<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<feed version="0.3" xmlns="http://purl.org/atom/ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xml:lang="en">
  <title>.:Ordinary Thoughts:.</title>
  <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/" />
  <modified>2008-05-14T16:17:35Z</modified>
  <tagline></tagline>
  <id>tag:www.chosenlight.com,2010:/journal/2</id>
  <generator url="http://www.movabletype.org/" version="2.661">Movable Type</generator>
  <copyright>Copyright (c) 2008, devi</copyright>
  <entry>
    <title>Pindah</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2008_05.html#000200" />
    <modified>2008-05-14T16:17:35Z</modified>
    <issued>2008-05-14T23:17:35+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2008:/journal/2.200</id>
    <created>2008-05-14T16:17:35Z</created>
    <summary type="text/plain">Dear readers, we&apos;re sorry that we can&apos;t afford to maintain this blog. This old version of MT drove me crazy and WordPress now is my choice. So, please visit our new blog, with new design-taste. GBU....</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Dear readers, we're sorry that we can't afford to maintain this blog. This old version of MT drove me crazy and WordPress now is my choice.</p>
<p>So, please visit our new blog, with <a href="http://www.chosenlight.com/blog/">new design-taste</a>.</p>
<p>GBU. </p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Berita Gembira dari IM2</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2008_03.html#000197" />
    <modified>2008-03-18T04:50:40Z</modified>
    <issued>2008-03-18T11:50:40+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2008:/journal/2.197</id>
    <created>2008-03-18T04:50:40Z</created>
    <summary type="text/plain">Sejak Desember&apos;07 kami berlangganan IM2, kuota 1.2GB. Pertama menggunakan, kami sempat shock. Yang pertama karena speednya yang wuzz..wuzz. Maklum sebelumnya pengguna dial-up, yang sebenarnya masih lebih ok ketimbang Telkomnet. Shock yang kedua... sebentar saja meteran sudah menunjukkan pemakaian 20ribu-an KB....</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Sejak Desember'07 kami berlangganan IM2, kuota 1.2GB. Pertama menggunakan, kami sempat shock.</p>
<p>Yang pertama karena speednya yang wuzz..wuzz. Maklum sebelumnya pengguna dial-up, yang sebenarnya masih lebih ok ketimbang Telkomnet. Shock yang kedua... sebentar saja meteran sudah menunjukkan pemakaian 20ribu-an KB. Sekali lagi, ini juga transisi yang harus dialami karena tadinya kita pake internet time-based, sekarang volume-based. Walah... Akhirnya, semua update otomatis kita matikan. Gambar juga dimatikan, jadi harus load sendiri.</p>
<p>Lumayan.. sampai hari ini belum pernah over-quota. Bulan Februari lalu malah kurang dari kuota. Sayangnya yang kurang ini tidak bisa diakumulasikan ke bulan berikutnya ya... Seandainya bisa....</p>
<p>Hari ini, bersama billing bulan lalu, IM2 memberikan kabar gembira, mulai Maret ini semua kuota dinaikkan tanpa tambahan biaya. Saya bisa bernapas lebih lega, karena ada tambahan 0.3GB alias 307.2KB yang pastinya lumayan banget. Sebagai <a title="homeschool kami" href="http://homeschool.chosenlight.com" target="_blank">homeschooler</a>, kami sangat membutuhkan internet untuk proses belajar. Apalagi yang namanya Joel itu kadang2 suka impulsif dan setengah memaksa diperlihatkan gambar-gambar negara ini, negara itu, orang ini, orang itu, binatang ini binatang itu, dsbg.</p>
<p>Atau.. IM2 mau ga ya memberikan subsidi untuk homeschooler? Speedy belum bisa dipasang, karena kami masih ngantri untuk sambungan Telkom. Internet murah dari FastNet juga sudah pasti tidak bisa kami dapatkan selama masih tinggal di cluster Crystal Gading Serpong, semua kabel harus lewat bawah tanah, dan dari awal tidak ada kerja sama dengan pihak FirstMedia/Kabelvision.</p>
<p>Yah, pokoknya ini berita gembira. Hari-hari ini rasanya banyak berita gembira buat keluarga kecil kami ini :). Terimakasih, Tuhan.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>X-tra Large: The Review</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2008_03.html#000196" />
    <modified>2008-03-18T04:32:48Z</modified>
    <issued>2008-03-18T11:32:48+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2008:/journal/2.196</id>
    <created>2008-03-18T04:32:48Z</created>
    <summary type="text/plain">Sehari sebelum Valentine - dah basi banget ya, saya ada kencan ama seorang pria - dearest hubby tentunya. Nonton bareng. Film yang kita pilih adalah Xtra Large-nya Monty Tiwa. Alasan utama saya pengen nonton film itu adalah Jamie Aditya :D....</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Sehari sebelum Valentine - dah basi banget ya, saya ada kencan ama seorang pria - dearest hubby tentunya. Nonton bareng. Film yang kita pilih adalah Xtra Large-nya Monty Tiwa. Alasan utama saya pengen nonton film itu adalah Jamie Aditya :D. Kekeke..</p>
<p>Waktu dia masih jadi VJ MTV saya belum terlalu 'demen' ama tingkahnya. Saya jadi suka sama tingkah konyolnya yang ga tau malu sejak lihat dia di Travel Channel-nya Discovery -- sekarang namanya jadi Travel &amp; Living. Jamie tidak pernah sungkan mempermalukan dirinya, dan selalu berusaha lebur dalam budaya setempat. Dia setengah bule, besar di Oz, tapi fasih bahasa Sunda dan mungkin dalam hal tertentu lebih Sunda ketimbang yang Sunda tulen.</p>
<p>Ok, sekarang tentang filmnya. Ceritanya cukup menarik, tentang fenomena yang ada di masyarakat. Ga cuma di Indonesia, katanya kebanyakan pria pernah dihinggapi suatu keraguan, sehingga membuat yang namanya obat kuat, juga obat2 sejenis viagra, dll laku keras.</p>
<p>Nah, Jamie yang berperan jadi Denny (CMIIW), pun pergi ke Mak Siat (Sarah Sechan), yang konon katanya adalah cucu Mak Erot, tokoh kondang di Sukabumi yang bisa mengobati kekurangannya. Denny harus menikahi anak atasan bapaknya, demi menyelamatkan nama baik si bos yang sedang berkampanye politik. Si anak diperankan oleh Dewi Sandra.</p>
