March 05, 2007
Joel Hilang (Lagi)
Sabtu, 3 Feb '07. Hari kelas parenting terakhir, jadi saya harus bertugas dan stand by. (Sekarang saya kerja part-time di sebuah organisasi yang melatih orangtua mendidik anak).
Hari ini juga, Pampi ada janji bentar ketemu orang di showroom mobil. Rencananya saya akan ditinggal, sementara Joel akan ikut Pampi, karena Joel tidak akan merepotkan di showroom, sedangkan kalo ikut saya, cukup repot kalo tidak ada yang membantu mengawasi, karena tempatnya terbuka dan anak laki-laki umur hampir 3 tahun mana sih yang bisa duduk anteng lama?
Sampai sana, setelah menurunkan barang dan say hello ama bbrp orang, Pampi (kayaknya) berangkat. Saya taunya dia udah berangkat karena lihat si Vivi, Toyota Vios silver kami sudah tidak ada di parkiran.
Wah, lega tentunya karena bisa lepas bentar dari Joel. Saya pun dengan tenang melakukan tugas saya.
Tiba-tiba..........................
Saya lihat Joel dengan mata basah, di belakangnya seorang bapak berkemeja orange. "Ada yang tahu ini anak siapa?"
Jantung saya serasa berhenti. Rasa ngeri mencengkeram hati saya.
Joel langsung saya gendong. "Anak saya, Pak."
"Waduh, Ibu.. Kok bisa. Ini anaknya tadi sudah hampir sampai sana," kata si Bapak menunjuk sebuah gedung yang cukup jauh.
Ia pun bercerita dengan nada menyalahkan saya...... Saya tidak terlalu mendengar. Konsentrasi saya cuma sama si kecil. Rasa bersalah, jengkel, panik, syukur, bercampur jadi satu.
"Tuhan yang giring saya ke sini, Bu. Kebetulan istri saya ikut kelas parenting di sini. Tadinya sudah mau saya bawa ke plaza, kalau tidak ada juga ke polisi," kata Bapak yang ternyata adalah seorang dokter klinik yang dimiliki oleh gereja yang kami pinjam tempatnya untuk kelas parenting.
Benar, pasti Tuhan yang sudah menuntun si Bapak Dokter. Kalau tidak, entah di mana Joel saat ini berada. Dan, entah kenapa, Joel mau ikut Bapak itu. Menurut cerita si Bapak, ketika di bertemu Joel, satpam dan beberapa orang sedang berusaha keras menggendongnya, yang ditolak mentah-mentah olehnya.
Tuhan, tidak terbilang syukurku karena bisa bertemu anakku lagi.
Saya juga harus menerapkan peraturan lebih keras lagi bagi si laki-laki kecil ini untuk tidak pergi seenak hati begitu, walaupun untuk kasus ini, kesalahan utama ada di pihak kami sebagai orangtua, komunikasi yang tidak beres.
Makasih ya, Tuhan.
Posted by devi at
08:02 AM
|
Comments (0)
February 27, 2007
Ngeles
Hei.. dari mana anak umur 2 tahun lebih ini belajar ngeles ya? :D
Pake nanya lagi.. ya dari orangtuanya lah pasti...
Begini ceritanya, Joel itu termasuk anak yang ceriwis. Begitu masuk umur 2 tahun, mendadak kemampuan bahasanya naik tingkat banyak, kosakatanya bertambah sangat banyak, apalagi sejak saya berhenti kerja. Logika berpikirnya pun seringkali membuat saya tercengang.
Saya: "Joel, ayo shake hand sama Om."
Joel: (langsung sibuk cari barang yang bisa dipegang) "Joel kan lagi pegang ini."
Saya: (takjub)
Suatu hari, dia mendengar orang yang kalo ngomong, pake kata 'Tau' di belakang kalimat. Misal: "Kan sakit, tau!"
Dan, karena anak2 memang sangat cepat menirukan (negatif or positif), dia pun ngomong gitu dengan saya, "Itu kan punya Joel, tau."
Memang terdengar lucu, tetapi menurut saya itu agak kurang 'appropriate' untuk anak seusianya. Risih gitu dengernya. Saya pun melakukan tindakan koreksi.
Saya: Joel, kalau ngomong ga boleh pake 'Tau'. Ga sopan.
Joel: (diam sebentar). 'Itu kan punya Joel, ga tau.' Kalo ga tau boleh ya, Ma.
Saya: (hahhahaha - dalam hati saja)
Atau...
Saya: Joel... jangan pegang pake tangan, kotor..
