November 2007
| Sun |
Mon |
Tue |
Wed |
Thu |
Fri |
Sat |
|
|
|
|
|
1
|
2
|
3
|
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
10
|
|
11
|
12
|
13
|
14
|
15
|
16
|
17
|
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
|
25
|
26
|
27
|
28
|
29
|
30
|
|
| | |


|
|
| |
Main Index
March 17, 2006
Changi
Changi is always be my favourite. Memang blom banyak erpot yang saya kunjungi, tetapi sampai hari ini saya belum menemukan erpot yg begitu menawan hati saya seperti Changi.
Modern, tapi ramah dan hangat. Kesan ini tak juga berubah pada kunjungan ketiga ini. KLIA dan Frankfurt juga tak kalah modern, tetapi terasa dingin dan tak ramah.
Interior di internet spot:

Sayang waktu transit begitu singkat, pdhal saya penasaran sekali untuk mencicipi semua fasilitas yang ada. Sulit sekali membayangkan bagaimana mungkin sebuah erpot bisa memanjakan pengunjungnya sedemikian rupa. Kali ini kesampaian juga niat hati saya nyobain pijet2 kaki gratis pake Osim. Jarang2 kan.. lagian pegel juga dari tadi jalan kaki terus.
Pijet kaki, ehm.. enaknya:

Internet gratis disponsori oleh BenQ dan sebuah ISP di S'pore, bangku pinter yang bisa pijat seluruh badan, pijat kaki gratis by Osim, tur Singapore gratis, main PS2 gratis, sun bathing di rooftop dan masih banyak lagi, belum lagi toiletnya yang bersih dan ada Mommy's Helpernya. Mau tau Mommy's Helper apa? Lihat saja fotonya.

Masuk ke dalam gate E6, saya dikejutkan lagi karena di dalam juga ada 4 buah PC untuk browsing internet gratis. Saya ga tau apakah semua gate ada fasilitas ini karena tahun lalu di gate Garuda saya ga ada atau mungkin karena saya pake SQ kali ini? Tentunya si PC sudah 'dimantrai' sehingga cuma satu window browser saja yg bisa dibuka pada satu kesempatan, dan juga dibatasi sampai 15 menit saja. Kali ini saya kalah cepat dengan 3 orang anak kecil yang sangat sigap memainkan game onlinenya dan mereka juga rajin memperpanjang waktu pemakaiannya :p.
Duduk menunggu waktu boarding, saya mendengar kanan kiri orang berceloteh dalam bahasa Mandarin, Inggris, Indonesia, Melayu dan Hokkian! Warga dunia lagi kumpul di sini ternyata :D
Posted by devi at 04:36 PM
| Comments (1)
December 21, 2005
Royal Cuisine Dazhaimen
Restoran Dazhaimen mengambil namanya dari sebuah judul serial tivi yang sangat beken di Cina. Secara literal arti kata ini adalah: Pintu masuk rumah besar.
Gedungnya cantik dengan warna2 yang bikin mata puas, belum lagi lampu2nya.
Datang bersama rombongan, kami mengambil 3 meja. Arsitektur dan interiornya sangat Cina Klasik. Para usher tampil dalam balutan busana ala dayang2 spt yang di film silat, dengan bakiak setinggi kira2 15 centi.
Saya datang sebagai tamu yang harus pasrah pada host, apa pun yang ia mau pesan. Restoran cukup ramai. Pengunjung selain berwajah oriental, juga berwajah kaukasian (baca: bule). Di rombongan kami saja yang ada Arab, Latin, Melayu selain dua ras yang saya sebut tadi.
Appetizernya cold dish, salah satu yang saya ingat adalah bebek. Lucu juga bebek dimakan dingin2, saya ga biasa aja. Temen saya yang Sunda asli ampe ngeluh, "Ada McD ga ya deket2 sini?" Si Akang ini emang Sunda pisan euy, kalo makan maunya yang panas dan dia emang yang paling sering komplen soal rasa makanan di Beijing, ga berasa, ga spicy, de el el. Hm, maklum ya, masakan Beijing itu tidak populer di Indonesia, chinese food yang beredar di Indonesia sepertinya lebih terpengaruh oleh Cina bagian Selatan, sementara Beijing kan di Utara.
Setelah bbrp appetizer, makanan datang seperti tak ada habisnya sampai saya kesulitan mengingatnya. Mungkin karena rasa yang tidak terlalu istimewa buat saya, saya cuma ingat tim ikan, sate udang dan kepiting. Harus liat2 foto dulu untuk mengingatkan. Sambil makan kami dihibur oleh bbrp atraksi mulai dari akrobat, kungfu pedang dan tombak, pertunjukan dasa muka - apa ya namanya yg orang bisa tuker2 topeng dengan cepet gitu, ibu2 yang jago olah suara seakan2 ada bbrp orang yang sedang bicara, sampai peniup daun.
Waiter and waitressnya berpakaian klasik. Kita dilayani bak raja, mm berasa jadi raja dan ratu sehari. Minum coca cola aja dituangin :) Sebagai penutup, keluarlah dumpling sayuran, onde2 dan buah2an. Dumplingnya enak benernya, sayang dah terlalu kenyang, jadi cuma bisa makan satu. Sempet nyobain Chinese Wine-nya. Rasanya enak, manis tapi saya kesulitan mengatasi rasa spiritus yang tertinggal.
Ga tau berapa kerusakan malam itu. Sepertinya sih cukup bikin tongpes, untunglah saya tidak perlu menanggung kerusakan apa-apa :)
Posted by devi at 03:12 PM
| Comments (0)
December 02, 2005
Beiing: Summer Palace
Orang Cina menyebutnya Yiheyuan yang artinya Garden of Good Health and Harmony. Mungkin karena sudah sore, kami mendapat tiket dengan HTM 20 RMB, harusnya 40 RMB.
Tempat ini menakjubkan. What an ancient place! Tidak salah jika Summer Palace dimasukkan sebagai salah satu World's Herritage oleh UN. Bukit, danau, bangunan2nya, semuanya cantik.. sayang sudah kesorean, jadi tidak dapat berlama-lama di sini, maklum musim dingin jadi hari lebih pendek. Pengunjung cukup ramai, kami bertemu banyak rombongan yang disertai tour-guide. Kami berlima ini memang pede sekali, datang tanpa disertai guide.
Dari beberapa kali mengunjungi istana, saya selalu terbawa suasana, berimajinasi membayangkan ratusan atau ribuan tahun lalu, pegawai2 kerajaan lalu lalang mengerjakan tugas mereka masing2. Di satu sisi, sebuah istana dibangun dengan begitu indah dan megahnya tapi di satu sisi, biaya operasional sebuah istana tentu sangat tinggi dan dari manakah sang raja membiayai semua ini? Apalagi ini istana musim panas.. ketika raja tidak di sini, tentu operasional harus tetap jalan... bukankah ini..err... pemborosan? Maafkan saya jika saya berpikir terlalu jauh.
Saya menyaksikan bergerak turunnya matahari (cepat sekali gerakannya), pada sekitar pukul 5 sore.
Beberapa section sedang direnovasi, pada dinding penutup ditempeli kertas dengan tulisan: "We are renovating this place, for our future generation." Sungguh bijak. Jadi ingat, Cina adalah gudangnya orang bijak.
Foto2 lain bisa dilihat di sini:
Posted by devi at 02:59 PM
| Comments (1)
Tian'anmen
Pagi-pagi sekitar pukul 7 kami bertiga mendarat di bandara Beijing... good one! Bersih dan relatif baru, meskipun tidak sehangat Changi (Still the best so far :)
Setelah melalui checking custom yang cukup lama, akhirnya kita disambut oleh udara dingin beijing... Captain pilot sempat mengumumkan sebelum mendarat kalau suhu di luar sekitar 7 derajat celcius... what a surprise, kita bertiga ternyata diarrange untuk mendapat 1 orang 1 mobil seharga 300 RMB/trip walah! What a first impression :))
Oya, di Beijing sangat sulit untuk berbicara dengan orang yang berbahasa inggris, bahkan petugas bandara... jadi waktu kita mau negosiasi dengan para penjemput yang sangat bersemangat ini tentu saja menemui jalan buntu tu tu... untung kita punya local contact number yang akhirnya bernegosiasi dengan mobil penjemput ini.. tapi ya hasilnya adalah: cuek aja, dibayarin kantor ini (hauahuahau... sounds familiar 'eh?)
begitu tiba di hotel, kami langsung check-in... beruntung sekali kami bisa checkin early tanpa ada charge, jadi masih ada kesempatan untuk mengenakan 'pakaian perang' kami (a.k.a. long-john dan ubo rampe yang lain)... begitu siap, langsung tancap!! Destination: Tian'anmen.
Taxi yang kami pakai adalah yg versi paling mahal (1.6 RMB/km)... FYI di sana ada beberapa rate taxi: 1.2 RMB, 1.4 RMB dan 1.6 RMB/km... kualitas tentu sebanding dengan harganya, jadi silakan pilih :) perjalanan cukup menyenangkan tanpa ada traffic yang cukup berarti, kecuali waktu dekat2 tempat tujuan... dan tentu saja, our driver can't speak English :p
Sampai di tempatnya, kami diturunkan tidak tepat di depan gerbang, melainkan agak sedikit maju... mengagumkan juga kepatuhan mereka ini :)...
Agak berjalan ke depan, sampailah kami ke kompleks Tian'anmen... ada beberapa museum yang, sayang sekali, kami tidak tahu karena pakai kanji semua hehehehehe (penonton kecewaaaa)... Tapi yang jelas dari buku kecil yang diberi oleh hotel kami bisa tahu ada Tian'anmen Square yang bersejarah itu dan forbiden city di seberangnya...
Masuk ke gerbang forbiden city langsung terbayang bagaimana ribuan tahun yang lalu tempat ini adalah sacred place bagi bangsa ini, kabarnya kalau rakyat jelata masuk ke sini, gak bakal keluar hidup2.. hiii... dan terasa banget suasana ancient-nya..., tapi ya itu jangan harap bisa ketemu penjelasan dalam huruf latin yang mencukupi, semua in kanji... kerasa jadi alien banget dehh
Beberapa gerbang pertama masih gratis untuk dikunjungi, namun begitu sampai agak ke tengah kita harus bayar 40RMB untuk masuk ke section berikutnya... kalau mau ada audio guide juga musti nambah 40RMB lagi...
Di dalam ternyata arsitekturnya mirip sekali antara satu bangunan dengan bangunan satunya, sepertinya membosankan, namun bila kita baca keterangan di masing2 gedung dan menghayati tentu saja ini jadi pelajaran sejarah yang menyenangkan... bagaimana ribuan tahun yang lalu para kaisar sempat memerintah dari tempat ini...
