dengan anak perempuan mana pun.
Posted by devi at
11:22 AM
|
Comments (1)
December 03, 2004
Privilege
Tau ga ttg privilege-nya being a mom? Yg pasti jadi punya penggemar cilik yg lucu.
My baby Joel baru aja ulbul ke-7, bukan ultah lho.. tapi ulbul. Mendekati usia 7 bulan.. ada satu tambahan kecerdasan yg dikasih Tuhan ke dia, dia tau yg mana mommy-nya. Lagi asik2 main ama daddy-nya.. trus mommy-nya masuk.. dia langsung pasang wajah siap2 nangis heehehehe.. bukan nangis takut.. tapi nangis kolokan minta digendong.. weehhh
Tadinya kirain kebetulan aja.. tapi dah dicoba bbrp kali di hari2 berikutnya... tetep aja gitu nah.. itulah yang bikin saya bahagiaaaaa sekali menjadi ibu.
Karena itu juga.. saya rela mulai bulan ini ga kerja full lagi. Saya cuma akan kerja 3 hari seminggu. Jadi bisa lebih banyak waktu ke Joel. Tau ga yg namanya guilty feeling meninggalkan baby di rumah dengan orang lain.. saya mengalaminya.. dan.. saya bertekad dedikasikan waktu lebih lagi untuk dia.
Our baby... waktu kita ga akan lama bersama mereka.. Menjadi ibu, jadi orang tua, adalah privilege. Kedekatan kita dengan anak.. paling lama berlangsung sampai 18 tahun saja atau mungkin lebih singkat.. setelah itu mereka akan sibuk dengan dunia mereka sendiri, setelah itu mereka meninggalkan kita
Apalagi, saya lagi baca buku Bringing Up Boys by Dr James Dobson... anak laki2 suatu hari akan menarik diri dari ibunya.. krn dia mencari jati diri prianya. Dan si ibu harus rela menyerahkannya pada si ayah.. harus rela.. rela :)
Happy wiken all!
Posted by devi at
05:00 PM
|
Comments (0)
December 01, 2004
Entry Yang Hilang
Saya pengen tanya.. harusnya webhosting itu memback-up datanya daily, weekly or monthly?
Saya baru aja ngalamin kehilangan entry karena server hosting crash.. dan ternyata mereka memback-up datanya mingguan.. trus.. password dan user id FTP pun berubah.. tanpa pemberitahuan dan the worst news is, admin satu2nya cuti.. Waks? The single fighter SysAdmin boleh cuti ya? Saya baru tau... Bukannya kudu ada pengganti?
Yah nasib.. hilang entry di bulan November. Pdhal di bulan itu ada 2 moment, libur lebaran tanpa Pampi... :) dan cerita Pampi di Inggris.. sayang yaa...
Tau gitu kita back-up sendiri databasenya.
Udah masuk Desember lagi ya... Dah pengen cepet2 Natal nih...
Posted by devi at
01:43 PM
|
Comments (0)
September 27, 2004
Cerita Hari Ini
Cerita Polisi
Pagi pagi, 'weker kecil'ku sudah berbunyi. Tak kan ada yang bisa menolak bayi yang terjaga dari tidurnya :)
Seperti hari2 kerja biasa, Pampi & I berangkat lewat rute yang udah biasa juga. Tanjung Duren - jembatan Tanjung Duren - Slipi - putaran sebelum Tomang - S Parman - Pejompongan - Casablanca - Kuningan.
Belum terlalu jauh dari rumah, baru sampai puteran Tomang, seorang polisi sepertinya ingin menghentikan mobil kami. Karena tidak merasa salah, dan polisinya juga kayaknya ragu2 (ga niat gitu) kami jalan terus. Tapi di depan ada temennya, tangannya melambai2, menyuruh kami untuk berhenti.
Ya udah... kita ngalah deh.. berenti...
Si bapak ini memberi kode kepada temannya untuk mengurus kami, sambil tanya2..
'Mau ke mana, Pak?'
'Mau ke kantor.'
'Kantornya di mana?'
'Sudirman'
Rupanya teman si polisi ga mau ngurus kami. Trus polisi ini rada keder.. binun gitu.. trus tangannya kasih kode untuk jalan lagi.
BINGUNG KAN?!
Maunya apa yaaaa... Mungkin dia udah gajian kali ya? Hehehehe
Cerita Etika di Kantor
Sebenernya boleh ga sih kita menjalankan bisnis pribadi kita di kantor dengan menggunakan fasilitas kantor?
Ini bener2 nanya lho. Hatiku berkata, kayaknya something wrong with that. Tapi emang kalo kantornya ga keberatan, ga pa pa kali ya?
Tapi hatiku kok masih keberatan. Hmmm...
Posted by devi at
02:30 PM
|
Comments (0)
September 16, 2004
Aku Dapat Surat
Selasa malam... pulang kantor.. di dalam kamar
Ada surat di meja, beramplop putih dengan tulisan tangan yang rasanya tak asing di atasnya..
Di belakang amplop tertulis: CMN Taman Surya xxxxxxxxx
'Taman Surya? CMN? eh.. itu kan rumahnya Willie'
Napa ya aku dapat surat dari CMN? Apakah ini raport my hubby? :D
Eh.. isinya ternyata manis sekali... Sebuah surat yang telah bersusah payah ditulis oleh my lovely Pampie. Bukan kebiasaannya menulis surat apalagi dengan tulisan tangan.. jangan harap.. Tapi ini ada surat yang manis dari Pampie.
Jadi gini lho, sodara2, Pampie ini ikut pemuridan Pria Sejati dari bulan Agustus. Pemuridan berlangsung sampe bulan Oktober 2004. Ada sesi breakthrough yang disebut dengan Men's Camp, berbentuk retreat, menginap sekitar 2 malam. Di sana hanya ada pria, pria dan pria. Di sana mereka belajar untuk hidup terbuka, mengakui dosa2 mereka di hadapan teman2 pria lain sebagai saksi. Ajaibnya, *dari cerita pampi nih* pria2 ini seakan2 lupa dengan gengsinya, berani hidup terbuka, dan mereka menamai diri Kelompok Pria Berani Malu, karena perubahan bukanlah perubahan sampai perubahan terjadi.
Nah, 6 September lalu, materinya adalah One Dollar Tip, sesi yang dibawakan oleh wanita, ttg bgmana menghargai istri. Sepertinya bapak2 ini disuruh menulis surat untuk istrinya yang isinya pujian, ucapan terima kasih, bahwa lebih dari semua berkat yang Tuhan udah beri.... sang istri adalah hadiah terindah yang Tuhan pernah beri........... *hiks... mengharukan ya*
I just want to say our marriage seems more beautiful since the camp. I just want to say, it's not hard to please your wife's heart. Love her, touch her, kiss her, say something nice to her and she will love you more.
*Makasih ya CMN*
Posted by devi at
12:44 PM
|
Comments (2)
September 14, 2004
Long Weekend Ini
Well.. long weekend yang panjang (namanya juga long)
Hari Sabtu dimulai dengan acara bangun siang (jam 8.00) :D
Hehehehee.. sejak ada Jo?l, bangun di atas jam 7 = bangun siang. Karena bangun kesiangan, Jo?l ga jalan2 pagi. Jadwal rutinnya si kecil begitu bangun, mimik cucu - Saat Teduh (doa pagi dan dibacain Firman ama papa 1 perikop) - makan bubur/biskuit/buah - jalan2 pagi - mandi, dst.
Lucu ya, bayi itu mengerti kalo dibacain Firman. Kalo lagi dibacain gitu, dia diam dan menatap papanya dengan pandangan penuh konsentrasi :) heheheehe.. lucu banget, soalnya dari umur 4 hari gitu udah dibacain ayat, dan biasanya dia kelihatan menyimak gitu :))
Hari Sabtu Jo?l ga keluar sama sekali, keliatannya sedih deh dia...
Hari Minggu, dari jam 10-jam 19.00 Jo?l ga di rumah. Ibadah, reuni temen2 kampusnya Papa (TInf UKDW), ke Indosat Direct en Hero di Sarinah. Capek..
Ada catatan ttg reuni anak2 TInf UKDW... Mereka ga tau aku dari Binus dan ada tuh sekelebatan yang bilang: 'Binus itu menang nama doang, UKDW ga kalah kok' :( Apa bener gitu ya? Yah.. ga fair juga sih penilaian itu, tapi salahku sendiri menjadi domba di tengah serigala UKDW yaaaa :D
Hari Senin, jalan2 di WTC Mangga Dua ama the Frankys (Frank, Yuyun, Fredella en their maid). Lama juga dari jam 10-jam4.. cuapeeekkkkk...