<p>Oleh 2 orang sohib masa SMAnya yang ancur - diperankan oleh Alex Abbad dan mr X (lg males browsing); Denny juga dicarikan sparring partner (karena masih 100% perjaka), disewakan seorang cewek profesional-Intan untuk mengajarinya selama satu bulan penuh. Singkat kata, antara Denny dan Intan, terjalin chemistry yang kuat. Akhirnya tebak sendiri :)</p>
<p>Sayang seribu sayang, cerita ini tidak didukung oleh penyutradaraan yang bagus. Kualitas gambar benar-benar payah, tak lebih baik dari sinetron. Cerita juga tidak tereksplor dengan baik. Saya langsung mengandaikan jika film ini boleh digarap oleh seorang perempuan, Nia Dinata misalnya. Pasti lebih menyentuh. Banyak banget detil yang tidak tergarap. Make-up artis pun seadanya. Dewi Sandra yang cantik itu terlihat sangat menor, dandanannya kasar. Gambar kadang2 blur. Kompleks lokalisasi yang digambarkan di sini juga terkesan murahan, tidak cocok dengan tongkrongan 'mami' yang diperankan oleh Inggrid Widjanarko.</p>
<p>Filmnya tidak bisa dikatakan indah. Terkesan absurd, asal2an, seadanya. Rasanya bukan karena budget terbatas? Kan disponsori oleh persh rokok besar? Hmm...</p>
<p>Sekarang tentang penonton. Ini film harusnya kan masuk kategori dewasa, karena topiknya terlalu 'serem' buat anak-anak. Tapi... sekitar dua-tiga ortu mengajak anak mereka yang masih kecil2. Saya tidak tahu bagaimana nanti anak2 ini menyimpan kebingungan melihat adegan demi adegan yang jauh dari dunia kanak2nya.</p>
<p>Terus terang saya juga bingung, kenapa saya ada di situ. Hehehee.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pro-Kontra Mestakung</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2008_01.html#000195" />
    <modified>2008-01-14T14:21:37Z</modified>
    <issued>2008-01-14T21:21:37+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2008:/journal/2.195</id>
    <created>2008-01-14T14:21:37Z</created>
    <summary type="text/plain">Di sebuah milis kristen yang secara pasif saya ikuti, terjadi perbincangan serius tentang mestakung. Salah seorang anggota yang bukunya sudah diterbitkan oleh sebuah penerbit kristen mengemukakan pendapatnya yang menganggap mestakung ini tidak alkitabiah. Di sisi lain, ada juga anggota yang...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Di sebuah milis kristen yang secara pasif saya ikuti, terjadi perbincangan serius tentang mestakung. Salah seorang anggota yang bukunya sudah diterbitkan oleh sebuah penerbit kristen mengemukakan pendapatnya yang menganggap mestakung ini tidak alkitabiah.</p>
<p>Di sisi lain, ada juga anggota yang tidak setuju sepenuhnya dengan pendapat si bapak. Tentunya semua berpendapat dengan cara yang santun.</p>
<p>Entah bagaimana caranya, tulisan itu dikirim dan ditanggapi oleh Prof Yohanes Surya. Inti dari jawaban Profesor, menurut teorinya mestakung adalah sebuah hukum alam tentang pengaturan diri. Ketika kondisi kritis maka terjadilah pengaturan diri untuk melepaskan diri kondisi kritis ini. Contohnya adalah pasir yang dituang dari atas. Pada titik tertentu, partikel2 pasir akan mengatur dirinya melebar, bukannya tambah tinggi ke atas.</p>
<p>Bagi Prof, mestakung sama halnya dengan hukum gravitasi. Diciptakan oleh Tuhan dengan maksud tertentu. Dan hukum ini bisa dibatalkan oleh doa. Prof juga memberikan beberapa ayat untuk mendukung teorinya.</p>
<p>Teman yang tidak setuju itu menyanggah, masa kalau kita menginginkan sesuatu dengan amat sangat dan bersungguh-sungguh maka alam semesta akan lalu bekerja mendukung untuk mewujudkan keinginan tersebut. Rasanya seperti menempatkan Tuhan di bawah alam, katanya.</p>
<p>Saya dan Pampie (hubby) juga punya pendapat. Ketika saya membaca dan mendengar teori ini dengan seksama, saya langsung teringat sebuah ayat di Perjanjian Lama yang sering digunakan di pernikahan, ""Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan <strong>taklukkanlah itu</strong>, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." <em>(Kejadian 1:28)</em></p>
<p>Kesan saya tentang ayat itu adalah, Tuhan memberikan otoritas kepada manusia atas bumi. Catatan: belum tentu benar, karena saya bukan teolog, bukan ahli alkitab, itu hanya sebuah kesan. Jika manusia punya otoritas atas bumi dan isinya, berarti teori mestakung ini sangat mungkin adalah benar. Buat saya, ini menjelaskan, mengapa seorang nenek renta tiba-tiba bisa menjadi super menyelamatkan cucunya dari kebakaran.</p>
<p>Sama halnya dengan hukum alam yang lain, hukum ini berlaku bagi semua manusia. Namun, senada dengan beberapa teman lain, kami setuju, hukum-hukum alam ini tidak berlaku jika dibatalkan oleh Sang Maha Pencipta. Apalagi untuk orang-orang yang hidup dalamNya, Sang Otoritas mampu membatalkan hukum alam apa saja. Peristiwa Petrus berjalan di atas air, Elia yang terangkat, setidaknya melanggar satu hukum, hukum gravitasi.</p>
<p>Tapi... begitulah hidup. Tidak semua orang sependapat dengan kita. Asal kita tetap berjalan dalam koridor yang benar.. hal abu-abu seperti ini harusnya tidak menjadi pemecah dalam tubuh Kristus, dan tidak menjadikan kita hakim atas sesamanya.</p>
<p>Menurut Pampi, teman kami yang kontra itu tidak salah, Prof juga tidak salah. Hanya, mereka memandang dari sisi yang berbeda. Teman kami memandang dari sisi rohani, membenturkan mestakung dengan doa. Prof memandang dari sisi ilmu pengetahuan, mencoba menerjemahkan apa yang terjadi dalam kehidupan ke dalam bentuk ilmiah, yang bisa diterima oleh semua kalangan.</p>
<p>Hmm.. harusnya kedua sisi ini bisa saling melengkapi ya.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Preschool/Playgroup: Perlukah? (Pro Version)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_12.html#000194" />
    <modified>2007-12-14T11:34:36Z</modified>
    <issued>2007-12-14T18:34:36+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.194</id>
    <created>2007-12-14T11:34:36Z</created>
