November 2007
| Sun |
Mon |
Tue |
Wed |
Thu |
Fri |
Sat |
|
|
|
|
|
1
|
2
|
3
|
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
|
| | |


|
|
| |
Main Index
August 09, 2007
Wifone Menangkap Penyusup
Rabu siang, setelah ikut Pilkada di Jakarta...
Ponsel saya bergetar. Dari rumah.. Suara laki-laki di seberang sana, tidak terlalu jelas, karena saya berada di sebuah hipermarket yang hiruk pikuk.
Aneh. Karena harusnya hanya ada Erni, our staff (baca:maid) yang baru kerja sebulan pada kami, tidak ada laki-laki di rumah. Hati saya langsung ga enak, apalagi ketika panggilan itu kemudian dimatikan. Saya telpon kembali, tidak ada respon, sekitar dua kali.
Menyelesaikan belanja dengan terburu-buru, saya segera ke parkiran. Erni berhasil saya hubungi bbrp menit kemudian. Dia baru habis sembayang, dan tidak ada tamu sama sekali hari ini, juga tidak mendengar deringan telepon. Jadi siapa? Apakah terjadi network error?
Sampai di rumah, sekali lagi saya interogasi Erni. Mati-matian dia bilang tidak dan bahkan bersumpah. Walau saya tidak pernah percaya dengan sumpah2, apalagi bawa-bawa nama Tuhan, entah kenapa saya percaya padanya.
Saya langsung cek telepon rumah saya. Kami pakai Wifone, karena Telkom belum masuk. Tercatat di daftar panggilan, sebuah panggilan ke ponsel saya.
FYI, fitur security Wifone yang memakai jaringan CDMA ini cukup canggih ketimbang telpon rumah biasa, padahal bentuknya kurang meyakinkan. Handset Wifone saya ini merknya LG, selain fungsi2 ponsel pada umumnya, ia bisa diset untuk membatasi panggilan. Selain itu, saya bisa mengatur agar jika dalam beberapa detik tidak ada angka dipencet, si telepon akan secara otomatis menghubungi ponsel saya.
Ada orang, laki-laki, yang menggunakan telepon rumah kami. Mungkin ia ingin menelepon seseorang, tapi karena ada pembatasan panggilan, nomor sayalah yang dihubungi oleh Wifone. Dan begitulah kejadiannya.
Erni yakin tidak ada tamu hari itu, tamunya atau pun tamu saya. Jika tamunya menggunakan telepon saya jelas itu pelanggaran berat, karena telpon ini berada di area pribadi, ruang kerja saya di lantai 2.
Setelah diselidiki lebih lanjut ada jejak kaki di tembok dalam dan luar, mengarah ke rumah kosong di sebelah kanan rumah kami. Ada penyusup masuk ke rumah kami lewat jendela lantai atas! Di cluster yang dijaga 24 jam oleh satpam yang berkeliling tiap saat.
Saya pun langsung panggil pihak security. Kepala security cluster memanggil kepala security summarecon serpong dan mereka kini sedang mengusut kasus ini. Dari pemeriksaan rumah kosong sebelah ditemukan jejak-jejak kaki dan puntung rokok yang masih relatif baru. Rumah itu terkunci, kecuali satu jendela.
Lalu, terungkap juga, (Erni baru cerita) bbrp hari lalu, dua orang tukang kebun menggodanya dari dak lantai dua rumah sebelah. Mereka sudah diidentifikasi dan mengaku, kemungkinan besar dipecat. Apakah mereka yang masuk ke dalam rumah, belum tentu juga, karena mereka tidak mengaku.
Ya.. begitulah ceritanya. O ya, saya tidak menemukan ada barang hilang.
Walau beberapa bulan lalu saya sangat jengkel pada Wifone ini, dan sudah sempat memutuskan untuk berhenti berlangganan setelah kontrak setahun selesai (saya kontrak dengan Citibank nih), mau ga mau saya bersyukur juga. Wifone sedikit banyak sudah berjasa. Mungkin saya tidak akan menyadari adanya penyusup, jika tidak ada panggilan 'tak disengaja' itu.
Ngeri? Sedikit. Takut? Sedikiiit.
Hikmah dari kasus ini, jendela belakang sebaiknya jangan dibuka unsupervised. Erni sendiri juga belajar, untuk tidak terlalu ramah pada semua orang. Dia ini memang masih sangat polos, dia pikir semua orang seperti teman di kampungnya. I had warned her before. A lesson learned.
Terimakasih Tuhan atas penjagaanmu.
Posted by devi at 12:25 PM
| Comments (0)
March 26, 2007
Be the Next (to) Indonesian Idol 2007
Tanggal 21 Maret lalu, lagi siang2 bolong panas, saya lagi kejer-kejer Joel yang maunya ke depan rumah terus. "Mau liat bis," katanya.
Aneh memang, kok ada bis di daerah residensial seperti ini. FYI, rumah kita di cluster tertutup yang peruntukannya memang hanya untuk tempat tinggal. Eh, tunggu dulu, ada yang lain dengan bis ini. Bukan bis biasa ternyata. Lihat aja fotonya.
Bisnya nongkrong dekat sekali dengan rumah saya. Beberapa orang yang tampak asing, sepertinya sedang inspeksi beberapa rumah di sekitar saya, jaraknya hanya 2-3 rumah di samping rumah saya yang bernomor 41. Rumah seberang juga nampaknya sedang diinspeksi.
Malamnya, langsung terjadi kegiatan di tiga (kalo tidak salah) rumah itu. Mobil developer datang, dan sejak hari itu, di rumah2 kosong ini mulai nampak kegiatan mendekorasi.