Di WTC Jo?l protes keras ketika dikasih susu botol, nangis kenceng banget. Menolak keras.. tangannya menampik terus si botol.. ampe bingung... Trus dia mogok makan, ga mau mimik sama sekali. Pdhal aku tau kalo dia pasti laper, wong udah telat 2 jam dari jadwalnya. Kesian ngeliatnya, mana ga ada nursery room lagi. Pls dong, kalo bikin gedung, sisihkan satu ruangan buat nursery room, kayak di Carrefour Puri Indah, bagus lagi ruangnya.
Ternyata Jo?l maunya mimik ASI sama mamanya. Dia heran kali ya, kan ada mama, kok aku ga dikasih ASI? Kok kasihnya susu formula? Soalnya pas disusuin di mobil dia langsung minum dengan lahap.
How did I feel? Sedih... sedih banget... Pengennya Jo?l bisa ASI eksklusif, tapi situasi kantor2 di sini belum memungkinkan untuk bawa bayi. Semoga suatu hari ada peraturan yang mengatur kantor2 mesti punya daycare, so ibu2 bisa bener2 kasih ASI eksklusif ampe 6 bulan. Moga2 ya...
Pas berangkat kantor sedih lagi.. Jo?l ga mau liat mukaku, udah dipanggil2 ga mau menatap.. Sedih yaaaa... susah deh hati ini rasanya. :((
Posted by devi at
01:41 PM
|
Comments (0)
September 02, 2004
Udah September Lagi
Setahun yang lalu di bulan ini.........
timbul kecurigaan karena ada yang harusanya secara periodikal terjadi, tidak terjadi :)
Setelah membeli testpack, kecurigaan pun terbukti. Hahaha..
Tidak berlama-lama, kami berdua rusuh ke dokter kandungan dan.. ya.. emang positif.. hehehehe.. here came the blessing.
Aku mau ganti design lagi. Tapi ada kesulitan pada my PC membaca USB driveku. Sepertinya masalah driver USB 2.0 yang kayaknya blom keinstall. Mungkin si Asus P4B533-x bingung ama nih USB drive. Kadang kebaca, kadang engga. Kalo ada yang ngerti.. tolongin yaaaaa...
Posted by devi at
04:06 PM
|
Comments (1)
August 18, 2004
For My Dear Hubby
Hunny, aku cuma mau bilang
aku bangga....
aku sayang...
sebuah hubungan perlu ujian supaya tampak keindahan sinarnya
Hunny, terima kasih buat kejujurannya
kesalahanmu tidak akan membuat kamu tampak lemah
kegagalanmu tidak akan membuat kamu tampak buruk
kejatuhanmu tidak akan membuat nilaimu berkurang
bagiku kamu terlalu berharga...

we will live happy as ever
special thanks to CMNI
Posted by devi at
02:03 PM
|
Comments (1)
August 11, 2004
Hari Ke-3
Udah hari aku masuk kerja. Di kepala ini yang terbayang hanya wajah Jo?l. Senyumnya yang menggoda. Matanya yang bening.
Mmmm.. kangen nih... Pengen melukin, pengen ciumin, pengen gendongin...
*A Mom's heartbeat*
Posted by devi at
02:44 PM
|
Comments (0)
August 04, 2004
Saya Lagi Lelah
Kenapa ya kadang2 orang laen terlihat lebih bahagia?
Waktu saya baca blog orang lain di internet atau kalau saya baca di majalah atau kalau saya lihat temen2 saya?. kayaknya saya jadi iri.
14 Juni 2003. Saya berjanji menjadi istri yang setia, tunduk dan melayani kamu dalam suka maupun duka, sehat ataupun sakit, kaya ataupun miskin dan dalam keadaan apapun juga, sampai Bapa memanggil saya kembali.
Hari itu saya mengucapkan janji setia saya di hadapan Tuhan dan Gembala Pernikahan. Hari itu yang saya ingat adalah kebahagiaan, karena saya sudah dipersatukan dengan orang yang saya cintai.
04 Agustus 2004. Saya masih hidup dalam janji itu, karena Bapa belum memanggil saya kembali. Saya mengingatkan diri saya untuk tetap menjaga komitmen itu, walaupun berat dan susah rasanya untuk dijalani. Begitu mudah waktu mengucapkannya? begitu sulit untuk dijalani.
Ketika saya harus hidup dalam janji ini, saya tidak punya pilihan lain, selain meminta Dia yang akan memanggil saya kembali kelak untuk memberikan saya kekuatan karena hari ini saya merasa lelah? lelah sekali.
Well, kamu pasti akan berkata bahwa saya hidup di dunia marbel. Kamu juga tidak akan suka karena merasa dibanding2kan. Iya, orang lain pasti juga punya masalah sendiri, belum tentu mereka sebahagia kelihatannya.
Tetapi saya lagi lelah?
Posted by devi at
04:44 PM
|
Comments (2)
July 26, 2004
19/07 - 23/07 2004
Joel First Flight!
Hari Senin, 19 Juli 2004, kami bertiga (Joel, his dad and his mom) berangkat ke Bangka dalam rangka menengok opa oma.
Rada waswas juga bawa bayi umur 2 1/2 bulan naik pesawat, soalnya ada pro dan kontra soal bayi semuda ini naik pesawat.. tetapi dengan modal PD aja.. kita tetep pada rencana.
Begitu naik pesawat.. kulirik wajah si kecil.. hepi2 aja tuh.... *Btw.. waktu dalam perut dia udah 3 kali naik pesawat, Denpasar-Jakarta en Jakarta-KL-Jakarta*
Nah.. begitu pesawat mau take off, langsung jurus rahasia dikeluarkan yaitu: disusui. Karena dia emang lagi laper, langsung disambut dengan excited. Begitu juga pas landing.. and Thanks God, dia ga rewel sama sekali tuh di jalan, bobo terus malah.
Joel happy sekali di Bangka. Rumahnya besar, udaranya segar, dan dikelilingi oleh orang2 yang sayang ama dia. Kebanjiran cinta deh... :p
Oh ya.. kami berdua juga sudah MENANG.. karena Joel udah bisa bobo malam lebih awal, sekitar jam 9/9.30 malem. Dulu.. dia bisa jam 1 pagi baru bobo, bener2 bayi yang hobby bergadang. Tinggal satu masalah besar lagi, bagaimana menidurkan dia tanpa harus digendong. Kita lagi berjuang juga :D Bener lho ga tega dengerin anak kita nangis, apalagi Joel kalo nangis kaya kesakitan banget gitu... Tapi aku percaya sih, pelan2 pasti bisa.
In Memoriam: Edward Manusiwa
Bukan, dia bukan orang terkenal, bukan selebriti. Tapi dia masuk koran tanggal 21 Juli kemaren, terutama koran Jawa Tengah, pasti memuat berita ttg dirinya.
Dia adalah guru bahasa Indonesia dan Geografi-ku waktu SMP. Dia juga adalah suami salah seorang teman baikku, Yuni Indriani.
Pak Edward, begitu aku memanggilnya dulu, adalah orang yang sangat kukagumi waktu itu. Dia banyak membuka wawasan kami sebagai seorang guru muda yang masih fresh lulus dari IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Dia punya banyak koleksi buku yang ok, dari dia aku mengenal Gibran.
Kisah cinta mantan guru dan mantan murid ini terjadi setelah bertahun2 Ed & Yuni menjadi alumni SMP St. Yosef. Tentangan orang tua, akhirnya dapat mereka atasi dengan bersatunya mereka dalam bahtera rumah tangga. Mereka juga telah dikarunia Fabian yang saat ini berumur 5 bulan.
Yuni dan aku dekat lagi setelah terpisah lebih dari sepuluh tahun, karena kehadiran bayi kami. Kami sering SMS-SMS-an, mom's talk.
Sampai akhirnya 21 Juli 2004, ketika aku masih di Bangka, Edward dipanggil pulang ke rumah Bapa, melalui tabrakan mobil Panthernya dengan KA Senjata Utama Semarang. Suatu kenekadan yang berakibat fatal.
Terkejut.. karena kita tidak pernah menduga. Tragis.. karena Yuni tidak bekerja dan Bian masih terlalu kecil dan cara meninggalnya yang tidak 'enak'.
Sampai hari ini.. aku belum berani SMS or call Yuni, aku tidak tahu harus berkata apa. Di misa requiem-nya.. katanya, Yuni sama sekali tidak menangis.
Aku hanya bisa berdoa, Tuhan kuatkan sahabatku, bukakan jalan baginya.
Posted by devi at
12:57 PM
|
Comments (0)
July 16, 2004
Aku Hanya Ingin Merasa Berarti
Pagi menyibak hari
Menggugah lenaku jadi jaga
Kucoba sentuh pagi, agar dapat kurengkuh
Lalulah gulana, bisikku
Aku tak dapat menyimpanmu lebih lama
Aku memandang dia
Yang masih memeluk lenanya
Terbuai di alam mimpi
Aku menangguk sepi
Sambil membelai halus pipi anakku
Asaku pun harus padam
Tersiram dingin yang bernama realita
Dingin menusuk tulangku
Aku bertanya dalam hati,
Apakah aku ini berarti baginya?