    <summary type="text/plain">Catatan: Preschool yang dimaksudkan di sini adalah lembaga bernama sekolah, bukan pendidikan usia dini itu sendiri. Seorang ahli berpendapat bahwa manfaat terbesar preschool yang tidak didapat anak dari rumah adalah kesempatan berinteraksi dengan anak lain (baca: sosialisasi). Selain itu anak...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Catatan: Preschool yang dimaksudkan di sini adalah lembaga bernama sekolah, bukan pendidikan usia dini itu sendiri.</p>
<p>Seorang ahli berpendapat bahwa manfaat terbesar preschool yang tidak didapat anak dari rumah adalah kesempatan berinteraksi dengan anak lain (baca: sosialisasi). Selain itu anak belajar mengatasi <em>anxiety of separation</em> dengan ibu/pengasuhnya dan belajar <em>survive without parents</em>.</p>
<p>Juga dikatakan, dengan melihat bagaimana anak lain melakukan hal-hal yang menantang, akan lebih memotivasi si kecil bahwa dia juga bisa.</p>
<p>Di beberapa negara bagian Amerika Serikat saat ini sudah mulai banyak universal preschool, yaitu preschool gratis untuk semua kalangan. Dikatakan bahwa yang memetik manfaat terbesar dari program ini adalah anak-anak yang dikategorikan beresiko, seperti anak dengan orangtua remaja, atau anak dari lingkungan berbahaya. Dengan catatan, preschoolnya adalah yang memiliki kualifikasi baik, kalau tidak akan memperparah kondisi si anak.</p>
<p>Sementara untuk urusan akademis, <a href="http://www.sfgate.com/cgi-bin/article.cgi?f=/c/a/2006/01/27/BAG8AGTL0E1.DTL" target="_blank">sebuah studi dari University of California</a> menyebutkan, di kelas tiga SD, tidak ada perbedaan untuk anak yang bersekolah dari preschool maupun tidak, walaupun anak yang mengenyam pendidikan lebih awal ini lebih dulu bisa membaca ketimbang temannya.</p>
<p>Jika sudah diputuskan untuk menyekolahkan anak pada usia ini, pastikan mutu sekolah - mutu guru - jangan semata-mata karena kurikulumnya. Manfaatkan free-trialnya, seperti yang pernah saya lakukan. Ada anak yang lebih favorit. Sementara seorang anak laki-laki yang sedikit-sedikit menangis mendapat limpahan emosi ketidaksabaran gurunya: "No crying! I've told you so many times." Very discouraging.</p>
<p>Jangan pernah kirim anak ke sebuah preschool karena tetangga juga begitu.</p>
<p>Pandangan saya pribadi, banyak hal yg preschool tawarkan, bisa diusahakan sendiri oleh orangtua. Stimulasi, kecintaan akan belajar, perilaku baik, budi pekerti, dan juga <em>basic lifeskill</em>. Kita tahu sendiri betapa tinggi preschool2 di Indonesia mematok biaya. Dan, kadang kita tidak puas dengan apa yang mereka berikan.</p>
<p>And remember, there are a lot of good choices, not just one.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Preschool/Playgroup: Perlukah? (Versi Kontra)</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_12.html#000193" />
    <modified>2007-12-10T09:21:03Z</modified>
    <issued>2007-12-10T16:21:03+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.193</id>
    <created>2007-12-10T09:21:03Z</created>
    <summary type="text/plain">Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa &apos;belajar&apos; dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa 'belajar' dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi para orangtua ini macam-macam,</p>
<p>1. Daripada ditinggal sama pembantu, lebih baik mendapat 'pendidikan' atau main dengan terarah di lembaga-lembaga yang biasanya menetapkan tarif tidak murah.</p>
<p>2. Anak perlu bersosialisasi, bergaul dengan anak seusianya.</p>
<p>3. Merasa anaknya berbakat, lebih cerdas dari rata-rata usianya. Sepertinya semua orangtua merasa anaknya berbakat, bukan? :D</p>
<p>4. Ingin anaknya pintar, cepat berbahasa Inggris, Mandarin, dll.</p>
<p>Ketiga alasan yang disebut di atas ini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor, orangtua tidak punya cukup waktu - bekerja misalnya, atau orangtua tidak cukup percaya diri mengajar anaknya.</p>
<p>Sebuah <a title="Considering Homeschool" href="http://www.consideringhomeschooling.com/post/2004/08/Why-NOT-to-Put-Your-Child-in-Preschool.aspx" target="_blank">situs web di AS</a>; dengan cukup radikal mengemukakan beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak perlu mengirim anak kita ke Preschool/Playgroup (PG)/Kelompok Bermain (KB). Komentar saya dalam cetak miring.<br />
1. Ketidakkonsistenan dalam penerapan disiplin. Anak akan terbelah antara sekolah dan rumah. Disiplin dilakukan sekolah biasanya agar tidak terjadi kericuhan, semua senang, semua tenang - paling tidak untuk sementara waktu. Sementara disiplin di rumah dilakukan ortu untuk membentuk kepribadian si anak. <em>Kecuali semua peraturan di sekolah sama persis dengan di rumah.</em><br />
2. Merenggangkan ikatan emosional ortu-anak. Anak-anak butuh mengekpresikan dirinya secara verbal dalam hubungan satu-satu, dengan orang yang tulus mengasihi dirinya, yang memang berminat betul padanya - siapa lagi kalau bukan ortunya. Lebih baik ia mendapat pujian, peluk, cium dari ortunya bukan? <em>Di sekolah biasanya ada anak emas. Yang sikapnya manis, rajin, dan good-looking (ini beneran lho!) pasti mendapat perhatian khusus dari guru, juga mereka yang ekstra aktif. Lalu bagaimana dengan model anak yang biasa-biasa saja? Apakah mereka lantas tidak dapat perhatian dari gurunya?</em><br />
3. Merenggangkan hubungan antar saudara.<br />
Nanti, waktu si anak sudah besar, kecil kemungkinan ia masih mengingat teman2 preschoolnya. Namun, hubungan saudara ini kekal. Kakak dan adiklah orang2 terdekat yang bisa memberikan pertolongan saat ada masalah. <em>Familiar kan? Setiap kali ada masalah, kita lebih cari teman ketimbang ortu n saudara, karena hubungan ini tidak terbangun. Tapi, bagaimana dengan anak tunggal ya?<br /></em>4. Tekad ibu untuk mendidik, mengajar anaknya sendiri bisa terdistorsi, bahkan untuk yang mau <em>homeschool</em> sekalipun. Dengan kepergian anak selama beberapa jam, ibu yang ada di rumah akan menganggur, dan mungkin akhirnya kembali bekerja. Lalu, ia mendapati anaknya sudah terlatih pipis sendiri, sudah kenal warna, angka, huruf, bahkan membaca. Betapa ringannya tugasnya sekarang... Padahal di sini lain, ibu jadi kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengajarkan hal2 dasar ini pada anaknya. <em>Setelah mengajar sendiri anak saya, dan dia sekarang sudah mulai membaca kata2 pendek (2 suku kata) saya jadi pede sekali. Ternyata, tidak perlu sekolah guru untuk itu ya.<br /></em>6. Anak yang masih kecil akan terekspos dengan sikap destruktif anak lain. Bahkan di sekolah berbasis agama, Kristen sekali pun, ada anak yang di rumahnya bebas menonton TV, terekspos dengan pornografi, biasa mendengarkan makian, dan hal2 lain yang kita tidak ingin anak kita tahu pada usia sedini ini. <em>Saya pernah mendengar anak berusia 2-3 tahun berkata pada temannya, "Ada hantu. Hiyyy.."<br />