Seperti hari ini, setidaknya ada lima kendaraan dari tivi penyelenggara acara pencari bakat ini, yang memenuhi daerah pemukiman kami. Gorden roman blind berwarna hijau, kuning dan merah (kok kayak traffic light) telah terpasang di rumah no 35, 37 dan rumah depan yang saya belum tau nomornya.
Hmm.. kabar baik atau kabar buruk ini ya? Entahlah.
Posted by devi at 04:14 PM
| Comments (0)
January 23, 2007
Without You
Dua minggu tanpamu..
rumah yang selama ini kuanggap kecil terasa begitu luas
emosiku sering tak terbendung
semuanya tak ada yang beres di mataku
aku begitu tersita
ini dan itu, tak henti harus kulakukan
setelah itu..
tiap aku punya waktu membaringkan diri
baru terasa begitu penat tubuh ini
rasanya aku ingin terus berbaring
dan melupakan semua kekacauan
hari-hari pertama,
duniaku begitu kacau
aku berantakan
dua minggu ini..
penat itu masih ada
emosi itu kadang masih menghentak
aku sedang dididik
dalam perjalanan menuju dewasa
menjadi penatalaksana itu butuh hikmat
dalam kasih karuniaNya yang murah hati
aku mulai dapat menikmati hidup
aku mulai dapat mengatur segala sesuatunya
yang telah Tuhan percayakan dalam hidupku
Hmm... siapa bilang mengatur rumah & keluarga itu pekerjaan sepele?
-dua minggu tanpa pembantu
Posted by devi at 11:35 PM
| Comments (0)
June 15, 2006
High-Cost Economy for Low Incomers
Simak perbandingan biaya telekomunikasi di Indonesia dengan negara2 lain:
- India --> telpon lokal dari HP->PSTN Rp 205/menit, di Indonesia Rp 700-an/menit. Rp 205/menit juga untuk telpon interlokal HP-> PSTN di India, sementera di Indonesia paling murah Rp 3.200/menit.
- Korea Selatan --> GDP 12x penduduk Indonesia, telpon inlok HP->HP hanya Rp 1.260/menit, sementara di Indonesia Rp 4.000/menit.
- Singapura --> orang sana GDP 21x-nya orang Indonesia, tapi cukup bayar Rp 2.000 untuk international call, sementara orang Indonesia bayar Rp 8.000/menit.
- Thailand --> di negri Gajah Putih ini, GDPnya 2x lipat negri Burung Garuda, tapi tarif telpon lokal HP->HP 40% lebih murah.
- Amerika Serikat --> pendapatan mereka 35x orang sini, tapi.. mereka cukup bayar Rp 225/menit untuk telpon pake HP ke seluruh AS, sementara orang Indonesia bisa bayar sampe Rp 4.500/menit.
Diambil dari iklan Esia di Kompas (yang datanya diperoleh dari Sumber Data Pendapatan Negara: GDP per capita year 2004):
Mencengangkan, eh?
Bulan Maret lalu, saat di Bangkok, saya tidak mengalami kesulitan sama sekali untuk komunikasi dengan keluarga di Jakarta. Satu minggu di sana, saya cuma perlu mengeluarkan 300 Baht (kira2 Rp 75.000) untuk telpon ke rumah kurang lebih 10 menit selama 5 hari. Sementara, ketika tagihan Xplor keluar, selama di Bangkok saya menghabiskan Rp 200ribu-an untuk sms saja :(( huaaaaa :((
Bukankah saat orang-orang makin mobile seperti saat ini, telekomunikasi jadi salah satu kebutuhan pokok? Bukankah telekomunikasi juga jadi salah satu penunjang kemajuan suatu bangsa? Jika tarif telepon bisa murah, bukankah internet juga akan jadi sangat terjangkau, dan kemajuan (+efek negatifnya juga) akan semakin tak terbendung?
Inget kan cerita dari masa2 pasca kemerdekaan thn 45 dulu? Saat RI udah dinyatakan merdeka, sementara penduduk2 di pelosok belum tau dan masih sangat takut sama Jepang? Itu karena lambatnya informasi mereka terima.
Jadi, saatnya kita perjuangkan hak kita untuk mendapat kemudahan dalam berkomunikasi! Telkom Indonesia, sadarlah, dan pikirkanlah nasib bangsa kita.
Posted by devi at 11:29 AM
| Comments (1)
June 06, 2006
Father's Business
Picture this scenario,
Your Dad comes to you, and ask you to run his business.
"Are you thinking of retire, Dad?"
"Of course not. I am not as old as you think.. I just need my representative in this place."
"O, Dad? So, now you have a branch office in my city?"
"Yes."
Silence. None of you want to break the beauty of the quietness.
"Representative, eh?"
You see your Dad's smirk. He knows you so well that you are a sleeper self-centered, and stubborn headed.
"Don't you think that I am not even suitable for the job, Dad? You know that I, myself, still have a lot of things to do. And I bet you know that I'm still suffering a heavy burden and seems that it won't be over yet."
"No worry. I will take over. You do my business, and I'll do your business."
You look at his eyes. Does he really mean it?
Your Dad gives you a pat on your back. Instantly, you know he really means it. He does.
"Dad?"
His smile assures you. So convincing. Urges you to do something, to not live the way you used to be. You know that now is time to change. It's time to think about others because your Dad owned company, Touching People's Heart, Inc; is a management consultant company to promote one's live, to help someone to have a healthy self-image and find their dignity, so they can complete their purpose of life.
"Ok, Dad. I will do it."