Adakah yang bisa menjadi petunjuk cinta?
Bukankah keinginan untuk selalu menyenangkan kekasih kita?
Kembali realita menegur,
Mimpi tidak harus jadi kenyataan
Lebih baik berpijak pada tanah
Sehingga tidak pernah timbul nyeri di hati
Aku mengeluh,
Aku hanya ingin merasa berarti baginya..............
*for my chosenlight*
Posted by devi at
01:09 PM
|
Comments (0)
July 15, 2004
I'm a mom now
Ga berasa udah 2 1/2 bulan berlalu dari kelahiran si kecil tercinta, Joel Christophe Adiwijaya. Kurang lebih 1/2 bulan lagi.. aku kembali ngantor.
Sedang ada pergumulan dalam diri, melepas status karyawan dan alih profesi jadi full time mom atau engga.
Hidupku sekarang punya 2 sisi, seperti mata uang. Di satu sisi... aku pengen kasih yang terbaik untuk Joel. Di sisi lain... udah kebayang bosennya kayak apa karena di rumah terus. Ga mudah menjalani transisi ini. Sebagai orang yang ga suka rutinitas, aku benar2 fight dengan egoku.
Sabtu kemaren, 10 Juli, aku ikut kelas parenting for batita. Ada kata2 yang mengusik hati, yaitu: You are a mom, not a single anymore.
So.. kalau jd jadi mom berarti sekarang udah ga cuma jadi wife lagi, tapi juga jadi parent, jd mom.. dan emang ada harga yang harus dibayar.
Kadang aku ingin mengeluh, ingin nangis, ingin teriak, karena kebebasanku telah terenggut. Pengen bisa jalan2 di mall, cari baju karena baju2 dulu udah pada ga muat dan udah jelek, dan udah 10 bulan lebih aku ga beli baju selain baju hamil. Mau ngeblog juga ga bisa, karena dia bisa nangis sewaktu2.
Tapi semua rasa ini sirna begitu melihat senyumnya, juga rasa cape karena hrs kasih ASI tiap 3 jam juga lenyap begitu lihat wajah puasnya.
Juga mengucap syukur pada Tuhan... karena aku tahu karena kasihNya lah, kami berdua (aku dan Joel) bisa melewati proses kelahiran dengan tidak kurang suatu apa pun, setelah mengalami kasus yang cukup bikin panik. Kasus itu bernama pre-eklampsia. Mendadak tensiku naik menjadi 160/100 di bulan ke-9, sehingga dokter memutuskan harus dihentikan kehamilannya dengan operasi Cesar (SC), pdhal waktu itu Pampi sedang di Malaysia. Bbrp waktu yang lalu seorang temanku harus kehilangan bayinya karena kasus yang sama denganku, bahkan ia sempat masuk ICU, bahkan tekanan darahnya mencapai 200, bahkan sampai hari ini matanya masih rabun dan telinganya belum berfungsi dengan baik. Suatu hari nanti aku akan cerita proses kelahiran yang menakjubkan ini.
I'm a mom now. Aku bisikkan kata sehingga telingaku bisa mendengarnya. I'm a mom.. a mom shouldn't live for herself, a mom should live for her family.
I'm a mom now, Joel's mom.
Posted by devi at
04:24 PM
|
Comments (1)
June 15, 2004
Hidup Lagi...
Maaf... bukan saya sombong, bukan saya ga mau ngeblog.. Satu stengah bulan saya ga ngeblog...karena ada kerjaan laen yang sangat membutuhkan dedikasi penuh :)
Buat yang ga tau.. I want to say.. 'Congratulation' for my self. I have a little baby Joel now. Saya juga baru aja ngerayain anniversary pertama pernikahan kami. Hidup ini berasa kumplit dah....
Satu stengah bulan juga ga ngantor. Rasanya emang agak isolated dari dunia luar. Selama masa karantina, hidup saya benar2 berubah total. Jadwal terobrak abrik oleh rengekan si kecil.
Ga ada lagi bangun siang.. ga ada lagi tidur seenak gue.. ga ada lagi jalan2 di mall ampe kaki gempor. Nonton Bajaj Bajuri pun baru bisa kalo ada waktu.
Pertama2.. rasanya emang nelangsa.. menderita banget. Cuape.. bangun tiap kali dia nangis, ganti popok, menyusui (ASI is the best!) wuaaahhh rasanya ga ada abisnya.
He is 1 1/2 month old now. Udah lucu dan suka ngoceh. Dia punya tangisan yang super kuenceng, dan biasanya tangisnya cuma bisa diasosiasikan dengan satu hal: LAPAR :D
Sementara baru bisa nulis itu doang.. Bakal ngeblog kalo ada waktu lagi...

Posted by devi at
05:40 PM
|
Comments (0)
May 20, 2004
Last day??
Akhirnya... hari kamis pun datang... rasanya lamaa banget yach di sini... pertama-tama sih exiting, tp kalau dirasa-rasa kok rasanya gak terlalu kerasan yach...
Bos sini sih udah dikit2 ngasih tanda kalau ada posisi di sini... tapi aku kaya'nya blon tertarik... atau aku gantiin yg di rohas perkasa aja? :p
April 22, 2004
Blessing in Disguise
Kemaren Jakarta macet total.. katanya :D
Kemaren Jakarta kebanjiran.. termasuk rumah saya.. pdhal.. ujannya ga lama2 amat dan ga kenceng2 amat, ada yang lebih lama dan lebih kenceng dari itu.
Tapi air kok bisa masuk 10 centi ke rumah ya? Pdhal daerah Tanjung Duren Selatan history banjirnya cukup clear.. plg genangan air aja.
Kemaren kita kerja bakti membersihkan rumah dari air yang bisa jadi sumber penyakit.
Dalam hati terucap syukur... karena hari ini saya dan Pampi ga ngantor. Kebayang kan kalo kita berdua juga hrs 'trapped' dalam kemacetan?
Semalam.. rumah kami ketamuan 2 orang yang terjebak banjir. Yang satu mahasiswa binus yang udah stuck di Grogol ampe 5 jam.. satu lagi seorang working-mom yang baru punya baby 3 bulan, yang harus berangkat jam 11 malam dari kantornya di Thamrin.
Bener2 berasa blessing in disguise. Kalo kita ke kantor kemaren.. kita juga ga tau nyampe jam berapa ke rumah. Mengingat rute yang menakutkan: Tanah Abang or Pejompongan.. yang kesemuanya adalah deadlock.
Semalem kita ke Om Dokter. 16.45 berangkat dari rumah.. dengan harapan bisa dapet no.1, ga taunya.. perjalanan yang biasanya cuma 10 menit itu harus dilalui dalam waktu 1 jam! Tapi masih dapet no.2 :) karena banyak pasien yang ga bisa dateng.
Sekarang kontrolnya udah mingguan.. seminggu sekali, karena usia kehamilan udah 37 minggu. Normalnya orang akan melahirkan dalam minggu ke 38-42.
Dede beratnya udah 3 kg! Waaahhh... jangan terlalu gede ya, De.. ntar susah lho lahirnya...
Posted by devi at
01:39 AM
|
Comments (2)
April 19, 2004
Jari yang Terluka
Masih inget cerita telunjuk saya yang luka? Saya pengen cerita ttg luka ini. Posisi luka adalah di ujung kiri my point finger. Saya udah ga inget gimana awal mulanya luka ini bisa terjadi.
Kalo ga salah bermula dari sebuah benda lucu yang mirip mata ikan di ujung telunjuk kanan saya.. tapi warnanya merah, ga sakit sih.. cuma sebel aja ngelihatnya, sangat menggangu estetika.
Jadi suatu hari, saya putusin untuk memecahkan si benda lucu ini. Eh.. keluar darah yang banyak dan ga berhenti ngalir. Langsung panik deh.. cari betadine en plester. Sejak saat itu, si luka ga mau nutup lagi. Harus selalu dalam keadaan berplester.. dan juga sakit, kesentuh dikit, langsung keluar darah, yang menetes..tes.. tes.. tes.. ga mau berhenti sendiri kecuali ditutup plester.
Tadinya saya cuekin aza, sambil berharap luka ini akan segera sembuh sendiri.. tubuh kita kan tau gimana cara menyembuhkan diri.. ya toh???