Apa pendapat anda jika anak anda kemudian beberapa malam bermimpi buruk, ketakutani? Atau suatu hari anak KB anda berkata, "Sialan Mami! Bego Mami! atau lebih parah lagi: Mami, f*ck you."<br />
Sayang bukan, padahal kita sudah berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk anak kita. Tidakkah terlalu dini baginya, dia baru berumur errr... dua atau tiga tahun?</em><br />
7. Sekolah memberikan diagnosis tidak akurat. Tiba-tiba sekarang banyak anak yang dicap ADHD dan berbagai label masa kini. KB bersama para pakar pendidikan memposisikan diri sebagai pihak yang berhak menghakimi anak anda. Lebih baik berikan dia dukungan emosional, kasih tak bersyarat. Jika anda punya bayi, batita, balita, andalah <em>homeschooler</em>. Proses ini sudah dimulai ketika bayi lahir dan akan terus berlanjut. <em>Anda yang mengajarkan si bayi bernyanyi, membaca buku untuknya, bermain dengannya bukan? Atau... orang lain?</em></p>
<p>Tidak adil jika tidak memberikan versi pro-nya. Akan saya teruskan di <em>posting</em> berikut.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Hamil Kali Ini</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_11.html#000192" />
    <modified>2007-11-28T00:49:06Z</modified>
    <issued>2007-11-28T07:49:06+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.192</id>
    <created>2007-11-28T00:49:06Z</created>
    <summary type="text/plain">Semalem kunjungan ke-2 ke dokter kandungan kami, dr Didi Danukusumo (,Sp.OG. KFM). Kali ini kami jadi pasien dengan nomor urut 1. :) Kami (aku khususnya) punya kesan tertentu untuk pak dokter yang ramah ini. Dia ga pelit ngomong. Di USG...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Semalem kunjungan ke-2 ke dokter kandungan kami, dr Didi Danukusumo (,Sp.OG. KFM). Kali ini kami jadi pasien dengan nomor urut 1. :)</p>
<p>Kami (aku khususnya) punya kesan tertentu untuk pak dokter yang ramah ini. Dia ga pelit ngomong. Di USG ke-2 ini pun ia tetap menginformasikan segala hal yang terlihat di layar. Seperti.... hmmm.. guru :)</p>
<p>"Lihat, ini yang berbentuk kupu2.. itu adalah otak. Tulang tengkorak janin belum bertumbuh sempurna. Jadi, tulangnya belum nyambung. Itu menguntungkan buat si janin, karena otaknya bisa tumbuh dengan leluasa," begitu kira2 keterangan dokter sambil terus menggerakkan si alat periksa.</p>
<p>Beda dengan kehamilan pertama, yang ke-2 ini aku butuh waktu lebih lama untuk merasa punya 'hubungan' dengan yang ada di kandungan. USG memang membantu. Bentuk tubuhnya kelihatan, kepalanya, matanya, semuanya jelas. Kaki dan tangannya bergerak-gerak. Bahkan rambutnya sudah tumbuh. Mulai ada sensasi tertentu. Naluri seorang ibu.</p>
<p>Pertumbuhan janin baik, karena di minggu ke-12 ini ia sudah bertumbuh layaknya janin usia 13 minggu. Walau aku merasa lapar terus, (dan makan), aku juga banyak muntah. Mual muntah ini terjadi di sore dan malam. Pagi aman2 aja. Istilah morning sickness memang kurang cocok untuk kasusku. Pas hamil Joel dulu juga gitu, muntahnya siang2 pas lagi di kantor.</p>
<p>RS Omni International Alam Sutra adalah pilihan kami untuk melahirkan nanti. Dokter Didi juga praktek di situ. Nama pak dokter ini tidak begitu populer di daerah Serpong. Dia adalah dokter di RS Fatmawati dan Internasional Bintaro (mungkin ada di rs lain juga). Aku menemukan namanya dari meng-google. Dari banyak blog yang aku baca, semua memuji bagaimana informatifnya seorang dokter Didi. Ramah dan humoris. Tidak sedikit2 operasi dan tidak matre tentunya. That's all I need from my gynecologist.</p>
<p>Ada kritik khusus untuk RS ini. Pasien dengan tanggungan asuransi harus menunggu lama. Bahkan kali ini lebih lambat dibanding kunjungan pertama. Prosesnya rada ribet dan lama. Kurang nyaman buat ibu hamil.</p>
<p>Keribetan sudah dimulai pas registrasi. Periksa kehamilan atau konsultasi? Ini jelas pertanyaan yang bikin bingung. "Saya mau periksa kehamilan dan konsultasi" :D Setelah selesai ketemu dokter, masih panjang lagi urusannya. Kita harus nunggu lebih dari 30 menit. </p>
<p>Sampai hari ini, belum ada yang bisa mengalahkan efisiensi sistem pendaftaran dan pembayaran RS Pantai Indah Kapuk (PIK). Datang, serahkan kartu, proses 5 menit, langsung sudah di ruang tunggu. Nanti tinggal bayar di kasir. Tidak ada kesulitan. RS PIK setahu saya memang menggunakan SAP. Begitu terintegrasi.</p>
<p>Lepas dari semua itu, Tuhan baik. Seperti cerita di posting sebelumnya, aku memang ingin anakku lahir antara bulan Mei-Juli. Empat tahun kami menjaga agar tidak hamil lagi. Begitu tidak 'jaga' lagi, aku langsung hamil (aku tidak pake alat KB tertentu). Bahkan hal remeh dan tidak penting begini pun Tuhan perhatikan.</p>
<p>The Creator cares for me.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Turun Mesin dan Blog Baru</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_11.html#000191" />
    <modified>2007-11-14T00:46:25Z</modified>
    <issued>2007-11-14T07:46:25+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.191</id>
    <created>2007-11-14T00:46:25Z</created>
    <summary type="text/plain">Bukan, si Silverena-mobil kami yang masih relatif baru- yang mau turun mesin. Melainkan si blog yang udah berumur ini. Memang rencananya blog satu ini memang mau turun mesin. &apos;Mesin&apos;nya juga mau diganti, sedang menimbang-nimbang antara WordPress, atau SNews. Maen-maen dengan...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Bukan, si Silverena-mobil kami yang masih relatif baru- yang mau turun mesin. Melainkan si blog yang udah berumur ini.</p>