Joel: Kalau kaki boleh ya?
Haduuuhhhh... :D
Posted by devi at
11:12 PM
|
Comments (0)
May 11, 2006
Mobi.. Piyosss
Joel anak laki2 banget. Kecintaannya pada mobil, luar biasa, khususnya saat-saat ini. Sekitar umur 20 bulan, diawali dengan mobil-mobilan yang sudah cukup lama ia miliki; tdnya ia tidak menunjukkan ketertarikannya; ia mulai menunjukkan minat pada mobil. Selain mobil2annya yg saat ini berjumlah tujuh buah (ada satu yg pake remote, tp disimpan baik2 sama ortunya, kayaknya dia belum akan mengerti cara mainnya).
Vios, itulah mobil beneran yang paling ia kenal, karena memang itu mobil ortunya. Awalnya, kami memperhatikan kalo lagi di jalan, Joel bisa lama sekali memandangi mobil2 yang lewat, sambil tunjuk2 dan bilang: 'Abi.. abi'. Trus, kalo ortunya pulang, ia lgs ambil peranan sebagai juru parkir: 'Tewus, Tewus, Uuk!' Trus, ia juga sering banget jongkok deket mobil Vios sambil merhatiin rodanya (bisa 5 menit!) dengan penuh kekaguman. Trus, mulai dari sebut-sebut: 'Eyos...', sampe sekarang dia udah bisa bilang: 'Piyos'
Lalu, tiap kali lagi di jalan, kami perkenalkan bbrp nama mobil padanya. Kemudian ia yang mulai inisiatif bertanya. Awalnya cuma jenis (sedan, pick-up), tapi lama2 kami mulai sebut brand Ada beberapa jenis mobil yang saya data bisa ia sebut dengan cepat: 1.Vios, 2.Kijang, 3.Innova, 4.Yaris, 5.Jazz, 6.Escape, 7.X-Trail, 8.Avanza (untuk Xenia juga - dia kan belum bisa baca), 9.Karimun, 10.Zebra, 11.Panther, 12.Aerio, 13.Katana, 14.APV, 15.mikrolet (untuk yang biru), 16.angkot (buat yang merah), 17.pick-up, 18.truck, 19.bus, 20.mobil tangki, 21.mobil box, 22.bajaj, 23.kancil, 24.taksi, 25.mobil rally, 26.mobil balap, 27.mobil pemadam kebakaran, 28.mobil jeep, 29.mobil kodok.
Kadang saya masih takjub. Bagaimana caranya anak sekecil itu bisa bedakan mobil2 hanya dengan sekali pandang, ie: Kijang dengan Panther. Mungkin karena memorinya masih belum dipenuhi macam-macam, sehingga daya absorbsinya sangat tinggi. O ya, Joel penggemar majalah otomotif Autobild juga.. persis papanya.
Saya sempat agak kuatir, Joel sptnya tidak mengenali perbedaan warna. Kemarin, saya baru menyadari, dengan ia bisa membedakan mobil2 ini, juga mikrolet dan angkot, juga mobil biasa dan versi taksinya... ia sudah menguasai konsep warna dan bentuk.
Sampe hari ini pun, dialog spt ini masih sering terjadi.
"Mobi anya?"
"Swift."
"Swuis."
"Swift"
"Swuis. Mobi Suis!" tiru Joel mantap sambil mengangkat jari telunjuknya spt guru yang lagi ngajar. :D
Posted by devi at
12:42 PM
|
Comments (0)
May 10, 2006
New Tots on The Block
Mulai 30 April 2006, Joel udah tidak akan lagi menyandang gelar infant :D. Resmi sudah ia menjadi toddler!
Kami ingin merayakan ultah Joel kali ini secara sederhana saja di Kega -sekolah minggu di Abbalove-, sama seperti tahun lalu, cuma kali ini pake acara tiup lilin.
Beberapa hari sebelumnya, kami udah kasihtau Joel, bahwa ia akan segera berumur 2 tahun. Terus Joel mulai dilatih tiup lilin, tepat semalam sebelumnya, kami juga mengadakan candle blow rehearsal :D, sambil diingatkan, besok pagi, "Joel bangun, terus kita tiup lilin ya."
Pagi-pagi (jam 8 maksudnya) Joel dibangunkan -abis masih pules banget. Kata pertama yang ia ucapkan adalah, "Yiyin." :D kekekkeeke... termimpi-mimpi kali ya.