Setelah perjalanan yang amat sangat melelahkan, akhirnya kami sampai ke ujung perjalanan, sebelum keluar kita sempat melihat taman (aduh lupa namanya hehehe) trus baru gerbang ke belakang... overall impression: what a great artifact... dan kaya'nya ini juga yang harus diteladani oleh bangsa kita: mewariskan sesuatu ke anak cucu... duh, kapan ya Indonesia menggali hal-hal seperti ini...
Posted by pampi at 11:37 AM
| Comments (0)
November 23, 2005
Singapore Airlines
Yeah, sue me... seumur2 blon pernah naek nyang namanya SQ alias Singapore Airlines hehehehe...
Ceritanya gini: sebenarnya nyang namanya kantor selalu pelit, jadi kalau arrange penerbangan yang dicari adalah airlines yang paling murah. So, setelah diitung-itung ternyata penerbangan ke Beijing yg paling murah adalah pakai Cathay. Thank God, penerbangan pulang dari HK - CGK ternyata waiting list, sementara GA gak terbang tiap hari, akhirnya accidentally di-arrange-lah flight dengan SQ.
Begitu panggilan untuk boarding dikumandangkan, bergegaslah kami semua ke dalam burung besi-nya orang Singapore ini, dan langsung disambut sama Cabin Crews. Kesan pertama: very Singapoeran.
One thing yang merupakan stereotype orang Singapore adalah "kiasu" alias gak mau kalah, gak mau rugi... trus sangat mendewakan duit... forgive me Singaporean kalau gw salah :) Tapi hal positifnya adalah, mereka sangat efisien dan mempunyai etos kerja yg tinggi. That's what I called SQ very Singaporean.
Dulu pernah naik Lufthansa, pelayanannya efisien banget, tapi kaku. Pernah naik Malaysian Airlines dan Garuda juga... nice service tapi tidak se-efisien Lufthansa. So, kalau digabungkan antara Lufthansa + MAS or GA adalah SQ :)
Bener juga apa yg dikatakan buku "Good Service is Good Business", barang yang sama bisa dijual 10% lebih mahal kalau kita bisa kasih service yang lebih. SQ termasuk jajaran atas dalam kualitas layanan (dan harga). Pilot2nya juga mendaratkan pesawatnya dengan halus.
Beberapa jenis pesawat mereka, A340-500 contohnya, memiliki konfigurasi tempat duduk yang amat lega, bahkan di kelas ekonomi. Denger2 sih ini pesawat yang dipakai untuk penerbangan non-stop Changi - LA. Duh kalau bener beruntung banget bisa ngerasain walau cuman untuk Changi - CGK :)
Sebentar lagi SQ merupakan operator pertama yang mengoperasikan A380, pesawat jumbo yang bahkan lebih besar dari Boeing 747. Duh... semoga nanti ada kesempatan buat mencobanya.
Posted by pampi at 02:42 PM
| Comments (0)
Makan Malam di 1001 Nights
?Meet my wife,? begitu Pampi memperkenalkan saya kepada teman-temannya. Kami akan pergi ke Ya Show untuk pergi belanja dan makan malam bersama di restoran Lebanon. ?She is so brave,? tambah Pampi ketika Khalid, si Libia, tampak kaget karena saya berangkat seorang diri ke Beijing.
Jika ingin melupakan macetnya Jakarta, Beijing bukanlah tempatnya. Kemacetan sudah tampak begitu kami masuk highway. Satu hal yang mengagumkan di sini, jalan bebas hambatannya gratis (beda dengan Jakarta yang terus saja menaikkan tarif tol-nya), hanya tempat tertentu seperti tol airport saja, yang meminta bayaran.
Turun di Ya Show, pengemis2 cilik mengerubungi rombongan kami, menarik2 baju kami dan memegang-megang tas kami, setidaknya pengemis di Indonesia lebih sopan. Saya membeli baju khas Cina untuk jagoan cilik kami, Joel. Sungguh lelah menarik urat untuk tawar menawar? ooohhhh?. Akhirnya dapat juga kesepakatan harga 41 RMB yang lalu saya sesali karena sepertinya masih kemahalan.
Menyenangkan melihat teman-teman suami saya menawar. Mereka yang kesemuanya adalah pria memiliki bargain method yang beda dengan kaum hawa. Togar dengan gaya TP (Tebar Pesona), Yusri dengan gaya cool, dan yang mengejutkan saya, Pampi ternyata juga sudah jago menawar!
?Tetapkan harga yang kita mau bayar untuk barang tersebut. Mulailah menawar dengan harga di bawah itu, jangan terlalu cepat menaikkannya. Ingat, menawar adalah game, jadi jangan ada penyesalan jika ternyata ada orang yang mendapatkan harga di bawah itu,? demikian instruktur training yang suami saya ikuti, Bradley, memberikan tips yang berharga kepada peserta trainingnya.
Hampir 2 jam di sana karena menunggu Khalid yang sangat senang mempraktekkan ilmu menawarnya. Ia sampai dicemberutin oleh seorang SPG ketika menawar 20 RMB untuk sebuah baju sutra dan wanita tersebut menolak untuk meladeninya lagi. Sepertinya pelanggan setia Ya Show adalah orang Rusia, sehingga cukup sulit kami mendapatkan harga terbaik.
Kami ke restoran 1001 Nights (terus terang saya langsung ingat 1001 malam di Jakarta). Khalid yang saat ini ditempatkan di Balikpapan, bertindak selaku host malam itu, karena ialah yang paling mengerti menu2 seperti ini. Dua macam salad, 2 jenis masakan ikan, ayam goreng, kebab, nasi kambing dan dessert berupa baklawa (or baklava) ia pesankan untuk kami. Salad parsleynya enak sekali, ikan bakarnya juga superb, selain dari itu saya tidak terlalu menikmatinya, karena saya bukan penyuka daging kambing. Tari perut mengiringi makan malam kami. Tanpa malu-malu Khalid maju dan menari berpasangan dengan belly dancer berwajah Rusia.
Khalid memesan satu sheesha rasa strawberry dan melon. ?Tidak terlalu enak,? katanya sambil menghembuskan asapnya. Khalid bercerita bahwa di Balikpapan ia punya satu peralatan sheehsa dan pernah polisi-polisi di sana mencurigainya ngeganja, tapi tidak berani menanyainya langsung.
Suasana remang2 dengan arsitektur khas timur tengah membuat saya lupa sejenak bahwa kami sedang di Beijing. O habibi... o habibti
*habibi - my love (pria) habibti - my love (perempuan)
Posted by devi at 09:21 AM
| Comments (2)
November 17, 2005
Beijing: First Impression --> Dingiiin
Hawa dingin serasa menusuk tulang begitu saya melangkah keluar dari Capital International Aiport. Secepat kilat saya berbalik masuk kembali ke dalam gedung airport. Longjohn yang saya kenakan ternyata tidak cukup menolong sehingga saya harus menambah atribut perang saya. Kini dengan bersenjatakan jaket, topi dan sarung tangan wol, dengan mantap saya melangkah menuju Beijing.
Tanpa merasa perlu mempedulikan para sales taksi yang mencecar saya dengan bahasa Mandarin, saya berjalan agak bingung mencari taxi line. Seorang teman sudah mengingatkan saya, ?Jangan mau ditipu calo. Langsung aja cari taksi resmi. My bule hubby can do it, elu juga harus bisa.?
Dengan bantuan seorang tentara (benar kan dia tentara, bukan satpam?) saya berhasil mendapatkan taksi resmi. Kepada saya juga diberikan sebuah kartu yang disertai dengan nomor taksi saya.
?Lido fandian,? ucap saya ke Pak Sopir. Tak lupa saya perlihatkan huruf kanji dari hotel Holiday-Inn Lido Beijing. Dia mengangguk dan meluncurlah kami.
Beijing ini ruarr biasa besarnya, ring road saja ada 6 lapis. Hotel saya terletak di 3rd ring road, yang berarti lumayan dekat ke airport. Terletak di kawasan ekspatriat Chaoyang District, hotel ini ramai dikunjungi oleh para pebisnis asing. Saya bertemu banyak bule di lobby hotel. Furniture di kamar tergolong kuno, maklum ini Holiday Inn pertama di Beijing. Kontroler utama dan suhunya look so jadoel, serasa nonton Charlie's Angels versi Farah Fawcet.
Istirahat sebentar, tanpa mandi, saya memutuskan untuk sightseeing dekat-dekat hotel. Dingiiinnn... brrr.. Sudah memakai topi, longjohn, turtleneck sweater, scarf, longjohn atas bawah, jaket, kaos kaki 2 rangkap.. masih kurang juga untuk tengah hari bolong di Beijing?
Mampir ke Sunny Golden Market, saya hanya liat2 saja, belum berani melakukan transaksi. Menurut orang lokal, di Sunny bisa kita temui barang2 palsu dengan kualitas A. Di Beijing, bargain is A MUST! Beli apa pun harus nawar dan saya diberi tahu untuk tidak ragu menawar sampai 1/10-nya.
Kelaparan, saya lalu memasuki sebuah rumah yang tampak seperti kedai makan. Saya langsung disodori menu dalam bahasa kanji, alamak.. :D
Dengan susah payah akhirnya saya bisa juga memesan satu porsi pork seafood dumpling padahal saya pengen makan mie, tapi kata dumpling dalam bhs mandarin saya yang ia mengerti.. ya sudahlah, dari pada kelaparan. The price is so sweet 10RMB (Rp 13000) untuk 10 pcs, ga boleh beli 1/2 porsi. Porsi makan di sini luar biasa besar, ga tau kenapa.. apakah bangsa Cina memang makannya banyak? Ga tau juga....
Posted by devi at 11:43 AM
| Comments (1)
October 24, 2005
Mass Rapid Transport
Setiap kali mengunjungi kota ini, cuman ada satu kata: kagum.
Bagaimana tidak, tata kota yang rapi, transportasi yang nyaman dan kebersihan yang terjaga sungguh membuat saya iri. Apalagi waktu tahun 70-an dulu, bangsa ini adalah bangsa yang berguru ke negri kita.
Sebut saja Petronas (perusahaan minyak nasionalnya), jaman dulu masih berguru ke Pertamina, namun sekarang sudah berkembang melebihi gurunya. Guru-guru kita dulu juga banyak diimpor ke sana untuk membantu pendidikan mereka, tapi sekarang pelajar kita yang berguru ke sana sudah banyak.
Yang lebih miris lagi adalah kasus TKI gelap kita yang banyak menjadi sorotan, duh... apa sih yang salah dengan kita?
Back to topic, di kunjungan ke-sekian ini saya membuat komitmen: No Taxi! Yap... taxi di sini jangan dibandingkan dengan Blue-bird-nya Jakarta. Rata-rata pelayanannya seperti presiden taxi di Jakarta yang sudah melegenda. Musti main bentak supaya mereka pakai argo, belum lagi resiko diputar-putar.
Akhirnya teman-teman seperjalanan yang baru kali ini mengunjungi KL 'terpaksa' harus ikut my rule ini sekalipun secara explisit saya tidak mengatakan ke mereka :)
Dari pertama menginjakkan kaki di airport, perjalanan ke kota cukup menggunakan KLIA express (RM 35 sekali jalan), perjalanan yang biasanya 1 jam cuman ditemput dalam waktu 28 menit ke KL Sentral (stasiun utama), disambung dengan menggunakan monorel dan langsung turun di depan hotel.