Lalu.. stlh mulai si luka mulai suka beraksi.. *sakit lho buat ngetik* berdarah sesuka hati.. ga di kantor, ga di mall, ga di rumah pagi2 buta.. karena tersinggung sedikit ajaaaa...
dan puncaknya adalah hari Jumat kemaren, tgl 16 April 2004, terjadi sesuatu yang sangat memalukan, di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, di sebuah ATM.. pas lagi enak2 mencet tuts di dalam.. tiba2 darah udah memancar... dan berteberan di mana2 termasuk di lantai ATM :( ukkkhhh... dan ga mau berenti kali ini, pdhal dalam keadaan diplester, mungkin kurang kenceng...
I had to apologize to the them who're queueing .. maaf ya.. tangan saya berdarah...
Terpaksa.. ditemani suami saya cari toilet terdekat... *ga ada tissue ekstra, ga ada sapu tangan* darah udah terpercik ke baju dan tas saya yang berwana putih bersih.. What should I do, negh? :((
Kesel juga dengan insiden ini dan rasanya ga bisa dibiarin lama2. Kayaknya mesti ke dokter deh, kesian juga ngeliat si jari yang kadang2 warnanya udah pucet...
Ya udah, Sabtu pagi.. sekalian senam hamil, pergilah saya ke UGD RS PIK. Eh sama orang UGD disuruh ke poliklinik aja, nemuin dokter bedah. EH?! BEDAH? serem amattttt..... Tapi kan pengen cepet terbebas dari 'si duri dalam daging' ini? Ya udah.. daftarlah ke dokter bedah, dapet nomor 2.
"Udah berapa lama?"
"Hampir sebulan, dok. Saya pikir bisa sembuh sendiri."
Saya membuka plester buluk yang melingkari telunjuk saya.
'Hmm.. sepertinya dikasih albothyl aja bisa ini. Kita coba ya'
Dokter menekan2 luka itu.. dan seperti biasa.. dia berulah lagi.. tes..tes.. menetes di lantai ruang praktek.
"Lukanya sering berdenyut gitu lho, dok."
Dokter mengamati luka itu.
'Wah.. ga bisa nih.. Harus dioperasi, dijahit. Soalnya lukanya pas di arteri, aliran darahnya kan bagus sekali di situ, makanya luka ga bisa nutup.'
"Ah??!!@@###$$$ Oohh??? Operasi? Sekarang?"
'Ya, sekarang.'
OMG! Operasi? Dijahit? Tadi sempet lihat sih ada pembuluh darah kecil kayak cacing berdenyut2 di luka itu. Saya mengalami granulasi kata dokter. Granulanya harus dibuang, karena kena arteri harus dijahit. Kalau ga kena arteri sih bisa dimatiin aja pake albothyl.
Saya diserahkan ke ruang operasi. Rasa takut tiba2 menyeruak... Saya itu.. blom pernah yang namanya opname apalagi operasi. Emang operasi kecil sih.. tapi kan tetep aja menakutkan.
Udah ganti baju operasi, saya berbaring di meja operasi. Dokter dibantu oleh 2 asistennya. Jari saya dibaluri betadine ampe penuh. Terus disuntik bius di jari itu, 2 shoots.
'Agak sakit, tahan ya.'
Upsssss.. sakit buangggeetttttt. Saya ga berani lihat kejadian berikutnya. Yang saya tau dokter lagi asik maenan gunting. Untung tuh jari dibius, kalo engga sakitnya kayak apa ya?
'Sakit ga, mbak?' tanya suster yang ada di situ.
"Engga kok.. saya lagi diapain nih?"
'Mending ga usah lihat deh, Mbak.'
Menit berlalu. Udah hampir selesai kata dokter, saya intip jari saya. Ada benang2 hitam yang membungkus rapat luka itu. Duh.. saya bersyukur sekali dengan penemuan obat bius, kalau tidak...
Setelah selesai semua-semuanya.. dokter berpesan untuk datang minggu depan, buka jahitan. Telunjuk kanan saya dibalut penuh ama perban dan diplester rapat2, ga boleh kena air. Saya dikasih antibiotik yang aman untuk ibu hamil. Saya ga dikasih obat pereda rasa sakit karena saya lagi hamil, takut ngefek ke janin. Katanya ntar kalo pengaruh obat bius ilang... bisa sakit bisa engga. Kalo udah ga tahan sakitnya ya minum Panadol biru aja.. ok deh, dok!
Sorenya.. rasa sakit menyerang.. nyeri banget gitu. Jari sebelahnya pun ikut2an sakit. Tapi saya harus tahan sakitnya.. karena saya bertekad untuk ga minum obat pereda sakit.
Sampai hari ini... jari ini masih terbalut perban. Saya mengetik tanpa telunjuk kanan, mengoptimalkan jari tengah untuk mengetik dan mouse clicking.. aneh rasanya. Semoga Sabtu cepat datang!
Posted by devi at
02:13 PM
|
Comments (2)
April 02, 2004
Lempar Batu Sembunyi Tangan
Kesel nihhh.............
Udah beberapa bulan ini saya sering diganggu oleh penelepon misterius yang tidak berani menampilkan jati dirinya.
Saya paling benci dengan tipe-tipe seperti ini. Menelepon ke HP saya, bersembunyi di balik teknologi
caller-id yang bisa disembunyikan (pasti dari IM3) dan habis diangkat, telponnya dimatikan. Kesel ga sih??!!!!!!
Apalagi kalo lagi sibuk2nya konsentrasi ama sesuatu dan harus diperlakukan seperti itu. Ugghhhh.. teknologi satu ini emang sering disalahgunakan.
Jadi orang jangan pengecut dong.. berani nelpon ya berani bilang dirimu siapa.
Dan beraninya jangan misscall doang!
Posted by devi at
03:42 PM
|
Comments (2)
March 29, 2004
Latah [AFI2]
Mmmm....
Di mana2 lagi demam talent search. Dimulai dari PopStar-nya TransTV, lalu muncul Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Trus bentar lagi RCTI juga mau nayangin Indonesian Idol yang bakal segera tayang dalam waktu dekat.
Di sela2 PopStars dan AFI, RCTI sempat menghadirkan American Idol di Sabtu sore.
Karena saya suka musik dan demen denger orang nyanyi bagus, saya mo kasih kredit bagus buat PopStar. Juri2nya emang jutek apalagi yang namanya mbak Imaniar.. kekekeekeke.. jadi inget Simon Cowell si Brit.
Waktu masih ada PopStar, saya, suami en adik2 setia sekali nungguin Senen malem buat nonton PopStar.. seru acaranya, dan for me, ini konsep baru.
Waktu itu kan blom ada AFI or American Idol.
AFI
Lalu setelah ada AFI.. duh.. kehilangan nafsu buat nonton, apalagi setelah ngeliat betapa tidak obyektifnya pemilihan AFI ini. Yang memilih 100% penonton lewat SMS2-nya. Dan kalo boleh saya bilang.. kualitas AFI pertama ini bener2 under my expectation. Apalagi abis nonton PopStar, yang pemenang2nya tuh dari sononya udah bisa nyanyi. Dah ngerti konsep bagi suara, tau en nyadar kalo dia lagi fals.
Tanpa bermaksud menghina, ini bener2 kritik aja, AFI itu sukses karena kecanggihan marketing Indosiar. Untuk ini kita emang kudu kasih jempol. Indoktrinasi yang luar biasa dengan kerapnya ditayangin kegiatan para akademia [DIARY] di luar konser hari Sabtu.
Kalo mau fair... [kebetulan saya tau nyanyi dikit2, tau musik dikit2] siapa sih bener2 yang bisa nyanyi di AFI 1? Bisa diitung ama satu tangan aja. Mereka2 ini mungkin pas audisi PopStar, lolos pun engga.
Mana bisa qualified kalo nyanyi masih ga cucok ama kunci lagunya. Uh... telinga saya kadang2 terganggu berat kalo denger para akademia nyanyi bareng dan ada yang mencoba improve dan hasilnya jadi tambah kacau.
*gue aja stress apalagi pelatihnya Mbak Bertha*
Setelah lebih dari sebulan diajarin nyanyi.. masih jauh dari memuaskan juga, mbok ya sadar gitu lho. Mungkin emang ga bakat nyanyi?
Yang parah lagi sebenernya sistem pemilihan by sms dibuka bukan setelah semua orang perform. Saya masih inget banget, pada satu serinya, baru satu atau dua orang nyanyi.. tapi polling sms udah dibuka dari awal en yang blom nyanyi waktu itu (ga usah disebutin namanya) udah dapet pemilih terbanyak. Itu kan ga mungkin banget, gimana kita bisa menilai sesuatu yang blom ada?
*questioning questioning and wondering*
Ga mendidik banget kan jadinya?
Parahnya juga lagi.... masyarakat kita itu blom bisa obyektif. Kita masih menilai bukan dari kemampuan dia bernyanyi, tapi karena kita lebih melihat ke kehidupan pribadi orang itu. Misalnya, 'Kesian ah ama dia, pilih dia deh'
Pdhal............. (isi sendiri).