Abis tiup lilin, disun kanan kiri ama papa mama (std banget yak), trus buka bbrp kado dari auntie Rita n Om Acua. Stelah itu, mandi, dan berangkat ke gereja.
Khusus hari ini, papa dan mamanya tidak ikut kebaktian di atas. Hari ini, kami menemani Joel di Kega. Sekali lagi Joel tiup lilin.. sukses pada tiupan pertama, dibarengi muncratan :p Joel juga mantap menjawab, "Dua!" waktu ditanya umurnya berapa oleh kakak pembina di Kega.
Pulang, Joel bawa banyak kado. Makasih ya teman-teman.
Foto-foto bisa diliat di multiply kita.
Posted by devi at
11:55 AM
|
Comments (0)
March 24, 2006
Welcome Aboard!
Joel lagi di dalam pesawat Sriwijaya nih (B737-200), tujuan ke Semarang. Sempet ragu awalnya, apakah Joel bisa get along dengan pesawat. Dulu waktu umurnya masih kurang dari 3 bulan, Joel yang masih baby banget itu dah pernah naek pesawat ke Bangka. Tapi, sekarang kan Joel dah gede, takutnya dia bosen. Ato kalo dikasih minuman pas take-off n landing (untuk mengatasi denging di telinga), dia ga nurut.
Syukurlah semua keraguan saya tidak terbukti. He was doing so good. Spt anak laki-laki pada umumnya, si kecil berumur 23 bulan ini sangat suka pada pesawat (dan segala jenis mobil), dan dia merasa sangaaat bahagia di dalam pesawat. Minta duduk di jendela, sama papanya, Joel memandang ke luar sambil kiss bye dengan pesawat2 khayalannya, "Uwat. Da dah.. muaahhh." Ekspresinya lucu banget waktu ngalamin - apa sih namanya - yg geli2 di perut itu lho kalo lagi ngalamin perubahan ketinggian.
Setelah di udara, dia makin terpana memandang ke luar. Lalu tiba2.. matanya mulai terpejam dan dia pun merebahkan diri dengan nyaman di pelukan papanya. :p hihihihih.
Trus, pas pesawat udah mendarat, dia ga mau keluar :D Duh!
Posted by devi at
11:08 AM
|
Comments (1)
February 22, 2006
Another Lesson from My Son
Yesterday, I brought a copy of TIME home. Then, super-curious Joel (21-mo) came closer and pointed the cover with his tiny little finger.
"Anyi? Anyi?" Joel had been developing his own vocabulary and as a mom, I was blessed with a special gift to interpret sounds created creatively by my son's tongue.
That was Persons of The Year on the cover: Bill & Melinda Gates and Bono. So, I told Joel, "This is Bono. This is Bill, and this is Melinda. Bill and Melinda is husband and wife, just like Papa and Mama."
"Ata.. ata."
"Yes, Bono is wearing glasses. And look at this, Bill is a very rich man. He owns Microsoft, the software which is being used by Papa and Mama."
I repeated the information about three times, because he was still hungry with the information.
The following morning, as we were preparing our working day, just woke up from his sweet dream (I guess), Joel's eyes nailed to the stack of books I put on the floor. Hurried went down to the floor, he removed TIME from the stack.
With his eyes starring at the cover, I asked him, 'Which one is Bono, Joel?' Without any doubt, he pointed the man wearing pink sunglasses standing in the middle. And he gave us the absolutely correct answers for the other question on the Gateses.
Amazed, my thought backed to some experts' saying, that kid has a fresh memory that can remember anything and absorb things like sponge. Sometimes, Joel seemed to forget his lesson we taught about colors and numbers. But, now I do understood that kids keep their improvement for themselves, (or like our buddy Adhi said - they're just not in the mood) and one day they will reveal their most secret and let their parents stand stunned.
note:
- anyi : Apa ini? - Expression of curiosity
- ata : Kacamata - glasses
*Ini sedang belajar nulis pake bhs Inggris, kalau ada koreksi.. diterima dengan terbuka, thanks*
Posted by devi at
11:57 AM
|
Comments (1)
July 07, 2005
Foto Joel

iseng-iseng ngedit foto Joel.
Posted by devi at
11:19 AM
|
Comments (0)
June 06, 2005
Kega Warrior.. Let's go!
.jpg)
Evrybody tidy up tidy up tidy up
Evrybody tidy up, just like Joel
Sambil mengedarkan kantong plastik besar, Kak Shirley tak henti menyanyikan lagu di atas. Bocah-bocah berumur 0-2 tahun dengan semangat mendatangi Kak Shirley dan memungut mainan yang letaknya paling dekat dan mencemplungkannya ke dalam kantong plastik itu.