Posted by devi at 02:54 PM
| Comments (1)
April 25, 2006
The Prayer of David
Eh, tau ga si anu gay lho
Duh, dia kan pemain musik, suka pimpin pujian juga di gereja
Pendeta anu mau cerai
Aduuuh... kok bisa sih, dia kan salah satu tokoh kegerakan
Blum tau ya, si pendeta anu ternyata berprilaku seks menyimpang. (I'll keep the rest for myself, it hurts me too much, I don't have a heart to write it here.)
Ohhh.. I was one of his fans. Aku masih ingat ketika dia berkhotbah ttg seks yang kudus (yaitu antara dua orang yang sudah disahkan sebagai suami&istri), aku masih ingat bagaimana dia mengajar kita untuk bergaul akrab dengan Tuhan...
Pendeta anu selingkuh dan sudah pisah rumah dengan istrinya
Please.. stop it!! Please.. I can't stand it!
Kabar2 ini begitu melukai hati. Mereka2 ini adalah orang2 yang pernah tampil di mimbar, berbicara, menggugah hati orang banyak, membangunkan mereka yang 'tidur' secara rohani, dan tidak sedikit di antara pendengarnya yang berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka adalah orang2 luar biasa yang pernah dipakai Tuhan secara luar biasa dan..................
Ada apa dengan mereka, Tuhan? Apakah mereka juga sedang 'tertidur'? Siapakah yg bisa menggugah mereka, Tuhan? Tolong mereka, agar bisa bangun dari tidur panjang mereka. Please Lord, I beg you.. Like King David who has committed adultery; came, kneeled down before You and begged You to create in him a cleanse heart, please do so in them. Please, Lord... Please....
Posted by devi at 12:37 PM
| Comments (2)
April 19, 2006
Iman
Saat masa depan tak terlihat, saat itulah iman jadi mataku
Saat kabar-kabar baik tak kudengar, imanlah telingaku
Saat semua terasa mustahil, dengan iman aku merasa yakin
Tuhan, apa yang tidak pernah dilihat oleh mataku dan yang tidak pernah didengar oleh telingaku, yang tidak pernah timbul di dalam hatiku: semua itu Engkau sediakan bagi mereka yang mengasihi Dia.
Mari Tuhan, ajar kami mendobrak kemustahilan ini. Bawa kami untuk melakukan lompatan iman, selamat dan sejahtera sampai tujuan. Tuhan, ajar kami terus untuk tidak kehilangan sukacita dalam setiap ujian hidup.
Iman, adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibr 11:1)
Posted by devi at 06:27 PM
| Comments (0)
December 22, 2005
Met Hari Ibu, Ma
Mama menikah di usia yang belia, 19. Menimang seorang anak di usia yang belum lagi genap 20 tahun, ditambah dengan beban hidup yang harus ia tanggung, membuat ia seringkali tak mampu mengendalikan emosinya.
Papaku bekerja sebagai supir bis trayek Belinyu-Pangkal Pinang pp di perusahaan oto bus milik kakekku. Kehidupan ekonomi pas-pasan keluarga muda ini membuat Mama harus masak sendiri. Tak disangka, Mama ternyata berbakat masak. Ia juga menjadi ahli membuat kue. Nastar, spekulaas, kue kacangnya.. aku sangat suka. Masakan Mama, paling enak buat lidahku. Padahal sebelum menikah, Mama tidak bisa masak. Masak nasi pun ia tak bisa. Maklum, Nenek yang kupanggil dengan sebutan Pho Pho punya beberapa pembantu di rumah, sehingga kesepuluh anaknya tidak perlu melakukan tugas rumah.
Mama berasal dari keluarga pedagang. Pho Pho selalu sibuk mengurusi usaha sambelingkung dan toko kelontongnya. Mama dan saudara-saudaranya harus ikut membantu Pho Pho membuat sambelingkung. Salah satu tugas Mama adalah mengerat ikan tenggiri. Bau amis ikan kadang tertinggal di tangannya sehingga kata Mama aku kerap muntah ketika disuapi makan olehnya, dan kemudian aku mendapat hajaran karenanya.
Mama sangat keras padaku, anak pertamanya. Dulu aku sering melawan dan merasa diperlakukan tidak adil. Aku sering kesal padanya, mungkin aku juga pernah membencinya. Ada satu hal yang sangat kuingat. Dulu aku sangat tidak suka makan daging sapi. Suatu hari diam-diam aku membuang potongan rendang di piring nasiku. Ketahuan oleh Mama. Daging yang sudah dibuang di selokan belakang rumahku diambil lagi olehnya dan dicuci bersih dengan air. Aku harus makan lagi daging itu sambil ditunggui olehnya. Kejam memang.. tapi ada satu pelajaran berharga yang aku dapat. Sekarang, aku sangat menghargai makanan. Selalu ada rasa bersalah jika aku harus membuang makanan.
Mama sangat berubah sekarang. Ia sudah jauh lebih sabar. Ia mendampingiku saat mempersiapkan pernikahan, ia menungguku pulang dari bulan madu baru ia pulang lagi ke rumahnya di Bangka. Ia juga yang paling ribut kalau aku sakit sedikit saja.
Ketika aku hamil, ia sangat memperhatikanku. Bahkan ketika aku melahirkan, ia meluangkan satu bulan penuh di Jakarta untuk menjagai dan memasak untukku. Ketika persediaan daging ayam mentah yang ia bawa dari Bangka sudah habis, ia belanja ke pasar dua hari sekali untuk membeli daging. Aku tidak diijinkan turun ke lantai bawah. Menurut kepercayaannya, wanita yang habis melahirkan itu sangat lemah dan rentan, harus istirahat di atas tempat tidur selama sebulan penuh. Aku sangat rewel waktu setiap hari disuguhi ayam arak yang biasanya adalah favoritku, seperti tradisi di keluarga besar kami jika ada yang melahirkan. Ayam arak Mama adalah tumisan irisan jahe dan ayam kampung kualitas bagus yang dimasak dengan arak kualitas bagus pula. Ia memang paling cerewet masalah kualitas bahan masakan.