<p>Memang rencananya blog satu ini memang mau turun mesin. 'Mesin'nya juga mau diganti, sedang menimbang-nimbang antara <a href="http://www.wordpress.com" target="_blank">WordPress</a>, atau <a href="http://www.solucija.com/" target="_blank">SNews</a>. Maen-maen dengan WordPress, memang mengesankan, sangat mudah. Atau SNews yang bagai harta karun saya temukan beberapa bulan lalu.</p>
<p>WordPress pasti banyak yang sudah tahu. Dan dia memang populer. Plug-innya banyak, komunitasnya supportif.</p>
<p>SNews memang lebih <em>techie</em> tapi sangat <em>customizable dan</em> ringaaan, bayangkan hanya 29KB untuk sebuah CMS yang sudah komplit. Template cukup banyak tersedia. Salah satu orang Solujica, Luca Cvrk adalah desainer web. FYI, SNews sudah ada versi bahasa Indonesianya. :D</p>
<p>Tapi untuk turun mesin ini butuh waktu, dan butuh internet yang konek terus menerus. Kalau mau mengikuti irama gratis Wifone, saya harus melek dari jam 11 malem ke atas, atau bangun pagi-pagi sebelum jam 8. Terlalu terbatas pilihannya. Nantilah, kalau internet sudah 24 jam dan bayarnya flat.</p>
<p>Sementara menunggu, silakan nikmati dua blog terbaru dari keluarga kami. Pampi sekarang menulis sendiri blognya, <a href="http://pampie.chosenlight.com/" target="_blank">yang lebih bisa merepresentasikan keunikan dirinya</a>, hehehehe. Juga sebuah blog tentang <a href="http://homeschool.chosenlight.com" target="_blank">perjalanan homeschool</a> saya dan Joel. Dua-duanya pake WordPerss. <em>Check it out!</em></p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Tes Kepribadian</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_11.html#000190" />
    <modified>2007-11-14T00:27:38Z</modified>
    <issued>2007-11-14T07:27:38+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.190</id>
    <created>2007-11-14T00:27:38Z</created>
    <summary type="text/plain">Di antara beberapa tes kepribadian yang pernah saya lakukan, DiSC adalah yang cukup populer. Karena gereja kami mengadopsi sistem ini. Bahkan jemaat diwajibkan mengisi tes ini untuk salah satu track kehidupan kekristenannya - LBC B - sekarang namanya sudah berubah...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Di antara beberapa tes kepribadian yang pernah saya lakukan, <a href="http://www.discprofile.com/" target="_blank">DiSC</a> adalah yang cukup populer. Karena <a title="abbalove" href="http://www.abbalove.org" target="_blank">gereja kami</a> mengadopsi sistem ini. Bahkan jemaat diwajibkan mengisi tes ini untuk salah satu <em>track</em> kehidupan kekristenannya - LBC B - sekarang namanya sudah berubah jadi *ehmm... apa ya*. Saya mengisi tes ini dua-tiga kali, satu kali untuk LBC B itu, satu lagi pas bimbingan pranikah, satu kalinya lagi iseng-iseng mau lihat ada perubahan atau tidak. </p>
<p>Profil DiSC saya adalah CD atau kadang-kadang DC. D-dominance, I-influence, S-steadiness, and C-compliance/conscientiousness. <a href="http://www.mtselect.co.uk/testing/DISC.htm" target="_blank">Take the online test.</a></p>
<p>Selain DiSC, ada lagi yang namanya Sanguin, Melankolis, Koleris, Plegmatis. Kalo di sini saya dapat nilai paling tinggi Melankolis disusul Koleris. Ada di buku Personality Plus (Florence Litauer) atau <a href="http://www.oneishy.com/personality/personality_test.php" target="_blank">take the online test</a>.</p>
<p>Lalu, beberapa hari yang lalu Pampi kirimin sebuah link ini ke saya. Berbeda dengan DISC dan versi Florence yang ngejelimet, tes yang dibuat oleh Myers Briggs ini cukup simpel. Hasilnya akurat, info-info pendukung juga tersedia dan gratis :).</p>
<p>Ini hasilnya: <a href="http://devi.mypersonality.info/">http://devi.mypersonality.info/</a></p>
<p>Yang mengejutkan temperamen jenis saya ini (INFJ-Introverted, iNtutition, Feeling, Judging) populasinya yang paling sedikit di antara semua. Hanya 1%, dan kebanyakan adalah perempuan. Haha.. Tadinya saya kira tipenya Pampi (INTP-Introverted, iNtuition, Thinking, Perceiving) yang 2,5% sudah sedikit.</p>
<p>Ini cukup menjelaskan kerumitan saya selama ini... hehehee. Rasanya memang ada dua kepribadian yang tarik-menarik, walaupun tentunya saya tidak berkepribadian ganda.</p>
<p>Silakan ambil juga <a href="http://www.mypersonality.info/" target="_blank">tes</a> ini. Kasih tau ya hasilnya.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Adik Untuk Joel</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_11.html#000189" />
    <modified>2007-11-01T00:21:10Z</modified>
    <issued>2007-11-01T07:21:10+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.189</id>
    <created>2007-11-01T00:21:10Z</created>
    <summary type="text/plain">Punya anak lagi? Mau. Hamil lagi? Mmmm... pikir-pikir dulu. Kebayang sembilan bulan yang membuat hidupku up and down. Muntah, sesak napas, badan terasa berat, sakit punggung. Blum lagi teringat susahnya melahirkan Joel dulu. Susah yang saya maksud bukan sakitnya, tapi...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Punya anak lagi? Mau. Hamil lagi? Mmmm... pikir-pikir dulu.</p>
<p>Kebayang sembilan bulan yang membuat hidupku <em>up and down</em>. Muntah, sesak napas, badan terasa berat, sakit punggung. Blum lagi teringat susahnya melahirkan Joel dulu. Susah yang saya maksud bukan sakitnya, tapi peristiwa yang cukup traumatis saat terdeteksi pre eklamsi pada minggu ke-38 dan harus segera melahirkan nyaris tanpa suami dan ortu mendampingi.</p>
<p>Lagian, rasanya sulit membagi kasih sayang lagi. Saya tidak tahu apakah saya bisa melakukan itu.</p>
<p>Tapi... kasihan juga lihat Joel. "Mau disuruh main," jawabnya waktu saya tanya kalau punya adik dia mau apa dengan adiknya. Lalu Joel pun berdoa minta adik sama Tuhan Yesus.</p>
<p>Pampi juga tidak setuju jika kami hanya punya satu anak. Kurang baik untuk Joel, menurutnya.</p>