Sedang apakah anak-anak ini? Mereka adalah jemaat gereja anak Kega (Ksatria Kerajaan Surga). Jemaat? Betul.
Apa yang terjadi kalau anak-anak punya gereja sendiri? Itu yang menjadi pemikiran para perintis gereja anak Kega ini. Para perintis yakin, anak-anak akan belajar melayani dari usia muda, dan tak cuma terbiasa menerima tapi juga memberi.
Gereja saya menangkap perlunya gereja buat anak-anak. Tidak sekedar dipisahkan dari orangtuanya supaya 'tidak mengganggu' ibadah orang dewasa, tetapi mereka juga perlu mengalami sendiri pentingnya memiliki komunitas yang baik dari usia muda.
Dari umur 5 bulan, Joel anak saya sudah saya ikutkan ke Kega, dari belum bisa apa-apa sampai sudah bisa jalan kayak sekarang. Konyol ya? Tidak tuh...
Joel sudah mengerti berdoa. Dia akan melipat tangannya kalau diajak berdoa, dan akan segera melepaskan tangannya kalau sudah mendengar kalimat:' Dalam nama Yesus... Aaaaaamin.' ; sambil tangannya goyang2 lalu menekuk sikunya dan mendorongnya ke belakang seperti yang diajarkan di Kega.
Dia juga mengerti kata TAAT, karena para pembina di Kega tidak lupa mengajar mereka untuk Te A A Te, TAAT.
Orang tua juga diminta untuk berkomitmen membacakan Firman Tuhan setiap hari ke anak balitanya. Tadinya saya dan suami malas, tapi dengan berbangga hati saya bisa katakan, kami sudah rutin membacakan satu dua ayat setiap pagi selama setengah tahun ini. Dan, anak kami pun menyambut Firman yang dibacakan dengan gembira. Dia duduk manis di pangkuan papanya dan selalu tersenyum kepada kami ketika mendengar Firman Tuhan.
Hal positif lain yang saya dapatkan di sini, anak-anak diajar untuk membereskan mainan sendiri. Anak-anak juga belajar share mainan yang menjadi inventaris gereja Kega ini. Setelah waktu main selesai, sang pembina mengumumkan untuk anak-anak tidak makan dan tidak mimik cucu lagi, karena ibadah akan dimulai. Dimulai dengan berdoa, nyanyi sambil main, dilanjutkan dengan cerita.
Joel dulu tidak bisa duduk diam untuk waktu lama. Tapi saya sudah melihat perubahannya sekarang. Joel sudah bisa duduk diam mendengarkan Kak Anna, salah satu pembina Kega juga, bercerita.
Ada cerita mengharukan tentang Kak Anna ini. Dia sudah menikah cukup lama dan belum diberi anak oleh Tuhan sampai hari ini. Saya melihat dedikasinya yang luar biasa untuk anak-anak. Saya melihat kasihnya yang tulus untuk anak-anak. God bless her!
Kega Warrior, kata saya pada Joel. Joel menggoyang2kan tangannya dan mendorongnya ke depan sambil saya berseru: 'Let's go!'
Posted by devi at
02:43 PM
|
Comments (4)
May 01, 2005
Mengenang Setahun yang Lalu
29 April
Tukang ledeng baru saja menyelesaikan tempat penampungan air yang bocor. Rumah masih agak semrawut sisa kemasukan air beberapa hari yang lalu. Rumah ini memang agak unik, karena kalau hujan deras, justru lantai ataslah yang kemasukan air.. bukan lantai bawah, maklum, yang mendesain rumah ini punya ide yang aneh dalam pembuangan air dari tempat cucian di lantai tiga? air buangan dilewatkan dulu ke kamar mandi lantai dua, sehingga kalau volume air terlalu banyak untuk bisa dihandel oleh kamar mandi itu, air akan meluber ke luar, dan itulah yang terjadi pada waktu itu. Repot juga mengurusi semua, tanpa suami berada di sisi, sementara perutku sudah sangat membuncit, untunglah ada adik-adikku membantu.
Hari ini jadwal buka jahitan terakhir di jari telunjukku di rumah sakit Pantai Indah Kapuk, sekalian kontrol ke dokter kandungan juga. Lama menunggu taxi, dengan ditemani adikku Rita, kami berangkat ke RS PIK. Karena jadwal yang cocok adalah ke dokter kandungan dulu, aku segera mendaftarkan diri.
?Tensi dulu di ruang tensi ya, Bu?