Gimana ya perasaan juri2 yang notabene penyanyi dan ngerti nyanyi model Trie Utami gitu? Terganggu ga ya hati nuraninya? Eh, sebenernya mereka juga bukan jadi juri, ding.. tepatnya komentator, karena kata2 dari para juri tuh ga dianggep sama sekali.. penonton yang menentukan.
Is this a talent search ato mo cari alternatif seleb baru? Kalo mau cari seleb baru, jangan nyanyi kalo medianya... kasian kan buat yang emang bakat nyanyi tapi kudu tergusur karena nasibnya kurang 'mengibakan'?
Untunglah
AFI 2 baru mulai. I gave it a try to AFI 2, stlh puas menghina AFI 1 [maaf ya buat fans AFI 1]. Coba2 nonton kemaren pas harus berdiam diri di rumah terus.
Kandidat2nya kali ini jauh lebih baik, jauh lebih qualified. Cuma butuh dipoles lagi, bukannya butuh diajarin how to sing lagi.
Syukurlah... untunglah.. ga perlu mencoreng idealisme musikal lagi.
American Idol
Nah.. ini dia favorit saya. Kadang2 emang ada yang ga terlalu bagus sih nyanyinya.. tapi biasanya dia ga bakal menang. Paling seru nunggu komentar dari Simon. Nyelekit sih, tapi sometimes kebenaran itu emang menyakitkan.
Saya pernah tau bahwa tujuan Simon ngomong kata2 yang cenderung cruel itu karena dia ingin si kandidat sadar akan dirinya, zap him/her back to reality.
Dan bagusnya orang bule, mereka lebih bisa menerima kritikan, yang mana emang susah diterapin ke orang Indo (termasuk saya), yang kalo dikritik sering merasa offended banget, tersinggung berat, pdhal orang mengkritik kita ga berarti dia benci ama diri kita. Kita cuma lagi ditunjukin kebenaran yang ada.
Gimana dengan Indonesian Idol? Moga2 bisa tetap dengan spirit yang sama.
*Mohon maaf sedalam2nya kalau ada yang tersinggung, mengkritik itu bukan berarti membenci orangnya lho.*
Posted by devi at
02:39 PM
|
Comments (2)
Doctor
Sam sakit barusan, temen2 kantor jg banyak yg sakit... trus my mom juga sakit di Salatiga...
bener2 deh, hawanya emang lagi gak enak neh... aku sudah masuk hari ke 4 neh gak enak badan... critanya gini:
Hari Rabu kemarin aku harus present sesuatu ke customer, but sebenernya udah dari hari Selasa udah merasa gak enak body, but the show must go on... soalnya aku yg dikasih kepercayaan buat ini... so, hari selasa sempat lembur sampai jam 12 malam buat siapin presentasi buat besoknya.
Hari Rabu, everything goes well, aku selesain presentasi sekitar jam 11:30 and... aku langsung pamit langsung pulang ke rumah.. udah gak kuat.. and thanks God pas selesai presentasi itulah suaraku mulai serak2 kering hohohohoho
Hari Kamis sampai sampai jumat adalah puncaknya.. tewas dg sukses di kantor...
Devi ama her Mom udah nganjurin buat ke dokter... but dari the past experience kok rasanya males mau ke dokter... sorry no offense, tapi aku bener2 trauma ama yg namanya dokter matre...
Dulu sekali, pernah aku sakit tenggorokan... disuruh periksa ini itu (lab) and habis hampir 1 jt :(( padahal taruhan deh... yg bikin sembuh paling istirahat doank sebenernya...
So... mending emang istirahat aja di rmh, banyak bobo and kalau emang gak kuat sakitnya baru minum obat pereda sakit (there's no sense ada obat yg bisa bikin sembuh sakit flu... it's a virus!)...
So hari ini udah beres deh... udah agak mendingan and besok pasti udah bisa ngantor lagi :))
Borongan
Telunjuk kananku luka. Kebayang kan.. susahnya ngetik tanpa telunjuk.. gimana yang ngetik 11 jari ya? eheheheheheeeee..
Hari Jumat kemaren aku ga ngantor, selaen harus mengabdikan diri untuk merawat suami yang sakit 'parah' - terbaring 4 hari di tempat tidur karena ISPA (radang tenggorokan) trus akhirnya jadi flu - akunya juga kayaknya ketularan sedikit.. untungnya kondisiku cukup baik.. jadi dengan istirahat dikit, pergilah itu virus.
Dari Jumat ga ke mana-mana.. di rumah aja, bosen dehh.. Pas hari Minggu Pampi udah far better.. mo ngajak dia jalan2.. eh lagi pada kampanye turun ke jalan, jadi maless.. jadi bete ama kampanye. Kenapa sih kudu nyusahin orang.. weekend pula....
Ngomong2 soal Pemilu.. tinggal bbrp hari lagi lho, guys. Aku ngerti sih kalo banyak yang pada apatis.. dan que sera-sera.. males banget sih ama yang namanya 'politik'.
Tapi.... kita punya hak lho.. kita punya power untuk nentuin nasib bangsa ini. Ada bbrp hal yang kita ga bisa tentuin:
- lahir di keluarga mana
- lahir di suku mana
- lahir dengan jenis kelamin apa
- lahir di bangsa apa
Aku yakin The Almighty God ga iseng2 menempatkan kita di bangsa ini. Walaupun mungkin kita bukan orang 'asli' ... aku kurang suka sih dengan istilah asli ini, apa sih yang dimaksud asli benernya? Kalo ga asli lahir jadi orang Indo, trus asli orang mana dong?
Jadi inget cita2 masa kecil.. JADI ORANG YANG BERGUNA BUAT NUSA BANGSA. Duh, mulia sekali ya? Tapi gimana mau berguna kalo ama bangsa sendiri aja cuek setengah mati.
Pdhal dari lahir, sekolah, kuliah, kerja, dapet duit, makan semuanya dilakukan di tanah Indonesia. Air, nasi, sayuran, buah2an yang kita makan dan minum.. semua berasal dari tanah ini.. so di darah kita mengalir bibit Indonesia, walaupun kita merasa benci, tidak suka, biasa2 aja... kita ga bisa memungkiri, kita hidup dari dan oleh tanah ini.
Jadi.. kenapa kita harus ragu menjaga nama baik negri ini? Kenapa harus ragu untuk berjuang? Kenapa harus ragu untuk mencintai negeri yang telah membesarkan kita ini?
So patriotic, eh? :D
Iya nih.. tiba2 semangat kebangsaanku tersengat. Aku pernah nangis kok waktu nyanyi Indonesia Raya, pernah tersedu-sedu waktu nyanyi Indonesia Pusaka.. waktu itu nyanyi dengan sepenuh hati, nyanyi dengan cinta.
Sedih aja, karena banyak orang di generasi ini yang cuek ama bangsanya. Aku cuma berharap.. semoga temen2 yang baca tergerak, setidaknya termotivasi untuk melakukan sesuatu untuk bangsa ini, jangan cuma dihujat dan dicemooh. Do something, pls. At least you can vote!
Pemilu 2004, semoga menjadi awal bangkitnya kembali bangsaku. Semoga kembali mengharumkan nama Ibu Pertiwi.
pesan sponsor:
pilihlah orang yang temen2 tau kehidupan sehari2nya, yang ga cuma omdo, yang udah melakukan sesuatu di masyarakat, yang baik moralnya, yang hidupnya bersih... supaya bangsa yang lagi sakit ini, cepet sembuh.
Posted by devi at
02:46 AM
|
Comments (0)
March 28, 2004
nice baby blog
Barusan nemu blog baby yg buagus neh:
christian audy. N dari situ baru tau kalau ada mailing list blogger family nanti deh kalau dede lahir kita mau bikin blog juga hehehehe
March 24, 2004
Hoaahhmmmm...
Perut saya lagi gatel-gatel. Itching dan muncul rash di mana-mana. Tadinya curiga stretch mark biasa.. tapi ga taunya makin luas aza zona-nya.
Jadilah memborong produk Dettol di supermarket.. and... ga ngefek juga ternyata, cuma nolong dikittt.
Terpaksalah hari Senen, libur2 saya en Pampi ke RS Pantai Indah Kapuk, soalnya DSOG*-nya praktek di sono. Ternyata si DSOG lagi cuti ampe tanggal 2 April dan DSOG penggantinya lagi di Bandung, so saya diserahkan ke dokter jaga di UGD.
Katanya sih alergi biasa, jadi disuntiklah tangan kanan saya, diberi obat antiallergic juga, tak lupa ditambah obat gatal cair (baca: Caladine)
Tapi.. obat antialergi ini ternyata bikin ngantuk. Semalem abis minum (namanya Bestalin dari LAPI), ga berapa lama bisa tidur dengan sukses.