<p><img alt="testpack" hspace="2" src="http://www.chosenlight.com/journal/testpack-1-20071101072502.jpg" align="left" vspace="2" border="0" />Lalu, terjadilah seperti yang di samping ini. Persis seperti yang saya mau, September menjadi haid terakhir saya di tahun 2007, supaya bayi bisa datang tidak melewati bulan Juli. Biar ga terlalu rugi dengan umur, hehehe.</p>
<p>Kecurigaan hamil langsung terbukti. Habisnya saya merasa emosi begitu naik turun ga karuan. Pengennya marah terus, tapi abis itu sangaaat menyesal. Hormon...</p>
<p>So, what's next? Betul, excitement-nya sangat berbeda dengan anak pertama. Mungkin karena merasa udah lebih pengalaman. Juga ga merasa perlu buru-buru ke dokter kandungan.</p>
<p>Untuk RS, saya sudah memilih dan survei langsung ke RS Omni International Alam Sutera, RS satu lagi yang di Karawaci langsung saya coret dari daftar :D. Untuk dokternya, saya sudah memastikan diri untuk dirawat oleh dr. Didi Danukusumo, Sp.OG KFM.</p>
<p>Saya belum memutuskan untuk annouce ke siapa-siapa. Even my mom. Baru satu orang yang tahu di luar orang rumah. Ga tau kenapa saya kayak gini...</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ponselmorfosis</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_10.html#000188" />
    <modified>2007-10-05T18:42:44Z</modified>
    <issued>2007-10-06T01:42:44+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.188</id>
    <created>2007-10-05T18:42:44Z</created>
    <summary type="text/plain"></summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    <dc:subject>techno beat</dc:subject>
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p><img height="401" alt="mobilemorph" src="http://www.chosenlight.com/journal/mobilemorph-1-20071006020004.gif" width="450" align="left" /></p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pajak Buat Siapa?</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_09.html#000187" />
    <modified>2007-09-30T10:46:14Z</modified>
    <issued>2007-09-30T17:46:14+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.187</id>
    <created>2007-09-30T10:46:14Z</created>
    <summary type="text/plain">Sebagian besar karyawan saat ini mungkin sedang bersukacita, karena pundi-pundi yang tadinya dah kembang kempis mendadak bisa bernapas lega lagi. Gaji ditambah bonus, siapa yang tak senang. Sebaiknya jangan senang dulu. Coba cermati slip gaji bagian pajak. Napas bisa kembali...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    <dc:subject>being ordinary</dc:subject>
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p><img height="223" alt="TAX3 demo" src="http://www.chosenlight.com/journal/tax3_demo-20071006014905.gif" width="225" align="left" />Sebagian besar karyawan saat ini mungkin sedang bersukacita, karena pundi-pundi yang tadinya dah kembang kempis mendadak bisa bernapas lega lagi. Gaji ditambah bonus, siapa yang tak senang.</p>
<p>Sebaiknya jangan senang dulu. Coba cermati slip gaji bagian pajak. Napas bisa kembali sesak, sebagian mungkin kena serangan asma mendadak, lebih parah dari kondisi sebelumnya. Makin tinggi gajinya, makin besar pajaknya.</p>
<p>Ada perasaan dirampok melihat angka yang tertera di slip gaji suami saya. Rasa tidak rela besar yang melanda. Tidak rela karena saya tidak tahu ke mana larinya pajak itu.</p>
<p>Saya bertanya pada suami saya, buat apa sih kita bayar pajak? Buat membiayai pemerintahan, fasilitas umum, dan lain-lain, jawabnya.</p>
<p>Membiayai pemerintahan berarti menggaji mereka. Coba lihat polah para pejabat pemerintahan yang bolak-balik kerja keras 'studi banding' ke luar negeri, gonta-ganti barang dari tingkat hape sampai mobil mewah, tanpa ada rasa malu bahwa itu uang rakyat. Dan untuk 'kerja keras' itu mereka merasa layak menuntut kenaikan gaji dan tunjangan. Sementara itu rakyat yang harusnya mereka layani matanya berkunang-kunang karena kurang gizi, pusing dengan harga sembako, uang sekolah anaknya, sampai tarif tol yang dinaikkan atas alasan 'karena sudah peraturannya seperti itu.'</p>
<p>Tentang fasilitas umum sendiri, coba ingat2 fasilitas apa yang kita nikmati. Telepon umum? Sudah hampir tak berwujud. Penerangan? Konon katanya, rakyat dibebankan atas tagihan listrik ini. Belum lagi bentuk pemerasan yang lain, bikin KTP + KK 400.000, bikin akte kelahiran 200.000, akte pernikahan 400.000, paspor 750.000, dan banyak lagi.</p>
<p>Sekolah? Kita semua tahu betapa mahalnya biaya pendidikan saat ini. Sekolah negeri pun tidak benar-benar gratis karena kesejahteraan guru dan kelayakan sekolah masih jauh dari memadai. Perpustakaan sebagai sarana pendukung pendidikan pun susah ditemui. Buat yang mau <em>homeschool</em> jelas ini jadi satu penghambat.</p>
<p>Kesehatan? Kita tahu sendiri betapa mengenaskannya kondisi rumah sakit milik pemerintah. Saya pernah coba periksakan anak saya ke RS Harapan Kita. Saya harus menjalani proses birokrasi nan tidak efisien dan butuh waktu sejam sampai resep selesai dibuat. Beberapa ortu sibuk protes karena anaknya makin parah sakitnya karena harus menunggu sebegitu lama, sementara petugas tampak sudah tebal muka.</p>
<p>Juga jalan yang saya lewati saban hari, bolak-balik harus dipermak ahlinya untuk dimuluskan lagi lubang-lubangnya yang tak karuan. Tambalan kosmetis itu pun tak pernah bertahan lama, itu pun kalau para ahli menanganinya dengan cepat. Kalau tidak, mobil terpaksa menggelinding perlahan-lahan menghindari penggerus <em>velg</em> itu.</p>
<p>Jadi yang disebut fasilitas umum itu apa?</p>
<p>Hati jadi panas mengingat ini semua. Pajak bisa saja lebih dari 25% tanpa si penerima pajak merasa punya kewajiban untuk mengembalikannya ke pembayarnya. Jaminan</p>
<p>Jadi buat apa kita bayar pajak? dengan hati panas saya bertanya.</p>
<p>Satu-satunya yang mengingatkan hati saya untuk tenang adalah pernyataan seorang yang sangat saya kagumi dan sayangi, "Berilah kepada negara apa yang menjadi haknya."</p>
<p>Jadi, saya bayar pajak buat siapa? tanya saya kali ini dengan nada lirih cenderung pasrah.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Sindrom Seksi Repot</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_09.html#000186" />
    <modified>2007-09-14T04:34:44Z</modified>