Jalan-jalan ke Bukit Bintang, KLCC atau ke Chinatown juga pakai Monorel, LRT atau... jalan kaki! Yak, gerak jalan merupakan agenda yang harus diada(ada)kan lagi berhubung kemarin sempat drop, yang kata dokter gara-gara kurang olahraga.
Dan terbukti, perjalanan menggunakan mass rapid transport tsb. merupakan pengalaman yang sangat berharga dan fun.
Namun sayang sekali, tidak seperti tahun kemarin, peta KL yang colorful dan free tidak ada lagi disediakan di hotel. Sebagai gantinya diberikan foto-copy (yak benar, foto-copy yang agak diragukan keabsahannya). Sayang ya, padahal KL Vision City sepertinya cukup 'menjual'. Jadilah terpaksa main tebak-tebakan kalau mau menuju ke suatu tempat.
Satu contoh journey kami ke Chinatown: Perjalanan start dari hotel, yang kebetulan tepat berada di depan stasiun monorel "Raja Chulan", beli tiket seharga RM 1.2 (atau sekitar Rp 3.300) ke stasiun "Bukit Nanas". Dari Stasiun bukit nanas kita jalan sekitar 300 meter ke stasiun bawah tanah "Dang Wangi" dan membeli tiket seharga RM 1.3 (Rp. 3.500) ke arah stasiun "Pasar Seni" (Sayang sekali tidak bawa peta sehingga tidak bisa mengira-ira jarak antar stasiun ini. Yang jelas Raja Chulan - Bukit Nanas cuman berjarak 1 stop, Dang Wangi - Pasar Seni cuman berjarak 2 stop). Kemudian dari Pasar Seni kita berjalan sekitar 200 meter ke arah Chinatown. So easy!
Kalau pakai taxi perkiraan mungkin sekitar RM 20 or so, belum kemacetan yang harus dihadapi.
Kapan ya kita punya sistem seperti ini? Tentu kalau sistem seperti ini jalan problem kemacetan akan banyak teratasi. Tapi mungkin ada kepentingan tertentu yang tidak menghendaki hal ini ada di Jakarta? Dunno, karena yang jelas pembelian mobil pribadi akan jauh berkurang.
Anyway, kalau sempat ke KL, cobalah resep ini: No Taxi! :)
ps: sebenarnya pulang juga mau pakai monorel - KLIA Express. Tapi berhubung oleh-oleh banyak akhirnya terpaksa 'mengkhianati' komitmen pakai taxi ke KL Sentral.
Posted by pampi at 03:56 PM
| Comments (5)
July 04, 2005
Grand Turismo, Track: Cipularang
Minggu kemarin jalan2 ke Bandung sekeluarga, akhirnya niat pengen menjajal cipularang kesampaian juga.
Perjalanan berangkat tidak ada yg istimewa, jalanan relatif sepi dan tidak ada kendaraan lain yg bernafsu balapan jadi nyantai saja, jalan di 100 - 120, sambil kadang2 matiin OD buat nanjak (males kickoff hehehe).
Perjalanan pulang yg agak2 menaikkan kadar oktan otak :), setelah kesasar di cimahi, akhirnya bisa masuk tol lewat gerbang padalarang. Di etape pertama dibuntutin sama kijang, avanza, beberapa bmw ama mercy. Kijang memang tiada duanya hehehe, maksudnya selalu gagal mau take over (padahal mode nyantai neh)... untungnya masih teringat si kecil yg terlelap bosan di carseat jok belakang jadi pedal gas masih belum menginjak dasar karpet.
BMW ama Mercy memang bukan tandingan, jadi dengan senang hati memberi jalan ke mereka, tetapi avanza?? OMG! Membuntuti Avanza hitam sekitar 10 menit dari pintu tol, jadi kasihan sendiri melihat penumpang di belakang pasti seperti naik roller coaster hehehehe... benar juga, sekitar 10 menit membuntuti akhirnya menyerah dia, meminggirkan mobilnya ke jalur lambat, wuih pasti persediaan plastiknya langsung abis :), tapi kemudian tahu2 dari belakang di-dim, siapa dia?? Avanza lagi?? weleh, injek gas dalam2 supaya dapet kickoff, gigi otomatis turun ke 3, mesin meraung, tapi kok tetep nempel aja nih boil? RPM mulai merangkak ke 4000, redline memang masih jauh, semestinya masih bisa melayani neh... tapi... inget lagi yg lagi diem di carseat belakang, ama yg nunggu di sampingnya hehehehe, waduh ya udah deh, nyalain sein kiri... silakennnnn... roaarrrr.... woooo.. pantes, pake header racing, pakai stabilizer dan kaya'nya shocknya sudah dibereskan, mungkin juga mesin sudah bukan std lagi... ah sudahlah, sudah terlalu tua untuk gontok2an :))
Tapi overall cipularang memang menarik, meskipun beberapa ruas jalan masih bumpy (thanks to Vivi's excelent shock absorber), perjalanan JKT-BDG menjadi menyenangkan, sayangnya di ruas tol Cikampek perjalanan masih tidak terlalu nyaman.
Perjalanan berangkat sekitar 2 jam dari rumah, mungkin sekitar 1 1/2 jam kalau dihitung dari Cawang. Hmmm.. makin macet saja ya Bandung :)
Posted by pampi at 11:48 AM
| Comments (2)
April 13, 2005
House Warming - Babel's Food
Bulan Maret yang lalu, seorang sepupu saya mengadakan selamatan rumah barunya di kawasan Kosambi, Jakarta Barat.
Karena pasangan ini adalah mix Bangka Belitung, maka makanan yang terhidang adalah kontribusi dari dua daerah ini dengan didominasi makanan Belitung karena sang nyonya rumah asli Belitung.
Setelah kebaktian ucapan syukur selesai, tamu-tamu pun dipersilakan mengambil hidangan. Saya yang orang Bangka, sampai hari ini belum pernah menginjak tanah Belitung, padahal Belitung jauh lebih dekat dibandingkan Pulau Timor, yang sudah saya kunjungi tahun 1997 akhir.
Jadi, saya cukup penasaran dengan makanan Belitung ini. Yang khas dari Belitung adalah: sate babi yang bentuk dan rasanya beda banget dengan sate babi Bangka, ada juga cakien, sejenis makanan yang pake kulit ngohiong yang rasanya babish sekali, juga sop baso ikan Belitung. Yang asli Bangka cuma masakan tante saya, mie goreng :)
Sop baso ikannya bener-bener enak. Selama ini saya pikir yang saya sering makan di Bangka sudah cukup enak... ini enak banget :) Basonya dibuat sangat garing, susah mendeskripsikannya.... yang saya tau, rahasia supaya baso ikan ini punya jenis kegaringan seperti ini adalah es batu, komposisi air dan cara mengaduk adonannya- pake dibanting-banting segala lho. Sop yang sangat sederhana ini (cuma baso & fukien) yang diberi daun-daunan berwarna hijau, mohon maaf, saya lupa nama daun ini, bentuknya seperti daun bawang berukuran kecil, kalau makan mie di Bangka... pasti di atasnya diberi taburan daun ini. Ini makanan halal, kecuali kalau diberi minyak babi.
Sate babinya... sekilas seperti sate lilit di Bali, yang bagian luarnya seperti diberi tepung panir, berbeda dengan sate babi Bangka, yang agak mirip dengan yang saya temukan di Jakarta, cuma daging babi dari daerah biasanya lebih enak, lebih tidak bau. Oh ya, sate babinya tidak menggunakan saus kacang, sekali lagi.. beda dengan sate babi Bangka.
Satu lagi yang saya mau komentari tentang satu2nya makanan Bangka di sini, adalah mie goreng. Bukan sembarang mie goreng lho, karena kalau yang masak orang Bangka, rasanya lain, karena ada perbedaan dalam bumbu.
Mie-nya mie telor biasa, tapi sering kali dapat ditemukan irisan timun, wortel dan bengkoang dalam komposisinya. Katanya, bengkoang memberikan rasa manis alami. Mungkin kecapnya yang membuat kesan berbeda, kecap yang digunakan adalah kecap asin. Yang ini juga halal, karena hanya menggunakan minyak goreng dan daging ayam.. kalau versi aslinya... pasti menggunakan unsur2 babi.
Sop baso-nya laku keras.... beberapa kali harus ditambah. Sayangnya saya mendapatkan edisi tanpa fukian :( Fukian adalah sejenis otak-otak yang dibungkus kulit kembang tahu lalu digoreng. Saya jadi kepengen ke Belitung nih... kapan ya?
Posted by devi at 03:40 PM
| Comments (0)
January 05, 2005
LPB - JTO III : Emeritus Eyang Kakung
Definition: [adj] honorably retired from assigned duties and retaining your title along with the additional title `emeritus' as in"professor emeritus"; "retired from `assigned duties'" does not necessarily imply that one is inactive. (source: hyperdictionary)
Katanya, di dunia cuma ada dua profesi yang mengenal istilah emeritus. Yang pertama Profesor atau Guru Besar, yang kedua adalah Pendeta.
Eyang Kakungnya Joel, Pendeta Suki Yahya Adiwidjaja resmi emeritus tanggal 11 Desember 2004 di GKJ Salatiga Utara.
Inilah salah satu alasan kedatangan kami sekeluarga ke Salatiga, menghadiri acara emeritus Bapak, I call him Bapak, sebagaimana Pampi memanggil beliau.
Pagi itu Pampi, Joel and I berangkat dari perumahan Arga Mas, kediaman dari Mama Windar (ibu mertua kakaknya Pampi - Mas Koko). Setelah melewati pagi yang cukup rusuh, dandan, ngurus Joel dll - maklum masih adaptasi, biasanya ada nanny yang membantu- akhirnya kami selesai juga, yap.. tancap gas, menuju Blotongan, Salatiga Utara.
Setelah parkir, kami masuk pekarangan gereja, disambut dengan gamelan plus sinden di pelataran, saya mendadak merasa I'm not belong to this place, but I think I'm gonna like it. Kami masuk ke pastori, menitipkan barang-barang dan semua keperluan Joel dan meninggalkan Joel ke Eyang Mama Windar yang dengan happy sekali menyambut tugas mengasuh si lutju Joel.
Joel tampak terbawa dengan alunan gamelan, matanya sudah sayup-sayup.. hehehehehee....
Di dalam gereja
Saya dan Pampi duduk di sebelah Mbah. Mbah ini umurnya sudah 80 lebih, bayangkan betapa tuanya beliau, jika anaknya saja sudah pensiun dan sudah berumur 62? Mbahnya Pampi ini masih punya penglihatan yang bagus, tidak dibantu kaca mata, pendengaran juga masih baik, juga masih kuat travelling Solo-Salatiga. Si Mbah tidak berubah dari pertama saya bertemu dengannya, begitu riang gembira dan selalu tersenyum.