Hari ini juga.. jam 3 siang.. tiba2 mata udah kehilangan energi untuk membuka.. setelah disinyalir tinggal 3 watt... saya memutuskan untuk tidur sejenak, berharap energi segera kembali..
Jadi.. sekarang masih hoammm... hoammmm... ngantuk.. hoahmm.
*DSOG: Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi.
me, yang makin ngeh dengan perjuangan seorang mommy.
Posted by devi at
07:27 AM
|
Comments (0)
Go Live
Hurayyy.. akhirnya go live hehehehehe...
March 05, 2004
Mau Ganti Wajah
dah gatel banget pengen ganti wajah blog ini... tapi blom sempet2.. mau ganti yang sederhana.. simple but meaningful 
sabar ya... udah banyak blog yang udah ngantri, tapi kalo dimasukin sekarang, repot mindahinnya..
so tunggu aja kalo mood and appetite-ku balik...
Oh ya.. we, Pampi & I, have been blessed with a baby boy! Sekarang aku udah bulan ke-7, dari kemaren udah mulai sibuk beli baju-baju bayi. Aduh.. gemes sekali lihat baju-baju bayi itu, lucu-lucu, kecil mungil, gemesin banget deh...
.
Kita juga udah rajin baca-baca majalah ttg parenting. Rada jiper juga nih, soalnya ga punya pengalaman dengan boy, this is the first baby boy that come into my life. Adik2ku semuanya cewek.
Tapi emang harus learning by doing kali yaaaaa....
ket: ini waktu blog masih blom pake MovableType
Posted by devi at
02:22 PM
|
Comments (1)
February 20, 2004
Senengnyaaaa..............
mo libur panjang atao looong weekend. Seneng juga dapet side-project. Moga2 tembus ya.. jadi ga sia-sia ngorbanin this looong wekend.
Rencananya mau belanja-belanja kebutuhan si kecil. Baju, celana, popok, handuk, botol susu, dsbg dsbg yang kalo dibikin list mencapai 3 lembar kertas A4.
Lagi bingung mo ngejurnal apa.. Palingan soal banjir ini... agak2 menguatirkan, karena sampai tanggal 20 February belum terjadi sesuatu yang signifikan, banjirkah? atau pemda Jakarta udah berhasil nanganin banjir?
Semoga ga kejadian kayak tahun lalu.. mengerikan dan menyedihkan. Berasa tinggal di negara kelas 3 (emang Indonesia tuh kelas berapa sih sebenernya hehehehee).
Happy looong weekend, y'all!
Posted by devi at
04:40 PM
|
Comments (0)
February 18, 2004
Need Help 
Menjelang menjelang kelahiran si dede.. 3 bulan lagi sih
...banyak yang dibingungin.
Gua butuh bantuan banyak nih *kalo lagi bingung, enaknya pake 'gua-elo'*
1. Nama yang bakal dikasih ke dede (ayo dunk, kasih usulan nama yang bagus)
2. Sepertinya butuh tenaga babysitter deh buat bantuin paling tidak 3 bulan deh..
3. Mau ngelahirin di mana ntar...
4. Tetep kerja or jadi full-time-mom?
Buat yang no.4... sebenernya buat berenti kerja sama sekali kayaknya ga mungkin ya, gua cepet bosen, kerja aja bosen apalagi ga kerja *ato jangan-jangan malah ga bosen ya?
.
Tapi gua mau kerja apa dong? Kira2 si boss bule kasih ga ya kalo gua ajuin buat kerja di rumah aza?
Posted by devi at
01:16 PM
|
Comments (0)
February 16, 2004
Be My Valentine Forever!
Masih dalam spirit valentine....
Ini adalah valentine ke-3 bersama Pampi yang sekarang statusnya udah upgrade jadi suami
.
Valentine pertama saya dapat hadiah coklat (?) kalo ga salah inget merknya Lindt.
Valentine ke-2 tahun 2003, hadiahnya agak unik.. sebuah aplikasi kecil yang dibuat untuk dijalankan di PDA-nya. Ada icon yang kalo diklik muncul pop-up: To Devi, I love you, bla bla bla (rahasia dong.... heheehehe)
. Romantis, eh?
Valentine ke-3 bertepatan dengan perayaan udah 8 bulan kami hidup bersama.. Mmmm... sebenernya saya ga ngarepin apa2 dari dia. Dia bukan jenis yang romantis2 gitu deh. Udah sejak lama saya menerima dia sebagaimana dia adanya untuk hal ini *yang laen sih masih harus banyak belajar*.

Hari itu 14 Februari 2004, setelah abis capek belanja di Carrefour Puri Indah bersama my parents and one of my sister.. dia nyeletuk, 'Ntar malem pergi yukkkkzzzz.' Nah.. saya boleh tersanjung dong... soalnya kalo aja kalian tahu betapa cuek dan tidak romantisnya dia.. ini adalah hal yang sweet dan touchy banget buat saya.
So, jam 8 malem kurang, kita berdua pergi ngedate. Rencananya mau makan sushi di Taman Anggrek.. tapi blom 500 meter keluar dari rumah, Tanjung Duren ampe samping tol Kebun Jeruk macet buanget.. jadi rasanya terlalu maksain buat ke TA. Akhirnya kita ke PizzaHut Park Royale. I love this place karena ga rame, ga banyak ABG.. selera dewasa...
hehehehee
PizzaHut? Ga romantis amat yaaaa???
Engga buat saya.. karena romantis ga romantisnya tergantung bersama siapa kita waktu itu. Bisa aja saya candle light dinner di Karavella Senayan yang katanya romantis itu.. tapi kalo bukan bersama the man I love.. ya tetep aja ga ada romantis2nya deh itu....
Saya menghargai usaha my hubby, Pampi. Saya tahu itu the best he could give.. and it's sweet.. walaupun tanpa bunga (dia bilang mo beli tapi lupa) I know he just did his best to show me that he loves me.
To my man... I love you, be my valentine forever ya, hun.......
Posted by devi at
02:46 PM
|
Comments (0)
February 13, 2004
Weekend Curhat
Udah mau weekend
Banyak yang mau diceritain. But I will tell you the biggest pain weighing on my mind.
Part I: Lanjutan Orang Ketiga
Masih inget cerita saya tentang orang ketiga? Semalam dia terpaksa harus meninggalkan rumah. It was a very hard decision. Saya mau cerita dulu asal mulanya. Hari Sabtu malam, tanggal 7 Feb 04, kami ketambahan anggota baru, namanya Mbak Wadiyah, umurnya 47 saat ini. Dia akan mulai bertugas sebagai asisten rumah tangga; as a maid.
I was happy krn bakal punya asisten. Selama ini udah ada sih yang asisten yang datang cuma utk nyuci-gosok-bersih2. I need a fulltime assistant, apalagi ntar kalo dede' dah lahir, kayaknya bakal susah kalo ga ada yang bantuin, and I don't want to hire any babysitters.
In fact, saya orangnya ga tega kalo sama orang kecil, sama orang sederhana. Jadi saya berusaha memaklumi segala kekurangannya. She is 47, just as old as my mom, so tentunya I couldn't push her to work too hard. Dia banyak melewatkan waktunya di kamarnya, berbaring.. Saya mencoba maklum, dia kan udah tua?
Lalu saya lihat lagi, dia kurang inisiatif dalam beres-beres rumah. Lalu my mom came and she told me that this woman, Wadiyah, ga bisa diandalkan, apalagi ngurusin bayi nanti.
Saya bingung, rasanya sulit sekali saat itu mau jadi orang yang bijak. Saya ga mau nyakitin siapa-siapa. Siapa sih yang ga mau rumahnya bersih, rapi dan teratur? Siapa sih yang ga mau punya asisten yang ngerti what should to do... Tapi dia kan udah tua.. 
Pagi Terakhir Ketemu
Ga tega deh sampaikan ke dia. Padahal saya pengen kalo punya asisten, hubungannya bisa kayak sama keluarga sendiri. We can respect each other, gitu. Tapi dia tidak lulus dalam masa pengujian.
Pagi itu, hari Kamis, 12 Feb 04, saya pamitan sama dia untuk berangkat kerja.. hati saya miris.. She knew nothing at that time.
Penyalurnya sudah dihubungi dan akan menjemputnya hari itu. Saya prefer untuk tidak melihat kejadian itu, saya serahkan pada my mom.
Sorenya, dia sudah tidak ada di rumah. Sudah dijemput dan dibawa ke tempat baru di Bintaro. Saya sedih.. Saya yakin dia juga pasti sedih. My mom said, dia minta sampaikan maaf pada saya. Dia bilang, padahal dia baru mau betah. She is a widow. Saya merasa bersalah.
Seandainya
Seandainya dia bisa kerja dengan baik dan mengerti tugasnya.. saya akan pertahankan dia. Tapi saya ga punya materi untuk membela dia. Saya ga permasalahkan umurnya, seandainya saja dia lebih rajin.