"Ma, yang lain dong. Yang penting kan sekarang protein, bisa kan dari telor, tahu, tempe dan ikan. Aku pengen ikan deh, Ma," ujarku tak tahu terima kasih.
"Kamu tau ga, dulu Mama makan ayam arak tiap hari, selama sebulan. Paling yang ga punya uang buat beli ayam aja yang makan ikan atau tahu atau tempe. Ayam arak bagus untuk memulihkan konsidimu, " begitu jawab Mama.
Tetapi akhirnya ia mengalah. Esoknya aku dimasakkan sambel goreng tempe, juga diceplokkan telor mata sapi, seperti yang kumau. Ia juga memesankan mie goreng tek-tek ketika aku berkata padanya bahwa aku bosan makan ayam dan babi terus, dan aku ingin makan nasi tek-tek. Setelah menjadi seorang ibu, masih saja aku tak menurut pada Mama. Aku curi-curi untuk keluar dari kamar dan turun ke bawah, juga kulanggar larangan-larangannya yang lain yang terdengar konyol juga aku langgar seperti tidak keramas, tidak gunting kuku sampai sebulan. Mama tidak bisa berkata apa-apa selain mengomel. Aku memang sudah bukan anak-anak lagi.
Mama juga yang mengajariku memandikan anakku. Ia juga yang mengasuh Joel sementara aku memilih untuk tidur. Ia juga yang mengganti popok anakku ketika aku merasa sangat malas melakukannya.
Sambil menatap foto anakku yang sedang tertawa lebar, aku merenungkan kasih sayang Mama. Aku tak pernah sanggup mendendam padanya. Di balik semua hajaran dan pukulan yang kuterima, aku tahu ia sangat menyayangiku. Mama selalu ada untukku. Keadaanlah yang membuatnya terpaksa berbuat seperti itu. Pengalamanku menjadi seorang istri dan seorang ibu membuatku semakin dapat memahami penderitaannya.
Mama? aku tak tahu apa yang bisa anak manja ini lakukan tanpamu. Terima kasih telah mengajari dan mendidikku selama ini. Selamat Hari Ibu, Ma.
Posted by devi at 12:17 PM
| Comments (2)
October 19, 2005
Monolog Seorang Pengamen
Sekian lama terbuai oleh fasilitas, kali ini saya harus melupakan kenyamanannya. Saya tidak berhak lagi menentukan kapan saya akan berangkat, hari ini mikrolet M24 lah yang jadi penentu :)
Vivi, si cantik mobil kami harus masuk bengkel untuk dipoles sedikit. Sungguh keputusan yang salah, karena saya diganjar satu minggu oleh pihak bengkel. Benar-benar ganjaran yang tidak adil, karena saya cuma dipinjami mobil lima hari oleh pihak asuransi. Akibatnya saya harus memilih alternatif transportasi yang paling cocok untung kantong saya.
Menunggu M24 yang seolah enggan menyambangi, akhirnya saya sampai di Slipi. Menanti P11 yang serasa tak kunjung tiba, lalu naiklah saya. Beberapa menit kemudian, telinga saya menangkap pembicaraan atau lebih tepat disebut sebagai monolog.
"Beli berapa selembarnya?"
"Enam ratus."
Itu dialog seorang pengamen dengan penjual sticker di belakang saya. Saya agak terperanjat mendengar jawaban jujur si sticker-man, soalnya tadi dia menawarkannya 1000 rupiah dan rasanya telinga2 penumpang yang lain pasti juga menangkap pembicaraan itu.
Kemudian mulailah si pengamen bermonolog.
"Ya.. Kalo dijual 1000 emang terjangkau sama penumpang. Kalo dijual 2000 pasti ga ada yang mau beli. Lo jangan salah ya, penumpang itu biasanya menyiapkan uangnya buat kita. Mereka dah perkirakan, hari ini gw ketemu pengamen berapa, pedagang berapa. Dari gaji yang mereka terima tiap bulan itu, sisanya pasti ada yang ke kita. Lo sering liat kan, kalo mereka ngasihnya tuh kayak udah disiapin."
Saya mengiyakan dalam hati.
"Kayak gini aja, waktu tarif 3500, gw pernah dari depan ampe belakang gw dapet 500-an semua. Sekarang dengan tarif 4800 berarti kembalian kan 200. Tuh 200 udah pasti dikasihin ke pengamen. Kalo di P11 gw pernah juga dapet 1000, 5000, tapi kembalian tarifnya itu udah pasti dikasihin ke gw."
Waks, bener juga.
"Sehari bisa berapa pengamen yang naek P11 ini. Ini kalo ga gw jagain udah berapa pengamen yang naek. Yah, lo itung aja sendiri kira2 berapa yang disisihin buat kita."
Sampai di situ saja monolognya karena si pengamen yang akhirnya saya ketahui bernama Ricky itu harus turun, karena ada pengamen lain yang mau naik.
"Kembali kami menemani para penumpang P11 dengan lagu-lagu nostalgia klasik. Berikut ini lagu Vina Panduwinata yang dinyanyikan lagi oleh Reza," demikian intro dari si pengamen.
Sontak saya merogoh kantong, mengeluarkan keping 500, ditingkah lagu Prahara Cinta.... aku malu... aku malu....
Posted by devi at 10:55 AM
| Comments (1)
January 14, 2005
Cerita Dari Ujung Banda
26 Desember, sekitar jam 8 pagi
A Fung masih terlelap, masih terlalu pagi untuknya. Setengah sadar, dia merasa tempat tidurnya bergoyang. Setengah sadar, dia mengangkat telepon genggamnya, menjawab ayahnya di ujung sana.