?160/100 ?
WAKS?!
?Salah ga, Sus? Ini digital, kan??
?Mungkin karena Ibu barusan jalan capek. Nanti kita tensi lagi di dalam.?
Dokter Lily bukanlah dokter yang biasa kukunjungi, aku cuma menyesuaikan dengan jadwal dokter Bonifacius, dokter bedah yang mengoperasi telunjukku.
?Kenapa tidak ke dokter Radit tadi pagi, Bu??
?Saya bisanya cuma jam segini, Dok.?
?Kayaknya harus dirawat lho, Bu. Kemungkinan malah harus diinduksi, karena Ibu mengalami Pre Eklamsi.?
Aku gemetaran.. dalam arti sesungguhnya. Kepada siapa aku bersandar saat ini? Suamiku sedang tugas di Kuala Lumpur, orang tuaku ada di daerah, begitu juga mertuaku. Aku? bingung dan merasa sangat tidak berdaya. Percakapan dokter Lily dengan dokter Radit di telepon menghasilkan keputusan, aku harus dirawat.
Akhirnya? aku dibawa ke ruang bersalin untuk observasi. Adikku Rita, mendampingi. Besok pagi dia ujian? jadi kurasa saat itu dia juga dalam posisi yang sulit, besok ujian, tapi kakaknya sedang membutuhkan dirinya.
Tensiku tidak kunjung turun. Kesedihan kerap mengunjungi? aku merasa sebatang kara. Aku mungkin akan melahirkan? tapi suamiku tidak bisa mendampingi. Inilah kekuatiran terbesarku ketika dia mendapat tugas ke KL. Memasuki minggu ke-38? rasanya kurang aman kalau suami tidak mendampingi. Tapi apa mau di kata?.
Aku diberi obat penurun tensi. Kemudian juga disuntik valium. Mungkin aku terlihat begitu tegang,
Perawat memeriksa bukaan rahimku? luar biasa sakitnya. Dia juga sangat tidak ramah.
"Kenapa nangis, Bu?"
Aku diam? Aku tidak merasa perlu menjelaskan kepadanya mengapa aku menangis.
"Kalau kayak gini aja ga bisa tahan, gimana nanti melahirkan. Melahirkan lebih sakit lho, Bu."
Ohhh?. rasanya aku pengen teriak dan bilang ama dia:
"Suster?. saya akan melahirkan tanpa suami. Dan orang tua saya tidak ada di Jakarta! "
Aku menolak untuk bicara padanya.
Kemudian, datanglah pempimpin komselku Franky? rencananya habis kontrol, Franky jemput, pas dia ada jadwal ke RS PIK. Sekali lagi aku hampir tidak kuat menahan kesedihanku. Setelah mendoakanku, Franky pulang. Kemudian datanglah Torkis yang sedang menunggui Ros, istrinya yang mengalami masalah dalam kehamilannya di minggu ke-36, ketubannya bocor. Torkis dan Ros menikah pada hari dan tanggal yang sama dengan kami.
Duh.. aku semakin sedih. Ros ada suaminya.. aku?
Malam-malam sebelum keberangkatan suamiku, aku menangis tiap malam di tempat tidur. Aku tidak ingin dia pergi, aku ingin dia ada di sampingku karena aku tidak pernah tahu kapan si dedek minta keluar. Apalagi ketika aku bilang, bagaimana nanti pas kamu di KL anaknya lahir? Dia menjawab, kan ada teman-teman komsel kita, masa mereka tidak mau bantu?
Jadi? inilah penyebab utama kesedihanku, karena apa yang aku takutkan terjadi!
Dokter Boni akhirnya didatangkan ke ruang bersalin untuk membuka jahitan di telunjukku. Aku mau menangis lagi melihat wajah dokter yang ramah ini. Sepertinya dia mengerti kesusahanku, dia tau suamiku sedang tidak di tempat. Setelah selesai membuka jahitan? rasanya tidak sesakit ketika perawat memeriksa bukaan? dokter Boni menepuk bahuku, dengan wajah sangat bersimpati.
Suamiku di KL sudah kukabari, thanks to the GSM technology, bagaimana kalau tidak ada teknologi ini, bagaimana caraku menghubungi dia, aku tidak tau nomor telepon hotelnya, tidak tau nomor kamarnya. Mama juga sudah kukabari, mertuaku juga. Mama akan datang besok dengan pesawat pertama, mungkin sekitar jam 12 sampai di Jakarta. Beberapa sms masuk memberikan kekuatan? tapi aku masih tetap sedih.