Part II: Daddy's bday 11 Feb 04
Yup.. udah 55 tahun umur my dad. Saya tahu sekali.. ini anugrah, semata-mata hanya karena anugerah. Operasi jantung yang berat sudah dia hadapi dan praise God karena dia bisa melewati ulang tahunnya kali ini.
Habis operasi, Dad sempet dirawat lagi di rumah sakit, ampe 5 hari, karena strokenya. A nurse told us that this is a miracle, dokternya juga bilang gitu, karena dia adalah pasien beresiko tinggi untuk operasi jantung - dah pernah kena stroke 4 kali. Dokter dan perawat di sana takjub karena cepatnya proses recovery. Saya pikir, ini adalah miracle yang manis buat keluarga kami. Kami masih mengharapkan miracle lain..
Part III: Kerjaan
Bosen. Jenuh. Jauh. Capek.
Posted by devi at
12:42 PM
|
Comments (0)
February 11, 2004
I Wish
Wishing I weren't this old... 
Tambah tua tambah banyak pikiran. Rasanya beban ini nambah terus tahun ke tahun dan makin kompleks.
Variasinya juga tambah banyak... seperti balik lagi ke kampus, pas ngerjain kalkulus, komplit dari Kalkulus I - Kalkulus III. Makin lama makin pusing liat lambang meliuk-liuk si tanda integral. Dan nilai yang didapat ga pernah lebih dari C. 
Yang pasti beban saya lebih dibanding yang masih single dan yang ga hamil. Paling tidak beban fisik saya lebih berat karena ada bawaan yang beratnya 7 kilo ke mana-mana, syukurlah tinggal 3 bulan lagi berakhir masa kontraknya.
Tapi maksud saya bukan beban fisik ini.. tapi beban pikiran. Iri ga sih liat anak2 kecil yang ga ada yang perlu dipikirin, masa ABG pun paling yang dipikirin cuma pacar.. hehehehee..
Ulang tahun sebenernya adalah saat yang menegangkan, karena dengan ditambahkan satu tahun yang telah dijalani ke dalam hidup kita, itu artinya kita ketambahan masalah baru, itu pasti. Ujian kedewasaan adalah masalah. Jika masalah bisa dihadapi dengan baik.. berarti kita sudah tambah dewasa, tidak hanya bertambah tua.
Well, ulang tahun saya memang masih 4 bulanan lagi, tapi sekarang saya udah sering mikirin, how is it to be 28? Very close to 30! Lalu nanti saya juga sudah punya anak.. pasti problemnya lebih kompleks dibanding tahun lalu. Mikirin ini semua.. saya jadi merenung.. saya emang ga bakalan sanggup ngejalaninnya by my strength. I'm not as strong as I think. Saya pun jadi nyadar, tahun lalu pun itu bukan my strength. Tahun lalu itu, ada SOMEONE yang bukan hanya walked beside me, bukan hanya hold me in HIS hand, tapi kadang HE should carry me in HIS arm. Tahun ini pun, HE will do the same thing karena HE is faithful.
Ga ada yang perlu dikuatirin kan harusnya? Harusnya....
Posted by devi at
10:32 AM
|
Comments (0)
February 09, 2004
Mohon Maaf! Ada Security Check
Dalam sebuah buku tua yang sangat saya kagumi ada percakapan antara seorang murid dan gurunya:
'Guru, berapa kali saya harus memaafkan seseorang? Tujuh kali?'
Gurunya itu kemudian menjawab, 'Bukan. Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh.'
Note: Ini interpretasi saya
Saya dan security check
Hmmm.... sepertinya pemberian maaf ini tidak berlaku untuk security check yang sedang diberlakukan di gedung-gedung perkantoran ibukota dewasa ini. Mengapa? Karena dengan segera saya akan kehabisan stock maaf saya.
Bayangkan jika tiap sore, saat taksi yang saya tumpangi memasuki kawasan gedung perkantoran suami saya, saya harus memberikan maaf pada petugas yang memeriksa taksi saya itu sesuai dengan tulisan yang terpampang: 'Mohon maaf ada security check'.
Stock saya adalah 70x7 yang berarti 490 kali yang juga berarti saya bisa memaafkan para petugas di Sentra Mulai sampai 490 kali kedatangan saya. Masalahnya, saya harus ke sana tiap sore, karena itu adalah meeting point saya dan suami sebelum kami pulang bersama ke rumah.
490 kali itu berarti 490 hari kerja, kalau mau dihitung itu sama dengan 24,5 bulan alias 2 tahun 6 bulan. Selepas itu maaf saya sudah habis, out of stock! 
Mungkin Lebih Tepat
Ya, mungkin lebih tepat jika mereka tidak perlu minta maaf. Lebih tepat jika tulisannya begini: 'Mohon kerja samanya, ada pemeriksaan.' Jadi saya tidak perlu bingung kalau stock maaf saya habis. 
SOP or 'SOP'
Lama kelamaan saya mulai terganggu dengan pemeriksaan-pemeriksaan seperti ini. Bukan apa-apa, I'm not sure they know what they are doing! It's so annoying, saat mereka mulai mengetuk-ngetuk pintu, lalu melongok-longok ke dalam. Hey, man! What are you looking for? Apa sih yang bisa ditemukan oleh mata penjelajah Anda? Apakah Anda punya mata Superman yang bisa menembus tempat duduk saya?
Bicara realistis...buat saya ini ga lebih dari sekedar basa-basi yang telah merenggut privasi saya. Belum lagi dengan gaya heroik petugas yang memeriksa laci pengemudi taksi. Uh, menjengkelkan.
Saya sih oke-oke saja kalau taksi atau mobil saya diperiksa dari luar, bomb-detector kan bisa mendeteksi dari luar (please cmiiw).
Pernah teman milis saya iseng bertanya pada satpam yang memeriksa tasnya ketika mau masuk ke mall, 'Pak, emang taunya ada bom atau enggak gimana?'
A very silly answer came afterward: 'Ga tau juga ya, Mbak.'
GUBRAK! LHO???!!!! Gimana sih? Sebenarnya ini SOP ato 'SOP' sih???
Duh, kalo semua latah begini, yang terganggu kan kita-kita ini.
* catatan: SOP = Standard Operating Procedures *
Posted by devi at
01:09 PM
|
Comments (0)
February 08, 2004
Orang Ketiga
Lucu.. Saya hanya ingin berkata, ?Lucu.?
Selepas 8 bulan, kedamaian mulai terusik. Saya belum terbiasa, karena ini baru pertama kali dan saya tidak tahu bagaimana membuat diri saya nyaman dalam situasi ini. Saya butuh petunjuk?. (mohon petunjuknya?????)
Lucu sekali. Saya tidak pernah menduga ini terjadi. Orang yang Dia tempatkan sebagai belahan jiwaku menunjukkan tanda-tanda meresahkan. Saya seorang wanita yang ingin bisa teriak dan protes, tapi saya sudah banyak dengar pelajaran pranikah dan postnikah tentang bagaimana menghandle konflik dan saya tahu sungguh tidak bijak jika saya membiarkan diri saya melampiaskan kemarahan dengan cara teriak.
Lucunya saya tidak tahan harus diam saja. Saya merasa merana. Saya yang berperut buncit berisi janin mungil 6 bulan menelan tangis dalam diam. Saya nelangsa. Nelangsa karena tidak tahu berbuat apa.
Pukul 1:28 dini hari saat ini.. jari saya masih lancar di atas keyboard komputer ini. Saya butuh melakukan sesuatu untuk menghentikan air mata yang sekarang sudah berhenti mengalir.
Tulisan kali ini belum ada penyelesaiannya. Saya cuma butuh menulis sesuatu untuk menumpahkan rasa yang bergolak di dada.
Kaum pria katanya memang sudah egois dari sananya. Katanya kaum pria jarang bisa menempatkan diri di posisi lawan jenisnya, juga saya baca bahwa pria mudah menyalahkan sementara wanita mudah merasa bersalah. Just blame it on me, begitu pikir wanita.
Suami saya mendadak jadi pendiam. Diam tanpa kata. Kehangatannya pun sirna. Seperti biasa saya harus menebak, ada apa. Maka saya mengambil tempat di samping tempat duduknya untuk melihat apa yang sedang dia lakukan dalam kebisuannya.
Suami saya mencari rumah! Kami memang belum punya rumah sendiri. Saya mulai menggali dan saya mulai menemukan ketidakberesan. Saya gali makin dalam dan tercetuslah....
Orang ketiga menjadi permasalahan kali ini. Ketidak setujuan karena ada orang ketiga dalam rumah. Saya terserang rasa bersalah pada suami saya. Saya telah melukai harga dirinya walaupun tidak sengaja. Saya lihat daftar property yang dijual di layar monitor, saya melihat banyak window yang dia buka. Semuanya daftar rumah.