Setelah semua jemaat masuk, masuklah iring2an pendeta dalam baju kebesarannya. Begitu megah... Ada juga pendeta senior yang mengenakan baju jawa, blangkon lengkap dengan kerisnya. Mas Koko ikut juga dalam iring2an ini.
Acara ini 90% berbahasa Jawa, dan 75% adalah bahasa Jawa halus. Can u imagine what should I do inside? Saya sibuk menekuri buku acara, supaya saya mengerti ini lagi ngapain.. sekarang kita sedang apa, karena berbeda dengan kalangan Pentakosta, gereja-gereja seperti GKJ ini liturgis sekali, ceremonial sekali, semua sudah ada urutannya dan semua tercantum di buku.
Acara emeritus ini berbarengan juga dengan acara pentahbisan pendeta baru untuk gereja ini.
Untuk pendeta yang emeritus ada session khotbah wuragil, artinya khotbah terakhir. Saya bisa merasakan suasana haru, karena Bapak sudah menjadi Bapa bagi jemaat Salatiga Utara, atau warga; begitu istilah yang lazim di kalangan GKJ; selama lebih dari 15 tahun. Begitu juga Ibu, yang telah mendampingi Bapak selama itu. Sebelumnya Bapak telah menjadi pendeta juga di GKJ di daerah Solo. Saya kurang tahu pasti, sudah berapa tahun beliau mengabdi.
Saya membaca profil Bapak di buku acara. Sungguh banyak hal yang belum saya ketahui selama ini, dan saya menjadi bangga boleh menjadi bagian dari keluarganya. Jika sekarang gedung gereja begitu megah, dulu tempat ini jauh dari kata megah. Juga hubungan baik yang sudah mereka jalin dengan penduduk sekitar yang tadinya 'memusuhi' gereja. Bapak Suki Yahya, adalah pribadi yang sangat dedicated pada pelayanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Sempat dia bercerita kepada saya, jadi pendeta itu kadang-kadang harus merogoh kocek sendiri. :)
Sangat kontras dengan kehidupan pendeta2 yang saya kenal, yang begitu berkecukupan dalam hidupnya bahkan lebih. Jemaat yang Bapak gembalakan, bukanlah dari kalangan menengah ke atas, kebanyakan berada di area grass root.
Dan yang jadi kebanggan Bapak dan Ibu adalah, keempat putranya sudah menjadi sarjana, semua kuliah di universitas swasta, yang rasanya kalau dipikir dengan akal manusia, tidak mungkin mereka berdua sanggup menyekolahkan anak mereka sampai ke jenjang demikian.
Walaupun saya tidak ngeh dengan apa yang sedang dikatakan di mimbar, saya bisa merasakan kebanggaan Bapak meninggalkan pelayanannya dengan nilai cum laude. GKJ Salatiga Utara telah menjadi gereja yang mandiri, gedung juga sudah megah, anak2 juga sudah berhasil... apa yang bisa membuat seorang ayah bisa lebih bangga lagi?
Pendeta senior yang juga sudah emeritus duluan, Mbah Brotosemedi (yang membaptis Pampi ketika masih bayi dulu), memberikan wejangan. Setelah itu dinyanyikan lagu yang saya cuma tau bahasa Inggrisnya, God Will Take Care of You. Saya menangkap suasana yang lebih haru lagi... lagu ini berbicara untuk Bapak dan Ibu, supaya jangan kuatir akan hidup mereka selanjutnya, karena Tuhan memelihara mereka. Hiks.. haru biru deh...
Setelah acara selesai
Saya lapar bukan main, dari tadi pagi sudah kelaparan. Di meja makan sudah tersedia macam-macam makanan hantaran dan semuanya otentik! Ada semar mendem, garang asem, botok, serabi Notosuman Solo, bandeng, dan masih banyak lagi. Ini hantaran khusus untuk Bapak dan Ibu. Di luar gereja sendiri ada makanan katering, tapi saya lebih berminat dengan makanan yang ada di dalam rumah ini.. otentik, bo.
Joel menjadi piala bergilir, maklum yang pertama di generasinya. Digendong oleh saudara-saudara yang datang sampai akhirnya Joel digendong Mbah. Mbah senang sekali menjadi buyut.... Dah sepuh banget ya, Mbah :)
Posted by devi at 02:57 PM
| Comments (1)
December 30, 2004
LPB - JTO II : Sepanjang Jalur Pantura
Menjelang Cirebon, sekitar jam 5.30 pagi, matahari dah merekah di ufuk timur, semburat jingga mewarnai langit pagi.
Ada kecelakaan di jalan, sehingga arus jalan tersendat.
Pelupuk mata si kecil pun mulai merekah.. dalam kebingungannya dia terdiam, 'Di mana aku??!!!!' mungkin begitu pikirnya. Setelah kesadarannya kembali, langsung dia menjerit:'Waaaaa!!!!!'
:D What a mom should do? Langsung saya sodorkan sebotol hangat susu, lagi-lagi ditolak mentah2.. ya wis.... air putih, glek glek. Saya ajak nyanyi saja. Ketawa-ketawa sebentar... lalu dia pun memejamkan matanya lagi, melanjutkan tidur yang terusik kemacetan.
Melaju di tol Panci (Palimanan - Kanci), Joel masih pulas dalam pelukan car seatnya. Pampi masih serius dengan Vivi... me??? ya ngapain lagi kalo tidak memanfaatkan waktu buat beristirahat. Jalan serasa tak berujung...
Kota Tegal.. mampir untuk isi bensin. Terpaksa Pertamax, no choice. Buat mobil seperti Vivi, bbm-nya harus TT (Tanpa Timbal).
Restoran PringSewu, 1km. Pring Sewu, restoran taman, 500 m. Pring Sewu, restoran taman, 100m, sebelah kiri. Jam 1/2 9 pagi saat itu. Di Pring Sewu, kami beristirahat sejenak sambil memesan sarapan. Nasi goreng, sop jagung kepiting, kopi ginseng, jeruk hangat jadi menu makan pagi kami dan tidak ketinggalan biskuit bayi rasa jeruk buat Joel :) Sebenarnya mereka menyediakan baby chair, tapi satu2nya baby chair yg mereka punya sedang digunakan oleh keluarga lain, jadi saya harus mengambil stroller dari bagasi.
Suasananya menyenangkan di sini. Menyegarkan jiwa, selalu begitu jika saya sedang berada di daerah Jawa Tengah, hati ini terasa damai. Staff Pring Sewu juga sangat tanggap dengan kebutuhan kita. Dari pintu depan, membantu membawakan stroller, juga keramahan tulus yang mereka berikan.
Komentar tentang makanan: Nasi goreng enak, sopnya : forget it.. kepitingnya dah ga fresh, sehingga merusak rasa.
Masih di daerah Tegal dan sekitarnya..
'Engghhh..engghhh'
'Hun... Joek pup'
Heheheheh... begitulah kalo membawa bayi, dia belum bisa bilang mau pup. Kalo saya cukup melihat ekspresi wajahnya, kalo dia kelihatan sibuk berkonsentrasi dengan muka merah padam, berarti itu saatnya. Kami berhenti di pom bensin terdekat untuk melayani kebutuhan si kecil. Wihhh... kembail ke mobil, baunya dah semerbak.... O ya saya sempat beli jajanan tahu sumedang.
Tidak ada yang spesial sepanjang Pemalang - Pekalongan kecuali si kecil yang sedikit rewel karena bosan di mobil terus. Jam 11-an siang, kami sudah di Weleri, memasuki kota Semarang. Saya agak kuatir, karena butuh 2 jam untuk sampai Salatiga, pdhal Joel makan siang jam 12. Sms dari kediaman eyang datang terus menanyakan cucu Joel yang tak kunjung sampai.
Jam 12.15 Ungaran... Joel dah mulai menunjukkan tanda2 kelaparan berat sehingga siap menjerit sekeras2nya. Untung ada biskuit untuk antisipasi. Maaf ya, nak... jadwalmu terganggu. Tiba-tiba ponsel Pampi bunyi dan ada penelepon genit di ujung sana yang hendak mengajak kencan, *Koyo koyo.. abis bertapa kok jadi makin bingung dengan identitasnya :D*
Jam 1 kurang... akhirnya sampe juga di kota sejuk Salatiga.... Uhhh capek...
Posted by devi at 05:02 PM
| Comments (2)
December 29, 2004
Libur Panjang Banget - Jawa Tengah Overland I : Persiapan Sampai Berangkat
Desember merupakan bulan yang agak saya kuatirkan, karena selalu membuat saya terjangkit sejenis virus bernama virus PL. Virus ini membuat tubuh terasa lesu dan tidak bisa konsentrasi kerja, berhalusinasi terlalu jauh dan masih banyak lagi gejala lainnya.
Gawatnya lagi virus ini susah obatnya, juga sulit mencegahnya, karena kita tidak bisa menghindari bulan Desember dalam tanggalan kita. Cara satu2nya cuma menghilangkan bulan Desember dari tanggalan.
Bingung.. ga perlu bingung apalagi googling apakah PL itu... PL itu singkatan Pengen Libur :)
Demi mengobati sakit PL ini, me n me hubby n me baby Joel, melanglang ke Salatiga bersama Vivi yang setia. Diambillah tanggal 10 Desember (Jumat) sebagai hari keberangkatan kita. Sehari sebelumnya me n hubby dah cuti. Saya packing2 dan hubby mempersiapkan Vivi agar tetap dapat diandalkan dalam perjalanan nanti.
Repot juga mempersiapkan perlengkapan si bayi. Yang lebih repot lagi, si bayi lagi dalam kondisi emoh mik cucu. Setiap malam kudu pake acara dicekokin minum susu ini. Barang si bayi satu koper sendiri, blom lagi tas tangannya, sedangkan papa mamanya cukup share satu koper. Hasil akhir, 2 koper, 1 travelling bag dan satu tas perlengkapan bayi untuk di mobil.
9 Desember siang, Pampi dah menenangkan diri di tempat tidur. Kita berangkat jam 2 pagi, agar Joel sedang dalam keadaan tidur lelap, sehingga selama perjalanan kita tidak perlu banyak mengurusi bayi yang rewel karena bosan di dalam mobil terus.
Malam itu saya agak susah tidur... adrenalin mengalir terlalu deras. Adventure, man! Senengnya ke Jateng bermobil dan hanya kami bertiga, keluarga kecil kami. Jam 01.30, alarm berbunyi... tanpa ba bi bu lagi Pampi & I lgs sibuk sana sini. Barang-barang masukin bagasi, car seat dipasang, Vivi dipanaskan. Setelah ini semua beres, baru kita menjemput si bayi yang sedang tidur nyenyak sekali di box-nya.
Ok.. semua dah di tempatnya. Bayi dah attached to his car seat. Vivi dah anget, dah siap jalan.. Jam 2 tepat, kami jalan meninggalkan rumah. Bye, rumah.