Aku masuk kamar VIP atas saran suamiku, jadi aku sendirian di kamar. Adikku sudah pulang bersama dengan Franky dan Yuyun istrinya. Aku benar-benar sendirian dan punya kesempatan menangis sejadi-jadinya.
Jam 10 malam lewat, adikku Meike datang. Giliaran dia untuk menemani. Telepon berdering, dari mertuaku. Aku segera minta Meike yang mengangkat? aku takut tak kuasa menahan ledakan tangisku. Aku masuk kamar mandi? menatap bayanganku di cermin. Tuhan.. berikan aku kekuatan? Tuhan? aku benar-benar merasa tak berdaya.
Dokter Radit menelepon.
"Ibu, ini tensinya tidak turun juga. Saya anjurkan operasi, kalau mau saya jadwalkan besok pagi."
Another thing to deal with!
"Suami saya sedang di Malaysia, Dok," jawabku lemah. "Tidak bisakah kita menunggu dia? Rencananya dia pulang 3 hari lagi. "
"Tidak bisa, Bu. Kalau dibiarkan takutnya nanti janin Ibu tidak mendapat oksigen."
"Kalau melahirkan normal, Dok?"
"Terlalu beresiko untuk sang Ibu, dikuatirkan akan kejang, dan juga berbahaya untuk janin."
Oh! Seperti masih kurang saja beban yang kutanggung saat ini.
Akhirnya operasi ditunda dulu.. aku menunggu keputusan suamiku, Pampi. Mama menyarankan untuk tetap melahirkan normal? kalau Pampi, dia ingin yang terbaik.
Torkis datang, mau numpang istirahat. Aku memang menawari dia untuk tidur di kamarku. Kasian dia sudah berapa malam tidur di ruang tunggu, atau bolak balik Greenville ? PIK, karena kamar Ros tidak mengijinkan pasien ditunggui.
Mertuaku telepon lagi? dia usahakan bisa datang, dia akan cari tiket kereta kalau bisa besok pagi-pagi sekali berangkat dari Semarang, supaya sorenya bisa sampai Jakarta.
Aku tidur dengan tidak tenang malam itu? Berjuta rasa berkecamuk.
30 April
Hari ini perasaanku sudah lebih baik. Aku sudah lebih bisa menerima kenyataan bahwa aku akan melahirkan anak pertamaku tanpa didampingi suami.
Tensiku masih belum turun, paling rendah 140/90. Aneh memang kalau dipikir, selama 37 minggu, tensiku selalu dalam keadaan normal. Tidak pernah ada tanda-tanda Pre Eklamsi.
Aku dibawa ke ruang bersalin oleh seorang perawat yang sangat ramah dan membuat hatiku lebih tentram. Tensiku terus dipantau sambil aku berbaring, lama kelamaan aku bosan juga harus berbaring terus. Dokter Radit datang, memeriksa bukaan.
"Mulut rahimnya sudah melunak, Bu."
Ok, berarti harapan melahirkan normal tetap ada.
Mertuaku (kupanggil Ibu) tiba pukul 09.30 pagi bersama adik iparku. Mereka akhirnya go show di airport Semarang, dan untunglah ada tiket yang available. Hatiku merasa lebih tenang, karena setidaknya ada orang tua di sini. Kesedihaku sedikit terobati.
Jam 12 siang, Mama akhirnya tiba? duh? aku merasa lebih tenang. Ga pa pa deh tanpa suami, yang penting aku tau ada yang peduli sama aku di sini.
Kembali perawat menanyakan tentang keputasan operasi, maunya kapan. Dari hasil test laboratorium memang sudah dapat dipastikan aku PEB (Pre Eklamsi Berat)
SMS dari Pampi masuk : Aku bisa pulang. Aku sudah dapat tiket, pesawat jam 3 dari Malaysia.
Ya begitulah, akhirnya semua malah bisa datang. Tuhan Maha Baik, semua orang yang kukasihi justru malah berkumpul di sini.
Ros juga sudah dalam kondisi harus melahirkan walaupun kandungannya belum cukup 38 minggu (9 bulan). Bukan kebetulan juga kalau dokter kandungan kami sama, dokter Radit. Jadi.. malam itu dokter Radit menangani Ros dulu dalam kelahiran normal dengan induksi dan epidural, sehabis itu, dia menanganiku, sesuai jadwal, yaitu pukul 11.30 malam.