Dia merasa tidak dihargai karena saya telah memutuskan sesuatu tanpa bicara dulu dengan dia. Keputusan mendatangkan orang ketiga, yaitu Mbak Wadiyah, pembantu yang baru datang hari ini.
Posted by devi at
01:34 AM
|
Comments (0)
February 05, 2004
Egois!
The fact
Duh! Udah ngubek2 isi perut internet buat cari referensi kata egois menurut KBBI.. ga ketemu juga. Ya sudah, pake versi saya aja ya.
Egois! terlontar dari mulut sang wanita. 'Laki-laki memang egois,' rutuknya. Eh? Apakah memang begitu?
Sebelum menikah saya punya pikiran bahwa cowo itu egois. Setelah menikah.. apakah pikiran ini berubah? Tentu saja tidak! 
IMHO egois itu bisa punya arti 2 macam.
Egois yang sering saya dengar punya konotasi mentingin diri sendiri. Dengan kata lain, dia mengganggap dirinya lebih penting dari orang lain. Mungkin orang egois mungkin punya kecenderungan narcissism juga. Buat yang bingung dengan narcis, saya ceritakan dikit ya.
Waktu masih SD, saya suka baca Bobo. Di majalah ini ada cerita Mitologi Yunani ttg seorang pria bernama Narcissus yang jatuh cinta ama bayangannya sendiri di sebuah kolam. Saking cintanya dia ama bayangan dirinya itu dia jatuh ke kolam, mati terus jadi bunga menurut hikayat. Kebetulankah kalau sang Narcissus adalah PRIA? 
Pengertian egois yang berikut menurut saya.. adalah menerapkan standard yang diberlakukan ke diri sendiri terhadap orang lain. Nah, ini dia yang sering saya lakukan walaupun saya lagi berusaha keras untuk lepas dari hal ini.
Sampe saya sadar, dengan pukul rata standard ini, sama aja saya ga menghargai Sang Pencipta dengan cita rasa keanekaragamanNya. Seperti ketika mengajari gitar or keyboard ke adik2 saya. Duh.. kalo diinget2 saya rada nyesel juga dengan cara saya yang otoriter.
'Kamu harus bisa karena saya bisa' terasa naif buat saya sekarang. Terasa konyol dan tak berperikemanusiaan.
*Tapi syukurlah semua adik saya sekarang bisa maen gitar dan keyboard, walaupun ga tingkat advanced.. pokoknya bisa maenin lagu more than kunci2 basic.. *
My husband & I
Egois! Egois! Egois!
Back to the first definition of egois... Sebagai wanita menikah yang punya suami, keegoisan pria itu ga harus selalu disikapi dengan sikap memusuhi. Saya pikir, memang itulah perbedaan kita. Otak pria sulit multi tasking and that's why dia ga kurang bisa memahami kepentingan orang lain.
Pria sering ga 'ngeh' karena otaknya emang dirancang begitu, hanya satu fokus dalam satu waktu. Hehehehe.
Suami saya pun kadang egois. Tapi dia tidak jahat. Dia hanya tidak tahu dan dia bisa diberi pengertian kalau kita bisa menjelaskannya.
Nah.. this is the secret.. pria itu pikirannya logis. Jadi kalau kita bisa jelasin betapa egoisnya dia, tanpa menghakimi, tanpa penuduhan... dan itu bisa diterima dengan logika dia, just compute with his logic, he can accept it!

So, perbedaan itu indah kok, kalau kita bisa menghargainya
Posted by devi at
01:40 PM
|
Comments (0)
January 27, 2004
Walkin Thru The Days
Udah lama ga nulis...
Physically aku lelah tetapi aku tak kekurangan energi tiap hari. Ada suatu rasa tentram dalam hati, itu yang disebut damai sejahtera, itu yang membuat aku kuat.
Hari ini hari ke-10 papa di RS Jantung Harapan Kita, 7 hari setelah operasi bypass yang dia lalui.
Tiap hari adalah anugrah buatku kalau bisa melihat wajahnya lagi. Detik2 menegangkan setelah operasi memang telah dilalui tetapi itu tidak berarti telah selesai.
Minutes of awaiting...
20 Januari 2003.. jam 9 pagi papa tersayang didorong masuk ruang OP setelah 2 malam menginap di RS. Dari semalam, aku tiap kali teringat, aku selalu berdoa. Aku tau ini bukan operasi mudah, ini jantung, man! Dan pas OP, kegiatan jantung dihentikan untuk bbrp saat.. mengingat semua itu, tidak karuan rasanya hati ini.
Di ruang tunggu, menggelar kasur, kami menunggu dengan tegang, terutama saat OP kira2 selesai. Kata dokter butuh waktu at least 4 jam untuk OP dan 2 jam lagi menunggu kondisi pasien siap didorong ke ruang ICU.
Jam 3 sore... kami semua menanti dengan cemas. Belum ada panggilan.. mama sudah kuatir sekali wajahnya. 15 menit kemudian, belum ada panggilan juga. Kenapa waktu berjalan sangat lambat? Mama mulai gelisah dan mengajak kami ke ruang ICU untuk bertanya... akhirnya jam 3.30 sore, mama dan salah seorang tanteku ke ruang ICU untuk bertanya. Tidak lama kemudian tanteku balik ke atas, papa udah agak siuman.
Thanks God... berarti OP sudah selesai dan berjalan baik. Bergiliran kami masuk... aku cuma ingin melihat wajahnya.
Miris sekali rasanya melihat wajah yang dulu gagah itu terbaring lemah tak berdaya... dia sempat membuka mata dan memanggil namaku.. aku terharu.. di saat belum sadar 100%, dia masih ingat namaku. Mata Papa tertutup lagi, dia pasti sangat lelah dalam perjuangannya ini. Syukur padaMu Tuhan.. terima kasih Tuhan sudah menuntun tangan dokter Tarmizi Hakim dan asistennya.
Jam 5-an... I've got sms from my sister di sela dinnerku. 'Papa pendarahan, kita ada di ruang tunggu,' begitu bunyinya. Jantungku serasa merosot ke bawah. Nafsu makan pun mendadak hilang..
Segera aku ke ruang tunggu di lantai 3. My mom was weeping. Kata dokter, kalau pendarahan tidak berhenti, Papa harus dibuka lagi jahitannya untuk dilihat penyebab pendarahannya.
Aku pun tidak dapat menahan tangisku.. we gathered together and pray.. Dear God, please help him. Kami menunggu dalam cekam. One of my sister got down to the ICU, lalu dia pun telpon, Papa udah sadar, udah bisa diajak bicara... boleh ditengok.
Rasa syukur membanjiri hati ketika aku masuk dan bicara dengan Papa. Makasih Tuhan.. makasih.... Ternyata pendarahan berasal dari darah Papa yang terlalu encer, kemungkinan efek pengencer darahnya belum hilang.
Dokter jaga berkata padaku, sebenarnya operasi Papa tergolong sulit, karena dia pernah stroke 4 kali. Aku tidak menemukan alasan bahwa Tuhan tidak bekerja di operasi ini... jadi aku pun tidak punya alasan untuk tidak mengucap syukur. I praise You because You are faithful!
Today I will walk with my hand in God's
Hari ini, aku melihat Dia di balik semua ini. Hari ini aku tahu, Dia masih memberikan kesempatan pada Papa untuk menemukan kasihNya, untuk menemukan Tuhan yang merindukannya untuk mengasihi Dia.
Hari ini juga... aku mengerti Dia masih memberikan waktu buat aku, untuk aku mengerti jalan-jalanNya, untuk aku sadar, Dia tetap ada memegang tanganku melalui hari-hari ini, hari-hari berat atau bahagia, Dia tetap ada.
*dedicated to my baby in the womb.. you must be a very healthy annointed baby.. you kick mommy's tummy with all your strength :X*
Posted by devi at
03:23 PM
|
Comments (0)
December 12, 2003
Cuttie Baby Bunny Went To Heaven
We had two little bunnies. This two little creatures had been with us since November 28, 2003.
We called them Milo & Dancow.

Milo is the bigger one.

Today, December 12, 2003.. when I woke up to greet them, I found Dancow slept peacefully and never will play with us again.

We still have Milo with us.. but Milo look so sad, he didn't want to eat and play.
I still remember how Dancow, my baby bunny, jumped here and there, ate carrots and kangkung greedily. He loved to eat carrot and very playful. He had thick fur and I alway praise him for his beautiful warm fur.
I remember when Dancow licked my hand yesterday night.
Good bye, Dancow. Thank you for these two weeks. Thank you for sharing joy with us. You will be remembered.. and if you see God, please send my regards to Him. Don't worry baby, you will be safe there.
Posted by devi at
02:57 PM
|
Comments (0)