'Bangun, Fung! Ada gempa.'
'Ah.. masih ngantuk, Pa, mau tidur lagi.'
'Ya, sudah... kalo nanti gempanya tambah besar, kamu cepat2 keluar ya.'
Sesaat kemudian.... Getaran gempa menyadarkannya. Kali ini A Fung benar-benar sadar. Dalam kesiagaannya, A Fung langsung menggendong adiknya A Ping, cepat-cepat berlari ke lantai bawah. Satu hal yang dia ingat, dia harus menyelamatkan A Ping, karena walaupun A Ping sudah berstatus mahasiswa, A Ping tidak bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda.
A Fung, selalu menjadi kakak buat A Ping. A Fung tidak akan lupa kejadian beberapa tahun yang lalu, ketika sebuah kecelakaan di lapangan basket, telah membuat A Ping harus duduk di kursi roda sepanjang sisa hidupnya.
Mereka sudah berada di luar... Suasana hiruk pikuk... Katanya akan ada gempa susulan, jadi semua bersiap-siap di luar, tidak ada yang berani tinggal di dalam bangunan.
Belum terjadi apa-apa juga. Tiba-tiba...........
'Air pasang! Air pasang!'
A Fung bisa melihat gelombang air yang dahsyat datang menerpa. A Fung lari sekuat-kuatnya, lari, lari dan lari....... sampai dia teringat sesuatu, A Ping.. di mana A Ping, bagaimana dengan A Ping? A Fung menjadi panik, tetapi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Gelombang itu terlalu besar baginya, gelombang itu menerpa, menerjang semua yang menghalangi jalannya. Dirinya hampir terkejar, dirinya hampir terhempas. A Fung, segera meraih sebuah tiang yang tampak di depan matanya. 'Pegang Fung... pegang kuat-kuat,' begitu perintah otaknya.
Sambil berpegangan erat-erat, A Fung berdoa dalam hati semoga A Ping bisa bertahan, semoga ada orang yang menolong A Ping. A Fung teringat juga pada ayah dan ibunya, juga kakak laki-lakinya, yang entah ada di mana pagi itu.
Gelombang itu datang lagi, lebih dahsyat, lebih tinggi, lebih menyeramkan. Hati A Fung ciut, suara-suara di sekitarnya, suara pohon gemeretak, suara rumah roboh, membuat hatinya tambah ciut.
'Tuhan, jika ini akhir dunia, jika aku harus mati di sini, Tuhan.. aku rela. Tuhan, terima kasih karena aku sudah diselamatkan.. aku tidak takut mati. Tapi tolonglah orangtuaku, tolong adikku.'
Hanya Tuhan yang tahu, bagaimana A Fung bisa bertahan. Bajunya sobek di sana sini. Badannya luka. Tangannya berdarah, kakinya berdarah. Tubuhnya kedinginan.... A Fung memejamkan mata, pasrah.
Gelombang itu akhirnya surut. A Fung membuka mata, memastikan bahwa dia masih hidup. Dia melihat kehancuran, keporakporandaan, kegalauan.
A Fung berenang, mengayuhkan tangannya, berusaha mencari tempat yang kering. Air ini tadi begitu mengamuk.. air ini sekarang tampak tenang, seakan-akan lupa dengan ulahnya tadi.
A Fung tercenung menatap rumahnya. Di depan pintu, teronggok kayu-kayu dan sampah. Dia ingin masuk.. tetapi tidak bisa. Dia ingin segera menelepon kakak perempuannya di Medan, tetapi dia tidak berhasil masuk.
A Fung terdiam... Semalam, dia masih bercanda dengan A Ping, masih ngobrol dengan ayahnya, masih sempat mencicipi masakan ibunya. A Fung, mahasiswa sebuah universitas di Jakarta, duduk menenangkan dirinya, berharap, berdoa, semoga anggota keluarganya yang lain selamat, seperti dirinya.
Kampusnya sedang libur Natal dan Tahun Baru. Kampus A Ping di Medan, juga. Mereka sengaja berkumpul di rumah mereka di Banda Aceh, untuk merayakan datangnya tahun 2005.
A Fung terpaksa tinggal di rumah tetangganya, sambil setiap hari menanti dengan penuh harap, bisa bertemu dengan orang-orang terkasihnya lagi. Tak ada makanan lain selain biskuit. A Fung bersyukur, masih ada orang yang menolongnya...
Hari berlalu, semalam A Fung tak bisa tidur. Dia sudah begitu dekat dengan kematian, sehingga rasanya ini semua seperti mimpi. Tak ada listrik, saluran telepon mati, semua orang tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hari ini A Fung berhasil masuk ke rumahnya, hendak melihat apa yang tersisa.
Dia hanya menemukan telepon genggam ayah, ibu dan adiknya. Punyanya sendiri sudah hilang dalam usahanya menyelamatkan diri. Tidak ada sinyal operator GSM, juga CDMA.
A Fung tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saat dia berkeliling tadi pagi, dia melihat orang-orang yang sedang meratap. Dia melihat duka, melihat kehancuran yang parah. Gelombang yang kejam... apa yang sebenarnya kau lakukan????
Dua hari sudah berlalu, A Fung masih punya pengharapan sampai dia melihat.. sang ayah...
'Papa....' A Fung menangis dalam hati, A Fung tak kuasa melihat sosok kaku itu. Sosok yang begitu mengasihi dan selalu perhatian padanya. A Fung berjalan gontai, dia harus menemukan ibu, kakak laki-lakinya dan A Ping.