Doa dulu, supaya Tuhan menjaga perjalanan ini. Tidak lupa Pampi menenggak obat kuat eh minuman tenaga instant.. melajulah kita meninggalkan Tanjung Duren. Masuk Slipi, tol.. dan voila.... dalam waktu sekejap kita sudah di Karawang.
Saya lirik si kecil... masih bobo.. ya wis.. Saya juga terkantuk-kantuk di bangku belakang, sementara Pampi sedang konsen dengan jalanan. Maaf ya hun, ga kuat nih nahan kantuk... bobo bentar yaaaaa....
Posted by devi at 02:11 PM
| Comments (2)
December 07, 2004
Suatu Malam di Blok S
Malam minggu tanggal 4 Desember, me and hubby jagong ke kawinan temen seperjuangannya si hubby di kawasan Kemang sana.
Rada susah nyarinya karena kita berdua buta ama daerah Kemang. Kita berangkat jam 7 pdhal di undangan tertulis jam 7 juga... dah ternyata macet..... :( Kita berdua waktu blom married emang jarang malammingguan.. jd kurang mengerti kondisi Jakarta di hari Sabtu malam.
Kurang lebih jam 8 malem.. nyampelah kita ke gedung resepsinya (sempet nyasar sih :d) eh.. makanannya dah pada abis, yah salah ndiri telat.. so.. pulang resepsi kita nyari makan lagi deh..
20.45 Jd kita pun menyusuri Kemang.. sambil menyadari dalam hati.. betapa dah tuanya kita, karena bersliweran banyak wajah yg masih kinyis2 di sepanjang Kemang. Lalu tiba2.. jebuleee... kita keluar di Senopati :D trus Pampi berinisiatif makan NGK (nasi goreng kambing) nostalgianya.
Jadi kita mbelok kiri.. eh kok nyasar ya... muter balik lagi... maju dikit lagi, baru mbelok kiri lagi. Nah kali ini bener..
21.15 Banyak keramaian dan banyak orang dan banyak warung.
Pemuda2 di sana langsung berinisiatif markirin. Satu team terdiri dari 4 orang. Canggih deh pelayanan parkir di sini....
Lalu kita jalan ke tempat NGK itu.. bukan tenda tapi ada tempat permanennya. Tertera di plang namanya: LALAN, aneka nasi goreng, khas betawi.
Pampie pesen NGK, aku pesen NGS, alias nasgor seafood. Aku anti ama embek.
Akhirnya kita didudukin di bawah tenda juga.. krn di dalam warungnya dah penuh. Abis itu Pampi cerita kalo yg enak tuh NGKnya. Pas dateng baru tau.. yg namanya NG selaen NGK itu sebenernya NG yang dimasak massal, trus baru dikasih topping apa sesuai pesanan -- ayam, udang, cumi, dll.
Sedangkan NGK-nya dimasak dr dagingnya masih mentah, jadi ada rasa kaldu embeknya gitu. Jadi.. NGSnya ga terasa nyaman di lidahku. Ya wis deh.. terusin aja makannya :)
Sambil makan.. kita didatengi para sales lagu, yang ternyata tukang parkir kita tadi.. mas mas.. profesi ganda ya mas.
Lalu lalang juga di depan kita, sales rokok Gudang Garam. Sales-sales cantik manis ini menawari pria2 yg eye catching di matanya (buat sales sih.. semua orang ya eye catching lah yaaa :D)
Kita share meja ama bbrp orang, nguping itu seru juga yak! Kayaknya yg duduk di depan kita ini kerja di EO deh, dari cerita soal politik perusahaan rokok dalam menjegal perusahaan rokok lain yang ingin bikin event di kota tertentu, sampe cerita ttg salah satu ahli hipnotis indo yang lagi naik daun yang katanya temen sekolahnya.
21.50 Cabut... Melihat tulisan di plang sebuah warman, bertanyalah aku pada Pampi dalam mobil: 'Ini Blok S ya?' Kata Pampi: 'Ga tau, tuh'
Masih rame juga tempat ini ketika kita melintas mau pulang.
Ya begitu cerita yang kurang seru dari Blok S*.
*Taunya ini Blok S dari Febi.. setelah diinterogasi besok besoknya
Posted by devi at 05:51 PM
| Comments (0)
April 14, 2004
SUMMER @ VIENNA, June 2003

*lagi kangen berat ama Wina*
festival musim panas Danube..
bergegas kita ke sana..
menelusuri kepanjangan sungai
mendekap kehangatan langit Austria
menyapa itik-itik hijau yang berceloteh riang..
terpaku aku pada dia
yang tampak eksentrik berdiri menantang jaman
rona wajahmu sungguh cantik dan menakjubkan
cantik walaupun umurmu sudah lebih dari seperempat abad
ket. foto:
pampi with mobil pos tua di festival Danube - Vienna/Austria
foto2 honeymoon yang lain bisa dilihat di sini
Posted by devi at 10:10 PM
| Comments (0)
December 04, 2003
Visiting Mid Valley & KL Sentral
Tujuan hari ini adalah Mid Valley MegaMall. Sebenarnya maen ke mall itu ga exciting.. hehehee... ga ada istimewanya.
Tapi berhubung ini mall terbesar di KL, it worths trying!
So hari ini after berleha-leha ditemani Oprah di StarWorld.... I left the hotel by 3 pm, ntar janjian ketemu di KL Sentral ama Pampi (hubby), after class. Penasaran juga pengen liat KL Sentral, abis kata Pampi tuh tempat bagus en keren, getu.
OK.. setelah aku amati di peta (Vienna sudah mengajarkan banyak ttg mengandalkan peta.. ..) aku lihat perhentian terdekat dari Mid Valley adalah stesen Abdullah Hukum, 2 stasiun setelah KL Sentral. Naek PutraLRT dari stesen Dang Wangi, agak jauh perjalanan kali ini, sekitar 4 stasiun.
Sampai di stesen Bangsar, banyak yang turun, aku jelas heran ketika menjadi satu2nya penumpang yang turun di Abdullah Hukum. Rasa aneh tiba2 menyergap begitu turun di stesen ini. Dan.. terjawab sudah rasa tak nyaman di dada ini ketika meninggalkan stesen. Aku ada di daerah perkampungan, suburban.
Lost in space?
Mid Valley jelas di depan mata.. tapi dibatasi oleh jalan tol yang super lebar! So.. duh... gimana nih? Rasanya lost in space deh...
Memberanikan diri menyeberangi jalan.. aku susuri aja perkampungan ini, kadang2 diiringi tatapan mata penduduk setempat. Ini daerah perkampungan Melayu, yang letaknya rada di bawah tanah begitu. mengingatkan pada kali Code di Yogya.. tapi tentu versi lebih rapih.
God help! I just couldn't find how to cross this so wide street. Kayaknya ga mungkin manjat2 pembatas jalan seperti yang dilakukan bbrp pria dengan kondisi hamil begini, what a shame buat seorang wanita berbaju hamil memanjat pembatas jalan.. uh... I won't think about that.

Pdhal mall-nya udah dekat banget.. di depan mata.. benar2 di depan mata...
Terpaksa aku jalan lagi.. ga ada pilihan selain menyusuri jalan, jangan tanya capeknya, blom lagi bingung menentukan arah hanya ikuti intuisi perempuanku. Akhirnya nyampe di Bangsar, it means, one station before Abdullah Hukum! See.. aku jalan sangat jauh.. dan ga bakal aku lakuin lagi next time. Huh.. laen kali tetap harus tanya2 penduduk lokal dong yaaaaa.. jangan sok teu makanyaaaa.... 
Di halte di bawah stesen Bangsar.. dalam kelelahan yang sangat.. aku beli soya milk.. untung dapat tempat duduk di halte. Cape sekali ... huhuhuhuu .. pengen nangis deh...
Tapi...eitssss... ntar dulu tiba2 mataku tertumbuk pada sebuah bus yang berhenti di halte, dan ada tulisan Free Shuttle Service Bangsar - Mid Valley - Bangsar! Oouccchhh!!!!! Tertipu diriku ini... kenapa ga dari tadi.. kenapa ga cari info dulu!!!! 
But, I should wait for another bus, karena otakku agak lama juga mencerna kenyataan ini, mungkin karena blum lunch pada pukul 3.30 pm?!! will catch the next bus, I promise!
Akhirnyaaaaaa............... leganya ketika berada dalam bus shelter ini. Hebat juga si Mid Valley menyediakan bus gratis kayak gini. Memang mall-nya agak susah terjangkau pejalan kaki, kalau jalan dari Bangsar kan lumayan jauh. Hmm... komentarku, orang Malaysia ini tertib deh, bus-nya memang bukan bus yang mewah sekali, tapi kondisinya cukup baik-lah.. ber-AC, dan walaupun pintu keluar dan pintu masuk sama, mereka tertib menunggu yang keluar untuk turun duluan. Dr M (Mahathir) telah meninggalkan budaya yang bagus untuk bangsa Melayu satu ini. Hmmhh... iri deh...
Nah...sampe juga di Mid Valley yang mega ini. Buesarr sekali, lebih besar dari Mall Taman Anggrek. Ada bbrp Dept. Store besar di sini. Carrefour juga ada. FYI, di sini Carrefour hanya terletak di pinggir kota. Ok! Before browsing, perut harus diisi dulu dong, laper sangat nih.
Lunch time at AyamNor
Ga ada alasan khusus kenapa kupilih tempat ini. Tertarik aja dengan tema Ayam Golek yang swear.. sampai detik ini blom kutemui artinya... heehehhee.
Mengaku sebagai Citarasa Melayu asli..AyamNor memang menawarkan banyak sekali pilihan. Kali ini karena kangen sate, aku pilih Satay 1/2 porsi (1/2 dozen); campuran beef ama chicken dan pilih horlick untuk temen makan yang ga jelas juga minuman apa ini.
Datanglah 6 tusuk sate + lontong.
Sauce-nya dihidangkan terpisah dalam sebuah mangkok kecil. Tasty? Lumayan? Yang pasti aku laper buangetthhh... Tapi masih enakan sate madura yang suka lewat depan rumah.. bau arangnya enaakkkk.
Udah kenyang.. aku mulai browsing. Yup.. ini benar2 tempat yang extra besar. Jadi bingung mau ke mana.. berhenti di Center Court.. melihat2 suasana menjelang Natal di sini.
Akhirnya aku jalan ke Carrefour, I love Carrefour lho, ini adalah tempat belanja favoritku, karena kelengkapan dan kepeduliannya terhadap orang disable. Pengendara kursi roda pasti merasa nyaman jalan di Carrefour.
Aku beli diapers newborn, dapet juga.. soalnya rada susah cari di Jakarta (setelah kembali ke Jakarta, aku menemukannya di Carrefour ITC Kuningan .. kesel kan!!!!).
Udah nunjukin jam 6 pm, Pampi juga udah call, itu artinya aku kudu get in hurry to KL Sentral. Oks deh..