    <issued>2007-09-14T11:34:44+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.186</id>
    <created>2007-09-14T04:34:44Z</created>
    <summary type="text/plain">Seksi repot adalah orang-orang yang punya tugas direpotkan saat ada sebuah acara. Mereka biasanya berjalan ke sana kemari di ruangan tanpa takut ditegur panitia, mereka juga tampak percaya diri saat sedang melakukan kerepotannya. Kita dengan mudah bisa membedakan si seksi...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Seksi repot adalah orang-orang yang punya tugas direpotkan saat ada sebuah acara. Mereka biasanya berjalan ke sana kemari di ruangan tanpa takut ditegur panitia, mereka juga tampak percaya diri saat sedang melakukan kerepotannya. Kita dengan mudah bisa membedakan si seksi repot ini dari orang kebanyakan (peserta).</p>
<p>Di gereja juga demikian . Penyambut tamu (usher), penata suara, petugas multimedia, koordinator ibadah, adalah beberapa jenis seksi repot. Jika ada masalah pada mike, kadang si penata suara bergegas ke panggung untuk mengurusinya. Usher juga akan hilir mudik mencarikan tempat duduk untuk jemaat yang baru datang. Petugas multimedia juga tampak sibuk di belakang sana. Itu jenis seksi repot asli.</p>
<p>Ada lagi jenis seksi repot gadungan, alias orang yang sebenarnya tidak punya tugas saat acara berlangsung. Mereka ini enggan mengambil peran jadi peserta, sebagian karena terbiasa jadi seksi repot, sebagian lagi punya alasan-alasan tertentu. Saya sebut sindrom ini sebagai sindrom seksi repot. :)</p>
<p>Sindrom ini sering menjangkiti 'orang lama', yaitu mereka yang sudah dari jaman purbakala menjadi aktivis gereja. Entah kenapa, tempat favoritnya adalah kursi deret belakang, atau di balkon, atau di mana saja yang akhirnya mengesankan dirinya bukan jemaat biasa. Dan, memang orang yang terkena sindrom ini biasanya memang memosisikan diri sebagai pengamat. :D</p>
<p>Saya pun terserang sindrom ini. Sebagai mantan aktivis ibadah mahasiswa, rasanya jengah juga menjadi jemaat 'biasa' saat sudah berkeluarga. Kadang saya memandang para seksi repot dengan sedikit rasa 'iri'. Kadang saya juga jadi kritikus ulung tanpa merasa harus menjadi solusi.</p>
<p>Baru-baru ini, saya amati seorang sobat yang biasa jadi seksi repot di sebuah organisasi yang beken di kalangan pria, juga tampak jengah menjadi peserta biasa di sebuah acara. Dia pun lalu mengambil tempat terpisah. Hehehe... (Hope you read this, bro).</p>
<p>Padahal, tidak ada ruginya lho jadi jemaat biasa. Tidak ada ruginya 'hanya' menjadi peserta. Rugi justru kalau jadi pengamat. Pengamat tidak pernah sungguh-sungguh dapat menikmati acara. Peserta yang paling dapat menyerap manfaat sebesar-besarnya dari sebuah acara.</p>
<p>Saya yakin, masih banyak rekan-rekan 'orang lama' yang terjangkit sindrom ini. Yuk, kita keluar dari sindrom ini, karena kita sendiri yang rugi. Kadang kita perlu jadi jemaat biasa untuk menikmati, hanya menikmati saja, dan merasakan lagi sentuhan Tuhan di hati kita. Bukankah Tuhan yang menyuruh kita melayani satu sama lain itu juga pernah berkata: "Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah." Artikel <a href="http://www.christiancourier.com/articles/read/be_still_and_know_that_i_am_god" target="_blank">ini</a> bisa jadi referensi.</p>
<p>Butuh kerendahan hati, memang. :D</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Batasan dan Aturan</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_09.html#000185" />
    <modified>2007-09-13T09:01:13Z</modified>
    <issued>2007-09-13T16:01:13+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.185</id>
    <created>2007-09-13T09:01:13Z</created>
    <summary type="text/plain">Anak, khususnya balita, perlu batas dan aturan yang jelas. Dengan adanya batasan dan aturan yang jelas, para bocah, bahkan yang belum bergigi pun akan sangat tertolong. Para pemuja kebebasan mungkin akan menganggap terlalu berlebihan menerapkannya pada anak semuda itu. Namun...</summary>
    <author>
      <name>devi</name>
      
      <email>devi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Anak, khususnya balita, perlu batas dan aturan yang jelas. Dengan adanya batasan dan aturan yang jelas, para bocah, bahkan yang belum bergigi pun akan sangat tertolong.</p>
<p>Para pemuja kebebasan mungkin akan menganggap terlalu berlebihan menerapkannya pada anak semuda itu.</p>
<p>Namun berdasarkan pengalaman pribadi, hal ini sangat terbukti. Batasan dan aturan yang jelas membuat anak merasa aman. Tidak adanya dua hal ini, atau ketidakkonsistenan dalam menerapkan hal ini akan membuat anak bingung. Dalam kebingungannya, ia akan merespon dengan sikap yang biasa disebut oleh orang dewasa: "nakal". </p>
<p>O ya, batasan dan aturan ini tidak selamanya berjalan mulus-mulus saja. Kadang-kadang si anak mencoba, apakah peraturan itu masih berlaku.</p>
<p>Contoh, kami membiasakan Joel untuk duduk di <em>car seat</em>nya di baris dua dalam mobil kami. Jika tidak duduk di kursi khususnya itu, dia biasanya akan eksplore isi mobil. Berdiri, memanjat, dan aktivitas lain yang menurut kami membahayakan keselamatannya.</p>
<p>Sejak kami tidak menggunakan jasa baby sitter lagi, kami memutuskan bahwa ia harus bisa duduk dengan aman di kursinya, tidak ada yang menjaga di belakang lagi. Butuh penyesuaian buat dia, buat saya juga karena sebagai ibunya, yang banyak menghabiskan waktu dengannya, kadang saya tidak tega, ingin memangkunya di depan.</p>
<p>Beberapa waktu saja, tangisan, rengekan tanda protes itu pun hilang. Joel sudah bisa menerima kenyataan ini :) Aturannya jelas, duduk di <em>car seat</em> atau mobil dihentikan, atau konsekuensi lain. Kreatiflah jadi ortu :D</p>
<p>Tapi lagi-lagi saya lemah hati, beberapa hari lalu, ketika harus berangkat pagi, saya pangku dia; dalam kondisi baru bangun tidur; di baris depan. Pikir saya waktu itu, kasian karena dipaksa bangun dari tidurnya. Siangnya, benar saja.</p>
<p>"Mau di depan, sama mama."</p>
<p>"Tidak. Di belakang."</p>
<p>"Tadi kok boleh?"</p>
<p>Think.. think.. think..</p>