'Mamamu selamat, Fung. Sekarang dia ada di ...'
A Fung sudah berlari, mencari sang ibu. Dia menemukan ibunya, hidup... tapi terluka parah.
'Ma....' A Fung menelan air matanya. Menelan kesedihan yang terus melanda. Sang ibu menutup mata, tidak meresponi panggilan anak laki-lakinya.
'Tuhan...' bisik A Fung.. 'Cobaan seperti apa yang sedang aku alami?'
'Fung, mamamu tidak dapat bertahan. Dia meningal tadi.'
Sekali lagi A Fung harus menghadapi kenyataan hidup di umurnya yang baru 20 tahun. A Fung... sudah jadi yatim piatu.
Banyak relawan datang ke Aceh. Helikopter, pesawat-pesawat Hercules, silih berganti datang. Mereka bilang gelombang itu namanya Tsunami. Dari orang-orang itu juga A Fung mendengar cerita tentang Tsunami yang tak hanya melanda Acehnya, tapi juga melanda Thailand, Srilangka, dan beberapa tempat lain. A Fung tak peduli.. yang A Fung tahu, dia sebatang kara saat ini.
Teleponnya berbunyi.. beberapa SMS masuk. Dari kakak perempuannya di Medan. Sinyal yang kadang ada kadang tidak, membuat pesan-pesan ini tertunda pengirimannya.
'Fung, cece menunggu kamu di airport. Tinggalkan Aceh, segera ke Medan.'
A Fung, sebatang kara, sendirian dalam gelap, menangis dalam diam, berdoa, minta kekuatan, minta ketabahan dari Tuhan.
Hari itu, A Fung datang ke Iskandar Muda, menanti giliran naik ke pesawat. Bandara tampak sangat kacau. Banyak barang, banyak orang. A Fung menghela napas panjang.. setengah tak percaya dengan apa yang dia alami.
Mendarat di Polonia dengan Hercules, A Fung bergegas mencari kakak perempuannya. Tak ada muatan bagasi kali ini, tak ada suguhan makanan di atas pesawat, tak ada pramugari manis yang siap melayani.. semua diam, larut dalam kesedihan.
Peluk tangis sang kakak menghampiri A Fung. Suasana haru melingkupi bandara Polonia. Ratapan, tangisan, air mata... A Fung merasa hatinya seperti tercabut... sakit.... sedih yang luar biasa menyergap.
'Cece sudah berhari-hari di sini, Cece menunggu kamu.'
A Fung tak tahu harus berkata apa.
A Fung sudah di Jakarta lagi sekarang. Dia harus melanjutkan hidup. Ujian semester sudah menanti. A Fung tak tahu, apakah dia dapat pulih sepenuhnya dari trauma yang kerap menghantui... dari kenangan akan Papa, Mama, Koko dan A Ping. A Fung tak pernah melihat mereka lagi... A Fung tak tahu kapan akan bertemu mereka lagi.
(ditulis khusus untuk Jhon Fung Chua - aku berdoa, supaya Tuhan Yesus sendiri yang membalut luka hatimu, supaya Tuhan Yesus sendiri yang jadi kuatmu, kamu tidak akan ditinggalkan, kamu tidak akan dilupakan. Yesus sayang kamu.)
Posted by devi at 02:04 PM
| Comments (3)
April 23, 2004
Selamat Hari Kartini
Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.
Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya. Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya. Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan. Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.
Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya. Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.
Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin. Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.
Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.
Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri. Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang. Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan. Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji. Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!
taken from an old scripture, The Proverbs
Pernah dalam hidup saya, saya mengeluh kepada Pencipta saya.. tentang ketidakelokan paras saya, ketidakproporsionalan tubuh saya. Saya beri Dia judul: TIDAK ADIL.
Saya bandingkan diri saya dengan orang lain, teman sekelas saya yang cantik jelita, dengan sepupu saya yang tinggi menjulang, dengan bintang-bintang film, dengan siapa pun yang saya rasa lebih dari saya.
Sebuah kenyataan yang menarik? saya temukan bahwa tidak cuma saya. Teman-teman yang lain pun pernah mengeluhkannya, mungkin hanya menjadi rahasia hati. Karena tidak pernah melakukan survei, saya tidak berani mengatakan semua anak perempuan pernah merasakan ini, tetapi saya tahu pasti beberapa teman saya yang punya perasaan seperti ini.
Perempuan. Mengapa Tuhan menciptakan perempuan? Mengapa harus ada makhluk yang bernama perempuan kalau akhirnya perempuan sering ditindas dan dijadikan warga kelas dua?
Di negara dunia ketiga, nasib seorang perempuan sudah dapat dipastikan? Baru-baru ini saya melihat istri-istri dari seorang pria yang dengan bangga menyatakan dirinya adalah poligamist. Dia juga mendapat penghargaan karena dianggap berprestasi.
Hati saya miris melihat mereka berfoto bersama, berpose untuk media, 4 orang istri untuk 1 orang pria. Ya.. perempuan-perempuan itu memang tersenyum.. tapi siapa tahu kedalaman hati seseorang?
Sebenarnya??? di mana letak keberhargaan seorang perempuan?
Seorang perempuan yang memiliki wajah cantik, biasanya diikuti pula dengan nasib baik.. mudah mendapatkan apa saja yang dia mau. Cowok-cowok nempel kayak perangko, kata sebuah iklan di televisi.
Sedangkan yang berwajah pas-pasan harus berusaha keras, berjuang untuk mendapatkan apa yang dia mau, dan sering juga mereka tidak diberi kesempatan, karena wajahnya kurang enak dilihat? Dia harus punya otak yang cerdas, tubuh yang molek atau dia harus menonjol sekali di bidang tertentu, baru dia berhasil.