Menit-menit Menanti
Pukul 09.00 malam aku sudah didorong ke ruang operasi. Aku dipasangi alat pengukur tekanan darah otomatis. Waktu berjalan sangat lambat. Aku menyaksikan peristiwa sadarnya seseorang dari pengaruh bius pasca operasi. RS PIK bukan rumah sakit khusus bersalin, jadi tidak semua yang dioperasi adalah orang-orang yang melahirkan.
Akhirnya, aku didorong juga ke kamar operasi. Dingin menyengat kulit. Di sana dokter kandungan, dokter anak, dokter anestesi dan asisten2nya sudah menunggu. Aku menggigil.
"Dingin ya, Bu?" Aku tidak tahu siapa yang bertanya. Mereka semua memakai masker.
Tubuhku dibalik dan aku disuntik dengan epidural di tulang punggungku. Kemudian aku mulai dibius, seorang dokter mengambil tempat di dekat kepalaku dan menepuk-nepuk pipiku, memberikan rasa nyaman dan aman. Aku dibius lokal, kemudian diberikan bantuan pernapasan melalui oksigen.
"Gimana, Bu?"
"Ga enak napasnya, Dok."
"Kasih oksigen murni."
Sekilas aku mendengar mereka bercakap-cakap tentang kasus Sukma Ayu yang belum sadar dari koma-nya. Bagian bawah daguku ditutupi kain sehingga aku tidak bisa melihat apa yang terjadi.
"Bu, ini anaknya."
A very beautiful baby was handed to me. Aduh? cakep sekali. Dua kali kucium bayi yang harum itu.. Anakku? anak laki-lakiku.
Anakku kemudian dibawa keluar. Aku masih dalam pengaruh bius. Aku kemudian dibawa ke ruang tempat aku menunggu tadi? beberapa lama kemudian baru aku didorong ke kamarku.
Ternyata? ketika sang bayi dikeluarkan dari perutku pukul 23:23, dokter membuatku tertidur untuk mencegah stress, karena tensi yang tinggi, sehingga aku tidak pernah melihat bayiku keluar dengan berlumur darah.
Saat Ini
Sekarang? tepat pukul 23:23 ketika aku selesai mengetik ini? kami baru saja merayakan ulang tahun pertama Joel Christophe Adiwijaya, dengan penuh ucapan syukur pada Tuhan, karena kami tahu, kelahirannya, keberadaannya? adalah karena Dia yang memberikan kehidupan, karena Dia yang mengasihi kami.
Bersyukur pula, karena setelah itu aku banyak mendengar dan membaca tentang kasus orang-orang yang tidak dapat melewati Pre Eklamsia, baik itu kehilangan bayinya atau kehilangan ibunya, atau kehilangan dua-duanya.
Aku bersyukur? benar-benar besyukur dari lubuk hati terdalam, karena mujizat yang istimewa ini, Joel lahir ditunggui oleh papanya.
Posted by devi at
12:25 AM
|
Comments (1)
April 15, 2005
Joel Rebutan Jagung

TKP : Parkiran Taman Bunga Nusantara Cipanas
Tersangka Utama : Joel CA & Papa
Ceritanya, waktu itu kita maen ke Taman Bunga Puncak, terus pulangnya beli jagung di parkiran. Sambil gendong Joel, Pampi aku suapin jagung rebus yang masih anget... hmmm.. enak sekali.
Reflek, Joel langsung 'haaapp' di sisi sebelahnya... tiap kali dijauhin jagungnya.. dia langsung nunjukin wajah protes dan kepalanya juga langsung menyasar si jagung.. heheheehehe...
Posted by devi at
05:53 PM
|
Comments (0)
April 06, 2005
Joel Atit
Kesian Joel.
Hari Sabtu yang lalu, pulang dari rumah Om Gde Arie yang asik di Cibubur, Joel mendadak anget kepalanya.. pertama2 aku kira karena kurang tidur, karena dari pagi tidurnya keganggu terus. Lagi bobo enak2 di mobil, dibangunin, diajak maen ke GymboTimes. Trus lagi bobo enak2 lagi, sampe ke Cibubur, jadi tidurnya cuma bentar2.
Besok paginya badan Joel masih agak anget, tapi kita tetep bawa dia ke Gereja Anak KEGA (Sunday school-nya Joel), soalnya dia ga rewel, tetap cerita dan hari itu ada perayaan Paskah. Eh, tapi sampe di sana dia kolokan banget, nempel ama mamanya, ga mau lepas, dan akhirnya teler, bobo waktu dikasih susu. He missed crawling competition dan menghias telor :) Habis itu dia bangun dan ceria lagi... dan dah ga anget lagi.