KL Sentral Station
Waaahhhh... Ini emang tempat yang mengagumkan. Rasanya airport Soekarno-Hatta aja kalah lho, padahal ini stasiun kereta! So international taste.
Bayangkan, dari sini KLIA Ekspres berangkat tiap hari, tiap 15 menit ke KLIA, dan cuma 28 menit to get there. Kereeennn...
Di sini juga bisa city check in, juga bisa nitipin mobil untuk 1 malam free of charge, kalo check in dari sini. Luar biasa deh Malaysia ini, bener2 bikin pengen...
Puas mengagumi kemegahan Stesen KL Sentral, mampir bentar di Guardian untuk liat-liat harga, kita berdua nyebrang untuk ganti ke monorail.
to be continued
Posted by devi at 10:00 AM
| Comments (0)
December 03, 2003
Mystical India
Day 4..
Walaupun saya suka memberikan label 'norak' pada film2 & lagu India, sebenarnya masyarakat Indonesia termasuk saya sangat dekat dengan kebudayaan India.
Dulu waktu masih SD & SMP, saya suka nonton film India, waktu TVRI jadi satu2nya alternatif. Saya ingat pernah nonton Tarzan versi India di bioskop, dan film2 lain yang saya sudah tidak ingat lagi dari TV3 Malaysia.
Sampai sekarang saya masih ingat bbrp lagu dari film Tarzan itu.
Dengan durasi minimal 3 jam belum termasuk iklan, saya sering ketiduran menontonnya, tapi tetap saja saya menontonnya, saya tanya pada diri saya sendiri, kenapa? Karena lucu..
Setelah SMA, film2 India tidak pernah lagi jadi menu tontonan saya. Sekarang saya sudah jadi masyarakat 'intelek' :D 'Keintelekan' saya membuat saya tidak memandang sebelah mata pada film2 India.
Apalagi kecenderungan pembantu kost dan kalangan bawah menonton film India membuat saya makin emoh, sama seperti saya emoh nonton sinetron Indonesia (kecuali Bajaj Bajuri), emoh nonton telenovela.
Saya semakin 'intelek'.
Tapi ketika Kuch Kuch Hota Hoi santer dibicarakan, saya tonton juga VCD-nya tahun 2001. Well.. saya nilai sudah ada perubahan yang terjadi. Lebih modern, tapi lagu dan tarian tetap saja membuat jalan ceritanya jadi terganggu buat saya. Ide cerita masih mirip dengan yang lama, kurang berkembang.. yang pasti orangnya makin cakep :) hehehehee.
Anyway... industri film Bollywood itu luar biasa produktif. Tentunya inilah salah satu mesin pencetak uang India. Sama seperti industri rokok buat Indonesia, benci tapi sayang.
Lepas dari semua itu, India terkenal dengan budayanya. Saya tertarik dengan budaya mereka. Apalagi nama Devi yang melekat di diri saya, membuat saya sering dipanggil di ruang chatting kalau bukan oleh orang India, ya orang Pakistan atau Sri Lanka.
Orang India itu menarik, gaya bicaranya, goyangan kepalanya ketika bicara, logat bahasa Inggrisnya yang eksotis.. sareenya yang cantik, pakaiannya yang berwarna-warni, aromaterapi, kamasutra, intinya orang India itu bukan tipe yang 'straight2' aja. Hidup mereka penuh warna.
Pernikahan, kelahiran, kematian, apa pun bisa jadi momen penuh warna.
Hari ini saya mengunjungi pemukiman India di KL, di kawasan Abdul Rahman dan Mesjid India. India menjadi salah satu etnis penting di Malaysia, you can see Indians anywhere. Mereka menjadi pedagang makanan, pedagang tekstil, supir taxi, pengusaha, karyawan, direktur dan juga jabatan2 penting di pemerintahan.
Saya pernah menemukan menu di sebuah resto di KL yang memberikan tanda *mengandungi beef :) Ya.. kita bisa nilai dari situ, ga cukup label halal di sini.
Etnis India di Malaysia terdiri dari India Hindu dan India Muslim, mungkin ada juga yang beragama Kristen or Budha, tapi kemungkinan mereka adalah minoritas.
Saya turun di stesyen LRT Masjid Jamek. Di sepanjang jalan sudah saya lihat deretan orang berjualan. Harum cendana dan melati bercampur kari sudah tercium dari jarak 10 meter :) Tapi yang dijual di sini mirip dengan daerah Tanah Abang di Jakarta, jam tangan, kaca mata, ikat pinggang, jamu2an, juga jamu dari Indonesia.
Saya susuri saja jalan itu, agak ngeri nyasar, dan ngeri juga karena berada di kawasan 'asing'. Wajah wajah hitam kelam menatap tanpa kata2. Semakin saya berjalan, semakin saya merasa terdampar.
Banyak tekstil, banyak bunga, ternyata tidak melulu orang India yang berjualan, saya lihat wajah Chinese dan Melayu juga.
Lapar menyengat, jam 2.00 saat itu. Saya menemukan warung, saya ingin mampir, tapi seperti ada yang mencegah saya... saya berjalan lagi, kali ini saya masuk kawasan India muslim. Beberapa toko borongan saya masuki; saya tidak tau persamannya dengan toko di Indo, mungkin seperti toko retail? Barang2 yang ditawarkan juga bukan yang dari high quality, juga bukan dari merek terkenal. Saya sedang mencari obeng untuk suami saya untuk benerin laptopnya. I just couldn't find it. Kebanyakan yang dijual adalah pakaian, dengan mutu seadanya.
Beberapa toko terkenal di sini adalah Kamdar, GlobeSilk Store juga Tang Ling (yang terakhir ini sepertinya dimiliki orang Chinese). Harganya so so, tidak terlalu murah juga menurut saya. Saya ga beli apa2 di sini.
Di mana-mana terdengar lagu India, bahkan ada lagunya yang saya tidak asing, karena ternyata lagu itu sama persis dengan lagu dangdut yang pernah saya dengar di kawinan tetangga saya.
Suasana agak mistis di sini.. hawa spiritualnya begitu berasa. Patung dewa, alat2 sembayang Hindu, membuat saya agak merasa 'gimana gitu', blom lagi memandangi wajah Syiva (Dewa Siwa) yang hampir selalu ada di toko2 pedagang di sini.
Sempat terbengong-bengon dengan motto sebuah toko borongan; Kamdar; Memang Berbaloi, dan sampai hari ini saya belum juga tau arti 'berbaloi' ini.
Lelah berjalan, saya temukan juga jalan Abdul Rahman, segera saya masuk ke Sogo, cari makan, sudah jam 3.30, kasian baby saya pasti sudah lapar sekali.
Nasi ayam wijen hanya RM 3.5 .. habis itu saya belanja di supermarket Sogo, seneng melihat banyaknya jenis minuman kaleng yang ditawarkan. Tidak lupa beli susu Dutch Lady kegemaran suami. Suami saya, Pampi, sangat suka dengan produk susu dari Dutch Lady, sayangnya di Indon (demikian orang Malaysia menyebut Indonesia) Dutch Lady agak mahal.
Sale besar juga terjadi di sini. Sebenernya saya agak ragu dengan istilah sale ini, ini beneran diskon atau trik penjualan seperti Dept. Store di Indo? Saya beli ikat pinggang buat suami dan buat saya. Di sini penjaganya lebih ramah.. tapi saya bete diikutin terus geraknya, mau lihat ini dideketin, lihat itu diikutin, risih....
Bener-bener capek kali ini, rasanya sudah tidak sanggup berjalan lagi. Akhirnya saya duduk-duduk di luar Sogo, menggoyang-goyang kaki supaya penat berlalu. Duduk dekat2 saya ABG-ABG Malaysia yang sedang bercengkrama. Saya perhatikan mostly wanita/gadis di sini mengenakan jilbab, jarang yang tidak. Tapi tidak semua berpakaian muslim. Sering malah baju lengan pendek dan jeans. Saya kurang tahu apakah ini memang diperbolehkan di Islam?
Sementara gadis2 Chinese, pakaiannya cukup berani, celana yang super pendek sering saya temui bersliweran di mall. Di sini cukup unik, tiap daerah di KL punya komunitas sendiri. Ada komunitas berbahasa Mandarin, ada juga yang Hakka (Khek), Kanton (Konghu) juga Hokkien. Kadang2 antar komunitas ini menggunakan bahasa Inggris karena saling tidak mengerti :)
Lagi-lagi saya diajak berbahasa Chinese, sepertinya Hokkien... gimana nih..
Di seberang Sogo ada pertokoan berjudul Pertama Complex, katanya ini termasuk yang pertama di KL. Saya coba mampir, mmm... agak mirip Sungei Wang tapi lebih tua dan kurang keren, lebih mirip toko2 di Pasar Baru Jakarta. Saya mengurungkan niat untuk buang air kecil setelah melihat ada charge yang dikenakan, RM 0.3 ... oohhh??? Becanda kamu..
Saya mau pulang, tapi saya bingung, where am I? Peta tidak terlalu membantu saat ini, karena tidak ada GPS :) akhirnya saya beranikan diri tanya seorang wanita Malay tentang stasiun tujuan saya, kali ini saya berbahasa Indonesia, karena katanya orang Malay suka kalau kita berbahasa Indonesia dengan mereka. Ibu yang baik ini menunjukkan arah kepada saya dengan jempolnya... FYI, di KL, orang2 (semua etnis) menunjuk dengan menggunakan jempol.. waahhh sopan sekali ya... kayak orang Jawa, suami saya yang Jawa aja ga begitu.
Kurang lebih jam 6 kurang saya sudah naek KL Monorail dari Medan Tuanku ke Bukit Nanas. Jam 6 lewat dikit saya sudah berendam air hangat di hotel sambil menunggu suami yang pulang telat, karena hari ini ada acara dinner dari tempat trainingnya.
Posted by devi at 12:14 PM
| Comments (1)
December 02, 2003
Walking to the Star
Day three.
Habis sarapan pagi ini, saya menemani suami menunggu taxi yang akan mengantarnya ke Subang Jaya. Hanya taxi MPV yang bersedia pergi sejauh itu.. about 45 mins to 1 hour drive.
Habis itu saya balik lagi ke kamar untuk tidur dan istirahat.
Terbangun jam 12.. nikmat sekali tidurnya.. hmmmhhh..
Hari ini saya akan ke Bukit Bintang, kata Pampi sekitar RM 5 naik taxi.
Tapi saya mau naek monorail aja, kind of LRT juga, tapi ini ada drivernya ga seperti LRT-STAR ato PUTRA yang 100% automated.
Stasiun terdekat adalah Bukit Nanas, 5 menit jalan kaki dari hotel.
Dengan bermodalkan peta saja, saya akan menyusuri Bukit Bintang yang terkenal sebagai daerah belanja dan Bintang Walk-nya di malam hari.