Sebenarnya??? bukankah perempuan diciptakan secitra dengan Penciptanya?
September 2003, hari ini saya menuliskan sebuah renungan, tentang keberhargaan seorang perempuan. Hari ini saya bukan yang orang yang sama lagi dengan kemarin. Saya tahu ada yang lebih berharga dari kecantikan fisik, dari prestasi-prestasi yang diukir setinggi langit.
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.
Saya mencenungi teks ini.. Syair ini ditulis oleh seorang ibu untuk anak laki-lakinya sebagai pedoman mencari istri. Seorang ibu yang telah menjalani kehidupan, yang hidupnya telah diabdikan untuk keluarganya? memberitahukan rahasia ini.
Bukan kecantikan, bukan kemolekan, bukan teman?sama sekali bukan?
Kecantikan batinmu, perbuatan-perbuatan muliamu, kata-kata yang manis dari mulutmu, sikap-sikap positifmu, pengabdianmu kepada masyarakat, membuat dirimu terlihat cantik dan manis.
Ketika kita menginjak umur 40 tahun, kita sudah tidak sanggup melawan hukum alam. Ketika timbul keriput di matamu, ketika kulit wajahmu tidak kencang lagi? yang tinggal adalah kecantikan budimu.
Tidak ada cucu yang suka dengan nenek cerewet pemarah. Tidak ada suami yang tetap bergairah dan suka dekat-dekat dengan istri pemarah dan sudah keriput pula wajahnya.
Tetapi perempuan yang membuat suaminya merasa damai, akan selalu menjadi ?rumah? buat suaminya. Menjadi ?rumah? buat anak cucunya. Menjadi ?rumah? untuk teman-temannya. Menjadi ?rumah? buat masyarakat.
Bagi orang-orang miskin di Kalkuta, Sister Theresa adalah dewi. Dewi cantik yang mencintai mereka. Kita tahu, sister tidak berwajah elok menawan. Banyak keriput di wajahnya, dan mungkin setiap keriput adalah tanda kasih beliau untuk orang miskin di Kalkuta. Saya yakin, sampai hari ini, mereka masih mengenang kecantikan budi beliau.
Hari ini, saya belajar supaya kecantikan dari dalam diri saya yang muncul. Saya tidak terlalu perduli lagi dengan kulit saya yang tidak mulus. Dengan tubuh yang jauh dari proporsional. Saya belajar menghargai diri saya. Saya berharga bukan karena kecantikan fisik saya, saya berharga karena saya dibentuk oleh Pencipta saya, secitra denganNya, agar saya bersinar cemerlang.
Saya adalah perempuan yang berharga, lepas dari segala kekurangan-kekurangan saya, saya adalah pribadi yang unik. Saya tidaklah cantik seperti Sophia Latjuba, tapi saya bisa kembangkan kecantikan yang tidak akan pernah pudar, tidak akan pernah layu, tidak akan pernah surut oleh masa? kecantikan yang datang dari dalam, dari dalam hati yang tahu bahwa dia berharga, dan dia dikasihi.
September 15, 2003
Devi S. Pamilih
Posted by devi at 12:18 AM
| Comments (1)
April 11, 2004
Makna Paskah
1 cross
3 nails
---------+
4given
Happy easter, buddies! (should you celebrate it)
Posted by devi at 07:26 PM
| Comments (0)
March 16, 2004
Ku Telah Mati
bukan dengan barang fana, Kau membayar dosaku
dengan darah yang mahal, tiada noda dan cela
bukan dengan emas perak, Kau menebus diriku
dengan segenap kasih dan pengorbananMu
ini adalah sepotong lirik dari lagu yang saya lupa judulnya apa, cuma inget yang nyanyi U|X Band, group nyanyi Kristen dari Bandung.
Hari Minggu kemaren, ga seperti biasa my hubby and I went to Sunday Service yang pagi, biasanya kita pergi ke kebaktian sore.
I was so touched by this song. Ini bukan lagu baru buat saya tapi hari Minggu yang lalu itu benar-benar moment of truth-nya.
Ini juga bukan perjamuan kudus pertama saya.. juga bukan pertama kali saya menyanyikan lagu ini..
Tapi.. kelebatan film The Passion of The Christ dalam alam imajinasi saya membuat haru biru hati ini.
ku telah mati dan tinggalkan
cara hidupku yang lama
semuanya sia-sia dan tak berarti lagi
teringat akan perbuatan sia2 yang sering saya lakukan.. cara hidup lama yang kadang2 masih sering saya lakukan..
cara hidup sia2 yang sungguh ga ada artinya dan karena cara hidup yang ga berarti itulah Dia harus mati.
I should ask myself lagi.. apakah saya benar2 udah 'mati' terhadap diri saya yang lama.. yang masih suka melakukan cara hidup yang tidak berkenan bagi Dia.
Hidup ini kuletakkan pada mezbahMu ya Tuhan
jadilah padaku seperti yang Kau ingini
tiap kali saya jatuh lagi..
tiap kali pula saya datang lagi..
semoga Engkau tidak jenuh
semoga Engkau tidak bosan
dan jadilah padaku as You want it be.
Posted by devi at 03:12 PM
| Comments (0)
January 06, 2004
Unforgettable January 5 - Pertemuan dengan Teguh
Hari pertama kerja di tahun 2004; seperti biasa saya dan suami jalan dari rumah jam 8 pagi lewat. Harusnya bisa lebih pagi, tapi libur kelamaan telah merusak tubuh ini... hehehehe
Daerah Pejompongan tetap padat seperti biasa. Ga ada feeling apa pun hari ini, sedih aja harus masuk kerja lagi.