Senen pagi, semua berjalan seperti biasa, kecuali ada bintik merah di bagian kepala Joel. Kita pikir dia digigit nyamuk.
Selasa pagi, nanny-nya Joel lapor, bintik2nya tambah banyak, di muka, di punggung, di kepala, dan sepertinya ini ciri2 varisela/cacar air.
Ga jadi berangkat kantor, Pampi langsung membawa kita ke klinik Anakku Greenville. Bener, cacar air. Dikasih obat racik ama caladine+menthol. Ya udah... Joel kudu dikarantina seminggu.
Padahal dokter sudah menjadwalkan vaksinasi Varicella-nya nanti tanggal 14 Mei 2005, setelah berumur setahun. Tapi ternyata Joel memilih untuk di-imunisasi alami :) Jadilah, bayi 11 bulan terkena cacar air. Aku rada nyesel sih.. coba udah diimunisasi duluan, pasti dia ga kena. Untungnya Joel tidak lantas jadi rewel, syukurlah....
Posted by devi at
01:00 PM
|
Comments (1)
January 25, 2005
Joel Cakit!
Sejak hari Jumat kemarin Joel sakit. Pilek, serak, panas... :(
Duh, kok rasanya kasihan bgt yach, sepertinya dia kena radang tenggorokan karena dokter kasih dia antibiotik... apa nurun bapaknya?
Today dia sudah mendingan, meskipun masih meler... sudah senyum2 lagi, cuman ketawa ngakak-nya blon kedengaran nih...
Posted by pampi at
11:59 AM
|
Comments (0)
October 26, 2004
Joel: The One With His Car Seat

Hi! Ketemu lagi ama aku, Joel. Pada suatu Sabtu, Papa dan Mama mengajak aku jalan2. Ga tau mau ke mana tuh.... Karena perginya bertiga.. ga ngajak sus, aku selalu didudukin di car seat. Car seat ini hadiah dari temen2
kantornya Mama lho...
Kita mau ke mana sih, Ma?



Aku mau main ama Winston aja deh. Kalo digigit, gimana ya? Winston... Winston ga marah kan kalo aku gigit... soalnya Winston lucu deh..




Enakan tanganku ah... mmm... nyum nyum.. Eh.. Ma, Ma, masih lama ga sih perjalanannya? Aku bosen nih... hmmmhh... ngapain ya, enaknya? Aku liat2 luar aja ah.
Oh ternyata macet ya, Pa. Joel berdoa ya, biar ga macet lagi.


Posted by devi at
03:20 PM
|
Comments (0)
September 09, 2004
Jo?l Lutju
Foto-foto Jo?l terbaru:
Posted by devi at
03:46 PM
|
Comments (1)
June 24, 2004
Dialogue with Joel
Suatu pagi sehabis mandi, Joel tampak happy.
Mama : Waduh anak mama... udah cakep sekali ya..
Joel : Aguu..
M : Kok seneng sekali sih, abis udah wangi ya..
J : Aguu.. gu gu..
J : Eh.. *senyum senyum* aguu.. *kaki ditendang2 ke atas, mata berbinar*
M : Lagi liatin apa sih..
J : Engkah... ehh
Tiba2.. currr
M : AAAAhh!!!
*ternyata Joel barusan beratraksi, pipis dengan sudut 90'*
M : basah deh baju mama
J : *tetep dengan wajah innocent*
J : Ahhh.. aguu
*akhirnya dialog pun ga jadi, Joel lebih suka monolog kayaknya*


Posted by devi at
06:35 PM
|
Comments (2)
October 30, 2003
Misteri Ilahi
Kehidupan adalah keajaiban. Tuhan Yang Maha Kuasa... Dia saja yang tahu, bagaimana a tiny thing bisa tumbuh.
Hanya dalam waktu 2 minggu.. yang berwujud tak jelas itu.. sudah bertambah panjang, hampir 2 kali lipat.
Aku terkesima menutup layar monitor.. hanya hitam dan sebuah wujud sepanjang 11 milimeter yg terlihat. Wujud itu.. makhluk itu hidup! Aku bisa mendengar detak jantungnya. My baby's heart beat..
Tuhan! Aku terharu.. dalam hati aku memuji diriMu yang Maha Pencipta. Sungguh besar kuasaMu, menumbuhkan suatu kehidupan dalam diriku.
(setelah USG semalam -- expecting our first child)
Posted by devi at
12:10 PM
|
Comments (0)