Beda dengan di Wina yang sangat loose penjagaannya, di sini kita harus beli tiket di loket atau vending machine. Lalu kita akan menerima magnetic card yang sudah diisi sesuai dengan nominal yang kita beli. Saya selalu beli pas-pasan :)
Untuk masuk ke dalam area tunggu, insert the card, mesin akan membaca nominal, kalau ada isinya, maka jalan akan dibuka buat kita. RM 1.2 dari Bukit Nanas ke Bukit Bintang, 2 stasiun saja dari sini.
FYI, Monorail ini baru beroperasi bulan Agustus 2003, jadi masih baru banget, dan baru satu gerbong sekali jalan.
Duh.. saya kagum sekali lho dengan monorailnya yang cakep itu. Mengkilat, dingin, bersih dan nyaman. Di dalam monorail kita tidak boleh makan, minum atau merokok.
Oh ya, saya notice juga satu hal lagi, di KL sepertinya tidak ada vandalism.. cmiiw. Saya ga liat coretan2 di stasiun2nya. Bersih.. juga bersih dari orang berjualan. Stasiun tampak lengang, banyak tempat2 kosong yang mestinya kalo di Jakarta pasti sudah dimanfaatkan oleh penjual teh botol atau rokok.
Ngomong2 soal transportasi, I think LRT ato monorail is the best solution. Traffic di KL sangat macet pada peak hours. Lagipula taxi di KL ini agak aneh.. jarang sopirnya yang mau pake argo dan mobilnya juga ga ada yang bagus2 kayak punya armada Blue Bird kita. Kalau mau taxi bagus, mobilnya berbentuk MPV dan argonya jelas beda. Yaahhh.. saya lebih suka naek LRT.
Check this out untuk melihat sistem transportasi di Malaysia The System.
Bukit Bintang..
Saya mau makan siang (or apa istilahnya untuk makan pada jam 3?) di jalan Alor, seperti yang disarankan oleh seorang temen milis JalanSutra, Lidia Tanod.
Jalan Bukit Bintang dipenuhi oleh budget hotel dan toko-toko sederhana.
Sempet kesasar.. akhirnya nyampe juga di Jalan Alor. Persis seperti kata Lidia, di awal jalan durian2 dipamerkan dan ohh.. menggoda sekali, tapi saya ingat pesan suami untuk tidak makan duren karena lagi hamil, walaupun rada2 tidak reasonable buat saya, saya pilih untuk nurut sama dia :) what a noble wife O:-)
Sayangnya banyak warung yang tutup. Sepertinya ini kawasan Chinese karena banyaknya warung2 menjual chinese food lengkap dengan huruf kanjinya. Ini bener2 disaster.. Walaupun keturunan chinese, saya buta huruf aksara Cina. So.. saya lihat aja yang ada tulisan bahasa Inggrisnya dan saya makin bingung mau makan apa. Deretannya jauh lebih panjang dari hawkers kemaren.
Akhirnya saya mampir di sebuah kedai mie.. dan saya disambut pake bahasa chinese.. sepertinya bahasa Kanton (Kongfu), akhirnya saya maksain bahasa ibu saya, Hakka, dan sepertinya saya ga punya pilihan selain mie kari, karena yang lain saya ga ngerti :D
Saya pesen Soya milk lagi, karena saya emang hobby banget ama minuman satu ini dan disajikan hangat lagi.. ini yang saya suka.
Datanglah mie kari. Berisi tahu, kentang, ayam 2 potong gede2 (hiyyyy) dan kerang-oyster(sepertinya mentah).
Enak juga sih.. tapi mblenek.. banyak. Saya abisin aja mie & tahunya, ayamnya hampir ga kesentuh, karena saya agak cerewet dalam makan ayam, harus bagian dada/sayap atau muncul dalam bentuk olahan (nugget, baso, sate, dll). RM 4.5 untuk semua ini.
Kali ini jalan ke Bukit Bintang Plaza. Mampir dulu ke MPH, sebuah toko buku yang cukup besar juga, mengingatkan pada toko buku di Plaza Indonesia.
Waahh.. ternyata isinya mostly buku bahasa Inggris dan harganya itu loh.. lebih murah dari Jakarta. Saya beli novel classic dari Penguin, Heidy dan buku dari kartunis beken Malaysia, Lat, berjudul Town Boy. I have fallen in love with Lat's since SMP, jd saya sangat excited ketemu buku dia dan harganya juga ga mahal kan. Habis RM 24 untuk ke-2 buku ini.
BB Plaza ini kurang lebih seperti ITC tapi versi lebih kecil. Di lantai bawah banyak yang berjualan HP & aksesoris.
Bukan designer's label deh pokoknya. Banyak barang dari Taiwan, Korea, etc.
Big sale juga terjadi di sini.
Lagi2 Parkson Grand di sini. Saya beli kaos kaki buat suami.. tertarik banget dengan harga seprei yang ditawarkan, sayang banget koper saya kecil.
Turun2 saya nemu supermarket Giant dengan logo persis Giant Indonesia, emang sama kali ya?
Di sini saya belanja roti coklat merk Sweetie, khas Malaysia, kali ini saya beli nasi lemaknya (FYI nasi lemak=nasi uduk), 2 bungkus nasi lemak sotong & rendang. Sepertinya yummy.
Keluar2 saya sudah berada di pintu keluar Sungei Wang.. lho? Bingung deh.. ternyata 2 plaza ini nyambung dan jujur saya ga tau di mana batasnya, yang saya tau bedanya kalo di Sungei Wang lebih banyak produk elektronik & computer sedangkan di BB Plaza lebih umum.
Plaza Sungei Wang berlogo dollar, mungkin memang itu arti Wang di sini. Stasiun Monorail Bukit Bintang berada persis di atas plaza ini. Karena saya udah cape sekali -- ibu hamil cepet cape -- saya langsung ke stasiun dan pulang ke hotel.
Berendam di bathtub... habis itu saya dinner sendiri nasi lemak sotong ya, wah lumayan juga lho rasanya dan pedasnya nikmat.
Setelah itu suami pulang dan berakhirlah kesendirian saya hari itu.
Posted by devi at 04:41 PM
| Comments (0)
December 01, 2003
Malaysia Truly Asia II
Bangun pagi.. jam 8 kurang atau jam 7 kurang di Jakarta..
Setelah mandi, kami berdua turun ke lantai dasar untuk sarapan di Lemon Garden Caf?.
Sempet bingung dengan banyaknya menu buffet yang ada.
Saya ambil chinese style, nasi putih+tahu Jepang+soun dan soup miso Jepang.
Soya milk was available too!
Ga tau kenapa, makan dikit aja udah kenyang.. mungkin karena masih kepagian buat tubuh saya. Terakhir di Wina.. rasanya ga kenyang2 sarapannya, maklum beda 5 jam dengan Jakarta waktu itu.
Melepas suami berangkat training ke Subang Jaya nan jauh, saya balik lagi ke kamar dan tidur, masih harus bedrest menurut jadwal.
What a boring ritual, tidur, nonton TV, baca koran, bikin teh, mandi, tidur lagi, baca buku, lihat jam sudah menunjukkan pukul 1/2 3 siang. Laper sih.. tapi males banget berangkat dari tempat tidur.
Tapi kesian mikirin anak dalam kandungan.. saya bersiap2 untuk berangkat cari makan deket2 hotel.
Setelah janjian dengan orang housekeeping untuk bersihin kamar jam 4, saya berangkat ke P. Ramlee.
Petualangan dimulai
Menyebrangi perempatan Sultan Ismail & P Ramlee sendirian; keadaan mirip Jakarta; lampu penyebrangan tidak sepenuhnya ditaati.. kecuali oleh turis :)
Hari ini saya udah berniat cobain makanan warung kaki lima or hawkers. Persis di seberang gedung Rohas Perkasa, tempat Schlumberger Malaysia berkantor, saya liat sederetan warung yang tertata rapi. Warung2 ini dikelola oleh pemerintah, tempatnya pun sudah disediakan, jadi para pedagang tinggal bayar sewa saja.
Cukup panjang deretannya di kanan dan kiri jalan.. tapi saya mau liat2 dulu, bingung juga mau makan apa, laksa, chinese food lagi, nasi campur (means nasi rames), tom yam kung, or indian cuisine.
Lalu saya putuskan makan di sebuah warung india.. saya selalu penasaran dengan makanan india. Setelah menginterview sang koki, akhirnya saya pesen nasi goreng ayam dan teh tarik small one :)
Teh tarik yang panas berbusa2, mengepul2 dihidangkan di depan saya.. slurpp... hummm enaknya. Di meja ada bungkusan yang saya tebak isinya nasi. Menunggu sebentar datanglah nasi goreng saya.. waahhh.. besar sangat nih porsinya?
Rasanya yummy deh, kari banget.. isinya telor, ayam, wortel dan bumbu kari tentunya. Ga kuat menghabiskan semuanya.. too much for me.
Ternyata harganya ga jauh ama mall, it cost me RM 5.8 for the food and the drink. Karena ga punya 20 cent, makanan saya didiskon jadi RM 5 saja :) Murah juga kan?
Sudah pulih energinya, saat ini jam 4.30 sore, saya jalan ke Suria KLCC lagi, ga jauh dari situ. Mau cari celana -- saya cuma bawa satu yang melekat di badan, karena bleeding, saya jadi kacau penataan bajunya.
Sebelumnya mampir dulu di FO Adidas, di jalan P. Ramlee juga.
Akhirnya dapat juga di Parkson Grand.. RM 34, ga mahal2 amat. Sama cari oleh2 buat my sisters, dapat satu kaos Elle yang lagi sale 50%, sekitar RM 26 jatuhnya.
Susah2 gampang juga cari baju di sini. Saya lihat penjaga counternya kurang ramah. Saya banyak tanya, takutnya beda prosedur mencoba bajunya. Belum lagi ukuran yang digunakan beda dengan di Indo. Mereka pakai size 6, 9, dst. Saya kan ga ngerti mereka pakai hitungan Amerika, Inggris ato Etiopia! Lalu saya jelaskan ke seorang penjaga--India, saya bukan orang sini, jadi maaf kalo saya banyak nanya :) Baru dia bersikap lebih ramah.
Maen2 ke Guardian; lagi ada sale. For my surprise.. Guardian di sini ramai sekali. Tidak seperti di Jakarta yang cenderung sepi karena imagenya mahal.
Tidak beli apa2.. terlalu rame.. pusingg... dan cape.
Oh udah jam 6.00 :)) grin grin.. Jadi lupa ama bedrest-nya :D I told my baby to be strong in mommy's womb. Lelah sekali rasanya oooooo...
Tapi saya tergoda dengan Cold Storage, sebuah supermarket di C level. FYI, saya ini sukaaa sekali menengok supermarket, biasanya untuk komparasi harga. Saya selalu happy berada dalam supermarket ato hypermarket kayak Carrefour, itu termasuk salah satu rekreasi buat saya.
Lagi2 saya menemukan soya milk kotakan en kalengan dijual dengan berbagai varian. Saya ambil yang dari Yeo's High Calcium. Beli juice anggur dengan merek yang sama dengan yang dipakai Malaysian Airlines, JOY. Beli biskuit en rumput laut buat my hubby tercinta.