Masuk ke jalan Dr. Satrio, saya minta suami untuk menurunkan saya di ujung jalan yang berbatasan dengan Rasuna Said, supaya saya bisa menyeberang dan jarak tempuh ke kantor bisa diperpendek daripada saya harus turun di Gedung Sentra Mulia tempat suami berkantor dan harus ngos-ngosan menyeberangi jembatan penyeberangan ke arah Pasar Festival.
Biasanya dia tidak akan mengijinkan, dengan alasan.. bahaya. Tapi karena ini masih dalam suasana Tahun Baru, mungkin dia tidak mau ribut, jadi diturunkannyalah saya di ujung jalan itu, dengan agak terburu2 saya turun karena mobil2 di belakang dengan semangat membunyikan klaksonnya.
Ternyata emang agak susah nyebrangnya.. harus pandai2 membaca situasi dan dalam keadaan hamil 5 bulan tentunya tidak lucu kalau harus berlari-lari menyeberangi jalan Rasuna Said :)
Sampai di seberang, saya hentikan taksi yang saya taksir. \"Buncit ya, Pak\" kata saya pada Pak Sopir. Saya buka tas untuk mempersiapkan taxi fare, biasanya sekitar Rp 10.000 sampai ke kantor saya.
Oh oh! Dompet saya ga ada! Oh my God! :(( gimana nihhh. Telfon suami, dia yakinkan saya bahwa dompet saya ga ada di mobil (tadi emang sempet saya keluarin, sepertinya lupa dimasukkan kembali)
Aduh.. kepanikan melanda tiba-tiba. Tapi mendadak saya tidak kuatir, cuma agak kesal aja pada diri sendiri.
Saya telfon teman kantor saya untuk pinjam uangnya dulu guna membayar taksi. Saya merutuki diri.. kenapa bisa seceroboh ini, lagipula di dalam dompet ada kartu ATM Papa saya yang dari Bangka. Kacau kan...
Uangnya memang tidak begitu banyak, \'hanya\' Rp 70.000 saja. Tapi kartu2 saya lebih berharga dari uang tujuh puluh ribu itu.
Sesampainya di kantor, segera saya menelepon bank untuk memblokir kartu2 bank saya terutama kartu kredit. Sedang telepon sana-sini, tiba-tiba.... ponsel saya bunyi. Duh, siapa lagi nih, ga tau saya lagi repot apa? Yang telepon teman lama saya, yang sudah jarang berhubungan, namanya Sun An.
Keajaiban pun mulai terjadi.............
\'Katanya dompet elu ilang ya, Dev?\' Ah??? Bagaimana dia bisa tau?
\'Ada orang telpon gua tadi, namanya Teguh, mahasiswa Perbanas, dia nemuin dompet elu.\' Aaaaaaaaa!!!! Ini betul2 di luar rancangan manusia mana pun.
\'Dia kasih nomor HP-nya ke gua, elu hubungi aja.\'
Waks! Ini baru miracle! Can\'t you imagine?! Ini Jakarta lho.. gudangnya copet lho.
Saya telpon no HP si Teguh ini. Ramah sekali orang di seberang ini, dia dengan sukarela mau mengantarkan dompet ke kantor, tapi saya tolak, saya bilang cari yang deket kampus dia aja, karena dia ujian ampe jam 4 sore, kesian kan, saya kan pernah jadi mahasiswa juga.
So, jadilah kami janjian jam 5 sore di Pasar Festival.
Sontak saya tergugah... Tuhan.. Engkaukah di balik semua ini?
This is new for me. A real miracle.
Miracle karena saya nyaris mengeluarkan kartu nama Sun An dari dompet bbrp waktu yang lalu, miracle karena di dompet itu, hanya ada satu kartu nama - milik Sun An. Miracle lagi, karena Sun An kenal saya dan tahu nomor HP saya. Tidak ada petunjuk apa pun di dompet tersebut yang bisa dihubungkan ke saya kecuali KTP yang tidak ada nomor teleponnya.
Kata orang2 saya beruntung. Katanya sulit menemukan orang seperti si Teguh ini di Jakarta. Saya percaya itu.
Jam 5 kurang saya sudah berada di Pasar Festival bersama suami. Pertemuan kami dengan Teguh begitu manis dan lucu, dia mengacungkan dompet krem saya. Saya langsung tersenyum dan menyapanya, \'Hi, Teguh!\'
Ngobrol bentar, ketahuanlah kalau dia itu pemaen basket. O ya, dia datang dalam sporty outfit. Kaos dan topi IBL (Indonesia Basketball League).
Saya ajak dia makan di A&W. Dia pesen waffle strawberry.
We thank him very much for his kindness.
Penemu dompet saya ini ternyata seorang celebrity, saya dan suami aja yang ga tau. Paling tidak di kampusnya dia terkenal, I\'m sure for that. Karena dia adalah Indonesia Muda Star. Juga udah masuk AllStar-nya Kobatama.
Wow... bukankah ini miracle juga?
Mungkin ada yang sudah pernah dengar namanya: Teguh Arifianto dari klub Indonesia Muda. Dia dapat beasiswa atlet dari Perbanas. You can find him di sini.
Saya pikir ini adalah rejeki bayi di kandungan saya. Selama hidup saya, baru sekali ini dompet bisa kembali, tanpa kehilangan sedikit pun barang di dalamnya. Luar biasanya adalah saya bisa ketemu seorang atlet muda yang saya doakan dia bisa sukses masuk Pelatnas seperti cita2nya.
Jika bayi saya laki-laki.. mungkin dia akan jadi atlet seperti Teguh? Who knows.......
Posted by devi at 02:49 PM
| Comments (1)
|
| |
|