<p>"Soalnya tadi Joel baru bangun. Mama kirain Joel mau bobo lagi." Duh, ini jawaban.</p>
<p>"Joel mau bobo lagi."</p>
<p>Nah, lho! Saya pun menuai ketidakkonsistenan saya.</p>
<p>Akhirnya saya dengan bantuan pihak yang sangat konsisten (Pampi maksudnya) berhasil 'memaksanya' duduk di kursinya. Nangis? Jelas. Kenceng banget malah. Dan lama. Memekakkan telinga dan menyayat hati. Namun dia akhirnya menyerah dan tertidur di kursinya. Salah saya. Saya pun berjanji dalam hati tidak mengulanginya lagi.</p>
<p>Ada satu cerita lagi tentang batasan dan aturan. Saya pernah cerita pada Joel tentang kebiasaan makan yang sehat. Gorengan, mie instan, permen, dll adalah makanan yang tidak boleh sering-sering kita makan.</p>
<p>Suatu pagi, habis mengantar Pampi ke Karawaci, saya ingin makan cireng, yang adalah gorengan favorit saya. Saya pun meminggirkan mobil di depan sekolah di dalam Islamic Village.</p>
<p>"Mama beli gorengan dulu ya. Joel tunggu di mobil."</p>
<p>"Kan ga boleh sering-sering makan gorengan, Ma?"</p>
<p>Walah!</p>
<p>Ingin sekali saya menjawab, "Kan ga sering, Joel." Namun saat itu saya memilih untuk menunjukkan padanya bahwa saya konsisten dengan apa yang pernah saya katakan. Saya tidak ingin mengajari hati nuraninya yang masih bersih untuk 'berkilah' atau 'ngeles'.</p>
<p>Saya memilih untuk menjawab, "Ok, Joel. Terimakasih sudah mengingatkan Mama." Dan saya pun tidak jadi makan gorengan hari itu.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>
  <entry>
    <title>Ibu Rumah Tangga atau Manager?</title>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.chosenlight.com/journal/archives/2007_09.html#000184" />
    <modified>2007-09-11T09:34:09Z</modified>
    <issued>2007-09-11T16:34:09+07:00</issued>
    <id>tag:www.chosenlight.com,2007:/journal/2.184</id>
    <created>2007-09-11T09:34:09Z</created>
    <summary type="text/plain">Sembilan bulan menjalani profesi ini, gelar Ibu Rumah Tangga (disingkat IRT) nampaknya kurang representatif akan pekerjaan yang saya jalani sehari-hari. Konotasinya pun kurang enak didengar. Jika orang bertanya, &quot;Kerja apa?&quot; dan dijawab ,&quot;Di rumah saja,&quot; maka orang akan menjawab, &quot;Oohh.....</summary>
    <author>
      <name>pampi</name>
      
      <email>pampi@chosenlight.com</email>
    </author>
    
    <content type="text/html" mode="escaped" xml:lang="en" xml:base="http://www.chosenlight.com/journal/">
      <![CDATA[<p>Sembilan bulan menjalani profesi ini, gelar Ibu Rumah Tangga (disingkat IRT) nampaknya kurang representatif akan pekerjaan yang saya jalani sehari-hari. Konotasinya pun kurang enak didengar.</p>
<p>Jika orang bertanya, "Kerja apa?" dan dijawab ,"Di rumah saja," maka orang akan menjawab, "Oohh.. ibu rumah tangga ya."</p>
<p>Waktu meninggalkan kantor yang nyaman di bilangan Wahid Hasyim, Jakarta, ada sebuah pernyataan yang sangat menguatkan hati saya yang saat itu benar-benar kecut, tak yakin akan kemampuan diri menghadapi hidup di hari depan.</p>
<p>Pak Wayan mungkin tidak menyadari dampak perkataannya. Namun, sesungguhnya kata-katanyalah yang paling menguatkan saya. Dia bilang, saya telah memilih berhenti bekerja untuk <u>mendampingi</u> anak saya. Dia bilang mendampingi bukannya menjaga, mengasuh atau merawat anak.</p>
<p>Ya, betul sekali. Sembilan bulan ini telah saya lewati dengan melakukan pendampingan pada si kecil Joel. Dan, pendampingan itu bisa saya pastikan maksimal, karena saya sendiri yang melakukan pengecekan di lapangan. :)</p>
<p>Selain tugas pendampingan anak, tugas lain adalah mengatur rumah. Karena itu saya lebih setuju istilah <em>homemaker</em> ketimbang <em>housewife</em>. <em>Housewife</em> terkesan pasif, sementara <em>homemaker</em> bekerja sangat aktif dan terlibat sepenuhnya dalam tugas membuat rumah yang <em>homy</em>. Atau bisa juga kita sebut manager. :) Silakan baca Amsal 31 sebagai referensinya.</p>
<p>Seorang Manager Rumah Tangga (disingkat MRT) bisa punya staf atau tidak. Jika ia punya staf, ia punya tanggung jawab memastikan si staf melakukan tugas sesuai ekspektasinya. Manager juga harus menguasai tugas si staf jika sewaktu-waktu staf berhalangan.</p>
<p>Lalu, pekerjaan berikut adalah <em>budget</em>. Beberapa bulan yang lalu, suami saya menyerahkan gajinya sepenuhnya untuk saya kelola. Maka saya pun resmi menjabat sebagai <em>finance controller.</em> Termasuk di dalamnya tugas <em>purchasing</em> dan <em>cashier.</em> Akunting tidak saya lakukan, karena saya kurang suka mencatat pengeluaran. Saya hanya memastikan, pengeluaran sesuai <em>budget</em>.</p>
<p>Pekerjaan seorang MRT ini punya <em>stress level</em> yang lebih tinggi. Punya staf atau pun tidak, sama-sama dilematis. Staf akan membantu kita melakukan tugas-tugas klerikal seperti menyapu, mengepel, mencuci piring &amp; peralatan masak, bersih-bersih, dll. Namun, punya staf juga membuat kita ketambahan orang lagi untuk dimanage. Apalagi jika ia tinggal di rumah, biaya makan akan lebih besar. Ini benar lho, staf saya makannya buanyak sekali. Beras 5kg yang tadinya bisa dua minggu lebih, sekarang hanya bertahan seminggu. Ini belum termasuk ekstra pengeluaran untuk air, listrik, dan <em>amenities</em> untuk dia.</p>
<p>Jika di kantor saya berhadapan dengan orang-orang dewasa yang biasanya berada pada status sosial dan pendidikan yang tidak jauh berbeda, di rumah, selaku MRT saya berhadapan dengan balita yang kadang suka <em>moody</em>, masih <em>self-oriented</em>, banyak tanya dan butuh jawabn segera; juga dengan staf yang masih harus banyak diajar.</p>
<p>O ya, saya juga melakukan <em><a title="my homeschool journey" href="http://homeschool.chosenlight.com" target="_blank">homeschool</a></em>. Sepertinya ini membuat stres lebih berlipat, namun ternyata tidak.</p>
<p>Sampai detik ini, saya belum mau menukar waktu-waktu yang bebas saya atur ini dengan jam kantor yang mematok harus datang jam x, tidak boleh telat dan pulang paling awal jam y. Saya sungguh-sungguh menikmatinya.</p>]]>
      
    </content>
  </entry>

</feed>