Liat2 barang yang ada.... seneng deh rasanya. Heheehheehe...
Di counter depan ada jual nasi lemak sotong (cumi), nasi lemak kerang; RM 1.98 only , and nasi lemak rendang set. Saya liat2 aja.. blom laper soalnya.
Duh lelahnyaaa, suami blom akan pulang lagi pdhal sudah jam 7.00. Saya duduk2 di atrium. Melepaskan lelah sambil menunggu berita dari Pampi, my hubby, siapa tau dia ma janjian makan malam di sini.
Tapi setelah 1/2 jam duduk dan mendengarkan 2 keluarga yang duduk di kanan dan kiri saya bercakap2 dalam bahasa Indonesia & Jawa (saya senyum2 sendiri).. suami saya menyarankan pulang saja, karena dia baru jalan dari Subang Jaya.
Ya sudah.. saya jalan balik deh ke hotel. Lambat sekali lho jalannya :)
Malamnya suami pulang membawakan makanan yang dibelinya di mall Suria.. hehehe.. dia baru tau ternyata LRT (Light Rail Transit System) dari KL Sentral -- yang juga tempat city check in KLIA; juga tempat berangkatnya KLIA Express, kereta khusus dari KL Sentral ke KLIA-- berhenti juga di stasiun KLCC yang terletak persis di bawah Suria :) Asyik banget..
Posted by devi at 03:29 PM
| Comments (1)
November 30, 2003
Malaysia Truly Asia I
Saya sangat terkesan dengan keramahan receptionist ShangriLa KL. Ramah sekali, bahkan diantar sampai lift. Wow :) Setelah masuk kamar, lebih wow lagi.. jadi inget bulan Juni di Wina. Hotelnya mungkin sama ratenya, tapi kali ini berasa mewahnya. Fasilitasnya lebih ok! Khas Asia yang tentunya lebih ramah dibanding orang Eropa (baca: Austria).
Ini fasilitas yang tidak ada di my old-fashioned hotel Bosei di Wina:
- ruangan shower sendiri
- coffe & tea maker facility plus kopi, teh, gula en krimer (kopinya aja ada 2 macam, decaf dan cafeine, tehnya, english breakfast, jasmine tea & greentea)
- setrika dan board-nya
- complimentary shoe-shine
- complimentary mineral water
- meja tulis dan cermin dresser
- hanger 2 jenis, dengan dan tanpa jepit
- peralatan mandi komplit: shampoo+conditioner, body lotion, sikat gigi sepasang+odol, razor+cream, emery board untuk ngalusin kuku, bath-rope
- kolam renang+fitness center
- AC :D
- channel TV lebih banyak dan tidak didubbing ke bahasa mereka
pokoknya.. orang Asia memang cenderung lebih memanjakan tamunya.
Cek di kamar mandi, rupanya darah udah berhenti keluar, tetapi hari ini saya masih harus bedrest. Jadi saya baringan dulu sekalian melepaskan lelah karena kurang tidur malamnya.
Suria KLCC nan megah

Malamnya kami berdua jalan kaki ke Suria KLCC, ini adalah sebuah mall yang terletak di bawah kaki Petronas Twin Towers yang terkenal itu. Sepanjang jalan P.Ramlee bertaburan pub dan tempat makan. Hingar bingar musik sudah terdengar walaupun itu baru jam 7. Seorang turis Singapore membuntuti kami karena dia ingin ke supermarket tapi sama sekali blank ttg KL. Karena Pampi sudah pernah ke KL, sedikit banyak dia tahu daerah2 sekitar hotel seperti KLCC. FYI, KLCC --Kuala Lumpur City Centre-- dan sekitarnya; termasuk hotel kami di jalan Sultan Ismail; termasuk daerah Golden Triangle-nya KL.
Meninjau mall sejenak sebelum mampir ke food court.. mall ini cukup besar, mengingatkan pada Mall Taman Anggrek. Ramai sekali.. dan bersuasana Aidil Fitri (logat Malaysia nih..) Mall yang berspiritkan warna ungu ini lengkap juga direktorinya. Ada 3 jalan masuk ke mall ini, dari jalan Ampang --mereka sebut Ampang Mall; dari jalan P. Ramlee (Ramlee Mall) dan dari taman KLCC (Park Mall).
Ada Petrosains di lantai atas, semacam musium iptek.. sepertinya bagus, tapi ga saya kunjungi karena ga direkomen ama suami.
Dari Suria KLCC kita bisa langsung menembus towernya Petronas, dan di bawah tanahnya ada stasiun LRT.
Ada istilah yang berbeda dengan di Indonesia untuk menyebut lantai dasar. Di Jakarta kita menyebutnya Lower Ground.. tetapi di Malaysia mereka menyebutnya Concourse atau C Level. Pengaruh British mungkin?
Tamannya sungguh cantik, berada di lantai Ground --setingkat di atas lantai C. Banyak pria berada di sana untuk merokok, karena tidak boleh merokok dalam mall. Siang hari taman ini lebih cantik lagi.. air mancurnya, juga kolam renangnya yang GRATIS.. pasti dipadati dengan pengunjung.
Ada toko buku yang besar di lantai 4, lantai teratas dari 6 lantai yang ada, namanya Kinokuniya. Besar banget dan penataan bukunya seperti di perpustakaan..
Ada 2 foodcourt di mall ini, satu yang Asia, satu lagi campuran. Hari ini makan yang di Asia. Saya makan nasi hainam ayam panggang dan soya milk. Catatan, di Malaysia yang namanya soya milk itu kayak teh botol di sini kali ya.. sangat mudah dijumpai dan seakan-akan udah default.
Menurut saya makanan di mall sini jauh lebih murah dibanding dengan mall di Jakarta, it cost me: RM 7 atau sekitar 16 ribu rupiah (1 RM = 2245)
There was a shopping carnival in the whole KL & kota2 besar lainnya. Waw.. menakjubkan harga2 barangnya. Ga beda dengan Jakarta, bahkan mungkin lebih murah karena sale-nya ini.
Ada 2 department store besar di sini, Isetan dan Parkson Grand, dua-duanya juga lagi perang harga.. diskon besar2an.
Saya cuma tengak tengok aja.. blom bisa berpikir dalam RM.. it takes time :) mungkin besok saya akan ke sini lagi, studi banding harga :)) hahhahaa.. soalnya kalo shopping ama suami kurang nyaman dan selesa (this how to say comfortable in Malay)
Posted by devi at 03:19 PM
| Comments (0)
Tetangga Yang Menggoda
KLIA, November 30, 2003
Semenanjung Malaysia.. hmm... suasana dingin menyambut ketika kaki melangkah melintasi jalan panjang lapangan udara ini. Warna silver yang mendominasi, garis-garis tegas khas Jerman... mengingatkan pada Frankfurt Main. Tidak heran, karena designer/arsiteknya sama.
Yang beda adalah pancang-pancang yang memberikan kesan seperti pohon kelapa sawit, tinggi besar menjulang.
Beda sekali dengan Changi Singapore yang hangat dan terasa ramah. Setelah direnungkan, sepertinya efek lampu yang telah memberikan kesan berbeda ini. Changi diterangi oleh lampu-lampu berwarna kuning hangat.. langit-langitnya juga tidak tinggi, kita seperti berada di rumah sendiri.
KLIA, Kuala Lumpur International Airport, berkesan megah dan waahh.
Tidak lupa saya mengecek tandas (toilet dlm bahasa Melayu), bersihkah? Memang, dalam hal ini belum ada yang sanggung menandingi Singapore dengan program Happy Toilet-nya :D
Berjalan perlahan-lahan.. karena memang tidak boleh banyak gerak, sayang tidak ada cart yang bisa jadi alternatif daripada harus jalan; menikmati pemandangan di luar gedung. FYI, KLIA ini dikelilingi oleh pohon-pohon, sehingga KLIA seperti berada dalam perut hutan.
Sampai di tempat bagasi.. koper2 kita sudah diletakkan di lantai :) Kami berdua memang berjalan dengan lambat, mencoba menghayati keindahan sebuah international airport kelas dunia.
..ADUH!!!! tumit saya ketabrak oleh trolley yang dibawa oleh seorang wanita yang berjalan tergesa2 mendorong trolley-nya. Habis nabrak bukannya minta maaf, dia sibuk bicara ama petugas ( I assumed she is a TKI). Sakitnya bukan main, karena sampai tulang. Petugas tidak melakukan apa2, sepertinya mereka berusaha menghidari tatapan saya.. :( tidak ada rasa simpatikah, bapak-bapak petugas?
Sambil berjalan terpincang-pincang diiringi permintaan maaf sang penabrak yang tetap berjalan tergesa-gesa..'Sorry, Kak'
Ternyata kami udah ditunggu ama driver MayFlower (limo rental) dan .... Country Managernya Schlumberger Information System Malaysia. Untungnya tumit saya ketabrak, dia jadi maklum; walaupun dia tidak tampak marah, tapi kami kan ga enak, masa seorang country manager menunggu kami :)
Perjalanan sangat jauh.. hampir satu jam melalui highway-highway, melewati daerah PutraJaya dan CyberJaya, dan tidak tahu daerah mana lagi. Sepanjang perjalanan, kanan kiri jalan dihiasi pohon-pohon nan hijau. Tidak terlihat rumah penduduk, juga tidak terlihat adanya daerah kumuh. akhirnya tiba juga di KL.
Oh.. ini toh KL. :)
Posted by devi at 01:24 PM
| Comments (0)
Menengok Tetangga
Tanggal 30 Nov - 7 Des 2003, saya berkesempatan mengunjungi KL, Malaysia. Dalam kondisi hamil 4 bulan, dan baru saja mengalami bleeding pada tanggal 29 November-nya.. ini bener2 nekad, saya udah mau batalin perjalanan, tapi sudah hari Sabtu, rasanya hampir ga mungkin batalin perjalanan.
This is my story, in the beginning:
Sempet deg-deg an pas mau berangkat. Habis shock & stress berat soalnya. Darah masih keluar hari ini, tapi jumlahnya sudah sangat berkurang. Rencananya begini, saya tetep berangkat, tapi bedrest dilakukan di hotel.
Kalau saya tetep di rumah, ga ada yang nemenin kalo ada apa2, ga ada yang ngurusin, karena suami ga mungkin batalin trainingnya di KL.
Dengan menggunakan baju kamuflase.. kayaknya ga bakal ada yang duga saya lagi hamil, plg dikirain ada cewe gendut :); saya naek ke pesawat MAS yang tampak keren itu.. Airbus ternyata. Cukup 1 jam 50 menit to reach KL. Dalam pesawat saya H2C (Harap Harap Cemas).. semoga semuanya akan baik2 saja..
Thanks God, semuanya baik2 saja sampai mendarat
Posted by devi at 12:03 PM
| Comments (0)
|
| |
|